With All My Heart

 

 

Kai-suho

Title                 : With All My Heart

Author             : Chunniest

FB                   :  https://www.facebook.com/louisa.vanvan?ref=tn_tnmn

Twitter            : https://twitter.com/ivanna_putri

Genre              : Romance, friendship

Length             : Oneshoot

Rating              : PG

Cast :

  • Kim Jongin / Kim Kai (EXO)
  • Kim Joon Myeon / Kim Suho (EXO)
  • Go Soohee (OC)

Author pernah memposting ff ini dengan cast yang berbeda. Gomawo….. sudah mau membacanya jangan lupa komen-komennya ya. Happy reading^_^

*     *     *     *     *

Meskipun hatiku terasa sakit saat berada di dekatmu tapi aku tak pernah berniat sedikitpun pergi dari sisimu. Aku sudah mencoba melupakan perasaan ini namun pikiranku tak henti-hentinya memikirkanmu. Sudah banyak gadis yang mendekatiku namun tetap saja tak ada satupun dari mereka yang bisa menggantikanmu di hatiku. Aku akan selalu berada di sisimu melihatmu tersenyum bahagia meski senyum itu tidak ditujukan untukku.

Kai

Kai memasuki ruang kelas 2-4, ruang kelasnya. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman saat melihat seorang gadis duduk melamun di bangku bagian paling belakang ruang kelas ini. 8679688980_aec03b19b7

Kai berjalan mendekatinya tanpa mengalihkan matanya dari gadis itu. Gadis itu menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Terlihat jelas dari matanya, pikiran gadis itu sedang tidak berada di kelas.

“Pagi gadis bodoh!” Teriak Kai duduk di dekat bangkunya.

Kai mengerutkan dahinya tidak mendengar respon dari gadis itu. Padahal biasanya gadis itu akan marah-marah jika dia memanggilnya seperti itu. Kai menoleh ke samping dan mendapati gadis itu masih dalam posisi semula. Sebuah ide muncul di otaknya. Kai mendekati telinga Gadis itu.

“KECOA SOOHEE-YA!!”

“HUUUWWWAAAA………” Teriak Soohee histeris memanjat ke atas bangkunya.

Melihat reaksi Soohee yang ketakutan membuat Kai tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan lelaki sampai harus memegang perutnya yang terasa sakit karena tawanya yang berlebihan.

“YA!! Kai-ya kau mengerjaiku huh?” Kesal Soohee turun dari kursinya.

“Siapa yang mengerjaimu? Aku benar-benar melihat kecoa tadi di bawah mejamu tapi mendengar teriakanmu kecoa itu langsung lari terbirit-birit. Teriakanmu kan mirip petir menggelegar.” Kata Kai memasang wajah tanpa dosa.

“Aaisshh…. Tak perlu mencari-cari alasan, itu tidak mempan padaku.” Kai hanya menunjukkan senyum lebar dan mengacungkan dua jarinya membentuk huruf ‘V’ untuk berdamai dengannya.

“Habis salahmu sendiri melamun dalam kelas. Memang ada apa Soohee-ya, tumben sekali melamun? Bukankah kemarin kau sedang berbahagia?” Tanya Kai penasaran melihat perubahan wajah sahabatnya.

Padahal kemarin dengan semangatnya gadis itu menceritakan tentang kencannya dengan Suho yang juga merupakan sahabatnya. Kai menghela nafas. Kai lebih memilih gadis itu menceritakan kencannya lagi dibandingkan harus melihat gadis itu murung seperti saat ini, meskipun Kai harus menahan rasa sakit di hatinya. Dilihatnya mata Soohee mulai berkaca-kaca. Kai bangkit berdiri menghamipirinya. Digenggam tangan gadis itu dan menariknya pergi.

“YA!!! Kau mau membawaku ke mana Kai-ya? Sebentar lagi pelajaran akan di mulai.” Ronta Soohee.

Kai menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis itu. Dilihatnya air mata gadis itu menggenang di matanya.

“Percuma saja kau mengikuti pelajaran jika ujung-ujungnya kau bakal melamun di kelas. Ayo ikut aku.” Soohee tak lagi menolak saat Kai menariknya keluar kelas. Tanpa memperdulikan pandangan siswa yang ada di kelas Kai langsung membawa Soohee pergi.

*     *     *     *     *

Kai mengajak Soohee di taman belakang sekolah. Dengan pemandangan pohon yang rindang, Kai berharap Soohee merasa lebih tenang. Kai mengajak Soohee duduk di bawah pohon besar.

“Apa Suho penyebabnya?” Soohee menatap Kai kaget.

“A…aniyo. Gwaenchana.” Soohee menggigit bibir bawahnya sendiri. Kai tersenyun memandang Soohee lalu mengacak lembut rambutnya.

“Sejak kecil kau memang tak pernah bisa membohongiku Soohee-ya. Aku tahu kebiasaanmu jika sedang berbohong kau pasti menggigit bibir bawahmu.” Soohee langsung berhenti menggigit bibir bawahnya.

“YA!! Jangan sok tahu kau Kai-ya.”

“Tak perlu sok tahupun aku sudah tahu semua tentangmu Soohee-ya. Bahkan saat kita masih SD aku sudah tahu kau luar dalam.” Goda Kai.

Blusshh… Pipi Soohee merona malu. Kai sudah mengenal Soohee sejak kecil. Kai, Soohee dan Suho sangat akrab bahkan mereka pernah mandi bersama. Karena dulu Soohee masih kecil gadis itu tidak malu karena sudah terbiasa dengan kedua sahabatnya itu, tapi jika mengingatnya lagi, Soohee merasa sangat malu.

“YA!! Kai-ya bersihkan pikiran kotormu, atau aku akan memberitahukannya pada Suho Oppa.” Wajah Soohee kembali bersedih saat menyebut nama pacarnya.

“Jadi apa yang Suho lakukan sampai membuat gadis bodoh ini jadi bersedih?” Soohee terdiam dan menatap Kai ragu untuk mengatakan apa yang mengganggu pikirannnya. Kaipun tersenyum menyakinkan gadis itu.

“Semalam aku melihat Suho Oppa bersama gadis yang tak kukenal di minimarket dekat rumah.” Kai terkejut mendengar alasan Soohee. Setahu lelaki itu Suho sangat menyayangi Soohee, mana mungkin mungkin dia mengkhianati Soohee.

“Jangan salah paham dulu, mungkin saja kan dia temannya atau saudaranya. Aku yakin Suho tak mungkin mengkhianatimu percayalah.”

“Tapi….” Ragu Soohee. “Aishh… Baiklah biar aku yang akan bicara dengannya.” Senyuman mengembang di wajah Soohee, membuat hati Kai bisa lega melihat gadis itu tersenyum kembali.

“Gomawo Kai-ya.” Senang Soohee.

CUP…

JSkissJS

Tanpa gadis itu sadari Kai sudah mencium pipinya

“YA! Apa yang kau lakukan? Kau mau berbuat mesum padaku ne?” Teriak Soohee histeris mengapus jejak ciuman Kai.

“Tidak ada yang gratis Soohee-ya jadi ciuman itu kuanggap sebagai bayarannya.” Kai berkata terkekeh geli.

“YA!! Dasar Kai mesum.” Kai tertawa melihat wajah Soohee kesal. Inilah kebiasaan Kai selalu mengerjain Soohee.

*     *     *     *     *

BRAK….

Gebrakan meja yang keras membuat semua murid kelas 2-2 kaget mendengarnya, termasuk laki-laki yang ada di hadapan Kai.

“Siapa gadis itu?” Tanya Kai tanpa basa-basi. Dilihatnya laki-laki yang sudah Kai kenal sejak kecil itu mengerutkan dahinya.

“Gadis siapa maksudmu Kai-ya?”

“Semalam Soohee melihatmu dengan seorang gadis di minimarket. Jadi siapa gadis itu? Kau tidak coba-coba mengkhianati Soohee kan?”

Suho berpikir sejenak. Tak lama kemudian laki-laki itu teringat sesuatu.

“Ohh… Jadi karena itu Soohee tidak mau mengangkat telponku? Tenang saja Kai-ya mana mungkin aku mengkhianati gadis yang kucintai.”

“Jadi siapa gadis itu?” Tanya Kai kembali.

“Dia adalah sepupuku dari Jepang.”

“Aisshh… Jadi gadis bodoh itu hanya salah paham? Dasar menyusahkanku saja. Kalian yang pacaran kenapa selalu aku yang jadi penolong kalian sih?”

“Karena kau sahabat terbaik kami.” Dengan malas Kai memutar bola mataku.

“Aisshh… Kalian ini. Pulang sekolah segera jelaskan pada Soohee dan traktir dia ice cream coklat aku yakin dia akan senang kembali.”

“Ice cream coklat?” Kai memandang Suho tak percaya.

“Jangan bilang kau tidak tahu ice cream coklat adalah ice cream kesukaan Soohee?”

Melihat Suho hanya tersenyum tanpa dosa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal Kai sudah tahu jawabannya.

“Aigo… Kau pacar macam apa? Masak makanan kesukaan gadisnya saja tidak tahu?”

“Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan Soohee lebih dekat. Tapi gomawo Kai-ya kau sudah memberitahuku. Aku pasti akan membuat Soohee senang lagi.”

“Terserah kalian deh.” Kai bangkit berdiri hendak meninggalkan kelas Suho.

“Kai-ya tunggu, kenapa kau bisa tahu yang bisa membuat Soohee senang? Apa kau menyukainya?”

Tubuh Kai membeku mendengar pertanyaan Suho. Namun segera Kai bisa mengendalikan dirinya kembali.

“Hhhuuaahhaa….” Tawa Kai membuat Suho bingung.

“Kenapa kau malah tertawa huh?”

“Aigo Suho-ah. Kau tahu kan bagaimana tipe gadis yang kusukai, dia harus…..”

“Bertubuh tinggi dan sexy.” Lanjut Suho yang sangat hafal dengan kata-kata Kai.

“Ne. Mana mungkin aku menyukai Soohee yang tidak masuk dalam tipeku. Tidak tinggi dan tidak sexy.”

“YA!! Jangan menghinanya seperti itu, gitu-gitu dia pacarku tahu. Syukurlah kukira kau menyukainya. Kalau kau memang menyukainya aku tak akan menyerahkannya padamu.”

“Ne.. Arrasseo selamat berbahagia ne. Aku pergi dulu.” Kai berkata meninggalkan sahabatnya.

Mianhae Suho-ah, aku sudah berbohong padamu. Aku memang menyukai Soohee sejak awal mengenalnya. Menyukai Soohee yang selalu cengeng dan manja membuatku ingin selalu melindunginya. Tapi mengetahui Soohee menyukaimu aku tidak bisa menyatakan perasaanku, karena Soohee lebih bahagia jika bersamamu.

 

*     *     *     *     *

“Kai-ya?” Panggil seseorang manja.

Kai yang sedang membereskan bukunya langsung mendongak menatap Soohee mendekati mejanya.

“Ada apa?” Tanya Kai.

“Bisakah aku pulang bersamamu? Aku mohon?” Pinta Soohee.

“Bukankah kau biasanya pulang dengan Suho kenapa ingin pulang bersamaku?”

“Kau kan tahu sendiri aku sedang kesal padanya.”

“Aishh… Sudahlah paling sebentar lagi Suho menjemputmu. Bicaralah baik-baik dengannya daripada kau marah justru membuatmu tersiksa.”

Tepat seperti ucapan Kai, Suho datang ke kelas mereka. Kulihat Soohee berpura-pura tak melihatnya.

“Soohee-ah ayo kita pulang.” Ajak Suho.

Kai tersenyum geli melihat Soohee melipat kedua tangannya di dada dan bibirnyapun cemberut kesal.

“Gak mau aku mau pulang bersama Kai.” Tolak Soohee.

“Mianhae Soohee-ya, aku tidak bisa pulang bersamamu aku ada kencan dengan Luna.” Kai berkata.

“Luna? Park Luna dari kelas 1-6 itu?” Tanya Soohee kaget.

“Ne.”

“Tapi bukankah kemarin kau sedang pacaran dengan Jung Soojung dari kelas 2-1?”

“Aku bosan dengannya. Sudah ne aku pergi dulu. Jangan terlalu lama bertengkar, menyusahkanku saja.” Ucap Kai meninggalkan mereka.

“Jadi kau mau pulang dengan siapa lagi Soohee-ya? Kau masih marah soal Mayu?” Tanya Suho sukses membuat Soohee menatapnya bingung.

“Mayu? Siapa?”

“Gadis yang kaulihat bersamaku di minimarket tadi malam.”

“Kau sudah tahu rupanya. Jadi kau mau mengakui jika kau memiliki gadis lain Oppa?”

“Hhmpp…hhuuaa….huaa……” Tiba-tiba Suho tertawa.

“YA!! Apanya yang lucu? Aku sedang tidak bercanda.”

“Tentu saja lucu. Bagaimana bisa aku pacaran dengan sepupuku?” Soohee terperangah mendengar penjelasan dari kekasihnya.

“Jadi gadis itu bukan pacarmu?” Suho memegang kedua bahu Soohee dan menatapnya lurus.

“Mana mungkin aku memiliki gadis lain  jika gadis yang kusukai ada di hadapanku.” Soohee merasakan kedua pipinya memanas karena saking senangnya.

“Ayo. Aku ingin makan ice cream coklat. Apa kau mau?” Mata Soohee berbinar mendengar kata ‘ice cream coklat’.

“Tentu saja aku mau. Sayang Kai tidak ikut pasti seru jika dia ikut.” Kecewa Soohee mengingat sahabatnya tak bisa ikut dengan kami.

“Sudahlah mungkin lain kali dia bisa makan bersama kita. Ayo.”

“Ne Oppa.” Soohee mengangguk penuh semangat. Suho langsung menggandeng Soohee pergi meninggalkan kelas.

*     *     *     *     *

“Kai-ya.” Kai yang sedang tidur di meja terbangun mendengar ada seseorang yang memanggilnya.

“Aisshh…. Dasar pemalas. Ini kan kelas kenapa malah tidur?” Soohee mengguncangkan tubuh Kai membangunkan laki-laki itu. Kai terbangun dan mengucek matanya yang masih mengantuk. tumblr_mjqn7teGLF1rnaob5o1_250

“Dasar gadis bodoh mengganggu saja. Kalau tidak ada keperluan penting aku mau tidur lagi.” Kai hendak berancang-ancang mencari tempat yang nyaman untuk melanjutkan tidurnya.

“Tunggu Kai-ya.”

“Ada apa lagi? Apa ada masalah dengan Suho lagi?” Tebak Kai.

“Tidak. Aku hanya ingin memberikanmu ini.” Soohee menyerahkan sebuah kotak bekal yang berisi kue vanila pada Kai.

“Apa ini?” Bingung Kai menatap kotak itu.

“YA!! Kai-ya apa kau buta? Tentu saja ini kue.”

“Dasar gadis bodoh maksudku untuk apa kau memberikannya padaku? Kenapa kau tak memberikannya pada Suho?”

“Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih berkat kau, aku dan Suho Oppa tidak marahan lagi.”

“Yang benar itu kamu yang marah gadis bodoh.”

“Aisshh… Kalau ga mau kuenya ya sudah.” Soohee menarik kembali kuenya namun langsung kuhentikan.

“Mana mungkin aku tidak mau. Kebetulan aku sedang lapar.” Kata Kai mengambil kotak itu lalu memmbukanya dan memakan satu kuenya.

“Vanila?” Tanya Kai merasakan kue itu.

“Ne. Bukankah kau suka rasa vanila?” Tanpa Soohee sadari, Kai tersenyum senang dalam hati. Ternyata Soohee memperhatikan rasa kesukaannya.

“Pagi…” Sapa Suho tiba-tiba datang.

“Pagi Oppa.” Balas Soohee senang.

“Ada apa kau Oppa kemari?” Tanya Soohee.

“Tentu saja menjenguk kalian. Enaknya kalian bisa satu kelas. Soohee-ah kau pindah saja ke kelasku.” Iri Suho.

“Gak mau Oppa. Kalau aku sekelas denganmu aku jadi tidak bisa konsentrasi belajar.”

“Memangnya selama ini kau bisa konsentrasi belajar Soohee-ah. Kau kan bodoh.” Ejek Kai.

“YA!! Memang kau ini pintar huh?” Kesal Soohee.

“Tidak.” Kata Kai dengan senyum lebar membuat Soohee dan Suho tertawa melihatnya.

“Oh ya Soohee-ah, bagaimana kalau besok minggu kita pergi ke taman hiburan?” Ajak Suho.

“Aku mau Oppa.” Jawab Soohee senang.

“Kai-ya apa kau mau ikut bersama kami?” Tawar Soohee.

“Tidak. Kau ingin aku jadi patung dan melihat kalian berdua berpacaran huh? Sama sekali tidak asyik.” Tolak Kai mentah-mentah.

“Aisshh…. Kau kan bisa mengajak pacar barumu itu. Ayolah kita kan sudah lama tidak keluar bersama nee….neee….neee?” Pinta Soohee.

Soohee tidak mengetahui jika Kai tidak ingin melihat gadis yang disukainya jalan bersama kekasihnya di depan matanya. Tapi melihat Soohee yang merengek seperti ini membuat Kai tak bisa menolaknya.

“Aishh.. Ne…ne….”

“Yeeee…… Kita akan double date. Pasti akan menyenanglan.” Senang Soohee.

Menyenangkan? Tidak untukku Soohee-ya. Sedih Kai.

*     *     *     *     *

 everland-theme-park

“Oppa kenapa dari tadi kau diam saja? Apa kau sakit?” Tanya Soohee sesampainya di taman hiburan. Sejak menjemput Soohee, Suho hanya diam saja. Dia hanya bicara jika Soohee bertanya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

“Ani. Gwaenchana.”

“Jeongmal?” Tanya Soohee masih tak percaya.

“Ne. Nah itu Kai sudah datang. Kai-ya.” Panggil Suho saat melihat Kai berjalan ke arah kami.

Soohee melihat Kai menggandeng tangan Luna. Meskipun Soohee sering melihat Kai dengan banyak gadis tapi entah mengapa Soohee tidak suka jika Kai menggandeng gadis-gadis itu.  Soohee tahu Kai memiliki banyak gadis dan mungkin lelaki itu sudah menggandeng banyak sekali gadis tapi baru pertama kali ini  Soohee melihatnya menggandeng seorang gadis lain. Biasanya tangan lelaki itu hanya digunakan untuk menggandeng tangannya.

Ommo apa yang aku pikirkan? Saat ini aku sedang bersama Suho Oppa kenapa aku jadi cemburu pada Kai? Lupakan Soohee-ya.

“Annyeong Luna-ya.” Sapa Soohee bersikap biasa saja.

“Annyeong Soohee eonnie.”

“Ayo kita masuk.” Ajak Suho menarik tangan kekasihnya.

Soohee tersenyum senang melihat taman hiburan yang dipenuhi pengunjung. Merekapun menaiki wahana satu persatu. Terkadang terdengar teriakan dari mereka saat menaiki wahana yang ekstreme.

Tanpa terasa setelah menaikki beberapa wahana mereka merasa kelaparan. Merekapun mencari makanan untuk mengisi tenaga kembali. Mereka memutuskan mengunjungi stand yang menjual tteokbokki.

“Hati-hati Luna-ya itu kan masih panas.”

Tangan Soohee yang hendak menyuapkan tteokbokki ke mulutnya terhenti mendengar suara Kai. Gadis itu menoleh ke samping, mata Soohee melotot melihat Kai mengacak rambut Luna seperti yang biasa dia lakukan pada Soohee.

“ANDWAE!!” Teriak Soohee tiba-tiba membuat semua orang memandang gadis itu termasuk Suho.

“Waeyo Soohee-ya?” Tanya Suho.

Melihat Suho, perasaan bersalahpun muncul di hati Soohee. Di saat sedang bersama Suho yang notabene adalah kekasihnya, Soohee justru cemburu dengan Kai yang dekat dengan Soohee.

“Ani Oppa gwaenchana. Aku.. Aku hanya kaget merasakan tteokbokki yang panas ini” Alasan Soohee. Setelah puas makan merekapun melanjutkan perjalanan lagi.

“Oppa kita naik apa lagi? Aku tidak sabar.” Senang Soohee merangkul lengan Suho, layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan.

“Bagaimana kalau yang itu?” Suho menunjuk rumah hantu yang dekat dari tempat mereka berdiri.

Wajah Soohee langsung memucat dan dengan susah payah Soohee menelan ludahnya.

Kenapa harus rumah hantu yang Suho Oppa tunjuk? Aku kan sangat takut hantu. Tapi aku juga tidak ingin mengecewakan Suho Oppa, apalagi setelah kejadian di stand tteokbokki tadi.

“YA!! Suho-ya apa kau gila? Soohee kan…” Sebelum Kai mengucapkan kelemahan Soohee, gadis itu sudah memotongnya.

“Waeyo Kai-ya? Apa kau takut? Ayo Oppa kita masuk.” Soohee berkata menarik tangan Suho.

Dasar gadis bodoh, sudah tahu takut hantu tapi tetap saja memaksakan diri. Kesal Kai dalam hati.

Kaipun menarik Luna mengikuti sepasang kekasih yang berjalan mendahului mereka. Kai sangat mengkhawatirkan Soohee. Dulu saat masih kecil, Kai dan Soohee pernah iseng memasuki rumah kosong. Awalnya Kai tidak tahu jika Soohee sudah takut hantu. Ketika mereka mendengar suara aneh tiba-tiba Soohee berteriak dan menangis keras dan saat itulah Kai baru tahu Soohee sangat takut dengan hantu.

“Oppa.”Kai menoleh mendengar panggilan Luna. Melihat Luna ketakutan, Kaipun mengerti apa yang hendak gadis itu katakan.

“Tenanglah pegang erat tanganku dan tutup matamu jika kau takut aku akan menuntunmu keluar ne?” Luna mengangguk.

Kaipun menarik Luna memasuki rumah hantu itu. Kai berjalan dalam tempat yang gelap itu. Seringkali beberapa hantu menakut-nakuti mereka membuat Luna berteriak takut. Kaipun langsung menarik Luna mendekat dan memeluk bahu gadis itu. Sepertinya mereka sudah tertinggal jauh dari Soohee dan Suho. Akhirnya setelah melewati jalan yang penuh dengan hantu, Kaipun melihat cahaya.

“Sepertinya kita sudah hampir keluar. Ayo.” Kai berkata pada Luna.

Keluar dari rumah hantu itu Kai langsung mengedarkan pandangannya mencari Soohee dan Suho. Kai berpikir akan melihat Soohee yang menangis di dalam pelukan Suho namun ternyata dugaannya salah. Kai justru melihat Suho berdiri sendiri dan tampak gelisah. Kai langsung menarik Luna menghampiri Suho.

“Di mana Soohee?” Tanya Kai.

“Soo.. Soohee dia masih di dalam.” Jawab Suho tergagap.

“MWO? Bagaimana bisa?”

“Tadi genggaman kami terlepas.”

BUGHHH….

Geram, Kai melayangkan pukulannya pada Suho.

“Apa kau gila huh? Apa kau tidak tahu Soohee sangat takut hantu huh? Dan kau membiarkannya terlepas begitu saja?” Marahku.

“Soohee takut hantu?”

“Jangan bilang kau juga tidak tahu hal ini.”

Kai semakin kesal melihat Suho menggelengkan kepalanya. Tanpa mempedulikan Luna dan Soohee, Kaipun masuk kembali ke rumah hantu. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah Soohee. Gadis itu pasti sedang menangis ketakutan.

“SOOHEE-YA……YA!!! GADIS BODOH…..SOOHEE-YA…..” Teriak Kai memanggil gadis itu.

Kai terus melewati jalan yang tadi dilewatinya sampai akhirnya langkahnya terhenti mendengar suara tangisan gadis. Kai mengeluarkan ponselnya untuk menerangi jalan sekitar. Kai bernafas lega melihat Soohee meringkuk memeluk lututnya. Benar dugaannya gadis itu menangis terlihat dari bahu gadis itu yang berguncang.

“Soohee-ya.” Panggil Kai.

Soohee mendongak, terlihat wajahnya sudah basah karena air matanya. Gadis itu langsung berdiri dan berlari ke arah Kai. Kai langsung memeluk gadis itu dengan erat.

“A…Aku takut Kai-ya…” Soohee berkata di sela tangisnya.

“Gwaenchana tak akan kubiarkan hantu-hantu itu mengganggumu jadi kau jangan takut lagi ne?” Soohee mengangguk dalam pelukan Kai.

“Ayo.” Kai langsung mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya ala bridal.

“Tutuplah mata dan telingamu. Percayalah padaku.” Kai berkata.

Meskipun dalam kegelapan Kai masih bisa melihat gadis itu menuruti ucapannya. Akhirnya tak lama kemudian mereka sudah keluar dari rumah hantu itu. Suho dan Lunapun menghampiri mereka. Kau menurunkan tubuh Soohee membuat gadis itu membuka matanya perlahan.

“Mianhae Soohee-ya. Aku tidak tahu kau sangat takut hantu.” Sesal Suho.

Karena menangis terlalu lama membuat Soohee tampak pucat. Jika saja Kai yang menjadi kekasihnya, dia pasti sudah membawa Soohee pulang.

“Bawalah Soohee pulang Suho-ya, dia pasti lelah.” Saran Kai.

“Ne. Gomawo Kai-ya.” Suho berkata langsung membawa Soohee pergi.

“Kau menyukai Soohee eonnie ne Oppa?” Kai tersentak mendengar pertanyaan Luna.

“Kau ini bicara apa Luna-ya? Ayo kita pulang.” Kai menarik tangan Luna namun gadis itu tak bergerak sedikitpun.

“Aku tahu kita baru saja berpacaran Oppa. Melihat kejadian tadi aku sadar kau sangat menyukai Soohee eonnie. Aku bisa melihat ketakutan yang teramat sangat di matamu Oppa. Bahkan Oppa mengetahui Soohee eonnie lebih banyak daripada Suho oppa yang merupakan kekasihnya.”

“Jangan bicara yang aneh-aneh Luna-ya.”

“Aku tidak bicara aneh Oppa. Aku bicara tentang kenyataan. Jika memang Oppa menyukainya kenapa Oppa tidak mengatakannya?” Kai terdiam menundukkan kepalanya.

“Aku rasa Soohee eonnie juga menyukaimu Oppa.” Kai mendongak menatap Luna tak percaya.

“Jangan berusaha kasihan padaku Luna-ya. Aku tak perlu hiburan seperti itu.”

“Aku tidak kasihan Oppa. Tapi apa Oppa tidak melihat tingkah aneh Soohee eonnie saat melihat kita? Soohee eonnie terlihat cemburu Oppa. Ingat saat kita makan tteokbokki tadi? Dia berteriak tidak ingin jika kau terlalu dekat denganku.”

“Cukup omong kosongmu Luna-ya.”

“Aku tidak hanya omong kosong Oppa. Aku gadis dan aku tahu apa yang di rasakan Soohee eonnie.”

“CUKUP!!!” Teriak Kai menghentikan Luna.

Jika saja Soohee memang menyukaiku kenapa aku tak bisa memilikinya? Pikir Kai sedih.

“Tak perlu bersimpati padaku. Ayo aku akan mengantarmu pulang.” Kai berkata langsung menarik gadis itu meninggalkan taman hiburan.

*     *     *     *     *

Dengan lemas Kai menyeret kakinya memasuki rumah.

“Aku pulang.” Kai berkata memasuki rumah.

“Kenapa kau lama sekali sobat?” Langkah Kai terhenti mendengar suara Suho. Kai menoleh dan mendapati Suho duduk di ruang tamunya sambil membaca majalah.

“Apa yang kau lakukan di sini Suho-ya?”

“Aku ingin bicara denganmu.” Melihat tatapan Suho yang serius, membuat Kai tahu sahabatnya itu sedang tidak bercanda.

“Baiklah lebih baik kita bicara di taman belakang.” Kai berjalan menuju taman belakang rumahnya.

Terdengar suara langkah kaki mengikuti Kai. Di luar tampak taman tidak terlalu gelap karena ada beberapa lampu yang menerangi taman. Kai duduk di kursi yang ada di tengah taman diikuti Suho yang menghampirinya.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Jika soal pukulan tadi, aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu.” Kai berkata mengawali pembicaraan.

“Ani. Justru pukulan itu menyadarkanku akan sesuatu.”

“Menyadarkan apa?” Bingung Kai.

“Menyadarkanku tentang perasaanmu terhadap Soohee.” Tubuh Kai mematung mendengar ucapan Suho.

“Kau ini bicara apa Suho-ya?”

“Kau tak perlu menutupinya lagi Kai-ya. Selama ini aku memang selalu curiga jika kau memiliki perasaan khusus pada Soohee. Dan kejadian di rumah hantu tadi semakin menguatkan kecurigaanku.”

“Jangan bercanda Suho-ya, mana mungkin aku memiliki perasaan itu. Aku hanyalah sahabatnya.”

“Sahabat? Tapi bagaimana bisa sahabat setakut tadi? Dan aku juga sering melihatmu menatap Soohee diam-diam saat kita bersama. Tidak mungkin sahabat berbuat seperi itu bukan?” Kai memilih diam mendengar penjelasan Suho.

“Melihat reaksi ketakutanmu tadi itu terlihat jelas jika kau sangat menyukai Soohee dan tidak ingin Soohee dalam bahaya. Tapi aku kemari bukan hanya ingin mengatakan hal ini Kai-ya.” Kai mendongak menatap Suho, laki-laki yang biasanya bercanda dengannya saat ini terlihat sangat serius.

“Aku serius menyukai Soohee dan aku tidak akan melepaskan Soohee pada laki-laki lain termasuk kau Kai-ya.” Kai terdiam memikirkan tindakan yang harus dilakukannya. Lalu Kai bangkit berdiri dan berbalik meninggalkan Suho.

“YA!! Kai-ya kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara.” Teriak Suho. Langkah Kai terhenti lalu berbalik. Laki-laki itu memperlihatkan senyum candanya.

“Kau tak perlu khawatir Suho-ya. Kau adalah sahabatku dan aku tidak akan merebut apa yang dimiliki sahabatku. Jika kau ingin aku menjauhi Soohee, aku akan melakukannya. HOOOAA….” Kai menguap dan meregangkan tangannya ke atas.

“Kalau tidak ada yang ingin kaukatakan lagi aku mau tidur.” Tambah Kai.

“Ne. Gomawo Kai-ya. Apa aku bisa mempercayaimu?” Kai menghampiri Suho dan menjitak kepala laki-laki itu.

“Sejak kapan kau tidak mempercayaiku huh. Tenang saja aku akan menepati ucapanku sobat.” Senyum kepuasan terlihat di wajah Suho

*     *     *     *     *

Soohee memainkan pulpennya karena bosan menunggu. Dilihatnya jam di dinding kelas sudah hampir jam 7 dan laki-laki itu belum juga datang.

“Tidak biasanya Kai terlambat begini.” Gerutu Kai. Soohee tersenyum senang melihat Kai memasuki kelas.

“Kai-ya…” Panggil Soohee.

Dahinya berkerut saat melihat Kai berbicara dengan Sehun yang duduk di depan. Lalu tak lama Sehun berdiri dan berjalan ke belakang, sedangkan Kai duduk di tempat yang ditinggalkan Sehun. Soohee berdiri hendak menghampiri Kai, namun melihat guru Lee sudah memasuki kelas membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

*     *     *     *     *

Akhirnya setelah 3 jam pelajaran terlewati jam istirahatpun tiba. Soohee segera berdiri dan menghampiri bangku Kai. Tapi sial saat hampir sampai laki-laki itu justru beranjak pergi. Sooheepun langsung mengikutinya keluar kelas.

“Soohee-ya.” Soohee terpaksa menghentikan langkahnya begitu mendengar Suho memanggilnya. Soohee menoleh dan melihat Suho menghampirinya.

“Suho Oppa.” Panggil Soohee.

“Kau mau ke mana?” Tanya Suho.

“Mengejar Kai. Hari ini tingkahnya aneh sekali seperti sedang menghindariku.” Kai menatap Suho yang terdiam.

“Oppa… Suho Oppa.” Panggilan Soohee menyadarkan Suho.

“ah… Ehh… Ne? Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Ayo kita makan. Aku lapar.” Suho menarik Soohee pergi, namun pikiran Soohee masih dipenuhi Kai.

*     *     *     *     *

Awalnya Soohee berpikir ucapan Suho benar itu hanya perasaannya saja, tapi mengingat ini sudah hari ketiga Kai menghindarinya gadis itu pun berpikir ada hal yang tak beres dengan laki-laki itu. Lalu gadis itupun bertekad membuat Kai mau berbicara dengannya. Sesuai dengan ide yang dipikirkannya gadis itupun menemui Luna di kelasnya. “Luna-ya.” Panggil Soohee.

“Ohh… Soohee eonnie? Waeyo?” Tanya Luna menghampiri Soohee.

“Luna-ya, apa kau tahu apa yang terjadi dengan Kai?” Awalnya Luna terdiam membuat Soohee menebak jika Luna mengetahui sesuatu.

“Kai Oppa? Memang ada apa dengan Kai Oppa?” Tanya Luna balik.

“Selama tiga hari ini tiba-tiba Kai menjauhiku. Apa kau tahu sesuatu?” Lunapun menggeleng menjawab pertanyaan Soohee.

“Mianhae tapi aku tidak tahu. Aku dan Kai Oppa sudah tidak berhubungan lagi.” Entah mengapa dalam hati Soohee ada sedikit rasa senang mendengar Luna tak berhubungan lagi dengan Kai.

“Apa Kai tak pernah bercerita apapun padamu? Tentang Suho Oppa atau mungkin tentang aku?” Tanya Soohee penasaran.

“Ani.” Jawab Luna menggelengkan kepalanya. Soohee menghela nafas kecewa.

“Baiklah kalau begitu. Satu hal lagi Luna-ya, bolehkan aku meminta bantuan padamu?” Pinta Soohee.

“Dengan senang hati eonnie.” Sooheepun membisikan sesuatu di telinga Luna dan Lunapun mengangguk menyetujuinya.

“Gomawo Luna-ya.” Soohee berkata meninggalkan gadis itu.

*     *     *     *     *

From : Luna

Oppa datanglah ke taman belakang sekolah ada yang ingin  kubicarakan.

Setelah membaca pesan itu, Kai memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Lalu dia beranjak pergi menuju taman belakang menemui Luna. Ketika berjalan, pikirannyapun mengarah pada Soohee. Selama tiga hari ini Kai tidak berdekatan dengan Soohee membuatnya merasa kesepian. Ingin sekali Kai kembali seperti dulu. Kai lebih memilih bisa dekat dengan Soohee meskipun dia harus menyimpan perasaannya dibandingkan dia harus menjauhinya seperti ini.

Akhirnya Kaipun sampai di taman belakang. Diedarkan pandangan dan tak menemukan Luna.

“Mungkin Luna masih berjalan kemari.” Kai memutuskan menunggu Luna di bawah pohon tempat biasanya dia duduk dengan Soohee.

“Akhirnya kau datang juga Kai-ya.”

Tubuh Kai membeku mendengar suara yang sangat dirindukannya. Dilihat Soohee berdiri di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan di sini Soohee-ya? Aku sedang menunggu Luna.”

“Luna tidak akan datang. Aku yang meminta Luna untuk menyuruhmu kemari.”

“Kalau begitu aku harus…”

“Tunggu Kai-ya.” Soohee berkata menahan tangan Kai yang hendak pergi.

“Aku harus kembali ke kelas Soohee-ya. Ada tugas yang harus kuselesaikan.” Alasan Kai.

“Berhentilah menghindariku KIM JONGIN!!” Hati Kai mencelos melihat mata Soohee berair.

“Memang apa salahku sampai membuatmu menghindariku huh? Kau bilang kau sahabatku? Seharusnya kau tidak menjauhiku bukan? Aku sudah memutar otakku mencari kesalahan apa yang sudah kulakukan tapi aku benar-benar tidak tahu. Kalaupun aku melakukan kesalahan padamu aku benar-benar minta maaf.” Tangis Sooheepun pecah membuat Kai jadi salah tingkah.

Biasanya jika Soohee menangis seperti ini Kai selalu memeluknya, tapi Kai sudah berjanji pada Suho untuk menjauhinya.

Apa yang harus kulakukan? Bingung Kai melihat tangis Soohee semakin menjadi.

Mianhae Suho-ya hanya sekali ini saja aku tidak menepati janjiku. Kai berkata dalam hati. Akhirnya Kai menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

sg16-00064

“Kau benar-benar jahat membuatku khawatir Kai-ya.” Soohee berkata di sela tangisnya.

“Mianhae.” Hanya satu kata itu saja yang bisa Kai katakan.

Kai tak bisa mengatakan alasannya menjauhi Soohee. Mereka terdiam yang terdengar hanyalah suara isak tangis Soohee. Kai mengelus rambut gadis itu lembut, hal yang selalu dilakukannya untuk menenangkan gadis itu. Setelah menangis beberapa lama, Sooheepun melepaskan pelukan Kai.

“Dasar cengeng.” Ejek Kai.

“Ini semua kan gara-gara kau.” Soohee mempoutkan bibirnya.

“Sudah merasa tenang?” Soohee mengangguk menjawab pertanyaan Kai.

“Cucilah wajahmu yang berantakan itu, aku harus kembali kekelas.” Kai hendak beranjak pergi, namun lagi-lagi tangannya di tarik Soohee.

“Kau tidak akan menghindariku lagi kan?” Tanya Soohee.

Kai hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaan Soohee. Segera Kai melepaskan genggaman Soohee dan meninggalkan gadis itu.

*     *     *     *     *

Suho memandang bingung ke arah Soohee yang sedari tadi hanya melihat keluar jendela. Tampaknya pikiran gadis itu sedang tidak berada di sini. Terbukti gadis itu hanya memainkan ice cream coklat kesukaannya tanpa memakannya sesendokpun.

Apa Soohee sedang memikirkan Kai? Tanya Suho dalam hati.

“Soohee-ya.” Panggil Suho menyadarkan gadis itu.

“Ne Oppa?” Akhirnya gadis itu melihat Suho juga.

“Apa kau tidak mendengar ceritaku tadi?” Bohong Suho padahal sebenarnya dari tadi dia hanya terdiam dan memandangi wajah cantik Soohee.

“Mi.. Mianhae Oppa aku tidak mendengar. Apa kau bisa mengulanginya?” Suho menghela nafas berat.

“Tidak apa-apa bukan cerita penting kok.”

“Mianhae Oppa.” Tampak Soohee salah tingkah.

“Cukup minta maafnya ne? Memang apa yang sedang kaupikirkan?” Tanya Suho.

“Ani. Aku tidak memikirkan apapun.” Soohee berkata menggigit bibir bawahnya.

“Oh….Soohee-ya bagaimana kalau besok minggu kita pergi ke pantai?” Tampak gadis itu tersenyum senang.

“Aku mau Oppa…” Soohee berkata senang.

“Aku yakin kau pasti setuju.” Suho tersenyum melihat gadisnya tampak senang.

“Oppa bagaimana kalau kita mengajak Kai?” Emosi memasuki pikiran Suho mendengar nama Kai keluar dari mulut Soohee. Membuat senyum Suho menghilang.

“TIDAK BISAKAH KAU TIDAK BERSAMA KAI?” Teriak Suho tanpa bisa dikendalikan.

Melihat wajah Soohee yang sedikit ketakutan membuat Suho sadar dengan apa yang sudah dilakukannya. Tak seharusnya Suho membentak gadis itu. Suho meraih tangan Soohee yang ada di atas meja dan menggenggamnya.

tumblr_inline_mte8j3s7ir1rg1ld5

“Mianhae Soohee-ya. Aku hanya ingin pergi berdua saja denganmu jadi bisakah kau tidak mengajak Kai? Kau…. kau membuatku cemburu.” Suho berkata malu-malu Soohee tampak terperangah mendengar ucapan Suho.

“Mi.. Mianhae Oppa aku tidak sadar jika kau merasa seperti itu. Jeongmal mianhae.”

“Gwaenchana. Jadi kau mau kan pergi berdua denganku?” Kulihat Soohee mengangguk sambil tersenyum terpaksa.

*     *     *     *     *

Soohee memandang punggung Kai yang sedang menulis. Meskipun Soohee sudah berbicara padanya namun tetap saja laki-laki itu menjauhi gadis itu. Entah mengapa Soohee merasa sangat kesepian tidak ada Kai yang menemaninya. Biasanya laki-laki itu selalu mengejeknya namun sekarang laki-laki itu justru bersikap dingin pada Soohee.

Ada apa denganmu Kai-ya.Sedih Soohee.

Tiba-tiba pikiran Soohee mengingat ucapan Suho.

Mianhae Soohee-ya. Aku hanya ingin pergi berdua saja denganmu jadi bisakah kau tidak mengajak Kai? Kau…. Kau membuatku cemburu.

“Apa aku terlalu memikirkan Kai sampai melupakan Suho Oppa? Tapi aku tidak bisa mengontrol pikiranku yang selalu memikirkan Kau tanpa kuinginkan.” Soohee berkata lirih.

Soohee menggelengkan kepalanya mencoba melupakan Kau dan berusaha memikirkan kencannya dengan Suho besok.

*     *     *     *     *

Suho melihat foto-foto yang ada di ponselnya. Dilihatnya satu persatu fotonya saat berkencan dengan Soohee. Kebanyakan di dalam foto itu selalu ada Kai yang ikut bersamanya. Soohee selalu saja mengajak Kai jika kita hendak berkencan. Suho mengamati salah satu foto yang di ambil saat mereka berada di sungai Han. Terlihat Kai bukannya melihat kamera melainkan laki-laki itu memandang lurus ke arah Soohee dan tampak Kai menunjukkan senyum yang di paksakannya.

Suho mengganti foto lain yang di ambil saat mereka berada di Namsan Tower. Di foto itu juga terlihat Kai dengan ekspresi tak semangatnya memandang ke arah Soohee yang sedang dipeluk oleh Suho. Suho mengganti foto-foto lain dan dia mendapati hal yang sama. Kai selalu memandang Soohee. Dengan frustasi Suho mengacak rambutnya.

“Kenapa aku tidak menyadarinya sejak lama? Kai sudah lama memendam perasaannya. Dasar laki-laki pengecut. Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu pada Soohee? Aku yakin Soohee pasti akan menerimamu karena Soohee juga menyukaimu. Kenapa aku merasa jadi penghalang untuk cinta mereka?” Suho menutup matanya memikirkan tindakan apa yang harus dia ambil. Suhopun teringat pertemuannya dengan Mayu.

 

~~~Flashback~~~

 

Suho tengah memilih minuman yang hendak dibelinya. Matanya menangkap sebotol orange juice kesukaannya. Laki-laki itu tersenyum dan mengambil botol orange juice itu.

“Suho-ya?” Suho menoleh saat seseorang memanggil namanya. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman saat melihat seorang gadis tersenyum padanya.

“Mayu? Lama tak bertemu.” Suho memeluk gadis bernama Mayu itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Suho melepaskan pelukannya.

“Tadi aku ke rumahmu, Jinhyuk bilang kau ada di sini.”

“Ada apa mencariku?”

“Kau bilang dulu kau ingin belajar di Tokyo. Dan aku membawa kabar gembira.” Suho teringat dulu saat kecil dia berkata pada sepupunya ini jika dia ingin belajar di Tokyo karena Suho sangat menyukai negeri sakura itu.

“Kabar gembira apa?”

“Ini.” Mayu menyerahkan selembar kertas pada Suho.

Suho membaca lembaran kertas itu. Surat itu berisi pendaftaran untuk sekolah Tokyo High School. Jika saja dia membacanya sebelum berpacaran dengan Soohee, Suho pasti tersenyum senang namun saat ini ada Soohee yang tidak bisa ditinggalkannya.

“Maaf Mayu Aku tak bisa mendaftar saat ini.” Mayu tampak kecewa dengan keputusan Suho.

“Kenapa Suho-ya?”

“Ada seseorang yang tak bisa kutinggalkan.”

“Pasti kekasihmu ya?” Goda Mayu dan Suho meganggu mengiyakan.

“Sayang kita tidak bisa satu sekolah.”

“Maaf.” Sesal Suho.

 

~~~Flashback End~~~

 

Suho tahu apa yang harus dilakukan. Suho mencari nomor Mayu di kontak ponselnya, lalu menelponnya.

“Hallo?” Sapa Mayu.

“Mayu?”

“Suho-ya? Ada apa malam begini menelponku.”

“Aku ingin meminta bantuanmu Mayu.”

“Bantuan apa Oppa?” Suho menghela nafas sebelum menjelaskan apa yang diinginkannya.

*     *     *     *     *

TING… TONGG…

Dengan malas Kai berjalan ke depan untuk membuka pintu. Karena tidak ada seorangpun di rumah selain dia maka dengan terpaksa Kai yang harus membuka pintu. Saat pintu terbuka, nafas Kai tercekat melihat Suho berdiri di depan rumahnya.

“Kai-ya aku datang.” Suho berkata dengan nada bercanda.

“Apa yang kaulakukan malam-malam begini Suho-ya?” Tanya Kai malas.

“YA!! Kai-ya kau ini tak ada sopan-sopannya ya tidak mempersilahkanku masuk dulu?”

“Kenapa harus kupersilahkan bukankah biasanya kau langsung nyelonong masuk begitu saja?”

Kai berjalan masuk membiarkan Suho mengikutinya ke taman belakang. Tempat yang tenang untuk berbicara. Kai yakin ada hal penting yang hendak sahabatnya bicarakan karena mana mungkin tengah malam begini Suho bertamu hanya bermain.

“Jadi ada urusan apa yang membuatmu bertamu tengah malam begini?” Tanya Kai sesampai di taman belakang. Lama tak ada jawaban dari Suho. Kai berbalik dan mendapati Suho sedang berpikir.

“YA!! Kenapa kau hanya diam? Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Kai kembali menyadarkan Suho.

“Kai-ya apa besok kau ada acara?” Dahi Kai berkerut mendengar pertanyaannya.

“Tidak ada. Ada apa?”

“Aku ingin mengajakmu ke pantai. Sudah lama aku tidak ke pantai. Terakhir kita ke pantai saat kita masih SD. Apa kau ingat?” Kai tertawa mengingat acara yang di maksud Suho. Acara piknik sekolah mereka.

“Mana mungkin aku melupakannya, saat itu kan kau berteriak ketakutan karena di dalam celanamu ada ikannya.” Kai tertawa keras.

“Aisshh… Kenapa hanya kejadian memalukan itu yang kauingat huh?” Kesal Suho.

“Habis wajahmu yang ketakutan dan di penuhi air mata itu sangat lucu.” Kai tertawa kembali.

“Apa kau tidak ingat Soohee saat itu?” Tawa Kai terhenti mendengar pertanyaan Suho.

Mana mungkin Kai melupakan tentang Soohee saat itu, Kai bahkan tak bisa tidur semalaman karena memikirkannya. Saat itu Kai dan Suho sedang membuat benteng perang. Tiba-tiba saat Kai sedang sibuk membuat bentengnya,  tanpa sadar Soohee berlari ke arahnya. Karena gadis itu terlalu ceroboh tak sengaja Soohee tersandung benteng buatannya dan terjatuh menimpa laki-laki. Karena itu bibir mereka tak sengaja menempel. Meskipun kejadian itu tidak sengaja tapi Kai tetap senang. Tiba-tiba kudengar tawa Suho menyadarkan Kai akan keberadaannya.

“Kau tahu wajah kalian mirip sekali kepiting rebus memerah.” Suho berkata di sela tawanya.

“Kau mau balas dendam ne? Awas kau Suho-ya.”

Kai hendak menjitak laki-laki itu namun Suho sudah berlari duluan membuat Kai harus berlari mengejarnya. Akhirnya setelah berlari berputar-putar mereka kelelahan dan langsung berbaring di atas rumput. Kai berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal sambil memandangi jutaan bintang yang ada di langit.

“Jadi apa kau mau pergi bersamaku besok?” Tanya Suho setelah tenang.

“Mau saja asal kau yang menjemputku.”

“Itu masalah mudah untukku yang merupakan keluarga kaya raya.” Sombongnya. Memang sih Suho sangat kaya karena keluarganya memiliki beberapa mall di Seoul jadi masalah mobil mudah saja untuk Suho.

“Aisshh…. Ne arraseo tuan muda Kim kau kan sangat kaya.” Ucap Kai bercanda. Lalu tawa mereka pecah meramaikan keheningan malam.

“Aku senang bisa bersahabat denganmu Kai-ya. Kau sahabat  terbaik yang pernah kumiliki. Terima kasih kau sudah bersikap baik padaku selama ini.” Suho berkata sambil memandangi langit. Kai menoleh ke samping untuk melihat Suho. Tampak laki-laki itu tersenyum senang.

“Kau ini bicara apa Suho-ya? Kenapa kata-katamu seakan kita tidak akan bertemu lagi?” Suho menoleh dan tersenyum lebar pada Kai. exo-k_suho_smiling-744

“Entahlah aku begitu saja ingin mengucapkannya. Baiklah lebih baik aku pulang sekarang. Sampai jumpa besok sobat.” Suho berdiri dan meninggalkan Kai yang masih berdiam di tempat ingin lebih lama memandangi langit malam yang indah.

“Kau juga sahabat terbaikku Suho-ya.” Kai berkata sendiri.

*     *     *     *     *

“Permisi tuan muda Kai, perkenalkan saya adalah Han Jinhyuk, saya di minta tuan muda Suho untuk mengantarkan anda ke pantai.” Seorang laki-laki memakai seragam hitam berkata pada Kai.

“Lalu di mana Suho sekarang?” Tanya Kai.

“Tuan muda Suho sudah menunggu anda di sana. Mari tuan muda.” Jinhyuk mempersilahkan Kai masuk ke dalam mobil Van. Kai masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di dekat jendela.

“Dasar seenaknya saja.” Gerutu Kai pada Suho. Kai merasakan mobil melaju dengan kecepatan sedang.

“Maaf tuan muda Kai, saya harus pergi ke suatu tempat dulu untuk menjemput seseorang.” Jinhyuk berkata sambil masih menyetir.

“Siapa?”

“Nanti tuan muda juga akan tahu.”

Kai tak pedulikan Jinhyuk lalu menutup matanya mencoba tidur. Namun belum lama tidur nyenyak, Kai mendengar pintu mobil terbuka membuat laki-laki itu mau tak mau membuka mata. Matanya melotot melihat Soohee masuk ke dalam mobil. Gadis itu juga tampak kaget melihat Kai, namun Soohee langsung duduk di samping Kai tanpa berkata sepatah katapun.

Sebenarnya apa maksud Suho melakukan semua ini? Bukankah dia memintaku menjauhi Soohee tapi kenapa sekarang justru dia menempatkan kami dalam satu mobil? Bingung Kai dalam hati.

“Di… Di mana Suho Oppa?” Tanya Soohee gugup. Kai yakin sikap dinginnya membuat gadis itu enggan berbicara dengannya.

“Dia menunggu di pantai.” Kai berkata singkat.

Kai menyandarkan kepalanya dan menutup mata menunjukkan pada Soohee dia sedang tak ingin di ganggu. Meskipun mata Kai tertutup tapi laki-laki itu masih bisa merasakan Soohee menatapnya. Lama Kai mencoba tidur tapi tetap tak bisa karena Soohee tak henti-hentinya melihat kearahnya membuanya gugup.

“Bisakah kau kembali seperti dulu Kai-ya? Aku merasa kesepian tidak ada yang mengejekku dan selalu menemaniku saat aku sedih dan tak ada lagi yang mengacak rambutku. Aku merindukanmu.”  Meskipun Soohee mengucapkannya dengan suara kecil tapi Kai masih bisa mendengarnya.

Apa aku tidak salah dengar Soohee merindukanku? Pikir Kai tak percaya.

Sebenarnya Kai merasa senang mendengar ucapan Soohee, namun Kai tidak bisa menunjukkannya karena dia ingin tetap berada jauh dari gadis itu. Kai tidak ingin menyakiti sahabatnya,Suho.

“YA!! Pemalas cepat bangun kita sudah sampai.” Teriak Soohee ketika mobil sudah berhenti. Padahal tadi Kai tersentuh dengan ucapan gadis itu tapi sekarang justru gadis itu terdengar seperti ibunya saat sedang berteriak.

“Aisshh…. Penganggu saja.” Gerutu Kai membuka mata.

“MWO? Pengganggu kau bilang. YA!! Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku sudah berbaik hati membangunkanmu.”

“Aku rasa hal itu tidak penting.” Kai keluar terlebih dulu dari dalam mobil. Kakinya akhirnya menyentuh tanah. Kai langsung mengangkat tangannya untuk meregangkan tubuhnya yang pegal akibat perjalanan yang cukup lama.

DUUGHHHH….

Punggung Kai di tendang seseorang membuat tubuhnya sukses melunur di tanah.

“Menghalangi jalan saja.” Soohee berkata turun dari mobil. Kai segera bangkit berdiri dan hendak memarahi gadis itu.

“Tidak bisakah kau bersikap lembut sedikit? Kau ini perempuan apa laki-laki huh?”

“Salahmu sendiri menghalangi jalanku.” Soohee berjalan mendahului Kai mengikuti Jinhyuk ke sebuah hotel.

Dengan santai Kai melangkah menuju hotel sambil menikmati pemandangan ombak-ombak yang mengarah ke pantai. Kai tak sadar jika dia sudah lama tak mengunjungi pantai.

Kai memasuki hotel dilihatnya Soohee berdiri di loby. Melihat Soohee dari belakang saja sudah cukup membuat jantung Kai berdebar tak karuan. Muncul ide jahil Kai untuk mengagetkan gadis itu dengan begitu dia bisa membalas perbuatan gadis itu tadi. Kai yakin gadis itu pasti akan berteriak karena kaget. Kai melangkahkan kakinya perlahan mendekati Soohee.

“BOOO……” Teriak Kaimengagetkan Soohee. Tidak sesuai dugaannya, Soohee hanya terdiam. Melihat Soohee terdiam Kai merasakan ada sesuatu  yang tak beres dengan gadis itu.

“Soohee-ya.” Kai membalikan tubuh Soohee. Mata Kai terbelalak kaget melihat pipi Soohee sudah basah oleh air matanya.

“Ada apa Soohee-ya? Kenapa kau menangis?

“Su… Suho Oppa.” Soohee menyerahkan sebuah surat pada Kai.

To : Sooheeku yang manja

Soohee-ya mianhae aku harus meninggalkanmu. Saat membaca ini aku sudah berada di Jepang. Sudah kuputuskan untuk belajar di sana. Mianhae aku tidak bisa lagi menemanimu. Tapi kau tak perlu khawatir karena aku yakin saat ini laki-laki yang ada di dekatmu si pengecut Kai itu pasti akan menemanimu.

Aku yakin Kai bisa membuatmu bahagia dan menggantikan tempatku. Eh ani justru aku yang sudah merebut tempatnya di hatimu. Mungkin kau tidak menyadari kau sudah menyukainya karena gadisku ini terlalu bodoh. Bahkan saat bersamaku kau selalu bercerita tentang Kai dan saat aku mengajakmu pergi kencan kau selalu mengajak Kai. Tapi tidak apa-apa kau tak perlu mencemaskanku. Melihat kedua sahabatku bahagia bersama sudah membuatku senang.

Kapan-kapan aku akan mengunjungimu jika di perbolehkan Kai tentunya hee…he…. Oh ya jika Kai membuatmu menangis katakan saja padaku, aku akan langsung terbang ke Seoul dan memukul laki-laki itu. Terimakasih sudah menemaniku selama ini Soohee-ya. Jaga dirimu baik-baik.

Saranghae.

Kim Suho

“Kim Suho bodoh.” Kesal Kai.

Kai mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Suho.

“Hi Sobat. Bagaimana apa kau sudah berhasil memiliki Soohee?” Sapa Suho dengan nada gembira membuat Kai benar-benar bingung.

“YA! Suho-ya apa kau gila? Kenapa kau tiba-tiba meninggalkan Soohee? Apa kau tidak memikirkan perasaan Soohee?” Marah Kai.

“Aku tak perlu mengkhawatirkannya.” Kekesalan Kai semakin menjadi mendengarkan ucapan Suho.

“MWO? YA!! Suho-ya ada apa denganmu? Di mana rasa sayangmu pada Soohee? Kenapa kau justru tega meninggalkannya?”

“Rasa sukaku pada Soohee masih ada Kai-ya, tapi ada laki-laki lain yang menyukai Soohee melebihi rasa sukaku. Aku yakin kau pasti bisa membuat Soohee bahagia Kai-ya. Aku percaya padamu. Aku pergi dulu. Jaga Soohee baik-baik jangan membuatku menyesal karena sudah merelakannya untukmu.” Suho menutup telpon.

“Aku tidak sadar selama ini aku sudah melukai hati Suho Oppa. Aku benar-benar jahat padanya Kai-ya.” Soohee menangis.

Kai langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mengelus rambutnya untuk membuat gadis itu tenang.

“Kau tidak jahat Soohee-ya bukankah kau tidak sengaja melakukannya aku yakin Suho mengerti itu.” Mereka berpelukan lama sampai akhirnya gadis itu berhenti menangis. Soohee melepaskan pelukan Kai dan menghapus air matanya.

“Aku akan ke kamarku dulu.” Soohee tampak masih shock. Kai hanya terdiam melihat gadis itu berjalan menjauhinya.

Mungkin lebih baik kubiarkan dia sendiri dulu. Pikir Kai.

*     *     *     *     *

“Sebenarnya ada apa kau tiba-tiba ingin pindah kemari Suho-ya?” Suho menoleh pada Mayu yang berjalan di sampingnya. Suho tersenyum.

“Untuk menyatukan kedua sahabatku yang bodoh.”

“Apa maksudmu?” Suho tertawa sendiri mengingat alasannya.

“Aku sudah menjadi penghalang untuk kedua sahabatku dan untuk menebusnya aku ingin menyatukan mereka.”

Sebelum Mayu bertanya kembali  ponsel Suho bergetar. Suho mengambil ponsel dari sakunya dan langkahnya terhenti melihat nama ‘Soohee’ ada di layar ponselnya.

“Kau duluan saja Mayu aku akan segera menyusul.” Mayu mengangguk dan berjalan mendahului Suho menuju sekolah yang hendak dimasuki Suho di Jepang. Suho menghela nafas sebelum mengangkat telpon itu.

“Ada apa Soohee-ya?” Suho berkata dengan nada seceria mungkin.

“YA!!! Suho OPPA!!! Apa yang kaulakukan huh?” Teriak Soohee membuat Suho harus menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Aiiggoo…. Kenapa hobi kedua sahabatku sama sih selalu saja berteriak. Apa kalian ingin membuat telingaku rusak hemm?” Hening, tak ada respon dari Soohee.

“Soohee-ya kau masih di sana?” Tanya Suho.

“Mianhae Suho Oppa.” Soohee berkata lirih. Suho yakin saat ini gadis itu ingin menangis.

“Kau tak perlu minta maaf padaku Soohee-ya. Kau tidak salah, akulah yang salah sudah berada di tengah-tengah kalian. Kau tak perlu merasa bersalah seperti ini Soohee-ya aku baik-baik saja di sini.”

“Tapi Oppa…Soohee-ya, aku harus mendaftar ke sekolah baruku. Jangan membuat  Kai menunggu lama lagi. Aku pergi dulu ne. Annyeong.”

Suho menutup telpon itu sebelum Soohee berkata apa-apa lagi. Suho sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah keputusan yang tepat, jika Suho mendengar suara gadis itu lebih lama lagi Suho bisa-bisa melupakan keyakinannya itu. Suho memandang langit cerah dari Jepang. Benar-benar berbeda dari Korea.

Semoga berhasil Soohee-ya. Aku yakin Kai bisa membuatmu lebih bahagia daripada aku. Suho kembali melanjutkan langkahnya menyusul Mayu. tumblr_m8dctyNCTq1qhmxnlo1_1280

*     *     *     *     *

Kai memasukkan kedua tangannya di saku celana pendek yang di pakainya dan berjalan melewati pasir pantai putih. Laki-laki itu menunduk tak memperdulikan ombak-ombak indah yang bergulung mengarah ke pantai menerpa kakinya yang telanjang. Laki-laki itu hanya memandangi kakinya yang sudah kotor penuh dengan pasir yang menempel di kakinya.

Kai mendongak dan menghela nafas mencoba melepaskan beban pikirannya. Namun saat matanya menangkap bayangan seorang gadis, langkah Kai terhenti. Dilihatnya Soohee duduk di pinggir pantai dengan memeluk lututnya. Matanya menatap lurus ke arah laut.

Kai tersenyum tipis lalu menghampirinya. Soohee menoleh saat Kai duduk di sampingnya. Keduanya terdiam bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

Apa mungkin Soohee masih sedih dengan kepergian Suho? Tanya Kai dalam hati.

“Aku benar-benar jahat ya Kai-ya.” Kai menoleh mendengar ucapan Soohee.

“Ne… Kau memang benar-benar jahat Soohee-ya bahkan kau tadi menendangku.” Kai berkata mencoba bercanda.

Namun Soohee tidak tertawa seperti yang Kai perkirakan. Kai menghela nafas lalu mengacak lembut rambut Soohee.

“Kalau kau merasa bersalah pada Suho minta maaf saja padanya, mudah kan?”

“Bukan itu.”

“Lalu?”

“Aku sudah berbuat jahat padamu Kai-ya. Mianhae karena selama ini aku tidak menyadari perasaanmu. Kenapa kau tidak mengatakannya langsung padaku?” Soohee berkata dengan masih memandangi laut.

TUK….

Sebuah jitakan mendarat di jidat Soohee.

“Kau ini benar-benar bodoh. Apa selama ini kau tidak merasa aku selalu memperlakukanmu istimewa dibandingkan gadis lain?”

Soohee terdiam mengingat Kai selalu memperhatikannya. Bahkan saat istirahat Kai selalu bersamanya. Dan juga saat berada di taman hiburan Kai meninggalkan Luna hanya demi dirinya.

“Tapi bukankah kau memiliki banyak gadis?”

Tukk…

Kai menyentil jidat gadis itu.

“Oooucch…. Sakit.” Ringis Soohee memegang jidatnya.

“Aku melakukan itu karena aku berusaha untuk melupakanmu, karena kau adalah pacar Suho mana mungkin aku merebutmu darinya. Jadi apa kau juga menyukaiku Soohee-ya?” Soohee tersentak mendengar pertanyaan Kai.

“Aa…ani.” Soohee menggeleng dan menundukan wajahnya malu. Kai tersenyum melihat Soohee sedang malu. Kai menarik dagu Soohee dan menatap matanya lekat.

“Sayang sekali padahal aku sangat menyukaimu Soohee-ya.”

CCUPP…..

Tiba-tiba Kai mencium bibir Soohee membuat gadis itu terbelalak kaget.

Aku yang mencium kenapa jantungku yang berdetak lebih cepat? Batin Kai.

Sadar, Sooheepun mendorong tubuh Kai melepaskan ciumannya.

PLETAK…

“YA!! Beraninya kau mencium bibirku yang berharga ini.” Teriak Soohee.

“Kenapa? Bukankah kita memang pernah berciuman saat di pantai?”

Blushh..

Kai tertawa melihat wajah Soohee memerah seperti kepiting rebus.

“Berhentilah tertawa atau aku akan menendangmu lagi dasar mesum.”

“Nee.. Nee.. arrasseo.” Kai berhenti tersenyum dan menarik Soohee ke dalam pelukannya.

“Aku senang akhirnya aku bisa mengatakannya di hadapanmu. Saranghae Go Soohee.” Kai berkata memeluk erat Soohee.

“Na do saranghae Kai-ya. Mianhae selama ini aku tidak menyadari perasaanku.” Kai tersenyum senang mendengar jawaban Soohee.

Gomawo Suho-ya. Aku tidak akan mengecewakanmu. Janji Kai dalam hati.

Kai melepaskan pelukannya dan memandang wajah cantik Soohee yang masi merona malu.

“Berarti mulai sekarang kau milikku.” Kai berkata senang.

“Nde? Aniyo, Siapa bilang aku milikmu?” Goda Soohee.

“Ohh… Jadi kau bukan milikku ya? Berarti aku boleh kan mencari gadis yang bisa menjadi milikku?” Kai tertawa melihat Soohee mempoutkan bibirnya kesal.

“YA!!! Kai-ya kau mau kutendang lagi huh?”

“Aniyo Soohee-ya, mana mau aku ditendang dengan kaki gajahmu.”

“MWO? Kaki gajah? Awas kau Kai-ya aku akan benar-benar menendangmu.” Teriak Soohee mengejar Kai yang berlari di pinggir pantai.

Aku tak akan menyerah untuk selalu menunggumu

Karena aku percaya kau akan menjadi milikku

Tak akan pernah kulepaskan kau

Aku merasa seperti laki-laki paling beruntung karena memilikimu

Aku akan memberikan seluruh hatiku untukmu

Saranghae Go Soohee

Kai

End—— Maaf jika ceritanya tidak bagus aku sedang berusaha belajar membuat FF yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s