Very Important U (V.I.U) Chapter 1

vv

Title     : Very Important U (V.I.U) Chapter 1

Author: Chunniest

FB       : https://www.facebook.com/louisa.vanvan

Twitter: https://twitter.com/ivanna_putri

Genre  : Mellodrama,  Romance,

Length: Chapter

Cast :

* Shin Jieun (OC)

* Jang Hyun Seung (Beast)

* Yoon Doo Joon (Beast)

* Woo Jihae (Girl’s day)

*Kim Ah Young as Kim Yura (Girl’s day)

* Shin Hye Sung / Steve (Shinhwa)

* Son Dong Woon (Beast) as Shin Dongwoon

* Lee Yeon Hee

* Yong Jun Hyung (Beast) as Jang Jun Hyung

* Bang Minah (Girl’s day) as Jang Minah

* Lee Kikwang (Beast)

* Yang Yo Seob (Beast)

* Yoon Sung Ha as Jang Esther

* Mun Eric as Jang Eric (Shinhwa)

 

Semoga ff ini bisa di publish. Terimakasih sudah membaca FF ini. Happy reading^_^

DON’T BE SILENT READERS

 

*  *  *  *  *

 

Langit sore berganti dengan kegelapan malam. Mataharipun di ganti dengan bulan yang di temani binta-bintang. Di sebuah Hotel dengan tulisan ‘Zeus’ di depan pintu masuk, mobil-mobil berdatangan. Orang-orang dengan pakaian pesta yang mewah turun dari mobil memasuki hotel tersebut.

Pintu Ballroom di hotel Zeus terbuka, seorang laki-laki dengan pakaian pelayan menyambut setiap tamu yang datang. Ballroom itu sudah disulap menjadi tempat Pesta bergaya prasmanan. Dengan membawa minumannya tak jarang beberapa tamu berkumpul mengobrolkan bisnis mereka, lalu para wanita sibuk memuji pesta yang mewah itu, sedangkan para gadis sibuk mencari perhatian laki-laki yang menurut mereka tampan.

Seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan kemeja putih di balut dengan jas hitam dan celana serta sepatu yang senada berjalan menuju panggung. Laki-laki itu membenarkan kacamatanya sebelum mengambil microphone.

“Selamat malam untuk semua tamu yang sudah hadir di sini” Ucap Laki-laki itu menarik perhatian semua tamu undangan.

Melihat laki-laki yang berada di panggung semua orang langsung berbisik membicarakannya.

“Saya akan memperkenalkan diri meskipun kalian pasti sudah tahu siapa saya.” Semua orang tertawa mendengar candaan lelaki itu.

“Annyeong hasseyo. Saya adalah Yoo Jaesuk. Saya kemari bukan untuk menjadi pembawa acara seperti yang biasa kalian lihat di Televisi. Saya diminta adikku Steve menjadi pembawa acara di pesta pertunangan putrinya. Bukankah ini malam yang cerah untuk sebuah pesta bukan?” Lagi-lagi semua tamu undangan tertawa mendengar celotehan Jaesuk. Bahkan Steve, Lelaki paruh baya dalam balutan jas hitam dari merk ternama itupun ikut tertawa.

“Baiklah kita panggilkan saja sang tokoh utama dalam pesta ini. Beri sambutan yang meriah untuk Yoon Doojoon dan Shin Jieun.” Tepuk tangan meriah dari tamu undangan terdengar sangat meriah.

Dari sisi lain pintu terbuka seorang laki-laki tampan mengenakan Suite berwarna hitam tersenyum. Seorang gadis mengenakan gaun panjang berwarna hijau kebiruan dengan tali spageti melingkar di lehernya yang terekspos. Rambutnya digelung rapi bak seorang putri. Sesampai di tengah ruangan, lampu dimatikan digantikan sorotan lampu yang mengarah pada sepasang kekasih itu. Doojoon menggenggam kedua tangan Jieun dan menatap lurus mata Jieun.

“Sebelum sepasang kekasih ini bertukar cincin, kita akan mendengar bagaimana perasaan adikku ini Steve.” Jaesuk menyerahkan micnya pada Steve yang berjalan ke arahnya.

Steve memandang Doojoon dan Jieun dengan senyum bahagia. “Malam ini aku begitu terharu melihat putriku dengan wajah bahagianya. Dan saat ini pula aku begitu yakin menyerahkan putriku di tangan yang tepat.” Tatapan Steve bertemu dengan mata Jieun dan Jieunpun tersenyum pada ayahnya.

“Tapi ingat Doojoon-ah, kau belum bisa memiliki putriku sepenuhnya. Jadi jangan berbuat macam-macam.” Canda Steve dan terdengar riuh tawa di ruangan itu begitupula dengan Doojoon dan Jieun.

“Tapi aku tahu hanya kau yang bisa merebut hati putriku yang manja ini. Jadi aku percaya padamu.” Steve memandang Doojoon seakan menyerahkan putrinya langsung.

Steve menyerahkan mic itu pada Jaesuk lalu terdengar tepuk tangan mengiringi turunnya Steve dari atas panggung.

Steve berjalan menghampiri Doojoon dan Jieun. Tangannya terulur, sebuah kotak beludru putih berada di atas tangannya. Steve membukanya dan memperlihatkan dua cincin emas dengan ukiran rumit di sekelilingnya memberi nilai unik pada cincin itu.

matching-wedding-rings-his-and-hers-315x200

“Aku yang memesankannya. Aku yakin kalian pasti suka.” Ucap Steve.

“Terimakasih appa.”

“Terimakasih abeonim.”

“Pakailah.” Perintah Steve.

Doojoon dan Jieun saling berpandangan dan akhirnya Doojoon mengambil dahulu satu cincin berukuran lebih kecil lalu mengangkat tangan kiri Jieun dan memakaikan cincin itu di jari manisnya. Cincin itu melingkar pas di jari Jieun yang kecil. Jieun mengambil cincin yang tersisa dan mengangkat tangan kiri Doojoon lalu memakaikan cincin itu. Tepuk tangan pun terdengar setelah pemakaian cincin itu selesai.

Doojoon kembali memandang gadis yang sudah menjadi tunangannya itu. Ekspresi kebahagian tercetak jelas di wajah cantiknya. Doojoon menggenggam erat tangan Jieun dan tersenyum pada semua tamu undangan.

 

*  *  *  *  *

 

Seorang gadis meminum wine untuk kesekian kalinya. Diletakkan gelas itu di meja dan pandangannya mengarah pada sepasang kekasih yang tengah berbicara dengan beberapa orang. Senyuman tak lepas dari wajah mereka sejak tadi. Genggaman di gelasnya tampak megerat memperlihat jari-jarinya yang memutih. Gadis itu menghela nafas sebelum akhirnya menghampiri sepasang kekasih itu.

“Jieun-ah.” Panggil gadis itu berlari kecil.

Dress hijau yang dipakainya sedikit menyusahkannya saat bergerak.

Jieun tersenyum dan melambaikan tangannya pada gadis itu begitupula dengan Doojoon.

“Selamat ya.”Ucap gadis itu memeluk Jieun.

“Terimakasih Jihae-ya.”

Jihae melepaskan pelukan Jieun lalu mengangkat tangan kiri Jieun. Gadis itu tersenyum melihat sebuah cincin bermata berlian kecil melingkar di jari manis Jieun.

“Wah… Kau beruntung sekali mendapat tunangan yang cantik Oppa.” Doojoon tertawa mendengar ucapan Jihae.

“Aku memang beruntung Jihae-ya.” Jieun memekik kaget saat Doojoon memeluknya dari belakang.

5Love_Rain

Ada perasaan iri merasuki hati Jihae. Namun gadis itu hanya bisa tersenyum tipis melihat kebahagian sahabatnya.

“Oh ya Oppa apa kau sudah membaca proposal dari perusahaan Jang?”

“Iya. Aku sudah membacanya.”

“Apa kau akan menerimanya Oppa? Bukankah ini kesempatan bagus untuk mengembangkan Perusahaan Kim?”

“Tidak semudah itu Jihae-ya. Mereka mengajukan beberapa persyaratan yang membuatku harus memikirkan penggabungan itu matang-matang.”

“Selain gila kerja kau juga sangat berhati-hati mengambil keputusan Oppa.”

Jieun hanya terdiam melihat Doojoon dan Jihae membicarakan perusahaan tempat mereka bekerja. Jieun merasa menjadi orang asing jika Doojoon dan Jihae mulai mendiskusikan tentang perusahaan mereka. Sebagai seorang dokter pengalamannya dalam bidang bisnis adalah nol besar. Meskipun ayahnya adalah pemilik perusahaan Shinhwa, perusahan kosmetik terbesar di Korea, namun Jieun tetap tak mengerti seluk beluk perusahaan.

“Saya ucapkan selamat untuk Yoon Doojoon dan Shin Jieun yang baru saja melangsungkan pertunangannya. Ini adalah acara yang ditunggu-tunggu, pemain musik akan memainkan musik mellow jadi silahkan cari pasangan kalian untuk berdansa. Selamat menikmati.” Jaesuk memberikan tanda pada pemain musik untuk mulai memainkan musiknya.

“Wah.. Sepertinya aku harus menyingkir daripada harus melihat kalian bermesraan di hadapanku.”

“Makanya Jihae-ya carilah laki-laki dan ajaklah berdansa. Ayo Jieun-ah.” Doojoon menarik Jieun di tengah ruangan. Laki-laki itu meletakkan satu tangannya di pinggang Jieun yang ramping sedangkan tangannya yang lain menggenggam tangan mungil Jieun. Jieun tersenyum memandang tunangannya yang terlihat sangat tampan hari itu.

“Apa aku sudah mengatakan hari ini kau sangat cantik?”

“Kau sudah mengatakan ratusan kali Oppa.” Jieun tertawa.

“Tapi aku tidak akan bosan mengatakan tunanganku sangat cantik.” Pipi jieun merona merah mendengar pujian Doojoon. Sepasang kekasih itupun berdansa mengikuti alunan musik.

 

*  *  *  *  *

 

Seorang laki-laki mengenakan suite hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu memasuki Ballroom hotel Zeus. Mata lelaki itu bertemu dengan Steve. Wajah Steve yang awalnya dipenuhi senyuman tiba-tiba berubah dingin menatap manik mata coklat milik lelaki itu. Seperti yang sudah laki-laki itu duga, Steve menghampirinya dengan ekspresi wajah jauh dari kata ramah.

“Apa yang kaulakukan di sini. Aku tak mengundang seorang pemberontak di sini.” Ucap Steve dengan nada dingin.

Laki-laki itu tersenyum sinis. “Sayang sekali abeoji, adikku tercinta yang sudah mengundangku kemari.”

Laki-laki itu menepuk bahu Steve. “Kau tak perlu khawatir abeoji. Setelah aku mengucapkan selamat pada Jieun aku akan segera menghilang. Karena aku juga tidak pernah mau berada disini.”

Laki-laki itu berjalan meninggalkan Steve tengah mengepalkan tangannya menahan emosi. Bibir laki-laki itu mengembangkan sebuah senyuman melihat Doojoon dan Jieun sedang berdansa.

“Eheeuumm……..Bolehkah aku berdansa dengan tuan putri?” Jieun dan Doojoon menoleh dan terkejut melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya.

“Dongwoon Oppa.” Jieun memeluk laki-laki itu dengan eratnya.

“Ommo Jieun-ah kau bisa membunuhku.” Dongwoon berkata dengan leher yang terasa sakit akibat ulah Jieun.

Doojoon tertawa melihat tingkah kakak beradik itu.

“Maaf Oppa aku terlalu bersemangat melihatmu.” Jieun berkata melepaskan Dongwoon.

“Kupikir Oppa tidak datang.”

Dongwoon tersenyum melihat dongsaengnya terlihat seperti seorang tuan putri.

“Mana mungkin aku melewatkan acara penting adikku yang paling manja ini.”

“Kau harus memanggilku Hyung Doojoon-ah.”

PLETAKK….

Doojoon memberikan jitakan di kepala Dongwoon.

“Meski aku tunangan adikmu, tapi aku tetap lebih tua darimu.”Jieun tertawa melihat Oppanya mendapat pelajaran dari tunangannya.

“Baiklah… Baiklah hyung. Bolehkah aku pinjam tuan putri ini sebentar?” Ijin Dongwoon dan Doojoonpun mempersilahkan Dongwoon mengambil tunangannya.

Namun saat Doongwoon hendak menghampiri Jieun. Doojoon memegang bahunya.

“Jangan lama-lama.” Bisik Doojoon.

“Aisshhh…. Arrasseo.” Doojoon tertawa melihat Dongwoon kesal.

Dongwoon menghampiri Jieun dan mengulurkan tangannya layaknya seorang pangeran meminta seorang putri untuk berdansa. Jieun tersenyum dan menerima uluran tangan Dongwoon. Laki-laki itu meletakkan tangan di pinggang Jieun dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Jieun seperti yang Doojoon lakukan. Kedua kakak beradik itupun berdansa mengikuti musik yang mengalun indah.

“Oppa… Kapan Oppa pulang. Aku sangat kesepian di rumah tanpa Oppa.” Rengek Jieun mempoutkan bibirnya.

“Maaf Jieun-ah. Oppa belum bisa pulang sekarang.”

“Lalu kapan lagi? Sebenarnya ada apa denganmu dan appa, Oppa?”

Dongwoon terdiam memandang adiknya tengah menatapnya penasaran.

“Kau tak perlu mengetahuinya Jieun-ah. Lagipula bukankah sekarang sudah ada Doojoon hyung yang menemanimu?” Tanya Dongwoon.

“Doojoon Oppa tak bisa menemaniku setiap saat Oppa, dia sibuk dengan pekerjaannya.” Dongwoon tertawa melihat Jieun memajukan bibirnya. Meskipun sudah besar tapi tingkah Jieun masih seperti anak kecil.

“Kau akan segera menikah tapi bagaimana bisa tingkahmu masih seperti anak kecil eoh?”

“Eeheum…” Dongwoon dan Jieun menoleh. Keduanya tertawa melihat Doojoon berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Dongwoon tajam.

“Aku rasa sudah cukup kau berdansa dengan tunanganku Dongwoon-ah.”

“Ya… Ya…. Aku mengerti hyung. Ini kukembalikan tunanganmu.” Dongwoon menyerahkan Jieun pada Doojoon.

“Ingat hyung. Meski kau lebih tua dariku, tapi aku tidak akan segan-segan memukulmu jika kau membuat adikku menangis.” Dongwoonpun berlalu pergi.

Doojoon kembali memegang tangan Jieun dan kembali berdansa.

“Dia benar-benar menyayangimu.” Ucap Doojoon.

“Siapa? Dongwoon Oppa?” Tanya Jieun dan Doojoon mengangguk.

“Dongwoon Oppa memang selalu menyayangiku dan melindungiku. Aku merindukannya. Ingin sekali merasakan kehadirannya di rumah. Aku merasa kesepian.” Terdengar nada sedih di suara Jieun.

“Kau tak akan kesepian lagi. Bukankah ada aku?” Jieun kembali tertawa.

“Bukankah kau juga sangat sibuk Oppa. Bagaimana bisa kau menemaniku eoh?”

“Kau benar. Tapi aku akan berusaha meluangkan waktu untukmu. Saranghae Shin Jieun.”

Jieun memindahkan tangannya melingkar di leher Doojoon. “Na do saranghae Oppa.”

memorable-kiss

Doojoon mendekatkan wajahnya memotong jarak di antara mereka. Tak mereka pedulikan keadaan di sekitar mereka. Mata Doojoon tak lepas dari mata Jieun, seakan dunia ini hanyalah milik mereka berdua. Jarak bibir mereka tinggal beberapa centi saja saat terdengar suara berdehem yang keras membuat keduanya menoleh.

“Aku harus mengambil putriku Doojoon-ah jika kau tak keberatan.” Ucap Steve.

“Tentu tidak abeonim. Silahkan.” Doojoon menyerahkan tangan Jieun dan disambut oleh Steve.

Steve memegang pinggang dan tangan putrinya lalu berdansa mengikuti musik. Jieun menatap wajah ayahnya yang juga bahagia.

“Apa appa bertemu Dongwoon Oppa?” Seketika senyum kebahagiaan Steve menghilang.

Raut wajah Steve mengeras menandakan lelaki itu tengah menahan emosinya dan Jieun mengenal artinya itu.

“Ya aku bertemu dengannya. Tak seharusnya kau mengundangnya.”

“Dia Oppaku appa, tentu saja aku mengundangnya.”

“Seingat appa kau tidak memiliki Oppa. Lupakan dia.”

Kali ini Jieun benar-benar kesal pada ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya menyuruhnya melupakan kakak yang sangat di sayanginya?

“Tidak. Aku tidak akan melupakan Oppaku sendiri. Sebenarnya ada apa diantara kalian appa? Kenapa kalian selalu menyembunyikan alasannya dariku.”

Langkah Steve terhenti dan menatap putrinya tajam.

“Doojoon sepertinya tidak bisa bersabar lebih lama jauh darimu. Appaakan mengobrol dengan tamu lain.” Ucap Steve meninggalkan putrinya yang memandang kesal ke arahnya.

Jieun menghela nafas dan tak lama dirasakan sepasang tangan memeluk perutnya.

“Apa kau bertengkar dengan abeonim?” Tanya Doojoon dan Jieun mengangguk lemah.

Doojoon membalikkan tubuh Jieun. Laki-laki itu menggeleng tak puas melihat wajah tunangannya cemberut. Doojoon menepuk pelan kedua pipi Jieun menghilangkan pipinya yang menggembung. Dengan jari telunjuknya Doojoon menarik kedua sudut bibir Jieun membentuk senyuman.

“Chagi malam ini adalah pesta pertunangan kita. Jangan memasang wajah cemberutmu di hari yang membahagiakan ini. Aku bisa kabur melihat wajah jelekmu saat cemberut.” Akhirnya Jieun tertawa mendengar ucapan Doojoon. Gadis itupun tersenyum dan mengangguk, setuju dengan ucapan tunangannya.

 

*  *  *  *  *

 

Sebuah apartment dengan nuansa serba putih mendominasi setiap ruangan. Lantai yang terbuat dari kayu berwarna coklat terang tampak menyatu di setiap ruangan. Banyak sekali foto-foto terpajang menghiasi dinding bercat putih itu. Sebuah foto berukuran besar menampilkan seorang laki-laki berdiri mengenakan suit putih dengan garis hitam di tepijas itu. Rambut merah menyala terlihat cocok dengan kulit putihnya. Mata lelaki itu tertutup seakan tengah menghirup aromabunga warna warni di tangannya. Dibagian bawah tertulis ‘1st album White Jang Hyunseung’.

Foto lain memperlihatkan dua orang laki-laki dengan ekspresi yang berbeda. Lelaki berambut merah tampak tersenyum senang memandang kamera sedangkan lelaki berambut golden blond terlihat cool. Begitupula dengan foto yang lain.

Memasuki dapur yang masih didominasi warna putih dan hitam seorang lelaki berdiri di depan kompor dengan memakai celemek berwarna biru. Tangan kanannya memegang sebuah spatula sedangkan satu tangan lain memegang penggorengan yang berisi omelete. Melihat warnanya sudah berubah kuning kecoklatan, lelaki itu mematikankompor dan memindahkan omelete itu ke dalam piring.

Mendengar suara langkah kaki mendekat ke dapur laki-laki itu menoleh. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman saat melihat seorang laki-laki yang lebih muda darinya mengenakan seragam SMAnya.

“Pagi Jun-ya.” Sapa Hyunseung dengan panggilan kesayangannya.

“Berhentilah memanggilku seperti itu hyung. Aku bukan adik kecilmu lagi.” Junghyun berkata duduk di kursinya.

“Tapi bagiku kau masih adik kecil kesayanganku.”

Junhyung hanya mendengus kesal. Hyunseung melepaskan celemeknya dan tatapan Junhyung meneliti penampilan kakaknya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.

“Tumben hyung sudah rapi. Apa hyung mau pergi berkencan dengan Yura?”

Hyunseung menampilkan senyum cerianya. “Kau tahu saja apa yang akan kulakukan.”

“Aishhh…. Apa hyung tidak ingat hyung seorang artis? Bagaimana jika paparazi mengikuti kalian?” Junhyung mulai menyantap sarapannya.

“Kau tenang saja aku sangat mahir bersembunyi.”

“Terserah kau saja hyung yang penting aku sudah mengingatkanmu.”

“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku Jun-ya.”

“Aku tidak mengkhawatirkanmu hyung.”  Hyunseung tersenyum melihat adiknya pura-pura tidak khawatir. Padahal Hyunseung tahu adiknya itu sangat menyayanginya.

“Bagaimana denganmu? Kau bilang ada seorang gadis yang mengejarmu?”

“Jangan membicarakannya hyung, membuatku kesal saja.”

“Kenapa? Seharusnya kau senang kan ada seorang gadis mengejarmu.”

“Dia hanya mengganggu saja hyung. Dia seperti hantu. Tiba-tiba datang dan tiba-tiba menghilang.”

Kali ini giliran Hyunseung yang tertawa sedangkan Junhyung hanya mendengus kesal.

“Hati-hati Jun-ya bisa jadi rasa bencimu berubah menjadi cinta.”

“Ciihhh…. Jangan harap aku jatuh cinta padanya hyung, itu tidak akan terjadi. Aku selesai, aku beragkat dulu hyung.” Junhyung meletakkan sendok dan garpunya diatas piring lalu beranjak mengambil tas ranselnya di sofa lalu berlalu pergi.

“Hati-hati di jalan Jun-ya.”

“Ne hyung.” Ucap Junhyung sebelum menghilang di balik pintu.

Hyunseung kembali melanjutkan makannya. Tiba-tiba ponsel Hyunseung berdering. Senyuman mengembang di wajah tampannya melihat nama kekasihnya di layar ponselnya.

“Ne chagi?”

“Oppa.. Kapan Oppa menjemputku? Bukankah kita akan pergi ke  Busan aku sudah bersiap dari tadi.”Terdengar suara manja seorang gadis.

“Baiklah chagi aku akan segera ke sana.”

“Jangan lama-lama Oppa atau aku tidak akan membuka pintu untukmu.”

“Aku tahu chagi. Aku akan secepat kilat menjemputmu. Saranghae.”

“Aku akan menjawabnya setelah Oppa sampai.” Yura berkata menutup telponnya.

Meskipun Yura sangat manja namun Hyunseung menyukainya. Hyunseung berdiri mengambil jaket kunci kacamata dan topinya untuk penyamaran. Jika tidak menyamar bisa-bisa besok akan ada berita terbaru tentang penyanyi Jang Hyunseung. Setelah memakai penyamarannya, Hyunseung berlari mengambil mobilnya.

 

*  *  *  *  *

 

Suasana di SMA BST sudah ramai dengan murid-murid yang berdatangan. Begitupula dengan seorang laki-laki menaikki skateboard kesayangannya, Junhyung meluncur memasuki gedung sekolahnya. Laki-laki itu tak memperdulikan rambut golden blondnya diterpa angin yang berhembus ke arahnya. Junhyung melepaskan earphone di telinganya dan dibiarkan bertengger di lehernya.

“Yoseob-ah.” Panggil Junhyung menghampiri laki-laki yang tengah mengobrol dengan temannya.

“Ohh… Junhyung-ah.”

Junhyung menghentikan skateboardnya tepat di hadapan Yoseob. Junhyung menginjak ujung skaterboard membuat papan itu terpental ke atas dan dengan gesitnya Junhyung menangkap skateboard itu.

“Yoseob-ah.” Panggil Junhyung dengan suara yang dibuat sok imut.

Yoseob Merasakan ada sesuatu tak beres dengan sahabatnya itu.

“Ada apa memanggilku dengan suara menggelikan seperti itu.”

“Pinjami aku PR Matematika dong. Yoseob-ah Please.” Yoseob merasa risih melihat Junhyung dengan wajah aegyonya.

“Bagaimana bisa Junhyung si cool bisa berubah aegyo hanyademi PR?” Heran Yoseob.

“Menggemaskan.” Tubuh Junhyung mematung mendengar suara gadis yang selalu mengganggunya.

Junhyung menoleh dan benar dugaannya, gadis yang selalu mengganggunya sudah berdiri di sampingnya memandang Junhyung dengan tatapan memujanya. Kesal, Junhyung beranjak pergi.

“Tunggu Junhyung Oppa.” Teriak Minah mengikuti Junhyung.

Yoseob yang melihat tingkah dua orang manusia itu hanya tersenyum geli.

“Bukankah tadi kau ingin meminjam PR matematika? Aku sudah mengerjakannya dan apa Oppa mau pinjam?” Tanya Minah menyusul Junhyung.

Langkah Junhyung terhenti dan menoleh menatap Minah dengan kesal.

“Tidak. Dan jangan memanggilku Oppa, aku tidak mengijinkan orang asing sepertimu memanggilku Oppa.” Junhyung pergi meninggalkan Minah.

Minah menghela nafas karena hari ini pun gadis itu gagal lagi mendekati Junhyung, laki-laki pujaannya. Minah merasakan seseorang memeluk bahunya. Gadis itu menoleh dan mendapati Kikwang ikut melihat Junhyung yang berjalan menjauh.

“Tidak bosan mengejar si dingin itu?” Dongwoon berkata menoleh pada Minah.

“Tidak. Aku tidak pernah merasa bosan mengejar Junhyung Oppa.”

“Aishhh… Kapan kau akan menyerah dan berpaling padaku Minah? Lupakanlah si Junhyung itu, bukankah kita akan bertunangan?”

Minah tersenyum sinis lalu memegang tanganKikwang di bahunya lalu mengangkat tubuh lelaki itu seperti dalam gerakan taekwondo yang pernah di pelajarinya. Minah tersenyum senang melihat Kikwang meringis kesakitan. Seketika merekapun menjadi tontonan siswa-siswa lain. Minah membungkuk tepat menatap wajah Kikwang.

“Meski aku tak bisa membatalkan pertunangan kita tapi aku tidak akan semudah itu menjadi milikmu Kikwang-ssi.” Minah meninggalkan Kikwang yang mendapat tertawaan dari siswa-siswa yang menonton.

 

*  *  *  *  *

 

Seorang gadis berjalan memasuki gedung rumah sakit Seoul Internasional. Jubah putihnya sudah melekat di tubuhnya yang ramping. Gadis itu membenarkan letak tas di bahunyadan tersenyum saat seseorang menyapanya.

“Pagi dokter Shin. Selamat atas pertunangan anda.” Sapa seorang suster.

“Terimakasih Hyera-ssi.” Jawab Jieun tersenyum senang.

Jieun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Belum sampai di ruangannya, terdengar suara dering ponselnya. Jieun mengambil ponselnya dan mengangkatnya.

“Pagi tunanganku yang cantik.” Senyum Jieun mengembang mendengar suara tunanganya.

“Pagi tunanganku yang tampan.” Balas Jieun.

“Tumben sekali Oppa menelpon pagi ini?”

“Kenapa? Apa aku tidak boleh menyapa calon istriku? Kalau begitu aku akan menyapa calon istri orang lain.”

“Aishhh…” Seketika tawa Doojoon meledak membayangkan gadisnya tengah menggembungkan pipinya kesal.

“Apa Oppa puas sekarang?” Jieun pura-pura kesal.

“Tidak, tentu saja akutidak akan melakukan itu sayang. Karena mataku hanya akan melihatmu seorang.”

“Cihhh… Sekarang Oppa pintar sekali menggombal ne?”

“Aku hanya melakukannya untukmu. Aku punya satu hadiah untukmu. Kemarin aku belum sempat memberikannya padamu.”

“Hadiah? Hadiah apa Oppa?” Mata Jieun berbinar senang.

“Aku sudah menaruhnya di ruanganmu. Kuharap kau menyukainya. Aku harus pergi. Saranghae.”

“Na do sadanghae Oppa.” Jieun memasukkan kembali ponselnya setelah telpon itu terputus.

Akhirnya Jieun sampai di ruangannya. Membuka pintu, Jieun memasuki ruangan bercat putih itu. Terlihat seorang perawat tengah menunggu kedatangannya.

“Pagi Dokter Shin. Aku ingin mengucapkan selamat anda sudah bertunangan. Anda dan Doojoon-ssi sangat serasi. Jangan lupa satu undangan pernikahan untukku ya dokter Shin.” Rengek Soojin.

Sudah lama Soojin menjadi perawat mendampingi Jieun karena itulah gadis itu sangat akrab dengan dokter Shin.

“Kami tidak ingin terburu-buru Soojin-ssi. Lagipula Doojoon Oppa masih sibuk dengan proyek barunya. Mungkin kami akan menikah setelah proyek itu selesai.”

“Baiklah aku akan setia menunggu undangan darimu dokter Shin Oh ya tadi tunangan anda yang tampan itu menitipkan sesuatu untuk anda.”Soojin mengambil sebuah kotak tidak terlalu besar berwarna coklat dan menyerahkan pada Jieun.

“Terimakasih Soojin-ssi.”

Jieun menaruh kotak itu di mejanya dan mulai membukanya. Mulut Jieun terbuka saking tak percayanya. Penasaran Soojin melengok melihat isi kardus itu. Dalam kardus itu berisi sebuah pigura dengan foto Doojoon tengah memeluk Jieun dari belakang. Wajah mereka tampak bahagia terlihat dari senyum lebar mereka. Melihat pakaian yang dipakai, Jieun memakai gaun yang semalam di pakainya sedangkan Doojoon mengenakan Tuxedo hitamnya, foto ini diambil kemarin tepat di pesta pertunangannya. Dipinggir pigura itu di hiasi bunga mawar berwarna peach. Jieun mengambil secarik kertas di atas pigura itu.

Meski kita jarang bertemu aku tapi aku ingin kau selalu mengingatku.

Karena itulah pajanglah foto ini di ruanganmu agar kau sekalu mengingatku.

Love You

Yoon Doojoon

 

Jieun tersenyum bahagia membaca surat dari tunabgannya.

“Ommo… Tunangan anda sangat romantis dokter Shin. Aku jadi iri.” Soojin berkata menyadarkan Jieun.

“Bukankah kau sudah memiliki Minho Soojin-ssi?” Jieun mengambil pigura itu dan memajangnya di meja kerjanya.

“Dia tidak seromantis tunangan anda Dokter Shin. Dia sangat dingin.”

“Kalau begitu kau yang harus menghangatkan hatinya dengan hatimu yang lembut bukan? Jangan menyerah Soojin-ssi. Lebih baik kita segera bekerja.” Jieun mengambil setetoskop dan berjalan keluar diikuti Soojin. Jieun memasuki lift bersama Soojin lalu menekan tombol 2. Tak butuh waktu lama untuk menaikki satu lantai saja. Lift terbuka Jieun dan Soojin menghampiri ruangan bertuliskan B-1. Jieun mengetuk pintu sebuah kamar dan langsung membukanya.

“Pagi Youngie-ah.” Sapa Jieun seceria mungkin.

Seorang gadis tengah menggambar seketika menoleh mendengar sapaan Jieun. Wajahnya tak menunjukkan keceriaan sedikitpun membuat Jieun menatap Soojin bingung.

“Semalam Young mengamuk karena bosan di kamarnya.” Bisik Soojin.

Jieun mengangguk mengerti penyebab gadis kecil itu murung.

“Bagaimana dengan pen di tangannya?”

“Tidak ada masalah dokter Shin.”

Jieun mendekati ranjang Young dan duduk di sampingnya dan menggenggam tangan gadis kecil. Sebenarnya Jieun merasa kasihan dengan Young. Karena kecelakaan yang terjadi tiga hari yang lalu telah merenggut nyawa kedua orangtuanya. Jieun belum bisa menyampaikannya pada Young, gadis itu takut kondisi Young semakin memburuk.

“Apa Young bosan di kamar ini?”

Young menatap Jieun dan mengangguk.

“Apa Young suka permainan?” Mata bulat bening Young berbinar mendengar kata mainan.

Dengan semangat Young mengangguk.

“Bagaimana jika hari ini kita bermain permainan‘anak baik dapat hadiah’?” Young tampak bingung karena belum pernah mendengar permainan itu.

“Permainan apa itu?” Akhirnya Young mengeluarkan suaranya.

“Permainannya jika hari ini Young bersikap baik, dokter akan memberikan hadiah untukmu besok. Apa kau suka hadiah?” Young mengangguk penuh semangat.

“Gadis pintar.” Jieun mengacak lembut rambut hitam panjang Young. Entah mengapa Jieun sangat menyukai gadis kecil itu.

 

*  *  *  *  *

 

Di ruang kerja Doojoon yang di dominasi warna coklat terlihat Doojoon tengah sibuk memeriksa penghasilan dari pusat perbelanjaan yang berdiri di bawah perusahaannya. Wajah Doojon terlihat senang mendapati penghasilan itu mencapai target yang di tentukan.

Tookk… Tookk… Tookk…

“Ya, masuk.” Doojoon berkata tanpa menghentikan pekerjaannya.

tumblr_mr5m5mImUO1r4w6cwo2_250

Pintu terbuka, Jihae dengan setelan kerja abu-abunya memasuki ruang kerja Doojoon. Mendengar langkah kaki masuk Doojoon menoleh dan tersenyum pada gadis itu. Jihae menyerahkan sebuah map coklat pada Doojoon. Doojoon menatap map itu bingung dan memandang Jihae meminta penjelasan gadis itu.

“Itu adalah laporan untuk mall baru yang sedang di bangun.”

Doojoon membuka map itu dan mulai membacanya. Jihae yang masih berdiri tak mengalihkan perhatiannya pada laki-laki di hadapannya.

“Doojoon-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tanyakan saja.” Doojoon berkata seraya meneruskan meneliti laporan itu.

“Apa kau merasa bahagia sudah bertunangan dengan Jieun semalam?” Pertanyaan Jihae sukses membuat laki-laki itu menatapnya.

“Tentu saja aku bahagia, aku mencintai Jieun dan sebentar lagi dia akan menjadi milikku seutuhnya. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?”

Jihae tampak salah tingkah bahkan gadis itu tak berani menatap Doojoon.

“Aku hanya ingin mengatakan padamu jangan terlalu mengacuhkan Jieun atau dia akan direbut orang lain. Baiklah aku akan kembali bekerja. Permisi.”

Doojoon melihat bingung Jihae yang meninggalkan ruangannya, namun lelaki itu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tanpa diketahui Doojoon, di luar Jihae berjalan dengan lemasnya menuju ruangannya. Perkataan Doojoon masih teringat di pikirannya. Merasakan matanya mulaiberkaca-kaca Jihae mendongak berusaha meredam air mata itu keluar. Gadis itu sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menangis.

“Kenapa kau tidak meyadari perasaanku Oppa.” Jihae menutup matanya dan air matapun mengalir melalui sudut matanya.

Jihae segera menghapus air mata itu sebelum orang lain melihatnya. Jihae memasuki lift yang terbuka. Sebelum pintu lift tertutup Jihae menatap pintu kantor Doojoon berharap laki-laki itu keluar, namun sayang keinginannyatak terkabul.

 

*  *  *  *  *

 

Hyunseung bersiul menyusuri lorong apartement. Lelaki itu sudah memakai penyamarannya, jaket tebal, kacamata dan topi menutupi wajahnya. Lelaki itu berhenti di sebuah pintu lalu mengetuknya. Terdengar suara langkah kaki dari dalam lalu pintupun terbuka. Seorang gadis berambut ikal merah gelap sebahu menyambutnya dengan senyuman manisnya. Gadis itu memakai celana jeans ketat dan kaos putih yang menempel pas di tubuhnya serta sepatu ketsyang terlihat nyaman dipakainya.

“Masuklah Oppa, kau datang lebih cepat dari dugaanku.” Gadis itu menarik Hyunseung memasuki apartementnya yang mungil namun rapi. Di beberapa tempat di pajang foto gadis itu bersama Hyunseung tersenyum bahagia.

“Bukankah sudah kubilang akan datang secepat kilat kemari?” Hyunseung melepaskan kacamata dan topinya lalu melemparkan kedua benda itu di sofa. Lelaki itu menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan menatapnya intens.

“Kau belum menjawabnya chagi.”

“Menjawab apa Oppa?” Gadis itu pura-pura tidak tahu.

Hyunseung mendekatkan wajahnya di telinga gadis itu.

“Saranghae.” Bisiknya.

Merasakan hembusan nafas Hyunseung menerpa telinganya, gadis itu menahan geli di telinganya.

“Masih juga belum membalasnya eoh? Kau akan merasakan akibatnya.”

Hyunseung mengecup telinga Yura bahkan menjilatnya membuat Yura meremas tangannya sendiri menahan diri. Lidah Hyunseung beralih pada leher jenjang Yura. Mengelilingi lehernya lalu membuka sedikit kaos Yura menampilkan bahu gadis itu yang putih dan mulus. Hyunseung menggigit kecil bahu Yura dan sedikit menyedotnya menimbulkan bercak biru keunguan. Tanpa sadar tangan Yura meremas rambut coklat gelap milik Hyunseung. Dan lenguhan kecil keluar dari bibir gadis itu.Namun Yura teringat sesuatu dan akhirnya berusaha menekan hasratnya dan mendorong kekasihnya itu.

“Bukankah kita harus pergi Oppa?”

“Kau harus menjawabnya dulu chagi atau aku akan menyerangmu.” Yura segera berlari menuju dapur dan Hyunseungpun mengejarnya di belakang. Yura tertawa melihat Hyunseung kesulitan mengejarnya. Namun akhirnya Hyunseung berhasil menangkap pinggang Yura. Keseimbangan Hyunseung goyah dan akhirnya terjatuh ke lantai dengan posisi Hyunseung berada diatas tubuh Yura. Yura masih tertawa dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

“Jadi nona Yura ada yang ingin kaukatakan padaku?” Hyunseung menyelipkan anak rambut di belakang telinga Yura.

Yura melingkarkan tangannya di leher Hyunseung, menatap kekasihnya menggoda.

“Baiklah Jang Hyunseung saranghaeyo.”

Senyum kepuasan terlihat di wajah Hyunseung, lalu lelaki itu menurunkan wajahnya dan mengecup bibir Yura sekilas.

“Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum hari menjadi siang.”

“Baiklah tuan Jang Hyunseung tapi bisakah kau menyingkir dari tubuhku eoh?”

Hyunseungpun berdiri dan mengulurkan tangannya membantu kekasihnya berdiri. Yura menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Gadis itu mengecup pipi Hyunseung sebelum akhirnya melesat menuju kamarnya. Hyunseung memegang pipinya seakan ciuman Yura masih menempel di pipinya. Tak lama Yura keluar dengan tas coklat di bahunya.

“Aku sudah siap tuan Jang.” Yura memberi hormat bak seorang tentara.

Gemas, Hyunseung mengacak lembut puncak kepala gadis itu. Hyunseung mengambil kacamata dan topinya lalu memakai kedua benda itu.

“Saatnya kita pergi nona Kim.” Yura menggandeng lengan Hyunseung dan berjalan keluar.

Di luar apartement Hyunseung melihat sekelilingnya berharap tak ada paparazi yang mengikutinya. Sepertinya keadaan aman karena Hyunseung tak melihat satupun orang berkeliaran di lingkungan itu. Keduanya segera memasuki mobil audy perak milik Hyunseung. Mereka berdua menghela nafas lega  sesampainya di mobil. Hyunseung segera menghidupkan mesin mobil dan melajukannya.

“Kudengar Oppa akan mengeluarkan album baru?” Tanya Yura.

“Ne. Aku sedang membuatnya. Apa kau mau mendengarnya?”

Yura mengangguk.”Bolehkah?”

“Tentu saja boleh. Itu kan laguku dan aku ingin kau orang pertama yang mendengarnya.”

Yura terdiam membuat Hyunseung bingung dan menoleh. Dilihatnya Yura menatapnya dengan mata yang hampir menangis.

“Kenapa kau jadi menangis Yura-ya. Apa aku mengatakan hal yang salah?” Tanya Hyunseung mengelus pipi kekasihnya.

Yura memegang tangan Hyunseung dan memeluknya.

“Kau membuatku terharu Oppa. Kau membuatku semakin menyayangimu.”

“Benarkah?” Yura melepaskan pelukannya.

“Ommo lihatlah Oppa kepalamu sudah mulai membesar, bisa-bisa tak muat dalam mobil ini.” Hyunseung cemberut membuat Yura tertawa.

“Kau imut sekali Oppa.” Ucap Yura mencubit pipi Hyunseung gemas.

tumblr_n0qadd36KN1rpynb3o4_250

Keduanyapun terdiam. Yura memandang keluar jendela sedangkan Hyunseung sibuk mengamati jalan di hadapannya.

“SIAL!!!” Yura menoleh mendengar kekasihnya mengumpat.

“Ada apa Oppa?”

“Adaseseorang yang mengikuti kita. Jangan menoleh ke belakang dia bisa mengambil gambarmu.” Larang Hyunseung saat Yura hendak menoleh ke belakang.

“Lihatlah di kaca. Ada mobil kuning mengikuti kita sejak tadi. Kita harus menjauh darinya. Eratkan sabuk pengamanmu Yura-ya.” Yurapun menurut mengencangkan sabuk pengamannya.

Hyunseung menancap gasnya menambah kecepatan laju mobilnya. Mobil Hyunseung dengan gesitnya melewati beberapa mobil yang menghadangnya. Hyunseung melihat kaca di atasnya. Sesuai dugaan mobil kuning itupun mengikutinya berhasil melewati beberapa mobil seperti yang dilakukan Hyunseung.

“Sial!” Hyunseung mengerang kesal tak berhasil lolos dari paparazi itu. Paparazi itu seperti magnet berbahaya yang mengikutinya.

Hyunseung menoleh ke samping dilihatnya Yura menggenggam sabuk pengamannya ketakutan.

“Bersabarlah Chagi.”

Yura hanya bisa mengangguk menjawabnya. Kali ini Hyunseung berada di belakang sebuah mobil berwarna hitam. Hyunseung menyalip dari sisi kiri saat mencapai tikungan. Sebuah lampu bersinar menyoroti matanya dan diikuti suara klakson yang memekakan telinga. Hyunseung segera membanting stir ke kiri namun sayang mobil itu menabrak pagar jalan dan jatuh berguling menuju jurang.

Kepala Hyunseung terantuk atap mobil dan kakinyapun dengan keras membentur dashbor. Hyunseung berusaha mencapai Yura yang berteriak kesakitan. Hyunseung melepaskan sabuk pengamannya dan langsung memeluk Yura melindungi gadis itu. Mobil itu berhenti berguling saat membentur sebuah pohon besar. Kondisi mobil itu terlihat menggenaskan. Banyak sekali penyok di setiap sudut mobil itu bahkan semua kacapun pecah. Hyunseung berusaha membuka matanya namun matanya terasa berat dan semakin lama lelaki itu tak sadarkan diri.

 

*  *  *  *  *

 

Rumah dengan gaya klasik khas Inggris berdiri megah dikelilingi taman rumput yang hijau segar. Pagi hari yang cerah namun rumah itu tampak sepi. Hanya terlihat beberapa pelayan tengah membersihkan ruang tamu, membersihkan setiap debu yang menempel di kursi.

PYARR……..

Tiba-tiba terdengar keras suara benda jatuh dari arah ruang keluarga. Seluruh pelayan berlari menghampiri sumber suara. Mereka semua begitu terkejut melihat nyonya besar mereka menjatuhkan sebuah pigura. Kaca berserakan di sekitar kaki Esther yang di balut high heels berwarna hijau gelap.

“Nyonya anda diam dulu. Biar kami yang membersihkannya.” Seorang pelayan berkata dan langsung segera membersihkan serpihan kaca yang berserakan dilantai diikuti pelayan yang lain.

Esther mengambil pigura tanpa kaca itu. Seorang lelaki dengan seragam kelulusan SMA tersenyum bangga ke arah Esther. Tangan lentik Esther terulur menyentuh wajah putranya yang sudah lama tak di temuinya. Perasaan tidak enak melanda wanita itu. Dengan lunglai Esther berjalan mundur hingga akhirnya kakinya menabrak kursi membuat tubuh mungilnya terduduk.

“Nyonya anda tidak apa-apa?” Tanya seorang pelayan khawatir.

Mata Esther tak lepas dari foto yang dipegangnya. Matanya mulai berkaca-kaca merasakan kerinduan di hatinya.

“Nyonya?” Panggil pelayan tadi menyadarkan Esther.

“Aku tidak apa-apa. Ganti foto ini dengan pigura baru dan pasang kembali di tempatnya.” Esther menyerahkan foto itu pada pelayan dan berlalu pergi.

 

*  *  *  *  *

 

Minah membuka pintu kelas 2-6, namun gadis itu menghela nafas saat mendapati kelas sepi tak ada seorangpun. Minah menggembungkan pipinya kesal dan kembali berjalan mencari seseorang. Minah berjalan menuju perpustakaan dan bertemu dengan Yoseob. Minah menghampiri lelaki berambut  mohak itu.

“Yoseob Oppa.” Yoseob yang tengah membaca buku menoleh mendengar namanya di panggil.

“Oohh… Minah. Ada apa?”

“Yoseob Oppa apa kau tahu Junhyung Oppa ada di mana? Aku sudah mencarinya di kelas dan kantin tapi dia tidak ada.”

“Junhyung? Hmm….” Yoseob terlihat sedang mengingat keberadaan Junhyung.

“Ahhh… Mungkin dia ada di ruang musik, dia sering di sana.” Minah tersenyum senang akhirnya bisa menemukan lelaki yang di carinya.

“Terimakasih Yoseob Oppa.”

Sepeninggal Minah, Yoseob melanjutkan membaca bukunya. Minah berlari menuju lantai dua dimana ruang musik berada. Rambutnya yang dikucir kuda bergerak-gerak mengikuti larinya. Gadis itu berhenti tepat di depan pintu bertuliskan ‘ruang musik’. Perlahan Minah menggeser pintu itu dan menengok ke dalam.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok Junhyung. Minah tersenyum lega mendapati sosok Junhyung tengah tertidur lelap di sofa yang terletak di pojok ruangan. Minah masuk ke dalam ruangan itu dan menutup kembali pimtunya.Dengan berjingkat gadis itu menghampiri Junhyung. Di telinga laki-laki itu tertempel earphone yang sering di bawanya.

081

Minah berjongkok di samping Junhyung. Gadis itu meneliti rambut Junhyung yang masih rapi meski tertutup oleh tangannya, bulu mata lentik yang tertutup beralih ke hidung lelaki itu yang tergolong mancung. Tatapan Minah beralih pada bibir Junhyung. Dengan sedikit berjinjitMinah mendekati wajah Junhyung. Jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak biasanya gadis itu bertindak seberani ini. Wajah Minah semakin dekat dan akhirnya bibirnya mengecup bibir Junhyung lalu gadis itu bangkit berdiri dan berbalik takut jika Junhyung terbangun akibat ciuman itu.

Setelah menunggu beberapa lama Minah tak mendengar suara apapun. Gadis itu memberanikan diri menoleh dan mendapati Junhyung masih tertidur dalam posisi yang sama. Minah tersenyum senang dan memegang bibirnya seakan rasa bibir Junhyung masih bisa di rasakannya.

Tatapan Minah beralih menyusuri ruang musik itu. Berbagai alat musik tertata rapi dalam ruangan itu. Tatapan Minah terhenti saat melihat piano hitam di tengah ruangan itu. Gadis itu menghampiri piano itu dan duduk di kursi. Jemarinya menyusuri pinggiran piano seakan berusaha mengenalnya. Minah mengingat sebuah lagu kesukaannya dan gadis itupun melemaskan tangannya bersiap mulai memainkan piano itu. Jari-jari lentiknya menari indah di atas tuts piano. Gadis itu memejamkan matanya menikmati lantunan piano yang indah.

 

Geureolri eobsdago anilkkeorago miteossjyo~ um

I believed that it couldn’t be, that it wasn’t~ um-

Naega geudae saranghandan imaldo andoejyo~ um

There is simply no way that I could be in love with you~ um-

Gwaenchan jiltuilkkeorago , naega oeroungabodago

It is just petty jealousy, I am just feeling lonely

Jashineul sokyeobwassjiman ije deoneun nan

I tried to deceive myself

gamchulsuga eobsneungeolyo

But now I can’t hide from it any longer

I think I love you, Geureongabwayo

I Think I love You, that’s how it seems

Cause I miss you, Geudaeman eobseumyeon

Cause I Miss You, When you’re not around

Nan amugeosdo moshago, Jakku saeng-gaknago

I can’t do anything, I keep thinking about you

Ireongeol bomyeo amuraedo

If I look at how things are I know

I’m falling for you

I’m Falling For You

Nan molrassjiman now I need you

I didn’t realize it Now I Need You

Eoneusaenga nae mam gipeungose

all the time Located so deep in my heart

Aju keuge jarijapeun geudaeui moseupeul ijen boayo

Now I see it is you Maybe we are not suited to each other

I Think I Love You – Byul

 

“Ommo.. Kau mengagetkanku saja Oppa.” Kaget Minah mendapati Junhyung duduk menatap Minah tanpa ekpresi.

“Bagaimana permainan piano ku Oppa? Bagus kan?” Tanya Minah dengan nada cerianya.

“Sangat Jelek. Karena kau sudah membangunkan tidurku. Dasar pengganggu.” Junhyung berdiri mengambil tas dan skateboardnya dan beranjak pergi.

“Kau mau ke mana Oppa.” Teriak Minah menyusul Junhyung.

“Menghindar dari pengganggu sepertimu.” Junhyung berkata cuek meninggalkan Minah.

Kikwang berdiri tepat di depan pintu menghalangi jalan Minah.

“Kau belum bertanggung jawab sudah membuat tunanganmu kesakitan Minah.” Minah mendengus kesal melihat Kikwang menghalangi jalannya.

“Minggir.” Perintah Minah dan Kikwang tak bergerak sedikitpun.

“Tidak mau.”

“Oh… Jadi kau lebih memilih kusakiti lagi eoh?” Minah hendak meraih tangan Kikwang dan lelaki itu langsung melangkah mundur tak ingin merasakan punggungnya mencium lantai dengan kerasnya.

Minah menggunakan kesempatan itu berlari keluar mencari Junhyung. Dengan melompati beberapa anak tangga Minah sampai di lantai dasar. Minah mengedarkan pandangannya mencari sosok Junhyung tapi gadis itu tak menemukan siapapun. Minah menyusuri jalan seraya meneliti setiap tempat mencari persembunyian laki-laki itu.

GUUKKK…GGGUUKKK…GUKK….

Minah mendengar suara anjing dari balik semak-semak. Gadis itu mendekati semak-semak itu dan suara anjingpun terdengar jelas. Minah juga mendengar suara laki-laki. Penasaran, gadis itu mengintip dari balik semak-semak. Wajah Minah berubah ceria melihat Junhyung mengendarai skateboardnya dan seekor anjing ras Golden Retriever berwarna putih berlari mengejarnya.

golden-retriever2

Anjing itu terlihat senang terdengar dari gonggongannya yang penuh semangat. Pandangan Minah beralih pada Junhyung yang tertawa bahagia bermain dengan anjing itu.

“Akhirnya aku menemukanmu Oppa.” Minah berkata keluar dari balik semak-semak.

Junhyung yang terkejut tak bisa mengontrol arah skateboardnya dan akhirnya lelaki itupun menabrak Minah. Keduanya terjatuh di rerumputan. Junhyung menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Kenapa kau tertawa eoh? Apa kepalamu terbentur sampai membuatmu gila?”Heran Junhyung melihat Minah bukannya meringis sakit malah senyum-senyum sendiri.

Minah menggeleng. “Tidak. Aku senang bisa sedekat ini denganmu Oppa.” Junhyung tersadar masih menindih Minah.

Laki-laki itu segera menyingkir dari tubuh Minah dan duduk di samping gadis itu. Junhyung menepuk-nepuk celananya yang kotor. Lalu melirik ke samping dan melihat Minah masih dalam posisi yang sama dan bibirnya masih mengembangkan senyuman.

TUKKK….

Junhyung menyentil dahi gadis itu menyadarkannya. “Singkirkan pikirkan kotormu itu gadis penganggu.”

Junhyung bangkit berdiri hendak meninggalkan Minah namun langkahnya terhenti saat mendengar Minah melenguh sakit. Junhyung berbalik dan terkejut melihat wajah Minah yang tadinya di penuhi senyuman berubah menjadi raut kesakitan. Tubuhnya meringkuk dan tangannya memegang dadanya.

“YA!! Kau kenapa? Gadis pengganggu.” Panggil Junhyung tapi tak ada respon dari Minah hal itu membuat lelaki itu semakin panik.

Junhyung mendekati dan berlutut di sisi Minah. Tangannya terulur menyentuh lengan Minah.

“Gadis pengganggu…. Jangan menakutiku.” Panik Junhyung.

“Boo…..” Minah tertawa melihat wajah kaget Junhyung. Sadar sudah dikerjai gadis itu Junhyung mendengus kesal dan berbalik meninggalkan Minah.

GUUKK… GUUKKK…. GUKK…

Minah mendudukkan tubuhnya dan tersenyum pada anjing di hadapannya. Lidah anjing itu terjulur, ekornya di kibas-kibaskan ke segala arah sedangkan matanya berbinar menatap Minah seakan meminta perhatian dari gadis itu. Minah mengulurkan tangannya mengelus kepala anjing itu dan anjing itupun menutup matanya menikmati belaian Minah.

“Kau berbeda sekali dengan pemilikmu yang dingin anjing lucu. Lihatlah bahkan saat berjalan dia terlihat cool. Tapi aku tetap menyukainya.” Minah berkata seraya menatap Junhyung yang menaikki skateboardnya dengan kedua tangan dimasukkan.ke dalam sakunya.

Junhyung menghentikkan skateboardnya dan berbalik. Hanya dengan siulan dari laki-laki itu, anjing itu langsung berlari menghampiri Junhyung. Minah menumpukkan kepalanya dengan kedua tangan dan menatap kepergian Junhyung dengan wajah cerianya. Senyumnya memudar saat dia mengingat sakit yang baru saja di rasakannya. Namun gadis itu tak ambil pikir dan terus memandang kepergian Junhyung sampai laki-laki itu jauh dari jangkuan pandangannya.

 

*  *  *  *  *

 

Pagi tadi tepatnya pukul 10.00, penyanyi Jang Hyunseung mengalami kecelakaan. Untuk menghindari truk yang tiba-tiba melintas di tikungan menuju  Busan. Mobil Audy perak milik Hyunseung menabrak pagar jalan hingga akhirnya terjatuh ke jurang. Saat ini Hyunseung tengah di rawat di rumah sakit Internasional Seoul dalam kondisi kritis dan tak sadarkan diri. Sekian laporan dari kami. Kami akan segera kembali.

 

Esther mematikan Televisi yang ada di ruang kerjanya. Tubuh wanita itu melemas seketika mengharuskannya mencari pegangan. Beruntung ada sebuah sofa di dibelakangnya. Esther terduduk dengan tatapan kosongnya. Wanita itu masih belum percaya dengan berita yang baru saja dilihatnya. Dalam hatinya terus mengatakan ‘tidak mungkin’ terus menerus.

Mata Esther mulai berkaca-kaca dan kali ini wanita itu tak lagi bisa menahan air matanya. Bibirnya bergetar dan mulai mengatakan kata yang sama dengan hatinya. Esther berdiri dan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Ada apa Yeobo? Aku akan ada meeting.” Seorang lelaki mengangkat dari ujung telpon.

“Yeobo. Hyu.. Hyunseung dia mengalami kecelakaan.”

Hening itulah yang terdengar saat Esther menyebut nama putranya.

“Aku ingin melihatnya Yeobo. Aku khawatir padanya.” Suara Esther bergetar menahan tangisnya.

‘Tidak. Aku tidak akan menginjinkanmu sekalipun melihatnya. Dia bukan putra kita lagi. Lupakan dia.”

“Tapi Yeobo dia tetap putra kita. Darahmu mengalir di tubuhnya. Aku mohon sekali saja untuk melihatnya.”

‘Tidak. Meskipun darahku mengalir di tubuhnya dia tetap bukanlah putraku karena dia yang sudah memutuskannya sendiri.”

“Yeobo….”

“CUKUP!!!!” Bentakan dari lelaki itu mampu membuat Esther terdiam.

“Aku tidak akan mendengar alasan apapun lagi. Jangan mencoba untuk menantangku Jang Esther.”

Esther hanya bisa menghela nafas mendengar nada putus di telponnya.Esther mengambil sebuah pigura dan duduk di kursinya. Esther menyentuh foto seorang anak laki-laki yang sedang memegang kue ulang tahun. Sedangkan Esther yang tampak lebih muda meunduk meniup lilin yang ada di kue ulangtahun itu.

“Eomma merindukanmu Hyunseung-ah. Dan eomma juga merindukan adikmu Junhyung.” Esther memeluk foto itu dan tangisnyapun pecah. Meskipun suaminya menyuruhnya melupakan kedua putranya tapi tetap saja mereka adalah putra yang sudah di lahirkannya. Hal yang sangat sulit bagi Esther untuk melupakan putranya sendiri.

 

*  *  *  *  *

 

Dengan wajah paniknya Junhyung berlari memasuki gedung rumah sakit internasional Seoul. Laki-laki itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Setelah mendapat telpon dari Andy manager Hyeunseung, Junhyung langsung berlari ke rumah sakit. Lari Junhyung terhenti saat melihat banyak orang berdiri di depan pintu rumah sakit. Junhyung yakin berita hyungnya yang mengalami kecelakaan pasti sudah tersebar di media massa. Junhyung berputar mengitari gedung rumah sakit dan melewati pintu belakang. Junhyung menghampiri seorang suster.

“Permisi, apa anda tahu di mana ruang Jang Hyunseung di rawat?”

“Maaf tuan kalau boleh tahu anda siapa? Kami tak bisa memasukkan orang sembarangan.”

“Saya adiknya, Jang Junhyung.”

“Bisa minta kartu identitas anda.”

“Aiishhh…” Junhyung mengerang kesal karena suster itu menghambatnya.

“Junhyung-ah.” Junhyung menoleh dan melihat Andy manager Hyunseung memanggilnya.

“Hyung. Dimana Hyunseung hyung sekarang?” Tanya Junhyung menghampiri Andy.

“Dia di lantai 4. Aku akan mengantarmu.” Andy mengajak Junhyung menaikki lift.

Lelaki dengan pakaian resmi itu menekan tombol 4 setelah mereka masuk ke dalam lift.

“Apa yang terjadi hyung? Bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi?”

“Menurut saksi mata Hyunseung di kejar sebuah mobil berwarna  kuning. Sepertinya itu paparazi dan saat melewati tikungan mobil Hyunseung hampir saja menabrak truk dan dia membelokkan mobilnya dan menabrak pagar jalan.”

“Lalu bagaimana dengan Yura?

“Yura?”

“Yura kekasih Hyunseung hyung.”

“Aku tahu siapa Yura, tapi kenapa kau menanyakannya?”

TIINGGG….

Pintu lift terbuka. Keduanyapun keluar dari ruangan kecil itu.

“Bukankah Hyunseung hyung pergi dengan Yura?”

“Aku rasa tidak karena polisi hanya menemukan Hyunseung di dalam mobil itu.”

Langkah Junhyung terhenti dan menatap Andy tak percaya.

“Tidak ada orang lain selain Hyunseung hyung?”

“Ne. Itulah yang polisi temukan.”

“Tapi Hyunseung bilang akan pergi bersama Yura.”

“Mungkin saat itu Hyunseung dalam perjalanan menuju apartement Yura. Saat ini polisi masih menyelidikinya. Sebaiknya kita masuk.”

Andy mengajak Junhyung masuk dalam ruangan dengan nama ‘ICU’ diatasnya. Junhyung dan Andy memakai jubah biru yang sudah disediakan, memakai penutup kepala serta masker. Keduanya berjalan memasuki ruang ICU itu.

Nafas Junhyung tercekat melihat kondisi kakaknya. Berbeda dengan kakaknya yang ceria dan selalu tersenyum padanya saat ini kakaknya itu tengah terbaring lemah di ranjang dengan selang infus menancap di tangan, masker oksigen di hidungnya, dan ada beberapa perban dikepala, tangan dan kakinya. Hyunseung tampak tak berdaya saat itu. Kenyataan itu hampir saja membuat Junhyung menangis. Junhyung menghampiri ranjang Hyunseung. Tangannya terulur menyentuh lengan Hyunseung yang terkulai lemas.

“Hyung.” Panggil Junhyung namun tak ada suara hyungnya yang memanggil ‘Jun-ya’.

“Apa yang dokter katakan hyung?”

“Tubuh Hyunseung penuh dengan memar-memar dan banyak luka lecet akibat kaca yang pecah. Hyunseung mengalami benturan yang keras di kepala dan kakinya. Dokter sudah memasang pen di kaki Hyunseung.Dokter belum bisa lagi mengetahui keadaan Hyunseung sebelum dia sadar. Kita hanya bisa berdoa agar hyungmu bisa melewati masa kritisnya.” Andy menepuk bahu Junhyung memberi laki-laki itu kekuatan.

Andy tahu bagaimana perasaan Junhyung saat ini. Junhyung hanya memiliki Hyunseung sebagai keluarganya. Jika hal buruk terjadi pada Hyunseung, Junhyung pasti akan sangat menderita.

“Aku tak apa-apa hyung. Aku akan keluar sebentar.” Junhyung berdiri keluar dari ruang ICU.

Andy hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Junhyung yang tertutup. Andy yakin saat ini Junhyung ingin sekali menangis tapi laki-laki itu mencoba bersikap kuat.

 

 

*  *  *  *  *

 

Doojoon membereskan dokumen-dokumen yang ada di atas meja lalu mematikan komputernya. Laki-laki itu mengambil tas dan jas yang di sampirkan di kursinya. Suasana sepi menyambut Doojoon saat lelaki itu membuka pintunya. Diliriknya jam rolex di tangan kirinya sudah menunjukkan jam 7 malam dan semua pegawainya sudah pulang satu jam yang lalu.

Doojoon menekan tombol lift dan seketika pintu itu terbuka. Doojoon masuk ke dalam, menekan tombol B1 yang akan membawanya ke basement. Doojoon mengeluarkan ponselnya dan tersenyum melihat wallpaper di layar ponselnya adalah gambar dirinya bersama Jieun. Foto itu diambil saat mereka berlibur di pantai pulau Jeju. Jieun terlihat cantik dengan dress bunga-bunga berwarna biru muda dan topi pantai yang lebar menutupi rambutnya.

Doojoon mencari nama Jieun di ponselnya lalu menghubungi nomor itu. Lama sekali Doojoon mendengar nada tunggu sampai akhirnya suara operator terdengar menggantikan nada tunggu itu. Doojoon  mencoba kembali dan hasilnya pun sama.

“Apa dia masih bekerja?” Pikir Doojoon.

TIINGGG…

Pintu lift terbuka Doojoon melangkah keluar menuju mobilnya. Doojoon membuka pintu mobilnya lalu melemparkan tas dan jasnya ke bangku belakang. Lelaki itu menghidupkan mobilnya dan melajukannya keluar dari basement.

Dengan satu tangan Doojoon menarik dasinya hingga longgar dan melepaskan satu kancing teratasnya yang terasa mencekik lehernya. Mobil Doojoon pun akhirnya keluar dari basement.Mata Doojoon menyipit melihat seseorang yang dikenalnya tengah duduk di halte menunggu bus. Doojoon tersenyum dan menghampirinya.

TIINN….

Doojoon membunyikan klaksonnya tepat saat mobilnya berhenti di depan gadis itu. Doojoon membuka jendelanya dan tersenyum melihat gadis itu kebingungan.

“Doojoon Oppa?” Panggil Jihae.

“Naiklah aku akan mengantarmu.”

“Tak perlu Oppa aku bisa naik bus.”

“Naiklah.” Ucap Doojoon yang terdengar seperti perintah.

Akhirnya Jihaepun berdiri dan menghampiri mobil Doojoon. Jihae membuka pintu dan duduk di samping Doojoon. Doojoon segera melajukan mobilnya setelah Jihae memasang sabuk pengamannya.

“Apa kau juga lembur?”

“Ne Oppa. Tadi aku harus menyiapkan presentasi untuk mall baru. Apa Oppa tidak pergi berkencan dengan Jieun?”

“Tidak sepertinya Jieun sedang sibuk.”

“Jieun sibuk? Tumben sekali biasanya kau yang selalu sibuk Oppa.”

“Dia kan seorang dokter Jihae-ya. Dia mungkin sedang melakukan operasi.”

“Ya kau benar Oppa.” Ada nada sedih dari ucapan Jihae namun Doojoon tak menyadarinya.

“Bagaimana denganmu Jihae-ya?” Tanya Doojoon.

“Nde?” Bingung Jihae.

“Siapa laki-laki yang berhasil mendapatkan hatimu?”

Kau Oppa. Ingin sekali Jihae mengatakannya namun sayang gadis itu merasa tidak pantas bersaing dengan Jieun yang merupakan tunangan Doojoon. Jieun dari keluarga yang kaya dia juga pintar dan seorang dokter sedangkan Jihae hanyalah gadis dengan kehidupan yang sangat biasa bahkan jauh dari kata mewah.

“Jihae-ya kenapa kau melamun?” Doojon berkata menyadarkan Jihae.

“Maaf. Kau tadi bertanya apa Oppa?”

“Siapa laki-laki yang berhasil mendapatkan hatimu?”

“Belum ada Oppa. Aku belum menemukan laki-laki yang cocok saja.”

“Aishh… Cepatlah cari pasangan Jihae-ya sebelum kau sadar kau sudah terlalu tua.”

“Kau jahat sekali mendoakanku sejelek itu Oppa.” Jihae memukul-mukul lengan Doojoon.

“Ahh… Ampun Jihae-ya. Aku sedang menyetir.” Jihaepun menghentikan pukulannya dan menggembungkan pipinya.

Doojoon tersenyum melihat Jihae terlihat imut. Gemas laki-laki itu mengacak puncak kepala Jihae.

“Maaf aku tidak bermaksud mendoakkanmu sejelek itu. Aku hanya tidak ingin sahabatku menyesal suatu hari nanti.”Doojoon tersenyum sedangkan Jihae menatap laki-laki itu kecewa.

Sahabat? Apa hanya itu aku di matamu Oppa? Dasar bodoh kau Jihae, sadarlah Doojoon Oppa tak akan melihat ke arahmu. Rutuk Jihae.

Setelah melewati jalanan kota Seoul yang masih padat mobil Doojoon akhirnya memasuki halaman gedung apartement Jihae.

“Terimakasih Oppa sudah mengantarku pulang. Apa kau mau mampir?” Tawar Jihae.

“Aku rasa tidak. Aku sangat lelah hari ini dan yang ada di pikiranku saat ini hanyalah pulang ke rumah dan merebahkan tubuhku di ranjang.”

“Baiklah. Sekali lagi terimakasih Oppa.”

Jihae melepaskan sabuk pengaman namun tampaknya gadis itu sedikit kesusahan.

“Biar aku bantu.” Doojoon mendekati Jihae.

Karena terkejut Jihae tiba-tiba mendongak dan terjadilah benturan di kepala mereka. Keduanya meringis kesakitan seraya mengelus bekas benturan mereka.

“Maaf Oppa.”

“Tidak apa-apa. Biar aku membantumu.”

Jihae menatap Doojoon membungkuk untuk melepaskan sabuk pengaman Jihae. Tanpa Doojoon sadari jantung Jihae berdetak sangat cepat seakan sedang berlari marathon.

KLIKK….

Terdengar suara sabuk pengaman itu terlepas.

“Terimakaih Oppa. Selamat malam.”

“Ne selamat malam Jihae-ya.”

Jihae turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam gedung apartementnya. Gadis itu tak ingin Doojoon melihatnya salah tingkah. Doojoon yang masih berada di mobil menatap kepergian Jihae. Setelah Jihae menghilang dari balik pintu, Doojoon melesat pergi meninggalkan tempat itu.

 

*  *  *  *  *

 

Jieun memasuki ruang ICU dengan pakaian serba birunya. Suara alat pendeteksi jantungpun terdengar memenuhi ruangan itu. Jieun menghampiri tubuh Hyunseung yang belum sadarkan diri. Tubuh Hyunseung terlihat lebih kurus dari beberapa hari yang lalu saat lelaki itu masuk ke rumah sakit itu. Jieun menundukkan tubuhnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Hyunseung. Gadis itu mengamati dan meneliti wajah Hyunseung. Bentuk kepalanya yang kecil dengan rambut coklat gelapnya yang berantakan, bulu mata lentik menyatu, hidung mancung dan bentuk bibirnya yang unik. Meski pipi, dagu dan hidungnya tergores tapi harus Jieun akui wajahnya masih terlihat tampan.

“Pagi Hyunseung-ssi.”Sapa Jieun dengan nada ceria. Ini adalah kebiasaan Jieun semenjak Hyunseung tak sadarkan diri.

Dengan mengajak pasien yang koma berbicara adalah cara yang efektif untuk merangsang otak sang pasien.Jieun duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan Hyunseung yang di perban.

“Aku adalah doketer yang merawatmu Hyunseung-ssi, Dokter Shin Jieun. Apa kau tahu hari inipun fansmu masih setia menunggu di depan rumah sakit. Mereka tak henti-hentinya .menunggumu. Jadi bangunlah Jang Hyunseung lalu sapalah mereka.”

Jieun berdiri dan mendekati Hyunseung.

“Bangunlah Jang Hyunseung.” Bisik Jieun.

Jieun berdiri dan melihat Hyunseung sekilas sebelum akhirnya berbalik. Tiba-tiba tangan Jieun tertahan.

“Yura.. Yuraaa…”  Jieun berbalik dan terkejut melihat Hyunseung membuka matanya.

Suara pendeteksi jantung bergerak cepat diikuti nafas laki-laki itu yang terengah-engah.

“Tenang Hyunseung-ssi.” Jieun menekan tombol di ranjang Hyunseung.

Tak lama seorang suster datang dengan pakaian yang sama dikenakan Jieun.

“Soojin-ssi. Suntikan dia obat penenang cepat.”

“Baik dokter Shin.”

Cengkraman Hyunseung di tangan Jieun semakin kuat membuat Jieun meringis kesakitan. Laki-laki itu tak henti-hentinya memanggil namaYura. Jieun memandang alat pendeteksi detak jantung menunjukkan semakin tinggi membuat Jieun khawatir. Soojin mendekati Hyunseung dengan suntikan yang sudah diisi cairan obat penenang. Dengan berhati-hati Soojin menyuntikkan cairan penenang itu di lengan Hyunseung. Seketika cengkraman di tangan Jieunpun melonggar. Soojin melepaskan suntikan itu dan menghampiri Jieun.

“Anda tidak apa-apa dokter Shin?” Khawatir Soojin.

“Aku tidak apa-apa. Terimakasih Soojin-ssi.”

Soojin keluar dari ruangan ICU sedangkan Jieun menatap lengannya yang terdapat bekas kemerahan akibat cengkraman Hyunseung. Tatapannya beralih pada Hyunseung yang sudah tertidur pulas.

“Yura? Siapa Yura? Apa dia kekasihnya?” Tanya Jieun dan tentu saja tak ada jawaban dari Hyunseung.

 

 

~~~TBC~~~

Bagaimana readersdeul? Apakah kepanjangan?

Jangan lupa komen-komennya ya!!!!

 

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. nurul yuma says:

    Bagus banget eon…
    Apalagi cast nya member beast…
    Aku suka…
    tapi yg membuatnya bagus bukan karna castnya , tapi imajinasi eon bagus banget…
    DAEBAK!!!!!

    1. chunniest says:

      Sebelum km melanjutkan q bilang dulu ini ff belum sampai end lho heee…. heee… habis yg baca dikit sih heee ..heee…. tapi gomawo dah baca

  2. nurul yuma says:

    Dilanjutin dong eon…. udh penasaran banget sama endingnya……
    Lanjutin yah…..
    Aku tunggu… 😉 ^°^ ♥♡♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s