Very Important U (V.I.U) Chapter 2

img1397639120266

Title                 : Very Important U (V.I.U) Chapter 2

Scriptwriter     : Chunniesthttps://fandreamstory.wordpress.com/

FB                   : https://www.facebook.com/louisa.vanvan

Twitter             : https://twitter.com/ivanna_putri

Genre              : Mellodrama,  Romance,

Duration          : Chapter

Rating             : PG

Main Cast :

* Shin Jieun (OC)

* Jang Hyun Seung (Beast)

* Yoon Doo Joon (Beast)

* Woo Jihae (Girl’s day)

*Kim Ah Young as Kim Yura (Girl’s day)

Support Cast   :

* Shin Hye Sung / Steve (Shinhwa)

* Son Dong Woon (Beast) as Shin Dongwoon

* Lee Yeon Hee

* Yong Jun Hyung (Beast) as Jang Jun Hyung

* Bang Minah (Girl’s day) as Jang Minah

* Lee Kikwang (Beast)

* Yang Yo Seob (Beast)

* Yoon Sung Ha as Jang Esther

* Mun Eric as Jang Eric (Shinhwa)

 

Sumarry : Cinta hadir dalam kondisi yang tak terduga. Hal itulah yang menghampiri Jieun di saat dia sudah memiliki laki-laki lain. Dipenuhi dengan konflik keluarga yang sangat pelik. Akankah berakhir bahagia?

 

Gomawo admin sudah publis ff V.I.U chapter 1. Gomawo readers yang mau baca ff ini. Gomawo readers yang sudah komen, jangan bosan untuk berkomen ya, karena author belajar dari komen yang readers berikan. Happy reading^_^

DON’T BE SILENT READERS

*  *  *  *  *

 

Minah melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai 2. Wajahnya tampak cerah menunjukkan gadis itu dalam mood yang baik. Sesampainya di lantai dua Minah menatap pintu dengan tulisan ‘ruang musik’. Minah berjalan mendekati ruang musik dengan tak sabar. Perlahan gadis itu membuka pintu. Gadis itu tersenyum lagi-lagi mendapati Junhyung tengah tertidur pulas. Minah masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati Junhyung.

Sebuah headset menutupi kedua telinga laki-laki itu. Minah melambai-lambaikan tangan di muka Junhyung tapi lelaki itu tak bereaksi sedikitpun. Minah menghela nafas dan berbalik bermaksud menunggu Junhyung terbangun. Minah mendekati piano. Dahinya berkerut saat melihat kertas-krtas partitur di atas piano. Minah mengambil satu kertas. Dalam kertas itu banyak sekali coretan tangan Junhyung. Minah duduk dengan masih fokus pada kertas partitur itu.

“Sepertinya aku bisa memainkannya.”

Minah meregangkan tangannya ke atas sebelum akhirnya meletakkan jari-jari lentiknya di atas tuts piano. Minah mengikuti nada yang Junhyung tuliskan. Musik itu sangat enak di dengar, begitu merdu terdengar di telinga.

“SALAH!!!” Tangan Minah terhenti kaget medengar suara seseorang.

Minah menoleh dan mendapati Junhyung berdiri menghampirinya.

“Kau ini sudah mencuri masih juga salah memainkannya.”

“Nde?”

Junhyung duduk di samping Jieun dan memainkan lagu yang tadi Minah mainkan. Lagu itu terdengar berbeda dari yang Minah mainkan. Minah memberikan tepuk tangan saat Junhyung menyelesaikan permainannya.

“Kau memainkan nada Do biasa. Seharusnya kau memainkan do minor.” Junhyung menunjukkan nada yang salah saat Minah memainkannya.

“Selain pengganggu kau bodoh juga ya.”

“Aisshh…. Aku kan hanya salah satu nada.” Minah cemberut.

BRAKKK…..

Junhyung dan Minah menoleh mendengar pintu dibuka dengan kasarnya. Seorang laki-laki memegang kedua sisi pintu dengan terengah-engah. Rambut hitamnya tampak acak-acakan akibat berlari.

“Ada apa Jaejoong sunbeinim?” Bingung Junhyung.

“Apa kalian yang baru saja bermain piano?”

“Ne.”Jawab Minah semangat.

“Baguslah. Akhirnya aku menemukan kalian.”

Junhyung dan Minah menatap Jaejoong yang berjalan kearah mereka dengan tatapan bingung.

“Apa maksudmu sunbeinim?” Bingung Junhyung.

“Aku sedang mencari sepasang kekasih yang bisa bermain piano untuk drama yang kubuat. Akhirnya aku menemukan kalian. Apakah kalian mau main dalam dramaku? Aku mohon.”

Minah mengembangkan senyumnya tapi berbeda dengan Junhyung masih dengan wajah dinginnya.

“Tidak. Aku tidak tertarik.” Tolak Junhyung.

“Aku mohon Junhyung-ah. Drama ini sangat penting untukku dan hanya kau dan Minah yang menurutku cocok memerankannya.”

“Aku mau.” Sahut Minah membuat Junhyung memutar bola matanya malas.

“Tapi aku tidak.” Junhyung berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

Wajah Jaejoong tampak lesu mendengar penolakan Junhyung. Minah mengulurkan tangannya menyentuh bahu Jaejoong.

“Tenang saja sunbeinim. Aku akan membantumu membujuknya.” Seketika mata Jaejoong berbinar.

Lelaki itu menggenggam kedua tangan Minah.

“Terimakasih Minah. Kau memang pantas memerankan Yiseul dalam dramaku.” Minah tersenyum bahagia mendengar pujian Jaejoong.

“Jangan menyentuhnya sunbeinim. Tak akan kubiarkan kau menyentuh tunanganku.” Tiba-tiba Kikwang datang melepaskan genggaman Jaejoong pada Minah.

“Oh…. Minah adalah tunanganmu Kikwang? Aku rasa kalian tidak cocok.” Minah menahan tawanya mendengar ucapan Jaejoong yang sangat jujur itu.

Rahang Kikwang mengeras menahan amarahnya. “Orang asing sepertimu tak berhak menilai kami.”

“Orang asing? Dia akan jadi artisku jadi aku bukan orang asing bagi dia. Lagipula aku hanya mengatakan yang sejujurnya.”

Emosi Kikwang hendak melayangkan tinjunya namun gerakan tangannya terhenti saat mendengar teriakan Minah.

“Hentikan Kikwang-ah. Kau memang tunanganku tapi bukan berarti kau bisa mengganggu kehidupanku. Sampai besok Sunbeinim.” Minah mendorong Kikwang yang menghalangi jalannya lalu berjalan keluar ruangan.

Minah berjalan menyusuri lorong. Wajahnya yang kesal saat ini berubah senyum bahagia mengingat dia akan bermain drama bersama Junhyung. Gadis itu harus memikirkan cara membujuk Junhyung.

Langkah Minah terhenti, tangannya memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Tangan mungil Minah meremas seragamnya merasakan sakit yang teramat sangat menghantam dadanya.

Tubuh Minah terhuyung tak bisa menahan tubuhnya hingga akhirnya tubuhnya bersandar pada tembok. Minah menggigit bibirnya agar gadis itu tak berteriak. Nafasnya terengah-engah dan keringatpun membasahi wajah cantiknya.

Minah terlihat lebih tenang saat sakit itu berangsur-angsur menghilang. Minah menegakkan tubuhnya dan kembali berjalan dengan langkah lemahnya.

 

*  *  *  *  *

 

Jieun membuka pintu bercat putih. Seperti biasanya Jieun memeriksa tanda-tanda vital Hyunseung yang bergerak namun lemah. Jieun mencatat perkembangan keadaan Hyunseung yang masih kritis. Selesai mencatat semua Jieun menatap tubuh Hyunseung yang terbaring lemah dengan banyak selang di tubuhnya. Jieun memegang tangan Hyunseung yang kurus dan membungkukkan tubuhnya.

“Pagi Hyunseung-ssi, apa kau tahu semua orang masih menantikanmu. Bukalah matamu. Bangunlah Hyunseung-ssi” Bisik Jieun di telinga Hyunseung.

Jieun menegakkan tubuhnya dan menghela nafas kecewa melihat tak ada perubahan dari Hyunseung. Padahal Jieun berharap bisa mengembalikan kesadarannya seperti kemarin. Jieun berbalik hendak meninggalkan ruangan itu namun langkah Jieun terhenti saat mendengar suara lenguhan. Jieun berbalik dan terkejut melihat mata Hyunseung bergerak dan perlahan terbuka.

“Hyunseung-ssi… Kau mendengarku?” Panggil Jieun mendekati Hyunseung.

Jieun merasakan lengannya di genggam sebuah tangan yang terasa dingin.

“Siapa kau?” Tanya Hyunseung dengan suara seraknya.

“Aku adalah dokter Shin. Syukurlah kau sudah sadar. Masa kritismu sudah berakhir.”

“Dimana aku?” Hyunseung melihat sekelilingnya dengan lemah.

“Kau di rumah sakit. Apa kau ingat apa yang terjadi?”

Hyunseung terdiam berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. Namun rasa sakit tiba-tiba menyerangnya membuat laki-laki itu megerang kesakitan dan memegang kepalanya.

Jieun menyentuh tangan Hyunseung. “Kau tak perlu memaksakannya. Syukurlah kau sudah sadar.”

“Yura… Dimana Yura?”

“Yura? Tidak ada pasien bernama Yura, Hyunseung-ss” Jieun berkata dan menghampiri lelaki itu.

“Tidak mungkin. Aku ingat aku pergi bersama Yura. DIMANA DIA SEKARANG?” Bentak Hyunseung melepaskan masker oksigen dan dengan kasar melemparnya sembarangan.

“Saya tidak tahu Hyunseung-ssi, polisi hanya menemukan anda di dalam mobil.”

“Itu tidak mungkin. Aku harus mencarinya.” Hyunseung hendak bangun namun Jieun memegang kedua bahu laki-laki itu.

“Jangan Hyunseung-ssi kau baru saja sadar.”

“Aku tidak peduli MINGGIR!!!” Hyunseung mendorong Jieun hingga gadis itu terjatuh.

Hyunseung menurunkan kakinya. Namun tiba-tiba Hyunseung terdiam. Jieun melihat perubahan wajah Hyunseung langsung menghampirinya.

“Hyunseung-ssi kau tidak apa-apa?”

Dengan satu tangannya Hyunseung memegang kepalanya yang terasa dihantam sebuah batu, sedangkan satu tangannya memegang kaki kanannya. Hyunseung mengerang kesakitan. Jieun segera membaringkan tubuh Hyunseung kembali ke ranjang. Sakit di kepala Hyunseung semakin terasa sakit bahkan mata laki-laki itu mulai terpejam dan mulai tak sadarkan diri.

“Hyunseung-ssi…. Hyunseung-ssi…” Panggil Jieun namun tak ada reaksi dari Hyunseung.

Jieun menghela nafas mengetahui Hyunseung tak sadarkan diri. Jieun membenarkan infus di tangan Hyunseung lalu memasang kembali masker oksigennya. Selesai membenarkannya Jieun berdiri menatap Hyunseung yang sadarkan diri.

“Bagaimana reaksinya nanti jika tahu orang yang di carinya menghilang?” Jieun menatap iba pada Hyunseung sebelum akhirnya gadis itu keluar ruangan.

 

*  *  *  *  *

 

Andy menarik nafas dan membuangnya perlahan mengatur pikirannya yang penuh dengan prasangka negatif. Saat ini laki-laki itu tengah berdiri di depan pintu kayu bercat coklat tua. Di tengah pintu itu terdapat tulisan ‘Presiden direktur’. Andy mengangkat tangannya yang terkepal.

TTOOKK…TTOOKK… TTOOKK…

“Masuk.” Terdengar suara dari balik pintu itu.

Tangan Andy gemetar memegang gagang pintu itu dan memutarnya. Laki-laki itu memasuki sebuah ruangan. Tampak seorang laki-laki tengah mencoretkan pulpennya di atas kertas. Mendengar langkah kaki mendekat, laki-laki itu mendongak. Wajahnya menunjukkan rasa ketidaksukaannya melihat Andy duduk di hadapannya.

“Untuk apa kau kemari?” Tanya laki-laki itu dingin.

“Lama kita tidak bertemu Eric, kau masih tetap sama saja seperti dulu tak berubah sedikitpun.” Andy tersenyum namun Eric tak sedikitpun menunjukkan ekpresi senang.

“Tak perlu basa basi katakan apa yang kau mau?”

“Baiklah. Aku hanya ingin kau menjenguk Hyunseung. Dia mengalami kecelakaan jika kau belum mengetahuinya.”

Eric menggenggam erat pensil di tangannya sampai jarinya terlihat memutih.

“Aku tidak kenal Hyunseung semenjak kau membawanya pergi.”

“Ayolah Eric dia tetaplah putramu.”

“Aku tidak memiliki putra. Aku hanya memiliki seorang putri. Jika tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan lebih kau pergi, kau sudah membuang waktuku yang berharga.”

“Kau akan menyesal Eric.” Andy berdiri dan berbalik meninggalkan ruangan itu.

Eric menatap pintu yang tertutup seiring menghilangnya Andy. Eric meletakan pulpennya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Laki-laki itu menutup matanya dan teringat bayangan putranya.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Seorang pemuda mengikuti langkah ayahnya melewati padang rumput. Sebuah tas penuh peralatan pancing tersampir di bahunya begitu pula ayahnya.

“Apa Junhyung tidak mau ikut?” Tanya Eric berjalan di samping putranya.

“Tidak appa. Dia lebih memilih membantu eomma dan Minchan menyiapkan makanan.”

“Aisshh… Kenapa hanya kau yang memiliki hobi yang sama dengan appa?”

“Itu karena aku putra appa.” Ucap Hyunseung dengan bangganya.

Eric tertawa dan mengacak rambut putranya.

“Aisshh… Appa kau sudah menghancurkan tatanan rambutku yang berharga ini. Lama sekali aku mengaturnya.” Gerutu Hyunseung merapikan rambut hitamnya.

“Aisshh… Arrasseo… Arrasseo.”

Merekapun sampai di pinggir danau. Eric menaruh dan membuka bangku lipatnya untuknya dan Hyunseung. Sedangkan Hyunseung membuka tas dan menyiapkan kail serta umpannya. Hyunseung mengambil umpan berupa cacing dan menusukkannya di kail. Hyunseung melakukan hal yang sama pada pancing yang satunya.Setelah pancingnya siap Hyunseung membawa kedua pancing itu menghampiri ayahnya yang sudah duduk di kursi. Hyunseung menyerahkan satu pancing itu pada Eric dan duduk di samping ayahnya.

“Kau mulai pintar memasang umpannya?” Eric berkata seraya melemparkan pancingnya ke danau.

“Itu semua berkat ajaran appa bukan?” Hyunseungpun melakukan hal sama yang dilakukan ayahnya.

Ayah dan anak itu hanya bisa bersabar menunggu ikan menyambar kailnya.

“Bagaimana dengan ujianmu? Apa kau bisa mengerjakannya?” Tanya Eric.

“Tentu saja appa. Ingat aku adalah anak appa yang paling pintar.” Eric tertawa mendengar Hyunseung menjawab dengan kepercayaan diri tinggi.

“Appa tahu kau memang anak appa yang paling pintar. Jadi cepatlah kau menggantikan appa di perusahaan ne?”

“Siap komandan.” Hyunseung mengangkat tangannya memberi hormat ala prajurit.

Eric tertawa melihat tingkah putranya.”Baguslah kalau begitu apa menunggumu ne?”

Hyunseung mengangguk penuh semangat.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Eric membuka lacinya dan mengambil sebuah pigura. Terlihat foto dirinya dan Hyunseung membawa seekor ikan besar di tangan mereka. Hyunseung tersenyum lebar penuh kepuasan begitu pula Eric. Eric merindukan masa-masa saat dia menghabiskan waktu memancing bersama Hyunseung.

Eric menyentuh foto Hyunseung. Tanpa diketahui orang lain laki-laki itu sangat merindukan putranya namun karena egonya membuat laki-laki itu bersikap dingin dan seolah tak peduli terhadap putranya. Eric memasukkan kembali pigura itu ke dalam laci dan menutup kembali laci itu. Eric berusaha menutup rapat kenangan masa lalunya dan kembali mengubur diri dalam pekerjaannya.

 

*  *  *  *  *

 

Esther membenarkan kerudung jaketnya yang kebesaran dan kacamata coklat yang bertengger di hidungnya. Esther berjalan memasuki Rumah Sakit Internasional Seoul. Kepala wanita itu tertunduk berharap tak seorangpun mengenalinya. Esther terus berjalan mencari ruang ICU. Esther menghampiri meja pendaftaran.

“Permisi suster, ruang ICU ada dimana?” Tanya Esther.

“Ruang ICU? Ruang ICU ada di lantai 4, tapi tidak sembarang orang bisa masuk ke sana nyonya.”

“Baiklah terimakasih.”

Esther bergegas menaikki lift. Esther menekan tombol lift dan seketika pintu lift terbuka. Wanita itu segera masuk ke dalam lift. Esther menekan tombol 4. Belum sempat pintu lift tertutup dua orang suster juga ikut masuk. Esther segera menunduk dan membenarkan kacamatanya.

“Apa kau sudah dengar Jang Hyunseung sudah keluar dari ICU?” Esther mendengar salah seorang suster itu berkata.

“Benarkah?”

“Iya. Tadi pagi dia sudah sadar karena itu Dokter Shin memindahkannya ke ruang rawat biasa.”

“Dimana? Aku ingin melihatnya. Aku juga penggemarnya.”

“Di ruang B-3 lantai 3.”

“Terimakasih Soojin-ssi, aku nanti akan menjenguknya.”

TIIINGG….

Pintu lift terbuka tepat di lantai 4. Kedua suster itu keluar, sedangkan Esther masih terdiam di tempat. Esther menutup lift itu dan menekan lantai 3.Tak lama pintu lift terbuka dan Esther keluar dari lift.

Wanita itu menengok ke kanan dan ke kiri berharap ada petunjuk menuju ruang B-3. Esther tersenyum melihat tulisan B-3 di arah kanannya. Esther berlari mencari kamar Hyunseung. Esther membaca setiap nama yang tertempel di pintu. Senyuman lega menghiasi wajah Esther saat menemukan pintu dengan tulisan ‘Jang Hyunseung’. Perlahan wanita itu membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam kamar itu.

Esther melepaskan kacamata dan kerudung jaketnya. Nafas Esther tercekat melihat Hyunseung tertidur pulas dengan selang infus tertancap di tangannya serta masker oksigen menutupi hidung dan mulut Hyunseung. Esther menghampiri ranjang Hyunseung perlahan. Mata Esther mulai berkaca-kaca melihat keadaan putranya begitu lemah. Putranya yang biasanya ceria sekarang terbaring lemah di atas ranjang.

Esther duduk di kursi samping ranjang. Tangannya terulur menggenggam tangan Hyunseung yang terasa dingin. Esther menutup mulutnya dengan tangan berusaha menahan tangisnya. Wanita itu tak percaya melihat keadaan putranya.

“Kenapa bisa seperti ini Hyunie-ah? Eomma sangat merindukanmu. Bangunlah. Eomma rindu suara indahmu menyanyikan sebuah lagu. Eomma selalu mengikuti perkembanganmu tanpa diketahui appa.”

Esther menggenggam tangan Hyunseung dan menatap wajah Hyunseung yang penuh dengan luka.

“Bangunlah Hyunie…. Bangunlah.” Esther tak dapat lagi menahan tangisnya. Wanita itu terisak dan menundukkan kepalanya.

Esther segera menghapus air matanya dan kembali menatap Hyunseung penuh sayang. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat membuat Esther panik.

“Eomma harus pergi. Maafkan eomma Hyunnie.” Esther membungkuk dan mencium kening putranya.

Esther segera memakai kacamata dan kerudung jaketnya. Dengan langkah cepat Esther keluar dari kamar Hyunseung. Esther terkejut melihat Andy berjalan kearahnya. Esther membenarkan kacamatanya dan menutupi wajahnya dengan kerudung jaket. Jantung Esther berdebar kencang. Wanita itu sangat mengenal Andy jadi kemungkinan Andy mengenalinya sangatlah besar.

Esther semakin menundukkan kepalanya saat melewati Andy. Tanpa disadari Esther, langkah Andy terhenti. Laki-laki itu berbalik dan menatap bingung ke arah Esther yang sudah memasuki lift. Andy menggidikkan bahunya lalu berbalik lagi menuju kamar Hyunseung. Andy membuka pintu dan melangkah masuk mendekati ranjang Hyunseung. Laki-laki itu duduk di tempat Esther tadi duduk. Tubuh Andy terpaku saat hidungnya mencium sesuatu. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya.

“Setidaknya eommamu baru saja datang menjengukmu Hyunseung-ah. Apa kau merasakannya?” Andy berkata saat mencium aroma parfum jeruk kesukaan Esther.

Andy tersenyum senang paling tidak ibunya sudah menjenguknya meski diam-diam. Andy teringat orang mencurigakan yang tadi di lewatinya di koridor rumah sakit. Andy yakin itu adalah Esther.

 

*  *  *  *  *

 

Doojoon melewati lorong apartement dengan malasnya. Laki-laki itu memijat tengkuknya yang terasa tegang. Seperti biasanya dasinya sudah melonggar di lehernya dan kancing kemeja teratasnya pun sudah terbuka.

Doojoon sampai di pintu apartementnya. Setelah memasukkan kode yang berisi tanggal lahir Jieun, pintu itupun langsung terbuka. Doojoon membuka lebar pintu itu dan melangkahkan kakinya masuk dalam apartement. Apartement itu tampak gelap. Doojoon menyalakan saklar yang terletak di dekat pintu.

“Selamat datang Oppa.” Teriak Jieun membuat Doojoon terkejut.

Melihat wajah tunangannya yang lucu Jieunpun tak bisa menahan tawanya.

“Aigo… Jieun-ah kau mengagetkanku saja.” Doojoon mengelus dadanya menenangkan jantungnya yang terkejut.

“Wajahmu lucu sekali Oppa. Seandainya saja tadi aku bisa memotretnya.”

“Apa kaubilang? Kau mau menjatuhkan imageku sebagai presiden direktur ne?”

Doojoon menjatuhkan tasnya dan langsung menggelitik pinggan Jieun. Tawa jieun meledak merasa kegelian.

“Ampun Oppa… Geli….” Jieun berkata di sela tawanya.

Doojoon melepaskan tangannya membuat Jieun menghela nafas lega. Gelitikkan itu digantikan pelukan Doojoon yang hangat. Doojoon meletakkan kepalanya di ceruk leher Jieun menghirup aroma buah-buahan berasal dari sabun Jieun.

“Apa Oppa lelah? Oppa tidak sakit kan?”

Doojoon menggeleng. “Tidak aku hanya merindukanmu saja.”

Jieun mendorong tubuh Doojoon melepaskan pelukannya.

“Aisshh… Kau membuatku khawatir saja Oppa. Buruan sana mandi. Kau bau sekali.” Jieun menutup hidungnya seakan mencium bau tidak sedap.

Doojoon tertawa melihat tingkah Jieun.

“Arrasseo aku akan mandi dokter Shin.”

Doojoon berbalik mengambil tas dan berjalan memasuki kamarnya. Jieun tersenyum bahagia melihat kekasihnya. Gadis itu berbalik kembali menuju dapurnya. Jieun mengambil pisau dan memotong beberapa sayuran. Suara pancuran air terdengar menandakan Doojoon tengah mandi.

Setelah 30 menit berkutat di dapur akhirnya masakan Jieun hampir saja selesai. Aroma nasi goreng kimchi itu menguar di seluruh ruangan. Dengan sendok Jieun mengambil sedikit nasi goreng kimchi itu dan mencicipinya. Senyum kepuasan terlihat di wajahnya menandakan masakan itu terasa lezat. Jieun mematikan kompornya tepat saat sepasang tangan melingkar di perutnya.

tumblr_mtqr5mUOa61sd7zzxo1_500

“Ommo… Kau mau balas mengagetkanku Oppa?”

“Memang itulah rencanaku. Baunya harum sekali membuat cacing di perutku mengadakan konser.” Jieun tertawa mendengar candaan Doojoon.

“Mana ada cacing mengadakan konser Oppa. Kau ini ada-ada saja. Jika Oppa ingin mendapatkan makanan, Oppa harus duduk manis dan menunggu makanan siap, arrasseo?”

“Arrasseo eomma.” Doojoon mencium pipi Jieun sekilas sebelum akhirnya laki-laki itu duduk di meja makan.

Jieun hanya bisa tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan Doojoon. Jieun memindahkan nasi goreng kimchi itu di kedua piring. Setelah menatanya rapi Jieun membawa kedua piring itu ke meja makan.

Jieun menyerahkan satu piring di hadapan Doojoon dan membawa satu piring lagi untuk dirinya. Doojoon menyuapkan satu sendok ke mulutnya. Pipinya bergerak ikut mengunyah.

“Bagaimana rasanya Oppa? Enak?”

Doojoon hanya bergumam seraya mengunyah makanannya.

“Rasanya….. Hhhhmmm….” Doojoon sengaja menggoda Jieun.

“Aishh.. Oppa cepat katakan bagaimana rasanya.”

“Tentu enak chagi. Masakanmu selalu enak.”

Jieun tersenyum senang mendengar pujian Doojoon. Merekapun mulai makan malam bersama.

“Kudengar kau menangani si penyanyi itu.” Doojoon berkata di sela makannya.

“Maksud Oppa, Jang Hyunseung?”

“Iya.”

“Iya aku yang menanganinya. Tadi pagi dia sudah melewati masa kritisnya jadi aku sudah memindahkannya ke ruang rawat biasa.”

“Berita bagus bukan?”

“Ne. Tapi….”

Doojoon mendongak melihat Jieun tampak sedang berpikir.

“Tapi apa?”

Jieunpun menceritakan kejadian tadi pagi saat Hyunseung begitu keras kepala ingin mencari kekasihnya. Doojoon hanya terdiam membiarkan Jieun bercerita.

“Oppa, apa Oppa juga akan melakukan hal yang sama jika aku menghilang?”

“Tentu saja aku pasti akan melarikan diri dari rumah sakit untuk mencarimu.”

Wajah Jieun tampak bahagia mendengar ucapan Doojoon.

“Aah… Kenyangnya.” Doojoon berkata setelah menyelesaikan makannya. Jieunpun meletakkan sendok dan garpu setelah makanannya habis. Jieun berdiri dan mengambil piring kotor miliknya dan Doojoon lalu membawanya ke tempat cuci piring. Jieun yang hendak mencuci terhenti saat Doojoon mengambil alih.

“Biar aku saja. Bukankah kau sudah memasak jadi serahkan saja padaku urusan bersih-bersihnya.”

Akhirnya Jieun duduk di kursi. Dengan kedua tangan menyangga kepalanya Jieun menatap Doojoon yang sibuk mencuci piring.

“Oppa.”

“Hmm…”Gumam Doojoon tanpa menoleh.

“Apa Oppa tidak merasa kita sudah seperti pasangan suami istri?”

Seketika tawa Doojoon terdengat renyah.

“Bukankah kita memang akan menikah chagi, tentu saja kita sudah seperti pasangan suami istri.” Doojoon kembali melanjutkan mencuci piringnya.

Tanpa disadari Doojoon, Jieun turun dari kursinya dan memeluk tubuh Doojoon dari belakang.

“Saranghae Oppa.” Jieun menutup mata dan menyandarkan kepalanya di punggung Doojoon.

“Na do saranghae Chagi.” Ucap Doojoon memegang tangan Jieun.

 

*  *  *  *  *

 

Junhyung berjalan keluar setelah pintu lift terbuka. Dengan langkah cepatnya laki-laki itu berjalan menuju kamar rawat Hyunseung. Dilihatnya Andy sudah berdiri di depan pintu menunggunya.

“Hyung.” Panggil Junhyung menghampiri Andy.

“Bagaimana keadaannya hyung?” Tanya Junhyung.

“Kata Dokter Shin, Hyunseung sudah melewati masa kritis tapi dia mengamuk saat tahu Yura menghilang.”

“Mengamuk? Lalu apa polisi belum juga menemukan Yura?”

Andy menggeleng lemah. “Polisi sudah mencari ke dalam hutan dekat tempat terjadinya kecelakaan namun mereka belum juga menemukannya.”

Junhyung menghela nafas berat mendengar berita tidak menyenangkan itu.

“Jangan Hyunseung-ssi.”

“YURAA…. YURAA….”

Junhyung dan Andy saling bertatapan mendengar teriakan dari dalam kamar Hyunseung. Keduanya segera berlari memasuki kamar Hyunseung. Terlihat seorang suster tengah menahan Hyunseung yang berusaha untuk turun. Junhyung dan Andy segera menghampiri Hyunseung menahan laki-laki itu melakukan tindakan yang nekat.

“Hyung tenanglah hyung.” Ucap Junhyung.

Hyunseung sedikit tenang mendengar suara adiknya. Hyunseung menoleh dan memegang kedua bahu Junhyung.

“Junhyung-ah, dimana Yura? Cepat katakan padaku di mana Yura? Dia tidak apa-apa kan?” Panik Hyunseung.

Junhyung terdiam tidak tahu bagaimana memberitahu hyungnya tentang berita tidak mengenakan itu.

“Junhyung-ah jawab aku di mana Yura?”

Junhyung menoleh melihat Andy menanyakan keputusan apa yang harus diambilnya. Andy mengangguk seakan setuju untuk memberitahukan kebenarannya pada Hyunseung.

“Yura… Yura… Dia… Dia menghilang Hyung.”

Tubuh Hyunseung seketika terpaku. Tangannya yang mencengkram bahu Junhyung melemas dan terjatuh di kedua sisi tubuhnya. Hyunseung menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan Junhyung.

“Tidak… Tidakk… Kau bohong Junhyung-ah. Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda hyung. Yura benar-benar hilang.”

“Yura… Aku harus mencarinya.” Hyunseung menyibakkan selimutnya hendak turun dari ranjang.

Junhyung, Andy dan seorang suster menahan tubuh Hyunseung.

“Tidak boleh hyung, kau masih sakit, kau baru saja melewati masa kritismu, kau tidak boleh pergi.”

“Lepaskan aku Junhyung-ah. Aku harus mencari Yura.”

“Tidak hyung. Aku tidak akan melepaskanmu. Saat ini kesehatanmu lebih penting.”

“Minggir…. KUBILANG MINGGIR.” Bentak Hyunseung.

“Tidak hyung.”

Beberapa suster memasuki kamar Hyunseung. Mereka membantu Junhyung dan yang lain menahan tubuh Hyunseung yang memberontak. Salah seorang suster menyiapkan suntikan yang berisi obat penenang. Setelah suntikan itu siap, suster itu menghampiri Hyunseung. Junhyung memegang tangan kanan Hyunseung membiarkan suster itu mengoleskan kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol. Hyunseung tak henti-hentinya berteriak dan memberontak. Suster itu menyuntikan obat penenang itu di lengan kanan Hyunseung. Tak lama suara Hyunseung melemah begitu pula dengan tubuhnya. Hyunseung merasakan matanya sangat berat hingga akhirnya tertutup.

Junhyung dan Andy menghela nafas lega lalu menidurkan tubuh Hyunseung yang sudah tak sadarkan diri. Para suster itu segera membereskan peralatan mereka dan bergegas keluar ruangan.

“Apa.yang harus kita lakukan hyung?”

“Kita tak bisa berbuat banyak Junhyung-ah. Polisi sudah mencarinya kita hanya bisa menunggu kabar dari polisi.”

Andy menoleh melihat Junhyung menghela nafas berat. Andy melingkarkan tangannya di bahu Junhyung.

“Kau belum makan bukan? Sebaiknya kau ikut aku, aku akan mentraktirmu. Ayo….”

Andy menarik paksa Junhyung keluar ruangan. Mereka berjalan menuju lift.

“Setidaknya aku punya kabar gembira untukmu.” Andy berkata saat mereka memasuki lift.

Junhyung menoleh menatap Andy bingung. Andy menekan tombol 1 dan pintu liftpun tertutup.

“Kabar gembira apa hyung?”

Andy menoleh dan tersenyum pada Junhyung.

“Eommamu datang menjenguk Hyunseung.”

Tampak rasa tak percaya terlihat di mata Junhyung.

“Eo-Eomma?”

“Ne.”

Junhyung terdiam meskipun dalam hatinya laki-laki itu sangat senang mendengar ibunya masih peduli padanya. Rasa rindu menelusup di hati Junhyung. Ingin sekali Junhyung merasakan tangan lembut eommanya membelai kepalanya penuh dengan kasih sayang. Junhyung rindu masa-masa kebersamaannya dengan ibunya.

TIIINGG….

Pintu lift terbuka. Lagi-lagi Andy melingkarkan tangannya di bahu Junhyung membuat Junhyung tersadar dari lamunannya.

“Lupakan semuanya sejenak, mari kita makan, arrasseo?”

Junhyung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat manager Hyunseung yang sama bersemangatnya dengan kakaknya.

 

*  *  *  *  *

 

Suara ketukan sendok dan piring terdengar dari ruang makan keluarga Jang. Ruang makan bergaya victoria itu terlihat elegan dan mewah. Kursi dan kayu dengan warna coklat asli dan sebuah lampu kristal menambah kesan mewah ruang makan itu. Eric, Esther dan Minah terlihat menikmati makanan mereka.

“Uhhuukk…. Uuhhuuukkk… Uuhhuukkk….”

Esther yang duduk di hadapan Minah mendongak menatap putri kesayangannya itu terbatuk. Minah terus terbatuk dan wajah gadis itupun terlihat pucat. Hal itu membuat Esther khawatir.

“Minah kau tampak pucat. Apa kau sakit sayang?” Tanya Esther cemas.

Minah mendongak dan benar wajah Minah terlihat pucat tidak sesegar biasanya.

“Tidak eomma. Aku tidak apa-apa.”

Eric tampak tertarik dengan pembicaraan itu. Laki-laki itu menatap putrinya.

“Jika kau sakit kau tak perlu masuk sekolah Minah.” Saran Eric dan Minah hanya menggeleng lemah.

“Tidak appa. Aku tidak sakit. Aku sudah kenyang.” Ucap Minah berdiri.

“Aku berangkat Appa, eomma.” Minah mencium pipi Eric dan Esther sekilas lalu beranjak pergi.

Esther hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Minah. Suasana hening terasa di ruang makan itu. Esther jadi teringat masa lalu.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

“UUWWAAAHHH…..” Seorang anak laki-laki duduk menangis di ruang makan.

“Hyunie berhentilah menggoda Junhyung, kembalikan sendoknya.” Perintah Esther menghampiri Hyunseung dan Junhyung yang duduk berdampingan.

Hyunseung tersenyum puas menjahili adiknya, namun melihat wajah ibunya yang melotot ke arahnya, dia langsung mengembalikan sendok dengan gagang winnie the pooh itu pada Junhyung. Seketika tangis Junhyung terhenti. Seorang laki-laki berjalan ke arah mereka dan tangannya terulur mengacak rambut Hyunseung.

“Berhetilah membuat adikmu menangis jagoan.”

“Appa… Appa sudah pulang.” Wajah Hyunseung terlihat senang dan langsung meloncat turun menghampiri ayahnya.

Melihat anaknya yang penuh semangat Eric tertawa senang. Laki-laki itu melebarkan tangannya dan memeluk Hyunseung. Dengan mudahnya Eric mengangkat tubuh kecil Hyunseung keatas pangkuannya.

“Apa yang kau lakukan sampai membuat adikmu menangis eoh?”

Eric melihat Junhyung sudah asyik memakan serealnya dengan lahap.

“Aku hanya mengambil sendoknya saja.”

“Aishh… Dasar anak nakal. Hyunie.” Hyunseung mendongak mendengar panggilan ayahnya.

“Ne Appa.”

“Bukankah kau jagoan appa, seharusnya kau menjaga adik-adikmu bukannya malah membuatnya menangis. Apa kau ingat power ranger bertugas melindungi semua orang?”

“Ne, mereka hebat appa, mereka bisa berkelahi mengalahkan musuh.”

“Di rumah ini kau harus menjadi jagoan seperti power ranger untuk melindungi adikmu, arrasseo?” Hyunseung mengangguk penuh semangat.

“Arrasseo Oppa, aku pasti akan melindungi Jun-ya dan Minchan.”

Hyunseung melompat turun dan berlari menghampiri ibunya yang sedang mengelap mulut Junhyung yang belepotan.

“Eomma… Eommaa… Kata Appa aku adalah power ranger di rumah ini. Aku akan melindungi Jun-ya dan Minchan.” Esther tertawa mendengar celotehan Hyunseung.

Esther berlutut mensejajarkan wajahnya dengan Hyunseung.

“Appamu benar kau harus melindungi Jun-ya dan Minchan jangan membuatnya menangis lagi ne?”

“Ne eomma.”

“Sendokku…. Sendokku….” Teriak Junhyung berusaha meraih sendoknya yang jatuh kelantai.

“Hyunie Ranger datang Jun-ya.” Hyunseung berlaga seperti seorang power ranger dan menghampiri Junhyung. Hyunseung mengambil sendok itu dan menyerahkannya pada Junhyung.

“Gomawo hyung.” Hyunseung tersenyum bangga sudah menolong adiknya.

Eric tersenyum melihat aksi pahlawan Hyunseung. Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil menghampiri Eric. Seorang gadis kecil dengan rambut di kucir dua berlari membawa barbie di tangannya.

“Appa…. Appaa… Barbieku lepas.” Minah menodongkan kepala barbienya yang terlepas. Wajah gadis kecil itu hampir saja menangis. Eric menunduk hendak meraih barbie itu namun terhenti saat mendengar suara jagoannya.

“Hyunie Ranger datang Minchan-ah”

Lagi- lagi Hyunseung berlari bak seorang power ranger. Hyunseung menghampiri Minah dan mengambil tubuh dan kepala barbie itu. Hyunseung sedikit kesusahan memasang kepala barbie itu namun akhirnya kepala barbie itu bisa terpasang di tubuhnya kembali. Dengan senyum bangganya Hyunseung mengembalikan barbie itu pada Minah. Mata Minah berbinar senang.

“Gomawo Oppa.”

“Anak pintar.” Eric mengacak rambut Hyunseung.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Esther kembali kemasa sekarang. Berbeda dengan acara makan yang dipenuhi canda tawa, saat ini hanya kesunyian yang menghinggapi suasana makan keluarga Jang.

“Yeobo apa kau tidak merindukan suasana yang ramai seperti dulu?”

Tangan Eric yang hendak menyuapkan makanan terhentu mendengar pertanyaan Esther. Laki-laki itu tahu apa yang dimaksud istrinya.

“Tidak.” Jawab Eric dingin kembali memakan sarapannya.

“Tidak bisakah keluarga kita kembali seperti dulu yeobo?”

DDAAAGHH….

Dengan keras Eric meletakkan sendoknya.

“Aku tak ingin membicarakannya Esther. Jangan pernah mengungkitnya lagi.”

Eric berdiri membuat suara kursi bergeser dengan sangat keras.

“Aku berangkat dulu.” Eric mencium puncak kepala Esther sebelum akhirnya meninggalkan Esther sendirian.

Esther menghela nafas kecewa. Wanita itu sangat merindukan kedua putranya. Tiba-tiba ponsel Esther bergetar. Esther mengambil ponsel di sakunya. Terlihat nomor telpon butik miliknya tertera di layar ponselnya.

“Hallo?”

“Hallo sajangnim, para model sudah datang.” terdengar suara Hyeri asisten Esther.

“Baiklah aku akan segera ke sana.”

Esther memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazernya. Esther meletakkan sendoknya dan berdiri meninggalkan ruang makan.

 

*  *  *  *  *

 

Junhyung berjalan menaikki tangga menuju lantai 2. Terdengar suara langkah kaki mengikutinya dari belakang. Kesal Junhyung menoleh dan melihat Minah tersenyum lebar seperti biasanya.

“Berhentilah mengikutiku gadis pengganggu.” Kesal Junhyung karena sejak tadi Minah tak henti-henti mengikutinya.

Minah menggeleng. “Aku tidak akan berhenti mengikutimu jika Oppa mau bermain drama buatan Jaejoong sunbei.”

Junhyung mendengus kesal dia berbalik melanjutkan langkahnya. Minah segera mengikuti Junhyung di belakangnya. Junhyung memasuki ruang musik dengan masih diikuti Minah. Junhyung meletakkan kertas partitur yang berisi lagu buatannya. Minah hanya berdiri di samping piano tanpa melepaskan pandangannya dari Junhyung. Junhyung tak memperdulikan Minah dan melanjutkan lagunya.

Alunan piano terdengar merdu di telinga Minah. Junhyung terus menggerakkan jemarinya diatas tuts piano. Permainan itu terhenti saat Junhyung menemukan nada yang pas. Junhyung langsung mengambil pensil dan menuliskan nada itu di kertas partitur. Minah tersenyum saat menemukan sebuah ide di pikirannya. Junhyung meletakkan pensilnya dan melanjutkan mencari nada yang tepat.

“Aku ambil ini Oppa.” Minah mengambil kertas partitur Junhyung dan berlari keluar ruang musik.

“Aishhh… Dasar gadis pengganggu.” Junhyung mendengus kesal lalu berlari mengejar Minah.

Junhyung berlari menuruni tangga. Sesampainya di lantai dasar Junhyung melengok ke kanan dan kiri mencari sosok Minah. Mata Jungyung menangkap sosok Minah tengah berlari menuju taman sekolah. Junhyung berlari mengejar gadis itu.

“YA!! Kembalikan kertas itu gadis pengganggu.” Teriak Junhyung.

“Tidak mau Weee….” Tanpa menghentikan larinya Minah berbalik dan menjulurkan lidahnya.

Junhyung semakin kesal melihat tingkah gadis itu. Junhyung berhenti berlari sampai di taman. Tidak terlalu banyak siswa di taman itu mempermudah Junhyung mencari Minah. Kedua sudut bibir Junhyung terangkat saat melihat Minah bersembunyi di balik pohon. Dia berlari menghampiri Minah. Dia melihat Minah duduk bersandar sambil mengatur nafasnya terengah-engah.

“Kembalikan kertas itu.” Junhyung mengulurkan tangannya meminta kertas partitur miliknya.

“Tidak mau. Aku akan memberikannya jika Oppa setuju bermain drama denganku.”

“Sudah kubilang aku tidak mau. Drama itu hanya membuang waktuku saja.”

“Berarti aku tidak akan memberikannya padamu Oppa.” Minah mendekap erat kertas itu.

Junhyung mendengus kesal. “Terserah. Aku bisa membuatnya lagi.”

Junhyung berbalik dan berjalan meninggalkan Minah.

“Aaahhh….” Langkah Junhyung terhenti saat mendengar lenguhan dari Minah.

Junhyung berbalik dan melihat Minah meringkuk kesakitan sambil memegang dadanya. Junhyung tersenyum sinis mengira Minah hanya akan mempermainkannya seperti yang gadis itu lakukan tempo hari.

“YA!! Gadis pengganggu kau tak bisa mengerjaiku lagi.” Kesal Junhyung.

Junhyung hendak berbalik namun melihat Minah masih meringkuk kesakitan membuat Junhyung mengurungkan niatnya. Wajah Minah tampak pucat bahkan bibir gadis itupun berwarna putih pucat. Minah meringkuk meremas dadanya terlihat kesakitan. Nafas Minah tersengal-sengal dan terkadang diiringi dengan batuk. Perlahan Junhyung menghampiri Minah.

“YA!! Gadis pengganggu.” Panggil Junhyung namun Minah seakan tak mendengarnya.

Junhyung melihat sekeliling ternyata siswa-siswa yang berada di taman sudah tidak ada. Junhyungpun berjongkok di dekat minah. Tangannya terulur mengguncangkan tubuh gadis itu.

“Gadis pengganggu kau tidak bercanda kan?”

Junhyung terkejut melihat wajah Minah semakin pucat. Keringatpun membasahi wajah dan tubuhnya.

“Aku akan membawamu keruang kesehatan.”

“Tidak. Aku tidak mau dibawa ke ruang kesehatan sebelum Oppa setuju main drama denganku.” Minah menggeleng.

“Apa kau gila? Disaat genting seperti ini kau masih memikirkan drama itu huh?.”

“Karena drama itu penting buatku. Pokoknya aku tidak mau di bawa ke ruang kesehatan sebelum Oppa mau bermain drama itu.”

Junhyung mendengus kesal mendengar permintaan Minah. Junhyung ingin menolaknya namun melihat Minah meringis kesakitan membuat laki-laki tidak tega. Meskipun Junhyung adalah laki-laki yang dingin tapi dia masih memiliki perasaan.

“Baiklah aku akan main drama itu.” Ucap Junhyung dengan nada kesal.

“Janjji?”

“Ne. Aku berjanji.”

Minah tersenyum senang, namun senyumnya menghilang seketika merasakan dadanya bertambah sakit.

“Sakit Oppa.” Minah berkata lirih.

DEGHH….

Junhyung merasakan deja vu saat mendengar ucapan Minah. Junhyung melupakan perasaan itu dan segera membawa Minah ke ruang kesehatan. Tubuh Minah semakin lemah hingga akhirnya gadis itu tak sadarkan diri. Junhyung sedikit berlari menuju ruang kesehatan yang terletak di lantai 1. Junhyung memasuki ruang kesehatan. Bau obat-obatan menyengat hidung Junhyung. Junhyung segera membaringkan tubuh Minah di ranjang.

tumblr_mtywtlenaV1rw9q2io2_500

“Ada apa dengannya?” Tanya Yoona, dokter di sekolah itu.

“Aku tidak tahu, tiba-tiba dia merasakan kesakitan sambil memegang dadanya terus.” Jelas Junhyung.

Yoona segera memeriksa dada Minah dengan stetoskop yang terhubung di telinganya. Lalu Yoona membuka mata Minah dan memeriksanya.

“Aku akan memanggil ambulans. Aku belum bisa menjelaskan apa yang teradi dengan Minah sebelum dia melakukan rontgen.” Yoona berjalan menuju meja kerja untuk menelpon rumah sakit.

Junhyung masih terdiam di tempatnya mengamati Minah yang tak sadarkan diri. Wajah Minah terlihat lebih tenang daripada tadi. Junhyungpun teringat deja vu yang dialaminya tadi.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Junhyung dan Minah berlari di lapangan rumput. Langkah-langkah kecil kedua anak itu terlihat lucu. Esther tersenyum melihat kedua anaknya. Esther kembali ke mobil Van untuk menyiapkan piknik keluarga. Eric dan Hyunseung sudah pergi untuk memancing.

“Jun Oppa tunggu.” Minah berkata mengejar kakaknya.

“Kejar aku Minchan.”

Keduanya tertawa terlihat sangat asyik dengan permainan kejar-kejaran itu. Tiba-tiba Minah tersandung sebuah batu membuat gadis kecil itu jatuh tersungkur di tanah. Seketika Minah menangis membuat lari Junhyung terhenti. Junhyung berbalik dan menghampiri Minah.

“Kau tidak apa-apa Minchan?” Tanya Junhyung membantu Minah duduk.

“Sakit Oppa.” Ucap Minah di sela tangisnya.

Junhyung berjongkok membelakangi Minah.

“Naiklah.” Perintah Junhyung.

Masih dengan menangis gadis kecil itupun melingkarkan tangannya di leher Junhyung. Junhyung bangkit berdiri menggendong Minah menuju mobil Van mereka.

“EOMMA….EOMMA….” Teriak Junhyung.

“Ada apa Jun-ya?” Terdengar suar Esther keluar dari mobil Van.

“Ommo… Ada apa Minchan kenapa menangis?” Esthr segera menghampiri Minah dan mengambil gadis kecil dari gendongan Junhyung.

“Tadi Minchan jatuh eomma.” Suara Junhyung bergetar.

Esther menoleh dan memdapati Junhyung juga menangis ketakutan. Esther mendudukkan Minah di kursi. Esther bisa melihat lecet di kedua lutut Minah. Junhyung menghampiri Minah dan berdiri di samping adiknya. Junhyung terus menangis menatap Minah seakan takut terjadi apa-apa dengan adiknya.

“Jun-ya kau tak perlu cemas, kaki Minah hanya lecet saja jadi berhentilah menangis ne?” Esther membelai puncak kepala putranya.

“N.. Ne eomma.”

“Eomma akan mengambil kapas dan obat merah dulu, kau jaga adikmu ne?”

Junhyung mengangguk dan Estherpun masuk kembali ke dalam Van.

“Maafkan Oppa Minchan, Oppa janji akan selalu melindungi Minchan.” Junhyung memeluk adiknya penuh kasih sayang.

“Ne Jun Oppa.” Minah menggangguk dan membalas pelukan kakaknya.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Minah masih terbaring lemah belum sadarkan diri. Junhyungpun tersadar dari lamunannya.

“Kau tenang saja sebentar lagi ambulans datang, kekasihmu pasti akan baik-baik saja.”  Ucap Yoona menghampiri Junhyung.

“Dia bukan kekasihku dokter Im.”

“Benarkah? Tapi kalian keliatan serasi.” Goda Yoona.

“Tugasku sudah selesai, aku akan kembali ke kelas.”

Yoona tersenyum melihat kepergian Junhyung. Senyum wanita itu menghilang saat matanya melihat Minah yang masih terpejam.

“Semoga dugaanku salah. Kasihan sekali jika gadis semuda Minah harus menderita kanker paru-paru.” Yoona mentap iba ke arah Minah.

 

*  *  *  *  *

 

Ruangan dengan warna secerah bunga sakura itu tampak hening. Dinding bercat merah muda itu tergantung pigura foto dan kertas-kertas bergambar design baju. Esther tengah duduk di kursinya dan seorang gadis dengan anggunnya duduk di hadapan Esther. Esther membaca kertas di meja berisi profil gadis di hadapannya.

“Lee Yeonhee.” Esther membaca nama gadis itu dalam profil.

“Nde.”

“Benarkah ibumu adalah Lee Hyori top model itu?”

“Ne.”

“Kudengar ibumu meninggal dalam kecelakaan minggu lalu. Aku turut berduka cita.”

“Terimakasih sajangnim.”

“Jadi kenapa kau ingin menjadi model?” Tanya Esther menatap Yeonhee.

“Aku ingin membuktikan pada eomma aku bisa menjadi Top model melebihi dia, itulah alasanku menjadi model.” Yeonhee berkata dengan penuh keyakinan.

PLOKKK…PLOOKK…PLOKK…

Esther bertepuk tangan mendengar alasan Yeonhee.

“Aku suka sifat ambisiusmu. Kau jelas kuterima tapi aku menerimamu bukan karena kau adalah putri Lee Hyori, tapi karena ambisimu yang besar membuatku tertantang ingin membuatmu mencapai keinginanmu.”

“Terimakasih sajangnim.” Yeonhee seakan tak percaya dirinya diterima menjadi model untuk brand terkenal milik Esther.

“Besok datanglah kemari, kita akan memulai pemotretannya.”

“Baik sajangnim.”

“Kau boleh pergi.”

“Terimakasih sajangnim.” Yeonhee berdiri dan meninggalkan ruangan Esther.

Di luar Yeonhee tersenyum lebar menunjukkan gadis itu sangat bahagia. Yeonhee mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto gadis kecil berambut panjang.

“Aku akan segera menemuimu Young-ah.” Yeonhee memasukkan kembali ponselnya dan beranjak meninggalkan tempat itu.

Di dalam ruang kerja Esther terlihat wanita itu masih membaca profil Yeonhee hingga akhirnya telponnya berdering. Esther mengangkat telpon itu.

“Hallo.”

“Hallo apakah ini nyonya Jang Esther?”

“Ne saya sendiri.”

“Nyonya Jang saya Dokter Im, dokter di sekolah Minah. Saya ingin memberitahukan jika Minah dilarikan ke rumah sakit.”

MWO? Apa yang terjadi?”

“Tadi Minah pingsan dan mengeluh dadanya sakit. Saya tak bisa mengetahui penyebabnya sebelum di rontgen karena itu Minah dibawa ke rumah sakit international Seoul untuk diperiksa lebih lanjut.”

“Baiklah terimakasih atas informasinya dokter Im.”

“Sama-sama nyonya Jang.”

 

*  *  *  *  *

 

Doojoon mengangkat kedua tangannya meregangkan tubuhnya terasa pegal karena duduk terus sejak tadi pagi. Doojoon melihat jam di tangan kirinya sudah menunjukkan jam 12 siang.

“Tak terasa sudah waktunya makan siang.” Gumam Doojoon.

Doojoon berdiri keluar ruangannya. Doojoon memasuki lift dan menekan tombol B1 menuju basement. Tangan Doojoon mengetuk-ngetuk dinding lift menunggu lift itu sampai di tempat tujuan.

TIINGGG…

Lift terbuka dan Doojoonpun keluar dari lift itu. Doojoon berjalan seraya mengaduk sakunya mencari kunci mobilnya. Tangannya menangkap sebuah kunci dan Doojoon langsung mengeluarkannya dari saku.

“Hentikan Taewoon-ah.” Langkah Doojoon terhenti saat mendengar suara Jihae. Doojoon berbalik mencari sumber suara itu.

“Waeyo Jihae-ya. Apa kau tak mencintaiku lagi?” Doojoon terkejut mendengar suara laki-laki. Doojoon terus melangkah mendekati suara itu.

“Tidak aku memang tak pernah mencintaimu.”

Akhirnya Doojoon dapat melihat Jihae bersandar di tembok sedangkan seorang laki-laki memerangkap gadis itu dengan kedua tangannya.

“Jangan bercanda Jihae-ya. Aku sangat mencintaimu.”

Jihae mendengus tak percaya.

“Mencintaiku? Hentikan omong kosong itu Taewoon-ah. Aku tahu apa yang kau inginkan.”

“Jika kau tahu kau harus melakukannya.”

Dengan kasar Taewoon memegang dagu Jihae dan mencium gadis itu dengan rakusnya. Jihae mengerang kesal dan berusaha mendorong laki-laki itu bahkan gadis itu melayangkn pukulan-pukulan di dada laki-laki itu. Namun laki-laki itu tak kunjung melepaskan ciumannya bahkan tangannya yang lain sudah menahan tengkuk Jihae.

“Ngghhhh…..” Jihae mengerang kesakitan saat merasakan Taewoon menggigit bibirnya. Jihae dapat merasakan cairan kental yang diyakini gadis itu darahnya.

“Lepaskan….” Sekuat tenaga Jihae mendorong laki-laki itu hingga terdorong ke belakag.

Jihae mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Terlihat darah melekat di punggung tangan gadis itu.

“Aku sudah bukan lagi kekasihmu Taewoon-ah, dan aku tak pernah mencintaimu jadi jangan pernah mencariku lagi.”

Salah satu sudut bibir Tawoon terangkat memperlihatkan senyuman yang sangat tidak di sukai Jihae.

“Tidak mencintaiku? Dasar gadis brengsek.”

PLLAAKKK……

Tamparan keras membuat Jihae terjatuh.

“Aahhh….” Jihae merasakan nyeri di pipinya.

Doojoon yang sedari tadi hanya sebagai penonton sudah tak tahan lagi melihat adegan itu. Doojoon menghampiri Taewoon dan Jihae. Taewoon mengangkat kerah kemeja Jihae membuat gadis itu kembali berdiri. Taewoon hendak melayangkan tangannya kembali namun Doojoon menahannya.

“Cukup…. Lepaskan dia.” Ucap Doojoon dengan wajah dinginnya.

Taewoon melepaskan pegangan di kerah Jihae lalu menghadapi Doojoon.

“Siapa kau beraninya kau mengganggu kami. Apa kau kekasih barunya itu huh?”

Doojoon melihat ke arah Jihae, gadis itu menggeleng agar Doojoon mengatakan ‘tidak’ atas pertanyaan Taewoon. Doojoon kembali menatap Taewoon.

“Ne. Jadi kau tak perlu mencarinya lagi atau kau harus berhadapan denganku.”

Taewoon mendengus meremehkan. “Jadi kau menantangku eoh?”

“Ne karena kau sudah menyakiti Jihae.”

“Jangan Oppa. Sudahlah Taewoon-ah pergilah.” Ucap Jihae melerai kedua laki-laki itu.

“Minggir Jihae-ah.” Taewoon mendorong Jihae menjauh.

“Jangan menyesal kau sudah menantangku.” Taewoon tersenyum sinis.

Taewoon melayangkan tinjunya namun Dongwoon berhasil menghindarnya. Namun tak diperkiran Doojoon, Taewoon juga melayangkan tendangannya tepat mengenai kepala Doojoon. Doojoon terjatuh akibat tendangan itu. Doojoon merasakan sedikit pusing akibat tendangan Taewoon yang begitu keras.

Doojoon bangkit berdiri dan berniat memberikan laki-laki itu pelajaran. Doojoon berlari melayangkan kepalan tangannya. Melihat kaki Taewoon bergerak hendak menendang Doojoon dengan cepatnya menunduk lalu sebuah pukulan mengenai pipi Taewoon dan laki-laki itupun terhuyung ke belakang.

“Kau benar-benar cari masalah.” Gerutu Taewoon.

Secepat kilat Taewoon melayangkan tinjunya dan Doojoon tak dapat menghindar. Tinju itupun tepat mengenai pipi kanan Doojoon. Lagi-lagi Doojoon terjatuh. Dengan kasar Taewoon menarik kerah kemeja Doojoon hingga laki-laki itu berdiri.

“Kau sudah salah berurusan denganku.” Ucap Taewoon kembali melayangkan pukulannya.

“Hentikan, lepaskan Yoon sajangnim atau aku akan membawamu ke kantor polisi.” Tangan Taewoon terhenti mendengar teriakan seseorang. Laki-laki itu menoleh dan melihat seorang sekuriti berlari ke arahnya diikuti Jihae. Ternyata tanpa sepengetahuan Taewoon Jihae berlari memanggil sekuriti. Taewoon melepaskan kerah Doojoon.

“Kita belum selesai ingat itu Yoon sajangnim.” Ucap Taewoon berlalu pergi.

“Oppa kau tidak apa-apa?” Cemas Jihae menghampiri Doojoon.

“Aahh…. Sakit.” Doojoon melebarkan mulutnya dan rasa nyeripun menyebar di kedua pipinya.

“Lebih baik kita masuk Oppa, aku akan mengobatinya.” Jihae menarik Doojoon hendak masuk kembali ke dalam kantor.

“Jangan. Apa kau mau membuatku malu dengan luka ini eoh? Sebaiknya kita pergi dari sini.” Doojoon menarik Jihae menuju mobilnya.

 

*  *  *  *  *

 

Seorang laki-laki dengan seragam polisi menyusuri hutan di pinggir jalan menuju Busan. Langkahnya terasa berat karena tanah yang lembek akibat hujan. Sebuah nametag di seragamnya tertulis nama ‘Park Junjin’. Laki-laki itu terus berjalan melewati pohon-pohon yang rindang.

Junjin menyingkirkan dahan-dahan yang menghalangi jalannya. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu. Junjin berlari menghampiri dahan yang tak jauh darinya. Sebuah sobekan kain berwarna putih bertengger di dahan itu. Junjin mengeluarkan sarung tangannya dan memakaikannya di kedua tangan. Laki-laki itu mengeluarkan kantong plastik dari sakunya lalu memasukan sobekan kain itu ke dalam plastik itu.

Junjin kembali melanjutkan langkahnya. Laki-laki itu sedikit kesulitan saat harus mendaki jalanan yang semakin terjal. Junjin harus berpegangan pada pohon agar tubuhnya tidak terpeleset.

“Apa gadis itu akan melewati jalan ini?” Pikir Junjin.

Akhirnya Junjin bisa bernafas lega saat melihat jalanan datar. Baru beberapa langkah Junjin berhenti. Laki-laki itu berjongkok di depan sebuah batang kayu. Junjin mengeluarkan kantong plastik kembali. Junjin mengambil sebuah sepatu kets putih dan memasukkannya ke dalam kantong plastik itu. Junjin berdiri dan melompati balok kayu itu dan kembali melangkah.

“Uuwwahh….” Teriak Junjin saat kakinya hampir saja terpeleset.

Junjin menghela nafas dan terkejut melihat jurang yang dalam. Junjin dapat melihat air sungai mengalir dengan derasnya. Junjin melihat ke belakang dan menghitung jarak dari balok kayu itu dengan jurang itu hanyalah lima langkah. Junjin mengeluarkan ponselnya dan menelpon atasannya.

“Ada apa Junjin-ssi.” Terdengar suara laki-laki dari ujung telpon.

“Dongwa-ssi, saya sudah menemukan petunjuk tentang gadis bernama Yura itu.”

“Apa kau menemukan gadis itu?”

“Tidak Dongwa-ssi, jika benar sepatu yang kutemukan dan memprediksi letak sepatu itu, sepertinya Yura masuk ke dalam jurang Dongwa-ssi.”

“Baiklah bawa petunjuk itu kita harus memastikan apakah benda itu milik nona Yura atau bukan.”

“Baik Dongwa-ssi.” Junjin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Junjin memandang jurang itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

 

*  *  *  *  *

 

Minah mengerang dan membuka matanya. Langit-langit putih menyambut mata gadis itu. Minah mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan putih itu. Tak ada satupun orang di ruangan itu kecuali Minah. Minah menatap kantong infus yang tergantung di atasnya.

“Tidak mungkin dokter Shin… Kau tidak berbohong bukan?” Minah menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ibunya.

“Aku tidak pernah bermain-main dengan penyakit nyonya Jang. Aku sudah melihat hasil rontgen dan test yang sudah dilakukan dan hasilnya putri anda menderita Kanker paru-paru stadium akhir.”

Tubuh Minah membeku mendengar penjelasan dokter itu. Minah yakin dokter itu sedang membicarakan dirinya.

“Kanker paru-paru?” Gumam Minah.

“Apakah anda bisa menyembuhkannya? Katakan jika kau bisa menyembuhkannya dokter Shin.” Histeris Esther mengguncangkan tubuh Jieun.

“Maaf nyonya Jang, sudah terlambat untuk melakukan operasi. Saya tak bisa menyembuhnya. Saya hanya bisa memperlambat penyakit itu. Maafkan saya nyonya Jang.”

“Berapa lama Minah akan bertahan?”

“Melihat sel-sel kanker yang menyebar di paru-paru Minah, saya memperkirakan Minah tidak akan bisa melewati tahun baru.”

Minah meremas sprei di sampingnya. Gadis itu seakan tak percaya umurnya tidak akan lama.

“Maksud dokter Minah hanya bisa bertahan selama 6 bulan saja.”

“Ne.”

Tubuh Esther terhuyung dan bersandar pada tembok. Hati Esther seakan hancur mengetahui umur putrinya tidak panjang.

“Maafkan saya tak bisa berbuat banyak nyonya Jang. Saya permisi dulu.” Jieun berkata seraya meninggalkan Esther.

Air mata Estherpun tak bisa di bendung lagi. Esther sudah kehilangan 2 putranya dan sekarang wanita itu harus di hadapkan pada kenyataan akan kehilangan putri satu-satunya.

Di kamar Minah masih terdiam. Penjelasan Jieun masih terngiang di pikiran gadis itu. Tanpa sadar air mata gadis itupun jatuh membasahi pipinya. Minah memegang dadanya dan berharap ini semua hanyalah mimpi buruk dan saat gadis itu terbangun semuanya akan baik-baik saja. Namun merasakan dadanya sakit Minah menyadari harapannya itu sia-sia. Dengan tangannya Minah menutup mulutnya tak ingin tangisnya terdengar Esther. Gadis itu tak ingin ibunya semakin bersedih.

Minah mendengar kenop pintu bergerak. Dengan cepat Minah menghapus air matanya dan memandang keluar jendela.

“Kau sudah sadar Minchan.” Ucap Esther menghampiri putrinya.

Minah menoleh dan tersenyum pada ibunya. Nafas Esther tercekat melihat putrinya terlihat sangat manis. Esther menghela nafas mengatur emosinya.

“Apa yang di katakan dokter eomma?” Tanya Minah dengan nada ceria seperti biasanya.

“Dokter… Dokter mengatakan kau hanya kelelahan saja. Dan juga kau kurang makan. Pantas saja kau pingsan, kau kan tidak menghabiskan sarapanmu tadi pagi.”

“Aku bosan dengan masakan Han ahjuma eomma. Aku rindu masakan eomma.”

Esther membuang mukanya saat merasakan air matanya nyaris jatuh. Secepat kilat Esther menghapus air mata itu. Wanita itu berbalik dan tersenyum pada putrinya. Tangannya terulur membelai rambut hitam panjag milik Minah.

“Baiklah setelah kau pulang dari rumah sakit eomma akan memasak untukmu.”

“Benarkah?” Minah terlihat ceria mendengar janji Esther.

“Ne. Tapi untuk saat ini kau harus makan makanan rumah sakit biar cepat sembuh. Arrasseo?” Minah mengangguk dengan semangat.

“Anak pintar. Eomma akan mengurus administrasi dulu ne.” Esther berdiri namun tangan Minah menarik ujung blazer Esther.

“Eomma, maukah eomma memelukku? Sudah lama aku tak merasa pelukan eomma.” Nafas Esther tercekat mendengar permintaan Minah.

Esther merentangkan kedua tangannya memeluk tubuh putrinya. Minah membalas pelukan Esther erat seakan tak ingin Esther pergi.

“Eomma, aku bisa mencium aroma jeruk parfum kesukaan eomma. Bau ini sangat enak sekali.” Celoteh Minah.

Tanpa disadari Minah, Esther menutup mulutnya menanahan tangisnya yang hampir meledak.

“Istirahatlah. Eomma akan segera kembali.” Esther berkata melepaskan pelukannya.

Esther segera berlari keluar tak ingin Minah melihat matanya yang berair. Setelah menutup pintu Esther menyandarkan tubuhnya. Tangisnyapun pecah. Esther menutup mulutnya agar Minah tak mendengarnya. Tubuh Esther melemah hingga akhirnya tubuh wanita itu jatuh ke lantai. Air mata tak henti-hentinya keluar.

Dalam kamar Minah juga menangis menatap pintu itu seakan ibunya masih disana.

tumblr_m6q9yfWLzX1qairx2o1_250

“Aku sangat menyayangimu eomna.” Minah berkata dengan suara lirih.

 

*  *  *  *  *

 

“Aahhh…”Teriak Doojoon merasakan dinginnya es menyentuh pipinya.

Jihae yang memegangi kantong es itu menghela nafas melihat wajah Doojoon babak belur. Jihae mengedarkan pandangannya mengelilingi ruang tamu di apartement Doojoon. Apartement itu terlihat rapi dan Jihae bisa melihat foto-foto Doojoon dan Jieun terpajang di dinding.

“Apa dia kekasihmu?” Pertanyaan Doojoon menyadarkan Jihae dan kembali menatap laki-laki itu.

“Nde? Maksud Oppa Taewoon?”

“Ne.”

Doojoon mengambil es itu dan menaruhnya di sisi kepalanya akibat tendangan Taewoon tadi.

“Lebih tepatnya mantan kekasih. Aku sudah berpisah dengannya satu tahun yang lalu. Entah apa yang membuatnya mencariku tadi. Tidak seharusnya kau melawannya Oppa, Taewoon laki-laki yang berbahaya. Dan tidak seharusnya kau mengaku sebagai kekasihku Oppa.”

“Aku hanya tidak tahan melihatnya memukulimu.”

Doojoon menarik dagu Jihae membuat gadis itu menatapnya. Jihae tampak terkejut dengan perlakuan Doojoon.

“Apa dia selalu memukulmu dulu?”

Jihae hanya terdiam mendengar pertanyaan Doojoon.

“Aku akan mengambil es lagi.” Jihae berkata mengalihkan pembicaraan.

Tangan Doojoon menahan tangan Jihae dan kembali menarik dagu gadis itu. Doojoon meletakkan kantong esnya di pipi Jihae yang lebam.

“Tidak seharusnya dia melakukannya.” Doojoon menyentuh luka di bibir Jihae.

Doojoon tak menyadari jantung Jihae berdegup kencang seakan tak bisa lagi bekerja. Meskipun Jihae dan Doojoon sering bersama namun mereka jarang sekali bisa berdekatan seperti ini.

“Aku akan mengambil es untukmu Oppa.”

Jihae berlari menuju dapur. Di dapur Jihae menyandarkan tubuhnya di lemari pendingin mengatur jantungnya yang berdegup tak beraturan. Jihae menghampiri meja dapur itu dan mengambil sebuah pigura. Di foto itu Doojoon tengah menggandeng Jieun berjalan di pantai. Jihae memandang foto itu iri.

“Kau membuatku semakin menyukaimu Oppa. Aku iri sekali pada Jieun bisa memilikimu.” Gumam Jihae.

“Apa kau sudah mendapatkan kantong esnya Jihae-ya?” Ucapan Doojoon membuat Jihae terlonjak kaget.

Untunglah pigura yang dipegang gadis itu tidak terjatuh.

“Ne. Oppa.” Jawab Jihae meletakkan kembali pigura itu.

Jihae membuka lembari pendingin dan mengambil sekantong es lalu menutupnya kembali.

“Ommo… Kau mengagetkanku Oppa.” Kaget Jihae melihat Doojoon berdiri dengan lampu senter menyinari wajahnya mirip hantu.

Melihat reaksi terkejut Jihae, Doojoonpun tertawa puas sudah mengerjai Jihae.

“Aishhh… Rasakan ini Oppa.” Jihae melayangkan jari telunjuknya ke pinggang Doojoon.

Doojoon tertawa merasa kegelian. Akhirnya Doojoonpun berlari menghindari gelitikan Jihae. Doojoon berlari ke ruang tamu Jihaepun mengejar dan terus menggelitiki pinggang Doojoon.

“Hhaaa…hhaaa… Ampun Jihae-ah.” Teriak Doojoon kegelian.

Jihae ikut tertawa merasa asyik dengan permainan kejar-kejaran itu. Akhirnya Doojoon terjepit di sudut ruangan dan Jihae tersenyum puas.

“Kau tak bisa kemana-mana lagi Oppa, rasakan pembalasanku.”

Jihae melayangkan gelitikkannya membuat Doojoon tertawa geli bahkan tubuh laki-laki itu bisa bergoyang-goyang akibat gelitikkan itu. Tak tahan lagi Doojoon menangkap kedua tangan Jihae. Nafas mereka tersengal-sengal dan tawa merekapun terhenti. Tatapan mereka bertemu dan mereka terdiam tak bergerak sedikitpun. Suasana hening hanya terdengar detik jam yang bergerak.

Entah mengapa jantung Doojoon berdetak lebih kencang saat menatap Jihae. Doojoon tak pernah merasa seperti ini saat bersama Jieun. Jieun? Mengingat nama tunangannya Doojoon segera melupakan perasaan itu. Dia sudah memiliki Jieun, dan dia tak ingin menyakiti kekasihnya itu.

DRRTTTT…. DRRTTT….

Suara getar ponsel menyadarkan keduanya. Doojoon melepaskan tangan Jihae dan mengambil ponsel di sakunya sedangkan Jihae kebali duduk di sofa lalu menempelkan kantong es di pipinya.

“Ada apa Seohyun-ah?” Tanya Doojoon pada sekertarisnya.

“Tuan Jang ingin bertemu dengan anda sajangnim.”

“Baiklah. Tunggulah sebentar aku akan segera kembali.”

“Baik sajangnim.” Doojoon memutuskan telpon itu dan memasukkan kembali ke sakunya.

“Kita harus segera kembali. Aku harus bertemu dengan tuan Jang.”

“Apa Oppa menerima kerjasama itu?”

“Ne.” Doojoon mengambil jas yang tergeletak di sofa lalu mengambilnya.

Jihae berdiri dan mengambil tasnya. Gadis itu melangkah terlebih dulu  hingga Doojoon menahan lengannya.

“Jika laki-laki brengsek itu menemuimu kembali, hubungi aku.”

“Tapi Oppa….” Belum sempat Jihae meneruskan ucapannya Doojoon sudah memotongnya.

“Aku tahu aku memang tak bisa mengalahkannya tapi aku akan berusaha keras untuk melindungimu.”

Jihae terdiam tak bergerak sedikitpun. Gadis itu begitu terharu dengan ucapan Doojoon.

“Baiklah. Terimakasih Oppa.” Merekapun berjalan keluar dari apartement Doojoon.

 

*  *  *  *  *

 

Jieun berjalan dengan lesu menuju kamar Hyunseung. Pikiran gadis itu masih teringat pada pasiennya yang bernama Minah. Sangat sulit bagi Jieun untuk mengatakan dirinya tak bisa menyembuhkannya. Jieun seakan menjadi orang paling tak berguna di dunia ini.

Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan pasiennya tapi Jieun tak bisa berbuat apapun saat kanker yang di derita Minah sudah memasuki stadium akhir. Dokter manapun di dunia ini belum bisa menemukan obat untuk penyakit itu. Jika saja penyakit Minah bisa di ketahui lebih dini, gadis itu masih bisa diselamatkan.

Jieun menghela nafas dan kembali fokus pada jalan di depannya. Mata gadis itu menyipit saat melihat Andy berjalan di depannya. Jieun mengenal laki-laki itu sebagai manager Hyunseung. Laki-laki itulah yang setia menunggu dan mengurus Hyunseung.

“Andy-ssi.” Andy menoleh mendengar panggilan Jieun.

“Dokter Shin. Apa anda akan memeriksa Hyunseung?” Tanya Andy menunggu Jieun sampai di sampingnya lalu mereka bersama berjalan berdampingan.

“Ne. Aku akan memeriksa keadaannya. Kudengar semalam dia mengamuk lagi.”

“Ne. Hyunseung masih belum bisa menerima kenyataan jika kekasihnya menghilang.”

“Kalau boleh tahu Andy-ssi, apa sampai sekarang kekasihnya itu belum juga di temukan?”

“Polisi sudah mencari di sekitar terjadi tempat kecelakaan tapi tidak menemukan tanda-tanda Yura sampai saat ini.”

“Aku turut sedih mendengarnya.”

“Terimakasih Dokter Shin.”

Mereka akhirnya sampai di depan pintu bertuliskan ‘Jang Hyunseung’ di tengahnya. Andy memutar kenop dan membuka pintu itu. Mata Andy melotot kaget melihat keadaan kamar begitu berantakan begitupula Jieun yang berada di samping Andy. Yang membuat keduanya lebih terkejut lagi adalah mereka tak melihat Hyunseung di ruangan itu.

Selimut tersibak acak-acakan dan selang infus pun tergeletak di lantai. Andy memasuki kamar itu dengan panik mencari Hyunseung di bawah ranjang dan kamar mandi namun dia tak menemukannya. Jieun menghampiri telpon di ruangan itu dan segera menekan angka 1 yang terhubung dengan bagian pendaftaran yang berada di lantai satu.

“Dengan bagian pendaftaran rumah sakit internasional Seoul, ada yang bisa saya bantu?” Terdengar suara Dasom menyapanya.

“Dasom-ssi, ini aku dokter Shin.”

“Ada apa Dokter Shin?”

“Perintahkan semua suster mencari Hyunseung.”

“Hyunseung? Maksud dokter, Jang Hyunseung?”

“Ne. Dia kabur dari kamarnya. Jangan biarkan dia keluar gedung rumah sakit. Sangat berbahaya jika wartawan melihatnya.”

“Baik dokter Shin.” Jieun meletakkan kembali telpon itu.

“Dia tidak ada di kamar ini.” Ucap Andy setelah mencari seluruh kamar itu.

“Dia tidak mungkin lewat lift, satu-satunya jalan adalah tangga darurat.”

Jieun dan Andy berlari menuju pintu tangga darurat. Andy membuka pintu yang sedikit berat itu, merekapun menuruni tangga menuju lantai satu. Tak ada tanda-tanda keberadaan Hyunseung membuat Andy dan Jieun semakin panik. Mereka berhasil turun ke lantai dua. Mereka tak memperdulikan kaki mereka yang terasa pegal.

Mereka mempercepat langkahnya hingga akhirnya sampai di lantai satu mereka belum juga menemukan Hyunseung. Andy membuka pintu itu. Mata mereka langsung tertuju pada kerumunan suster yang berusaha menghalangi Hyunseung. Andy dan Jieun segera menghampiri mereka.

“MINGGIRRR!!!” Teriak Hyunseung berusaha menyingkirkan para suster yang menghalanginya.

“Hyunseung-ah… Apa yang kau lakukan. Kau harus segera kembali ke kamar, kau belum pulih.” Ucap Andy seraya menghalangi Hyuneung yang keras kepala.

“Minggir hyung. Aku harus mencari Yura.” Hyunseung menatap tajam Andy.

“Tapi Hyunseung-ssi. Keadaanmu belum pulih, lukamu bisa memburuk jika kau memaksakan diri.” Sahut Jieun membantu para suster memegangi Hyunseung.

“KUBILANG MINGGIR……” Teriak Hyunseung berusaha melepaskan cengkraman Jieun dan beberapa suster.

“Hyunseung-ah tenanglah. Para polisi sudah mencarinya. Kita hanya bisa menunggu hasilnya.” Andy berkata menenangkan Hyunseung.

Tanpa mereka sadari dua orang laki-laki berseragam polisi menghampiri mereka.

“Selamat siang Andy-ssi, saya Dongwa dari kepolisian.” Seketika Hyunseung terdiam mendengar ucapan seorang laki-laki mengenakan seragam polisi.

Andy berbalik dan mengenal polisi yang bertugas mencari Yura. Merasa Hyunseung terdiam, Jieun menyuruh semua suster kembali bekerja.

“Selamat siang Dongwa-ssi, ada apa mencari saya?”

“Anak buah saya menemukan dua bukti yang letaknya lumayan jauh dari tempat kejadian kecelakaan. Kami ingin memastikan bukti itu adalah milik nona Yura atau bukan.” Dongwa menyerahkan dua kantong plastik pada Andy.

Andy melihat satu kantong plastik berisi potongan baju berwarna putih dan kantong lain berisi sebuah sepatu kets berwarna putih dengan noda lumpur di sisi sepatu itu. Andy berbalik menatap ragu Hyunseung yang masih terdiam.

“Hyunseung-ah. Apakah ini milik Yura?” Andy menyerahkan kedua kantong itu pada Hyunseung.

Hyunseung masih terdiam mengamati kedua kantong plastik itu. Hyunseung mendongak menatap polisi itu.

“Ini benar milik Yura, apa kau menemukannya? Di mana Yura?” Tanya Hyunseung histeris menghampiri polisi itu.

“Maaf  Hyunseung-ssi dari bukti yang kepolisian temukan, kemungkinana Yura masuk ke dalam jurang dan kami akan berusaha menemukan tubuhnya.”

Hyunseung menatap nanar polisi itu.

“Tidak… Itu tidak mungkin… Yura tak mungkin meninggalkanku. YUURAA….” Hyunseung hendak kembali melarikan diri namun Andy segera menghalanginya.

“Hentikan Hyunseung-ah. Sudah cukup kau menyiksa dirimu sendiri. Sadarlah Yura sudah pergi jauh sekarang. Kau akan menyiksa Yura jika kau berbuat seperti ini.” Hyunseung mulai melemah, airmata terus keluar dari matanya dan laki-laki itu tak henti-hentinya memanggil nama Yura.

“Yura…. Yura…..” Panggil Hyunseung terus menerus.

“Relakan dia Hyunseung-ah. Biarkan dia pergi dengan tenang.” Ucap Andy menenangkan Hyunseung.

Karena terlalu banyak menggunakan tenaganya tubuh Hyunseung mulai melemah hingga akhirnya laki-laki itu tak sadarkan diri.

 

*  *  *  *  *

 

Junhyung membereskan buku dan peralatan pensilnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Laki-laki itupun teringat sesuatu lalu menatap bangku kosong di sampingnya. Biasanya Minah akan menggangunya denga senyum ceria gadis itu. Namun bangku itu saat ini kosong dan Junhyung merasa sedikit kehilangan.

“Apa kau mengkhawatirkannya?” Tanya Yoseob yang duduk di samping Junhyung.

Sadar dengan apa yang dilakukannya, Junhyung segera mengalihkan pandangannya.

“Mengkhawatirkan siapa maksudmu?”

“Tak perlu berlaga tidak tahu Junhyung-ah, tentu saja kau pasti tahu siapa yang kumaksud. Si gadis pengganggumu itu.” Goda Yoseob.

“Jangan gila Yoseob-ah, aku tak mengkhawatirkannya. Aku harus menjenguk hyungku dulu. Bye.”

“Oh menjenguk hyungmu, kupikir menjenguk Minah.” Tas Junhyung sukses mengenai wajah Yoseob.

“Sampai jumpa besok Yoseob-ah.” Junhyung berlalu pergi meninggalkan Yoseob yang mendengus kesal.

“Dasar masih saja tertutup.” Ucap Yoseob mendengus kesal.

Yoseob mengambil tasnya dan mengikuti murid-murid lain keluar kelas. Yoseob berjalan menuju tempat parkir. Yoseob tersenyum saat melewati murid lain yang menyapanya. Berbeda dengan Junhyung yang tertutup dan pendiam, Yoseob justru terbuka dan ramah. Karena itulah banyak murid yang mengenalnya.

Sesampainya di tempat parkir Yoseob mengambil sepeda miliknya. Setelah membuka kunci sepeda itu dia segera mengeluarkannya. Yoseob menaiki sepeda itu dan mengkayuhnya keluar sekolah. Dengan santai dia bersepeda di pinggir jalan. Rumah Yoseob tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Yoseob lebih memilih bersepeda karena laki-laki itu merasa nyaman saat melewati jalan dengan pinggir-pinggirnya adalah hutan yang sangat menyejukkan.

“Tolong….” Tubuh Yoseob membeku mendengar suara lirih seorang gadis.

Yoseob berusaha menghiraukannya dan kembali menikmati sejuknya udara.

“Bukankah ini masih sore, mana mungkin ada hantu.” Pikir Yoseob.

“Tolong aku…”

Yoseob mengerem sepedanya saat melihat seorang gadis keluar dari dalam hutan. Baju putih yang sudah ternoda tanah terlihat compang camping begitupula dengan jeansnya. Kaki gadis itupun hanya mengenakan satu sepatu kets.

“Si-siapa kau? Apa kau hantu?” Tanya Yoseob ketakutan.

Gadis itu menggeleng lemah. “Entahlah aku tidak ingat. Bisakah kau menolongku?”

“Apa kau ingin membawamu ke rumah sakit?”

“JANGAN.” Teriak gadis itu membuat Yoseob terkejut.

Gadis itu tampak ketakutan mendengar kata rumah sakit.

“Jangan bawa aku ke sana aku mohon.” Pinta gadis itu lemah.

Yoseob terdiam menatap gadis itu. Gadis itu terlihat gemetar seakan takut akan sesuatu. Luka gores memenuhi tubuh gadis itu. Rambut pendeknya tampak acak-acakan.

“Baiklah, kita ke rumahku. Naiklah.” Ucap Yoseob dan gadis itu langsung duduk di bangku belakang sepeda Yoseob.

Yoseob terkejut merasakan gadis itu memeluk perutnya erat. Yoseob bisa merasakan ketakutan luar biasa gadis itu. Yoseob mulai mengkayuh sepedanya kembali.

“Apa kau benar tak ingat namamu?” Tanya Yoseob seraya melajukan sepedanya.

Yoseob merasakan kepala gadis itu menggelang. Tak mendengar suara gadis itu, Yoseob lebih memilih diam membiarkan gadis itu tenang. Laju sepeda Yoseob mulai melambat saat memasuki halaman kecil sebuah rumah. Rumah bergaya minimalis dengan dua lantai itu di dominasi warna biru muda. Yoseob menghentikan sepedanya dan gadis itupun turun dari sepeda. Yoseob memarkirkan sepedanya di garasi lalu menghampiri gadis itu.

“Ayo masuklah.” Ajak Yoseob berjalan mendahului gadis itu.

Langkah Yoseob terhenti saat merasakan keanehan. Laki-laki itu berbalik dan mendapati gadis itu masih berdiri terpaku tak bergerak sedikitpun. Yoseob menghampiri gadis itu dan menariknya masuk ke dalam rumahnya. Yoseob membuka pintu dan menarik gadis itu menuju ruang tamu. Yoseob mendudukkan gadis itu di kursi.

“Tunggulah di sini.” Yoseob meninggalkan gadis itu untuk mengambil kotak obat.

Gadis itu melihat sekeliling ruangan itu. Banyak sekali foto Yoseob dengan orangtuanya dan kakak perempuannya. Tak lama kemudian Yoseob kembali dengan membawa kotak obat. Yoseob mulai membersihkan luka gadis itu. Terkadang gadis itu meringis merasakan perih.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau ada dalam hutan?” Tanya Yoseob seraya mengobati luka gadis itu.

“Aku tidak tahu, aku tidak ingat apapun. Seingatku aku terbangun di tengah hutan dengan kepala yang sangat sakit.”

Yoseob memeriksa kepala gadis itu dan benar saja ada bercak darah di kepala gadis itu.

“Sepertinya kau amnesia. Apa kau juga tak ingat namamu?” Tanya Yoseob dan gadis itu menggeleng lemah.

“Kalau begitu sementara aku akan memanggilmu Ah Young. Bagaimana?”

“Ah Young?” Gumam gadis itu.

“Ne. Bukankah itu nama yang cantik?” Gadis itu mengangguk senang.

Yoseob selesai membersihkan luka Ah Young dan menempelkan plester di luka gadis itu.

“Aku akan menelpon polisi untuk mencari keluargamu.”

Yoseob berdiri namun Ah Young menahan tangan laki-laki itu.

“Jangan berithukan siapapun aku mohon.” Ucap Ah Young terlihat ketakutan.

Yoseob memandang bingung Ah Young.

“Aku tidak tahu alasannya apa tapi aku merasa akan ada hal yang buruk jika ada seseorang yang mengetahui keberadaanku. Kumohon jangan beritahukan siapapun tentang aku.” Mohon Ah Young.

Yoseob menghela nafas dan kembali duduk. “Baiklah. Untuk sementara tinggalah di sini. Aku tinggal sendiri di sini jadi anggaplah rumah ini adalah rumahmu.”

“Terimakasih …..” Ah Young teringat belum mengetahui nama Yoseob.

“Yoseob. Panggil aku Yoseob.”

“Terimakasih Yoseob-ssi.”

 

~~~TBC~~~

Gomawo sudah menunggu part 2. Maaf jika lama mengerjakan, kupikir ff ini tidak bagus jadinya gak author teruskan. Tapi karena banyak yang komen jadi author terusin.

Jangan lupa komen-komennya ya!!!!!^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s