Very Important U (V.I.U) Chapter 3

on

img1397642826875

Title : Very Important U (V.I.U) Chapter 3
Scriptwriter : Chunniest https://fandreamstory.wordpress.com/
Twitter : https://twitter.com/ivanna_putri
Genre : Mellodrama, Romance,
Duration : Chapter
Rating : PG
Main Cast :
* Shin Jieun (OC)
* Jang Hyun Seung (Beast)
* Yoon Doo Joon (Beast)
* Woo Jihae (Girl’s day)
* Kim Ah Young as Kim Yura (Girl’s day)
Support Cast :
* Shin Hye Sung / Steve (Shinhwa)
* Son Dong Woon (Beast) as Shin Dongwoon
* Lee Yeon Hee
* Yong Jun Hyung (Beast) as Jang Jun Hyung
* Bang Minah (Girl’s day) as Jang Minah
* Lee Kikwang (Beast)
* Yang Yo Seob (Beast)
* Yoon Sung Ha as Jang Esther
* Mun Eric as Jang Eric (Shinhwa)
Guest :
* Kim Sung Gyu (Infinite)
Sumarry : Meskipun Kikwang mengetahui penyakit Minah tapi laki-laki itu bersikeras tidak ingin melepaskan Minah. Sedangkan Junhyung tanpa di sadari mulai memikirkan gadis yang selalu mengganggunya itu.

Pertama Author tentu ingin berterimakasih pada Admin yang sudah posting ff ini. Maaf ff ini sedikit lebih pendek dari biasanya, karena author mengalami beberapa gangguan hee…heee… Gomawo readers yang sudah komen, jangan bosan untuk berkomen ya, karena author belajar dari komen yang readers berikan. Happy reading^_^
DON’T BE SILENT READERS

* * * * *

TEKK…. TEEKK…. TEEKKK…..
Di dapur keluarga Jang terlihat Esther tengah memotong wortel dengan kikuknya. Tangannya yang sudah lama tak memegang pisau dapur terasa kikuk saat menggunakannya. Seorang pelayan menghampiri Esther dengan ragu-ragu.
“Nyonya biar saya saja yang memasak. Itu adalah tugas saya.” Ucap pelayan itu.
“Tidak aku ingin memasak untuk Minah. Minah yang menginginkannya.” Keras Esther terus melanjutkan memotongnya.
“Tapi nyonya itu adalah tugas saya.”
“Aku bilang aku yang akan melakukannya.” Ucap Esther tegas membuat pelayan itu menunduk tak berani melawan lagi.
Tak berapa lama, samgyetang buatan Estherpun sudah tersaji di meja makan.
“Baunya enak sekali eomma.” Esther tersenyum melihat Minah memasuki ruang makan.
“Bukankah eomma sudah berjanji akan memasakan makanan untukmu?”
“Ne. Dan aku tak sabar ingin mencicipinya.” Gembira Minah duduk di tempat duduknya.
Esther nyaris saja menangis mengingat dia tak akan lagi bisa melihat wajah ceria Minah. Sebuah tangan merangkul bahu Esther dan meremasnya lembut. Esther mendongak dan melihat Eric menggelengkan kepalanya menyuruh Esther untuk tak menangis.
“Apa kau tidak akan mengajak appa makan bersama?” Tanya Eric pada Minah.
“Tentu saja Appa. Kukira setelah menjemputku dari rumah sakit appa kembali ke kantor.” Jawab Minah.
“Awalnya memang appa berencana begitu tapi mencium aroma lezat masakan eommamu, appa jadi mengurungkan niat appa.”
Eric duduk di kursinya dan diikuti Esther. Esther menatap putrinya yang begitu lahap makan samgyetangnya.
49days20-00068
“Apakah rasanya enak Minah?” Tanya Esther.
“Ne eomma. Masakan eomma memang paling enak.” Puji Minah.
“Minah, masakanmu selalu enak yeobo.”
Esther tersenyum senang mendengar pujian dari suami dan putrinya. Malam itu meskipun tidak lengkap namun keceriaan kembali memenuhi keluarga Jang.
“Perutku sangat kenyang eomma. Setelah sehari makan makanan rumah sakit yang tidak enak akhirnya aku bisa makan enak.” Eric dan Esther tertawa mendengar ucapan Minah.
Kegembiraan itu pudar saat terdengar suara batuk dari Minah. Eric dan Esther memandang khawatir pada putrinya. Minah menutupi mulutnya dan terbatuk keras. Eric dan Esther begitu terkejut saat Minah melepaskan tangannya terlihat darah di sudut bibir gadis itu. Minah juga tampak terkejut tangannya terlihat bercak darah. Dengan panik Esther mengambil tissue dan menghampiri Minah membersihkan darah Minah.
“Apa kau merasa pusing Minchan-ah? Apa kita harus kembali ke rumah sakit?” Cemas Esther.
Minah menahan tangan Esther dan memandang eommanya.
“Tidak eomma, tidak perlu. Aku kelelahan saja. Aku akan segera beristirahat.” Minah berdiri dan berjalan lemas menuju kamarnya.
Esther ingin menyusul Minah namun Eric menahan tangannya. Eric berdiri dan berhadapan dengan istrinya.
“Biarkan dia beristirahat.”
“Tapi… Tapi Minchan….”
Eric memeluk istrinya yang mulai menangis.
“Jangan biarkan Minah melihat kau bersedih seperti ini yeobo. Dia akan semakin sedih melihatmu menangis.”
“Kenapa ini harus terjadi kepada Minchan. Dia gadis yang baik dan ceria. Dia selalu menuruti ucapan kita tapi kenapa Tuhan ingin mengambilnya? Dia putri kita satu-satunya yeobo. Kenapa harus putri kita yang menderita kanker paru-paru?”
“Husshh…. Tenanglah. Tuhan pasti alasan mengapa Dia memberikan cobaan ini pada Minah. Kita harus merelakannya yeobo. Kita harus bisa membuat Minah bahagia selama sisa hidupnya. Hanya itu yang bisa kita lakukan.”
Esther semakin menangis dan Eric hanya bisa mengelus punggung wanita itu untuk menenangkannya. Tanpa mereka sadari dari balik pintu Kikwang yang hendak menjenguk Minah mendengar pembicaraan suami istri Jang itu. Laki-laki itu begitu terkejut mendengar penyakit yang di derita Minah. Kikwang tak menduga gadis seceria Minah memiliki penyakit yang sangat mematikan. Kikwang berlari meninggalkan kediaman keluarga Jang.

* * * * *

Untuk kesekian kalinya Junhyung kembali menengok bangku Minah yang kosong. Semenjak pingsan tempo hari, gadis itu belum juga kembali ke sekolah. Entah apa yang merasuki Junhyung hingga dia mengkhawatirkan gadis pengganggu itu.
“Kelas terasa sepi ya tanpa Minah.” Gerutu Miyeon merasa bosan.
“Kau benar. Biasanya Minah yang suka bercanda. Aku merindukannya.” Sahut Jayoung.
“Aku menjenguknya kemarin.” Miyeon dan Jayoung seketika menoleh ke arah Chanmi.
“Benarkah? Bagaimana keadaannya?” Tanya Miyeon penasaran.
“Dia bilang baik-baik saja bahkan hari ini dia akan pulang dari rumah sakit.”
“Syukurlah, semoga besok Minah bisa masuk kembali.” Doa Jayoung.
Junhyung terdiam mendengar pembicaraan itu. Ada perasaan lega melanda hati Junhyumg.
“Sepertinya aku mulai gila karena memikirkan gadis pengganggu itu.” Gumam Junhyung.
“Siapa yang mulai gila?”
Junhyung mengelus dadanya terkejut mendengar suara Yoseob.
“Aissshhh… Kau seperti hantu saja datang tiba-tiba.” Kesal Junhyung.
“Aku sudah datang dari tadi Junhyung-ah. Kau saja terlalu sibuk memikirkan Minah.”
“Siapa yang memikirkan Minah? Alu tak memikirkannya.” Junhyung membuka-buka bukunya menghindari tatapan Yoseob.
“Bukankah kau yang bilang sedang memikirkan Minah.”
“Aku tak memikirkannya.”
“Gojitmal.” Yoseob tertawa melihat Junhyung salah tingkah. Junhyung mendengus kesal menjadi bahan tertawaan.
“Oh ya semalam aku menelponmu, tapi aku mendengar suara seorang gadis. Siapa dia? Kekasihmu?” Tawa Yoseob terhenti digantikan dengan ekspresi kaget.
“Bukan. Dia… Dia sepupuku.”
“Sepupumu? Aku baru tahu kau memiliki sepupu.”
“Ne. Dia dari Jepang dan jarang kemari.”
“Oohhh… Tapi kenapa aku merasa familiar dengan suara itu.”
“Benarkah?”
“Entahlah mungkin hanya perasaanku saja.”
“Memang ada apa menelponku?”
“Rencanaku sih mau pinjam PR.”
“Aishhh… Kau ini. Sampai kapan kau mau meminjam PRku terus Junhyung-ah.” Gerutu Yoseob dan Junhyung hanya nyengir kuda.
“Kau tahu sendiri kan aku malas dengan pelajaran. Aku menyukai musik.”
“Ne aku tahu, kau kan ingin seperti hyungmu. Oh ya bagaimana kabar hyungmu? Aku belum sempat menjenguknya.”
Wajah Junhyung berubah sedih mengingat keadaan kakaknya.
“Dia terlihat seperti mayat hidup setelah kehilangan kekasihnya.”
“Aku ikut bersedih Junhyung-ah. Kudengar kau ikut drama yang di buat Jaejoong sunbei. Sejak kapan kau mau bermain drama yang menurutmu merepotkan itu?”
“Ini semua ulah gadis pengganggu itu.”
“Benarkah? Hebat sekali Minah bisa merubah si cool Junhyung ini?” Yoseob kembali tertawa melihat Junhyung kesal.
“Sepertinya kau mulai menyukainya Junhyung-ah. Aku menunggu kabar baik darimu ne?” Yoseob berlari pergi sebelum Junhyung sempat memukulnya.

* * * * *

Jieun memasuki kamar Hyunseung. Sudah dua hari semenjak kabar dari kepolisian, Hyunseung mendadak menjadi pendiam. Tak ada lagi Hyunseung yang keras kepala ingin menolong kekasihnya. Jieun menghampiri Hyunseung yang sedang duduk menatap jendela dengan tatapan kosongnya. Jieun melihat piring-piring berisi makanan tak tersentuh sama sekali. Jieun menghela nafas dan kembali beralih pada Hyunseung yang belum menyadari keberadaannya.
“Hyunseung-ssi.” Panggil Jieun namun tak ada reaksi dari laki-laki itu.
“Hyunseung-ssi.” Panggil kembali Jieun menyentuh bahu Hyunseung.
Hyunseung menoleh perlahan hingga Jieun bisa melihat betapa menderitanya laki-laki itu. Mata Hyunseung terlihat sayu dan kosong. Jieun tersentuh melihat keadaan Hyunseung. Jieun pernah merasakan kehilangan seseorang yang penting baginya, seseorang yang sangat disayanginya yaitu ibunya. Namun Jieun tidak semenderita Hyunseung saat ini.
“Hyunseung-ssi, aku turut sedih dengan hilangnya kekasihmu. Aku tahu bagaimana….” Ucapan Jieun terputus saat merasakan cengkraman di tangannya.
“Kau tidak mengerti apa yang kurasakan jadi jangan pernah berpura-pura mengerti diriku.” Bentak Hyunseung.
Jieun tampak terkejut namun gadis itu segera menyembunyikannya. Jieun mengeluarkan senyum ramahnya.
“Aku tidak berpura-pura Hyunseung-ssi. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat di cintai. Tapi aku aaahhh….” Jieun meringis saat cengkraman Hyunseung mengerat.
“Kau tak tahu apa-apa. PERGI!!! Aku tak butuh simpatimu.” Hyunseung melepaskan tangan Jieun dengan kasar.
“Apa hanya sampai di sini kau akan menyerah? Jika benar, aku benar-benar kasihan pada penggemar yang menunggumu. Setiap hari mereka datang hanya untuk memberimu semangat, bahkan di saat hujan mereka tetap datang untukmu. Awalnya aku kagum dengan mereka tapi sekarang aku merasa kasihan pada mereka. Kau tidak pantas mendapat simpati dari mereka.” Jieun terdiam sejenak melihat Hyunseung yang tak bereaksi sedikitpun.
“Kehilangan seseorang bukanlah akhir dari segalanya Hyunseung-ssi. Masih banyak orang-orang yang mendukungmu dan tak seharusnya kau mengecewakan mereka. Besok aku akan kembali untuk melakukan terapi di kakimu, tapi jika kau menyerah aku tidak akan memaksamu lagi. Pikirkanlah ucapanku Hyunseung-ssi.” Ucap Jieun beranjak keluar dari kamar Hyunseung.
Hyunseung masih terdiam tak bergerak sedikitpun namun dalam pikirannya di penuhi ucapan Jieun. Namun laki-laki itu masih bingung dengan keputusan yang diambilnya. Ingin sekali Hyunseung mengakhiri hidupnya dan menyusul Yura ke alam yang berbeda. Tapi ucapan Jieun seakan menghalanginya.

* * * * *

Minah berjalan menuju kelasnya. Setelah dua hari gadis itu tak masuk akhirnya gadis itu bisa melihat teman-temannya kembali.
“Minah kau sudah sembuh?” Tanya Chanmi menghampiri Minah begitu pula teman-teman yang lain langsung mengerubungi Minah.
Minah tersenyum ceria seperti biasanya.
“Ne. Apa kalian merindukanku?”
“Tentu saja.” Jawab Chanmi langsung memeluk temannya itu.
“Minah?” Chanmi melepaskan peukannya dan tersenyum melihat Kikwang.
“Aigo tunanganmu sudah datang Minah. Ayo teman-teman kita pergi.” Chanmi mengajak teman-teman lain membubarkan diri.
“Bukankah eommoni bilang kau harus beristirahat lebih lama?” Tanya Kikwang.
“Aku bosan berada dirumah. Kau tak perlu mengkhawatirkanku.”
Kikwang menahan tangan Minnah saat gadis itu hendak pergi.
“Aku tahu tentang penyakitmu.” Tubuh Minah membeku mendengar pernyataan Kikwang.
“Jika kau sudah tahu, tidak masalah bagiku jika kau ingin membatalkan pertunangan kita.”
“Tidak. Aku tidak akan membatalkan pertunangan kita. Aku justru ingin meneruskannya.”
Minah berbalik dan menatap Kesal Kikwang.
“Berhentilah bertindak bodoh Kikwang-ah. Kita tidak akan bisa menikah.”
Minah terkejut melihat Kikwang tersenyum. Tangan Kikwang terulur dan menepuk pelan puncak kepala Minah.
“Aku hanya akan bertindak bodoh untukmu Minah, karena aku menyukaimu.”
Tubuh Minah terpaku mendengar pengakuan Kikwang. Bahkan gadis itu tak bergerak saat Kikwang mencium keningnya lalu pergi meninggalkannya. Minah tersadar dan kembali melangkahkan kakinya. Pikiran gadis itu masih dipenuhi oleh ucapan Kikwang. Minah menyusuri lorong sekolahnya. Langkahnya terhenti saat melihat Junhyung berjalan di depannya.
“Apa aku juga tak akan bisa melihatmu lagi Oppa? Jika saja tadi yang mengatakan kau bukan Kikwang aku pasti akan sangat bahagia.”
Minah berusaha menghapus kesedihannya dan berusaha seceria biasanya. Minah berlari kecil menghampiri Junhyung.
“Pagi Oppa.” Panggil Minah menepuk bahu Junhyung.
Junhyung tampak terkejut melihat Minah di hadapannya setelah dua hari tak melihat gadis itu.
“Apa kau merindukanku Oppa?” Tanya Minah menyadarkan Junhyung.
“Tidak.” Jawab Junhyung dingin dan pergi meninggalkan Minah.
Minah mempoutkan bibirnya lalu menyusul Junhyung.
“Kupikir kau akan merindukanku Oppa.” Ucap Minah berjalan di samping Junhyung.
Junhyung melirik ke arah Minah dengan ragu-ragu.
“A-apa kau tidak apa-apa?” Junhyung merutuk dirinya sendiri karena gugup.
“Apa kau mengkhawatirkanku Oppa? Senangnya.” Ucap Minah begitu senang.
“Tidak. A-aku hanya… Aku…” Minah tertawa melihat Junhyung salah tingkah.
“Aiisshhh….” Junhyung mendengus kesal dan meninggalkan Minah.
“Aku tidak apa-apa Oppa, aku… Aku hanya terlalu lelah saja.” Bohong Minah setelah kembali menyusul Junhyung.
Minah melirik ke arah Junhyung berharap gadis itu bisa melihat kelegaan di wajah Junhyung namun sayang wajah Junhyung masih sedingin biasanya membuat Minah kecewa.

* * * * *

Yoseob mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Seragam BST High School sudah rapi di pakainya. Langkah Yoseob terhenti saat mencium sesuatu yang enak. Yoseob berjalan ke dapur. Dilihatnya Ahyoung tengah mengoleskan selai coklat ke atas roti yang sudah di panggang. Ahyoung terlihat lebih cantik dibandingkan kemarin saat Yoseob menemukannya. Pakaian kakak perempuan Yoseob melekat pas di tubuh Ahyoung. Merasakan kehadiran Yoseob, Ahyoung mendongak dan tersenyum pada Yoseob.
“Pagi Yoseob-ah.” Sapa Ahyoung mendekati Yoseob.
“Pa- Pagi.” Balas Yoseob canggung.
Ahyoung menarik tangan Yoseob menuju meja makan.
“Aku membuatkanmu roti tapi aku tidak tahu rasa apa yang kusuka jadi aku membuat semua rasa.” Yoseob terkejut melihat semua selai yang dimilikinya terbuka di meja makan yang sedikit berantakan.
“Lain kali kau tak perlu membuat sebanyak ini Ahyoung-ah. Satu saja cukup bagiku. Dan sebagai saran aku suka rasa coklat.”
“Maafkan aku.” Sesal Ahyoung.
“Tidak apa-apa. Aku senang akhirnya aku bisa menikmati sarapan setelah sangat lama aku melewatkan sarapanku. Aku harus segera berangkat. Baik-baiklah di rumah ne.” Yoseob mencomot satu roti panggang dengan selai coklat kesukaannya.
Sebelum pergi Yoseob mengacak pelan puncak rambut Ahyoung. Ahyoung tersenyum dan melambaikan tangannya hingga Yoseob menghilang dari balik pintu.
Yoseob menggigit rotinya dan mengendari sepedanya. Sedangkan Ahyoung membereskan meja makan lalu memakan roti buatannya sendiri.
Merasa bosan, Ahyoung berjalan mengelilingi rumah Yoseob. Ahyoung tertarik pada foto besar yang terpajang di ruang tamu. Dalam foto itu tampak laki-laki dan wanita paruh baya yang diketahui Ahyoung adalah orangtua Yoseob. Yoseob pernah bercerita padanya jika Orangtuanya tinggal di Jepang untuk mengurus perusahaan keluarga mereka. Itulah yang menjelaskan kenapa Yoseob tinggal sendiri di rumah itu.
Dibelakang suami istri Yang tampak Yoseob tersenyum manis, senyum yang selalu di sukai Ahyoung. Ada seorang gadis berdiri di samping Yoseob. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna cream. Yoseob juga pernah menceritakan jika gadis itu adalah kakak perempuannya bernama Jiyeul yang saat ini tengah mengambil study di Paris. Ahyoung tertawa sendiri saat mengingat Yoseob mendiskripsikan tentang kakaknya.
“Hati-hatilah dengan Jiyeul noona. Dia adalah monster cerewet yang selalu penasaran. Kau pasti akan menyesal saat bertemu dengannya.”
Itulah yang Yoseob katakan saat menceritakan tentang Jiyeul. Ahyoung beranjak menuju ruang keluarga yang masih dipenuhi dengan foto-foto keluarga Yang. Dari foto-foto yang Ahyoung lihat keluarga Yang terlihat seperti keluarga yang bahagia. Entah mengapa Ahyoung merasa iri saat melihat foto Yoseob memeluk ibunya. Bahkan Ahyoung tidak tahu apakah orangtuanya masih ada atau tidak.
Ahyoung tertarik pada sebuah foto yang dipajang di lemari. Ahyoung mengambil pigura foto itu. Dalam foto itu terlihat Yoseob merangkul seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya. Laki-laki itu memakai seragam yang sama dengan Yoseob. Laki-laki itu mengacungkan tangannya membuat huruf V sedangkan tangan satunya memegang skateboard.
Ahyoung menyentuh wajah laki-laki itu. Entah mengapa wajah laki-laki itu terasa familiar bagi Ahyoung. Ahyoung berusaha mengingatnya namun wajah lelaki hanya terlintas sekilas di ingatan gadis itu. Ahyoung memegang kepalanya yang terasa pusing. Gadis itu meletakkan kembali pigura itu dan memutuskan beristirahat sejenak

* * * * *

Jieun berjalan cepat menuju kamar Young. Setelah mendapat informasi dari suster Soojin, ada seorang kerabat yang menjemput Young. Jieun membuka pintu kamar Young, dan terlihat Young tengah bercanda dengan seorang gadis. Keduanya menoleh saat mendengar pintu terbuka.
“Selamat siang apa anda kerabat Young?” Tanya Jieun formal.
“Ne. Saya adalah kakaknya. Nama saya Lee Yeonhee.” Ucap gadis itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Jieun.
“Saya adalah dokter Shin. Yeonhee-ssi bisa kita bicara sebentar diluar?”
“Tentu saja. Tunggu sebentar ya Youngie.” Ucap Yeonhee dan Youngipun mengangguk.
Jieun dan Yeonhee keluar dari kamar Young.
“Saya turut berduka atas meninggalnya kedua orangtua anda.”
“Terimakasih dokter Shin.”
“Untuk Youngie, maaf saya tidak bisa memberitahukan kabar duka itu pada Youngie. Keadaannya belum pulih benar, saya khawatir keadaannya semakin parah jika dia mengetahuinya.”
“Terimakasih sudah merawat Young dengan baik dokter Shin.”
“Sama-sama. Aku senang merawat Young, aku merasa memiliki adik baru. Mari kita masuk.”
Jieun dan Yeonheepun kembali masuk ke dalam kamar Young. Terlihat Young tengah sibuk menggambar di bukunya. Gadis itu tersenyum melihat Jieun dan Yeonhee menghampirinya.
“Lihat dokter Shin. Aku menggambar idolaku.” Young menunjukkan gambarnya.
Melihat gambaran anak-anak yang acak-acakan, Jieun jadi tak mengerti siapa yang gadis itu gambar.
“Siapa idolamu Youngie-ah?”
“Jang Hyunseung. Kudengar dia juga di rawat rumah sakit ini, bolehkah aku menjenguknya dokter Shin?” Pinta Young.
“Maaf Youngie, Jang Hyunseung saat ini keadaannya masih belum pulih jadi belum bisa ditemui. Maaf Youngie-ah.”
Young tampak kecewa dengan jawaban Jieun. Yeonhee duduk di samping Young dan mengelus rambut hitam panjang milik Young.
“Jangan bersedih gitu Young. Berdoalah agar Jang Hyunseung cepat pulih dan bisa bernyanyi lagi. Eonnie berjanji akan mengajakmu pergi ke konsernya.” Wajah Young kembali ceria mendengar janji Yeonhee.
“Gomawo eonnie.” Young memeluk Yeonhee erat.
Jieun merasa miris mendengar betapa semangatnya Young ingin bertemu dengan Hyunseung, sedangkan Hyunseung tak memiliki semangat hidup sama sekali.

* * * * *

Di ruang pementasan Jaejoong berdiri di panggung menghadap para pemain dan teman-temannya yang akan membantu dalam drama ini. Jaejoong tersenyum senang melihat pemeran utama dramanya sudah duduk di hadapannya. Minah terlihat sangat bersemangat sedangkan Junhyung tampak terduduk malas.
“Sebelum kita mulai aku ingin mengucapkan selamat kembali ke sekolah pada Minah yang sudah tidak masuk selama dua hari ini.” Ucap Jaejoong.
“Terimakasih Oppa.” Jawab Minah.
“Baiklah karena semua pemain sudah berkumpul maka naskah drama akan di bagikan, kupersilahkan kalian membacanya.”
Miyeon membagikan naskah drama pada para pemain termasuk Junhyung dan Minah. Naskah drama itu berjudul ‘Forbidden Love’.
“Drama ini menceritakan seorang gadis bernama Yiseul yang jatuh cinta pada guru musiknya, Jinhyuk.” Jelas Jaejoong.
“Jadi ini cinta terlarang seorang murid dan gurunya?” Sahut Minah.
“Ne. Karena itulah aku membutuhkan pemain yang bisa bermain piano. Hari ini aku hanya akan membagikan naskah untuk kalian pelajari di rumah. Aku ingin kalian mendalami karakter kalian dalam cerita itu. Kita akan berkumpul lagi besok sepulang sekolah di sini, kita akan mulai latihannya. Terimakasih semuanya.” Jaejoong membungkuk mengucapkan terimakasih pada semua orang di hadapannya.
Merekapun membubarkan diri meninggalkan ruang pementasan. Dengan malas Junhyung membawa naskah itu dan skateboardnya. Minah segera mengikuti Junhyung keluar.
“Kukira kau tidak akan datang Oppa.” Ucap Minah berjalan berdampingan dengan Junhyung.
“Jika bukan karena janji itu aku tidak akan datang.” Kesal Junhyung dan Minah hanya tertawa melihatnya.
“Tak perlu kesal begitu Oppa, bukankah drama ini menarik? Cinta yang terlarang. Bagaimana jika kau mengalaminya Oppa?” Minah menatap Junhyung penasaran dengan jawaban laki-laki itu.
“Bagiku meskipun terlarang jika aku benar-benar menyukainya aku tidak akan menyerah.”
Langkah Minah terhenti dan gadis itu melihat punggung Junhyung yang mulai menjauh dengan tatapan yang sedih.
“Jika begitu aku lebih memilih cinta terlarang karena kau akan benar-benar menyukaiku Oppa.” Gumam Minah.

* * * * *

“Apa ada masalah Jieun-ah? Kulihat kau melamun terus dari tadi.” Tanya Doojoon menyadarkan lamunan Jieun.
Saat ini mereka tengah makan di sebuah restaurant. Sedari tadi Jieun masih memikirkan Hyunseung hingga gadis itu melupakan kencannya. Jieun tersenyum lemah dan memakan kembali steaknya.
“Aku tidak apa-apa Oppa.” Senyum Jieun menghilang menyadari ada yang berbeda dengan wajah Doojoon.
“Ada apa dengan wajahmu Oppa? Kau habis berkelahi?”
Doojoon memegang memarnya dan tersenyum pada tunangannya.
“Hanya perkelahian kecil, tidak masalah chagi. Aku punya hadiah untukmu, kuharap kau suka.”
“Hadiah apa Oppa?” Senang Jieun.
Doojoon menyerahkan dua buah undangan pada Jieun. Jieun mengambil undangan itu dan membacanya.
“Fashion show?” Baca Jieun.
“Ne. Istri tuan Jang memiliki sebuah butik. Bulan depan dia akan mengadakan fashion show untuk memperagakan brand miliknya. Karena itu tuan jang mengundangku dan aku ingin kau menemaniku. Apa kau menyukainya?” Tanya Doojoon melihat Jieun masih membaca undangan itu.
Jieun mendongak dan menunjukkan senyumannya. “Tentu Oppa. Kudengar brand Elle sangat bagus Oppa. Bagaimana jika kita memesan baju pengantin di butik itu Oppa?”
“Apapun yang kauinginkan chagi. Kau atur saja waktunya.” Jieun mengangguk penuh semangat.
Hal-hal yang berurusan dengan persiapan pengantin membuat gadis itu bersemangat. Doojoon merasa bahagia melihat tunangannya terus menyunggingkan senyumnya.

* * * * *

Lantunan piano memainkan lagu Close (Taeyeon) mengalun begitu lembut. Minah menutup matanya menikmati melody yang begitu enak di dengarnya. Tak jauh darinya Junhyung memakai kemeja sekolah menghampiri Minah. Dari belakang Junhyung menggenggam kedua tangan Minah menghentikan jari lentik itu menari di atas tuts piano.
“Kau salah memainkan nadanya. Ini nada yang benar.” Junhyung berkata dan memainkan lagu itu dengan tepat.
Senyum senang terpasang di wajah Minah saat merasakan punggungnya merasakan dada Junhyung yang terasa hangat dan hembusan nafas Junhyung menerpa puncak kepalanya.
“Apa kau mengerti” Tanya Junhyung namun Minah terdiam.
Karena terlalu senang dekat dengan Jumhyung, Minah jadi tidak memperhatikan penjelasan Junhyung. Junhyung berdiri dan duduk di samping Minah.
“Kau tidak memperhatikan bukan, Yiseul-ah.” Junhyung tersenyum melihat Minah menunduk malu.
“Aku membuat sebuah lagu apa kau mau mendengarnya?” Minah mendongak dan matanya bertemu dengan mata Junhyung. Gadis itu dengan penuh semangat mengangguk senang.
Junhyung melinting kedua lengan kemejanya yang panjang lalu bersiap memainkan jemarinya. Nada yang lembut dan enak didengar itu membuat Minah terhanyut mendengarnya. Di tambah suara Junhyung yang terdengar lebih lembuat dari biasanya membuat Minah semakin menyukainya.

You only love pogihal su obneun Dan hana eui naui sarangiyeo
You only love my one and only love Which I can’t give up
You only love seormyeonghal suga obneun neon Ibyeoreul marhajyo
You only love Undescribable you Speak of farewells
Seurpeum soge jamshi himdeun geojyo Eoddeon mardo deureul sun obnayo
You’re just tired of the sadness, right Can’t you hear anything
You only love(my only love) I can’t never give up (I can’t never know)
You only love (my only love) I can’t never give up (I can never know)
He eojimi geude seontegingayo You only love naui jeonbuingeoryo
Is separation your choice You only love, You’re my everything
You only love my life
You only love my life
You Only Love – DBSK

“Apa kau menyukainya?” Tanya Junhyung melihat Minah begitu terpesona dengan permainan piano dan suaranya.
“Ne, seonsaengnim kau memang hebat.” Puji Minah.
“Apa kau tahu? Aku menciptakan lagu itu untukmu Yiseul-ah.” Junhyung menyelipkan rambut Minah di telinga gadis itu membuat Junhyung bisa melihat jelas wajah Minah yang merona malu.
“CUTTT…” Teriak Jaejoong menghentikan akting Jaejoong dan Minah.
Junhyung segera menarik tangannya kembali dan meninggalkan Minah.
“Aku memang tidak salah memilih kalian sebagai pemeran utama, akting kalian benar-benar hebat.” Puji Jaejoong.
Minah tersenyum lebar mendengar pujian Jaejoong sedangkan Junhyung memasang wajah datarnya.
“Untuk latihan kali ini cukup. Kita bertemu lagi besok. Terimakasih semuanya. Jaejoong membungkuk pada semua pemain.
Junhyung mengambil tasnya dan segera meninggalkan theater itu. Melihat Junhyung pergi, Minahpun mengambil tasnya dan mengikuti Junhyung keluar.
“Tunggu aku Oppa.” Teriak Minah menghampiri Junhyung.
Tak memperdulikan gadis itu, Junhyung terus berjalan. Akhirnya Minah bisa berjalan di samping Junhyung.
“Benarkah Oppa membuat lagu itu untukku?” Langkah Junhyung terhenti dan menoleh melihat gadis itu.
“Tentu saja tidak bodoh. Jaejoong sunbei yang menciptakannya.” Junhyung kembali berjalan diikuti kembali Minah.
“Jika saja ucapan Yunsook benar, aku pasti sangat bahagia. Yunsook adalah guru yang ramah dan menyukai Yiseul. Beruntungnya Yiseul.” Gumam Minah.
Entah mengapa ada perasaan tidak suka merasuki hati Junhyung mendengar Minah memuji lai-laki lain. Meski Yunsook adalah karakter yang diperankannya tapi sifat Yunsook berbeda 180 derajat darinya. Junhyung mempercepat langkahnya meninggalkan Minah.
“Oppa tunggu.” Minah mempercepat langkahnya menyusul Junhyung.
Sampai di luar sekolah Junhyung berjalan menuju halte bus dan diikuti Minah. Minah tersenyum lebar bisa pulang bersama Junhyung.
“Apa kalian mau mencoba lomba couple? Kalian terlihat pasangan yang serasi.” Tawar seorang gadis membuat langkah Junhyung dan Minah terhenti.
Di taman itu terlihat banyak sekali orang berkumpul. Ada sebuah spanduk dengan tulisan ‘Couple Competition’ di tengah taman.
“Tidak. Kami bukan couple.” Jawab Junhyung dingin.
“Tapi kalian terlihat pasangan yang serasi. Bagaimana menurutmu nona?” Tanya gadis itu pada Minah.
“Tentu saja kami ikut. Ayo Oppa.” Ucap Minah menarik paksa Junhyung.
“YA!! Aku kan sudah bilang tidak.” Kesal Junhyung.
Mina terus menarik paksa Junhyung menuju tempat perlombaan.
“Aku tidak akan melepaskannya Oppa. Lomba itu pasti sangat seru.”
Junhyung mendengus kesal lalu menepis tangan Minah dengan kasar.
“Cukup Minah, kau sudah membuatku bermain dalam drama itu dan sekarang aku tidak akan membiarkanmu membuang waktuku lagi.” Bentak Junhyung.
Minah tampak menunduk sedih dengan sikap Junhyung. Gadis itu hanya menatap tangannya yang memainkan tali tasnya. Melihat hal itu Junhyung merasa bersalah sudah membentak Minah.
“Lihat chagi, lawan kita seperti itu aku yakin kita akan menang.”
Junhyung menoleh dan melihat seorang laki-laki menatap Junhyung meremehkan dan seorang gadis memakai pakaian yang terbilang seksi bergelayut manja di lengan laki-laki itu.
“Kau benar Oppa. Pasangan itu pasti akan berada di peringkat paling bawah.” Sindir sang gadis itu lalu pasangan itu tertawa dengan sombongnya meninggalkan Junhyung dan Minah.
Junhyung mengepalkan tangannya seakan tidak terima hinaan yang pasangan tadi ucapkan. Junhyung menatap Minah yang masih menunduk sedih.
“Kita beri pelajaran pasangan menyebalkan itu.” Junhyung berkata seraya menarik tangan Minah menuju tempat perlombaan.
Minah tersenyum senang mendengar Junhyung berubah pikiran. Gadis itu merasa seperti sedang bermimpi.
Saat ini Junhyung dan Minah duduk bersama peserta lainnya. Mereka bisa melihat pasangan sombong tadi duduk di samping mereka.
“Baiklah saat ini sudah ada 3 pasangan yang akan bersiap untuk kompetisi pasangan ini. Kita akan berkenalan dulu dengan masing-masing pasangan.” Ucap MC menghampiri pasangan yang ujung kiri.
“Sebutkan nama kalian.” MC itu menodongkan mic pada sepasang kekasih kutu buku.
“Yonghwa imnida.”
“Seohyun imnida.”
“Kami adalah YeongSeo Couple.” Ucap Yonghwa dan Seohyun bersamaan seraya membungkuk pada semua penonton.
“Singkatan yang bagus. Selanjutnya.” MC itu beralih pada pasangan yang berada di samping YongSeo Couple.
“Sebutkan nama kalian.”
Dengan semangat laki-laki itu mengambil mic dari sang MC.
“Jokwon imnida.”
Dengan penuh gaya laki-laki itu menyerahkan mic pada sang kekasih.
“Gain imnida.”
“Kami adalah Adam Couple.” Ucap mereka berasamaan dan saling memeluk.
MC dan penonton lain memberikan tepuk tangan pada pasangan yang penuh semangat itu. Sedangkan Junhyung mendengus tak percaya melihat ada pasangan aneh di sampingnya sedangkan Minah menatap iri pada pasangan itu dan bertepuk tangan mengikuti penonton lain.
“Apa kau bodoh mendukung lawanmu huh?” Minah berhenti bertepuk tangan mendengar ucapan Junhyung.
“Baiklah kita beralih ke peserta selanjutnya. Perkenalkan diri kalian.”MC menyodorkan mic itu pada Junhyung.
“Junhyung.”
“Minah. Kami adalah JunMin Couple.” Minah berkata dengan nada cerianya seraya merangkul lengan Junhyung.
Junhyung tersenyum sinis mendengar nama ‘JunMin Couple’ yang disebutkan Minah. Junhyung menoleh ke arah samping dan mendapati Adam Couple menatapnya sinis.
“Lengkap sudah perkenalannya, kita mulai lomba pertama. Untuk menguji kebersamaan kalian, kita akan melihat seberapa cepat kalian menghabiskan satu mangkuk besar ramen berdua.” Seorang pantia membagikan tiga mangkuk besar pada masing-masing pasangan.
Minah terlihat kaget melihat ramen yang begitu banyak. Tak pernah gadis itu makan sebanyak ini. Minah jadi ragu apakah dia bisa membantu Junhyung menghabiskan ramen itu. Junhyung melihat Minah menelan ludahnya dengan susah payah. Junhyung bisa melihat kekhawatiran di wajah gadis itu.
“Kau tak perlu memaksakan diri, aku akan menghabiskannya sebanyak mungkin.” Ucap Junhyung seraya menyerahkan sepasang sumpit pada Minah.
“Ne Oppa.” Senang Minah.
“Baiklah, apa kalian sudah siap?” Tanya MC dan Semua pesertapun mengiyakan termasuk Junhyung dengan nada malasnya.
“Untuk pasangan yang paling cepat akan memenangkan permainan ini. Hana…. Dul… Set…”
Para peserta mulai makan ramen mereka. YongSeo Couple terlihat santai seakan mereka sedang berada di restaurant. Berbeda dengan Adam Couple yang bersemangat meniup ramen yang masih panas itu dan memakannya dengan lahap. Untuk pasangan JunMin Couple tampak Junhyung melahap banyak sekali ramen ke dalam mulutnya. Bahkan dalam waktu singkat Junhyung sudah menghabiskan setengah ramen itu. Sedangkan Minah berusaha keras membantu Junhyung.
Tiga menit berlalu, mangkuk milik YongSeo Couple jelas masih banyak sekali dan mangkuk milik Adam Couple tampak tinggal sedikit. Mangkuk milik JunMin Couple tak perlu di ragukan lagi sudah habis. Junhyung segera mengacungkan jarinya tepat saat mulutnya berhasil menelan ramen terakhir.
“YUPP!!! Kita sudah menemukan pemenang untuk lomba kecepatan ini. JunMin Couple pemenangnya.” MC berkata dan diikuti teriakan dan tepuk tangan dari para penonton.
“Selamat untuk JunMin Couple mendapatkan satu point. Tenang untuk peserta lain kita masih ada dua pertandingan lagi. Sekarang setelah mengisi perut kita akan melakukan pemanasan. Inilah games kita selanjutnya.”
Setelah meja disingkirkan para panitia meletakan sandal pasangan dengan dua sisi berbeda yang disatukan.
“Melihatnya kalian pasti tahu games apa yang akan kita lakukan. Games ini dirancang untuk menguji kekompakan kalian. Kalian harus bisa berjalan kompak agar bisa sampai di garis finish lebih dulu.” MC menunjukkan garis merah yang jaraknya tak begitu jauh.
Minah memakai sandalnya dan Junhyung ikut memakai sandalnya. Junhyung menatap ragu ke arah sandal itu. Masalah makan Junhyung masih bisa melakukannya sendiri tapi jika sandal di kaki kirinya menyatu dengan sandal di kaki sebelah kanan Minah, laki-laki itu benar-benar tak yakin bisa kompak dengan gadis pengganggu itu.
“Sudah siap? Kita mulai Hana… Dul… Set….”
Ketiga pasangan itu mulai berjalan sandal couple itu.
“YA!! Kanan dulu… Tidak.. Tidak.. Kiri dulu..” Teriak Junhyung dengan nada kesal saat langkahnya tak bisa sama dengan langkah Minah.
BUUGGGHHH….
YongSeo Couple tampak terjatuh dan saling meringis kesakitan. Junhyung begitu frustrasi melihat Adam Couple begitu kompak dan berada jauh darinya. Junhyung berusaha mengatur langkah mereka bersama namun laki-laki itu menghela nafas mendengar suara peluit menandakan games berakhir.
“Pemenang untuk games kedua ini…. Selamat pada Adam Couple yang begitu kompak sampai garis finish. Jadi hasilnya JunMin Couple satu poin dam Adam Couple satu poin. Jangan patah semangat untuk YeongSeo Couple kita masih ada satu games lagi. Mari kita berpindah tempat.”
MC itu mengajak para peserta menuju pertandingan selanjutnya. Penonton yang penasaran dengan hasil akhirnyapun mengikuti mereka berpindah. Langkah mereka terhenti saat melihat jalan yang sudah diubah seperti tempat pertandingan lari 100 meter dengan papan-papan berdiri tegak di tengah-tengahnya.
“Untuk pertandingan ketiga ini, kita akan melihat perjuangan laki-laki untuk kekasihnya. Semua gadis berada di sisi kanan dan laki-laki berada di sisi kiri. Sang laki-laki harus berlari menuju kekasihnya. Bersiaplah.”
“Untuk lebih semangat lagi kita dengar ucapan semangat dari sang kekasih.” MC itu menyodorkan mic pada Seohyun.
“Kau pasti bisa Oppa.” Ucap Seohyun malu-malu.
“Sepertinya YongSeo Couple adalah Couple paling pemalu. Selanjutnya.” Gain merebut mic itu dari MC
“Kwon Oppa, kau harus cepat kalau tidak aku pasti akan memberimu pelajaran.” Gain melayangkan tatapan membara pada Jokwon yang langsung beringsut takut.
MC itu dengan takut-takut mengambil kembali micnya. “Ucapan semangat yang bagus. Selanjutnya.”
Dengan kedua tangan di kedua sisi bibirnya, Minahpun berteriak. “Aku menunggumu Junhyung Oppa. FIGHTING!!!”
Junhyung mendengus kesal melihat tingkah Minah seperti anak kecil.
“Kita sudah mendengar ucapan semangat dari pasangan masing-masing. Orang pertama yang mengambil mawar dari sang kekasih dialah pemenangnya. Bersiap…. Hana…. Dul… Set….”
Junhyung, Jokwon dan Yonghwa segera berlari. Terlihat Yonghwa tertinggal dibelakang Junhyung dan Jokwon. Dengan lincah mereka melompat melewati palang yang ada di hadapan mereka. Jarak Junhyung dan Jokwon tertinggal sangat tipis. Sorakan dari penontonpun memeriahkan games itu.
“PPRRRIITTTT…..” Suara peluit panjang menghentikan pertandingan.
Junhyung dan Jokwon sama-sama berhasil mengambil bunga dari pasangan mereka dan diikuti Yonghwa yang baru saja sampai.
“Ommoo… Pertandingan ini sangat seru sekali bahkan JunMin Couple dan Adam Couple berhasil di waktu yang sama. Saat ini dewan juri akan mendiskusikan siapa yang paling cepat menangkap mawar itu.” Terlihat MC itu bergabung dengan dewan juri.
Junhyung menunduk berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tiba-tiba sebotol air putih dingin muncul di depan matanya. Junhyung mendongak dan melihat Minah tersenyum ceria padanya. Junhyung mengambil botol itu lalu membukanya dan meneguk air itu sebanyak mungkin. Minahpun duduk di samping Junhyung dan menatap laki-laki itu tengah meneguk air putih. Keringat tampak membasahi wajah Junhyung dan seragamnya. Minah mengambil tasnya lalu mencari saputangannya. Setelah mendapatkan saputangan berwarna biru muda dari dalam tasnya lalu gadis itu menyodorkannya pada Junhyung yang sudah selesai minum. Tidak seperti Junhyung yang biasanya dingin dan menolak bantuan Minah, kali ini laki-laki itu mengambil saputangan itu dan mengusap keringatnya.
“Hari ini kau hebat sekali Oppa. Maaf aku tak bisa membantu banyak.” Minah menunduk merasa bersalah karena selama permainan, Junhyung yang selalu mendominasi permainan mereka.
“Paling tidak kau sudah membantuku memberiku semangat bukan?”
Minah mendongak dan menatap Junhyung tak percaya. Padahal saat ini di pikirannya Junhyung akan mengatainya bodoh namun laki-laki itu tak melakukannya.
“Untuk semua peserta segera berkumpul, saya akan mengumumkan siapa pemenangnya.” Ucap sang MC.
Semua Couple pun berkumpul dihadapan MC begitu pula Junhyung dan Minah.
“Saya umumkan untuk peringkat ketiga diduduki oleh….. YongSeo Couple…” Semua penonton memberi tepuk tangan.
YongSeo Couple segera menaiki panggung dengan tulisan peringkat 3.
“Baiklah ini yang kita tunggu-tunggu. Untuk peringkat pertama dimenangkan oleh…..” Semua penonton menyebutkan Couple yang mereka dukung.
Adam Couple saling berpelukan menunggu hasil yang menegangkan itu. Junhyung terdiam bersikap dingin seperti biasanya sedangkan Minah melipat kedua tangannya di dada dan berdoa dalam hati.
“Peringkat pertama dimenangkan oleh…. JunMin Couple. Selamat untuk Junmin Couple dan untuk Adam Couple maaf kalian hanya bisa menduduki peringkat kedua.”
Dilayar TV terlihat pertandingan lari dalam gaya lambat. Tampak Junhyung lebih dulu menangkap mawar di tangan Minah lalu disusul Adam Couple. Minah berteriak senang dan memeluk lengan Junhyung yang tak bereaksi sedikitpun. JunMin Couple menaikki panggung dengan peringkat 1 sedangkan Adam Couple menaikki panggung dengan peringkat 2.
Dewan Juri memberikan piala dan hadiah voucher belanja dengan harga yang berbeda pada masing-masing pemenang. Setelah penyerahan hadiah merekapun berfoto sejenak sebelum akhirnya membubarkan diri.
Junhyung dan Minah berjalan bersama. Minah tampak masih senang dan terus memandang piala di tangannya. Sedangkan Junhyung tampak tak peduli sedkitpun.
“Bolehkah aku menyimpannya Oppa?” Tanya Minah.
“Terserah kau. Aku tak membutuhkannya.”
Minah kembali tersenyum senang bisa memiliki piala besar dengan patung laki-laki dan perempuan berpelukan dan tangannya membentuk Love. Senyum Minah menghilang saat dadanya berdentum keras membuatnya sakit. Dengan satu tangan Minah memegang dadanya yang semakin nyeri.
Junhyung yang merasakan keanehan menoleh dan terkejut melihat Minah berjongkok seraya memegang dadanya. Laki-laki itu segera menghampiri Minah.
“YA!! Ada apa denganmu, bukankah kau bilang sudah sembuh?” Panik Junhyung.
“Aku… Aku tidak apa-apa Oppa.” Minah memaksakan senyumnya namun Junhyung tak percaya gadis itu baik-baik saja. Wajah Minah terlihat pucat sama persis saat gadis itu pingsan tempo hari.
“Minah…” Minah dan Junhyung menoleh dan melihat Kikwang berlari menghampiri mereka.
Kikwang melayangkan tatapan khawatir pada Minah lalu berubah menjadi tatapan penuh kebencian pada Junhyung.
“Apa kau gila huh?” Kikwang menarik kerah Junhyung dan langsung melayangkan tinjunya membuat Junhyung terjatuh.
heirs14-00022
“Hentikan Kikwang-ah apa yang kaulakukan?” Ucap Minah menghentikan Kikwang seraya menahan rasa sakitnya.
Kikwang ingin sekali kembali memukul Junhyung namun melihat wajah Minah yang sudah pucat Kikwang mengurungkan niatnya.
“Sebaiknya kita pulang Minah, eommoni sudah menunggumu.” Kikwang merangkul bahu Minah dan membawa gadis itu pergi.
Minah tak bisa menolak ajakan Kikwang mengingat ibunya pasti mengkhawatirkannya. Minah menengok kebelakang dan melihat Junhyung duduk di tanah seraya membersihkan darah dari sudut bibirnya. Junhyung mendongak dan tatapannya bertemu dengan Minah. Namun sayang tatapan mereka tak bertahan lama karena Kikwang sudah mendorong Minah masuk ke dalam mobil.

* * * * *

Langkah Yeonhee terhenti di depan sebuah gedung apartement. Yeonhee melihat kertas di tangannya yang berisi alamat lalu mencocokan dengan alamat gedung apartement itu. Dia tersenyun saat mendapati alamat gedung itu cocok sekali dengan alamat di kertasnya.
Yeonhee menarik koper yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Yeonhee memasuki gedung apartement itu. Seorang laki-laki paruh baya menyambutnya dan tersenyum.
“Ada yang bisa saya bantu nona?” Tanya laki-laki itu ramah.
“Aku sudah membeli apartement di sini. Ini buktinya.” Yeonhee menyerahkan kertas yang berisi bukti pembelian apartement.
Laki-laki itu membaca sejenak kertas itu lalu tersenyum kembali pada Yeonhee.
“Selamat datang nona Lee, saya adalah Jung Haewon. Saya akan mengantarkan anda ke apartement anda. Saya bawakan barang anda.” Laki-laki itu mengambil sebuah kunci lalu mengambil koper Yeonhee berjalan menuju lift diikuti Yeonhee.
Dalam lift laki-laki itu menekan tombol 6. Yeonhee membenarkan tas di bahunya lalu bersabar menunggu hingga lift terbuka. Tak lama kemudian lift terbuka dan laki-laki itu mempersilahkan Yeonhee keluar bersamanya. Laki-laki itu membuka pintu dengan nomor 605.
“Apartement anda adalah nomor 605. Jika anda butuh bantuan jangan sungkan mengatakan pada saya.” Ucap Haewon menyerahkan kunci pada Yeonhee.
“Terimakasih Haewon-ssi.” Yeonhee mengambil kunci itu dan segera membawa kopernya masuk ke dalam apartement barunya.
Pintu tertutup setelah Yeonhee masuk ke dalam apartement itu. Apartement itu tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil untuk ditinggali Yeonhee dan Young. Dinding bercat putih polos dan lantai kayu terlihat sangat nyaman untuk di tinggali. Yeonhee meninggalkan kopernya dan meletakkan tasnya di sofa putih lalu dia berjalan menuju beranda.
Angin berhembus menerpa Yeonhee saat berada di beranda. Kedua tangannya berpegangan pada trali besi. Yeonhee mendongak menatap langit Korea yang tampak cerah lalu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
“Aku akan segera melampuimu eomma dan aku akan mencari laki-laki itu.” Ucap Yeonhee pada langit seakan eommanya berada di sana.
KKLIIKK….
Yeonhee segera menoleh mendengar suara jepretan kamera. Terlihat seorang laki-laki berdiri di beranda samping Yeonhee. Wajah laki-laki itu tertutup kamera.
“Siapa kau?”
Laki-laki itu menurunkan kameranya membuat Yeonhee bisa melihat wajah tampannya dengan sebuah senyuman di wajahnya.
“Aku Dongwoon, Shin Dongwoon. Selamat datang tetangga baru.”
“Apa kau mengambil gambarku?” Kesal Yeonhee tidak suka seseorang mengambil gambarnya tanpa seijin gadis itu.
“Ne. Wajahmu terlihat cantik dan natural saat menatap langit. Karena itu aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu.” Jelas Dongwoon dengan riang.
“Seharusnya kau meminta ijinku terlebih dahulu Dongwoon-ssi.” Yeonhee langsung memasuki apartementnya meninggalkan Dongwoon yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kenapa dia jadi marah?” Dongwoon mengangkat kedua bahunya cuek dan kembalike dalam apartementnya.

* * * * *

Jieun membuka pintu kamar Hyunseung. Gadis itu berpikir akan melihat Hyunseung dalam keadaan yang sama seperti saat terakhir gadis itu menemuinya. Jieun terlihat kaget saat melihat Hyunseung duduk di pinggir ranjang dan tersenyum tipis padanya. Penampilan laki-laki itu terlihat lebih rapi dari kemarin.
“Hyun-Hyunseung-ssi…” Panggil Jieun tak percaya.
“Aku sudah memikirkan ucapanmu kemarin dokter Shin. Dan menurutku kau benar tak seharusnya aku mengecewakan para penggemarku. Jadi bisakah kau membuatku pulih kembali dokter Shin?”
Jieun tersenyum senang mendengar Hyunseung tidak lagi menyerah.
“Tentu saja Hyunseung-ssi. Aku pasti akan berusaha menyembuhkanmu.”
Jieun menghampiri Hyumseung dan duduk di kursi samping ranjang Hyunseung.
“Aku akan memeriksa kakimu. Sangat mengejutkan kemarin melihatmu bisa berjalan sampai di lantai bawah dengan kondisi kakimu seperti ini.”
Jieun mulai memeriksa keadaan kaki Hyunseung yang sudah di pasangi pen di dalamnya. Hyunseung memandang Jieun yang terlihat serius memeriksanya. Mengingat perlakuan Hyunseung pada Jieun membuat perasaan bersalah merasuki hati Hyunseung. Perlakuan Hyunseung pada Jieun bisa dikatakan tidak baik.
“Maafkan aku sudah berlaku tidak baik padamu tempo hari.” Sesal Hyunseung.
Jieun mendongak dan memperlihatkan senyumnya.
“Tidak masalah. Aku sudah biasa menghadapi pasien membandel sepertimu.”
“Membandel?” Seketika Hyunseung tertawa mendengar ejekan Jieun.
Untuk pertama kalinya Jieun melihat Hyunseung tertawa. Gadis itu menghela nafas lega melihat Hyunseung tak lagi bersedih lagi.
“Jika kau sudah memaafkanku, bagaimana kalau kita berteman dokter Shin?” Hyunseung mengulurkan tangannya.
“Dengan senang hati Hyunseung-ssi.” Jawab Jieun menyambut uluran tangan Hyunseung.
“Pen di kakimu sepertinya tak bermasalah. Kita akan berjalan perlahan dulu apa kau sanggup?” Tanya Jieun.
“Sepertinya aku bisa.”
“Baiklah pegang kedua tanganku dan cobalah untuk berdiri.”
Hyunseung memegang kedua tangan Jieun yang terulur lalu perlahan turun dari ranjangnya. Tidak ada masalah saat kedua kaki Hyunseung menyentuh lantai.
“Sekarang cobalah langkahkan kakimu perlahan.” Perintah Jieun.
Hyunseung melangkahkan kaki kanannya. Tiba-tiba rasa nyeri menyerang kaki Hyunseung membuat keseimbangan laki-laki itu goyah.
“Ommo…” Kaget Jieun saat menangkap tubuh Hyunseung.
Keduanya terdiam saat tatapan mereka bertemu. Baik Hyunseung maupun Jieun seakan tak ingin melepaskan tatapan itu. Jieun begitu terpesona melihat manik coklat di mata Hyunseung, sedangkan Hyunseung seakan pernah melihat tatapan mempesona yang ditunjukkan Jieun.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Hyunseung tanpa melepaskan tatapannya.
Menyadari kedekatan mereka Jieun segera menuntun Hyunseung menuju ranjangnya kembali.
“Tidak. Aku bahkan baru melihatmu saat masuk ke rumah sakit ini. Kenapa kau menanyakan itu?”
“Entahlah aku merasa tatapanmu mengingatkanku pada seseorang.”
“Seseorang? Siapa?”

~~~FLASHBACK~~~

Seorang anak laki-laki menjulurkan kepalanya mengintip dari balik jendela. Matanya menangkap seorang gadis kecil dengan lincahnya menari ballet. Baju balet berwarna merah muda dengan renda di sekeliling pinggangnya menambah kesan lucu menurut anak laki-laki itu.
Lagu dari tape recorder mengiringi gadis itu menari. Dengan sepatu baletnya gadis itu berjinjit dan berputar-putar. Kepala laki-laki itu bergerak mengikuti musik. Tepat saat musik berhenti gadis itu seakan membungkuk ke arah penonton. Dengan tangan kecilnya anak laki-laki itu bertepuk tangan mengagetkan gadis itu. Gadis itu tersenyum cerah berlari menghampiri anak laki-laki itu.
“Apa kau melihatnya Red ranger?” Tanya gadis itu penuh antusias.
“Ne. Kau hebat sekali Pink ranger. Aku yakin kau bisa memenangkan lomba itu.”
Gadis itu tersenyum dan terus menatap mata laki-laki itu. Anak laki-laki itu terdiam tak henti-hentinya menatap mata bening milik gadis itu.

~~~FLASHBACK END~~~

“Aku lupa namanya tapi dulu aku sering memanggilnya Pink Ranger.”
“Pink Ranger?” Gumam Jieun.
“Ne. Sudah lupakanlah mungkin aku salah orang. Jadi bagaimana dengan kakiku?”
“Seperti kondisi pada umumnya pen di kakimu belum bisa menyesuaikan dengan kakimu karena itulah aku begitu heran saat melihatmu bisa berjalan ke lantai satu.”
“Keinginanku untuk mencari Yura sangat besar karena itulah tanpa sadar aku bisa berjalan tanpa memperdulikan rasa sakitku.”
“Aku turut sedih dengan soal Yura, Hyunseung-ssi. Tapi aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini.” Hyunseung tersenyum mendengar Jieun memberikan semangat untuknya.
“Terimakasih Dokter Shin.”
“Ne. Aku harus memeriksa pasien lain. Besok kita akan berlatih dengan menggunakan kruk. Sampai jumpa besok Hyunseung-ssi.”
“Ne. Dokter Shin.” Hyunseung melihat Jieun keluar dari ruangannya.

* * * * *

“Selamat pagi sajangnim.” Sapa beberapa karyawan yang di lewati Doojoon.
“Selamat pagi.” Balas Doojoon dengan senyum ramahnya.
Setelah menaiki lift, Doojoon berjalan menuju ruangannya. Tampak Seohyun sudah sibuk di mejanya. Melihat Doojoon berjalan ke arahnya, gadis itu langsung bangun dan membungkuk memberi hormat.
“Pagi sajangnim. Di ruangan anda ada seseorang sudah menunggu anda.”
“Seseorang? Siapa?” Bingung Doojoon.
“Dia tidak menyebutkan namanya dia hanya bilang jika dia adalah keluarga anda.”
“Terimakasih Seohyun-ssi.”
Doojoon segera menuju ruangannya. Laki-laki itu membuka pintu ruangannya dan memasuki ruangannya itu. Kursi besar milik Doojoon terlihat memunggungi laki-laki itu. Tiba-tiba kursi itu berputar dan Doojoon terlihat terkejut melihat seorang laki-laki mengenakan kemeja garis-garis berwarna biru dan blazer berwarna senada. Lengan blazer itu dilinting hingga sikunya. Rambut hitam yang disisir rapi menghiasi wajah tampannya.
Infinite_41
“Lama tak bertemu hyung.” Ucap laki-laki itu tersenyum pada Doojoon.
Wajah Doojoon berubah ceria saat mengenali laki-laki itu.
“Sunggyu.” Panggil Doojoon dan menghampiri Sunggyu.
Sunggyu berdiri dan memeluk Doojoon.
“Kapan kau kembali? Kenapa kau tak menghubungiku dulu eoh?” Tanya Doojoon melepaskan pelukannya.
“Aku baru saja pulang hyung. Dan ingin memberikanmu kejutan.” Sunggyu berkata dan Doojoonpun tertawa.
“Jadi kau akan membantuku di perusahaan ini kan?”
“Hmm… Bagaimana ya hyung.” Sunggyu terlihat sedang memikirkan pertanyaan Doojoon.
“YA!! Kau sudah belajar bisnis selama 4 tahun di Amerika dan kau masih mau memikirkannya eoh?” Doojoon melayangkan tatapan tajamnya.
“Aiishhh… Arrasseo… Arrasseo.. Hyung aku akan membantumu mengurus perusahaan ini.”
TOKK… TOOKK.. TOOKK…
“Ne masuk.” Ucap Doojoon.
Pintu terbuka dan terlihat Jihae memasuki ruangan Doojoon. Gadis itu membungkuk memberi hormat pada Doojoon. Tanpa Jihae dan Doojoon sadari Sunggyu tak melepaskan pandangannya pada Jihae semenjak gadis itu melangkah masuk dalam ruangan Doojoon.
“Ada apa Jihae-ssi?” Tanya Doojoon.
“Saya ingin menyerahkan berita acara pembukaan mall baru.” Jihae menyerahkan sebuah dokumen pada Doojoon.
“Terimakasih Jihae-ssi.”
“Ne. Saya permisi dulu sajangnim.” Ucap Jihae beranjak pergi.
Doojoon membuka dokumen itu dan mulai membacanya.
“Siapa gadis itu hyung?” Doojoon menoleh mendengar pertanyaan Sunggyu.
Doojoon tertawa melihat Sunggyu terus saja menatap pintu seakan Jihae masih ada di sana.
“Aigoo… Sunggyu-ya, kau baru saja menginjakkan kakimu di Korea tapi kau sudah jatuh hati pada seorang gadis.” Doojion kembali tertawa membuat Sunggyu mendengus kesal.
“Aisshh… Cepat beritahu aku hyung siapa gadis itu.” Kesal Sunggyu.
“Baiklah.. Baiklah… Dia adalah Woo Jihae.”
“Woo Jihae?” Sunggyu tersenyum mengeja nama Jihae perlahan seakan menghayati nama gadis itu.
Doojoon menepuk bahu Sunggyu. “Jika kau memang menyukainya kuperingatkan jangan membuatnya menangis atau aku akan menghajarmu. Jihae adalah sahabat terbaikku.”
“Ya… Yaa.. Aku mengerti hyung. Sampai jumpa lagi nanti hyung.”
Sunggyu berlari keluar dari ruangan Doojoon. Sunggyu berhenti berlari saat melihat Jihae berdiri di depan lift menunggu pintu besi itu terbuka. Sunggyu berjalan menghampirinya. Laki-laki itu merapikan rambut dan pakaiannya.
“Ehhemm….” Sunggyu berdeham membuat Jihae menoleh namun gadis itu kembali menatap lift itu kembali tak memperdulikan Sunggyu.
“Namamu Jihae bukan? Perkenalkan aku Kim Sunggyu sepupu Doojoon hyung.” Sunggyu mengulurkan tangannya tepat saat lift terbuka.
Jihae melihat sekilas tangan Sunggyu. “Maaf Sunggyu-ssi saya harus kembali bekerja.”
Jihae masuk ke dalam lift meninggalkan Sunggyu yang masih terdiam tak percaya dengan penolakan Jihae.
“Aisshh… Bagaimana bisa gadis itu menolak laki-laki tampan sepertiku.” Gerutu Sunggyu.

* * * * *

Di sebuah ruang meeting terlihat Esther dengan lihainya menjelaskan rancangan peragaan busana untuk,brand miliknya. Disamping wanita itu LCD menayangkan gambar design yang dia presentasikan. Sedangkan lima orang laki-laki tengah serius mendengar penjelasan Esther. Beberapa dari mereka membuka-buka dokumen yang Esther berikan sebelum presentasi di mulai.
“Kenapa anda memilih thema Leaves. Bukankah biasanya designer lain akan memilih thema flower?” Tanya Kim Woobin salah satu sponsor.
“Sebagai seorang designer saya tidak ingin di samakan dengan designer-designer lain. Karena itulah saya memilih thema yang berbeda dari designer lain. Lagipula dengan mengangkat thema daun yang berwarna hijau sekaligus mengingatkan semua orang untuk memperdulikan lingkungan. Berdasarkan survey yang saya dapatkan banyak orang yang tertarik dengan kegiatan yang peduli akan lingkungan. Karena itulah saya yakin peragaan busana ini akan sukses.”
Laki-laki itu mengangguk mendengar penjelasan Esther.
“Penjelasan yang bagus Esther-ssi. Saya juga mendapat firasat peragaan busana ini akan berhasil. Karena itulah kau akan mendapatkan dukunganku.” Ucap Steve menandatangani surat perjanjian kerjasama itu.
Keempat laki-laki lain tampak berbisik mendiskusikan keputusan mereka. Mereka terlihat mengangguk setelah mendapatkan keputusan yang akan mereka ambil.
“Karena Steve-ssi lebih berpengalaman dari kami jadi kami mengikuti keputusannya.”
Esther menyunggingkan senyuman saat melihat keempat orang itu menandatangani surat perjanjian kerjasama seperti yang Steve lakukan.
“Terimakasih atas kerjasamanya.” Esther membungkuk pada para sponsor yang bangkit berdiri meninggalkan ruang rapat.
Esther menegakkan tubuhnya dan tersenyum melihat Steve masih duduk di kursinya.
“Terimakasih Steve.”
“Aku selalu mempercayaimu Esther mana mungkin aku menolaknya. Jadi jangan membuatku kecewa Esther.”
“Tentu saja Steve.” Esther tersenyum melihat kepergian Steve.

~~~~TBC~~~~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s