Very Importan U (V.I.U) Chapter 4

on

img1398999829793

Title                 : Very Important U (V.I.U) Chapter 4

Scriptwriter     : Chunniesthttps://fandreamstory.wordpress.com/

FB                   : https://www.facebook.com/chunniest.fanfiction?ref=tn_tnmn

Twitter             : https://twitter.com/ivanna_putri

Genre              : Mellodrama,  Romance,

Duration          : Chapter

Rating             : PG

Main Cast :

* Shin Jieun (OC)

* Jang Hyun Seung (Beast)

* Yoon Doo Joon (Beast)

* Woo Jihae (Girl’s day)

*Kim Ah Young as Kim Yura (Girl’s day)

Support Cast   :

* Shin Hye Sung / Steve (Shinhwa)

* Son Dong Woon (Beast) as Shin Dongwoon

* Lee Yeon Hee

* Yong Jun Hyung (Beast) as Jang Jun Hyung

* Bang Minah (Girl’s day) as Jang Minah

* Lee Kikwang (Beast)

* Yang Yo Seob (Beast)

* Yoon Sung Ha as Jang Esther

* Mun Eric as Jang Eric(Shinhwa)

Guest :

* Kim Sung Gyu (Infinite)

 

Sumarry : Pertemuan kembali teman masa kecil….Kembali saudara yang sudah lama tak bertemu… Konflik sedikit demi sedikit mulai terkuak….

 

Author tak menyangka bisa menulis sebanyak ini sampai chapter 4. Gomawo buat readers yang masih setia menunggu FF ini. Tolong komennya lagi ne? Komen itu sangat berarti untuk Author. Happy reading^_^

DON’T BE SILENT READERS

 

*  *  *  *  *

 

Seorang anak laki-laki tak henti-hentinya menatap seorang gadis yang berdiri di depan kelas. Rambut gadis itu dikucir dua dan mengenakan terusan pink bunga-bunga serta sepatu putih di kakinya, tas ransel yang juga berwarna pink bertengger di bahunya. Senyum lebar terlihat di wajah gadis itu.

“Bisakah kau memperkenalkan dirimu?” Tanya guru Park.

Gadis itu mendongak menatap guru Park lalu mengangguk penuh semangat membuat kucirannya bergerak mengikuti kepala gadis itu.

Annyeong hasseyo…” Sapa gadis itu melambaikan tangan kecilnya.

Annyeong hasseyo…” Balas semua murid melambai ke arah gadis itu.

“Namaku Shin Jieun. Mohon bantuannya.” Ucap Jieun memvungkuk.

“Pintar sekali kau Jieun-ah. Sekarang duduklah di kursi kosong itu ne?” Ucap guru Park menunjuk kursi kosong yang berada di tengah.

Jieun berjalan seraya tersenyum pada murid lain. Langkah kecil Jieun mengarah pada kursi kosong. Jieun tersenyum dan melambaikan tangannya pada anak laki-laki yang duduk sebangku dengannya. Anak laki-laki itu pun ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan Jieun.

Annyeong hasseyo. Aku adalah Red Ranger. Apa kau mau menjadi Ranger sepertiku?”

Ranger? Apa itu Ranger?”

Power Ranger, pahlawan penyelamat kota. Apa kau mau bergabung?”

Ne.” Ucap Jieun mengangguk semangat.

“Kalau begitu kau menjadi Pink Ranger. Apa kau siap bertugas Pink Ranger?”

“Siap Red Ranger.”

Jieun membuka matanya. Jieun bisa melihat langit kamarnya yang bercat putih. Jieun terduduk dan melihat seisi kamarnya. Mata gadis itu terhenti saat melihat bayangan dirinya di cermin. Dengan tangannya Jieun menyisir rambut panjangnyake belakangnya. Jieun teringat ingatan masa lalunya yang terbawa mimpi.

Aku lupa namanya tapi dulu aku sering memanggilnya Pink Ranger.

“Benarkah Red Ranger adalah Hyunseung?” Gumam Jieun.

Jieun menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjangnya. Gadis itu berjalan keluar kamarnya. Rumah besar milik keluarga Shin itu terlihat sunyi hanya terdengar detak jam besar yang ada di ruang keluarga. Jieun melangkahkan kakinya menuju gudang yang terletak di ujung rumah.

Jieun terdiam saat berdiri di depan pintu bercat putih. Tangannya terulur membuka kenop pintu itu hingga terbuka dan kegelapan langsung menyambutnya. Jieun menghidupkan saklar di samping pintu dan menerangi tangga yang akan membawanya turun ke gudang. Gadis itu melangkah masuk perlahan.

Sudah lama sekali Jieun tak masuk dalam gudang ini. Dia teringat terakhir kali dia masuk ke dalam gudang ini adalah saat bersama kakaknya. Kaki Jieun menginjak tangga terakhir. Dalam gudang itu banyak sekali barang-barang yang sudah tak terpakai. Bahkan mainan-mainan Jieun saat masih kecil tersimpan rapi dalam kardus. Jieun mengambil sebuah barbie dengan gaun putih dan rambut yang berwarna pirang. Gadis itu tersenyum melihat mainan yang dulu menjadi mainan kesayangannya itu.

Jieun meletakkan kembali barbie itu dan kembali pada tujuan utamanya. Dia melihat kardus dengan tulisan ‘Jieun Primary School’. Jieun mengambil kardus yang tergeletak di rak lalu menaruhnya di lantai. Jieun terbatuk saat menghirup debu yang berterbangan. Gadis itu membersihkan debu yang masih melekat di kardus lalu membukanya. Dia tersenyum saat menemukan benda yang dicarinya tertumpuk paling atas sehingga gadis itu tak perlu susah payah mencarinya.

“Apa yang kau lakukan di gudang sayang?” Jieun terlonjak kaget melihat ayahnya sudah berdiri di hadapannya.

Aigoo… Appa kau megagetkanku saja. Aku hanya sedang mencari barangku dulu.”

“Apa tidak bisa menundanya sampai besok?”

“Tidak perlu appa, aku sudah menemukannya.” Jieun mengambil buku kenang-kenangannya saat masih sekolah dasar dan memeluknya.

“Baiklah. Kembalilah ke kamar, appa yang akan mengembalikan kardus ini.” Ucap Steve berjongkok menutup kardus yang di ambil Jieun.

“Terimakasih Appa. Selamat malam.”

“Selamat malam sweetheart.”

Steve mengembalikan kardus itu ketempatnya sedangkan Jieun kembali ke kamarnya dengan buku dalam pelukannya.

Sesampainya di kamar Jieun meluncur di ranjangnya lalu membuka buku itu dengan tak sabar. Jieun memeriksa setiap foto mencari anak laki-laki yang dikenalnya. Halaman demi halaman sudah gadis itu periksa namun belum juga menemukan Red Rangernya. Jari telunjuk Jieun terhenti pada sebuah foto berukuran kecil. Seorang anak laki-laki itu tersenyum lebar di dalam foto dan Jieun kenal sekali senyuman itu. Mata Jieun beralih pada tulisan di bawah foto itu. Mata Jieun membesar melihat nama hangul yang di baca ‘Jang Hyunseung’ tercetak tebal. Dengan kedua tangannya Jieun menutupi mulutnya yang terbuka seakan tak percaya Red Rangernya yang dulu berlaga seperti pahlawan sekarang tumbuh menjadi seorang penyanyi terkenal.

“Senang bertemu denganmu lagi Red Ranger.” Ucap Jieun tersenyum senang.

 

*  *  *  *  *

 

TOOKK…TOOKK…TOKK…

“Ya masuk” Perintah Doojoon tanpa berhenti membaca dokumen di mejanya.

Seseorang membuka pintu dan berjalan masuk ruangan Doojoon. Doojoon mendongak dan matanya melotot kaget melihat Sunggyu memgenakan setelan hitam dengan dasi hitam begaris abu-abu. Sunggyu berputar seakan memamerkan penampilan barunya.

kool17

“Kau Kim Sunggyu?” Tanya Doojoon tak percaya melihat penampilan sepupunya berubah.

“Tentu saja aku Kim Sunggyu, hyung. Bagaimana aku lebih tampan darimu kan?” Ucap Sunggyu menyombongkan diri.

“Ne… Kau memang lebih tampan dariku, tapi aku lebih berkarisma darimu.” Doojoon tertawa melihat Sunggyu memanyunkan bibirku.

“Jadi kau bersiap bekerja di Perusahaan Yoon?”

“Tentu saja hyung tapi aku ada satu permintaan.”

Doojoon menatap Sunggyu penuh curiga.

“Permintaan?”

“Tenang saja hyung kau pasti bisa memenuhinya.”

“Baiklah selama permintaan itu mudah.”

Sunggyu tersenyum senang. Lelaki itu yakin hyungnya akan memenuhi permintaannya. Sunggyu mendekati Doojoon dan membisikkan permintaannya. Mata Doojoon membulat mendengar permintaan Sunggyu.

“Apa kau sudah benar-benar tidak waras Sunggyu-ya.”

“Waeyo hyung? Bukankah itu hal yang mudah umtukpresiden  direktur sepertimu hyung?”

“Aaishhh… Baiklah aku akan mengaturnya nanti.”

“Gomawo Hyung.” Sunggyu berlari memeluk Doojoon seperti anak kecil.

“Aisshh… Lepaskan aku Sunggyu.” Kesal Doojoon.

“Sajangnim ini dokumen yang perlu anda… OMMO….”Seohyun yang baru memasuki ruangan Doojoon terkejut melihat presiden direkturnya berpelukan dengan laki-laki lain. Bahkan saking terkejutnya Seohyun menjatuhkan dokumen.yang di pegangnya.

“Ini… Ini tidak seperti yang kau pikirkan Seohyun-ssi.” Ucap Doojoon mendorong Sunggyu.

“Tidak apa-apa sajangnim, saya tak ingin mengganggu waktu kalian, saya akan datang lagi nanti.” Seohyun segera mengambil dokumennya dan berlari keluar ruangan.

Melihat Seohyun yang sudah salah paham dengan hubungan kedua laki-laki itu, Sunggyu tak bisa menahan tawanya. Sunggyu terus tertawa hingga perutnya terasa sakit.

PLEETTAAKKK…..

Tawa Sunggyu terhenti diganti rintihan kesakitan merasakan kepala menerima hadiah jitakan dari Doojoon.

“Gara-gara kau, Seohyun mengira kita Gay. Kau membuatku dalam masalah besar. Mau ditaruh mana mukaku jika semua orang mengira Presiden Direktur Yoon adalah penyuka sesama jenis huh?”

Sunggyu kembali tertawa membuat Doojoon semakin kesal.

“Memang kau tidak menyukaiku hyung?” Tanya Sunggyu.

“Tentu saja aku menyukaimu tapi sebagai saudara. Hatiku hanya milik Jieun seorang.”

“Ciihh …. Padahal aku menyukaimu hyung.”

Sunggyu mencium pipi Doojoon sebelum akhirnya melesat pergi. Wajah Doojoon terlihat memanas bahkan asap-asap keluar dari seluruh wajahnya.

“KIM SUNGGYU!!!” Teriak Doojoon kesal sedangkan Sunggyu yang sudah berada di luar ruangan Sunggyu cekikikan senang sudah mengerjai kakak sepupunya.

 

*  *  *  *  *

 

Minah berjalan menyusuri lorong sekolah. Tampak lorong itu ramai karena jam istirahat. Minah menunduk menatap dua bekal di tangannya. Dia tersenyum sendiri mengingat bekal itu akan di berikan pada seseorang. Gadis itu mendongak kembali dan langkahnya seketika terhenti melihat Kikwang di hadapanya.

“Ada apa? Jika tidak ada hal penting menyingkirlah.” Ketus Minah.

“Apa bekal itu untuk Junhyung?” Kikwang menunjuk kotak bekal di tangan gadis itu.

“Tentu saja. Kau tahu kan siapa yang kusuka.”

Minah berlalu meninggalkan Kikwang yang berdiri terpaku. Minah melanjutkan langkahnya menuju atap sekolah. Minah menaikki tangga yang terhubung ke atap sekolah. Tangan Minah terulur membuka pintu atap yang sedikit berat. Minah memicingkan matanya merasakan sinar matahari menerpa wajahnya.

Minah melangkah di atas atap sekolah. Matanya mengelilingi atap sekolah mencari seseorang. Senyum Minah mengembang melihat sosok Junhyung tengah duduk dengan mata terpejam serta earphone terpasang di telinganya. Dengan mengendap-endap Minah berjalan mendekati Junhyung. Minah duduk di samping Junhyung. Gadis itu tak henti-hentinya mengamati wajah Junhyung. Rambut Junhyung melambai-lambai terkena angin.

“Sampai kapan kau akan berhenti menatapku seperti itu huh?” Minah terkejut mendengar Junhyung berkata dengan mata yang masih terpejam.

Mata Junhyung terbuka dan menatap tajam Minah dan gadis itu melayangkan senyum ceria seperti biasanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Junhyung dengan nada dingin.

“Aku ingin memberikanmu bekal ini.” Minah menyerahkan satu kotak bekal pada Junhyung.

Junhyung menatap curiga bekal yang terulur di hadapannya.

“Tidak berbahaya. Aku yang membuatnya sendiri. Anggap saja sebagai ucapan terimakasihku untuk yang kemarin.”

Junhyung ingin menolaknya sayang perutnya terus berteriak memintaJunhyung menerimanya. Semenjak Hyunseung masuk rumah sakit, Junhyung jarang makan. Karena biasanya kakaknyalah yang selaku cerewet dalam hal makan. Akhirnya Junhyung menerima bekal itu membuat Junhyung tersenyum senang.

Minah dan Junhyung sama-sama mengeluarkan sumpit dari tempatnya dan mulai membuka bekal mereka masing-masing. Perut Junhyung bersorak gembira mencium bau harum masakan itu. Dalam gerakan yang sama mereka mulai memakan bekalnya. Junhyung dan Minah sama-sama mengernyit jijik melihat potongan panjang wortel di antara makanan mereka. Keduanya langsung menyingkirkan wortel itu. Minah terkejut melihat Junhyung melakukan hal yang sama.

“Oppa juga tidak suka Wortel?”

Junhyung menoleh dan juga terkejut melihat Minah juga menyingkirkan wortelnya.

“Ne. Aku benci wortel.”

“Aku juga membencinya. Berarti kita memang sehati Oppa.” Minah terlihat bahagia mendapati ketidaksukaannya sama dengan Junhyung. Sedangkan Junhyung hanya mencibir kesal lau melanjutkan makannya.

Tanpa keduanya sadari Kikwang mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit. Untuk pertama kalinya Kikwang melihat Minah tersenyum bahagia. Saat bersama dirinya Minah selalu bersikap dingin, berbeda sekali saat gadis itu bersama Junhyung. Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan tidak menyenangkan itu, Kikwang berbalik pergi.

 

*  *  *  *  *

 

“Jihae-ssi segera bereskan barang-barangmu dan ikut denganku.” Ucap Donghyun yang merupakan atasan Jihae.

“Bereskan barang-barangku? Tapi ada apa Donghyun-ssi?”

“Kau akan ditransfer jadi kau tidak bekerja di sini lagi.”

“Nde?” Kaget Jihae.

“Akan ada seseorang yang menjabat direktur baru di perusahaan ini. Dan kau ditugaskan menjadi sekertarisnya.”

“Sekertaris? Tapi Donghyun-ssi aku tak tahu menahu tentang tugas sekertaris.”

“Tugas sekertaris lebih mudah Jihae. Kau pasti bisa. Segera bereskan barang-barangmu.” Donghyun berkata meninggalkan Jihae yang tak sempat bertanya lebih lanjut lagi.

Jihae menghela nafas dan segera membereskan barang-barangnya. Sebagai bawahan yang tak memiliki pangkat, Jihae hanya bisa pasrah saat harus dipindahkan.

“Waahh… Kau beruntung sekali Jihae-ah.” Jihae mendongak dan mendapati Sunny teman sekerjanya tengah memainkan lolipop di mulutnya.

“Beruntung bagaimana Sunny. Aku ditugaskan menjadi sekertaris, padahal aku tidak tahu apa-apa tentang menjadi sekertaris.”

“Sekertaris mudah Jihae-ah, tugasnya sama saja dengan assisten direktur. Kalau tidak tahu kau bisa belajar dari Seohyun, Sekertaris Yoon sajangnim. Kudengar direktur baru itu baru saja menyelesaikan studynya di America. Pasti dia sangat pintar. Aku iri denganmu Jihae-ah.” Ucap Sunny dengan bibir cemberut.

“Kalau begitu kau saja yang menjadi sekertaris direktur baru itu. Aku tidak tertarik sama sekali.”

“Aisshhh… Kau mau Donghyun memenggal kepalaku huh?” Jihar tertawa mendengar ketakutan Sunny. Meskipun tidak akan memenggal gadis itu tapi Donghyun bisa sangat menyeramkan jika sedang marah.

“Apa tidak ada pekerjaan yang lebih penting selain mengobrol Sunny-ssi?”

Jihae menahan tawanya melihat Sunny terpaku mendengar suara Donghyun. Sunny berbalik dan menunjukkan cengiran kudanya.

“Aku hanya berpamitan dengan Jihae, Donghyun-ssi. Sekarang aku akan kembali bekerja.” Ucap Sunny lari terbirit-birit.

“Apa kau sudah siap Jihae-ah?” Tanya Donghyun beralih pada Jihae.

Tak perlu berlama-lama merapikan barang miliknya karena Jihae termasuk gadis yang rapi. Bahkan gadis itu hanya memerlukan satu kardus untuk menampung barang pribadinya.

“Ne Donghyun-ssi.”

“Ikut denganku.”

Jihae mengikuti Donghyun berjalan keluar kantor. Jihae melambai pada Sunny dan dibalas penuh semangat oleh gadis itu. Donghyun menekan tombol lift, dan mereka bersabar menunggu hingga lift terbuka. Terdengar bunyi dentingan keras saat pintu lift terbuka. Donghyun masuk ke dalam lift diikuti oleh Jihae. Laki-laki itu menekan tombol 10 dan mulai menunggu lagi.

Keheningan mengelilingi ruangan kecil itu. Tak ada pembicaraan yang terjadi di antara keduanya. Pintu lift terbuka saat mereka sampai di lantai 10. Jihae kembali mengikuti Donghyun yang sudah berjalan terlebih dahulu. Jihae bisa melihat semua meja yang tampak baru seakan belum tersentuh. Donghyun mengetuk pintu kaca yang di buat buram itu. Mendengar suara seseorang menyuruh mereka masuk. Donghyun membuka pintu kaca itu dan masuk ke dalam diikuti Jihae. Seorang laki-laki mengenakan setelan hitam berdiri di jendela membelakangi Donghyun dan Jihae.

“Sekertaris baru anda sudah datang Sajangnim.”

Annyeong hasseyo sajangnim. Saya Woo Jihae yang akan menjadi sekertaris anda. Mohon bantuannya.” Jihae membungkuk bersikap formal.

Laki-laki itu berbalik membuat Jihae terkejut. Laki-laki itu tersenyum dan menatap Jihae.

“Kau bisa meninggalkan kami Donghyun-ssi. Terimakasih.” Ucap Sunggyu tanpa mengalihkan tatapannya dari Jihae.

“Baik Sajangnim.” Donghyun beranjak keluar meninggalkan Sunggyu dan Jihae yang saling menatap.

Sunggyu berjalan mendekati Jihae tanpa mengalihkan tatapannya pada gadis itu.

“Apa kau mengingatku?” Tanya Sunggyu penuh harap.

“Aku sepertinya pernah melihatmu.” Kepala Sunggyu tertunduk lemas mendengar Jihae tak mengingatnya.

“Kita pernah bertemu di ruangan Yoon sajangnim kemarin. Apa kau ingat?”

“Oohh.. Aku ingat kau laki-laki pengganggu itu kan?”

“Laki-laki pengganggu? Apa itu sebutanmu untukku?”

“Ne. Karena kau sudah mengganggu waktuku.”

“Tapi sekarang aku tidak mengganggu waktumu lagi karena sekarang kau adalah sekertarisku.”

“Ciihh… Aku harus menata meja kerjaku.”

Jihae berbalik meninggalkan Sunggyu yang sedang cemberut.

 

*  *  *  *  *

 

Jieun berjalan menuju kamar Hyunseung dengan membawa sebuah buku di satu tangannya dan sebuah kruk di tangan lainnya. Mengetahui Hyunseung adalah teman masa kecilnya, Jieun merasakan perasaan senang yang teramat sangat. Bahkan gadis itu tak henti-hentinya tersenyum. Jieun membuka pintu dan sama halnya seperti kemarin gadis itu mendapati Hyunseung duduk di ranjangnya dan tersenyum pada Jieun.

“Selamat siang Hyunseung-ssi.”

“Selamat siang dokter Shin.”

“Apa kau sudah siap untuk berlatih berjalan”

“Ne. Tapi melihat alat itu aku jadi tidak yakin.” Ucap Hyunseung menunjuk kruk di tangan Jieun.

Melihat wajah Hyunseung yang aneh membuat Jieun tak mampu menahan tawanya.

“Tenang saja Hyunseung-ssi. Kau pasti cepat menguasai alat ini. Sebelum kita berlatih aku ingin memberimu sesuatu. Ini.” Jieun menyerahkan buku yang dipegangnya kepangkuan Hyunseung.

Mata Hyunseung menbulat membaca tulisan di cover buku itu.

‘Buku Kenangan Sekolah Dasar Il-Mun’

Hyunseung mendongak dan menatap Jieun penuh tanya.

“Dulu aku bersekolah di sana.” Jelas Jieun.

“Benarkah? Yang mana kau?”

Jieun membuka buka itu halaman demi halaman. Lalu tangannya terhenti menemukan gambar dirinya saat kecil. Jieun menunjukkan foto gadis kecil yang terletak di pojok bawah dengan nama Shin Jieun di bawah foto itu. Hyunseung mengikuti arah yang di tunjukkan Jieun. Nafas laki-laki itu tercekat mengenali gadis kecil berkucir dua. Hyunseung mendongak dan menatap Jieun dengan tatapan tak percaya.

“Jadi benar kau adalah….”

Pink Ranger.” Potong Jieun.

“Aku tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu Pink Ranger. Ternyata tatapanmu tak berubah sama sekali sampai aku bisa mengenalimu.”

“Aku juga tak menyangka sang Red Ranger pemimpinku dulu sekarang menjadi pasienku.”

“Aisshh… Kau masih ingat juga dulu aku selalu menjadi pemimpinmu.”

“Tentu saja. Bukankah Red Ranger yang selalu melindungiku? Aku tak akan melupakannya.”

“Aku juga tak akan melupakan si cengeng Pink Ranger. Apa kau masih cengeng Pink Ranger?” Goda Hyunseung membuat Jieun mendengus kesal.

“Tentu saja tidak. Aku kan sudah dewasa tak mungkin secengeng dulu. Cukup nostalgianya, kedatanganku kan untuk mengajarimu menggunakan kruk Hyunseung-ssi.”

“Hyunseung-ssi? Kau tak memanggilku Oppa seperti yang dulu kau lakukan Jieun-ah?” Jieun sedikit terkejut namun gadis itu senang bisa berbicara tidak formal pada Hyunseung.

“Baiklah Oppa. Sekarang letakkan buku itu dan mulai turun dari ranjangmu Oppa.”

“Baiklah Jieun-ah.” Ucap Hyunseung dengan nada yang dibuat seperti anak kecil.

Hyunseung meletakkan bukunya di meja lalu mulai menurunkan kedua kakinya. Dahi Hyunseung berkerut merasakan nyeri di kakinya. Akhirnya setelah penuh perjuangan, kedua kaki Hyunseung menyentuh lantai.

“Bagus Oppa. Sekarang pegang kruk ini di lengan kirimu anggap kruk ini pengganti kakimu yang belum bisa berfungsi sempurna oppa.” Jelas Jieun.

“Kau yakin Jieun-ah?”

“Ada apa Oppa? Apa kau takut? Sejak kapan Red Ranger jadi penakut begini eoh?”

Tawa Hyunseung pecah mendengar sindiran Jieun.

“Baiklah. Saatnya Red Ranger beraksi.”

Jieun tersenyum melihat Hyunseung melangkahkan kaki kirinya lalu dengan usaha yang keras akhirnya Hyunseung bisa menggerakkan kruknya meskipun dengan wajah menahan kesakitan.

“Lihat kau bisa Oppa. Coba kembali.”

Jieun terus menyemangati Hyunseung hingga laki-laki itu terus berjalan menjauhi ranjangnya. Jieun tersenyum melihat Hyunseung bisa menguasi kruk itu dengan mudah.

 

*  *  *  *  *

 

Esther berjalan memasuki ruang make up. Dia menghampiri salah satu model yang sedang di make up. Esther mengamati wajah gadis itu. Eyeshadow berwarna orange tergores di mata model itu. Lalu Esther meneliti eyeliner hitam menggaris mata gadis itu.

“Perbaiki eyeliner di mata kirinya. Terlihat jelek.” Perintah Esther.

“Baik sajangnim.” Ucap seorang wanita yang merias wajah model.

Esther beralih ke model lain. Senyum kepuasan mengembang di wajah Esther melihat seorang gadis yang sedang di make up orang lain. Model itu memberikan senyuman pada Esther.

Sajangnim.” Sapa gadis itu.

“Kau terlihat sempurna Yeonhee. Kerja bagus Nara.” Puji Esther pada gadis yang merias Yeonhee.

Seorang gadis dengan pakaian seksi bercorak kulit harimau tersenyum senang mendengar pujian Esther.

“Terimakasih sajangnim.”

Sajangnim…. Sajangnim….” Teriak Hyeri memasuki ruang make up dengan tergesa-gesa. Wajah gadis itu tampak panik membuat Esther menatap asistennya bingung.

“Ada apa teriak-teriak seperti itu Hyeri?”

“Kris… Fotografer yang akan memotret hari ini masuk rumah sakit.”

MWO? Lalu bagaimana dengan pemotretan hari ini?”

“Kris bilang akan mengirimkan temannya, bagaimana ini sajangnim?”

“Teman? Apa Kris yakin temannya bisa menghasilkan foto yang bagus? Aku pasti akan menuntutnya jika hasil pemotretan hari ini buruk.” Esther meninggalkan ruang make up.

Di ruang make up semua model sudah siap dan beranjak keluar. Pakaian-pakaian yang mewah terlihat pada di tubuh para model itu. Yeonhee berjalan terakhir keluar dari make up. Langkah Yeonhee terhenti merapikan terusan pendek berwarna putih.

“Sudah kuduga kau seorang model.”Yeonhee menoleh dan terkejut melihat laki-laki yang sangat tidak sopannya memotret dirinya tempo hari sudah berdiri di sampingnya dengan menunjukkan senyuman bodohnya.

“Kauu….. Apa yang kau lakukan di sini huh? Kau menguntitku?”

“Menguntitmu? Sayang sekali nona mulai sekarang aku akan bekerja di sini.”

“Nde?”

“Apa anda pengganti Kris?” Tanya Hyeri yang tiba-tiba muncul.

“Ne. Namaku Shin Dongwoon.” Ucap Dongwoon mengulurkan tangan dan langsung di sambut Hyeri.

“Aku Hyeri, asister Jang Sajangnim. Mari ikut saya, sajangnim ingin bertemu dengan anda.” Hyeri berjalan dulu agar Dongwoon mengikutinya.

“Apa kau masih berpikir aku menguntitmu nona?” Dongwoon tersenyum geli melihat wajah Yeonhee tampak kesal. Yeonhee baru menyadari ada kamera besar melingkar di leher Dingwoon.

Dongwoonpun segera mengikuti Hyeri meninggalkan Yeonhee. Dalam diam Dongwoon mengikuti Hyeri hingga sampai di depan sebuah pintu.

“Masuklah, Sajangnim sudah menunggumu.”

“Ne. Terimakasih Hyeri-ssi.” Dongwoon membuka pintu itu dan tubuhnya menghilang di balik pintu itu.

“Selamat siang sajangnim.” Sapa Dongwoon pada seorang wanita yang tengah menunduk sibuk dengan majalah di mejanya.

Mendengar suara Dongwoon, Esther mendongak. Dongwoon menunduk memberi salam pada Esther sedangkan Esther mengerutkan dahinya mengamati wajah Dongwoon.

“Bukankah kau Shin Dongwoon, fotografer yang sedang banyak dibicarakan karena hasil karya yang menakjubkan itu?”

Esther berdiri dan menghampiri Dongwoon.

“Anda terlalu berlebihan sajangnim, saya baru berkecimpung di dunia fotgrafer, saya belumlah sehebat Kris, saya masih harus belajar.”

“Tapi aku sudah melihat karyamu dalam pameran tempo hari. Hasil karyamu tidak terlihat seperti fotografer yang masih belajar. Aku suka karyamu, kau bisa memperlihatkan kharisma model yang menjadi objeknya.”

“Terimakasih pujiannya sajangnim.”

“Akurasa aku tidak akan kecewa dengan hasil pemotretan hari ini. Kita bisa memulainya sekarang semua model sudah siap.”

“Baik sajangnim.”

Dongwoon mengikuti Esther keluar ruangan. Diluar semua kru sudah mempersiapkan peralatan yang di gunakan untuk pemotretan. Esther dan Dongwoon menghampiri para kru dan model yang sudah bersiap di tempatnya. Dengan layar putih dan ditengah layar di letakkan pot bunga sakura putih buatan.

PLOK….   PLOK… PLOK….

Tepukan tangan Esther mencuri perhatian semua orang.

“Semuanya… aku ingin memperkenalkan seseorang. Dia adalah Shin Dongwoon, dia fotografer yang akan menggantikan Kris.”

Dongwoon membungkuk memberi salam pada semuanya.

“Saya Shin Dongwoon mohon bantuannya.” Sapa Dongwoon.

Yeonhee terkejut mendengar Dongwoon adalah fotografer pengganti. Dongwoon menatap Yeonhee membuat tatapan mereka bertemu. Dongwoon menyunggingkan senyumannya sedangkan Yeonhee langsung membuang mukanya.

“Baiklah kita akan mulai pemotretannya.” Ucap Esther membuat semua kembali bekerja.

Dongwoon mulai menyiapkan kamera, sedangkan beberapa kru menyiapkan lampu yang menyoroti semua model. Ada lima model dengan pakaian yang berbeda warna. Dua orang tampak duduk dan tiga orang berdiri di belakangnya. Mereka mulai bergaya layaknya model lainnya. Mata Dongwoon tertuju pada Yeonhee yang duduk dikursi. Meskipun gadis itu mencoba bergaya namun Dongwoon bisa menangkap kekesalan di mata gadis itu.

Dongwoon mulai mengambil gambar semua model. Tanpa canggung model-model itu berpose mempermudah Dongwoon mengambil fotonya. Hingga akhirnya tibalah Dongwoon mengambil foto model itu satu persatu. Hingga giliran Yeonhee berdiri di depan bunga. Dongwon melihat Yeonhee dari lensa kameranya. Dahinya berkerut saat tak mendapat gambar yang sesuai harapannya. Dongwoon mendongak menatap Yeonhee.

“Santai saja nona, kau tampak tegang. Apa karena aku yang mengambil fotomu?”

“Aku… Aku  tidak tegang.” Sangkal Yeonhee.

“Benarkah? Kalau begitu tunjukkan ekspresimu seperti yang kulihat tempo hari. Sebagai model yang bersikap professional seharusnya kau bisa melakukannya.”

Yeonhee menatap kesal Dongwoon namun gadis itu merasa tertantang dengan ucapan Dongwoon. Keinginan Yeonhee adalah menjadi model profesional melebihi ibunya. Jika Yeonhee tak bisa menjawab tantangan Dongwoon maka gadis itu merasa tak pantas menjadi model profesional mengalahkan ibunya. Yeonhee menutup mata mencoba mengingat ekspresi yang diminta Dongwoon.

Dongwoon menunggu Yeonhee mempersiapkan diri. Mata Yeonhee terbuka dan Dongwoon tersenyum melihat ekspresi yang diinginkannya suda terlihat d wajah Yeonhee. Tak menyia-nyiakan kesempatan Dongwoon segera mengambik kameranya dan mengambil foto Yeonhee sebanyak mungkin.

yeonhee

 

*  *  *  *  *

 

Dengan skateboardnya Junhyung keluar dari gedung sekolah. Terlihat tangannya membawa skateboard dan earphone melekat di telinganya. Kepala lelaki itu bergerak mengikuti lagu hip hop yang didengarnya. Junhyung mengarahkan skateboardnya menuju taman sekolah. Junhyung menghentikan gerak skateboardnya saat melihat pemandangan di hadapannya.

Kikwang yang sedari tadi menatap Junhyung berjalan menghampirinya. Junhyung turun dari skateboardnya dan dengan satu injakkan skateboard itu melayang dan tangannya menangkap skateboard itu. Kikwang terus berjalan tanpa mengalihkan tatapannya dari Junhyung. Junhyung terlihat santai melepaskan earphonenya dan berjalan dari arah berlawanan. Kikwang menepuk bahu Junhyung keras namun wajah Junhyung tak menunjukkan ekspresi apapun.

“Jangan pernah menyakiti Minah, atau aku akan memberimu pelajaran.” Ucap Kikwang membuat Junhyung mendengus tak percaya.

“Huh? Memberiku pelajaran?”

Cengkraman di bahu Junhyung semakin kuat namun wajah Junhyung tak terpengaruh dengan intimidasi yang Kikwang lakukan.

“Aku tidak akan segan-segan menghajar wajah dinginmu itu jika melihat Minah menangis karenamu. Ingat itu Junhyung.”

Kikwang memberikan tepukan keras sebelum akhirnya meninggalkan Junhyung. Junhyung menggelengkan kepalanya tak memperdulikan ucapan Kikwang. Junhyung memutuskan berjalan kaki menjemput anjing pelihaharaanya. Dahi Junhyung berkerut saat melihat anjing peliharaanya bersama orang lain. Tak biasanya Pika, nama yang diberikan Junhyung padaanjing itu bisa semudah itu akrab dengan orang asing.

Junhyung semakin terkejut mengetahui orang itu adalah Minah. Minah mengelus kepala Pika dan tersenyum pada anjing itu. Lalu bibir Minah bergerak seakan berbicara pada anjing berwarna putih itu. Karena jarak Junhyung jauh membuat laki-laki itu tak dapat mendengar ucapan Minah. Pika terlihat antusias mendengar ucapan Minah hingga anjing itu terus saja mengendus-endus wajah Minah. Tidak seperti gadis lain yang akan berteriak ketakutan, Minah justru tertawa senang dengan perlakuan Pika.

Junhyung masih terdiam di tempatnya melihat Minah memeluk Pika lalu melambaikan tangan pada Pika sebelum akhirnya gadis itu beranjak pergi. Melihat Minah pergi, Junhyung menghampiri Pika yang menidurkan kepalanya dengan lemas. Bahkan saat melihat Junhyung berjongkok di sampingnya Pika terus terlihat berbaring lemah seraya memandang kepergian Minah yang mulai menjauh.

“Apa kau menyukai Minah, Pika?” Seakan mengerti pertanyaan Junhyung Pika langsung bangkit.

Junhyung tertawa melihat Pika begitu bersemangat mendengar nama Minah. Junhyung mengacak puncak kepala Pika lalu melepaskan rantai anjing itu.

“Sepertinya bukan hanya kau saja yang menyukainya Pika. Saatnya kita pulang.”

Junhyung menarik rantai Pika dan berjalan bersama anjingnya.

 

*  *  *  *  *

 

“Terimakasih sudah mengantarku Oppa, apa kau mau masuk untuk minum kopi?” Tawar Yeonhee pada Dongwoon saat mereka sampai di depan pintu apartement Yeonhee.

“Kopi? Sepertinya itu ide yang bagus.”

Yeonhee tersenyum mendengar persetujuan Dongwoon. Yeonhee memasukkan kode pengaman pintu hingga terdengar bunyi pintu terbuka. Yeonhee membuka pintu dan mempersilahkan Dongwoon masuk. Dongwoon meneliti apartement yang tak jauh berbeda dengan apartement miliknya. Namun Dongwoon begitu tercengang dengan apa yang dilihatnya.

PLOK…. PLOKK… PLOKK….

“Apartement yang bersih sekali Yeonhee-ah.” Puji Dongwoon memberikan tepuk tangannya.

Beberapa kotak kardus tertata di tengah ruangan dan melihat kardus itu masih tertutup plester menandakan belum tersentuh sama sekali. Dinding-dinding ruangan itupun masih bersih tak tertempel apapun.

“Kau memujiku atau menghinaku Oppa?” Tanya Yeonhee menyadarkan Dongwoon.

Dongwoon tertawa melihat wajah Yeonhee cemberut.

“Karena terlalu sibuk aku belum sempat menata semua barangku. Aku akan membuatkan kopi.”

“Akan kubantu.”

Dongwoon membuntuti Yeonhee menuju dapur. Di dapur sepertinya sudah mulai terlihat hidup karena semua peralatan sudah tertata rapi. Yeonhee menyiapkan alat pembuat kopi, sedangkan Dongwoon menyiapkan dua cangkir untuknya dan Yeonhee.

“Apa kau butuh bantuan menata apartementmu? Sepertinya besok aku tak ada jadwal apapun.”

Yeonhee berbalik dan sebuah senyuman cerah menghiasi wajah Yeonhee.

“Benarkah? Gomawo Oppa.”

Dongwoon tersenyum membalas senyuman gadis itu.

“Ne.”

Setelah kopinya siap Yeonhee menuangkan kopi itu ke dalam cangkir yang sudah Dongwoon siapkan.

“Biar aku yang membawanya.” Ucap Dongwoo mengambil kedua cangkir itu dan keluar dari dapur bersama Yeonhee. Karena belum ada kursi, mereka memutuskan duduk di lantai kayu dengan pemandangan teras. Keduanya sama-sama meminum kopi mereka seraya menikmati pemandagan langit sore hari yang berwarna orange.

“Terimakasih Oppa.” Ucap Yeonhee memecahkan keheningan.

“Tidak ada angin tak ada petir kenapa kau tiba-tiba berterimakasih?” Bingung Dongwoon.

“Untuk pemotretan tadi. Jika bukan karena ucapanmu aku tidak akan bisa belajar menjadi model profesional.”

“Apakah sebegitu besar keinginanmu menjadi model profesional?” Tanya Dongwoon memperhatikan Yeonhee yang terus menatap langit.

“Ne Oppa. Aku ingin membuktikan pada seseorang jika aku bisa menjadi model melebihi dia.”

“Dia? Siapa dia?” Penasaran Dongwoon.

Yeonhee menoleh membuat tatapan mereka bertemu. Yeonhee menyunggingkan senyumannya.

“Rahasia Oppa?”

Dongwoon memutar bola matanya malas membuat Yeonhee tertawa.

“Ternyata kau tak seburuk yang kupikirkan Oppa.”

“YA!! Bagaimana bisa kau berpikir laki-laki yang tampan ini sangat buruk huh?”

“Tampan? Ciihh…. Percaya diri sekali kau Oppa.”

“Memang itulah kenyataannya.”Dongwoon mengangkat kedua bahunya dan meminum kopinya kembali.

Yeonhee hanya menggeleng mendengar kenarsisan Dongwoon.

 

*  *  *  *  *

 

Junhyung membuka pintu kamar Hyunseung. Laki-laki itu bisa melihat kakaknya tengah membaca buku di pangkuannya. Mendengar pintu terbuka Hyunseung mendongak dan tersenyum melihat adiknya menghampirinya. Junhyung membalas senyuman kakaknya lega melihat Hyunseung tampak lebih sehat dari sebelumnya. Junhyung duduk di samping ranjang Hyunseung.

“Bagaimana keadaanmu hyung?” Tanya Junhyung.

“Jauh lebih baik.”

“Jun-ya.” Hyunseung menggenggam tangan Junhyung membuat dongsaengnya itu menatapnya.

“Apa polisi belum juga menemukan tubuh Yura?” Junhyung tampak terkejut mendengar pertanyaan Junhyung.

Junhyung terdiam khawatir kesehatan kakaknya akan semakin buruk jika mendengar kebenarannya.

“Jun-ya.” Hyunseung meremas pelan tangan Junhyung menyadarkan adiknya itu.

“Polisi belum menemukannya hyung.” Sesuai tebakan Junhyung, Hyunseung menunduk sedih.

Dengan tangan satunya, Junhyung menepuk pelan tangan Hyunseung.

“Polisinya sedang berusaha mencarinya hyung, hyung tak perlu memgkhawatirkannya.” Junhyung tersenyum memberi kakaknya semangat.

“Terimakasih Jun-ya.” Hyunseung tersenyum tipis membuat Junhyung lega.

Mata Junhyung tertarik pada buku dipangkuan Hyunseung.

“Kau membaca buku apa hyung? Kau tidak membawa majalah porno ke rumah sakit kan?”

TUUKK….

Hyunseung memukulkan buku itu di kepala Junhyung membuatnya meringis kesakitan.

“Mana mungkin aku membawanya kemari dasar bodoh.”

“Lalu buku apa itu?”

Hyunseung menyerahkan buku itu pada Junhyung. Junhyung membuka buku ‘Buku Kenangan Sekolah Dasar Il-Mun’ itu.

“Aku tak menduga akan bertemu dengan sahabatku saat masih kecil.”

“Sahabat hyung? Siapa?”

Hyunseung mencari foto Jieun dan menunjukkannya pada Junhyung.

“Shin Jieun? Sepertinya aku pernah nama ini.” Junhyung tampak sedang mengingat-ingat nama Jieun.

“Tentu saja kau ingat, dia yang selama ini merawatku.”

Mata Junhyung membulat kaget mengetahui siapa yang Hyunseung maksud.

“Maksud hyung, Dokter Shin?”

“Ne. Dulu aku memanggilnya Pink Ranger.”

Pink Ranger? Biar kutebak hyung jadi Red Rangernya bukan?”

“Ne.”

Tawa Junhyung langsung pecah dan Hyunseung memandang adiknya kesal.

TUKKK….

Sekali lagi buku ditangannya melayang di kepala Junhyung menghentikan tawa adiknya itu.

“Apa yang kau tertawakan huh?”

“Tidak. Tidak apa-apa.”

Hyunseung mendengus melihat adiknya. Namun mata Hyunseung tertarik akan sesuatu.

“Tunggu dulu.”

Junhyung memandang kakaknya bingung. Hyunseung memegang dagu Junhyung menggelengkan ke kanan dan kiri.

“Apa kau tidak makan teratur huh?”

Junhyung memutar bola matanya malas. Laki-laki itu yakin sebentar lagi kakaknya pasti akan menceramahinya tentang pentingnya makanan bagi tubuh.

“Jun-ya, bukankah hyung sudah mengatakan berkali-kali, jika hyung tidak ada kau harus tetap makan secara teratur. Makanan itu sangat penting bagi tubuh Jun-ya. Makanan mengandung energi yang sangat membantu kerja tubuh. Jika kau tidak makan bagaimana jika nanti kau sakit huh?”

Dengan malas Junhyung mendengarkan ceramah Hyunseung. Bahkan matanya sama sekali tak fokus pada kakaknya.

“Lihatlah pipimu lebih kurus dari biasanya aku yakin kau tak makan dengan teratur. Aku akan menyuruh Andy hyung untuk nengatur….”

“Tak perlu hyung.” Potong Junhyung.

“Baiklah mulai besok aku akan mengatur makanku, aku tak ingin merepotkan Andy hyung.”

Hyunseung tersenyum puas dan menepuk pelan puncak kepala Junhyung.

“Itu baru Jun-ya ku.”

“Aku harus pulang hyung. Besok aku akan kembali. Sampai jumpa hyung.”

Junhyung memeluk Hyunseung sekilas lalu berbalik meninggalkan Hyunseung.

“Jun-ya.”

Junhyung berbalik mendengar panggilan Hyunseung.

“Ingat Janjimu ne?”

Junhyung menghela nafas berat mendengar hyungnya masih mempermasalahkan makanan.

“Ne. Hyung. Selamat malam hyung.”

“Selamat malam Jun-ya.”

Hyunseung tersenyum hingga Junhyung menghilang dari balik pintu. Tawa Hyunseung memudar lalu laki-laki itu memandang keluar jendela. Langit malam tampak cerah dipenuhi banyak sekali bintang-bintang.

“Dimana kau Yura?” Gumam Hyunseung seraya terus memandang bintang-bintang itu.

 

*  *  *  *  *

 

Jihae mengangkat kedua tangannya yang terasa pegal. Akhirnya satu haripun terselesaikan dan Jihae tersenyum puas bisa menjadi sekertaris yang baik. Jihae memandang pintu direktur, Jihae yakin Sunggyu masih berada di dalam karena sejak tadi Jihae belum juga melihat laki-laki itu keluar. Meskipun sebagai direktur Sunggyu sedikit menyulitkannya karena lelaki itu terus saja berusaha mendekatinya namun saat serius Jihae benar-benar kagum pada laki-laki itu.

Padahal baru satu hari menjabat sebagai direktur namun dia sudah tahu seluk beluk perusahaan Yoon seakan laki-laki itu sudah bekerja bertahun-tahun bekerja di sini. Jihae meneliti kembali mejanya yang sudah di bersihkannya lalu mengambil dokumen yang harus diserahkannya pada Sunggyu. Jihae berdiri dan menghampiri pintu dengan tulisan direktur itu. Jihae mengetuk pintu itu dan terdengar suara Sunggyu memerintahkannya masuk.

Jihae membuka pintu itu dan berjalan masuk. Dilihatnya Sunggyu tengah serius menandatangani dokumen seraya meneliti dokumen tersebut. Jihae lebih kagum pada Sunggyu yang seperti ini.

Sajangnim, ini dokumen kerjasama dengan perusahaan Jang seperti yang sajangnim minta.” Ucap Jihae menyerahkan dokumen itu di meja Sunggyu.

Sunggyu melihat dokumen itu dengan wajah yang terlihat lelah namun wajahnya berubah ceria melihat Jihae di hadapannya. Jihae mulai menelan kekagumannya melihat senyuman jahil Sunggyu itu.

“Apa kau mau pulang Jihae-ssi? Aku akan mengantarmu.” Ucap Sunggyu penuh antusias namun Jihae menggeleng membuat dia kecewa.

“Tidak perlu sajangnim. Aku bisa pulang sendiri. Jika tidak ada yang sajangnim perlukan lagi, saya akan pulang. Saya permisi dulu sajangnim. Selamat malam.”

Sunggyu hanya menghela nafas melihat kepergian Jihae.

Di luar Jihae mengambil tas yamg sudah disiapkannya lalu berjalan menuju lift. Jihae menekan tombol lift dan menunggu lift terbuka. Tepat saat lift terbuka, Jihae begitu terkejut melihat Doojoon berada dalam lift. Doojoon menyunggingkan senyumnya dan dibalas senyuman oleh Jihae. Jihae masuk dalam lift da berdiri di samping Doojoon.

“Bagaimana hari pertamamu bekerja dengan Sunggyu, apa dia menyusahakanmu?” Jihae tertawa mengetahui apa yang Doojopn maksudkan dengan kata ‘Menyusahkan’.

“Kim Sajangnim memang sedikit merepotkanku tapi aku bisa mengatasinya Oppa.”

“Syukurlah. Sudah kuduga dia bekerja dengan baik. Apa kau akan pulang?”

“Ne, Oppa.”

“Bagaimana jika aku mengantarmu?”

“Tidak perlu Oppa, aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Tidak, kau tidak merepotkanku.”

“Terimakasih Oppa.”

Lift terbuka dan mereka sampai di tempat parkir. Langkah Doojoon terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Senyum mengembang melihat nama Jieun tertera di layar ponselnya.

“Ne, chagi. Ada apa?”

“Oppa, kau sudah pulang?”

“Ne.”

“Bisakah Oppa menjemputku, mobilku sedang bermasalah, Please.” Doojoon tersenyum senang mendengar nada manja tunangannya.

“Baiklah Chagi. Kau tunggu ne?”

Doojoon menutup telpon itu dan tatapan beralih pada Jihaeyang berdiri tak jauh darinya. Perasaan bersalahpun merasuki Doojoon.

“Hmm… Jihae-ya. Maafkan aku, aku tak bisa mengantarkanmu.”

“Tidak apa-apa Oppa, Jieun pasti sedang membutuhkanmu.”

“Ne. Mobilnya sedang bermasalah. Maafkan aku Jihae-ya. Aku akan menelpon Sunggyu untuk mengantarmu pulang. Aku yakin dia sangat senang sekali mengantarmu pulang.” Doojoon hendak menelpon Sunggu namun Jihae segera mencegahnya.

“Tidak perlu Oppa, Bukankah sudah kubilang aku bisa pulang sendiri. Selamat malam Oppa.”
Jihae segera pergi sebelum Doojoon memaksanya pulang bersama Sunggyu. Jihae berjalan keluar dari tempat parkir. Udara sejuk menyambut gadis itu. Jihae berjalan menuju halte bus, tempat biasanya Jihae meunggu busnya. Jihae duduk di kursi seraya menengok busnya.

Sebuah mobil audy berwarna perak berhenti tepat di depan Jihae. Kaca mobil itu di turunkan dan Jihae menghela nafas melihat Sunggyu tersenyum padanya.

“Jihae-ah,  masuklah… Aku akan mengantarmu.” Ucap Sunggyu.

“Tidak sajangnim aku bisa pulang sendiri.” Tolak Jihae.

Jihae merasa risih melihat tatapan-tatapan semua orang mengarah padanya dan Sunggyu.

TTIINN…..

Jihae melayangkan tatapan tajamnya saat Sunggyu membunyikan klakson mobilnya.

“Masuklah.” Pinta Sunggyu kembali namun Jihae bersikeras mnggelengkan kepalanya.

TTTIIIINN… TTTIINNN…

Jihae memutar bola matanya mendengar klakson mobil Sunggyu kembali.

“Nona, sepertinya pemuda itu ingin sekali mengantarmu pulang. Cepatlah masuk ke dalammobilnya sebelum suara klakson mobilnya membuat telingaku sakit.” Marah seorang nenek yang duduk di samping Jihae. Akhirnya Jihae dengan terpaksa masuk ke dalam mobil Sunggyu. Senyum kepuasan terlihat di wajah Sunggyu membuat Jihae semakin kesal.

“Apa Doojoon Oppa yang menelpon sajangnim?” Tanya Jihae memulai pembicaraan.

“Tidak, ini memang rencanaku sendiri.” Ucap Sunggyu dengan bangganya.

“Tunggu dulu kau memanggil Doojoon hyung dengan sebutan Oppa kenapa kau tak memanggilku Oppa? Kau juga harus memanggilku Sunggyu Oppa, Jihae-ya.”

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Karena kita baru kenal sajangnim, mana mungkin saya memanggil anda dengan sebutan Oppa?”

“Kalau begitu mari kita berkenalan. Aku Kim Sunggyu.” Jihae menghela nafas mendengar tingkah konyol Sunggyu.

“Bukan mengenal seperti itu sajangnim. Kita baru bertemu, mungkin jika kita sudah mengenal lebih lama aku bisa memanggil sajangnim dengan sebutan Oppa.”

“Benarkah?” Wajah Sunggyu tampak senang.

“Itu hanya kemungkinan sajangnim.”

“Tidak masalah, kau bilang kan keungkinan berarti masih bisa.”

Jihae hanya menggeleng melihat Sunggyu yang tak menyerah.

 

*  *  *  *  *

 

Doojoon mengendarai mobilnya dengan tenang. Tak jarang laki-laki itu mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Doojoon bisa melihat Jieun tersenyum-senyum sendiri seraya melihat ke arah luar jendela.

“Kau terlihat senang hari ini Chagi?” Tanya Doojoon membuat Jieun menoleh dan tersenyum pada tunangannya.

“Apa terjadi hal yang baik hari ini?” Tanya Doojoon kembali.

“Ne Oppa, hari ini aku bertemu dengan teman masa kecilku.”

“Benarkah? Siapa dia apa aku mengenalnya?”

“Apa Oppa percaya jika aku mengatakan Hyunseung adalah teman masa kecilku?”

“Hyunseung? Jang Hyunseung penyanyi itu?” Kaget Doojoon.

“Ne. Awalnya akutidak tahu sampai dia memanggilku Pink ranger.”

Pink Ranger?” Tanya Doojoon sambil menahan tawanya.

“Aishh… Oppa… Kenapa kau malah tertawa.”

“Bukankah Pink Ranger terlalu…hmmm…” Doojoon tampak bingung mencari kata yang tepat.

” Terlalu apa Oppa?i”

“Terlalu aneh.”

“Tentu saja tidak Oppa. Apa Oppa tak pernah melihat power ranger dulu?” Jieun heran melihat wajah Doojoon berubah sedih.

“Aku memang tak pernah menontonnya Jieun-ah. Masa kanak-kanakku dipergunakan untuk mempersiapkan diriku sebagai penerus. Abeoji selalu melarangku melakukan hal yang biasa di lakukan anak sesusiaku.”

Jieun menghela nafas. Untuk pertama kalinya, Jieun merasa baru mengenal tunangannya itu. Meskipun Doojoon orang yang ramah dan selalu bercanda namun Doojoon sangat tertutup dengan masa lalunya. Ditambah kedua orangtua Doojoon meninggal dalam kecelakaan pesawat satu tahun sebelum mereka bertemu. Hal itu membuat Jieun tak bisa mencari informasi dari kedua orangtua Doojoon.

Jieun mengulurkan tangannya menyentuh punggung tangan Doojoon di stir kemudi. Doojoon menangkap tangan Jieun menggenggamnya dan menarik tangan Jieun hingga laki-laki itu bisa mencium tangan tunanganya.

“Maafkan aku Oppa, aku tak bermaksud membuatmu sedih.”

Doojoon tersenyum pada Jieun.

“Tidak masalah chagi. Itu sudah berlalu dan aku sudah melupakannya. Jadi bagaimana bisa kau di sebut Pink Ranger eoh?”

“Saat masuk pertama sekolah Hyunseunglah yang menyapaku pertama kali. Dan dia yang memberikan nama Pink Ranger padaku. Dan aku masih ingat dia yang selalu melindungiku dari anak-anak yang selalu menggangguku.”

“Melindungimu? Pasti rasanya menyenangkan bisa mengenalmu sejak kecil.”

Jieun melepaskan tangannya dan mengerutu.

“Aisshh…. Bagaiman bisa kau cemburu pada hal sekecil itu Oppa. Bukankah Oppa juga sudah mengenalku lama.”

“Tidak selama teman masa kecilmu.”

“Oppa…”

“Ne… Nee… Chagi aku tak akan membahasnya. Apa kau sudah tahu Sunggyu kembali?”

Mulut Jieun terbuka seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kapan Sunggyu kembali?”

“Kemarin dan mulai hari ini dia sudah menjabat direktur di perusahaan.”

“Aisshhh… Aku pasti akan memberinya hukuman karena tak menemuiku.”

“Mana mungkin Sunggyu ingat untuk bertemu denganmu chagi jika sekarang hatinya sedang sibuk dengan seseorang.”

“Maksud Oppa, Sunggyu menyukai seorang gadis?” Doojoon mengangguk mendengar pertanyaan Jieun.

“Benarkah? Siapa gadis itu Oppa?”

“Jihae.”

Wajah Jieun terlihat seperti orang bodoh mendengar jawaban Doojoon.

“Maksud Oppa Woo Jihae?”

“Ne.”

“Sepertinya mereka cocok sekali. Bagaimana kalau kita mengundang mereka makan malam Oppa?”

“Sepertinya itu ide yang bagus.”

Jieun tersenyum senang dan sedang merencanakan double datenya bersama Sunggyu dan Jihae.

 

*  *  *  *  *

 

Jaejoong tersenyum pada semua pemeran drama dan teman-temannya yang membantu mempersiapkan drama ini. Setelah berlatih drama, Jaejoong mengumpulkan semua orang untuk meeting.

“Terimakasih atas kerja keras kalian semua. Jika tidak ada kalian semua aku tak yakin bisa mewujudkan drama ini. Tak terasa sudah tiga minggu kita mempersiapkan semuanya dan artinya tinggal seminggu lagi pementasan dramanya. Karena itu aku mengumpulkan kalian semua di sini untuk memberikan umdangan.” Jaejoong menyerahkan undangan yang di pegangnya pada Miyeon untuk di bagikan pada semua orang yang ada di ruang theater itu.

“Kalian bisa mengundang keluarga kalian untuk memperlihatkan kehebatan kalian dalam drama ini. Atau mungkin teman kalian, terserah kalian mau memberikannya pada siapapun .” Jelas Jaejoong.

Jaejoong tersenyum puas saat melihat Miyeon selesai membagikan undangan itu.

“Untuk latihan hari ini cukup sampai di sini. Sekali lagi terimakasih semuanya.” Jaejoong berdiri lalu membungkuk megucapkan terimaksih.

Semua pemeran dan kru yang lain tampak bersiap untuk pulang. Jaejoong melihat Junhyung menyampirkan tasnya lalu mengambil skateboard miliknya. Minahpun tampak bersiap mengikuti Junhyung.

“Junhyung-ah, Minah.” Panggil Jaejoong membuat langkah Junhyung dan Minah terhenti.

Mereka berbalik dan menatap Jaejoong penuh tanya.

“Ada apa Oppa?” Tanya Minah.

“Tinggallah sebentar, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Junhyung dan Minah kembali duduk dan menunggu semua orang keluar. Setelah semua orang keluar, Jaejoongpun menghampiri Junhyung yang masih duduk dengan gaya santainya. Jaejoong menyerahkan kertas pada Junhyung dan Minah. Terlihat tulisan tangan dengan huruf besar ‘FOUND YOU’.

“Cukup memakan waktu lama membuat lagu itu tapi akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Pelajarilah itu karena lagu itu adalah lagu yang akan kalian berdua mainkan di akhir drama.”

Jaejoong menepuk bahu Junhyung dan Minah membuat kedua adik kelasnya itu menatapnya.

“Aku percaya pada kalian berdua.” Ucap Junhyung.

“Tenang saja Oppa, kami pasti akan berlatih keras.” Ucap Minah meyakinkan Jaejoong. Sedangkan Junhyung terdiam membaca kertas partitur itu. Jaejoong tersenyum lega mendengar ucapan Minah.

“Terimakasih Minah, Junhyung-ah. Sampai jumpa besok.” Ucap Jaejoong meninggalkan Junhyung dan Minah.

Junhyung mengambil skateboardnya dan keluar dari ruang theater. Melihat hal itu Minahpun mengambil tasnya dan menyusul Junhyung.

“Bukankah arti lagu ini bagus Oppa? Menemukan dirimu.” Celoteh Minah seraya berjalan di samping Junhyung.

Junhyung hanya terdiam mendengarkan celotehan Minah. Entah mengapa ada perasaan senang melanda hati Junhyung saat mendengar Minah.

“OMMO!!!” Junhyung menutup telinganya saat mendengar teriakan Minah.

“YA!! Apa kau mau membuat telingaku rusak dengan teriakanmu huh?” Marah Junhyung namun Minah tak bereaksi sedikitpun, gadis itu terus terpaku pada kertas di tangannya.

“Ada apa?” Tanya Junhyung bingung.

Minah mendongak dan masih dengan wajah kagetnya gadis itu menatap Junhyung. Wajah kaget Minah digantikan senyuman lebar gadis membuat Junhyung semakin bingung.

“YA!! Gadis aneh, cepat katakan ada apa kau berteriak seperti itu huh?”

“Jaejoong Oppa benar-benar penulis lagu yang hebat. Bacalah reffreinnya Oppa.” Junhyung mengambil kertas di tangan Minah lalu mulai membaca lirik lagu itu.

“Chajatda nae sarang naega chatdeon saram (I found you, my love, the person I’ve been looking for) , ddeugeopge anajugo shipeo (I want to embrace you passionately) , gamanhi nuneul gamajulae (Stay still and close your eyes) , naega ibmafcheo julsu itge

(So that I can kiss you)”

Dahi Junhyung berkerut saat membaca kalimat terakhir.Junhyung mendongak dan mendapati gadis itu tersenyum lebar.

“Apa Oppa akan melakukannya?” Tanya Minah penuh harap.

Junhyung menghela nafas lalu menempelkan kertas itu di dahi Minah.

“Dasar yeoja yadong.”

Junhyung berbalik meninggalkan Minah yang mengambil kertas itu dan memasang wajah cemberutnya. Sadar Junhyung meninggalkannya Minah segera berlari menyusul Junhyung. Namun tanpa sengaja kaki Minah tersandung sebuah batu hingga tubuhnya terjatuh.

“Aaahh….” Minah meringis sakit membuat Junhyung berbalik.

Junhyung kembali menghela nafas lalu menghampiri Minah. Junhyung membantu Minah duduk. Lutut Minah terlihat lecet dan darah keluar dari luka itu.

“Selain yadong kau juga ceroboh ne?” Minah memajukkan bibirnya mendengar pujian yang menyebalkan itu.

Junhyung mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Minah terus menatap Junhyung mengambil sebuah sapu tangan milik Junhyung dan sebotol air. Junhyung membasahi saputangan itu dengan air lalu dengan perlahan laki-laki itu membersihkan luka Minah seraya meniup luka itu. Minah merasakan dirinya kembali ke masa lalu.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

“Maafkan Oppa Minchan, Oppa janji akan selalu melindungi Minchan.” Junhyung memeluk adiknya penuh kasih sayang.

“Ne Jun Oppa.” Minah menggangguk dan membalas pelukan kakaknya.

Junhyung melepaskan pelukannya saat mendengar langkah ibunya mendekat. Esther meletakan kotak obat lalu berlutut di hadapan Minah. Esther mulai membersihkan luka Minah yang bercampur dengan tanah.

“Appo eomma.” Keluh Minah merasakan perih di kakinya.

“Eomma, biar aku saja yang melakukannya.” Pinta Junhyung.

Esther tersenyum pada putranya lalu menyerahkan handuk yang sudah di basahi. Esther menggeser tubuhnya membiarkan putranya berlutut di hadapan Minah. Junhyung mulai menempelkan handuk itu di luka Minah dan lagi-lagi gadis itu meringis kesakitan. Junhyung mendongak dan khawatir melihat Minah kesakitan. Anak laki-laki itupun meniup luka Minah untuk meredakan perih di luka adiknya seraya membersihkan luka itu. Minah tak lagi meringis kesakitan dan Junhyung kembali mendongak dan tersenyum pada adiknya. Dengan senyuman yang sama Minah menatap kakaknya.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Minah menelengkan kepalanya seraya terus menatap Junhyung yang serius membersihkan lukanya. Kedua sudut bibir Minah terangkat menyunggingkan sebuah senyuman. Gadis itu tak lagi merasakan kesakitan karena terlalu sibuk menatap laki-laki di hadapannya.

Junhyung selesai membersihkan luka Minah lalu mendongak membuat tatapan mereka bertemu. Senyum Minah semakin lebar sedangkan di wajah Junhyung tak ada senyuman sama sekali.

“Dasar Yadong.” Junhyung menonyor dahi Minah sebelum akhir berdiri meninggalkan Minah.

Minah menatap kakinya dan melihat sapu tangan Junhyung masih menempel di kakinya. Minah mengambil saputangan itu dan berdiri menyusul Junhyung dengan langkah tertatih.

“Oppa… Saputanganmu.” Teriak Minah.

“Ambil saja.” Ucap Junhyung tanpa menoleh pada Minah.

Langkah Minah terhenti melihat kepergian laki-laki itu. Gadis itu meremas sapu tangan yang ada di tangannya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kembali.

“YEEE…..” Teriak Minah meloncat bahagia.

Namun wajah bahagia itu berubah menjadi kesakitan merasakan nyeri yang tiba-tiba menyerang kakinya. Namun Minah segera melupakan rasa sakit itu mengingat saputangan di genggamannya dan lagi-lagi Minah tak tahan menyunggingkam senyumannya.

 

*  *  *  *  *

 

Dengan berpegangan pada dua palang besi di kedua sisinya, Hyunseung berusaha melangkahkan kakinya satu persatu. Tak jarang laki-laki itu meringis kesakitan saat merasakan nyeri di kakinya yag terluka.

Tak jauh dari Hyunseung terlihat Jieun yang terus memperhatikan pergerakan laki-laki itu. Melihat peluh yang mengalir di pelipis Hyunseung menandakan laki-laki berusaha keras untuk berjalan.

PLOK….PLOK… PLOK…

Jieun bertepuk tangan tepat saat Hyunseung sampai di ujung satunya.

“Tak kusangka perkembanganmu sangat pesat Oppa.” Ucap Jieun menghampiri Hyunseung dan menuntun laki-laki itu duduk kembali di kursinya.

Hyunseung bisa bernafas lega karena latihannya berakhir sudah.

“Ini semua berkat kau Jieun-ah. Terimakasih Pink Ranger.”

Jieun tersenyum mendengar ucapan Hyunseung.

“Ini semua bukan berkat aku Oppa tapi berkat keinginanmu sendiri yang besar untuk sembuh.”

Jieun mencatat perkembangan kondisi Hyunseung namun kegiatannya terhenti saat tangan Hyunseung menggenggamnya.

“Ini semua benar karena kau Jieun-ah. Jika bukan karena ucapanmu aku pasti masih duduk merenung di ranjang tanpa memiliki semangat hidup sama sekali. Terimakasih.”

“Itu sudah tugasku Oppa. Tapi untukmu sepertinya itu tidak gratis.”

Dahi Hyunseung berkerut menatap Jieun heran.

“Maksudku aku harus membayarnya?” Jieun mengangguk menjawab pertanyaan Hyunseung.

“Baiklah, biar nanti aku akan menyuruh managerku membayarnya.”

“Bukan membayar dengan uang Oppa.”

“Lalu? Aku harus membayarnya dengan apa?”

“Aku akan menunjukkannya.”

Jieun mendorong kursi roda Hyunseung keluar dari tempat latihan.

“Kita mau ke mana Jieun-ah?”

“Aiishh… Kau terlalu banyak bertanya Oppa, nanti kau juga akan tahu.”

Jieun terus mendorong kursi roda itu hingga di depan sebuah pintu.

“Tunggulah di sini Oppa, nanti aku akan kembali.”  Ucap Jieun segera menghilang di balik pintu.

Annyeong Young-ah.”

Young yang tengah menggambar langsung mendongar mendengar Jieun menyapanya. Senyuman gadia itu mengembang melihat Jieun menghampirinya.

“Young-ah. Aku punya hadiah untukmu. Apa kau mau?”

“Hadiah? Aku mau dokter Shin.” Ucap Young mengangguk penuh semangat.

“Baiklah tunggu di sini ne, aku akan mengambilnya.”

Jieun keluar membuka pintu itu. Dia melihat Hyunseung masih duduk di kursiroda menunggu Jieun. Jieun berlari ke belakang Hyunseung dan mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar Young.

Ekspresi kaget tampak di wajah Young melihat sang idolanya berada di hadapannya. Hyunseung terlihat bingung lalu menatap Jieun untuk memberinya penjelasan.

“Namanya adalah Young, dia penggemarmu.” Jelas Jieun.

“Benarkah?”

“Ne.”

Jieun mendorong kursi roda Hyunseung ke samping ranjang Young membiarkan Young begitu dengan pad idolanya.

“Annyeong Young-ah.” Sapa Hyunseung pada Young yang masih terbengong.

“Yong-ah.”

Hyunseung melambaikan tangannya di wajah Young membuat gadis itu tersadar.

“Hyun…. Hyunseung Oppa?” Panggil Young tak percaya.

“Ne.”

“Bolehkah aku memegang wajahmu?”

“Tentu saja.”

Kedua tangan mubgil Young terulur menangkup pipi Hyunseung. Gadis kecil itu membelai pipi Hyunseung seakan memastikan laki-laki di hadapannya adalah Jang Hyunseung, idolanya.

“Kau benar Hyunseung Oppa?”

“Ne. Mendekatlah biar aku bisa memelukmu.”

Young menuruti ucapan Hyunseung dan laki-laki itu langsung memeluk tubuh mungil gadis itu. Young memeluk Hyunseung erat membuat Jieun tersenyum melihat keduanya. Jieun memutuskan untuk diam menjadi penonton membiarkan Hyunseung dan Jieun menghabiskan waktu mereka.

Young mulai menunjukkan gambarnya yang berisi wajah Hyunseung. Laki-laki tersenyum melihat Young begitu antusias menjelaskan pendapatnya saat menonton penampilan Hyunseung yang begitu mengagumkan saat berada di acara music award.

“Bagaimana kau bisa memilihku sebagai idolamu Young-ah?”

“Karena aku menyukai suara Oppa. Suara Oppa begitu lembut membuatku ingin terus mendengarnya. Oppa, apakah kau mau menyanyikan satu lagu untukku, jebal.”

Hyunseung akan menjadi laki-laki paling jahat jika menolak permintaan gadis kecil dengan wajah imutnya.

“Baiklah. Lagu ini khusus untuk Lee Young.”

 

Uriga hamkke deutdeon norae hamkke bodeon yeonghwa

The song we used to listen to together The movie we watched together,
Hamkke geotdeon i georil

the street we used to walk together
Eoneusae illyeon jeone beolsseo illyeon jeone

It has been one year ago – missing those times already one year ago
Geuttaereul geuriwo hago

On snowy days like this, I take out the memories of you that I have forgotten

 

Hyunseung, Eunji, Namjoo – A Year Ago

PLLOK…PLOOKK..PLOOKK….

Young dan Jieun bertepuk tangan tepat saat Hyunseung menyelesaikan nyanyiannya.

“Kau hebat Oppa.” Hyunseung tersenyum mendengar pujian Young.

“Terimakasih Youngie-ah.”

Young dan Hyunseung terlihat sangat akrab. Young mengajak Hyunseung dan Jieun menggambar bersamanya. Jieun merasa senang melihat Hyunseung bisa menangani Jieun dengan baik. Mereka sangat serius menggambar meskipun terkadang di selingi canda tawa yang membuat mereka bertiga tertawa.

“TAARRAA!!!” Sorak Young saat gambar mereka selesai.

“Jadi itu adalah keluargamu Youngie-ah?” Tanya Hyunseung melihat gambar rumah dengan lima orang berdiri di depan rumah.

“Ne Oppa. Ini adalah keluargaku. Ini eomma, dia eomma paling cantik di dunia.” Jelas Young menunduk gambar wanita dengan dress selutut.

“Ini Yeonhee eonnie, wajahnya cantik mirip sekali dengan eomma.” Young menunjuk gadis di samping ibunya.

“Dan ini pasti kau bukan?” Tanya Hyunseung menunjuk gambar gadis kecil di samping Yeonhee.

“Ne Oppa kau benar itu aku. Dan ini adalah Minwoo Appa, dia adalah appa terbaik di dunia.” Young menunjuk gambar laki-laki di sampingnya.

“Lalu siapa laki-laki ini Youngie, apa dia Oppanmu?” Tanya Jieun menunjuk laki-laki di samping ibunya.

Melihatnya wajah Young berubah sedih membuat Jieun bingung.

“Kata Minwoo Appa, dia adalah orang yang eomma suka dan eomma bilang dia adalah appa Young.  Tapi bagi Young Appa Young tetaplah Minwoo Appa.”

Jieun menatap penuh simpati kearah Young. Dengan masalah serumit itu Young masih terlihat bahagia.

“Kau menggambar apa Hyunseung Oppa?” Taya Young memecahkan keheningan.

“Ini adalah keluarga Oppa. Appa, Eomma, aku dan kedua adikku.” Ucap Hyunseung menunjuk setiap gambar.

“Oppa punya dua adik? Pasti sangat menyenangkan. Aku juga ingin memiliki adik.” Sedih Young.

Hyunseung menepuk lembut puncak kepala Young.

“Bukankah Young punya eonnie? Oppa juga ingin memiliki eonnie.” Ucap Hyunseung terlihat seperti anak kecil.

“Benarkah?”

“Ne.”

“Dokter Shin bagaimana dengan gambaranmu?” Tanya Young beralih ke Jieun.

Jieun memperlihatkan gambarnya.

“WOOW…. Gambaran dokter Shin bagus sekali.” Kagum Jieun melihat gambar Jieun yang bagus. Gradasi-gradasi yang dibuat Jieun memperlihatkan gambar itu seakan hidup.

“Terimakasih Youngie-ah.”

“Ini pasti kau benar kan Dokter Shin?” Young menunjuk seorang gadis berdiri di paling pinggir.

“Ne. Kau benar Youngie. Lalu ini adalah eommaku paling cantik di dunia nomor dua setelah eomma Young.”

Seketika Young dan Hyunseung tertawa mendengar candaan Jieun.

“Apa ini appa dokter Shin” Tanya Young menunjuk gambar laki-laki memakai suit hitam.

“Ne.”

“Lalu ini siapa?” Young menunjuk laki-laki yang berdiri di belakang Jieun.

“Itu adalah Oppaku.”

“Aku juga ingin memiliki Oppa.” Sedih Young menunduk.

Hyunseung mengulurkan tangannya mengelus rambutan hitam Young.

“Bukankah aku juga Oppamu Young-ah?” Ucap Hyunseung membuat Young kembali ceria.

“Ne Oppa.” Tangan mungil Young melingkar di leher Hyunseung.

Jieun tersenyum melihat Hyunseung dan Young terlihat seperti kakak adik. Hal itu membuat Jieun merindukan kakaknya. Jieun juga selalu memeluk Dongwoon seperti yang Young lakukan.

Young melepaskan pelukannya terlihat wajahnya begitu bahagia. Young membuka mulutnya menguap.

“Sepertinya ada yang butuh tidur siang.” Ucap Jieun.

“Aku tidak mengantuk. Aku masih ingin bersama Hyunseung Oppa.” Bantah Young.

“Aku akan menjengukmu lagi Young-ah. Sekarang kau harus menurut apa yang dikatakan dokter ne?” Bujuk Hyunseung.

Meskipun masih cemberut Youngpun akhirnya mengangguk. Jieun menyingkirkan meja di atas ranjang Young sedangkan Hyunseung membenarkan selimut gadis kecil itu.

“Oppa janji akan datang menjengukku lagi kan?” Ucap Young mengulurkan jari kelingkingnya.

“Ne. Aku janji.” Hyunseung menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Young.

“Sekarang tidurlah.”

Young mulai memejamkan matanya dan Hyunseung menepuk-nepuk pelan punggung tangan Young hingga gadis itu sampai di alam mimpinya. Setelah nafas Young terlihat tenang, Jieun menghampiri Hyunseung mendorong kursi roda itu keluar kamar Young.

“Kau sangat baik menangani anak kecil, Oppa.” Ucap Jieun seraya mendorong Hyunseung menuju kamarnya.

“Young mirip sekali dengan adikku, jadi aku bisa langsung akrab denganya.”

“Kau memiliki adik perempuan? Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya.” Tubuh Hyunseung membeku mendengar pertanyaan Jieun. Sudah lama Hyunseung tak bertemu dengan adik perempuannya. Bahkan Hyunseung tidak tahu keadaannya sekarang.

“Maaf tidak seharusnya aku bertanya hal selancang itu. Maafkan aku.”

“Tidak masalah Jieun-ah. Hanya saja sudah lama aku tak bertemu dengannya.”

“Apa kau merindukannya?”

Mata Hyunseung menerawang mengingat masa kecilnya.bersama adik perempuannya yang selalu manjapadanya.

“Ne. Aku merindukannya. Terimakasih Jieun-ah sudah mempertemukanku dengan Young.”

“Tak perlu berterimakasih Oppa. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan Young untuk bertemu denganmu.”

“Sepertinya kau sangat menyayanginya.”

Mereka sampai di kamar Hyunseung dan Jieun membantu laki-laki itu kebali ke ranjngnya.

“Aku memang menyayanginya Oppa. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Aku rasa cukup bicaranya. Kau harus istirahat Oppa. Kau sudah berusaha keras hari ini. Sampi jumpa besok Oppa.” Ucap Jieun berbalik meninggalkan Hyunseung.

“Jieun-ah.” Paggil Hyunseung membuat Jieun berbalik.

“Nde?”

“Aku bersyukur bertemu denganmu.” Jieun tersenyum mendengar ucapan Hyunseung.

“Sampai jumpa besok Oppa.”

Kali ini Jieun benar-benar meninggalkan Hyunseung. Lelaki itu mulai merebahkan kepalanya dan matanya yang mulai berat segera terpejam membawanya ke alam.mimpi.

 

*  *  *  *  *

 

Dengan bosan Ahyoung terus menggonta-ganti channel TV di hadapannya. Tak ada satupun acara di TV yang menarik perhatian gadis itu. Ahyoung menyerah dan mematikan TV itu. Ahyoung melihat seluruh ruangan di rumah Yoseob. Gadis itu sudah merapikan semuanya seraya mengisi waktunya menunggu Yoseob kembali.

“Aku pulang.”

Ahyoung mendongak dan tersenyum melihat Yoseob menghampirinya. Yoseob mengenakan seragam dan tas  Yoseob duduk di samping Ahyoung dan membalas senyuman gadis itu.

“Kau terlihat bosan.” Ucap Yoseob menatap Ahyoung penuh selidik.

“Tidak Yoseob-ah.”

“Benarkah tapi wajahmu mengatakan kau bosan.” Ahyoubg hanya tersenyum tanpa dosa mendengar ucapan Yoseob.

“Sedikit.” Yoseob terus menatap Ahyoung seakan mengintimidasi gadis itu.

“Ohh.. Baiklah, aku memang sangat bosan Yoseob-ah. Bahkan aku bingung harus melakukan apa.”

Yoseob tersenyum akhirnya Ahyoung bisa jujur dengan perasaannya. Yoseob menepuk bahu Ahyoung membuat gadis itu menoleh.

“Lain kali jujurlah dengan apa yang kau rasakan Ahyoung-ah. Bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan. Kau mau?”

Kedua sudut bibir Ahyoubg terangkat membentuk senyuman. Lalu gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan Yoseob.

“Baiklah sudah di putuskan kita akan pergi bersama besok.” Ucap Yoseob semangat. Namun wajah Yoseob berubah lesu membuat Ahyoung bingung.

“Ada apa Yoseob-ah?”

Yoseob menatap Ahyoung dengan wajah memelasnya.

“Aku lapar.”

Tawa Ahyoung seketika pecah, bahkan gadis itu sampai memegang perutnya yang terasa sakit.

“YA!! Kenapa kau malah tertawa eoh?”

“Habis wajah Oppa terlihat lucu. Baiklah ayo kita makan aku sudah memasakan spageti untuk oppa.”

“Spageti? Kedengarannya sangat enak.”

Yoseob dan Ahyoung beranjak menuju meja makan. Seperti biasa mereka akan duduk berhadapan dan mulai melahap makanan mereka. Ahyoung tersenyum melihat Yoseob begitu semangat melahap spageti itu. Merasa di lihat Yoseob mendongak dan Ahyoung bisa melihat noda makanan di sudut bibir Yoseob.

“Makanmu seperti anak kecil Oppa, belepotan.” Ahyoung mengulurkan tangannya dan mengusap noda makanan itu hingga hilang.

“Terimakasih Ahyoung-ah.”

Ahyoung kembali memakan spagetinya kembali.

“Ahyoung-ah, apa kau belum mengingat sesuatu tentang siapa dirimu?”

Gerakan tangan Ahyoung terhenti mendengar ucapan Yoseob. Lalu gadis itu menggeleng lemah.

“Apa kau merasa terganggu dengan keberadaanku Yoseob-ah?”

“Tidak. Aku…”

“Mulai besok aku akan mencari pekerjaan biar bisa menyewa apartement kecil.”

“Tidak Ahyoung-ah, bukan begitu. Aku tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu, justru aku senang karena aku tidak kesepian lagi. Kau boleh tinggal sepuasmu di sini Ahyoung-ah, hanya saja aku memikirkan keluargamu yang pasti sedang mencarimu.”

Ahyoung menunduk memikirkan ucapan Yoseob. Ahyoung tidak tahu apakah dia masih memiliki keluarga atau tidak dan hal itu membuat gadis itu begitu kesal karena tak bisa mengingat apapun tentang dirinya yang sebenarnya. Ahyoung merasakan seseorang menggenggam tangannya.

“Tak perlu memaksakan diri. Suatu saat kau pasti mengingat siapa kau sebenarnya.” Ahyoung mengangguk dan merekapun kembali menikmati makanan mereka.

 

*  *  *  *  *

 

Minah membuka pintu ruang kerja Esther. Gadis itu bisa melihat ibunya sibuk menggoreskan pensil di kertas sketsanya. Esther trus menggambar tak menyadari kehadiran Minah. Gadis itu mendekati ibunya dan memeluk ibunya dari belakang.

“Ommo… Minchan kau mengagetkan eomma.” Minah hanya tersenyum dan terus memeluk ibunya.

“Eomma.” Panggil Minah dengan nada manja.

Esther meletakkan pensilnya dan menyentuh tangan Minah.

“Ada apa Minchan-ah, tidak biasanya kau manja seperti ini hmm?”

“Aku punya sesuatu untuk eomma.”

“Sesuatu? Apa itu?”

Minah menyerahkan undangan pada ibunya. Esther mengambil undangan itu dan membukanya.

“Drama musical?” Baca Esther.

“Ne. Dan aku menjadi peran utamanya eomma.”

Esther melepaskan pelukan Minah dan menatap putrimya tak percaya.

“Benarkah?”

“Ne. Eomma.”

“Putri eomma memang hebat.” Esther menangkup kedua pipi Minah dan tersenyum pda putrinya.

“Apa eomma akan datang?”

Esther menunduk sedih membuat Minah bingung.

“Eomma ada peragaan busana satu hari setelah drama musical ini, jadi…..”

Minah menatap Esther penuh harap.

“Tentu saja eomma akan datang.”

Minah tersenyum lebar dan memeluk kembali ibunya.

“Lalu bagaimana dengan appa?” Tanya Minah melepaskan pelukannya.”

“Tentu saja appa akan datang. Sekarang tidurlah, ini sudah malam.”

“Ne eomma.” Minah berjalan meninggalkan Esther.

Minah mengecup pipi ibunya sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan Esther. Esther hanya tersenyum melihat kepergian putrinya.

 

~~~TBC~~~

Akhirnya selesai deh part 4.

Untuk part selanjutnya drama musical akan di mulai….

Tunggu saja ne?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s