Very Important U (V.I.U) Chapter 5

wpid-img1402748020414.jpg

Title                 : Very Important U (V.I.U) Chapter 5

Scriptwriter     : Chunniesthttps://fandreamstory.wordpress.com/

FB                   : https://www.facebook.com/chunniest.fanfiction?ref=tn_tnmn

Twitter             : https://twitter.com/ivanna_putri

Genre              : Mellodrama,  Romance,

Duration          : Chapter

Rating             : PG

Main Cast :

* Shin Jieun (OC)

* Jang Hyun Seung (Beast)

* Yoon Doo Joon (Beast)

* Woo Jihae (Girl’s day)

*Kim Ah Young as Kim Yura (Girl’s day)

Support Cast   :

* Shin Hye Sung / Steve (Shinhwa)

* Son Dong Woon (Beast) as Shin Dongwoon

* Lee Yeon Hee

* Yong Jun Hyung (Beast) as Jang Jun Hyung

* Bang Minah (Girl’s day) as Jang Minah

* Lee Kikwang (Beast)

* Yang Yo Seob (Beast)

* Yoon Sung Ha as Jang Esther

* Mun Eric as Jang Eric(Shinhwa)

Guest :

* Kim Sung Gyu (Infinite)

 

Sumarry : Disaat perasaan cinta mulai tumbuh tapi cinta itu harus di hadapkan pada kenyataan pahit yang membuat cinta tak bisa bersatu

 

Untuk readersdeul mianhae jika menunggu ff ini lama. Kuharap readersdeul menyukainya. Jangan bosan untuk komen ne? Komen itu sangat berarti untuk Author. Happy reading^_^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*  *  *  *  *

 

KLICK…..

Dongwoon tersenyum saat kameranya menangkap gambar Yeonhee dengan rambut di kucir kuda tengah menata pot bunga mawar di jendela.

“Oh.. Ayolah Oppa hentikan. Bukankah kau mau membantuku menata kamar ini? Berhentilah mengambil gambarku.” Kesal Yeonhee berkacak pinggang seraya menatap Dongwoon tajam.

“Baiklah tuan putri.”

Dongwoon meletakkan kameranya di meja lalu mulai memasang bedcover bergambar hello kitty di ranjang mungil dalam kamar itu. Sedangkan Yeonhee mulai membersihkan menyapu lantai yang agak kotor itu.

“Jadi kamar ini untuk adikmu?” Tanya Dongwoon sambil terus melaksanakan tugasnya.

“Ne, Oppa. Besok dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Jadi sebelum pemotretan aku akan menjemputnya.”

“Bagaimana jika aku mengantarmu? Kau bilang adikmu di rawat di Rumah sakit International Seoul, mungkin aku bisa bertemu adik perempuanku juga di sana.”

Yeonhee menghentikan kegiatannya dan mengamati laki-laki yang sibuk memasang sarung bantal yang bergambar sama.

“Oppa memiliki adik perempuan? Kenapa Oppa tak pernah bercerita?”

“Kau tak pernah bertanya.” Jawab Dongwoon dengan gaya cueknya.

“Apa dia juga dirawat di rumah sakit itu?”

“Tidak, dia seorang dokter di sana.”

“Benarkah?”

“Ne. Mungkin aku bisa memperkenalkannya padamu jika kita bertemu nanti. Jadi kita menjemputnya bersama besok?”

Yeonhee berlari ke arah Dongwoon dan memeluk laki- laki itu.

“Gomawo Oppa. Young pasti suka bertemu denganmu.”

“Eehheemm…. Chagi, kau sedang tidak menggodaku kan? Ingat sekarang kita ada dimana?”

Yeonhee melepaskan pelukannya dan baru sadar jika mereka berada di atas ranjang. Gadis itu menatap namja dihadapannya justru memajukan bibirnya seakan hendak mencium gadis itu. Yeonhee mendorong Dongwoon dan meninggalkan laki-laki itu.

“Hentikan pikiran kotormu itu Oppa, kita harus segera membereskan kamar ini.”

Yeonhee kembali menyapu lantai sedangkan Dongwoon sibuk menata ranjang untuk Young tempati. Sudah tiga minggu Dongwoon dan Yeonhee selalu bersama, gadis itu selalu merasakan perhatian Dongwoon. Yeonheepun teringat kejadian semalam.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Dongwoon menarik Yeonhee memasuki sebuah kedai yang ramai pengunjung. Merekapun menempati kursi kosong.

“Apa kau pernah kemari?” Tanya Dongwoon.

Karena Yeonhee menghabiskan masa remaja hingga dewasa di Amerika tentu saja gadis itu tak pernah mengunjungi kedai itu.

“Tidak. Aku belum pernah kemari.”

“Di sini ramennya sangat enak, kau pasti akan menyukainya. Tunggu sebentar ne?”

Dongwoon meninggalkan Yeonhee untuk memesan makanan mereka. Yeonhee melihat sekeliling dan merasa sedikit risih dengan tatapan semua pengunjung itu ke arahnya.

“Ini dia.” Ucap Dongwoon memyerahkan dua mangkuk ramen di meja.

“Satu hal lagi.” Dongwoon kembali meninggalkan Yeonhee.

Menatap ramen yang mengeluarkan uap panas membuat Yeonhee tak sabar merasakannya. Di udara yang sangat dingin seperti saat ini akan terasa cocok makan ramen panas.

“Tara…” Dongwoon kembali dengan sebuah botol dan dua cangkir kecil di tangannya.

Yeonhee menatap bingung botol itu lalu tatapannya beralih pada Dongwoon meminta penjelasan pada laki-laki itu.

“Kau tidak tahu ini apa?”

Yeonhee menggeleng.

“Ini sake. Bukankah kau sudah cukup umur untuk meinumnya bukan?” Tanya Dongwoon penuh selidik.

“Tentu saja Oppa, kau pikir aku masih gadis sekolahan eoh?”

Dongwoon tertawa melihat Yeonhee kesal.

“Ayo kita makan.”

Merekapun akhirnya memakan ramen itu. Tepat seperti ucapan Dongwoon, ramen itu begitu enak dan Yeonhee menyukainya. Ramen yang pedas dan hangat itu langsung membuat tubuh Yeonhee hangat. Yeonhee mengamati Domgwoon menuangkan sake di kedua cangkir lalu Dongwoon mengambil dua cangkir itu dan menyerahkan satu cangkir pada Yeonhee.

“Mari kita bersulang.” Ucap Dongwoon mengangkat cangkirnya.

Yeonheepun mengikuti Dongwoon dan terdengar dentingan kedua cangkir itu beradu. Merekapun meminum sake itu hingga habis. Cairan itu membuat tubuh mereka semakin hangat namun rasanya yang aneh membuat dahi Yeonhee berkerut.

“Bagaimana rasanya?”Tanya Dongwoon dan Yeonhee mengacungkan ibu jarinya.

Yeonhee kembali melanjutkan makannya sedangkan Dongwoon masih menatap gadis di hadapannya.

“Yeonhee-ah.”

Yeonhee mendongak. “Ada apa Oppa?”

Dongwoon menggenggam tangan Yeonhee dan menatap gadis itu intens.

“Aku menyukaimu Yeonhee.”

Tubuh Yeonhee mematung mendengar pengakuan Dongwoon yang begitu tiba-tiba. Dongwoon masih terdiam menunggu reaksi Yeonhee. Bagi Yeonhee, Dongwoon adalah laki-laki yang baik dan penuh perhatian seperti yang diimpikan semua gadis namun ada satu hal yang tak bisa membuat gadis itu menyukai Dongwoon ataupun laki-laki lainnya. Yeonhee menarik tangannya.

“Aku rasa ini terlalu cepat Oppa, aku ingin kita tetap berteman. Maafkan aku.” Yeonhee menunduk merasa tidak enak pada laki-laki itu. Dongwoon mengulurkan tangannya mengacak puncak kepala gadis itu.

“Kau  tak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan. Dan kau benar kurasa ini terlalu cepat. Ayo kita makan lagi sebelum ramen ini menjadi dingin.”

Yeonhee tersenyum lalu kembali makan.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Meskipun Yeonhee menolaknya tapi Dongwoon tetap bersikap seperti biasanya seakan kejadian semalam tak pernah terjadi.

“Apa yang kaupikirkan?” Tanya Dongwoon memeluk Yeonhee dari belakang.

“Memikirkan peragaan busana minggu depan. Aku takut tak bisa menampilkan yang terbaik Oppa.”

“Kau bisa Yeonhee-ah. Aku yakin kau bisa. Saat di panggung nanti kau hanya perlu mengeluarkan aura cantik dan eleganmu saja. Jangan kau perdulikan semua orang. Anggap saja kau sedang berjalan sendiri.”

“Mengucapkannya memang mudah Oppa, melakukannya yang sulit. Apa Oppa akan datang?”

“Hmm… Sepertinya aku tidak bisa, aku harus memotret untuk majalah Stars di pulau Jeju minggu depan.”

Yeonhee menunduk kecewa mendengar jawaban Dongwoon. Selama ini Dongwoon yang selalu mengajari Yeonhee untuk mengeluarkan aura kecantikan Yeonhee. Gadis itu khawatir tak bisa melakukannya jika Dingwoon tidak ada.

“Tapi aku akan berusaha pulang secepatnya.”

“Kuharap kau menepati janjimu Oppa.”

“Aku akan menepati janjiku jika kau memenuhi permintaanku Yeonhee-ah.”

“Apa itu?”

KRRYYUUUKKK…KKRRYYUUUKK…

Tiba-tiba terdengar bunyi aneh dari perut Dongwoon. Seketika Yeonhee tertawa mengetahuinya.

“Aku megerti Oppa. Aku akan memasak untukmu.” Yeonhee dan Dongwoonpun keluar dari kamar yang sudah rapi itu.

 

*  *  *  *  *

 

Junhyung tengah memilah-milah kaset yang hendak di belinya. Dia mengambil satu kaset dan tersenyum melihat gambar kakaknya di cover kaset itu. Junhyung mengambil kaset itu lalu memcari kaset yang lain. Sebenarnya Junhyung bisa saja meminta album kaset dari kakaknya tapi ada kepuasan tersendiri saat bisa membeli kaset kakaknya dengan uangnya sendiri. Junhyung mengamati satu persatu memilih kaset apa yang hendak di belinya.

“Aku akan menunggu di sini.”

Kegiatan Junhyung terhenti saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Junhyung menoleh ke sekeliling toko kaset mencari sosok orang yang di kenalnya. Dia berjalan menyusuri toko itu. Tubuh Junhyung terpaku melihat sosok gadis berambut pendek tengah memilih kaset.

Perlahan Junhyung mendekati gadis itu. Perasaan tak percaya merasuki hati Junhyung. Bagaimana bisa gadis yang selama ini di cari sudah berdiri membelakanginya. Tangannya terulur menyentuh bahu gadis itu.

“Yura noona?” Panggil Junhyung.

Gadis itu berbalik dan menatap bingung Junhyung. Nafas Junhyung tercekat melihat gadis itu mirip sekali dengan Yura.

“Yura Noona.” Panggil Junhyung masih terkejut.

“Yura? Maaf tapi anda salah orang. Namaku bukan Yura.”

“Tidak mungkin. Wajahmu mirip sekali dengan Yura noona.”

“Tapi saya bukan Yura. Nama saya Ahyoung.”

Junhyung memegang kedua bahu Ahyoung dan mengguncangkannya.

“Kau Yura Noona aku yakin itu. Akhirnya aku menemukanmu noona.” Junhyung menarik Ahyoung dalam pelukannya.

“Anda salah ahjushi. Aku bukan Yura.” Ahyoung mendorong Junhyung dan berlari meninggalkannya.

Junhyung yang merasa yakin gadis itu adalah Yura langsung berlari mengejarnya. Keluar dari toko, Junhyung mengedarkan pandangannya yang dipenuh dengan orang-orang berlalu lalang memenuhi mall. Junhyung terus berlari mencari Yura. Dia semakin kesal karena kehilangan jejak gadis itu.

Ahyoung bersandar di pilar dengan nafas terengah-engah. Ahyoung teringat ucapan laki-laki yang di temuinya tadi.

“Yura? Apa itu namaku?” Pikir Ahyoung.

Nafas Ahyoung tercekat mengingat wajah laki-laki tadi sama dengan wajah laki-laki yang ada di foto bersama Yoseob.

“Kenapa kau menunggu di sini? Bukankah kau bilang kau akan menunggu di toko kaset?” Ahyoung medongak dan mendapati Yoseob sudah berdiri di hadapannya.

“Tadi… Aku … Aku merasa kepanasan jadi aku memutuskan menunggu di sini saja. Yoseob-ah, bisakah kita pulang?”

“Ada apa? Apa kau lelah?”

Ahyoung mengangguk lemah.

“Baiklah, ayo kita pulang.” Yoseob menarik Ahyoung meninggalkan mall itu.

 

*  *  *  *  *

 

Jieun tersenyum geli melihat Sunggyu tak melepaskan pandangannya dari Jihae, sedangkan Jihae terlihat tenang tak memperdulikan Sunggyu yang duduk di sampingnya. Saat ini Doojoon, Jieun, Jihae dan Sunggyu tengh makan di sebuah restoran atas undangan Jieun.

“Kau kejam sekali tak menemuiku saat kau pulang Sunggyu-ah?” Tanya Jieun sukses mengalihkan perhatian Sunggyu.

Sunggyu menunjukkan cengiran tanpa dosanya.

“Maaf noona salahkan saja Doojoon Hyung yang memberiku banyak perkerjaan sampai melupakan noonaku.”

“YA!! Kenapa jadi menyalahkanku?” Sahut Doojoon yang tak terima di salahkan membuat Sunggyu dan Jieun tertawa.

“Oh ya Jihae-ah, Doojoon Oppa bilang kau menjadi sekretaris Sunggyu. Benarkah?” Tanya Jieun.

“Ne.”

“Berhati-hatilah Jihae-ah, Sunggyu bisa membuat hati wanita tersentuh dengan sikap manisnya.”

“Aigoo… Apa aku juga menyentuh hati noonaku ini eoh?” Goda Sunggyu.

Doojoon menarik bahu Jieun menunjukkan sikap protektifnya. “Hati siapa yang kau sentuh huh?”

Tawa renyah Sunggyu terdengar.

“Aiggoo… Hyung kau masih saja cemburu seperti dulu. Kau tenang saja hyung aku sedang ingin menyentuh hati gadis lain.” Ucap Sunggyu menatap gadis di sebelahnya.

“Hatiku tidak akan semudah itu tersentuh sajangnim.” Tolak Jihae.

“Aigoo….. Baru kali ini kulihat Sunggyu tak bisa menaklukkan hati seorang gadis.” Olok Jieun.

“Tunggu sebentar aku akan membuatmu terpana melihatku Woo Jihae.” Ucap Sunggyu meninggalkan meja makan.

“Apa yang akan dilakukan anak nakal itu?” Tanya Doojoon memeluk Jieun dari belakang.

“Entahlah, Sunggyu selalu penuh dengan kejutan.” Jawab Jieun terus mengamati Sunggyu menuju panggung.

Tanpa pasangan itu sadari Jihae menatap mereka dengan tatapan penuh iri.

Sunggyu menaiki panggung dan membisikkan sesuatu pada pemain musik lalu laki-laki itu mengambil mic yang ada.

“Selamat malam semua, Aku adalah Kim Sunggyu. Aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk seorang gadis yang duduk di sana. Dengarkanlah Woo Jihae.”

Lantunan piano mulai bermain dengan lembut membuat seluruh penonton menikmatinya termasuk Jihae.

 

geudaen meongotman boneyo naega baro yeogi inneunde

You only look at far places, I’m right here you know?
jogeumman gogaereul dollyeodo nal bol su isseul tende

if you’d only turn your head, just a little, you could see me
cheoeumen geudaero johatjyo

How it was at first was good
geujeo bol suman itdamyeon

if you could just see me
hajiman kkeuteomneun gidarime ije nan jichyeo ganabwa

But it seems I’m getting tired now of a never ending wait
han georeum dwie hangsang naega isseonneunde geudae

I was always one step behind you

yeongwonhi nae moseup bol su eomnayo

will you forever be unable to see me?
nareul barabomyeo naege sonjitamyeon..

while looking at me, while speaking with you hands…
eonjena sarang haltende

I will always love you

Kim Sunggyu – Dream Of A Doll- OST Reply 1997

(The Beatle Code 2)

 

wpid-tumblr_m8o4q9eow61qmmbz9.gif

Jihae tampak terpana mendengar nyanyian Sunggyu. Suara Sunggyu yang begitu lembut dan penghayatan yang mendalam merupakan perpaduan pas yang membuat lagu itu begitu merdu di dengar. Tepuk tangan meriah menyadarkan Jihae dan gadis itupun ikut bertepuk tangan.

“Sepertinya dia benar-benar menyukaimu Jihae-ah. Tak pernah kulihat Sunggyu menyanyikan lagu untuk seorang gadis.” Ucap Doojoon.

“Sunggyu laki-laki yang baik Jihae-ah, pertimbangkanlah.” Timpal Jieun.

Bagaimana aku bisa mempertimbangkan laki-laki lain jika hatiku dipenuhi oleh kau Doojoon Oppa. Sedih Jihae dalam hati.

“Bagaimana Jihae-ah? Apakah hatimu tersentuh?” Tanya Sunggyu kembali ke kursinya.

“Tentu saja sejak tadi Jihae tak hentinya melihatmu.” Sahut Jieun membuat kedua pipi Jihae merona malu.

“Jieun-ah.” Kesal Jihae.

“Benarkah Jihae-ya?” Tanya Sunggyu namun Jihae terlalu malu mengakui kebenaran ucapan Jieun.

“Kau sudah membuat Jihae malu chagi. Bagaimana kalau kita pulang, ini sudah larut abeonim bisa membunuhku jika tak segera membawamu pulang.” Jieun tertawa mendengar candaan Doojoon.

“Kau berlebihan Oppa, appa tak mungkin sekejam itu. Baiklah, Sunggyu-ah antarkan Jihae dengan selamat ne, aku juga akan membunuhmu jika melukai sahabatku.” Ancam Jieun.

“Hyung apa kau tidak takut bertunangan dengan keluarga pembunuh hyung?” Jieun melayangkan tatapan tajamnya sedangkan Doojoon hanya tersenyum.

“Sudah Chagi, ayo kita pulang. Sampai jumpa Jihae-ah.”

“Sampai jumpa lagi Jihae-ah.” Pamit Jieun sebelum akhirnya Doojoon menariknya pergi.

“Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak ingin Jieun noona membunuhku.” Ucap Sunggyu menarik tangan Jihae pergi.

Dalam mobil Sunggyu, Jihae tampak terdiam masih memikirkan ucapan Doojoon. Sudah cukup lama Jihae memendam perasaannya pada Doojoon. Gadis itu menoleh ke samping dan melihat Sunggyu menyetir dan senyuman masih terlihat di wajahnya. Haruskah Jihae mulai melupakan Doojoon dan membuka hatinya untuk laki-laki di sampingnya itu.

“Apa aku sudah benar-benar menyentuh hatimu sampai-sampai kau terus melihatku.” Jihae menjadi salah tingkah karena Sunggyu menangkap basah sudah memperhatikan laki-laki itu.

Sunggyu mengulurkan tangannya mengenggam tangan Jihae. Biasanya Jihae akan menarik tanganya namun kali ini gadis itu tak melakukannya.

“Aku tahu kau menyukai Doojoon hyung.” Jihae menatap Sunggyu kaget namun lelaki itu hanya tersenyum pada Jihae.

“A-apa yang kau bicarakan sajangnim? Mana mungkin aku menyukai Doojoon Oppa.” Jihae mengalihkan tatapannya terlihat salah tingkah.

“Ingat Jihae-ah, aku bukanlah orang bodoh. Selama ini aku selalu memperhatikanmu dan kulihat tatapanmu sangat berbeda saat melihat Doojoon hyung.”

Jihae terdiam, gadis itu tak bisa mengelak lagi. Sunggyu mempererat genggamannya membuat Jihae menoleh.

“Tadi kau bisa melihatnya sendiri bukan Doojoon hyung sangat mencintai Jieun noona, jadi lupakanlah dia Jihae-ah.”

Jihae terdiam. Ucapan Sunggyu memang benar tapi kenyataan itu begitu menusuk hati Jihae. Bahkan saat itu air matanya pun terancam jatuh. Jihae membuang mukanya tepat saat air mata itu jatuh. Dia tak ingin Sunggyu melihatnya menangis.

“Aku… Aku sudah berusaha melupakannya, tapi entah mengapa itu sangatlah sulit.” Sunggyu menghela nafas mendengar ucapan Jihae dengan nada yang tercekat.

“Bagaimana jika aku membantumu?”

Jihae menoleh dan menatap Sunggyu kaget. “Sajangnim?”

Sunggyu membalas tatapan Jihae dan tersenyum. “Tapi tentu saja itu tidak gratis.”

“Nde?”

“Syarat pertama yang harus kau lakukan adalah berhentilah memanggilku sajangnim dan panggil Oppa.”

Jihae mendengus tak percaya.

“Ada apa? Aku benar-benar serius ingin membantumu.”

Jihae terdiam memikirkan keputusan apa yang harus di ambilnya.

“Baiklah Oppa.”

“YYYYEEEE……….” Teriak Sunggyu senang.

“YA!! Kau membuat telingaku sakit dasar…” Marah Jihae namun Sunggyu hanya tersenyum senang.

 

*  *  *  *  *

 

“Jun-ya…. Jun-ya…” Panggil Hyunseung menyadarkan adiknya yang sedari tadi melamun.

“Nde hyung?”

“Ada apa denganmu? Dari tadi kulihat kau melamun terus. Apa ada masalah?”

Junhyung teringat kejadian siang tadi. Ingin sekali Junhyung mengatakan pada kakaknya jika dia menemukam kekasihnya yang hilang, tapi karena Junhyung belum menemukan kepastian gadis itu Junhyung khawatir kakaknya semakin parah kondisinya. Padahal Dokter Shin sudah mengatakan jika tidak ada masalah tiga hari lagi kakaknya bisa pulang.

“YA!! Jun-ya kau melamun lagi? Ada denganmu? Apa karena gadis pengganggu yang selalu kauceritakan itu?”

Mendengar Hyunseung menyinggung Minah, Junhyung jadi teringat tujuan pemuda itu kemari. Junhyung mengambil undangan dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Hyunseung. Hyunseung mengambil undangan itu dam membacanya.

“Kau ikut drama musical?” Tanya Hyunseung tak percaya.

“Ne. Apa hyung akan datang?”

Hyunseung tersenyum dan menepuk bahu Junhyung.

“Tentu saja mana mungkin hyung melewatkan kesempatan melihatmu menjadi pangeran.”

“Aku tidak berperan sebagai pangeran hyung.”

“Lalu kau berperan jadi siapa?”

“Aku berperan sebagai guru musik yang menyukai muridnya.”

“Biar kutebak, murid itu adalah gadis yang selalu mengganggumu bukan?”

Hyunseung tertawa melihat ekspresi kaget adiknya.

“Terkadang kau sangat menakutkan saat mengetahui segalanya hyung.”

“Kau terlalu berlebihan Jun-ya. Aku kan hanya menebak. Kulihat sepertinya kau menepati janjimu. Badanmu tidak sekurus kemarin.” Puas Hyunseung mengamati adiknya.

“Aku tak ingin mendengar ceramahmu hyung.”

“Aishh.. Kau ini.” Kesal Hyunseung.

“Aku harus pulang hyung. Aku akan kembali besok.” Junhyung bangkit berdiri.

“Hati-hati ne?”

“Ne.”

Junhyung berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Jun-ya.”

“Ada apa lagi hyung?” Malas Junhyung berbalik kembali.

“Kau tidak memberikan pelukan pada hyungmu?”

Junhyung memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan kakaknya yang menurutnya konyol.

“Kau sudah besar hyung. Untuk apa aku harus memelukmu?”

“Tapi aku menginginkannya, sudah lama aku tak memeluk Jun ku.” Rajuk Hyunseung membuat Junhyung menghela nafas.

Akhirnya Junhyungpun menghampiri Hyunseung dan memeluk kakaknya itu. Hyunseung tersenyum puas dan membalas pelukan adiknya.

“Selamat malam Hyung.” Junhyung melepaskan pelukannya dan meninggalkan Hyunseung.

“Selamat malam Jun-ya.” Ucap Hyunseung sebelum Junhyung keluar dari kamarnya.

 

*  *  *  *  *

 

Minah menggosokkan kedua tangannya dan menghela nafas untuk kesekian kalinya. Minah berjalan mondar-mandir dengan wajah yang gelisah. Tubuhnya sudah dibalut seragam sekolah lengkap dengan kaos kaki panjang hingga lutut dan sepatu berwarna putih.

“Tidak bisakah kau berhenti. Kau membuat kepalaku pusing.”

Minah menoleh dan melihat Junhyung duduk dengan santainya di sofa. Minah terpesona melihat Junhyung berpenampilan beda dari biasanya. Lelaki itu mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung hingga sikunya. Kacamata bening bertengger di hidung laki-laki itu menambah kesan dewasa padanya.

“Kau terlihat keren Oppa.” Puji Minah.

“Dan kau tidak jelek.”

Senyum Minah mengembang, untuk pertama kalinya Minah mendengar pujian Jungyung. Meskipun kata-kata itu biasa saja namun bagi Minah itu adalah kata yang luar biasa bagi laki-laki yang selalu bersikap dingin padanya.

Tiba-tiba Junhyung berdiri dan menghampiri Minah. Nafas Minah tercekat saat merasakan tangan Junhyung mengacak puncak kepalanya.

“Kau pasti bisa melakukannya  dengan baik.” Ucap Junhyung sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

Minah berkedip tak percaya dengan sikap Junhyung. Minah menepuk kedua pipinya menyadarkan gadis itu jika dia tidak sedang bermimpi.

“YYEEE….” Seru Minah melompat kegirangan.

Di luar Junhyung hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Minah.

Minah masih tersemyum-senyum senang hingga akhirnya terdengar suara ketukan pintu membuat gadis itu menoleh. Senyum gadis itu lenyap melihat Kikwang memasuki ruangan itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ketus Minah.

Kijwang tak terpengaruh dengan sikap dingin Minah. Lelaki itu justru tersenyum dan menghampiri Minha. Satu tangan Kikwang yang berada di punggungnya terulur dan satu buket bunga mawar putih terbungkus rapi terlihat sangat cantik. Minah masih memandangi bunga itu.

“Aku datang untuk menyemangatimu.” Ucap Kikwang.

Dengan ragu Minah menerima bunga itu.

“Terimakasih Kikwang-ah.”

“Semoga berhasil Minah.”

“Kikwang-ah.” Kikwang yang hendak pergi langsung berbalik mendengar panggilan Minah.

“Berhentilah bersikap baik padaku Kikwang-ah. Hal itu justru membuatku semakin sedih karena terus menyakitimu.”

Kikwang kembali menghampiri Minah. Tangan Kikwang terulur menangkup kedua pipi Minah.

“Jangan bersedih Minah. Kau tidak menyakitiku. Asal kau bahagia akupun akan bahagia. Ingat pertama kali kita bertemu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia bukan?”

“Kau… Kau masih mengingatnya?” Kaget Minah.

“Aku tak pernah melupakan waktu yang kuhabiskan bersamamu Minah. Aku akan selalu menyimpannya dalam ingatanku.” Kikwang tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan Minah.

Minah masih memikirkan ucapan Kikwang dan gadis itupun teringat pertama kali dia bertemu dengan Kikwang.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

“Cepat berikan permen itu.” Perintah seorang bocah laki-laki mendorong tubuh Minah kecil.

” Tidak mau. Permen ini untuk Jun Oppa.” Minah menyembunyikan permen itu.

“Cepat berikan, gadis cerewet.”

Bocah laki-laki itu merebut paksa permen itu. Tawa puas terdengar saat dia mendapatkan permen yang diinginkannya.

“Kembalikan….. Itu untuk Jun Oppa.” Ucap Minah berusaha merebut kembali permen itu.

Dengan kasar bocah itu mendorong tubuh Minah hingga terjatuh.

“Mulai sekarang permen ini adalah milikku.” Bocah laki-laki itu meninggalkan Minah kecil yang mulai terisak.

Bahu Minah bergetar dan mulai menangis. Dengan punggung tangannya gadis itu terus mengucek matanya yang berair.

“Ini.”

Minah membuka matanya dan melihat Kikwang kecil mengulurkan permen miliknya.

“Aku sudah memberi anak nakal itu pelajaran. Ambillah ini permenmu bukan?”

Dengan gemetar Minah mengambil permen itu kembali.

“Te-terimakasih.”

Kikwang menunduk dan terus menatap Minah. Merasa ditatap, Minahpun membalas tatapan Kikwang dan menatap laki-laki itu bingung.

“Aku Lee Kikwang berjanji akan membuatmu bahagia.” Kikwang mengulurkan jari kelingkingnya.

Minah tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya di jari Kikwang.

“Aku Jang Minah akan menunggu Lee Kikwang menepati janjinya.”

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Minah tak menyangka Kikwang masih mengingat janji yang sudah lama diucapkannya. Selama ini Likwang selalu berada tak jauh dari Minah dan dia selalu memperhatikan Minah meskipun gadis itu selalu bersikap dingin padanya. Minah menatap bunga mawar permberian Kikwang di tangannya.

“Mianhae Kikwang-ah.” Sedih Minah.

 

*  *  *  *  *

 

“Kau terlihat bahagia sekali yeobo.” Ucap Eric melihat istrinya yang tak henti-hentinya tersenyum.

“Tentu saja kita kan akan melihat putri kita bermain drama musical dia pasti akan sangat hebat.”

Eric menggenggam tangan istrinya.

“Kau benar, putri kita pasti sangat hebat.”

Eric dan Esther menyusuri lorong sekolah Minah menuju auditorium sekolah. Langkah mereka serentak berhenti saat melihat seorang laki-laki berdiri di ujung lorong dengan kruk di tangannya. Laki-laki itu terlalu sibuk memberi tanda tangan pada gadis di sekelilingnya.

“Bukankah itu Hyunseung? Syukurlah sepertinya keadaannya sudah membaik.” Senang Esther melihat Hyunseung terlihat lebih baik daripada terakhir wanita itu melihat putranya.

“Lebih baik kita cepat sebelum acara di mulai.” Ucap Eric berjalan lebih dulu tak ingin membahas Hyunseung.

Esther hanya bisa menghela nafas dengan sikap suaminya yang sangat dingin pada putranya sendiri. Esther mengikuti Eric menuju auditorium. Tepat saat jarak Eric sangat dekat barulah Hyunseung mendongak. Ekspresi terkejut tercetak jelas di wajah Hyunseung. Namun lelaki itu segera membungkuk saat Eric melewatinya.

Wajah Eric tampak angkuh dan lelaki itu langsung melewati Hyunseung tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki itu.

Hyunseung menegakkan tubuhnya dan melihat kepergian Eric dengan tatapan kecewa. Hyunseung sudah menduga ayahnya akan bersikap angkuh jika bertemu dengannya. Hyunseung menghela nafas dan berbalik. Tatapannya bertemu dengan tatapan ibunya yang begitu lembut. Hyunseung membungkuk memberi hormat pada Esther. Saat lelaki itu menegakkan tubuhnya kembali, dia bisa melihat ibunya tersenyum. Senyuman yang selalu dirindukan Hyunseung.

Esther menempelkan ibu jari ke bibirnya lalu menghadapkan ibu jari itu pada putranya. Hyunseungpun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan ibunya. Meskipun jarak mereka tidak dekat namun gerakan itu seakan menempelkan ibu jari keduanya.

Esther segera menyusul suaminya namun sebelum pergi Esther melambaikan tangan pada Hyunseung.

“Bukankah sangat mengejutkan bertemu dengannya di sini?” Tanya Esther saat langkahnya sejajar dengan Eric.

Eric terdiam tak menjawab pertanyaan Esther.

“Yeobo berhentilah bersikap angkuh seperti ini. Tidakkah cukup kau menghukumnya selama sepuluh tahun?”

Langkah Eric terhenti dan di memegang kedua bahu Esther.

“Ini bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan hal itu Esther. Soal anak itu, bukankah sudah kukatakan untuk melupakannya? Aku paling tidak suka mendengar protes darimu Esther.”

Esther membuka mulutnya hendak melayangkan protes pada suaminya, namun niatnya terhenti saat mendengar pengumuman.

“Bagi setiap tamu undangan di harap segera memasuki ruang auditorium, karena acara akan segera di mulai. Terimakasih.”

“Kita kemari untuk menonton pertunjukkan minchan jadi jangan membahas lagi anak itu.” Ucap Eric berjalan memasuki auditorium.

Esther hanya bisa menghela nafas melihat suaminya yang begitu keras kepala. Wanita itu menggelengkan kepalanya lalu menyusul suaminya.

Dalam auditorium sudah berkumpul banyak tamu undangan. Esther merangkulkan tangannya di lengan Eric dan tersenyum pada orangtua murid lain. Mereka terlihat seperti pasangan yang harmonis tak akan ada satu orangpun yang menduga mereka baru saja bertengkar. Eric dan Esther segera duduk di tempat duduk mereka menunggu pertunjukkan dimulai.

Pintu di seluruh auditorium di tutup dan lampupun di matikan  hanya lampu di atas panggung sajalah yang masih menyala. Tirai merah terbuka dan memperlihatkan Minah tengah duduk di depan piano. Matanya menatap ragu ke arah piano itu. Dengan tangan gemetar Minah memainkan piano itu. Namun permainan piano Minah sangat buruk hingga akhirnya gadis itu menyerah dan menghentak-hentakan tuts piano itu dengan kesal.

“Yiseul-ah.” Panggil seseorang membuat Yiseul dan seluruh penonton melihat seorang laki-laki dewasa menghampiri Minah.

“Appa tahu kau begitu kesal karena tak bisa bermain piano lagi. Karena itu appa memanggil seorang guru piano untukmu.”

“Guru piano?” Dari nada Minah terdengar gadis itu tak menyukai kata ‘guru piano’.

“Apa Abeoji mengira permainan pianoku selama ini sangat jelek?” Ketus Minah.

“Tentu saja permainan pianomu sangat bagus Yiseul. Abeoji selalu bangga padamu. Tapi semenjak kecelakaan itu, tangan ini harus terluka dan tak bisa bermain dengan baik.” Laki-laki itu menggenggam tangan Minah yang gemetar.

“Karena itu, abeoji ingin guru piano ini bisa mengembalikan bakatmu kembali.”

Minah terdiam merasa perkataan laki-laki itu benar.

“Abeoji akan memanggilkannya.” Ucap laki-laki itu beranjak pergi.

Sepeninggal lelaki itu Minah menatap kedua tangannya yang masih gemetar. Tiba-tiba ayah Yiseul kembali bersama seorang laki-laki. Nafas Esther tercekat sedangkan rahang Eric mengeras mengenali laki-laki itu adalah Junhyyng. Meskipun sudah sepuluh tahun mereka berpisah namun wajah Junhyung tak berubah dari terakhir mereka bertemu.

“Benarkah itu Junhyung yebo?” Tanya Esther tak percaya.

“Wajahnya memang tak berubah.”Jawab Eric singkat.

Esther tersenyum bahagia melihat putra keduanya yang sudah bertumbuh besar. Esther masih ingat Junhyung yang dulu sering manja padanya sekarang sudah terlihat tampan. Ingin sekali Esther berlari ke panggung dan memeluk putranya itu namun tentu saja Esther tak bisa melakukannya. Berbeda dengan Esther yang tampak bahagia, wajah Eric tak menunjukkan ekspresi apapun membuat orang lain tak bisa menebak apa yang sedang lelaki itu pikirkan.

Pasangan suami istri Jang itu tampak tenang melihat adegan demi adegan yang di mainkan Minah dan Junhyung. Adegan itu terus berlanjut hingga Junhyung memainkan piano dan menyanyikan lagu ‘You only Love’ yang pernah dinyanyikannya saat latihan. Di akhir lagu Junhyung menatap Minah lekat-lekat dan menggenggam kedua tangan Minah.

wpid-2.png

“Aku tahu ini sangat gila. Tapi aku menyukaimu Yiseul-ah. Maukah kau menjadi musik dalam hidupku?”

Esther begitu terkejut dengan ucapan Junhyung. Meskipun saat ini Junhyung sedang berakting menyatakan perasaannya pada pemeran gadis yang di mainkan Minah, namun di lubuk hagi Esther begitu takut hal itu terjadi. Dengan takut-takut Esther mencuri pandang ke arah suaminya. Namun wajah Eric tetap saja sama datarnya seperti tadi.

Adegan drama itu berlanjut saat Junhyung dan Minah berjalan dengan background taman.  Esther tersenyum melihat Junhyung menggandeng Minah seperti yang di lakukan putranya itu saat kecil.

Mereka terlihat bahagia tampak dari senyuman yang mereka perlibatkan, namun kebahagiaan itu lenyap seketika saat mendengar Teriakan ayah Yiseul. Junhyung dan Minah terkejut melihat kedatangan ayah Yiseul dengan wajah yang penuh amarah. Ayah Yiseul menghampiri sepasang kekasih itu.

BUGGHHH…..

Ayah Yiseul melayangkan pukulannya hingga Junhyung terjatuh.

“Abeoji…” Minah memandang kesal ke arahnya lalu segera berlutut menolong Junhyung.

“Aku mempercayakan putriku padamu agar dia bisa kembali menjadi pianist profesional seperti dulu, tapi kau justru memanfaatkan putriku. Kau tak pantas di sebut guru. Aku tak akan memaafkanmu. Ayo kita pulang Yiseul-ah.” Ayah Yiseul menarik tangan Minah.

“Tidak abeoji. Aku tidak akan pulang.” Tolak Minah.

“Aku tidak akan membiarkannya. Kau harus pulang.” Ayah Yiseul kembali menarik Minah menjauhi Junhyung.

Minah berusaha meronta melepaskan tangan ayah Yissul. Junhyung berdiri dan berlutut di hadapan ayah Yiseul.

“Saya mohon ijinkan kami bersama tuan. Saya menyukai putri anda.” Ucap Junhyung dengan penuh keyakinan

“Kau….” Ayah Yisdul menarik kerah kemeja Junhyung.

“Lancang sekali kau menyukai putriku. Tidak akan kuiijinkan kau bersama putriku.”

BUGGHH….

Lagi-lagi ayah Yiseul melayangkan tinjunya hingga terjatuh. Minah berteriak melihat kejadian itu. Namun Minah tak bisa menolongnya karena ayah Yiseul terlebih dulu menariknya peegi.

Adegan berubah memperlihatkan kesedihan Junhyung dan Minah yang terpisahkan tak dapat bersatu. Panggung itu di bagi menjadi dua dengan pembatas papan di tengah panggung. Di sebelah kiri terlihat background kamar Minah yang begitu berantakan karena barang-barangnya bertebaran di lantai. Minah terlihat duduk seraya memeluk lututnya. Di pipinya tercetak jelas jejak-jejak air mata.

Di sisi lain memperlihatkan kamar Junhyung yang berantakan penuh dengan kertas. Junhyung terlihat dalam posisi yang sama dengan Minah. Di tangan Junhyung menggenggan sebuah kertas partitur dengan tulisan ‘You Only Love’ lagu yang di ciptakannya untuk Minah.

“Oppa…”

“Yiseul-ah…”

Panggil keduanya bersamaan lalu menyembunyikan wajah sedih mereka di tengah lutut. Tiraipun di tutup, mempersiapkan adegan selanjutnya. Hati Esther benar-benar was-was menunggu adegan selanjutnya.

Tirai di buka dan memperlihatkan Minah terbaring lemah di ranjang. Ayah Yiseul duduk di samping Minah dengan wajah sedihnya. Lelaki itu manatap Minah penuh dengan kecemasan.

“Yiseul-ah…. Kenapa jadi seperti ini? Bangunlah sayang.” Tangis ayah Yiseulpun pecah namun Minah tak bergerak sedikitpun.

“Yi-Yiseul-ah?”

Ayah Yiseul menoleh dan melihat Junhyung tampak shock melihat keadaan Yiseul. Ayah Yiseul berdiri dan menghampiri Junhyung. Merekapun berhadapan, Junhyung tak melepaskan pandangannya dari Yiseul sedangkan ayah Yiseul menatap Junhyung dengan tatapan yang sulit di baca. Tiba-tiba ayah Yiseul berlutut di hadapan Junhyung.

“Maafkan aku. Bisakah kau mengembalikan putriku kembali aku mohon.” Ucap ayah Yiseul memegang tangan Junhyung.

“Tuan Choi.”

“Aku mohon, kembalikan putriku, sadarkan dia. Aku berjanji akan membiarkan kalian bersama.”

Junhyung menatap ayah Yiseul sekilas lalu beranjak menghampiri Minah. Junhyung menggenggam tangan Minah dan menatap sedih gadis itu.

“Yiseul-ah. Ini aku Junsook Oppa. Bangunlah Yiseul-ah. Jangan tinggalkan aku Yiseul-ah. Aku mohon.”

Junhyung menarik tangan Minah dan mencium punggung tangan Minah.

“Bangunlah Choi Yiseul.”

Junhyung menunduk tak dapat menahan tangisnya. Junhyung begitu terkejut saat merasakan jemari dalam genggamannya bergerak. Junhyung mendongak dan melihat mata Minah bergerak lalu terbuka.

“Junsook Oppa.”

Junhyung mendekati wajah Minah yang mulai membuka matanya.

“Ne, aku di sini Yiseul-ah.”

“Oppa jangan pergi lagi ne?”

“Aku tidak akan pergi kemana-mana Yiseul-ah.”

Junhyung dan Minah saling berpandangan dan tersenyum bahagia. Tirai tertutup dan Esther menoleh. Wanita itu bisa melihat rahang Eric mengeras menandakan lelaki itu tengah menahan amarahnya. Adegan terakhir Minah dan Junhyung memainkan piano bersama.

 

soljiki cheoeumen mollaseo

Honestly I didn’t know at first

wuyeonhan mannam isseotjiman

Though there was a coincidental meeting

ijekkeot nan gippeum bodan

Until now more than happiness

apeumeul deo mani baewosseo

I learned a lot more about pain

nunmuri manatdeon najiman

I had a lot of tears

neo egen usseuman julgeoya

But I’ll only give you laughter

ijeseoya nae banjjokeul chajatnabwa

I finally found my other half

Ireoke gaseumi ddwigo itjana

My heart is racing like this

chajatda nae sarang naega chatdeon saram

I found you, my love, the person I’ve been looking for

ddeugeopge anajugo shipeo

I want to embrace you passionately

gamanhi nuneul gamajulae

Stay still and close your eyes

naega ibmacheo julsu itge

So that I can kiss you

saranghae neol saranghae

I love you, I love you

chajatda nae gyeote dul han saram

I found you, the one person to stay beside me

JYJ – FOUND YOU

 

Junhyung menoleh pada Minah. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya menempel di dahi gadis itu. Tubuh Minah mematung terkejut dengan tindakan Junhyung.

“Gomabda nae gyeote wa jwoseo (Thank you for coming to my side…)” Ucap Junhyung.

BRRAAKK….

Junhyung menoleh mendengar suara kursi terbanting. Mata laki-laki itu menyipit melihat punggung laki-laki dan perempuan yang berjalan keluar ruang auditorium. Junhyung merasa tidak asing dengan punggung itu.

Terdengar suara tepuk tangan menyadarkan Junhyung. Semua pemain dan kru yang lain keluar dari balik panggung. Junhyung, Minah dan yang lain berbaris menghadap penonton. Bersama-sama mereka menunduk dan meneriakkan ucapan terimakasih kemudian tiraipun diturunkan menyembunyikan para pemain.

“Terimamasih atas kerja keras kalian semua. Lebih baik kita beristirahat dulu. Ayo semua.” Seru Jaejoong.

Semua kru dan pemainpun masuk menuju belakang panggung. Jaejoong menghampiri Junhyung dan melingkarkan tangannya di bahu Junhyung.

“Aku tidak ingat membuat adegan cium kening.” Tubuh Junhyung mematung.

Memang benar dalam naskah tertulis adegan terakhir setelah Junhyung mengucapkan sesuatu pada Minah, Junhyung hanya perlu tersenyum dan menatap Minah.

“Apa kau mengambil kesempatan Junhyung-ah?” Goda Jaejoong.

“Aniyo hyung.”

“Lalu untuk apa kau mencium kening Minah eoh?”

“Aku hanya improvisasi hyung.”

“Junhyung suka Minah…. Jun.. hhmmppp…” Junhyung langsung membekap mulut Jaejoong sebelum orang lain mendengarnya.

“Ada apa Oppa?” Tanya Minah melihat tingkah aneh kedua laki-laki itu.

“Ti-tidak ada apa-apa Minah.” Jawab Junhyung masih membekap mulut Jaejoong.

Minah hanya menggidikkan bahu lalu menyusul yang lain ke belakang panggung.

“Aisshh…. Kau bisa membunuhku.” Gerutu Jaejoong saat Junhyung melepaskan bekapannya.

“Salahmu sendiri bicara aneh hyung.” Ucap Junhyung meninggalkan Jaejoong.

Junhyung menyusul yang lain menuju belakang panggung. Dahi lelaki itu berkerut melihat para kru dan pemain itu bergerombol seraya berbisik-bisik. Junhyung menghampiri kerumunan itu dan betapa terkejutnya laki-laki itu melihat objek utama teman-temannya itu.

“Kau hebat sekali Jun-ya. Aku tak menyangka kau bisa berakting.” Siapa lagi yang akan memanggil panggilan kekanak-kanakan itu selain kakak laki-lakinya.

“Hyung?”

“Aku bangga padamu Jun-ya.” Ucap Hyunseung memeluk adiknya.

“Lepaskan hyung, kau mempermalukanku di depan yang lain. Dan bisakah berhenti memanggilku seperti itu?” Ucap Junhyung melepaskan pelukan kakaknya.

“Aiishh… Maaf semuanya, Junhyung memang pemalu tapi sebenarnya dia adalah adikku yang baik. Aku ingin berterimakasih pada kalian semua karena sudah mengajari adikku yang bodoh ini berakting.”

Junhyung mendengus kesal mendengar pidato kakaknya.

“Karena itu sebagai ungkapan terimakasih, aku membelikan kalian semua Pizza, jadi kita bisa berpesta.”

“YYYEEE…..” Teriak semua gembira sedangkan Junhyung hanya bisa menggeleng melihat kakaknya begitu semangat.

 

*  *  *  *  *

 

DRRTT……DDRRRTT…..DRRT…

Yeonhee mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Saat ini seorang penata rambut tengah sibuk merapikan rambut Yeonhee untuk pemotretan kali ini. Yeonhee tersenyum membaca nama ‘Dongwoon’ dilayar ponselnya.

“Apa kau merindukanku?” Suara bass Dongwoon terdengar menggelitik telinga Yeonhee.

“Sedikit Oppa.”

Yeonhee tertawa mendengar Dongwoon mendengus kesal.

“Hanya sedikit?”

“Ani, Oppa tapi aku sangat merindukanmu. Young juga merindukanmu. Dia tak henti-hentinya menanyakan kapan kau kembali.”

Hening itulah yang Yeonhee dengar. Gadis itu langsung merasa ada yang tak beres.

“Ada apa Oppa? Apa ada masalah?”

“Hmm… Yeonhee-ah, sepertinya aku tak bisa pulang cepat seperti dugaanku. Pemotretannya di perpanjang hingga minggu depan. Maafkan aku tak bisa melihat peragaan busana besok.”

Jujur, Yeonhee memang sangat kecewa dengan ketidakhadiran Dongwoon besok. Yeonhee tidak yakin dia bisa berlenggak-lenggok di atas panggung dengan baik. Peragaan busana besok adalah pertama kalinya bagi Yeonhee dan hal itu membuat gadis itu gugup.

“Aku yakin kau pasti bisa melakukannya Yeonhee-ya.” Ucap Dongwoon menyadarkan gadis itu.

“Tapi aku gugup Oppa. Besok adalah pertama kalinya untukku. Bagaimana jika aku melakukan kesalahan?”

“Jangan memikirkan kesalahan Yeonhee. Pikirkanlah kau adalah gadis tercantik di atas panggung dan anggaplah para penonton itu tidak ada.”

“Kau yakin Oppa?”

“Ne tentu saja kau bisa melakukannya. Jangan perdulikan  orang lain. Mengerti?”

“Ne Oppa.”

“Aku harus kembali bekerja. Besok aku akan menelponmu lagi. Bye.”

“Ne Oppa, bye.”

Yeonhee kembali meletakkan ponselnya setelah Dongwoon menutup telponnya.

“Kau berkencan dengan Dongwoon?” Tanya Hyera salah satu teman satu model dengan Yeonhee.

“Jika maksudmu kami memiliki hubungan khusus jawabannya adalah tidak. Kami hanya berteman.”

“Benarkah? Aku tidak percaya. Kalian sangat dekat selama ini. Apa kau tak memiliki perasaan suka padanya Yeonhee-ah?”

“Dongwoon adalah laki-laki yang baik, perhatian dan juga romantis. Tentu saja semua orang menyukainya. Tapi aku sedang menunggu seseorang Hyera. Jadi aku tak bisa menyakiti hati Dongwoon Oppa.”

“Apa orang itu kekasihmu?”

“Bukan. Tapi dia adalah orang pertama yang aku suka.”

“Maksudmu cinta pertamamu?” Tanya Hyera dan dijawab anggukan kepala oleh Yeonhee.

“Aku tak percaya kau menolak Dongwoon. Semua model ingin sekali menjadi kekasihnya tapi kau justru menolaknya.”

“Aku tak bisa membohongi perasaanku jika aku masih menunggu seseorang Hyera.”

“Ya.. Ya… Whatever. Apa kau tahu besok sponsor terbesar untuk fashion show akan datang melihat jadi jangan membuat Jang Sajangnim mengamuk Yeonhee-ah.”

“Ne. Aku mengerti.”

 

*  *  *  *  *

 

Sunggyu terduduk dengan wajah pucat dan tatapan yang kosong. Terdengar teriakan-teriakan anak kecil di ruang bermain itu. Sunggyu menatap anak-anak penuh semangat itu dengan tatapan ketakutan seakan anak-anak itu adalah monster-monster kecil. Jihae masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas yang berisi susu.

“Jihae eomma datang.” Seru bocah laki-laki berlari menghampiri Jihae dan memeluk kaki Jihae.

Mendengar ucapan anak laki-laki itu, semua anak-anak yang lain pun berseru lalu menghampiri Jihae dan memeluk kaki Jihae. Jihae tertawa meskipun kewalahan harus menjaga keseimbangan nampan di tangannya.

“Aiggoo… Kalian bisa menjatuhkan gelas susu kalian. Apa kalian mau minum susu?”

“NEE…..” Seru anak-anak itu penuh dengan semangat.

“Kalau begitu kalian harus duduk yang manis dulu baru eomma akan memberi kalian segelas susu.”

Ucapan Jihae bagaikan sihir yang membuat anak-anak itu menuruti ucapan Jihae. Mereka segera duduk di lantai dan bersiap-siap menerima segelas susu mereka. Jihae tersenyum melihat anak-anak yang begitu lucu itu. Jihae segera membagikan susu itu satu persatu.

“Selesai minum semua gelas harus di taruh di meja ne? Jika tidak, eomma akan menjadi monster yang akan menggigit kalian, mengerti?”

“NE EOMMA.” Jawab anak-anak itu serentak.

Jihae menaruh nampan di meja lalu menghampiri Sunggyu dan duduk disamping laki-laki yang sudah kehilangan jiwanya itu.

“Bukankah kau bilang ingin membantuku Oppa? Tapi dari tadi kulihat kau hanya duduk dan menatap anak-anak itu ngeri.”

Sunggyu baru menoleh dan terlihat wajahnya pucat hal itu membuat Jihae tak dapat menahan tawanya.

“Jangan kau katakan, laki-laki tampan yang bisa menguasai seluruh perusahaan Yoon dalam waktu singkat, sangatlah bodoh menghadapi anak-anak.”

Seketika Sunggyu menunduk karena ucapan Jihae memang benar. Jihae kembali tertawa, gadis itu bahkan memegang perutnya karena sakit.

“Aigo… Oppa, aku baru tahu kelemahanmu. Kenapa kau begitu takut pada malaikat-malaikat kecil itu Oppa?”

“Malaikat? Kau bilang mereka malaikat? Aigo… Jihae-ya, lihatlah mereka adalah monster perusak dan berisik.”

Sunggyu menunjuk seorang anak laki-laki menendang tumpukan mainan hingga hancur berantakan. Lalu ada anak-anak lain yang terus berteriak keras hingga bisa telinga terasa sakit mendengarnya.

“Mereka memang selalu menghancurkan mainan jika sedang bosan oppa, tapi sebenarnya mereka seperti malaikat berhati emas yang sangat polos. Terkadang aku merasa kasihan pada mereka karena harus ditinggal kedua orangtuanya bekerja.” Ucap Jihae memandang penuh kasih pada anak-anak itu.

“Oppa…. Kucirku lepas.” Tiba-tiba seorang gadis kecil menghampiri Sunggyu dan menarik-narik tangannya.

Sunggyu memandang gadis kecil itu bingung lalu menoleh pada Jihae meminta pertolongan gadis itu.

“Kau hanya perlu mengikat rambutnya ke belakang Oppa. Perlahan saja, jangan menariknya keras. Kau pasti bisa Oppa.” Semangat Jihae.

Sunggyu dengan susah payah menelan ludahnya menatap gadis kecil itu. Lalu Sunggyu mengambil karet di tangan gadis itu. Gadis itu langsung berbalik dan duduk di hadapan Sunggyu. Perlahan Sunggyu menarik rambut gadis itu ke belakang menyisirnya dengan tangan hingga rapi. Setelah tangannya mengengam rambut panjang gadis itu dengan hati-hati Sunggyu mengikatnya dengan karet. Sunggyu tersenyum melihat hasil kerjanya yang tidak terlalu buruk. Gadis itu berdiri dan berbalik.

CUPP…..

Gadis itu mencium pipi Sunggyu.

“Terimakasih Oppa.” Ucap gadis itu lalu kembali bermain.

“Lihat dia seperti malaikat bukan?” Goda Jihae.

“Hanya satu saja.”

Jihae tertawa mendengar Sunggyu masih saja keras kepala. Tawa Jihae terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Jihae mengambil ponselnya dahinya berkerut saat melihat nama ‘Doojoon Oppa’ di layar ponselnya. Jihae ragu menerima telpon itu tapi rasa penasaran mengalahkan larangan di hati Jijae.

“Ne, ada apa Oppa?”

“Jihae-ah, apa aku mengganggumu?”

“Tidak Oppa. Ada apa?”

“Besok apa kau ada acara?”

“Tidak ada”

“Baguslah. Maukah kau menemaniku mencari kado?”

Jihae tersenyum senang membayangkan besok dirinya akan pergi dengan Doojoon.

“Baiklah Oppa. Memang kado untuk siapa?”

“Jieun. Dua hari lagi dia akan berulangtahum dan aku bingung memberikan kado apa. Jadi maukah kau membantuku memilihkannya?”

Wajah Jihae berubah kecewa mendengar kado itu untuk Jieun.

“Jihae-ah, bagaimana?” Tanga Doojoon menyadarkan Jihae.

“Ne. Oppa. Aku akan membantumu mencarikan kado untuk Jieun.”

“Baguslah aku akan menjemputmu besok. Terimakasih Jihae-ah.”

Tangan Jihae terjatuh lemas di pangkuannya. Ponselnya memperlihatkan sambungan telpon dengan Doojoon terputus.

“Apa Doojoon hyung yang menelponmu?” Tanya Sunggyu menyadarkan Jihae.

“Ne.”

“Apa dia meminta bantuanmu mencari kado untuk Jieun noona?”

“Ne.”

“Dan kau mau membantunya?”

“Ne.”

“Gadis bodoh. Apa kau berpikir akan baik baik saja mencarikan kado tunangan orang yang kau sukai huh?”

“Aku tak bisa menolaknya Oppa, Doojoon Oppa membutuhkan bantuanku.”

“Tapi apa kau tak memikirkan perasaanmu huh? Bukankah kau bilang ingin melupakannya?”

“Tidak masalah dengan perasaanku. Akan lebih menyakitkan lagi bagiku jika melihat Doojoon Oppa sedih.”

Jihae melihat rahang Sunggyu mengeras dan tatapan tajamnya seakan bisa menusuknya.

“Terserah kau saja, gadis bodoh.” Ucap Sunggyu beranjak pergi.

Jihae menghela nafas menatap punggung Sunggyu menjauh hingga menghilang dari balik pintu.

 

*  *  *  *  *

 

Jieun berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan menenteng tas di bahunya. Penampilan Jieun sedikit berantakan karena sudah seharian gadis itu berada di rumah sakit dengan banyak pasien mengantri untuk diperiksanya.

“Dokter Shin?”

Jieun mendongak dan terkejut melihat Andy menghampirinya.

“Andy-ssi ada apa kau di sini? Apa terjadi sesuatu dengan Hyunseung Oppa?” Cemas Jieun.

“Tidak, dokter Shin. Aku kemari untuk bertemu denganmu dokter Shin.”

“Bertemu denganku?”

“Ne, aku ingin mengajak anda ke suatu tempat.”

“Mengajakku?” Kaget Jieun dengan tatapan curiga.

“Tidak… Tidak… Anda jangan berpikiran yang aneh dulu dokter Shin. Hyunseung memintaku untuk menjemput anda.”

“Hyunseung Oppa?”

“Ne. Dia sedang menunggu di restoran Jepang tak jauh dari sini.”

“Aishh… Bagaimana bisa dia merepotkanmu untuk menjemputku Andy-ssi.”

“Tidak masalah dokter Shin, aku kan managernya. Lagipula, dia belum bisa mengendarai mobil sendiri.”

“Kau benar, kakinya belum pulih seperti semula. Baiklah aku akan pergi denganmu. Jam kerjaku juga sudah habis.”

Jieun mengikuti Andy menuju mobilnya.

“Aku ingin mengucapkan terimakasih pada anda Dokter Shin.” Ucap Andy setelah mobil yang dikendarinya melaju keluar dari halaman rumah sakit.

“Berterimakasih untuk apa Andy-ssi?”

“Karena berkat Dokter Shin, Hyunseung bisa tersenyum dan kembali bersemangat lagi.”

“Kau tak perlu berterimakasih Andy-ssi itu sudah menjadi tugasku.”

“Kudengar dari Hyunseung anda teman masa kecilnya, benarkah?”

“Ne. Kami bersama sejak masuk taman kanak-kanak hingga akhir sekolah dasar. Karena appa harus pindah ke Jepang, akupun harus ikut dan aku tak lagi bertemu dengannya.”

“Apa anda menyukai Hyunseung, dokter Shin?”

“Nde? A.. Aniyo… Kami hanya berteman.” Jawab Jieun salah tingkah.

“Hanya berteman? Tapi kenapa wajahmu memerah dokter Shin?”

Jieun memegang kedua pipinya yang memang terasa panas.

“Benarkah?”

“Ne. Hyunseung juga memiliki perasaan yang sama.”

“Apa maksudmu Andy-ssi?”

“Hyunseung bilang, anda adalah cinta pertamanya.”

Nafas Jieun tercekat mendengar ucapan Andy. Dulu Jieun memang menyukai Hyunseung tapi itu saat mereka bersama dulu. Tapi Jieun tak menyangka jika Hyunseung juga menyukainya.

“Yupp!! Kita sudah sampai. Masuklah dokter Shin, Hyunseung sudah menunggu di dalam.”

“Ne. Terimakasih Andy-ssi.”

Jieun keluar dari mobil Andy dan membungkuk mengucapkan terimakasih pada Andy. Jieun menatap restoran jepang didepannya. Terlihat restoran itu ramai pengunjung. Jieunpun berjalan masuk ke dalam restoran lalu mengedarkan pandanganya mencari sosok Hyunseung. Gadis itu tersenyum melihat Hyunseung melambai ke arahnya. Jieun pun segera menghampiri Hyunseung dan duduk di depan laki-laki itu.

“Jadi ada acara apa kau memanggilku kemari eoh?” Tanya Jieun.

“Aku hanya tak ingin makan di restoran sendirian.”

“Bukankah ada managermu, Oppa?”

“Andy hyung tak suka masakan Jepang. Dan aku ingat kau pernah bilang suka sekali dengan masakan Jepang.”

Jieun tersenyum mendengar Hyunseung masih mengingat ucapannya saat Hyunseung masih di rawat di rumah sakit. Hyunseung pernah bertanya makanan kesukaan Jieun, dan gadis itupun mengatakan jika dia suka sekali dengan masakan Jepang, karena dulu dia pernah tinggal di Jepang jadi gadis itu sudah terbiasa dengan masakan negeri sakura itu.

“Kau benar Oppa, aku memang menyukai masakan Jepang.”

“Jadi apa yang harus aku pesan?”

Tawa Jieun meledak melihat betapa polosnya Hyunseung tentang masakan Jepang.

“Aigo… Oppa. Kau mengajakku makan di restoran Jepang tapi tak tahu apa yang ingin kau pesan?”

“Ini pertama kalinya aku masuk restoran Jepang.” Ucap Hyunseung menunduk malu.

“Baiklah, bagaimana kalau kita pesan Sukiyaki saja. Kau pasti akan menyukainya Oppa.”

“Baiklah.”

Lalu seorang pelayan datang dan mencatat pesanan Jieun dan Hyunseung. Selesai mencatat pelayan itu beranjak pergi.

“Kau terlihat lelah Jieun-ah.”

“Hari ini banyak sekali pasien yang harus kuperiksa Oppa. Bagaimana denganmu Oppa? Apa yang kau lakukan di waktu luangmu Oppa?”

“Seharian ini aku sibuk di studioku membuat lagu.”

“Apa kau akan kembali bernyanyi Oppa?”

“Tentu saja bernyanyi adalah bagian dari hidupku Jieun-ah, aku merasa kosong jika tidak bernyanyi.”

“Aku senang kau bisa bangkit kembali Oppa. Aku yakin para penggemarmu pasti senang mendengar kau kembali bernyanyi.”

“Terimakasih Jieun-ah.”

“Sama-sama Oppa.”

“Jieun-ah?”

“Nde?”

“Jika aku mengadakan konser nanti, apakah kau mau datang menontonnya? Aku ingin menunjukkan bagian dari hidupku padamu.”

“Hmmm…” Hyunseung menatap penuh harap pada Jieun yang tengah berpikir.

“Baiklah Oppa, aku akan menontonnya.”

Hyunseung tersenyum dan menggenggam tangan Jieun membuat tubuh gadis itu mematung. Apalagi saat ini pikiran gadis itu teringat ucapan Andy jika Hyunseung menganggapnya cinta pertamanya.

“Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih padamu Jieun-ah. Kau terlalu banyak membantuku.'”

“Kau hanya perlu mentraktirku Oppa.” Ucap Jieun berusaha melupakan ucapan Andy.

“Dan kurasa aku sudah melakukannya.”

Merekapun tertawa bersama.

 

*  *  *  *  *

 

“Berhentilah tersenyum seperti itu. Kau membuatku takut. ” Junhyung bergidik ngeri melihat Minah tak henti-hentinya tersenyum lebar.

Mereka berjalan bersama menyusuri halaman sekolah. Hari sudah gelap tentu saja sekolah sudah sepi. Mereka baru saja selesai berpesta dengan pemain drama lain. Berkat Hyunseung yang menyediakan seluruh pesta membuat semuanya bersenang-senang tanpa sadar waktu.

“Aku sedang bahagia Oppa tentu saja aku tersenyum terus.”

Junhyung hanya menggeleng dan melanjutkan langkahnya dengan santai.

“Oppa, sebenarnya kenapa tadi kau mencium?” Langkah Junhyung terhenti mendengar pertanyaan Minah.

Minah menatap Junhyung penuh harap.

“Apa kau mulai menyukaiku Oppa?” Goda Minah.

Junhyung menatap Mimah membuat senyuman Minah memudar. Junhyung melangkah mendekati Minah. Senyuman Evil muncul di bibir Junhyung dan untuk pertama kalinya Minah merasa takut melihat Junhyung. Minah melangkah mundur menjauhi Junhyung.

“OMMO…” Teriak Minah saat merasakan kakinya membentur batu dan hampir terjungkal.

Dengan cepat Junhyung menarik tangan Minah dan satu tangannya menahan punggung gadis itu agar tidak terjatuh. Nafas Minah tercekat melihat wajah mereka begitu dekat.

wpid-tumblr_mphy8qqwah1r5iugro4_250.gif

“Bagaimana jika aku memang menyukaimu?” Sekali lagi Minah kembali dikejutkan ucapan Junhyung yang berbeda dari biasanya.

“MINAH!!” Panggil seseorang membuat pelukan mereka terlepas.

Minah menoleh dan mendapati Kikwang menghampiri mereka.

“Kenapa kau masih di sini Kikwang-ah?” Ketus Minah.

“Abeonim menyuruhku membawamu pulang, ada yang ingin abeonim bicarakan denganmu.” Ucap Kikwang dengan nada serius.

Minah menatap Junhyung yang tampak cuek seperti biasanya. Ingin sekali Minah mendengar penjelasan Junhyung tapi mendengar ayahnya ingin berbicara dengannya sampai mengirim Kikwang mencarinya pasti ada hal penting yang dibicarakan.

“Baiklah, aku akan pulang bersamamu Kikwang-ah. Sampai besok Junhyung Oppa.” Ucap Minah mengikuti Kikwang.

Minah dan Kikwang masuk ke dalam mobil lalu mobil itu melesat meninggalkan sekolah. Di dalam mobil, Minah tersenyum mengingat ucapan Junhyung. Hatinya seakan ingin berteriak mengekspresikan perasaannya. Di sampingnya, Kikwang menatap Minah bukan dengan tatapan sedih namun terlihat penuh simpati. Kikwang menggenggam tangan Minah membuat gadis itu menoleh.

“Apapun yang terjadi, aku tetap ada di sampingmu Minah?”

Minah begitu bingung dengan ucapan Kikwang namun sebelum Minah bertanya apa maksud ucapan laki-laki itu mobil Kikwang sudah memasuki pekarangan rumahnya. Minah turun dari mobil dan diikuti Kikwang. Mereka berdua memasuki rumah bergaya Victoria milik keluarga Jang.

“Selamat malam appa eomma.” Sapa Minah penuh ceria melihat ayah dan ibunya duduk di ruang tamu.

Melihat Minah duduk di hadapan mereka, pasangan suami istri Jang itu tak tersenyum sama sekali membuat Minah bingung.

“Ada apa Appa Eomma? Kenapa kalian terlihat serius sekali?” Tanya Minah.

“Minah, apa kau mengenal Junhyung?”

Minah begitu terkejut mendengar ayahnya menanyakan Junhyung.

“Ne. Aku mengenalnya.”

Eric mendongak menatap putrinya tajam.

“Jauhi dia.”

Ucapan itu bagaikan petir yang menyambar tubuh Minah. Baru saja Minah bahagia karena perasaannya terbalas tapi sekarang Minah diharuskan menjauhi lelaki yang di sukainya.

“Tidak aku tidak mau Oppa. Aku menyukainya kenapa aku harus menjauhinya.”

BRRAAKKK…..

Dengan keras Eric menggebrak meja membuat semua orang terkejut.

“Yeobo ingat ucapanku tadi, jangan terlalu keras pada Minah.” Ucap Esther berusaha menenangkan suaminya.

“Kau tidak boleh menyukainya.” Larang Eric dengan nada suara seakan menahan amarahmya.

“Kenapa aku tidak boleh menyukainya?”

Minah menatap kedua orangtuanya bergantian.

“Karena…” Tatapan Minah terhenti pada ibunya.

“Karena Junhyung adalah saudara kembarmu Minah.”

Tubuh Minah membeku mendengar jawaban ibunya. Jiwa Minah seakan keluar dari tubuhnya mendapati kenyataan yang menyakitkan. Minah tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pikirannya mendadak kosong.

“Tidak… Itu tidak mungkin eomma. Jun Oppa sudah lama pergi.”

Eric menyerahkan sebuah foto pada Minah. Minah mengambil foto itu dan melihatnya. Foto itu adalah foto keluarga yang di ambil saat mereka pergi piknik di sebuah danau. Nafas Minah tercekat melihat gambar laki-laki yang berdiri di sampingnya seraya menggandeng tangan gadis itu. Wajah laki-laki itu mirip sekali dengan Junhyung namun dalam versi yang lebih kecil. Dan Minah juga mengenali laki-laki yang berdiri di sisi Minah yang lain. Itu adalah lelaki yang di temuinya sore tadi yang mengaku sebagai kakak Junhyung. Air mata Minah jatuh membasahi foto itu.

“Karena itu kau tak bisa menyukainya Minah. Karena kalian bersaudara.”

“Tidak… Tidak…”Minah membuang foto itu lalu berlari keluar rumah.

“Minchan-ah.”

“Biar aku yang mengejarnya eommonim.” Kikwang mencegah Esther lalu berlari menyusul Minah.

Minah berlari tanpa arah. Gadis itu hanya ingin berlari dan terus berlari menghindari kenyataan yang begitu menyakitkan hatinya. Minah menutupi kedua telinganya saat ucapan eommanya begitu terngiang di telinganya.

“Tidak… Itu tidak mungkin. Junhyung Oppa bukanlah Jun Oppaku yang sudah menghilang. TIDAKK…..” Teriak Minah begitu frustrasi dan terus saja berlari.

Kikwang berlari seraya mengedarkan pandangannya mencari Minah. Laki-laki itu begitu khawatir terjadi hal buruk pada Minah mengingat gadis pujaannya memiliki penyakit yang mematikan. Nafas Kikwang terengah-engah namun lelaki itu tak ingin menyerah mencari Minah.

Lari Kikwang terhenti tepat di depan taman bermain. Mata lelaki itu tertuju pada gadis yang duduk di ayunan. Dengan lemah gadis itu mengayunkan mainan anak-anak itu. Kikwang menghela nafas lalu menghampirinya. Kikwang duduk di samping gadis itu namun Minah tak bereaksi sedikitpun. Kikwang begitu sedih melihat wajah Minah begitu pucat dan tanpa ekspresi. Kikwang bisa melihat jejak air mata di pipi Minah.

“Bukankah sudah kubilang apapun yang terjadi aku akan tetap ada di sampingmu Minah.”

Mendengar ucapan Kikwang, barulah Minah menoleh menatap laki-laki itu dengan tatapan kosong.

“Sepertinya Tuhan sedang menghukumku Kikwang. Aku yakin penyakit ini adalah sebagai hukumanku karena menyukai saudara kembarku sendiri.”

Kikwang turun dari ayunan dan berlutut di hadapan Minah.

“Jangan mengambil kesimpulan sendiri, Minah. Kita tidak bisa mengatur orang mana yang akan kita sukai. Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini semua hanya kebetulan saja jika orang yang kau sukai adalah saudara kembarmu.”

Minah terdiam berusaha meresapi ucapan Kikwang. Tangan Minah terulur mengelus pipi Kikwang.

“Kenapa bukan kau yang kusukai Kikwang?”

“Jika aku yang kausukai, kita tidak lagi di sini bukan?” Ucap Kikwang berusaha bercanda.

Tiba-tiba Minah memeluk leher Kikwang membuat laki-laki itu terkejut. Mendengar Minah terisak Kikwang hanya bisa mengelus punggung Minah menenangkan gadis itu.

“Nnngghh…..” terdengar lenguhan Minah kesakitan. Kikwang segera melepaskan pelukannya dan mengamati gadis itu.

Minah mulai kesusahan mengambil nafas dan wajah gadis itu semakin pucat.

“Aku akan membawamu pulang.”

Kikwang segera menggendong tubuh Minah ala bridal dan membawa gadis itu kembali ke rumahnya. Minah melingkarkan lengannya di lehernya dan gadis itu menatap wajah Kikwang yang penuh keringat. Gadis itu bagitu tersentuh melihat Kikwang selalu melakukan apapun demi dirinya padahal seingat Minah, gadis itu tak pernah memperlakukan Kikwang dengan baik.

“Kikwang-ah.”

“Nde.”

“Maukah kau terus berada di sampingku hingga aku pergi?”

Kikwang menunduk dan tersenyum pada Minah.

“Kau tidak akan pergi ke manapun Minah. Karena aku akan selalu berada di sampingmu.”

Minah mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Kikwang.

“Terimakasih Kikwang-ah.”

 

~~~TBC~~~

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. nurul yuma says:

    Next eon… aķu jadi penasaran…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s