(Chapter 6) Very Important U (V.I.U)

on

wpid-img1402748020414.jpg

Title                 : Very Important U (V.I.U) Chapter 6

Author             : Chunniesthttps://fandreamstory.wordpress.com/

Genre              : Mellodrama, Romance,

Duration          : Chapter

Rating             : PG

Main Cast :h

* Shin Jieun (OC)

* Jang Hyun Seung (Beast)

* Yoon Doo Joon (Beast)

* Woo Jihae (Girl’s day)

* Kim Ah Young as Kim Yura (Girl’s day)

Support Cast   :

* Shin Hye Sung / Steve (Shinhwa)

* Son Dong Woon (Beast) as Shin Dongwoon

* Lee Yeon Hee

* Yong Jun Hyung (Beast) as Jang Jun Hyung

* Bang Minah (Girl’s day) as Jang Minah

* Lee Kikwang (Beast)

* Yang Yo Seob (Beast)

* Yoon Sung Ha as Jang Esther

* Mun Eric as Jang Eric (Shinhwa)

Guest :

* Kim Sung Gyu (Infinite)

 

*****

 

Minah berdiri tepat di depan pintu kelasnya. Gadis itu tahu betul apa yang akan di hadapi di balik pintu. Wajah ceria Minah tak terlihat di pagi itu digantikan dengan wajah murung. Minah menghela nafas sebelum akhirnya membuka pintu kelasnya itu. Di deretan bangku bagian belakang Minah bisa melihat Junhyung menatapnya. Minah segera membuang mukanya.

Akhirnya gadis itu duduk di bangku dekat Junhyung. Untuk pertama kalinya Minah ingin duduk jauh dari laki-laki di sampingnya. Minah meletakkan tas di meja dan mulai mengeluarkan buku tulis, buku matematika dan kotak pensil berwarna pink. Dia mengambil pensilnya dan mulai mengerjakan soal-soal matematika.

Di sebelah gadis itu, Junhyung melihatnya kebingungan. Dalam bayangan Junhyung, Minah akan tersenyum menggoda dan menanyakan ucapannya semalam. Tapi di luar dugaan gadis itu justru tak menganggap Junhyung ada.

“YA!! Apa kau sakit?”

Tubuh Minah membeku mendengar pertanyaan Junhyung. Minah kembali mengerjakan soalnya tak memperdulikan pertanyaan Junhyung.

“Apa kau sedang mengacuhkanku eoh?”

Tanya Junhyung kembali namun Minah tak berhenti mengerjakan soal seakan pertanyaan Junhyung hanya angin lalu baginya.

Junhyung mendengus kesal dan lelaki itu hendak bertanya kembali pada Minah namun suara keras mengalihkan perhatiannya.

“Kau mau main-main denganku HUH?” Teriak Song Jaerok sang pembuat onar di kelas tengah menarik kerah Park Kyudong yang begitu ketakutan dibalik kacamata tebalnya.

“A-Ani Jaerok-ssi.” Jawab Kyudong ketakutan.

“Lalu kenapa kau tak membantuku saat pelajaran olahraga kemarin huh? Apa kau ingin balas dendam padaku?” Jaerok Semakin mengeratkan cengkraman di kerahnya.

Semua siswa tahu jika pelajaran olahraga kemarin Kyudong bertugas mencatat nilai siswa yang melakukan lompat jauh. Dan Jaerok mendapatkan nilai terendah.

“A-Ani Jaerok-ssi Aku hanya menuruti ucapan Kim seonsaengnim.” Jawab Kyudong seraya ketakutan.

“Menuruti ucapan Kim Seonsaengnim.” Jaerok meniru ucapan Kyudong dengan mimik bibir yang jelek membuat semua sisa menahan tawa kecuali Junhyung dan Minah.

“Apa kau takut di beri hukuman oleh Kim seonsaengnim Kyudong-ah?” Kyudong mengangguk lemah.

“Dan sekarang aku yang akan memberimu hukuman.”

BBBRRAAAKKK…..

Jaerok yang hendak melayangkan tinjunya terhenti saat mendengar gebrakan meja keras dan diiringi geseran kursi yang kasar. Jaerokmenoleh dan mendapati Minah menatapnya dengan tatapan dingin. Junhyung yang terkejut dengan sikapMinah hanya memandang gadis itu terbengong.

Minah berjalan menghampiri Jaerok tanpa mengalihkan tatapan tajam yang siap menusuk mata Jaerok. Minah berhenti melangkah tepat di samping Jaerok dan Kyudong.

“Berhentilah mengganggunya. Aku muak melihatnya.” Seketika suasana kelas menjadi hening mendengar ucapan dingin Minah.

“Huuuh….. Bagaimana bisa tuan putri ini berkata kasar seperti itu eoh? Aku bisa memaafkanmu tuan putri tanpa melukaimu sedikitpun tapi kau harus meninggalkan kami. Urusanku dengan Kyudong belum selesai.”

Jaerok mengacuhkan Minah dan kembali beralih pada Kyudong.

“Kita lanjutkan hukumanmu Kyudong-ah.”

Jaerok kembali hendak melayangkan tinjunya. Namun Minah menangkap tangan laki-laki itu dan dengan cepat menarik tangan itu ke belakang tubuh Jaerok seperti latihan judonya dulu. Semua siswa tertawa melihat Jaerok meringik kesakitan.

“Dan ini adalah hukumanmu karena sudah menganggu orang lain.”

“YA!!! Gadis gila lepaskan aku… AAAHHHH….” Teriak Jaerok saat Minah semakin menarik tangannya.

“Aku akan melepaskanmu jika kau menunduk dan minta maaf pada Kyudong.”

“MWO? Aku harus tunduk pada si culun itu? SHIRREO….. AAAHHHH…..” Minah semakin menarik membuat sang pemilik tangan berteriak kesakitan.

“Cepat minta maaf padanya atau aku akan menekuk semua tulang tangan dan kakimu dan segera membuangnya dari kelas ini.”

“Aaaaahh….. Ne… Nee… aku akan melakukannya.”

Minah tersenyum kemenangan lalu gadis itu mengarahka kepala Jaerok menghadap Kyudong.

“Mi-Mianhae.” Ucap Jaerok dengan terpaksa.

Minah melepaskan tangan Jaerok dan lelaki itu memegang tangannya yang sakit.

“Jika aku melihat kau menindas Kyudong lagi aku benar-benar akan meremukkan tulangmu.” Ancam Minah lalu gadis itu berjalan menuju kursinya.

Tubuh Minah membeku saat Junhyung berdiri tepat di hadapannya dan satu tangan terulur di belakang gadis itu. Minah berbalik dan terkejut melihat Jaerok hendak melayangkan tinjunya namun tangan Junhyung menghentikan niat laki-laki itu.

“Bukankah memukul seorang gadis adalah tindakan pengecut Jaerok-ah? Apa kau tahu kau bisa di penjara karena hal ini? Apalagi banyak sekali saksi yang melihat.”

Jaerok terdiam lalu mendengus kesal menatap Junhyung dan Minah. Jaerok melepaskan tangannya dan berbalik pergi dengan kesal. Minah berbalik melihat Junhyung begitupula Junhyung membuat tatapan mereka bertemu.

“APAKAU GILA HUH?” Bentak Junhyung membuat Minah terkejut.

“Seorang gadis melawan seoarang laki-laki? Apa kau tahu apa resikonya huh? Tidakkah terpikir olehmu Jaerok bisa saja memukulmu seperti yang dilakukannya tadi?”

“Aku hanya menolong seorang temanku yang ditindas, untuk apa kau marah huh?”

“Karena aku…. karena…aku mencemaskanmu.”

Tubuh Minah terpaku mendengar alasan Junhyung. Jika saja Minah tak tahu siapa Junhyung sebenarnya gadis itu pasti merasa senang tapi setelah mengetahui Junhyung adalah saudara kembarnya,gadis itu tak bisa senang mendengarnya.

Dahi Minah berkerut lalu tangannya memegang dadanya yang tiba-tiba sakit. Junhyung begitu terkejut melihat perubahan wajah Minah yang semakin pucat.

“Minah, kau tidak apa-apa?” Cemas Junhyung melihat Minah begitu kesakitan.

Minah terdiam dan terus memegang dadanya yang semakin sakit.

“Aku akan membawamu ke ruang kesehatan.” Ucap Junhyung hendak memegang bahu Minah namun gadis itu segera menepisnya.

Minah tahu jika Junhyung semakin berbuat baik padanya, hal itu akan menyulitkan niat Minah yang berusaha melupakan perasaannya.

“Tidak perlu. Kau tak perlu mencemaskanku Oppa. Aku bisa mengurusnya sendiri.” Ketus Minah meninggalkan Junhyung keluar kelas.

Junhyung mendengus tak percaya melihat kepergian Minah.

“Kenapa aku merasa keadaan saat ini terbalik Junhyung-ah. Biasanya kau yang bersikap dingin pada Minah tapi sekarang Minah yang bersikap dingin padamu. Sepertinya hari ini dunia benar-benar terbalik.” Ucap Yoseob merangkul bahu Junhyung.

Junhyung menoleh dan menatap kesal sahabatnya. Dengan kasar lelaki itu menyingkirkan tangan Yoseob dan keluar kelas mengejar Minah. Junhyung sering melihat Minah kesakitan di bagian dadanya dan laki-laki itu yakin ada yang tak beres dengan gadis itu.

“Kau tidak apa-apa Minah?”

Langkah Junhyung terhenti saat mendengar suara seseorang menyebut nama Minah. Dari balik dinding,Junhyung bisa melihat Kikwang berdiri di hadapan Minah.

“Aku tidak apa-apa Kikwang-ah.”

Mata Junhyung membesar melihat Kikwang mengulurkan tangannya menangkup kedua pipi Minah. Perasaan tak senang menelusup ke hati Junhyung bahkan tangannya terkepal menahan untuk tak menyingkirkan tangan Kikwang.

“Kau terlihat pucat Minah. Sebaiknya kita ke rumah sakit.”

Dengan tangan Kikwang yang masih berada di pipi gadis itu, Minahpun menggeleng lemah.

“Tak perlu Kikwang-ah. Aku tidak apa-apa. Aku sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit ini.”

Kikwang menghela nafas mendapati Minah sangat keras kepala.

“Baiklah jika itu yang kauinginkan.”

Minah tersenyum dan dibalas senyuman oleh Kikwang. Namun tanpa keduanya sadari Junhyung terlihat kesal dengan pemandangan itu.

 

*****

 

TOOKK…..TOOKK…TOOKK….

Jihae mengetuk pintu ruangan Sunggyu. Dengan membawa dokumen di pelukannya, Jihae terlihat gugup karena sejak pagi tadi Sunggyu hanya mengacuhkannya membuat gadis itu merasa bersalah.

“Ne. Masuk.”

Terdengar suara Sunggyu dari balik pintu dan Jihaepun langsung membuka pintu itu. Seperti biasanya Sunggyu terlihat sibuk dengan beberapa dokumen di meja serta komputer yang menyala di hadapannya.

“Sajangnim, ini adalah bahan rapat untuk besok pagi.”

“Ne. Letakkan saja di meja.” Ucap Sunggyu tanpa menoleh pada Jihae.

Entah mengapa Jihae jadi merindukan kejahilan Sunggyu yang membuatnya harus kesal menghadapinya.

“Sa- Sajangnim.” Gugup Jihae.

“Ne. Katakan saja.” Ucap Sunggyu yang masih belum mengalihkan pandangannya dari komputer.

Jihae menarik nafas begitu gugup.

“Mianhae.” Satu kata itu akhirnya berhasil menyita perhatian Sunggyu.

Tatapan keduanya bertemu membuat Jihae semakin bingung dengan apa yang hendak gadis itu katakan. Sunggyu masih menunggu kata-kata Jihae selanjutnya namun gadis itu masih terdiam.

“Jika tidak ada yang ingin kauucapkan kau bisa keluar, aku harus mempelajari bahan untuk rapat besok.”

Muncul rasa kesal di hati Jihae melihat Sunggyu begitu dingin. Gadis itu sudah mulai terbiasa dengan tingkah aneh Sunggyu dan sekarang lelaki itu berubah dingin sejak bertemu dengannya tadi.

“Aaaiissshh… Benar-benar… Baiklah lakukan apa yang kau mau.”

Jihae menghentakkan kakinya keluar dari ruangan Sunggyu. Sang direktur itu terpana mendengar bentakan Jihae.

“YAAA… YAA.. YAAA… Seharusnya aku yang marah kenapa jadi kau yang marah?” Gerutu Sunggyu mengekor Jihae.

Jihae menghempaskan tubuhnya di kursi . Wajah masih terlihat kesal dan bibir gadis itu semakin cemberut tatkala melihat Sunggyu mengikutinya.

“YA!!! Kenapa kau membentakku huh?”

Jihae mendongak dan melayangkan tatapan tajamnya membuat Sunggyu tak berani membalas tatapannya.

“Aku kesal dengan sikap kekanak-kenakanmu Oppa. Kau bertingkah seperti seorang anak kecil.”

“YA!! Jangan samakan aku dengan monster-monster kecil itu.”

“Monster-monster kecil? Bahkan anak-anak yang kau bilang monster itu bisa bersikap lebih baik darimu Oppa.”

“Kau..”

“Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.”

Sunggyu dan Jihae serentak menoleh. Doojoon menatap keduanya bergantian dengan tatapan kebingungan.

“Aku akan kembali nanti saja.” Ucap Doojoon berbalik.

“Tidak perlu Oppa. Ini sudah waktunya istirahat. Sebaiknya kita pergi sekarang.”

Jihae mengambil tasnya lalu menatap Sunggyu sekilas sebelum menghampiri Doojoon yang tengah menunggu Jihae.

“Aisshh… Dasar gadis keras kepala.” Gerutu Sunggyu menatap kepergian Jihae dan Doojoon.

Wajah Jihae masih terlihat kesal akibat pertengkarannya dengan Sunggyu. Doojoon yang menyadari hal itu hanya tersenyum melihat sahabatnya tengah kesal.

“Kalian terlihat sedang bertengkar. Ada masalah apa Jihae-ah?” Tanya Doojoon menyadarkan Jihae.

Wajah Jihae berubah lembut ketika menatap Doojoon.

“Bukan masalah besar Oppa. Jadi kau ingin memberi kado apa untuk Jieum, Oppa?”

“Entahlah Jihae-ya. Jika aku tahu aku tak mungkin meminta bantuanmu.”

Jihae tertawa menyadari betapa bodoh pertanyannya.

“Kau benar Oppa.”

“Besok aku ingin membuat pesta kejutan untuknya. Maukah kau datamg bersama Sunggyu?”

“Kalau aku pasti akan datang Oppa tapi soal Sunggyu Oppa entahlah.”

Doojoon tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala gadis itu.

“Jangan terlalu lama bertengkar kalian bisa cepat tua.”

“Aiishhb… Oppa.”

Pintu lift pun terbuka dan merekapun berjalan menuju mobil Doojoon. Dalam mobil Doojoon dan Jihae mulai membahas rapat yang akan diadakan besok tanpa mereka sadari sebuah mobil memgikuti mereka dari belakang.

“Aiishh… Kenapa gadis itu terlihat bahagia? Dasar gadis bodoh.” Gerutu Sunggyu.

Doojoon dan Jihaepun sampai di sebuah mall milik perusahaan Yoon begitu pula dengan Sunggyu. Mereka berjalan seraya mencari benda yang cocok untuk kado Jieun.

“Bagaimana jika dress Oppa? Dress itu sepertinya cocok untuk Jieun.” Jihae menunjuk sebuah dress berwarna pink panjang dengan tali spageti di bahu terlihat begitu manis.

“Tahun kemarin aku sudah memberinya dress Jihae-ah.”

Jihae menghela nafas lalu kemvali mencari benda lain. Langkahnya terhenti begitupula Doojoon.

“Apa kau menemukan kado yang cocok Jihae-ya?” Tabya Doojoon.

“Apa Oppa pernah memberi hadiah kalung?”

Doojoon berpikir sebentar lalu kepalanya menggeleng.

“Belum pernah.”

“Bagaimana kalau melihat-lihat di sana.” Jihae menunjuk toko perhiasan tak jauh darinya.

“Baiklah. Ayo.”

Doojoon dan Jihae memasuki toko perhiasan itu. Sebagai seorang gadis Jihae terlihat kagum memandang perhiasan-perhiasan yang berkilau. Jihae melihat satu persatu perhiasan itu. Matanya tertarik melihat sebuah kalung dengan bentuk angka 8 yang di tidurkan (simbol infinite). Bentuk kalung itu sangat sederhana namun bandul itu sudah menarik perhatiannya.

“Apa anda mau mencobanya nona? Kalung ini memang sederhana tapi terlihat mewah jika di pakai.” Ucap seorang pramuniaga mengambilkan kalung yang Jihae lihat.

Jihae memegang kalung itu ingin sekali gadis itu membelinya namun saat melihat harganya Jihae mengurungkan niat karena harga kalung itu melebihi gajinya.

“Bagaimana dengan yang ini Jihae-ah?”

Jihae menoleh dan melihat Doojoon menunjukkan kalung yang terlihat mewah dan meriah dengan mata berlian berwarna merah di sekelling kalung itu. Jihae menatap aneh kalung itu.

“Aku rasa itu bukan kado yang bagus Oppa. Dan aku yakin Jieun akan menolaknya.”

“Kenapa? Bukankah gadis-gadis menyukai perhiasan yang mewah?”

Jihae menghela nafas mendengar betapa sempitnya peengetahuan Doojoon tetang seorang gadis.

“Aigoo…. Oppa. Aku kenal bagaimana Jieun. Dia bukanlah gadis yang nyaman dengan benda meriah seperti itu Oppa. Jieun lebih suka yang sederhana. Bagaimana dengan itu?”

Jihae menunjuk sebuah kalung sederhana dengan banduk berbentuk kunci dengan ujung kunci berbentuk hati.

“Baiklah aku ambil yang itu.” Ucap Doojoon menunjuk kalung yang ditunjuk oleh Jihae.

“Apa kau menginginkan itu?” Tanya Doojoon menunjuk kalung di tangan Jihae.

“Tidak Oppa.” Ucap Jihae seraya engembalikan kalung itu pada pramuniaga tadi.

“Kau yakin? Aku bisa membelikanmu sebagai hadiah karena sudah menemaniku.”

“Tidak perlu Oppa. Kita kan kemari untuk membeli kado Jieun bukan untukku. Sebaiknya kita cepat Oppa. Jam istirahat akan segera berakhir.”

“Kau benar. Aku akan membayarnya dulu.”

Doojoon membayar serta mengambil kalung yang sudah di bungkus kotak dengan hiasan bunga di atasnya.

“Ayo kita kembali.” Ajak Doojoon.

Merekapun keluar dari mall itu dan kembali ke perusahaan Yoon. Sesampainya di perusahaan Yoon, Doojoon mengantarkan Jihae kembali ke tempatnya.

“Sepertinya Sunggyu belum kembali.”

Jihae menatap pintu ruangan Sunggyu yang sunyi.

“Mungkin Oppa.”

“Terimakasih Jihae-ah sudah menemaniku mencari kado untuk Jieun. Sebagai hadiah, lain kali aku akan mentraktirmu makan.”

“Tidak perlu Oppa. Aku senang membantumu.”

“Jangan lupa ne besok selah pulang datang ke apartementku?”

“Ne Oppa.”

Doojoon melambaikan tangannya lalu berjalan meningglka Jihae. Gadis itu masih terdiam di tempat menatap Doojoon menghilang dari lift.Jihae kembali ke mejanya dan memulai kembali pekerjaan yang membosankannya.

Saat Jihae hendak mengetik terdemgar pimtu lift terbuka dan gadis itu segera menoleh. Terlihat Sunggyu keluar dari lift dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Jihae kembali menatap layar komputernya tak memperdulikan Sunggyu.

Sunggyu meletakkan kotak itu di atas meja Jihae membuat gadis itu menatap bingung ke arah laki-laki bermata sipit itu.

“Apa ini?” Bingung Jihae.

“Bukalah.”

Jihae membuka kotak itu dan terkejut melihat kalung yang diinginkannya sudah ada di dalam kotak itu.

“Ku-kulihat tadi kau menyukainya jadi aku membelikannya untukmu.”

Jihae mendongak tersenyum melihat Sunggyu tampak malu.

“Gomawo Oppa. Tapi aku tak bisa menerimanya.”

“Wae? Bukankah kau menyukainya?”

“Ne. Aku memang menyukainya tapi kalung ini terlalu mahal untukku. Mianhae Oppa.” Sesal Jihae mengenbalik kotak berisi kalung itu.

“YA!! Jika kau mengembalikan padaku siapa yang akan memakainya? Lebih baik untukmu saja.”

“Tapi aku tak bisa menerima benda semahal ini Oppa.”

“Hmm.. Bagaimana kalau kau membayarnya dengan makanan?”

“Nde?”

“Kau bisa memasakan makan malam untukku selama satu bulan untuk membayar kalung ini. Bagaimana?”

Jihae tak berpikir sejenak seraya me atap kotak di tangannya. Kalung itu begitu menggoda dirinya.

“Baiklah.” Sunggyu tersenyum senang hingga mata tak terlihat karena saking sipitnya.

“Jadi kau tidak marah lagi padaku?” Tanya Sunggyu dan di jawab anggukan kepala oleh Jihae.

 

*****

 

Yeonhee memandang pantulan dirinya yang sudah terlihat bak putri hutan. Gaun yang penuh dengan tempelan daun terlihat anggun di tubuh Yeonhee. Saat ini rambut Yeonhee di gelung dan dihiasi beberapa daun. Bahkan make up di wajahnya pun bernuansa hijau. Meskipun terlihat cantik namun tak ada senyuman terlihat di wajah Yeonhee.

Gadis itu mengambil ponsel di meja dan menghidupkannya. Tampak foto dirinya tengah memeluk Young seraya tertawa di depan kamera. Youngpun tersenum lebar tampak bahagia. Dia ingat Dongwoon yang mengambil foto itu. Yeonhee tak menyangka Dongwokn bisa berteman dengan adiknya yang tergolong tipe pendiam.

Mengingat Dongwoon gafis itu merindukannya. Beberapa menit yang lalu laki-laki itu baru saja menghubunginya untuk memberi gadis itu semangat. Tapi tetap saja gadis itu begitu gugup.

“Sudah kuduga itu benat kau Lee Yeonhee.”

Tubuh Yeonhee seketika menegang mendengar suara yang sudah lama tak di dengarnya. Gadis itu mendongak dan nafasnya tercekat melihat laki-laki itu kembali, laki-laki yang ditunggunya akhirnya muncul juga. Laki-laki itu memakai suit hitam dan bersandar di pintu serta tatapannya tak lepas dari Yeonhee.

“Kau tidak lupa padaku bukan?”

“Ti-tidak tentu saja tidak Steve-ssi.”

Steve tersenyum lalu mendekati Yeonhee. Lelaki itu menunduk hingga wajahnya tepat berada di samping Yeonhee.

“Kau mirip sekali denganmya Yeonhee-ah.”

Tubuh Yeonhee menegang tidak menyukai ucapan Steve. Tanpa lelaki itu sadari tangan Yeonhee terkepal menahan kekesalannya.

“Steve-ssi.”

“Berhentilah memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Panggil saja Oppa.” Steve mengerlingkan satu matanya seperti yang dulu lelaki itu lakukan.

“Oppa, apa yang kau lakukan di sini.”

Steve menegakkan badannya dan berdiri tepat di belakang Yeonhee.

“Aku adalah orang yang berperan di balik fashion show ini.”

“Maksud Oppa, Oppa adalah sponsor terbesar itu?”

“Bisa di bilang begitu”

Steve kembali tersenyum melihat Yeonhee terdiam. Tangan Steve terulur menepuk pelan bahu Yeonhee.

“Kau tenang saja kau pasti bisa melakukan seperti yang dilakukan Hyori.”

Steve hendak pergi namun langkahnya terhenti saat Yeonhee menggenggam tangannya.

“Aku senang bisa bertemu denganmu Oppa.”

“Aku juga senang bisa bertemu denganmu Yeonhee.”

 

*****

 

Jieun menatap orang-orang di ruangan itu dengan bosan. Meskipun gaun dan suit yang mereka kenakan sangat mewah tapi pembicaraan mereka tak semenarik penampilan mereka. Mata Jieun terhenti saat melihat Doojoon tengah mengobrol dengan tuan Jang. Ingin sekali Jieun bergabung namun Jieun begitu minder dengan pengetahuannya di bidang bisnis.

Jieun kembali menyesap minumannya lalu menghela nafas merasakan kebosanan yang nyaris membunuhnya. Jieun lebih memilih ebaca buku tebalnya tentang berbagai penyakit dibandingkan harus merasa kesepian seperti ini.

“Kau terlihat tidak tertarik dengan acara ini dokter Shin.”

Jieun menoleh dan terkejut melihat Hyunseung sudah berdiri di sampingnya. Namun detik beriktunya Jieun menunjukkan senyumamnya. Saat ini sama halnya dengan tamu lain Hyunseungpun memakai suite hitam dan rambutnyapun di tata dengan rapi. Meskipun kruk di tanganmya namun Hyunseung tetap terlihat tampan.

“Oppa, bagaimana bisa kau ada di sini?”

“Tenru saja bisa Jieun-ah. Tapi sama denganmu aku juga bosan berada di sini. Bagaimana kalau kita keluar sebentar. Aku tahu tempat yang bagus yang tidak membosankan.”

Jieun mengangguk dan merekapun akhirnya keluar dari ballroom hotel itu. Hyunseung terlihat sudah beradaptasi dengan kruk di tangannya hingga dia terlihat seperti orang normal. Tanpa di sadari mata Jieun tak lepas dari Hyunseung. Merekapun sampai di belakang hotel. Mulit Joeun terbuka melihat betapa banyaknya bunga yang di tanam di taman itu.

“Tadi aku menemukannya saat mencari ballroom.” Jelas Hyunseung.

“Indah sekali Oppa.”

Merekapun berjalan menyusuri taman penuh bunga itu. Jieun terlihat kagum melihat bunga-bunga yang cantik itu. Mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah bangku dan duduk di sana.

“Oh ya aku ingin menunjukkan sesuatu padamu Jieun-ah.”

“Menunjukkan apa Oppa?”

Jieun melihat Hyunseung mengeluarkan ponselnya. Laki-laki itu mengotak-atik ponselnya hingga terdengar musik mengalun. Genre musik perpaduan dari pop dan hip hop membuat pendengar menikmati musik itu. Jieun tersenyum saat mendengar suara Hyunseung bernyanyi. Suara Hyunseung begitu khas hingga gadis itu bisa mengenalinya. Jieun menikmati lafu itu hingga berakhir dan gafis itu memberi tepuk tangan.

“Wahh…. Lagunya keren Oppa.”

“Gomawo. Itu adalah lagu dari album terbaruku.”

“Jinjayo? Jadi aku orang pertama yang mendengarkannya?”

Hyunseung mengangguk. “Ne.”

“Gomawo Oppa. Kau membuatku terharu karena menjadi pendengar pertama lagumu.”

Tubuh Hyunseung membeku ketika dirinya merasa dibawa ke masa lalu, masa di hari terakhir dia bersama Yura. Hyunseung ingat betul apa yang Yura katakan.

 

“Kau membuatku terharu Oppa. Kau membuatku semakin menyayangimu.”

 

Jieun heran melihat Hyunseung terdiam menatap dirinya.

“Oppa, kau tidak apa-apa?”

Hyunseung mengulurkan tangannya menangkup kedua pipi Jieun.

“Yura.” Panggil Hyunseung sebelum akbirnya lelaki itu mendaratkan bibirnya di bibir Jieun

Karena terkejut Jieun hanya terdiam. Bibir Hyunseung hanya diam tak bergerak namun Jieun bisa merasakan kehangatan di bibir Hyunseung. Jieun tak mendorong Hyunseung ataupun membalas ciuman lelaki itu. Ini bukanlah ciuman pertama Jirun tapu gadis itu merasa canggung, tak tahu apa yang harus gafis itu lakukan.m Tiba-tiba Hyunseung melepaskan ciumannya. Wajahnya tampak terkejut saat mendapati gadis yang di ciumnya bukan Yura.

“Mi-mianhae Jieun-ah. Jeongmal mianhaeyo.” Ucap Hyunseung terbata-bata.

Madih shock Hyunseung segera meninggalkan Jieun yang masih mematung. Jieun menyentuh bibirnya yang masih merasakan bibir Hyunaeung dan satu tangannya lagi menyentuh dadanya yang bergemuruh. Jieun tak menyangka akan merasakan hal ini lagi setelah sekian lama tak bertemu Hyunseung.

“Jieun-ah.” Jieun menoleh mendengar seseorang memanggilnya.

“Oh.. Doojoon Oppa.” Jieun melihat Doojoon menghampiri.

“Aku sudah mencarimu ke mana-mana ternyata kau ada di sini.”

“Mianhae Oppa.” Sesal Jieun.

“Apa kau bosan? Kita bisa pulang jika kau mau.”

Jieun menggeleng.” Ani Oppa, tadi aku hanya iseng berjalan-jalan. Apa fashion show nya sudah di mulai.”

“Ne. Kaau begitu ayo kita segera masuk.”

“Ne.”

Jieun merangkul lengan Doojoon dan kembali menuju ballroom hotel. Di balik tembok tak jauh dari taman bunga itu, seorang lelaki tersenyum penuh kepuasan. Mata lelaki itu mengarah pada foto di kameranya. Lalu lelaki itu segera pergi dari tempat itu.

Doojoon dan Jieun memasuki ballroom hotel. Tampak semua tamu sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan. Doojoon menarik Jieun menuju tempat duduk depan panggung. Tepat setelah mereka duduk acarapun di mulai.

Musik berdentum dan para modelpun mulai berlenggak-lenggok di atas panggung. Jieun tampak antusias melihat pakaian-pakaian bernuansa hijau yang di peragakan oleh model-model dengan tinggi semampai. Mata Jieun tertuju pada seorang gadis memakain gaun berbentuk kemben dengan daun-daun yang dilekatkan di sekelilingnya.

“Bukankah itu…” Gumam Jieun mengingat gadis itu.

“Ada apa Jieun-ah?”

“Tidak apa-apa Oppa.”

Jieun kembali mengamati gadis itu dan dia pun teringat gadis itu adalah kakak perempuannya Young. Jieun tersenyum melihat betapa cantiknya Yeonhee.

Setelah selama satu jam mengikuti acara itu, Doojoon dan Jieunpun meninggalkan ballroom itu. Langkah Jieun terhenti saat matanya menangkap sosok yang tidak asing tengah menggandeng seorang gadisi. Namun belum sempat Jieun menyusulnya lekaki itu sudah berbalik dan menghilang.

“Ada apa sayang?” Tanya Doojoon menyusul Jieun.

“Sepertinya tadi aku melihat appa.”

“Tentu saja abeonim datang, perusahaan abeonim bekerja sama dengan designer Jang.”

Jieun mengangguk mendengar penjelasan Doojoon.

“Bagaimana kalau kita pulang? Kau pasti lelah.” Jieunpun mengikuti Doojoon keluar dari hotel.

 

*****

 

Minah berjalan menuju kelasnya seperti biasa. Kedua tangannya memegang kedua tali ranselnya sedangkan wajah cerianya tak lagi ditemukan di wajahnya. Langkah Minah terhenti saat melihat kedua laki-laki menghalangi jalannya.

“Kau ikut dengan kami.” Kedua laki-laki itu membekap Minah dan menarik gadis itu.

Dari kejauhan Chanmi melihatnya langsung berlari menuju kelas meminta bantuan. Dengan panik Chanmi menghampiri Jayoung.

“Jayoung-ah gawat… Bagaimana ini? Kita hatus menyelamatkan Minah…. Bagaimana jika mereka menyakitinya.?”

Junhyung yang sudah duduk di bangkunya mendengar ucapan Chanmi.

“Tenang dulu Chanmi, apa maksudmu kita harus menyelamatkan Minah?”

“Anak buah Jaerok membawa Minah.”

DAAGGH….

Junhyung segera berdiri dan berlari menuju gudang di gedung olahraga tempat biasa Jaerok berkumpul. Lelaki itu berhenti saat Kikwang menghalangi jalannya.

“Minggir.” Ketus Junhyung.

“Di mana Minah?”

“MINGGIR!!!” Bentak Junhyung.

Kikwang menarik kerah Junhyung dan mendorong tubuh lelaki itu di dinding.

“Aku bertanya DIMANA MINAH?”

“Anak buah Jaerok membawanya. Jadi MINGGIR!!!”

Junhyung mendirong Kikwang dan kembali berlari. Kikwangpun mengikuti Junhyung di belakangnya. Mereka sampai di gedung olahraga dan langsung menuju gudang.

“Kenapa tuan putri? Kenapa tak melawan bukankah kemarin kau bertindak seperti pahlawan?”

Junhyung dan Kikwang bisa mendengar suara Jaerok.

“Aku sedang tak ingin meladenimu Jaerok-ah. Jadi menyingkirlah.”

“Kau… Benar-benar menyebalkan.”

Junhyung membuka pintu itu dan terkejut melihat Jaerok mendorong Minah hingga ke dinding. Melihat dahi Minah berkerut menahan sakit membuat emosi Kikwang meluap.

“APA KAU MAU MEMBUNUHNYA HUH?”

Kikwang berlar dan langsung melayamgkan pukulan di eajah Jaerok. Tubuh Minah jatuh ke lantai dan gadis itu memegang dadanya yang terasa sakit. Bahkan Minah mulai kesusahan bernafas.

“Jika hal buruk terjadi pada Minah, aku akan membuatmu menyesal.” Ancam Kikwang lalu menggendomg tubuh Minah yang mulai melemah kelyar dari gudangbitu.

Junhyung segera mengikuti Kikwang.

“Ada apa dengan Minah, Kikwang-ah? Aku yakin kau pasti mengetahui sesuatu.”

Langkah Kikwang terhenti dan lelaki itu menatap Junhyung.

“Aku memang mengetahuinya tapi aku tidak berhak memgatakannya.”

Kikwang meninggalkan Junhyung yang tak puas dengan jawaban Kikwang.

 

*****

 

Hyunseung mengamati Junhyung yang hanya memainkan makanannya. Tatapan Junhyung tampak kosong membuat Hyunseung semakin khawatir.

“Jun-ya, makananmu tidak akan habis jika kau hanya melihatnya saja.” Ucap Hyunseung menyadarkan adik lali-lakinya.

“Aku sedang tak selera makan hyung.”

“Tapi Jun-ya jika kau tidak makan….” Belum sempat Hyunseung menveri ceramahnya Junhyung sudah bangkit berdiri.

“Kau mau ke mana Jun-ya?”

“Ke kamar hyung.” Jawab Junhyung terus berjalan ke kamarnya.

“Aishh… Ada apa dengan anak itu.” Hyunseung menggelengkan kepalanya.

Hyuseung kemvali melanjutkan makannya. Pikiran lelaki itu kembali pada kejadian semalam. Hyunseung merutuki dirinya sendiri karena melakukan hal bodoh menganggap Jieun adalah Yura. Mengingat wajah Jieun yang shock membuat lelaki itu merasa bersalah.

Drtt…..ddrttt….ddrttt….

Lamunan Hyunseung terganggu saat mendengar ponselnya bergetar.

“Ne hyung?” Sapa Hyunseung pada Andy.

“AKu hanya ingin mengingatkanmu besok kau harus check up jadi kau harus bangun pagi, arraseo?”

“MWO? Check Up? Apa harus besok hyung?” Kaget Hyunsrung.

“Ne. Kenapa? Apa kau bertengkar dengan dokter Shin?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa hyung. Baiklah besok pagi akan bersiap-siap.”

“Ne. Kujemput kau jam 8 pagi.”

“Ne hyung. Gomawo.”

Hyunseung meletakkan kembali ponselnya di meja dan kembali melanjutkan makannya seraya memikirkan sikap apa yang akan lelaki itu tunjukkan saat menghadapi Jieun.

“Apa aku harus bersikap biasa? ‘Hi Jieun-ah!'” Hyunsrung melambaikan tangannya seakan Jieun ada di hadapannya.

“Ani… Mana mungkin aku bersikap biasa setelah krjadian semalam. Apa aku bersikap ceria saja? ‘Pagi Jieun-ah, aku datang.'” Ucap Hyunseung tersenyum lebar.

“Apa kau srmakin gila hyung? Bernicara sendiri.”

Hyunseung mendongak dan merasa sangat malu mendapati Junhyung melihatnya aneh.

“Aku.. Aku hanya sedang berlatih drama.” Alasan Hyubseung.

“Drama? Setahuku hyung tak vermain drama.” (#Gubrakk….)

“Drama… Ng .. Dramaku sendiri. Ne, drama yang kubuat srndiri.” Ucap Hyunseung menunjukkan senyum lebarnya.

Junhyung hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh kakaknya lalu kembali ke kamar. Setelah Junhyung menghilabg, Hyunseung menghela nafas merasa lega karena Junhyung tak mengetahui alasan sebenarnya Hyunseung bertingkah aneh.

 

*****

 

Minah membuka matanya perlahan. Matanya menyipit saat sinar lampu menusuk matanya.

“Syukurlah kau sudah sadar.”

Minah meboleh saat mendengar suara. Jieun duduk di samping ranjangnya dan tersenyum padanya.

“Dokter Shin.”

Minah berudaha duduk namun Jieun melarangnya.

“Tidur saja itu akan membuat tubuhmu lebih nyaman.”

Minah menuruti Jieun kembali tiduran lalu Minah melihat ada yang aneh ddengan ekspresi Jieun.

“Ada apa dokter Shin? Kau terlihat gelisah.”

Jieun tak kunjung menjawab, gadis itu hanya memegang tangan Minah yang diinfus. Wajahnya seakan ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.

“Katakanlah dokter Shin. Aku tahu ini masalah kesehatanku dan aku siap mendengarnya.”

Jieun menarik nafas sebelum mengutarakan berita yang tidak enak di dengar.

“Aku melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada kanker di paru-parumu Minah. Dan aku tidak menduga hal ini akan terjadi.” Jieun terdiam menyiapkam kata-kata yang tepat untuk mengutarakannya.

“Apa yang terjadi dokter Shin?”

“Pertumbuhan kankernya lebih cepat dari perkiraanku.”

Minah meremas sprei di sisi tubuhnya. Minah sudah menyiapkan diri mendengar berita terburuk tentang kesehatannya. Namun tetap saja tubuhnya bergetar menahan kesedihan yang mendalam di dirinya.

“Jadi sisa hidupku semakin cepat berakhir?” Minah berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang nyaris jatuh.

“Minah?”

Jieun terkejut melihat Minah tersenyum padanya.

“Tidak apa-apa dokter Shin. Bukankah setiap manusia akan kembali pada sang penciptanya.”

Jieun meremas lembut tangan Minah.

“Kau benar, melihat pertumbuhan kanker yang cepat membuatmu tak bisa bertahan lama. Kusarankan kau di rawat di rumah sakit Minah, agar aku bisa mengecheck kanker itu.”

Minah terdiam untuk berpikir lalu gadis itu menggeleng.

“Tidak dokter Shin.”

“Tapi Minah, kau akan sering merasa lelah dan pingsan. Tubuhmu akan semakin lemah.”

“Aku akan di rawat di rumah sakit jika sudah waktunya dokter Shin. Aku mohon berikanlah aku waktu untuk menghabiskan waktu bersama keluargaku. Aku… Aku ingin menghabiskan hari bersama mereka setelah itu aku berjanji akan di rawat di rumah sakit. Aku mohon jangan beritahukan hal ini pada appa eomma dokter Shi, kumohon.”

Jieun merasa sedih mendengar permintaan Minah yang sangat menyentuh. Memaksa Minah sepertinya akan sia-sia dan Jieun akan menjadi orang yang jahat jika tak mengabulkan permintaan Minah yang ingin menghabiskan sisa hiupnya bersama keluarganya.

“Baiklah aku tidak akan mengatakannya pada mereka. Tapi ingat jika kau merasakan sakit di dadamu lebih sering dari biasanya, kau harus segera ke rumah sakit.”

Minah mengangguk dan tersenyum. “Terimakasih dokter Shin.”

“Maafkan aku Minah karena tak bisa menyelamatkanmu.” Sedih Jieun.

Minah menyentuh tangan Jieun yang menggenggam tangannya. “Meskipun begitu kau afalah dokter yang hebat dokter Shin.”

Jieun tersenyum dan mengelus puncak kepala Minah.

 

*****

 

“Noona kapan makanannya siap? Aku lapar.” Ujar seorang lelaki muda duduk di meja makan.

“Aku juga keburu kelaparan Jihae-ya.” Gerutu Sunggyu memegang perutnya yang berteriak ingin diisi.

“Sebentar lagi. Bersabarlah.” Seru Jihae dari dapur.

“YA!! Siapa kau? Kenapa kau ada di sini?” Ucap pemyda itu memandang Sunggyu tak suka.

“Jihae yang mengundangku.”

“Noona tak mungkin mengundang laki-laki di rumah.”

TUKK….

“Aahh…..” Pemuda itu meringis kesakitan merasakan kepalanya di hantam sebuah panci.

“Bersikaplah sopan pada tamu kita Taehyung-ah.” Tegur Jihae seraya membawa sepiring chonggak kimchi di meja makan.

KImchi yang terbuat dari lobak dan sawi hijau itu tampak menggiurkan. Jihae melepaskan celemeknya dan bergabung dengan Sunggyu dan Taehyung.

“Jadi bisakah kau jelaskan siapa pemuda tak sopan ini?” Tanya Sunggyu.

“Kau…” Ucapan Taehyung terhenti merasakan tatapan tajam Jihae.

“Dia adalah adikku. Maafkan jika dia tidak sopan padamu Oppa. Dan kau Taehyung, aku bukankah aku selalu mengajarimu untuk bersikap sopan pada tamu?”

“Tapi dia tidak terlihat seperti tamu noona, dia terlihat seperti laki-laki hidung belang.”

“Apa kau bilang?” Kesal Sunggyu.

TUUKKK…..

Kali ini sendok besar mendarat di kepala Taehyung membuat pemuda itu meringis kesakitan. Sunggyu tersenyum penuh kemenangan sedangkan Taehyung melayangkan tatapan tajam pada Sunggyu. Tiba-tiba ponsel Sunggyu berdering dan dia mengambil benda persegi itu di dalam sakunya. Wajahnya berubah dingin saat mengetahui nama penelpon di layar itu.

“Aku keluar sebentar.” Sunggyu berdiri dan meninggalkan meja makan diikuti tatapan bingung Jihae.

“Ne abeoji?” Panggil Sunggyu setelah berada di luar rumah.

“Kau tidak melupakan tujuanmu bukan? Kudengar kau bersenang-senang.”

Sunggyu mendengus kesal mengetahui ayahnya lagi-lagi mengirim seseorang untuk mematainya.

“Aku tidak akan lupa. ”

“Baguslah. Besok akan ada rapat perencanaan mall dan dan hotel di pulau Jeju. Kirim Doojoon ke sana dan kau harus memikat semua pemegabg saham selama Doojoon pergi. Mengerti?”

“Ya abeoji aku mengerti.”

“Buat aku bangga padamu.”

Sambungan telpon itu terputus dan Sunggyu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku lalu kembali masuk ke dalam rumah Jihae. Sunggyu langsung makan tanpa ekspresi apapun.

“Apa terjadi hal buruk Oppa?” Tanya Jihae menyadarkan Sunggyu.

“Tidak ada apa-apa.” Sunggyu tersenyum tipis dan kembali makan.

Jihae terdiam, gadis itu yakin ada hal yang tak beres dengan Sunggyu. Namun gadis itu menutuskan untuk tak bertanya kembali.

 

*****

 

“Saya sudah mengirim seseorabg untuk survey tempat di sana. Dia mengatakan itu adalah tempat yang strategis. Di satu sisi banyak turis yang datang di kota itu yabg pasti akan lebih memilih menginap di hotel yang nyama dan di sisi lain jika proyek pembangunan mall ini berhasil maka itu adalah mall pertama yang ada di pulau Jeju. Untuk membuat proyek ini dikerjakan dengan baik, harus ada pemimpin yang mengatur memimpin pekerjaan di sana.” Ucap Sunny setelah menjelaskan proyek mall dan hotel yang akan di dirikan di pulau Jeju.”

“Penjelasan yang bagus Sunny-ssi. Dengan keuntungan-keuntungan itu kita harus membuat proyek itu berhasil. Untuk pemimpin kusarankan bagaimana dengan Yoon sajangnim?” Doojoon terkejut mendengar pilihan Sunggyu.

“Bisakah anda menjelaskan kenapa memilih Yoon sajangnim?” Tanya Eric pada Sunggyu.

“Bukankah ini adalah proyek penting. Akan sangat beresiko memilih orang lain sebagai pemimpinnya. Kita semua tahu bagaimana prestasi kerja Yoon sajangnim bukan? Dia berhasil menyelanatkan perusahaan cabang yang ada di Busan. Yoon sajangnim juga berhasil membuat target penjualan melebihi perkiraan. Tak ada yang perlu diragukan lagi bukan?” Jelas Sunggyu.

Semua pemegang sahampun berbisik-bisik mendiskusikan ucapan Sunggyu. Sedangkan Doojoon yang tengah di bicarakan tampak tenang menunggu keputusan para pemegang saham. Lalu salah satu pemegang saham angkat bicara.

“Kami sudah memutuskan kami tidak ingin mengambil resiko seperti yang Sunggyu-ssi jelaskan. Karena itu kami percaya pada anda Yoon sajangnim.”

Doojoon berdiri dan membungkuk pada semua pemegang saham.

“Terimakasih atas kepercayaannya. Saya akan bekerja keras agar protek ini berhasil.”

Akhirnya setelah dua jam berlalu rapat itupun berakhir. Semua pemegang saham keluar meninggalkan ruangan itu. Eric menghampiri Doojoon yang sedang mengobrol dengan Sunggyu.

“Aku baru mendengar kehebatanmu Doojoon-ssi.” Puji Eric.

“Anda terlalu berlebihan tuan Jang, saya hanya mengandalkan kerja keras saya.”

“Tapi aku percaya proyek ini akan berhasil di bawah kepemimpinanmu.”

“Terimakasih tuan Jang. Senang bekerjasama dengan anda tuan Jang.” Doojoon mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Eric.

“Kau benar-benar hebat hyung. Aku iri padamu.” Ucap Sunggyu memandang kepergian Eric.

Doojoon tertawa melihat sepupunya. “Kau juga akan menjadi direktur yang hebat Sunggyu-ya.”

“Kuharap begitu hyung.”

Doojoon menepuk bahu Sunggyu.

“Kau memang direktur yang hebat Sunggyu-ya karena itu kupercayakan perusahaan ini padamu.”

Sunggyu tersenyum mendengar pujian Doojoon.

“Yoon sajangnim.”

Doojoon menoleh dan tersenyum pada Jihae.

“Ne Jihae-ssi.”

“Anda harus melihat ini.”

Jihae menyerahkan majalah pada Doojoon. Tanpa membaca tulisannya Doojoon sudah terkejut melihat cover depan majalah itu. Melihat perubahan wajah Doojoon, Sunggyupun penasaran dan ikut melihat. Lelaki itu sama terkejutnya dengan Doojoon.

“Bukankah dia…” Sunggyu tak melanjutkan ucapannya saat melihat Doojoon terdiam memandang cover majalah itu terus menerus.

 

*****

Dari tempat parkir Jieun berjalan menuju gedung rumah sakit. Gadis itu membenarkan tali tasnya yang turun dari bahunya. Tiba-tiba tangan Jieun ditarik dan sebuah tangan membekap mulutnya agar gadis itu tak berteriak. Ketakutan Jieun berusaha berteriak dan meronta.

“Tenanglah Jieun-ah. Ini aku Hyunseung.”

Jieunpun berhenti melawan saat mendengar suara Hyunseung. Merasa gadis itu sudah tenang Hyunseung melepaskan bekapannya. Jieun berbalik dan ternyata benar gadis itu melihat Hyunseung.

“Aigoo…. Oppa Kau membuatku takut.”

“Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya.”

“Tidak apa-apa Oppa. Aku harus segera bekerja.”

Hyunseung menahan lengan Jieun saat gadis itu hendak pergi.

“Kau tidak boleh bekerja Jieun-ah.”

“Nde? Apa maksudmu Oppa? Para pasien sedang menungguku.”

“Tapi kau tak bisa bekerja sekarang Jieun-ah. Kau lihat gerombolan wartawan di sana.”

Hyunseung menunjuk pada gerombolan wartawan yang berkumpul di depan pintu rumah sakit.

“Wartawan-wartawan itu sedang mengincarmu Jieun-ah.”

“MWO?”

Hyunseung segera membekap mulut Jieun kembali dan mengamatai gerombolan wartawan itu mendengar teriakan Jieun atau tidak.

“Jangan berteriak kau bisa menarik perhatian mereka.”

“Maafkan aku. Tapi kenapa wartawan itu mengincarku?”

“Aku akan menjelaskan nanti, sebaiknya kita segera masuk ke dalam mobil.” Hyunseung menarik Jieun menuju mobil van tak jauh dari mereka.

“Cepat hyung.” Perintah Hyunseung pada Andy yang duduk di kursi kemudi.

“Ini semua salahku Jieun-ah. Maafkan aku.” Hyunseung menyerahkan sebuah majalah pada Jieun.

Mata Jieun membulat terkejut melihat cover majalah itu adalah foto Hyunseung tengah menciumnya di taman hotel tempo hari. Entah darimana foto itu di ambil namun sang fotografer itu bisa memperjelas wajah mereka.

“Untuk sementara kita akan bersembunyi dulu lalu akan mengadakan konferensi pers soal berita ini.”

Belum juga Jieun menanggapi ucapan Hyunseung tiba-tiba ponselnya berdering.

“Yeoboseyo.” Sapa Jieun mengangkat telpon itu.

“Dokter Shin, apa anda masih lama? Banyak pasien menunggu anda.” Ucap Soojin.

“Maafkan aku Soojin-ssi. Mendadak aku tidak bisa datang. Bisakah kau meminta dokter lain untuk menggantikanku?”

“Baiklah. Hmm.. Dokter Shin, soal berita anda dengan Hyunseung apakah….”

“Maafkan aku Soojin-ah, aku belum bisa menjelaskan masalah itu sekarang.”

“Tidak apa-apa dokter Shin. Aku yang terlalu lancang bertanya. Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa Soojin-ssi.”

Jieun memasukkan ponselnya setelah selesai menelpon.

“Maafkan aku.” Jieun menoleh dan melihat Hyunseung menyesal.

“Aku tidak akan memaafkanmu Oppa .”

“MWO?”

“Tapi aku akan memaafkanmu jika kau bisa mengembalikan moodku menjadi baik.”

Hyunseung tengah memimirkan cara membuat Jieun senang kembali. Lelaki itu menjentikkan jarinya saat menemukan ide itu.

“Aku tahu caranya. Hyung ke tempat biasa hyung.” Perintah Hyunseung pada Andy.

“Kau yakin akan ke sana Hyunseung-ah?” Ragu Andy.

“Ne.”

“Baiklah.”

“Memang kita akan ke mana?”

“Rahasia. Nanti kau juga akan tahu.”

 

*****

 

Ahyoung sedang mengelap meja di ruang tamu. Gadis itu terlihat bosan karena tidak ada Yoseob yang menemaninya. Dia melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 2 siang dan gadis itu menghela nafas mengetahui masih satu jam lagi Yoseob akan pulang.

Ahyoung merapikan majalah-majalah yang berserakan. Ada satu majalah yang menarik perhatiannya. Terlihat tanggal penerbitan majalah itu baru hari ini berarti majalah itu masih baru.

“Ciuman panas Jang Hyunseung.” Ahyoung membaca judul di cover majalah itu.

“Jang Hyunseung? Hyunseung?” Gadis itu terus mengulang nama itu karena merasa sangat mengenal nama itu.

Tiba-tiba bayangan masa lalunya berekelebat di pikirannya.

 

“Saranghae Kim Yura.” Bisik Hyunseung di telinga Yura membuat gadis itu menggelinjang geli.

“Hentikan Hyunseung Oppa kau membuatku geli.”

 

 

 

Ahyoung ataupun Yura itupun ingat wajah hyunseung sama dengan wajah laki-laki dalam bayangannya. Tubuh Yura menegang saat mengingat peristiwa yang membuatmya harus terdampar di sini.

 

~~~Flashback~~~

 

Yura meringis seraya memegang keningnya yang baru saja terbentur dashbord. Yura melepaskan tangannya dan gadis itu bisa melihat darah melumuri tangannya. Dia menoleh dan nafasnya tercekat melihat Hyunseung tak sadarkan diri dengan darah menetes dari kepanya.

SRREEKK…

Melalui kaca spion Yura bisa melihat paparazi yang tadi mengejarnya sedang berusaha turun menuju mobil ini. Yura memandang Hyunseung untuk terakhir kalinya.

“Kita akan bertemu lagi Oppa.” Ucap Yura memegang lengan Hyunseung yang tak bergerak.

Yura membuka pintu mobil itu dan tubuh lemahnya segera jatuh ke tanah. Yura menoleh ke belakang mengamati paparazi yang sedang mendekat. Dengan mengumpulkan semua sisa tenaganya Yura berdiri dan berlari menuju hutan. Yura mendengar suara langkah kaki berlari mengikutinya.

Yura tak memperdulikan dahan-dahan tajam yang menggores kulit dan bajunya. KEinginan gadis itu hanyalah berlari menjauhi paparazi itu. Nafasnya terengah-engah dan tenaganya semakin menipis. Tiba-tiba kaki Yura tersandung hingga tubuh gadis itu meluncur ke tanah. Dia berbalik melihat salah satu sepatunya terlepas lalu tatapannya beralih pada bayangan lelaki yang berlari ke arahnya.

Kedua tangan Yura bertumpu di atas tanah membantu gadis itu berdiri. Dengan tertatih gadis itu mempercepat langkahnya. Tanpa gadis itu duga kakinya terperosok ke dalam jurang. Yura berteriak hingga tubuh gadis itu jatuh di atas sungai. Kepala gadis itu terbentur batu hingga tak sadarkan diri.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Yura bangkit berdiri menjatuhkan majalah dipangkuannya. Ahyoung atau bernama asli Yura itu mengambil kertas dan pulpen lalu menuliskan sesuatu di kertas itu sebelum akhirnya mberlari meninggalkan rymah Yoseob. Di lantai tampak majalah yang di jatuhkan Yura membuka tepat di berita Hyunseung dan Jieun.

 

*****

 

Jieun membuka pintu berukuran tebal. Wajahmya tampak menunjukkan kekaguman saat melihat beberapa alat musik dalam satu ruangan. Di belakangnya Hyunseung tsrsenyum melihat kekaguman Jieun.

“Masuklah.”

Jieunpun menuruti ucapan Hyunseung. Gadis itu melihat serta menyentuh gitar, bass, drum dan piano. Jieun memang tak bisa memainkan satupun dari alat musik itu tapi gadis itu suka mendengar seseorang memainkan musik di hadapannya. Dulu gadis itu selalu meminta Dongwoon untuj memainkannya namun semenjak kakakmya pergi tak seorangpun bisa memainkan musik untuknya termasuk Doojoon.

“Oppa bisakah kau memainkan gitar ini untukku?”

Jieun menyerahkan gitar berwarna coklat muda itu pada Hyunseung.

“Kau ingin aku memainkan lagu apa?”

Hyunseung mengambil gitar itu dan duduk di kursi.

“Lagu apa saja yang Oppa bisa mainkan.” Ucap Jieun duduk duduk di hadapan Hyunseung.

Hyunseung tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya lelaki itu memetik gitar itu. Kepala Jieun bergerak mengikuti irama gitar itu. Gadis itu tersenyum mendengarnya.

 

jonyok nouri jigo hana dul kyojinun

After the after glow sets,

bulbichul taraso noege gago isso

I’m going towards you,

chagaun barame umchurin ne okkaega

Following the lights which turn on one by one

naeryo antgi jone naega gamssajulke

I’ll embrace you. Before the cold wind makes your shoulders flinch

nal bwa love

I love you.

you babogatun gudae

The foolish you.

gu modun goshi naegen da sojunghangol

You’re so precious to me

*gudae wiro toorun taeyangmankum

As much as the sun that rises above you.

nuni bushin i gasumuro

I’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart.

gidaryojun shiganmankum nol naega jikyojulke

All the dreams I’ve prayed for.

gidohan modun kumi ganjolhan

They’re going towards you with my sincere scent

nae hyanggiro nama uril hyanghae isso

I hope that my wishes of smiling next to you every new morning

More than the air I breathe

(DBSK – Picture of You)

Jieun menatap Hyunseung yang terus melihat ke arahnya. Senyum Jieun menghilang saat lagi-lagi gadis itu terpesona pada bola mata coklat Hyunseung. Tangan Hyunseung terulur mengelus pipi Jieun. Sedangkan Jieun tyang terkejut hanya menggenggam erat ujung blousenya. Kedua dsudut bibir Hyunseung melengkung membentuk senyuman yang mampu membuat detak jantung Jieun berdetak lebih cepat.

“Aku senang kau menyukainya.” Ucap Hyunseung memecahkan keheningan.

Tersadar Jieun segera menjauh dan mengalihkan tatapannya.

“Lagu itu begitu indah Oppa. Gomawo.” Jieun bertepuk tangan.

“Apa kau pernah memainkan musik Jieun-ah?”

“Dulu aku pernah bermain biola. Tapi itu sudah lama sekali bahkan aku lupa bagaimana memegang biola.”

“Biola? Sepertinya aku pernah menyimpannya. Tunggu sebentar.”

Hyunseung beranjak pergi mengambil biola di peralatan musik. Jieun mengamatai studio musik itu seraya menunggu Hyunseung kembali.

“Ketemu.” Seru Hyunseung menunjukkan tempat biola yang sudah berdebu.

“Aiiggoo… Oppa aku sudah lama tak memainkannya.”

“Tapi aku ingin mendengarnya Jieun-ah.”

Hyunseung membuka tempatnya dan mengambil biola beserta busurnya itu pada Jieun.

“Aku audah lupa bagaimana memainkannya oppa.” Keluh Jieun mengambil biola dan busur itu.

“Aku sudah memainkan gitar untukmu, jadi sekarang mainkan biola itu untukku. Cobalah.”

Jieun menghela nafas sebelum akhirnya biola itu diapit di antara dagu dan bahu kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang busur bersiap menggesekkannya di senar-senar biola. Kepala Hyunseung mengangguk-angguk menikmati alunan musik itu. Namun tak berselang lama Hyunseung terdiam saat mengenali lagu itu. Lagu yang semua tahu. Tepat saat Jieun selesai memainkan biola itu Hyunseung memberikan tepuk tangan untuk permainan yang tidak buruk.

“Doraemon ne?” Hyunseung menebak lagu yang di mainkan Jieun.

“Hanya itu yang kuingat Oppa.”

“Tapi permainanmu tidak buruk untuk orang yang sudah lama tak memainkannya.”

“Gomawo Oppa.”

“Aku datang…”

Jieun dan Hyunseung bersama menoleh dan melihat Andy menghampiri mereka dengan dua tas plastik yang penuh.

“Aku rasa perut kalian harus diisi.”

“Gomawo hyung.”

“Gomawo Andy-ssi.”

Andy menyerahkan kotak makanan pada Hyunseung dan Jieun.

“Selamat makan.” Ucap mereka bersama lalu melahap makanan mereka.

 

*****

 

“Baiklah karena besok kita akan melakukan …… Maka semua siswa di wajibkan membawa peralatan kebersihan yang sudah di tentukan mengerti?” Tanya guru Choi.

“Ne seonsaengnim.” Jawab semua siswa malas.

Junhyung melihat Minah yang berpindah tempat duduk jauh darinya. Gadis itu tengah membereskan buku dan peralatan tulisnya seraya bercanda dengan Chanmi. Junhyung berdiri saat melihat Minah berjalan keluar kelas. Junhyung mempercepat langkahnya menyusul Minah. Dengan cepat Junhyung menarik Minah memasuki sebuah ruangan.

“YA!!! Apa yang kau lakukan?” Kaget Minah.

“Kemarin kau pingsan seperti saat kau mengambil laguku. Dan aku mulai berpikir, ada yang tidak beres dengan tubuhmu bukan?”

Minah hanya terdiam dan menatap Junhyung tanpa ekspresi.

“Kenapa kau menanyakannya?”

Junhyung tampak menahan diri agar tidak kesal.

“Karena aku mencemaskanmu.”

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak mencemaskanku.”

“Aku mencemaskanmu karena aku memyukaimu. Bukankah itu yang ingin kaudengar? Jadi berhentilah menghindariku, karena aku ingin kau menjadi milikku.”

Tubuh Minah tak bisa berkutik lagi mendengar ucapan Junhyung. Matanya membulat sempurna bahkan gadis itu tak menyadari sedang menahan nafasnya.

“Minah.” Panggil Junhyung menyadarkan Minah.

“Aku… Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu.” Minah hendak pergi namun Junhyung menahan lengan gadis itu.

“Apa maksudmu? Bukankah selama ini kau yang mengatakan kalau kau menyukaiku? Apa kau hanya ingin mempermainkanku saja HUH?” Minah sedikit beringsut mendengar bentakan Junhyung.

“Keadaan sudah berubah Oppa.”

“Apa maksudmu?”

“Minah?”

Junhyung mendengus kesal melihat Kikwang menghampiri mereka.

“Lepaskan tunanganku Junhyung-ah.” Perintah Kikwang namun Junhyung tak kunjung melepaskan Minah.

Kesal, Kikwang melepaskan paksa tangan Junhyung dan menarik Minah ke belakamgnya.

“Aku tidak suka melihat kau dekat dengan tunanganku, Junhyung-ah.” Ucap Kikwang sebelum akhirnya menarik Minah pergi.

Junhyung masih terdiam di tempatnya dan tatapannya mengiri kepergian sepasang tunangan itu.

“HHUUUUHHH…..” Kesal Junhyung memukul tembok di depannya namun tiba-tiba dahinya berkerut saat merasakan nyeri di tangannya.

“Sepertinya ada yang sedang cemburu.” Ucap Yoseob memgagetkan Jumhyung.

“Siapa yang cemburu?”

“Aaisshhh… Tak perlu berbohong padaku Junhyung-ah. Aku memdengar semuanya.”

“Mendengar apa?”

“Aku mencemaskanmu karena aku memyukaimu. Bukankah itu yang ingin kaudengar? Jadi berhentilah menghindariku, karena aku ingin kau menjadi milikku. Itu kan yang kaukatakan tadi.” Yoseob menirukan ucapan Junhyung dengan nada yang di buat jelek dan gerak bibir yang lucu.

“Aaisshhh….” Gerutu Junhyung meninggalkan Yoseob yang tertawa melihat sahabatmya sedang kacau.

Sepeninggal Jumhyung, Yoseob segera pulang. Semenjak Ahyoung di rumahnya, lelaki itu setiap hari tidak sabar ingin bertemu dengan gadis itu dan melakukan kegiatan bersamanya. Yoseob mengambil sepedanya dan secepatnya mengayuh alat transportasinya itu.

Yoseob tersenyum saat melewati hutan, tempat pertama kalinya lelaki itu menemukan Ahyoung. Yoseob masih ingat betapa berantakannya gadis itu saat bertemu dengannya. Namun sekarang gadis itu sudah terlihat seperti gadis normal lainnya meskipun ingatannya masih belum kembali.

Yoseob memasukman sepedanya di garasi lalu segera berlari ke dalam rumah. Saat masuk rumah tampak sepi bahkan lampupun belum dihidupkan meakipun hari hendak menjadi gelap.

“Ahyoung-ah….” Pabggil Yoseob namun rumah tampak heming.

Yoseob berjalan ke dapur namun hanya mendapati dapur tampak rapi.

“Ahyoung-ah….” Panggil Yoseob kembali namun tak ada jawaban.

Yoseob mulai panik saat memikirkan hal yang tidak-tidak. Yoseob berlari mencari di lantai dua seraya memanggil nama gadis itu namun sayang hasilnya tetap sama. Yosepb turun kembali ke lantai satu. Langkah lelaki itu terhenti saat matanya menangkap secarik kertas di meja makan. Yoseob menghampiri meja itu dan mengambil surat itu.

Mianhae Oppa aku pergi tanpa pamit. Tapi aku sudah mengingat semuanya dan ada seseorang yang sangat penting yang harus kutemui. Terimakasih selama ini kau sudah merawatku dan membiarkanku tinggal di rumahmu. Suatu hari aku pasti akan membalasnya.

 

Ahyoung

 

Yoseob terduduk lemas selesai membaca surat itu. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Rumahnya kembali sepi dan hening seperti semula sebelum bertemu Ahyoung. Yoseob menunduk dan melihat sebuah majalah jatuh. Dia mengambil majalah itu dan membaca berita di dalamnya.

“Jang Hyunseung? Bukankah dia kakak laki-laki Junhyung?” Kaget Yoseob saat membaca Hyunseung menjadi topik pembicaraan utama.

 

*****

 

Lagi-lagi Jieun tertawa memdengar cerita lucu Hyunseung tentang fansnya yang terkadang aneh. Jieun sampai memegang perutnya karena terlalu bnyak tertawa.

“Lalu apa kau memberikan tanda tanganmu setelah fans itu menciummu Oppa?”

“Tentu saja. Aku tak bisa mengecewakan semua fansku.”

Jieun bertepuk tangan karena kagum dengan Hyunseung yang tidak spmbong saat menjadi penyanyi terkenal.

“Aku akan mengambilkan minuman lagi.” Ucap Junhyung mengambil kedua gelas mereka yang kosong.

Sepeninggal Hyunseung, Jieun mengambil tas dan mengeluarkan ponselnya. Gadis itu begitu terkejut saat mendengar 40 panggilan dari Doojoon, 30 panggilan dari Sunggyu dan 20 pesan yang sama dari Doojoon dan isinyapun sama agar Jieun mengangkat telponnya. Saat Jieun hendak menelpon Doojoon, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Terlihat nama ‘Sunggyu’ di layar ponselmya.

“Yeobboseyo?”

“Aigoo…. Noona dari mana saja kau? Aku sudah menghubungimu berkali-kali tapi kau tak juga mengangkatnya.”

“Mianhae.” Sesal Jieun.

“Sekarang noona di mana? Ada masalah dengan Doojoon hyung.”

“MWO? Masalah apa?”

“Doojoon hyung sakit. Dia bersikeras tak mau meninggalkan apartement. Cepatlah noona datang.”

“Nee.. Ne… Aku akan segera datang.”

Jieun memasukan kembali ponsel itu ke dalam tasnya. Tepat saat gadis itu berdiri Hyunseungpun kembali dengan dua gelas penuh kopi.

“Mianhae Oppa, aku harus segera pergi.”

“Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu Oppa. Kau masih harus istirahat. Ingat kakimu belum pulih benar. AKU akan meminta Andy-ssi mengantarku. Gomawo.”

Jieun segera berlari keluar meninggalkan Hyunseung. Setelah keluar dari studio, Jieun langsung menemukan Andy di dalam mobil vannya.

“Andy-ssi, bisakah kau mengantarku ke apartement di daerah gangnam?”

“Ne. Tentu saja dokter Shin.”

“Terimakasih Andy-ssi.”

Jieun segera masuk ke dalam mabil lalu mobil itu melesat menuju apartement Doojoon. Dalam mobil Jieun tampak memainkan ujung blousenya dengan gelisah.

“Apa ada masalah dokter Shin? Kau tampak gelisah.” Tanya Andy menyadari kegelisahan Jieun.

“Tidak. Aku tidak apa-apa Andy-ssi.”

Andypun tak lagi bertanya lebih lanjut karena lelaki itu sadar jika dia tak bisa memaksa Jieun. Lima belas menit kemudian Mobil itu sampai di depan gedung aparteme t Doojoon.

“Terimakasih sudah mengantarku Andy-ssi.” Ucap Jieun segera turun dan berlari memasuki apartement itu. Andypun melajukan mobilnya kembali ke studio.

Jieun menekan tombol … Saat gadis itu masuk dalam lift. Dia bergumam agar lift itu cepat sampai di lantai di mana apartement Doojoon berada. pintu lift terbuka dan Jieun segera berlari keluar. Dengan cepat gadis itu memasukan kode lalu pintu itu terbuka. Jieun memasuki apartement itu namun keadaan di dalam gelap gulita.

“Doojoon Oppa…” Panggil Jieun masuk ke dalam.

Gadis itu meraba tembok mencari saklar lampu. Tepat setelah Jieun menekan tombol saklar ruanganpun menjadi terang.

“Selamat ulang tahun…. Selamat ulang tahun…. Selamat ulangtahun Shin Jieun…. Selamat ulangtahun…..” Jieun bisa melihat Doojoon, Sunggyu, Jihae, Doongwoo, Yeonhee dan Young menyanyikan lagu ulangtahun.

Doojoon membawa kue ulangtahun berbentuk hello kitty dan menghampiri Jieun.

“Selamat ulangtahun chagi.”

“Ucapkan permohonanmu sebelum meniup lilinnya Dongsaengie.” Sahut Doongwoo.

Jieun menutup matanya mengucapkan permohonan sebelum akhirnya meniup lilin berbentuk angka 23 sesuai umur Jieun yang menginjak 23 tahun.

“YA!!! KIM SUNGGYU!!! Kau berbohong padaku. Kau bilang Doojoon Oppa sakit.” Marah Jieun pada Sunggyu.

“Aku tak berbohong noona, Doojoon hyung memang sakit, sakit hati.”

Ucap Sunggyu seraya menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf ‘V’.

Jieun menatap laki-laki yang menjafi tunangamnya itu. Jieun yakin Doojoon sudah membaca berita tentang beritanya dengan Hyunseung.

“Oppa soal berita itu…”

“Tak perlu menjelaskannya Jieun-ah. Aku percaya padamu.” Doojoon mencium kening Jieun.

Di belakang mereka para tamu berseru protes.

“Aiggooo… Hyung kami masih ada di sini, jangan bermesraan di hadapan kami.”

“Ne. Sunggyu benar hyung. Ingat ada anak kecil hyung.” Timpal DOngwoon.

“Aaisshh… Arrasseo… Arrasseo…” Kesal Doojoon membuat semua tertawa.

Young menghampiri Jieun dan menarik-narik rok Jieun. Jieun tersenyum dan berlutut bertatap muka dengan Young.

“Ada apa Ypungie-ah?”

“Aku lapar dokter Shin.”

Seketika semua tertawa mendengar ucapan polos Jieun.

“Kalau begitu saatnya kita makan Youngie-ah.” Seru Jieun seperti anak kecil.

Merekapun menuju meja makan siap menyantap hidangan yang sudah Doojoon siapkan. Jieun tersemyum senang melihat ulangtahun kali ini lebih meriah dibandingkan tahun lalu dia hanya merayakannya demgan Doojoon. Tapi senyum Jieun memudar mengingat satu orang paling penting baginya tidak hadir. Jieun menoleh saat merasakan seseorang menggenggam tangannya. Tampak Doojoon tersenyum padanya.

“Maafkan aku tak bisa menghadirkan abeonim.”

Jieun membalas senyuman Doojoon dan menggenggam tangan tunangannya.

“Tidak apa-apa Oppa. Appa memang selalu lupa.”

Jieun dan Doojoonpun melanhutkan acara makan mereka. Sunggyu tampak sedang menggoda Jihae, sedangkan Dongwoon membantu Yeonhee menyuapi Young bahkan mereka terlihat seperti keluarga.

Satu jam berlalu pesta kejutan ulang tahun Jieunpun berakhir. Dongwoon dan yang lain pun berpamitan meninggalkan apartemwnt Doojoon.

“Hyung awas jika hyung macam-macam pada dongsaengku ne?” Ancam Doongwoon menggendong Young yang tertidur dalam gendongannya.

“Kami pulang dulu. Terimakasih atas pestanya. Selamat ulang tahun Jieun-ah.” Yeonhee mencium pipi kanan dan pipi kiri Jieun.

“Terimakasih Yeonhee-ah.”

“Jangan macam-macam hyung. Kalian belum resmi.” Goda Sunggyu menarik Jihae pulang sebelum Doojoon memberinya pelajaran.

“SELAMAT ULANG TAHUN NOONA” Seru Sunggyu.

“Selamat ulangtahun Jieun-ah.” Jihae melambai sebelum akhirnya di tarik pergi oleh Sunggyu.r

“Sunggyu dan Jihae tampak semakin akrab.”

Jieun merasakan Doojoon memeluknya dari belakang.

“Apa kau juga semakin akrab dengan Hyunseung?”

“Oppa… Bukankah kau bilang percaya padaku?”

Doojoon melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Jieun. Laki-laki itu menangkup kedua pipi Jieun dan menatap manik mata Jieun.

“Aku sudah berusaha mempercayaimu Jieun-ah. Tapi entah mengapa ada ada rasa takut kehilanganmu. Apa aku terlihat seperti orang bodoh?”

Jieun melakukan hal yang sama menangkup kedua pipi Doojoon.

“Tidak Oppa. Kau tidak terlihat seperti orang bodoh, kau terlihat seperti kekasih yang sedang cemburu.”

Tiba-tiba Doojoon menarik Jirun ke dalam pelukannya. Kedua tangannya memeluk gadis itu erat seakan tak ingin melepaskannya.

“Pagi tadi aku di tunjuk memimpin proyek di pulau Jeju.”

“Apa Oppa akan tinggal di pulau Jeju untuk waktu yang lama?”

“Ne. Karena itu maukah kau berjanji untuk menjaga hatimu untukku?”

“Oppa.”

“Berjanjilah Jieun-ah agar hatiku terasa tenang.”

“Baiklah. Aku berjanji untuk menjaga hatiku.”

Doojoon tersenyum lalu mencium bibir gadis itu. Doojoon kembali menarik Jieun ke dalam pelukkannya. Doojoon ingin menghabiskan waktu terakhirnya bersama Jieun.

 

*****

 

“Aku sudah mengurusnya. Besok jam 10 kita akan mengadakan konferensi pers.” Jelas Andy saat mereka berada di depan gedung apartement Hyunseung.

“Ne. Gomawo hyung.”

“Istirahatlah, aku akan menjemputmu jam 8.”

“Ne. Sampai jumpa besok hyung.”

Hyunseungpun keluar dari mobil Van Andy. Hyunseung melambaikan tangannya mengiringi kepergian Andy. Setelah mobil Van itu tak terlihat lagi, Hyunseung segera masuk ke dalam gedung apartementnya. Hyunseung merasa lelah berjalan menggunakan kruk di tangannya. Laki-laki itu tak sabar ingin segera lepas dari kruk itu.

Setelah menaiki lift, Hyunseung akhirnya sampai di depan pintu apartemennya. Hyunseung memasukkan kode dan pintupun terbuka. Apartement itu masih gelap menandakan Junhyung belum sampai di rumah.

“Ke mana anak itu? Kenapa belum pulang?” Gerutu Hyunseung.

Hyunseung menyalakan lampu lalu berjalan menuju dapur. Dia membuka lemari pendingin lalu mengambil sebotol air dan meneguknya melepaskan dahaga yang mencekat tenggorokan. Hyunseung meletakkan kembali botol minum itu di tempatnya ssmula.

Entah mengapa pikiran lelaki itu kembali memikirkan Jieun. Setelah hampir seharian bersama Jieun, Hyunseung merasa nyaman bersama gadis itu. Hyunseung menyunggingkan senyuman saat mengingat candaannya bersama Jieun. Tiba-tiba senyum Hyunseung memudar saat merasakan sepasang tangan memeluk perutnya dari belakang.

“Aku merindukanmu Oppa.” Mulut Hyunseung terbuka tak percaya mendengar suara yang sudah lama tak di dengarnya.

Hyunseung menunduk melihat tangan berkulit putih melingkar di perutnya. Hyunseung melepaskan tangan itu dan berbalik. Matanya membesar melihat seorang gadis yang dirindukannya berdiri di hadapannya. Tangan Hyunseung yang bergetar terulur menyentuh pipi gadis itu dan gadia itu tersemyum merasakan kehangatan tangan Hyunseung.

“Yu-Yura.” Panggil Hyunseungbtak percaya.

Yura menggenggam tangan Hyunseung dan menahannya seakan tak ingin melepaskan.

“Ne Oppa ini aku Yura. Aku sangat merindukanmu Oppa.”

“Aku juga sangat merindukanmu Kim Yura.”

Hyunseung menarik tubuh Yura dan memeluk gadis itu sangat erat tak lagi ingin melepaskan gadis itu begitupula Yura.

 

~~~TBC~~~

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. nurul yuma says:

    Yey!!!! Akhirnya hyunseung bisa bertemu dgn yura lagi…
    Daebak!!! Eon…
    Kalo bisa next ya eon… 😉

    1. chunniest says:

      Q usahakan ya chapter 7 nya baru proses. Ini q juga buat Love & Revenge chap 2. Km lebih suka Hyunseung sama Yura?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s