(TWOSHOOT) ESPADA Chapter 1

wpid-espada.jpg

BumbleBee @ Poster Channel

Title : Espada

Story by Chunniest

Genre : Action, Sad

Lenght : Twoshoot

Cast :

* Jung Hajin (OC)

* Koo Jun Hoe (iKon)

* Jung Chanwoo (iKon)

Anggota Organisasi Espada:

Jung Chanwoo [Hana (1)] || Jung Hajin [Liang (2)] || Jeon Jungkook [Sam (3)] ||

Nam Taehyun [Vier (4)] || Kim Dani [Quinque (5)] || Park Jihoon [Roku(6)] ||

Oh Sehun [Siete (7)] || Huang Zi Tao [Vosyim (8)] || Lee Hyunwoo [Nine (9)] ||

Lim Changkyun [Dix (10)]

Guest :

Jung Yunho (TVXQ)

Yoon Doojoon (BEAST)

Mun Eric (SHINHWA)

FF ini khusus kupersembahkan untuk Jinho yg sudah request. Semoga suka ya……

Happy reading^-^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

 

Di sebuah ruangan dalam gudang yang sudah tak terpakai, terlihat beberapa orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Seorang laki-laki yang tengah serius dengan komputernya tampak terkejut denga apa yang dilihatnya. Diapun berdiri dan menghampiri Chanwoo yang tengah memperindah mobil sport kesayangannya.

“Hyung.” Panggil laki-laki itu membuat Chanwoo menoleh.

Waeyo Tao?”

“Hyung Hyunwoo dan Changkyun dalam bahaya. Tiga orang polisi memergoki mereka tengah membahas pertukaran.”

MWO? Lalu bagaimana mereka sekarang?” Chanwoo berdiri dan tampak geram membuat Tao mundur beberapa langkah ketakutan.

“Mereka bersembunyi dan berusaha melawan polisi.”

“Bagaimana jika aku yang turun tangan?”

Chanwoo menoleh dan melihat seorang gadis tengah menyusun pistolnya. Chanwoo menghampiri gadis itu tanpa menolehkan pandangannya dari sosok yang sudah memikatnya. Langkah Chanwoo berdiri tepat di belakang gadis itu. Kedua tangannya diletakkan di sisi meja memenjarakan tubuh langsing gadis itu.

“Kau yakin ingin melakukannya Hajin-ah?” Bisik Chanwoo.

Gadis bernama Hajin itu meletakkan pistolnya dan terlihat tidak menyukai pertanyaan Chanwoo.

“Apa kau tidak percaya padaku?”

Chanwoo justru tersenyum mendengar kekesalan Hajin. Dia mendaratkan bibirnya di bahu Hajin yang hanya dilindungi tali spageti tank top hitam yang dikenakannya.

“Tentu saja aku percaya padamu chagiya. Tapi kau terlalu berharga untuk diturunkan.”

Hajin mengambil pistolnya dan menarik slidenya sehingga peluru terisi dalam magazine.

“Tiga orang polisi sangat mudah untukku Oppa.”

Chanwoo menghela nafas mendengar sifat keras kepala kekasihnya.

“Baiklah. Taehyun… Jungkook… Kalian ikut dengan Hajin.”

Taehyun dan Jungkook yang sedang melatih tinju mereka langsung menoleh mendengar perintah leader mereka.

“Ne…” Jawab keduanya bersamaan.

Chanwoo kembali menghadap Hajin yang kali ini menatapnya.

“Bunuh juga klien kita.”

Hajin kaget mendengar perintah Chanwoo.

“Tapi Oppa. Mereka klien kita.”

“Kita tidak bisa mengambil resiko membiarkan mereka tertangkap polisi dan membongkar organisasi kita. Jadi bunuh mereka.”

Hajin mengangguk seperti anjing yang patuh pada majikannya.

“Baiklah Oppa.”

*   *   *   *   *

Di sebuah terowongan yang sudah tidak terpakai lagi menjadi berisik akibat adu tembak. Suasana kembali hening. Yunho mengamati keadaan dan mencari target mereka.

“Junhoe dan Doojoon kalian kearah sana dan aku ke arah sini.” Perintah Yunho dan merekapun berjalan berlawanan.

Junhoe dan Doojoon berjalan seraya mengamati keadaan.

“Apa kau melihat sesuatu Junhoe-ya?” Tanya Doojoon.

Aniyo hyung.”

Mereka terus berjalan hingga terdengar suara pukulan. Doojoon menatap juniornya itu.

“Apa kau mendengarnya?”

Junhoe mengangguk.

“Ne hyung. Sepertinya dari arah Yunho hyung.”

“Ayo kita segera ke sana.”

Junhoepun berlari mengikuti Doojoon menuju arah Yunho. Benar saja sesampainya di mana tempat Yunho hyung berada mereka terkejut melihat seorang gadis mengarahkan pistol ke arah Yunho yang tersungkur di lantai. Sedangkan dua orang dibelakang gadis itu tengah membawa kedua teman yang sudah Yunho tembak dalam aksi baku tembak tadi. Nafas Junhoe tercekat saat mengenali wajah gadis itu.

wpid-uee-gun-flashback.gif

DDOORR….

Sebuah peluru keluar dari pistol Hajin dan mengenai bahu Yunho. Doojoon menghampiri tubuh Yunho, sedangkan Junhoe berlari mengejar gerombolan yang berusaha kabur itu.

“Hajin-ah.”

Langkah Hajin terhenti mendengar Junhoe memanggil namanya. Gadis itu berbalik dan mendapati ekspresi tak percaya dari wajah Junhoe.

“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”

“Kau benar Jung Hajin?”

Hajin terkejut laki-laki itu mengetahui namanya tapi Hajin tak mungkin mengakuinya karena itu bisa membahayakannya. Tapi saat Hajin melihat wajah Junhoe ada yang aneh dengannya. Seakan wajah Junhoe tak asing baginya.

Liang (2), ayo cepat.” Terdengar panggilan dari belakang hajin.

“Ne.”

Hajin menatap Junhoe sebelum akhirnya berbalik dan menghilang dari pandangan Junhoe.

“Hajin?” Panggil Junhoe lirih. Terdengar ekspresi kesakitan dari suara Junhoe.

*   *   *   *   *

Doojon dan Junhoe membungkuk pada Yunho yang duduk di ranjang rumah sakit dengan perban di dadanya.

“Maafkan kami hyung tidak datang tepat waktu.” Ucap Doojoon.

Yunhoo hanya tersenyum melihat kedua juniornya.

“Sudahlah. Ini bukan salah kalian. Bukankah ini sudah resiko pekerjaan kita sebagai polisi?”

“Ne hyung.”

Yunhoo melirik ke arah Junhoe yang sedari tadi diam.

“Junhoe-ya?”

Junhoe yang berdiri di samping Doojoon terkejut dengan panggilan Yunho.

“Ne hyung?”

“Ada apa denganmu? Dari tadi kau tampak melamun?” Tanya Yunho.

“Tidak apa-apa hyung.”

“Jangan membohongiku Junhoe-ya. Kita sudah bekerja bersama selama 2 tahun. Dan aku sudah mengenalmu dengan baik. Jadi katakan apa yang mengganggu pikiranmu.”

Junhoe menatap Yunho yang mengangguk meyakinkan laki-laki itu.

“Gadis yang menembak hyung dia mirip sekali dengan tunanganku.”

Junhoe mengeluarkan foto gadis yang memiliki wajah yang sama dengan Hajin. Namun dalam foto itu gadis itu terlihat lebih lembut daripada Hajin yang sekarang. Yunho dan Doojoon tampak terkejut melihat foto itu.

“Tapi bukankah tunanganmu sudah meninggal 4 tahun yang lalu?”

Junhoe mengangguk.

“Ne. Karena itu aku sangat terkejut melihat gadis itu mirip sekali dengan Hajin.”

“Kuharap kau tidak terbawa perasaanmu Junhoe-ya. Ingat gadis itu tergabung dalam organisasi Espada. Jadi jangan menggunakan perasaanmu saat menangkap mereka. Kau mengerti Junhoe-ya?”

“Ne hyung.”

“Sebaiknya kalian laporkan yang kita dapatkan kepada kapten Mun.”

“Ne hyung.” Jawab Doojoon dan Junhoe bersamaan sebelum akhirnya meninggalkan Yunho untuk beristirahat.

*   *   *   *   *

Hajin duduk di tumpukan baja yang sudah tidak terpakai lagi. Mata gadis itu menerawang mengingat kejadian tadi saat bertemu dengan Junhoe. Gadis itu tak sadar seseorang tengah mengamatinya. Chanwoo sang pemilik mata bermanik coklat itu menghampiri Hajin. Tanpa Hajin sadari, Chanwoo sudah duduk di sampingnya.

“Hajin-ah.” Panggilan Chanwoo menyadarkan gadis itu.

Hajin menoleh dan menyunggingkan senyuman tipis.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Chanwoo.

“Kenapa Oppa bertanya seperti itu?”

“Kulihat kau berbeda setelah kembali. Seperti ada yang mengganggu pikiranmu.”

Hajin menggeleng menyembunyikan pertemuannya dengan Junhoe. Sesuai yang dikenalnya selama ini, Chanwoo tipe laki-laki yang overprotective. Karena itu akan lebih baik jika Hajin tak menceritakannya pada kekasihnya.

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa kasihan pada Hyunwoo Dan Changkyun.”

Chanwoo menghela nafas lalu menumpukkan tubuhnya pada kedua tangannya.

“Aku juga merasa kehilangan anggota terbaikku. Setelah dix (10) dan nine (9) terbunuh, aku tidak akan menurunkanmu lagi.”

Seketika Hajin menoleh dan marah dengan ucapan Chanwoo.

“Kenapa harus seperti itu? Apa Oppa tak ingin mengandalkanku lagi?”

Seperti biasanya Chanwoo terlihat santai menghadapi Hajin yang menggebu-gebu. Dia meletakkan lengannya merangkul bahu Hajin.

“Tidak seperti itu. Saat ini kepolisian sedang menyoroti organisasi kita. Buktinya dix (10) dan nine (9) sudah mereka kalahkan. Kau adalah liang, nomor 2, jadi kau lebih berharga dibandingkan yang lain. Jadi biarkan yang lain beraksi dulu. Kau mengerti?”

Hajinpun mengangguk lalu meletakkan kepalanya di bahu Chanwoo membiarkan pikirannya lepas dari Junhoe.

*   *   *   *   *

Disebuah ruangan beberapa polisi berkumpul mendengar penjelasan Kapten Eric Mun. Junhoe ikut mendengar setelah melaporkan apa yang terjadi dengan kejadian di terowongan tadi.

“Akhirnya untuk pertama kalinya dalam 3 tahun ini kepolisian berhasil melumpuhkan 2 anggota Espada. Sesuai laporan kelompok yang dipimpin Yunho, mereka mendengar anggota tim yang lain menyebut mereka ‘dix‘ dan ‘nine‘. Seperti yang kita tahu ‘nine‘ artinya adalah ‘9’. Sedangkan ‘dix‘ berasal dari bahasa prancis yang berarti ’10’. Jadi kita tahu organisasi Esperada menggunakan angka untuk setiap anggota mereka.” Jelas Eric.

Changmin mengangkat tangannya.

“Ada apa Changmin-ah?”

“Aku pernah mendengar nama anggota Esperada di dalam animasi ‘Bleach‘. Dalam aniasi itu anggota mereka juga diberi tanda angka.”

“Jadi kau berpikir organisasi ini sama dengan yang ada di dalam animasi ‘ bleach‘?”

“Saya tidak tahu Kapten. Tapi jika benar berarti semakin sedikit angka maka akan semakin kuat orang kita hadapi.”

Junhoe mengangkat tangannya.

“Ada Junhoe-ya?” Tanya kapten Eric.

“Aku rasa Changmin hyung benar kapten. Orang yang menembak Yunho hyung dipanggil ‘liang‘. Dalam bahasa Mandarin ‘liang‘ adalah ‘2’.”

Eric Mun tampak berpikir. Sang kapten tidak ingin memberi kesimpulan dengan animasi yang Changmin sebutkan. Tapi jika orang yang menembak Yunho adalah nomor ‘2’ maka Eric harus percaya jika itu memang benar.

“Kita tidak bisa menyimpulkan hal itu sekarang. Kita tunggu kelanjutannya.”

“Ne. Kapten.”

Ericpun keluar ruangan. Changmin menghampiri Junhoe yang berjalan keluar.

“Junhoe-ya. Apa benar kau melihat orang yang dipanggil ‘liang‘? Bagaimana rupanya? Apakah menakutkan?”

Junhoe menggeleng.

Ani. Cantik.”

MWO? Jadi liang (2) itu yeoja?”

Junhoe mengangguk.

“Aku penasaran seberapa kuat gadis itu hingga menyandang nomor dua.”

Junhoe hanya menggeleng melihat seniornya itu.

*   *   *   *   *

Jinhoe melambaikan tangan kearah Hajin. Seorang gadis dengan mengenakan kaos putih dan rok panjang bunga-bunga yang melambai-lambai ditiup angin langsung masuk kedalam mobil. Junhoe kembali masuk rumahnya setelah mobil Hajin melesat pergi.

Laki-laki itu mengambil sebotol air putih dan langsung meminumnya. Air itu menghilangkan dahaga yang Junhoe rasakan. Di depannya ada remote TV yang jarang di hidupkannya. Merasa bosan laki-laki itupun menghidupkan TV. Sebuah berita tepat menghiasi layar TV.

Sebuah mobil mengalami kecelakan di jalan Seobinggo. Sebuah mobil lain menabrak mobil Audi berwarna hitam. Namun sebelum para korban sempat diselamatkan mobil itu sudah meledak.

“Andwae…. Hajin-ah.”

Junhoe keluar dari rumahnya dan melihat asap mengepul kelangit tak jauh dari rumahnya.

ANDWAE HAJIN-AH!!!!”

Junhoe terbangun dari tidurnya. Butiran-butiran keringat menempel di wajahnya. Nafasnya tersengal-sengal. Junhoe mengelap keringat lalu turun dari ranjangnya. Kakinya berjalan menuju dapur. Dia mambuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air putih. Saat menutup lemari es, Junhoe terkejut melihat Hajin berdiri di hadapannya.

“Hajin-ah.” Kaget Junhoe.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak takut berada di rumah seorang polisi?”

Hajin tersenyum sinis.

“Untuk orang yang tak ingin kehilangan aku tak mungkin akan menyakitiku bukan?”

“Kau…”

“Ne aku mengetahui semua tentangmu Koo Junhoe, termasuk gadis ini.”

Hajin menunjukkan pigura yang dipegangnya. Dalam foto itu terlihat gambar Hajin dalam versi yang lebih feminim.

“Aku tidak tahu bagaimana bisa wajah gadis ini sama denganku. Tapi jangan pernah berpikir jika aku adalah gadis dalam foto ini.”

Hajin meletakkan pigura itu dan berbalik pergi. Junhoe menahan bahu Hajin menghentikan langkah gadis itu.

“Aku tahu kau berbeda dengan Hajin. Meskipun semua orang berpikir Hajin sudah meninggal, tapi sebelum aku menemukan tubuhnya aku percaya Hajin masih hidup. Hanya ini yang kutemukan di tempat Hajin mengalami kecelakaan.”

Junhoe meletakkan sebuah cincin putih ke telapak tangan Hajin.

“Ini adalah cincin pertunangan kami yang dipakai Hajin hingga dia mengalami kecelakaan.”

Hajin mengamati cincin yang polos itu. Meskipu  sederhana tapi mata berlian di tengah cincin itu memperindah benda berbentuk lingkaran itu.

wpid-diamond-engagement-ring-platinum-four-claw-diamond_836-006c-1.jpeg

“Kenapa kau memberikannya padaku?”

“Entahlah. Tapi aku ingin kau memilikinya.”

Hajin menggenggam cincin itu lalu beranjak pergi meninggalkan Junhoe.

*   *   *   *   *

Chanwoo melihat Hajin masuk melewati pintu gudang. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Kakinya melangkah mendekati gadis itu. Langkah Hajin terhenti saat menghadapi Chanwoo.

“Darimana saja kau malam begini?”

“Hanya mencari angin saja.” Ucap Hajin sambil berlalu.

Chanwoo menahan tangan Hajin dan menariknya kembali ke tempat semula.

“Tidak mungkin hanya mencari angin bukan? Katakan ada apa Hajin-ah?”

Semua anggota Espada menoleh mendengar suara Chanwoo yang meninggi. Hajin menatap Chanwoo yang saat ini melayangkan tatapan tajamnya.

“Apakah aku harus melaporkan setiap tindakanku? Bahkan anggota lain tidak seperti itu Oppa.”

“Kau berbeda dengan anggota lain. Karena kau kekasihku.” Chanwoo menekankan jika Hajin adalah miliknya.

“Aku hanya kekasihmu Oppa. Bukan istrimu. Jadi berhentilah mengekangku.”

Hajin hendak pergi namun Chanwoo tak kunjung melepaskan genggamannya.

Mianhae. Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

Hajin hanya mengangguk terlalu lelah dengan yang terjadi hari ini.

“Istirahatlah. Besok kita akan berpindah.”

Hajin mengerutkan dahinya.

“Berpindah? Tapi kenapa?”

“Kepolisian sedang aktif menyoroti kita. Jadi tak butuh waktu lama mereka akan menemukan tempat ini.”

“Baiklah kalau begitu aku akan ke kamar dulu.”

Hajin berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar hajin duduk si samping ranjang. Tangannya mengeluarkan cincin dari dalam sakunya. Hajin menatap cincin itu.

“Cincin ini cocok sekali di tanganmu”

Tiba-tiba Hajin bisa mendengar ucapan Junhoe. Bayangan Junhoe memakaikan cincin itu ke jemarinya melintas di otak Hajin. Hajin memegang kepalanya yang mendadak terasa sakit.

“Kenapa bayangan itu muncul?” Bingung Hajin.

Hajin berusaha mengingat bayangan itu kembali namun bayangan itu seakan terkunci rapat membuat gadis itu tak dapat menembusnya.

*   *   *   *   *

Doojoon berlari di lorong kantor polisi. Dengan keras pintu ruangan terbuka seketika Kapten Mun mendongak dan melihat Doojoon terengah-engah.

“Ada apa Doojoon-ah?” Tanya Eric.

Doojoon menunjukkan kertas yang berisi deretan kata-kata.

“Sudah kutemukan alamat Organisasi Espada bersarang.” Jelas Doojoon terengah-engah.

Seketika Eric berdiri dan menghampiri Doojoon merebut kertas itu.

“Cepat kita ke sana.” Perintah Eric.

“Ne Kapten.”

Merekapun keluar. Tanpa diperintah seluruh polisi di ruangan itu berdiri dan mengikuti mereka termasuk Junhoe.

*   *   *   *   *

Enam anggota Espada masuk ke dalam mobil masing-masing. Chanwoo masuk ke dalam mobil lamborgini gallardo orange miliknya.

wpid-gallardo_20_inch_alloy_wheels_lamborghini.jpeg

“Kau siap?” Tanya Chanwoo pada Hajin yang duduk di sampingnya.

“Kapanpun kau siap Oppa.”

Chanwoo menghidupkan mesin mobilnya diikuti mobil-mobil lain. Hajin mengamati pemandangan di luar jendela.

“Aku sudah menyiapkan kejutan.”

Hajin menoleh mendengar perkataan Chanwoo.

“Kejutan?”

Chanwoo menyunggingkan senyuman penuh arti.

“Aku memberikan kejutan para polisi jika menemukan gudang itu.”

Hajin mengerti apa yang dimaksud Chanwoo. Sang leader itu selalu membumi hanguskan setiap jejak yang mereka tinggalkan. Tapi entah mengapa Hajin mengkhawatirkan Junhoe.

Di gudang bekas persembunyian Organisasi Espada, Para polisi sudah berkumpul siap dengan persenjataan dan rompi anti peluru.

“Hyung aku rasa ada yang salah.”Ucap Junhoe mendekati Doojoon yang mempersiapkan strategi.

“Apa maksudmu dengan ‘ ada yang salah’ Junhoe-ya?”

“Kita sudah berada di sini tapi tak ada perlawanan dari organisasi itu. Apa hyung tidak merasa ini  terlalu mudah?”

“Sudahlah Junhoe-ya. Kita akan segera masuk. Hentikan ocehan yang tak berguna itu. Ayo semuanya.”

“Nee..” Jawab polisi lainnya.

Junhoe hanya melihat kepergian Doojoon dan yang lainnya. Diapun mengikuti mereka dibarisan paling belakang. Doojoon memasuki gudang itu dengan gaya ala polisi. Dia melihat sekeliling yang sudah aman. Doojoon memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk maju terlebih dahulu. Polisi itu maju perlahan hingga kakinya tersandung sebuah benang sampai terputus. Tatapan semuanya tertuju pada benda yang berdetak dan menyala merah.

“Semuanya keluar.” Teriak Doojoon mengetahui benda itu adalah bom.

Namun terlambat bagi Doojoon karena bom sudah meledak membakar gudang itu termasuk anggota polisi yang masuk ke dalam gudang.

Suara bom yang menggema keras hingga terdengar Hajin dan Chanwoo yang menjauhi kota Seoul. Hajin menoleh ke belakang dan melihat api serta asap mengoar ke atas langit.

“Rencana berhasil. Selamat tinggal polisi.” puas Chanwoo.

Berbeda dengan Chanwoo, Hajin hanya terdiam mengkhawatirkan bagaimana nasib Junhoe.

~~~TBC~~~

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. nurul yuma says:

    Wow!!!!
    Ceritanya keren eon…
    Next eon…
    FIGHTING!!!

    1. chunniest says:

      Ne… gomawo. Akhirnya kamu baca juga hee….hee…. jadi kangem komenmu Nurul….

      1. nurul yuma says:

        Hehee… iy eon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s