[TWOSHOOT] ESPADA Chapter 2 (END)

on

wpid-espada.jpg

BumbleBee @ Poster Channel

Title : Espada Chapter 2 (END)

Author : Chunniesthttps://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Action, Sad

Lenght : Oneshoot

Cast :

* Jung Hajin (OC)

* Koo Jun Hoe (iKon)

* Jung Chanwoo (iKon)

Anggota Organisasi Espada:

Jung Chanwoo [Hana (1)] || Jung Hajin [Liang (2)] || Jeon Jungkook [Sam (3)] ||

Nam Taehyun [Vier (4)] || Kim Dani [Quinque (5)] || Park Jihoon [Roku(6)] ||

Oh Sehun [Siete (7)] || Huang Zi Tao [Vosyim (8)] || Lee Hyunwoo [Nine (9)] ||

Lim Changkyun [Dix (10)]

Guest :

Shannon William

Ini dia chapter terakhirnya. Semoga suka ya…… Jangan lupa meninggalkan jejak kalian dengan like atau komen.

Happy reading^-^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

 

Rumah sakit Seoul tampak ramai. Suster dan dokter berlalu lalang mengobati polisi-polisi yang menjadi korban bom. Kapten Eric berjalan dan melihat anggota polisi yang terluka. Tatapannya tertuju pada Junhoe yang sedang di perban tangannya. Berbeda dengan yang lain, luka yang diderita Junhoe tidak separah yang lain. Eric melangkah menghampiri Junhoe.

“Kau beruntung sekali belum sampai masuk dalam gudang itu Junhoe-ya.”

“Tapi bukan keberuntungan yang patut disyukuri Kapten. Seharusnya aku lebih meyakinkan Doojoon hyung.”

Junhoe terlihat sedih setelah mendengar Doojoon tak dapat di selamatkan.

“Meyakinkan apa maksudmu?”

“Sebelum masuk ke dalam gudang itu aku mengatakan pada Doojoon hyung  jika ada yang aneh dengan gudang itu.”

“Aneh?”

Junhoe mengangguk.

“Ne. Polisi sudah mengepung gudang itu. Untuk organisasi sepintar Espada sangatlah aneh jika mereka tidak melawan melihat polisi sudah datang.”

“Kau benar. Aku juga akan berpikiran seperti itu.”

“Namun sayang Doojoon hyung tidak berpikir seperti itu Kapten.” Junhoe menunduk sedih.

Eric menghela nafas melihat anak buahnya itu. Dia mengulurkan tangan menepuk pelan bahu Junhoe.

“Aku berpikir akan menyerahkan kasus ini dibawah pimpinanmu Junhoe-ya.”

Seketika Junhoe mendongak terkejut mendengar ucapan Eric.

“Aku? Tapi kapten….”

“Saat ini Yunho belum pulih, Doojoon sudah tiada. Tinggal kau yang ahli dengan kasus ini. Aku akan mempercayakanmu untuk memjadi pemimpinnya Junhoe-ya.”

Junhoe mengangguk mantap.

“Baiklah Kapten. Aku pasti akan menangkap organisasi itu demi Doojoon hyung, Yunho hyung dan kepolisian Seoul.”

“Baguslah.”

“Junhoe Oppa….” Seorang gadis berteriak seraya menghampiri Junhoe.

“Sepertinya aku harus pergi. Beristirahatlah dulu.”

“Ne Kapten.”

Setelah Eric pergi seorang gadis langsung memeluk Junhoe dan menangis.

“Oppa…. Hicks… Hicks… Hicks… Kupikir aku tak akan bertemu denganmu lagi.” Ucap gadis itu seraya menangis.

Junhoe mendorong gadis itu hingga pelukannya terlepas.

“Hentikan Shannon-ah. Kau membuat seluruh tubuhku sakit.”

Mianhae Oppa. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Apa kau kabur lagi?” Junhoe menatap Shannon penuh curiga.

Ani.”

“Berhentilah berbohong Shannon-ah. Kau tahu kau sangat payah dalam hal berbohong.”

Shannon mendengus kesal.

“Jadi dimana pengawalmu?”

“Mereka sangat lamban. Itu.”

Shannon menunjuk ke arah dua orang pria yang mengenakan setelan hitam dan terengah-engah karena berlari.

“Mereka lamban seperti siput.” Shannon mendengus kesal pada pengawal yang menghampirinya.

“Bukan mereka yang lamban tapi kau yang terlalu cepat. Mengingat kau atlet lari aku bisa membayangkan bagaimana pengawalmu susah mengerjarmu.”

“Itu karena aku sangat mengkhawatirkanmu Oppa. Setelah mendengar berita tentang bom itu aku langsung kemari.”

Gomawo sudah mengkhawatirkanku Shannon-ah. Tapi sekarang kau sudah melihat lukaku tidak parah jadi kau harus kembali.”

Dengan cemberut Shannon menggeleng.

“Shannon. Kembalilah sebelum aku menelpon William Hwajangnim dan mengatakan jika anaknya sedang tertangkap basah membolos.”

Shannon mendengus kesal dan menghentakkan kakinya.

“Baiklah.”

Junhoe mengamati Shannon yang pergi diikuti kedua pengawalnya. Kepalanya menggeleng melihat tingkah Shannon.

*   *   *   *   *

wpid-2008-dodge-viper-srt10-acr-8.jpg

Sebuah mobil tipe Dodge Viper SRT-10 berwarna merah memasuki sebuah bengkel. Chanwoo yang sedang berdiskusi dengan dengan Jungkook, Taehyun dan Jihoon langsung menoleh. Tampak Sehun dan Tao keluar dari mobil mewah itu.

Siete(7), Vosyim (8)Apa kalian berhasil membawanya?” Tanya Chanwoo menghampiri mereka berdua.

“Ne. Tentu saja.”

Sehun berjalan memutar lalu membuka bagasi mobil. Chanwoo melihat beberapa senjata yang dipesannya. Chanwoo menepuk kepala Sehun.

“Kerja bagus  Sehun. Semua waktunya bertransaksi.” Chanwoo memanggil semua anggotanya.

*   *   *   *   *

Junhoe meletakkan sebuah foto diatas meja Eric. Dalam foto itu tampak Sehun dan Tao tengah memasukkan senjata-senjata.

“Apa ini?” Tanya Eric.

“Dari sumber yang kudengar mereka anggota Espada. Foto ini diambil di Busan.”

“Busan?”

“Ne Kapten. Mereka kabur ke Busan. Karena Kapten sudah memberiku tanggung jawab mengurus kasus ini, ijinkan aku ke sana Kapten.”

Eric menatap foto itu lalu mendongak melihat Junhoe.

“Baiklah. Aku akan berbicara dengan kepolisian di Busan. Jafi kau bisa bekerja sama dengan kepolisian di sana. Kau bisa berangkat sekarang.”

“Baik. Terimakasih kapten.”

Junhoe memberi hormat sebelum keluar dari ruangan Eric. Saat Junhoe berjalan ponselnyapun berdering. Dia melihat nama Shannon dilayar ponselnya.

“Ada apa Shannon-ah?” Tanya Junhoe menjawab panggilan itu.

“Oppa. Aku sedang libur hari ini. Bagaimana jika kita pergi?” Ajak Shannon dengan nada manja.

Mianhae Shannon-ah. Aku tidak bisa. Aku harus pergi untuk bertugas.”

“Bagaimana jika besok?”

“Aku tidak tahu Shannon-ah.”

“Aiisshh… Membosankan. Aku libur dua hari dan tak ada hal menyenangkan yang bisa kulakukan.”

Mianhae Shannon-ah. Tapi aku harus ke Busan untuk mengejar penjahat. Aku janji lain kali kita bisa pergi.”

“Janji?”

“Ne aku berjanji.”

“Baiklah. Bye Oppa.”

Junhoe memasukkan ponselnya kembali setelah Shannon menutup telponnya. Diapun mulai bersiap-siap untuk pergi ke Busan.

*   *   *   *   *

Tao, Sehun dan Jinhoon memperlihatkan senjata-senjata yang sudah dipersiapkan di dalam tas hitam. Laki-laki tua dihadapannya tersenyum puas melihat barang yang mereka puas.

“Senjata yang bagus. Persis seperti yang kuinginkan.” Laki-laki tua itu memberi isyarat pada kedua anak buahnya.

Dua orang laki-laki yang mengenakan setelan hitam maju ke hadapan Tao, Sehun dan Jihoon. lembaran-lembaran uang tertata rapi di dalam tas hitam yang mereka pegang.

“Apa anda yakin jumlahnya pas ahjushi?” Tanya Sehun.

“Tentu saja. Aku selalu jujur dalam transaksi yang kuinginkan.”

Merekapun menutup koper dan menukar tas yang berisi senjata dengan tas yang berisi uang.

“Ingat ahjushi jika kau membohongi kami dengan mudah kami akan menemukanmu.” Ancam Tao.

“Ne. Kau tenang saja.”

Merekapun hendak berbalik namun terdengan suara polisi yang sudah mengepung mereka.

“Angkat tangan kalian.” Ucap Junhoe menodongkan pistol  kearah para penjahat itu.

“Sial.” Umpat Jinhoon.

DOORR….

Sebuah peluru dengan tepat mengenai tangan Jinhoon saat hendak mengambil pistolnya.

“Jangan mencoba melawan atau aku akan menembak kalian. Jadi serahkan pistol kalian.” Ancan Junhoe.

“Tidak akan.” Ucap Tao mengambil pistol.

Namun sayang sebelum bisa menembak Junhoe, polisi lain sudah menembaki tubuh Tao yang langsung terjatuh dan mengeluarkan darah.

Vosyim(8)” Panggil Sehun.

“Meyerahlah.” Ucap Junhoe kembali.

Sehun tersenyum sinis.

“Lebih baik aku mati daripada menyerahkan diri.”

Sehun mengeluarkan pistol. Seperti halnya Tao, Sehunpun mati tertembak.

Siete(7)” Panggil Jinhoon lirih.

“Jadi bagaimana denganmu?” Tanya Junhoe pada Jinhoon.

Jinhoon mendekati Junhoe.

“Berhenti.” Ucap Junhoe.

Jinhoon terus mendekati Junhoe tanpa rasa takut.

“Aku akan menembakmu.” Ancam Junhoe.

“Tembak saja. Aku tak takut mati.”

Jinhoon terus mendekati Junhoe hingga akhirnya Junhoe terpaksa melepaskan tembakan. Tubuh Jinhoon yang tertembak langsung terjatuh. Polisipun menangkap laki-laki tua beserta anak buahnya.

*   *   *   *   *

BBBRRRAAAAKKK……

Chanwoo menggebrak meja mendengar penjelasan Jungkook.

“HHUUHH… POLISI SIALAN!!!” Chanwoo menjatuhkan seluruh barang yang ada di meja.

Dani dan Taehyun terdiam mendengar amarah leader mereka.

“Apa mereka menangkap Vosyim(8), Siete (7), dan Roku (6)?” Tanya Chanwoo.

“Ani. Vosyim(8), Siete (7), dan Roku (6) mati tertembak oleh polisi.”

“SIAL!!! Taaehyun… Dani…. Cari tahu siapa dalang polisi yang sudah merusak transaksi kita.”

“Ne.”

Taehyun dan Danipun pergi meninggalkan ruangan itu.

“Dimana Hajin?”

“Hajin bilang dia pergi sebentar untuk menikmati kota ini.”

“Aku akan mencarinya.”

“Ne.”

Chanwoopun pergi meninggalkan Jungkook.

*   *   *   *   *

Dengan santai Hajin menyusuri sisi jalan kota Busan. Kota Busan tidak sepadat kota Seoul tapi begitu nyaman bagi Hajin. Kakinya terus berjalan seraya gadis itu menghirup udara yang bebas. Sangat jarang bagi Hajin bisa melakukan hal seperti itu. Tatapan Hajin beralih ke jalanan. Langkahnya terhenti saat melihat mobil berwarna merah menabarak sebuah mobil berwarna hitam. Tiba-tiba bayangan kembali masuk ke dalam pikiran gadis itu.

Hajin menyetir mobilnya dengan kecepatan yang normal. Tak jarang gadis itu bersenandung senang seraya melihat cincin putih melingkar di jari manisnya. Wajahnya semakin bahagia mengingat laki-laki yang dicintainya yang memasangkan cincin itu di jemarinya.

Saat Hajin mendongak dia terkejut melihat lampu mobil lain yang menngarah padanya. Sebelum mobil itu bertabrakan, Hajin bisa melihat wajah Chanwoo di mobil lain. Dengan cepat kedua mobil itu bertabrakan. Hajin merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit terutama kepalanya yang terbentur.

Hajin mendengar suara pintu dibuka dengan paksa. Gadis itu merasakan tubuhnya di tarik keluar. Hajin mendongak dan melihat wajah Chanwoo dengan darah mengalir di pelipis kepalanya. Mata Hajin perlahan mulai berat hingga tertutup tak sadarkan diri.

 

Nafas Hajin tersengal-sengal mengingat masa lalunya. Seakan mendapat mimpi buruk, keringat Hajin keluar membasahi tubuhnya.

Aku tahu kau berbeda dengan Hajin. Meskipun semua orang berpikir Hajin sudah meninggal, tapi sebelum aku menemukan tubuhnya aku percaya Hajin masih hidup. Hanya ini yang kutemukan di tempat Hajin mengalami kecelakaan.

Hajinpun teringat ucapan Junhoe beberapa hari yang lalu. Jadi benar jika dirinya memang benar-benar Jung Hajin, tunangan Junhoe.

“Apa yang kau lakukan di sini chagiya?” Hajin merasakan Chanwoo memeluk bahunya.

“Hanya sekedar berjalan-jalan.”

“Berjalan-jalan di tempat umum seperti ini sangat berbahaya untukmu. Ayo kita pulang.” Chanwoo menarik Hajin pergi dari tempat itu.

Pulang? Aku bahkan tidak merasa seperti pulang ke rumahku sendiri. Ucap Hajin dalam hati.

*   *   *   *   *

Shannon keluar dari bandara di Busan dengan senyum mengembang di wajahnya. Di tangannya menarik sebuah koper berwarna pink cerah. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari kendaraan umum yang bisa digunakannya.

“Anda ingin naik taksi nona?”

Shannon menoleh dan terpesona melihat seorang laki-laki tampan berdiri tak jauh darinya.

“Nona, kau mau naik taksi? Aku akan mengantarmu.” Tawar laki-laki itu kembali.

Dengan senyum lebar Shannon mengangguk penuh semangat.

“Memang itu yang aku butuhkan saat ini. Ayo kita berangkat sekarang.”

“Ne.”

Laki-laki itu berjalan mendahului Shannon dan tersenyum misterius tanpa gadis itu ketahui.

*   *   *   *   *

Hajin membuka matanya, terbangun dari tidurnya. Dia menunduk dan melihat tangan Chanwoo melingkar di tubuhnya. Perlahan Hajin menyingkirkan tangan Chanwoo lalu bangkit dari ranjang. Dia melihat sekilas Chanwoo yang masih tertidur pulas sebelum pergi meninggalkan kamar itu.

Keluar dari tempat persembunyian, Hajin segera berlari kencang. Dia menghentikan taksi dan segera masuk. Hajin menyerahkan alamat yang di curi dari Taehyun tadi kepada sopir itu. Tanpa mengatakan apapun sang sopir segera melajukan mobilnya. Tatapan Hajin tertarik keluar jendela. Meskipun belum turun salju tapi udara sudah sangat dingin. Hajinpun mengeratkan jaketnya saat merasakan kedinginan.

Tak lama kemudian taksi itu berhenti di depan gedung hotel BSN. Hajin memberikan beberapa lembar uang sebelum akhirnya berlari keluar. Gadis itu menaiki lift dan menekan tombol 10. Hajin melihat angka yang terus bertambah hingga mencapai angka 10. Kaki Hajin segera berlari dan mencari kamar nomor 1036. Kaki Hajin berhenti tepat di depan pintu yang di carinya. Hajin berusaha mengatur nafasnya lalu mengulurkan tangannya yang gemetar.

Tookk… Tookk….

Akhirnya Hajin mengetuk pintu itu. Terdengar langkah kaki mendekati pintu.

“Ne. Siapa?” Hajin bisa mendengar suara Junhoe.

Pintu terbuka memperlihatkan ekspresi terkejut di wajah Junhoe.

“Kau? Bagaimana bisa kau menemukanku di sini?” Bingung Junhoe.

Hajinpun menghambur ke dalam pelukan Junhoe yang semakin kaget.

“Oppa.”

Nafas Junhoe tercekat mendengar panggilan yang dulu selalu didengarnya. Terdengar isakan tangis Hajin menyadarkan Junhoe. Laki-laki itu melepaskan pelukan gadis itu. Dia melihat Hajin tak percaya.

“Jadi kau benar Jung Hajin tunanganku?” Tanya Junhoe antusias.

Hajin mengangguk lemah. Seketika Junhoe meraih tubuh Hajin kedalam pelukannya. Laki-laki itu mempererat pelukannya.

“Aku sangat yakin kau masih hidup Hajin-ah. Aku …. Aku sangat merindukanmu.”

Hajin tersenyum dalam pelukan Junhoe. Diapun memeluk Junhoe sama eratnya dengan laki-laki itu.

“Aku juga merindukanmu Oppa.”

Merekapun menikmati pertemuan mereka dengan saling memeluk erat dan tak ada lagi yang menghalangi mereka.

*   *   *   *   *

Kepala Shannon bergerak saat merasakan tutup matanya dilepas. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya tatkala cahaya lampu menusuk indera penglihatannya. Setelah bisa beradaptasi dengan penenerangan itu, Shannon mengedarkan pandangannya dan mulai ketakutan saat melihat tiga laki-laki mengelilinginya. Shannon langsung mengenali laki-laki yabg berpura-pura menjadi sopir taksi.

“Kerja bagus Sam (3). Kau berhasil menangkap nona muda ini.” Ucap Chanwoo menepuk bahu Jungkook.

“Kalian siapa? Apa kalian menculikku karena appaku?” Tanya Shannon seraya menyembunyikan ketakutannya.

“Jangan salah paham dulu nona muda. Kau memang anak pemilik perusahaan Williams tapi bukan itu tujuan kami menculikmu.” Jelas Chanwoo.

“Lalu apa mau kalian?”

“Hanya masalah pribadi. Kau nanti juga akan tahu.” Ucap Jungkook mengeluarkan senyuman evilnya.

*   *   *   *   *

“Jadi Chanwoo yang sudah merencanakan semua ini?” Tanya Junhoe setelah mendengar cerita Hajin.

Gadis itupun mengangguk menjawab pertanyaan tunangannya. Nama ‘Chanwoo’ tidaklah asing bagi Junhoe. Dia adalah rekan kerja Junhoe di kepolisian dan juga sahabat baiknya. Sebelum kecelakaan Hajin, Chanwoo memang dikeluarkan dari kepolisian karena menembak penduduk yang tak bersalah.

“Jadi Chanwoo juga yang menjadi leader di organisasi Espada?”

“Ne.”

“Aku tak menyangka dia akan seperti itu. Kau harus memberitahiku dimana tempat persembunyiannya Hajin-ah. Aku pasti akan menangkapnya.”

Hajin mengangguk lalu mengambil pensil dan menuliskan alamat bengkel dimana Chanwoo dan yang lain bersembunyi.

“Tapi jika mereka tertangkap, aku juga akan tertangkap Oppa. Karena aku juga menjadi anggota di sana.” Takut Hajin.

Junhoe memegang kedua bahu Hajin.

“Kau tenang saja. Aku pasti akan melindungimu.”

Hajin mengangguk dan tersenyum senang. Diapun menyerahkan kertas yang ditulisnya. Junhoe mengambil ponselnya dan hendak menelpon Jaejoong, kepala polisi di Busan. Namun sebelum sempat Junhoe menghubunginya sebuah panggilan masuk. Tak ada nama hanya nomor yang tertera di layar.

“Hallo?”

“Apa kau masih mengenali suaraku Junhoe-ya?”

Seketika tubuh Junhoe membeku. Melihat hal itu, Hajin langsung tahu siapa yang menelpon tunangannya itu.

“Tentu saja aku masih mengenal suaramu Chanwoo-ssi.”

Terdengar suara tawa Chanwooo dari ujung telepon.

“Bagaimana dengan reunimu Junhoe-ya? Kau tak menyangka bukan jika tunangan yang sudah kau anggap mati ternyata masih hidup?”

Junhoe mengepalkan tangannya pertanda laki-laki itu tengah marah.

“Kaupikir aku akan diam setelah dia kembali padamu Junhoe-ya.”

“Apa yang kauinginkan?” Tanya Junhoe dingin.

“Aku menginginkan Hajin kembali. Jika tidak aku akan menembak….”

Hening sejenak membuat Junhoe terdiam.

“O-Oppa.”

Seketika mata Junhoe melotot mendengar suara Shannon.

“Shannon-ah.” Panggil Junhoe.

“Ne. Jika tidak kau akan melihat peluruku melesat hingga kepalanya. Jadi datanglah malam nanti. Ingat hanya kalian berdua. Aku tidak bodoh Junhoe-ya. Aku juga merupakan polisi seperti kau dulunya. Jadi jangan bertindak gegabah. Hajin tahu aku berada. Sampai jumpa Junhoe-ya.”

Chanwoo mematikan telponnya sedangkan Junhoe tampak shock mendengar ancaman Chanwoo.

“Ada apa Oppa? Apa yang Chanwoo katakan?” Tanya Hajin.

Junhoe menoleh dan perlahan mengulurkan tangannya menyemtuh pipi Junhoe. Dia merasa seperti mimpi melihat Hajin duduk di depannya saat ini. Hajin menyentuh tangan Junhoe yang lebih besar darinya.

“Katakan Oppa. Ada apa?”

Junhoe menghela nafas berat membuat Hajin tahu Chanwoo sudah memberikan pilihan yang berat baginya.

“Chanwoo… Dia menginginkanmu kembali.”

“Jika tidak, apa yang akan dia lakukan?”

“Dia… Dia membunuh Shannon.”

“Shannon? Siapa Shannon?”

“Dia adalah putri dari pemilik perusahaan William.” Jelas Junho.

“Hanya itu?” Tanya Hajin curiga.

“Shannon menyukaiku.”

“Sudah kuduga. Kalau begitu ayo kota selamatkan dia.”

Junhoe menarik Hajin duduk kembali.

“Aku tidak ingin menolongnya.” Hajin terkejut mendengar ucapan Junhoe.

“Apa kau gila Oppa? Chanwoo tidak akan main-main dengan ucapannya.”

“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi Hajin-ah.”

PLAK…..

Hajin menampar pipi Junhoe dengan keras.

“Membiarkan orang lain mati agar demi keinginanmu sendiri itu sangat egois Oppa. Aku juga tidak ingin kita berpisah lagi Oppa tapi kita tak bisa membiarkan tindakan Chanwoo.”

Junho menarik Hajin kembali ke dalam pelukannya.

Mianhae Hajin-ah.”

Hajin tersenyum mendengar penyesalan Junhoe.

*   *   *   *   *

“Mereka sudah datang.” Bisik Taehyun pada Chanwoo.

Chanwoo pun bersiap menyambut kedua tamu pentingnya. Pintu terbuka dan terlihat Junhoe dan Hajin berjalan masuk. Tangan Chanwoo terkepal melihat Junhoe dan Hajin bergandengan tangan.

wpid-tumblr_lwzd2cth5n1qg2xooo1_500.png

“Selamat datang di daerah kekuasaanku Junhoe-ya. Lama tak bertemu.” Sambut Chanwo.

Seketika Dani menarik Hajin dan menahan gadis itu. Junhoe menahan diri untuk membebaskan Hajin.

“Dimana Shannon?” Tanya Junhoe.

Chanwoo meunjuk kearah mobil bekas. Didalam mobil itu tampak Shannon diikat di kursi mobil dengan mulut di tutup plester.

“Lepaskan dia.”Junhoe menatap kearah Chanwoo.

“Apa kau berpikir aku akan menepati janjiku?”

BBUUGGHH…..

Sebuah pukulan mengenai punggung Junhoe membuatnya tersungkur.

“Oppa.” Panggil Hajin meronta melepaskan diri dari Dani.

Junhoe mengerang merasakan nyeri di punggungnya. Diapun berdiri dan berbalik melihat Taehyun memegang balok kayu. Taehyun hendak menyerang lagi namun Junhoe berhasil menangkap kayu itu dan melayangkan pukulan tepat di perut Taehyun. Belum juga Junhoe mengambil nafas Jungkook menahan tubuh Junhoe. Taehyun melepaskan kayunya dan menghampiri Junhoe. Pukulan demi pukulan terus dilayangkan Taehyun membuat tubuh Junhoe tak berdaya.

“Oppa…” Hajin kembali memanggil Junhoe membuat Chanwoo semakin geram.

Chanwoo menghampiri Hajin.

“Kembalilah padaku dan aku akan melepaskan mereka berdua.”

Hajin melihat kearah Junhoe yang sudah babak belur. Diapun teringat bagaimana Junhoe tak ingin berpisah lagi dengannya.

“Tidak aku tidak akan kembali padamu.” Tolak Hajin.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan.”

Mata Hajin membesar saat melihat Chanwoo mengeluarkan pistol dan menghampiri Junhoe yang tersungkur tak berdaya. Hajin menyikut perut Dani dan melepaskan diri. Gadis itu berlari kearah Junhoe.

DDDDOOORRR….

Kaki Hajin terhenti melihat peluru Chanwoo menusuk kepala Junhoe. Darahpun mengalir dari kepala Junhoe. Tubuh Hajin seakan tak ingin mempercayai apa yang dilihatnya saat ini.

“Inilah yang terjadi jika kau menolakku Hajin-ah.”

Hajin menoleh dan menatap Chanwoo penuh kebencian. Hajin mendekati Chanwoo. Tangan Hajin meraih tangan Chanwoo yang memegang pistol. Diarahkannya pistol itu ke dadanya.

“Junhoe adalah seseorang yang berharga untukku. Jika kau membunuhnya, bunuhlah aku juga.”

Chanwoo menggeleng.

“Tidak aku tidak akan melakukannya.”

Hajin berusaha menekan telunjuk Chanwoo yang memegang pelatuk pistol itu.

“Jangan Hajin-ah.”

“Kau yang membuatku harus melakukannya Oppa.” Hajin tersenyum pada Chanwoo.

DDDDOOOORRR…..

Peluru Chanwoo menembus dada Hajin hingga tubuh gadis itu terjatuh tak jauh dari tubuh Junhoe. Dengan lemah Hajin menoleh ke arah Junhoe. Tangannya terulur menggenggam tangan Junhoe.

“Kita akan terus bersama Oppa.” Ucap Hajin sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Chanwoo terduduk di lantai dengan lemah memandang kematian Hajin.

“Angkat tangan semuanya kalian sudah di kepung.”

Para polisi masuk dan menodongkan senjata mereka. Satu persatu anggota organisasi Espada di bekuk termasuk Chanwoo yang tak melepaskan pandangannya dari Hajin. Seorang laki-laki berwajah asing dengan mengenakan setelan hitam langsung menghampiri putrinya yang diikat dalam mobil.

“Daddy….” Panggil Shannon memeluk ayahnya.

Are you alright?”

Shannon mengangguk.

Yes. But Junhoe Oppa…..”

Shannon menunjuk ke arah tubuh Junhoe yang terbujur kaku.

Sang ayah memeluk putrinya yang terus menangis.

Junhoe dan Hajin tampak begitu tenang meskipun sudah tak bernyawa. Mereka tetap bergandengan tangan seakan tak akan pernah terlepas.

~~~THE END~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s