(TWOSHOOT) Love Virus Chapter 2 [END]

wpid-req-chunniest11.jpg

Laykim @ Beautiful Healer

Story by CHUNNIEST

Title : Love Virus Chapter 2 (END)

Genre : Romance, Schoo life, Comedy

Lenght : Chapter

Cast :

* Kim Sohyun

* Yook Sungjae (BTOB)

* Moon Gayoung

Support Cast :

* Kim Jaejoong (JYJ)

* Kim Woobin

* Kim Myungsoo (INFINITE)

* Kai as Kim Jongin (EXO)

* Lee Minhyuk (BTOB)

* Lee Changsub (BTOB)

Pak Junghwa (EXID)

* Ahn Hani (EXID)

*Seo Hyerin (EXID)

Mianhae jika Chapter terakhir ini berakhir dwngan hancur berantakan. Tolong komennya ya…..

Happy reading^-^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

 

*   *   *   *   *

Changsub menatap penuh harap pada Sungjae yang saat ini duduk di sofa rumahnya. Setelah mendengar penjelasan sang manager, Sungjae belum kunjung memberi jawaban.

“Bagaimana Sungjae-ya?” Tanya Changsub kembali.

Sungjae menegakkan tubuhnya dan menatap sang manager tanpa ekspresi.

“Shirreo..”

Changsub melotot kaget mendengar penolakan Sungjae.

“Tapi Sungjae-a.. karirmu akan menurun jika kau menolaknya.”

Sungjae manatap managernya.

“Lebih baik karirku menurun jika harus menerima yeoja itu menjadi kekasihku.”

Sungjae berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

“Apa karena masa lalumu Sungjae-ah?”

Langkah Sungjae terhenti mendengar ucapan Changsub.

“Kau hanya perlu bersikap baik saja padanya Sungjae-ah.”

“Aku tetap menolaknya hyung.” Ucap Sungjae masuk ke dalam kamarnya.

Changsub hanya bisa menghela nafas melihat Sungjae sangat keras kepala.

*   *   *   *   *

Senyuman tak henti-hentinya melekat di wajah Sohyun. Gadis itu dengan semangat berjalan menuju atap sekolah. Setelah bertanya pada Minhyuk, Sohyun akhirnya tahu di mana keberadaan pujaan hatinya itu. Sohyun merapikan rambutnya sebelum akhirnya membuka pintu atap sekolah. Senyuman Sohyun semakin melebar melihat Sungjae tengah bersandar di dinding dan menutup matanya. Dengan berjingkat-jingkat Sohyun mendekati Sungjae.

Sampai di samping Sungjae yang masih belum terbangun, Sohyun berjongkok di sampingnya dan mengagumi wajah tampan Sungjae. Kulit Sungjae terlihat begitu putih dan halus. Tangan Sohyun tak tahan untuk menyentuhnya. Saat ini tangan Sohyun sudah hampir dekat dengan pipi Sungjae.

“Apa yang kau lakukan?” Sohyun terlonjak kaget mendengar Sungjae tiba-tiba terbangun.

Sungjae menbuka matanya dan melihat Sohyun terduduk di sampingnya.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Sohyun kembali tersenyum dan menyerahkan kotak bekal pada Sungjae.

“Aku membuatkan bekal untukmu Oppa.”

Sungjae melirik ke arah bekal itu sekilas tanpa minat.

“Aku tidak mau.”

Sungjae hendak berdiri dengan cepat Sohyun menahan tangan laki-laki itu. Namun karena ceroboh, kotak bekal yang di bawa Sohyun terlempar dan tubuh Sohyun pun menindih Sungjae. Tanpa sengaja bibir merekapun bertemu dan lebih sialnya lagi bekal yang terlempar terjatuh tepat di atas kepala Sohyun membuat berbagai makanan mengenai rambut gadis itu. Menyadari posisinya saat ini mata Sohyunpun melebar.

“Mianhae Oppa, aku tidak sengaja.” Ucap Sohyun beranjak dari tubuh Sungjae.

“Aigoo… Rambutku pasti akan sangat bau.” Keluh Sohyun membersihkan makanan dari rambutnya.

Sungjae terbangun dan menghampiri Sohyun yang sibuk dengan rambutnya. Sungjae mendorong tubuh Sohyun hingga menabrak dinding. Gadis itupun meringis kesakitan lalu menatap Sungjae. Betapa terkejutnya gadis itu melihat wajah Sungjae saat ini. Berbeda dengan wajah dingin yang biasa dilihatnya kali ini Sohyun melihat wajah Sungjae yang sedang tersenyum sinis.

“Kau sudah membuat kesalahan Sohyun-ah.”

Sohyun merinding mendengar ucapan Sungjae. Mata gadis itu terbelalak saat kepala Sungjae mendekati leher Sohyun. Nafas gadis itu tercekat saat merasakan lehernya basah karena bibir Sungjae. Jantung Sohyun berdetak lebih cepat hingga membuat tubuhnya tak bergerak. Sohyun memang menginginkan Sungjae menjadi kekasihnya tapi tidak seperti ini. Sungjae terlihat lebih beringas dari yang Sohyun lihat kemarin.

Bibir Sungjae naik hampir mendekati bibir Sohyun. Segera gadis itu mendorong tubuh Sungjae dan langsung menampar Sungjae menyadarkannya. Ekspresi Sungjae kembali dingin tidak lagi mengerikan seperti yang baru saja di perlihatkannya. Tatapan Sungjae beralih pada leher Sohyun yang menunjukkan kissmark di lehernya.

“A-apa aku yang melakukannya?” Tanya Sungjae terkejut.

Sohyun yang masih shock hanya mengangguk lemah.

Mi-mianhae. Aku sudah berusaha agar hal ini tidak terjadi lagi.”

“Lagi? Jadi ini bukan pertama kalinya?”

Sungjae terdiam tak ingin menjawab.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa karena kita berciuman tadi atau karena Oppa menyukaiku?” Tanya Sohyun penasaran.

Sungjae mengetuk kepala Sohyun.

“Aku tidak menyukaimu.”

“Tapi Oppa tidak membenciku kan? Tidak masalah.”

Sungjae memghela nafas mendengar Sohyun yang keras kepala. Diapun berdiri dan berjalan meninggalkan Sohyun yang tersenyum mengingat ciuman yang tidak di sengaja itu.

*   *   *   *   *

Dengan susah payah Sohyun membersihkan makanan yang mengotori rambutnya menggunakan air keran. Gadis itu berusaha agar seragamnya tidak basah. Tangannya menggosok-gosok rambutnya agar bersih.

“YA!! Anak baru.”

Kegiatan Sohyun terhenti saat mendengar suara seseorang. Gadis itu menoleh dan melihat 4 orang gadis berdiri dengan melipat kedua tangan mereka di dadanya.

“Mianhae sunbeinim. Aku membersihkan rambutku dulu, setelah itu aku akan berbicara dengan kalian.” Ucap Sohyun kembali membersihkan rambutnya.

Tiba-tiba seseorang menarik Sohyun membuat gadis jatuh terduduk. Sohyun tampak terkejut menyadari seragam yang sedari tadi dijaganya menjadi basah akibat rambutnya.

“Seragamku.” Keluh Sohyun.

Bubuk-bubuk seputih salju bertebaran mengenai kepala dan seluruh tubuh Sohyun membuat gadis itu seperti bahan tertawaan. Sohyun mendongak menatap kesal keempat seniornya itu.

1

“Kenapa kalian melakukan ini padaku?” Kesal Sohyun.

Gayoung menghampiri Sohyun dan berjongkok di hadapannya. Dengan kasar Gayoung memegang dagu Sohyun.

“Karena kau sudah berani mendekati Sungjae.”

Sohyun tersenyum tak percaya.

“Memang kau kekasihnya, sunbeinim? Padahal aku mendengar Sungjae Oppa tak menerima siapapun menjadi kekasihnya. Jika sunbeinim menyukainya, mengapa aku tidak boleh menyukainya?”

Gayoung tersenyum sinis.

“Karena Sungjae adalah milikku.”

Sohyun menepis tangan Gayoung.

“Sungjae Oppa bukanlah barang yang bisa kau miliki sunbeinim. Karena…”

PLLAAAKKK….

Sebuah tamparan keras menghentikan ucapan Sohyun. Pipi Sohyun seketika memerah dan memanas akibat ulah Gayoung. Tak cukup sampai di situ Gayoung menarik kasar rambut Sohyun.

“Anak baru sepertimu berani padaku eoh?”

Gayoung memberi isyarat pada Hani untuk menuang kembali tepuk kepada Sohyun.

“Hentikan nona-nona.”

Hani tidak jadi menuang tepung itu saat melihat keempat kakak Sohyun berdiri dengan wajah yang marah.

“Sebaiknya cukup sampai di sini. Jika tidak jangan salahkan kami jika memperlakukan kalian secara kasar.” Ucap Woobin terlihat menakutkan.

Gayoung tampak kesal karena sudah terganggu. Hanipun menarik Gayoung.

“Ayo Gayoung-ah.”

Gayoung menatap Sohyun yang masih terduduk diam dengan tatapan kesal. Setelah kepergian Gayoung dan tean-temannya, keempat laki-laki itu langsung menghampiri Sohyun.

“Sohyunie, kau tidak apa-apa?” Khawatir Jongin.

Dengan keadaan yang berantakan Sohyun menggeleng dan tersenyum.

“Aku tidak apa-apa Oppa.”

“Kenapa mereka melakukan hal ini padamu Sohyunie?” Tanya Jaejoong.

“Pasti karena Sungjae. Benar bukan?” Tebak Myungsoo langsung dijawab anggukan oleh Sohyun.

“Kalau begitu lupakanlah Sungjae Sohyunie. Masih ada banyak namja yang bisa kaudapatkan dongsaengie.” Sahut Woobin.

Sohyun menggelengkan kepala menolak ucapan kakak keduanya.

“Aku tidak mau Oppa. Karena hanya Sungjae Oppa yang bisa mengembalikan semangatku. Tidak ada namja lain yang bisa mengisi hatiku selain Sungjae Oppa.”

Jaejoong, Woobin, Myungsoo dan Jongin hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan adiknya yang keras kepala.

“Baiklah. Ayo kita bersihkan dirimu.”

Keempat laki-laki itu membawa Sohyun untuk mebersihkan tubuhnya. Tanpa mereka ketahui Sungjae bersembunyi di balik dinding mendengar pembicaraan itu.

*   *   *   *   *

Satu mimggu setelah kejadian itu, Sohyun tak menyerah mendekati Sungjae. Gadis itu tidak memperdulikan peringatan Gayoung. Semakin Sohyun gencar mendekati Sungjae, semakin parah pula teror yang dibuat Gayoung. Meskipun begitu, keempat kakaknya hanya bisa membantu dan mendukung adik kesayangan mereka tapi tetap saja mereka merasa khawatir.

“Sohyun-ah.” Panggil Jiyeon yang duduk di sampingnya.

Seceria biasanya Sohyunpun menoleh dan menyunggingkan semyuman lebarnya.

“Nde Jiyeon-ah?”

“Apa kau sudah dengar gosip terbaru tentang Sungjae Oppa?”

“Gosip apa?”

“Kudengar saat ini karir Sungjae Oppa menurun.”

“Menurun?”

“Ne. Hal ini terjadi sejak seminggu yang lalu. Seakan ada yang menghasut beberapa perusahaan agar tidak menggunakan Sungjae Oppa sebagai modelnya. Ada yang bilang Perusahaan iklan milik ayahnya Minhyuk Oppa yang menjadi dalang semua ini.”

“Minhyuk? Maksudmu Lee Minhyuk?”

Jiyeon mengangguk.

“Tapi mengapa ayah Minhyuk melakukannya? Bukankah Sungjae Oppa dan Minhyuk berteman baik?”

“Banyak yang bilang karena dirimu.”

MWO? Karena aku?”

“Ne. Apa kau tidak sadar selama ini Minhyuk Oppa mendekatimu karena dia menyukaimu? Tapi kau terlalu buta dengan Sungjae Oppa.”

Memang benar selama seminggu ini Minhyuk berusaha mendekati Sohyun tapi karena Sohyun terlalu sibuk mencari cara mendekati Sungjae, gadis itupun tidak menyadari kehadiran Minhyuk.

“Kau mau ke mana Sohyun-ah?” Tanya Jiyeon melihat Sohyun berdiri dan pergi.

“Aku ingin keluar sebentar. Oppa-Oppa sebaiknya kalian di sini saja Ok?” Ucap Sohyun melihat keempat kakaknya hendak mengikutinya.

Sohyun berjalan keluar kelas. Dia terus berjalan dan matanyapun sibuk mencari seseorang. Dia menaikki tangga menuju lantai kedua. Sampai diujung tangga gadis itu langsung menemukan seseorang yang dicarinya. Dengan langkah cepat Sohyun menghampiri Minhyuk yang sedang berbicara dengan beberapa temannya.

“Minhyuk-ssi. Bisakah kita bicara?”

Minhyuk tampak terkejut mendengar ucapan Sohyun namun detik kemudian laki-laki itu menyunggingkan senyuman.

“Baiklah.”

Minhyuk mengikuti Sohyun yang berjalan menuruni tangga lalu menuju taman sekolah. Keduanya duduk di bangku taman yang kosong.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Minhyuk.

“Mengapa kau melakukannya?”

“Melakukan apa Sohyun-ssi?” Bingung Minhyuk.

“Memblokir perusahaan iklan yang lain untuk tidak menggunakan Sungjae Oppa. Tidak mungkin bukan seorang Presiden direktur melakukan hal itu tanpa ada seseorang yang mendorongnya?”

Minhyuk terdiam tidak merespon ucapan Sohyun. Bahkan senyuman laki-laki itu langsung lenyap.

“Bukankah kau sahabat Sungjae Oppa? Bagaimana biaa kau melakukan hal ini padanya?” Tanya Sohyun kembali.

“Sahabat? Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu.”

Sohyun menatap Minhyuk terkejut. Minhyukpun menoleh dan tersenyum sinis.

“Dia selalu merebut apa yang aku inginkan. Apakah seperti itu bisa dikatakan sahabat?”

Sohyun tidak menjawabnya.

“Bahkan orang yang kusukaipun hanya melihat dirinya.” Minhyuk menatap tajam Sohyun.

“Itu tidak benar. Sungjae Oppa tidak seperti itu.”

“Tidak seperti itu? Kau bahkan baru mengenalnya satu minggu,bagaimana bisa kau mengatakan hal swperti itu HUH?” Suara Minhyuk meninggo terdengar sangat kesal.

“Aku memang baru mengenalnya tapi aku percaya padanya.”

Minhyuk terdiam, dia tidak menyangka Sohyun akan mengucapkan hal itu.

“Perasaan suka tidak bisa diatur Minhyuk-ssi. Bahkan jika kau menghancurkan kehidupannyapun kau tidak akan bisa membuatku menjadi milikmu Minhyuk-ssi karena aku tetap menyukai Sungjae Oppa.” Sohyunpun berdiri dan pergi meninggalkan Minhyuk yang mengepalkan tangannya kesal.

*   *   *   *   *

Sohyun berlari dan terus berlari. Keringtpun keluar dan membasahi tubuhnya. Kaki Sohyun tak berhenti menapaki lintasan lari. Jongin menekan stopwatch nya tepat saat Sohyun melewatinya. Perlahan Sohyun berhenti dan tampak terengah-engah.

“Kau hebat Sohyunie…. YYYEEEE!!!” Teriak Jaejoong, Woobin dan Myungsoo yang berdiri di pinggi lintasan.

“Berapa waktunya Oppa?” Tany Sohyun menghampiri Jongin.

Bibir Jpngin menyunggingkan senyuman lebar dan menepuk bahu Sohyun.

“Kau mencetak rekor baru Sohyun-ah. 12,25 detik.” Jongin menunjukkan stopwarch yang dipegangnya.

Daebak!!! Kau pasti akan menang dalam perlombaan besok Sohyunie.” Bangga Jaejoong.

Gomawo Oppa.”

“Kami pasti mendukungmu Sohyunie.”

“Ne Oppa. Aku ingin ganti baju dulu, Oppa pergi duluan saja ne.”

“Baiklah. Jangan lama-lama ne? Kau harus beristirahat lebih awal agar besok kau bisa berlomba.” Ucap Myungspo.

“Ne Oppa.”

Setelah keempat kakaknya pergi Sohyunpun menuju ruang ganti. Baju olahraga yang Sohyun kenakan saat ini basah kena keringat, jadi sangat tidak nyaman untuk di pakai. Sampai di ruang ganti Sohyun membuka lokernya. Mata gadis itu membulat tatkala tak menemukan seragam sekolahnya. Sohyun mengacak-acak lokernya namun tak juga menemukan seragam miliknya.

Terdengar suara pintu ditutup dan dikunci. Sohyun segera berlari menghampiri pintu. Gadis itu memutar kenop pintu namun tak bisa di buka. Sohyun menggedor-gedor pintu.

“Ya!! Buka pintunya.” Teriak Sohyun namun tak ada jawaban.

Sohyun kembali menggedor pintu.

“Seseorang tolong buka pintunya.”

Lagi-lagi tak ada jawaban di luar.

“Oppa…. Tolong aku….” Sohyun mulai ketakutan karena tak mendengar seseorang yang akan menolongnya.

*   *   *   *   *

Minhyuk dan Gayoung berjalan menuju kelas mereka. Langkah mereka terhenti saat melihat Sungjae. Dengan manja Gayoung mengahampiri Sungjae dan bergelayut manja di lengannya.

“Berikan kuncinya.” Ucap Sungjae dingin.

Gayoung mendongak dan menatap bingung Sungjae.

“Kunci apa maksudmu Oppa?”

Sungjae melayangkan tatapan tajam pada Gayoung.

“Aku melihatnya Gayoung-ah. Jadi cepat berikan kunci itu sebelum aku berlaku kasar padamu.”

“Aku tidak membawanya.”

Tampak jelas kekesalan di wajah cantik Gayoung. Sungjae menghampiri Minhyuk.

“Berikan kunci itu Minhyuk-ah.”

Minhyuk membalas tatapan Sungjae sama tajamnya.

“Untuk apa menyelamatkan gadis itu? Bukankah kau tidak menyukainya?”

“Jangan membuatku harus memukulmu Minhyuk-ah. Cepat berikan kunci itu.”

Shirreo.”

BBUUGGHH…

Sebuah pukulan mengenai pipi Minhyuk membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang. Minhyuk tersenyum sinis.

“Jadi kau memukulku untuk gadis itu?”

“Kau membuatku harus melakukannya. Jadi berikan kunci itu.”

Minhyuk mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sakunya. Dia menghampiri jendela dan mengulurkan tangan keluar jendela.

“Kalau begitu cari saja sendiri Sungjae-ya.” Ucap Minhyuk melepaskan kunci itu hingga jatuh ke bawah.

Sungjae segera berlari ke bawah. Secepat kilat Sungjae menuruni tangga. Diapun segera keluar menuju semak-semak di mana Minhyuk menjatuhkannya. Laki-laki itu membuka semak-semak itu mencari kunci. Benda kecil seukuran kunci sangat susah mencarinya dalam semak-semak. Sebuah benda berwarna putih menarik mata Sungjae. Akhirnya laki-laki itupun menemukan kunci yang dicarinya. Dia segera berlari menuju Sohyun yang terjebak di ruang ganti.

*   *   *   *   *

Jaejoong menghela nafas bosan menunggu Sohyun di dalam mobil. Ketiga laki-laki lainpun sama bosannya dengan kakaknya itu.

“Kenapa Sohyun lama sekali?” Keluh Woobin.

“Biasa hyung yeoja selalu lama jika masalah penampilan.” Ucap Myungsoo yang duduk di depan bersama Jongin.

“Aku akan mengeceknya hyung.” Ucap Jongin keluar dari mobil.

Jongin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku seraya berjalan mencari Sohyun. Memasuki gedung sekolah Jongin berjalan menyusuri koridor. Langkahnya terhenti melihat Sohyun berada dalam gendongan Sungjae. Jongin melihat kemeja Sungjae digunakan untuk menyelimuti Sohyun. Melihat Sohyun yang bersandar lemah di bahu Sungjae, Jongin langsung menghampirinya.

lie1-00109

“Ada apa dengannya?” Tanya Jongin cemas.

“Sohyun terkunci dalam ruang ganti.”

MWO? Bagaimana bisa dia terkunci dalam sana? Sohyun pasti takut.”

“Takut? Apa dia takut kegelapan?”

Jongin menggeleng.

“Dulu Sohyun pernah terjebak dalam gudang selama 2 hari. Akibatnya dia mengalami trauma yang sangat berat. Dia bahkan tak pernah berbicara lagi sejak kejadian itu.”

Sungjae menunduk melihat Sohyun yang terlihat lemah. Berbeda dengan gadis menyebalkan yang tak henti-hentinya mengejarnya.

“Tapi karena kau dia bisa kembali bersemangat.”

Sungjae menatap Jongin bingung.

“Karena aku?”

“Ne. Kau tanyakan saja sendiri padanya jika dia sudah sadar. Aku akan membawanya.”

Jongin mengambil Sohyun dari Sungjae dan membawa gadis itu pergi.

*   *   *   *   *

Sungjae merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melihat ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

Tapi karena kau dia bisa kembali semangat.

Ucapan Jongin terus terngiang-ngiang di kepalanya. Sungjaepun teringat bagaimana saat dirinya menemukan Sohyun.

~~~FLASHBACK~~~

Sungjae memasukkan kunci dan memutarnya. Setelah itu diapun dapat membuka pintu itu. Laki-laki itupun melangkah masuk dan mengedarkan pandangan mencari sosok Sohyun. Tatapan Sungjae teruju pada sosok gadis yang sedang meringkuk di pojok ruangan. Sungjaepun menghampiri gadis itu. Mendengar langkah kaki Sungjae, Sohyunpun mendongak. Sungjae bisa melihat wajah Sohyun yang memucat.

“Kau tidak apa-apa?” Terasa aneh saat Sungjae menanyakan hal itu.

Sohyun menggeleng dan tersenyum lemah.

Aniyo Oppa.”

“Baguslah kalau begitu.”

Sungjae berbalik hendak meninggalkan gadis itu.

“Aku bisa membantumu Oppa.”

Langkah Sungjae terhenti. Dia hanya terdiam dan tak berbalik.

“Aku bisa meminta appa untuk memasukkan Oppa ke dalam perusahaannya. Aku sudah mendengarnya dan aku ingin membantumu Oppa.”

“Aku tidak butuh belas kasihanmu.” Sungjaepun kembali berjalan.

“Itu bukan belas kasih. Itu tanda terimakasihku padamu Oppa.”

Sungjae berbalik dan melihat Sohyun berdiri.

“Jika itu soal aku menolongmu yang terjebak dari sini…”

Ani.” Sohyun menggeleng.

Sohyun melangkah, namun karena kakinya terasa lemas, gadis itupun terjatuh. Sungjae segera menghampiri Sohyun.

“Apa kau terluka Sohyun-ssi?”

Sohyun menggeleng. “Ani Oppa. Hanya saja tubuhku terasa lemas.”

Sungjae melihat tubuh Sohyun menggigil. Diapun melemaskan kemejanya dan menyelimuti tubuh Sohyun. Sungjaepun langsung menggendong Sohyun yang semakin lemas.

“Oppa. Tidak hanya hari ini tapi kaupun sudah menolongku sejak lama.” Ucap Sohyun.

“Sudahlah jangan banyak bicara. Aku akan mengantarmu.” Ucap Sungjae keluar membawa Sohyun.

~~~FLASHBACK END~~~

“Bagaimana bisa aku menolongnya sejak dulu? Aku bahkan baru mengenalnya sekarang.” Gumam Sungjae.

“Apa kau sudah gila bicara sendiri Sungjae-ah?”

Sungjae terbangun dan terkejut mendengar suara managernya. Dia melihat Changsub berdiri di depan pintu.

“Aiishhh…. Hyung kau mengagetkanku.”

“Salahmu sendiri aku sudah mengetuk pintu sejak tadi tapi kau tak mendengarnya.”

Changsub menghampiri Sungjae dan duduk di sebelahnya.

“Apa kau senang dengan hari longgarmu?” Tanya Changsub.

Semenjak seminggu yang lalu karena hanya sedikit pekerjaan jadi Sungjae bisa santai menikmati harinya.

“Tidak terlalu.”

“Terimalah gadis itu Sungjae-ah. Hanya itu satu-satunya cara agar karirmu bisa kembali melonjak.”

“Tidak hyung aku tidak akan memanfaatkan gadis itu.”

“Kauu…..”

Sungjae menoleh dan melihat Changsub menatapnya aneh.

“Aku kenapa?”

“Aku merasa ada yang aneh dengan nada suaramu itu.”

“Aneh bagaimana?”

Changsub mendekati Sungjae dan meneliti wajah laki-laki itu. Sungjae langsung mendorong wajah managernya itu.

“Apa yang kau lakukan hyung?”

“Apa kau mulai menyukainya Sungjae-ah?”

“Menyukai siapa?”

“Kim Sohyun.”

MWO? Jangan bicara yang aneh hyung.”

0pOsfTn

“Aaaiisshhh… Aku tidak berbicara aneh. Seminggu yang lalu saat aku mengatakan hal yang sama. Kau menolaknya dengan marah-marah. Tapi sekarang kau terdengar lebih lembut. Memang apa yang terjadi?” Tanya Changsub penasaran.

“Tidak terjadi apa-apa.”

Changsubpun mengejar Sungjae yang berjalan keluar kamar.

“Ayolah sungjae-ah. Katakan padaku.”

Shirreo.”

Sungjae masuk ke dapur dan mengambil botol minum langsung meminumnya.

“Aaiishhh…. Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun. Jadi katakanlah padaku Sungjae-ah.” Ucap Changsub yang masih belum menyerah.

Sungjae meletakkan botol minum itu diatas meja lalu berjalan menuju kamarnya kembali.

“Sungjae-ah.”

Sungjae berdiri di depan pintu seraya memegang pintu kamarnya.

Shirreo hyung. Aku tidak akan mengatakannya padamu.”

Sungjae menutup pintu sebelum mendengar kembali ocehan Changsub.

*   *   *   *   *

Kelima laki-laki Kim menatap Sohyun yang sedang menalikan tali sepatunya dengan tatapan cemas. Sang ayah menyentuh bahu Sohyun.

“Sohyunie. Bukankah tidak apa-apa jika kau tidak ikut lomba ini? Kau terlihat pucat sayang.” Ucap woosuk yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Sohyun.

Ani Appa. Aku sudah berlatih keras untuk lomba ini.”

“Tapi Sohyunie. Bagaimana jika terjadi apa-apa nanti?” Sahut jaejoong.

“Tidak akan terjadi apa-apa oppa. Percayalah padaku. Aku pasti memenangkan perlombaan ini.” Sohyun tersenyum penuh semangat.

Kelima laki-laki itu hanya menghela nafas.

“Baiklah appa dan oppa-oppamu pasti akan mendukung.” Ucap Woosuk.

Sohyunpun memeluk ayahnya.

Gomawo appa.”

*   *   *   *   *

Sungjae melihat Sohyun yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lintasan. Sungjae bisa melihat wajah Sohyun yang masih pucat. Diapun menghampiri gadis itu.

“Berhentilah. Kau pasti tidak akan menang.”

Sohyun berhenti melakukan pemanasan dan menatap Sungjae.

“Kenapa Oppa berkata seperti itu?”

“Wajahmu terlihat pucat. Apalagi setelah kejadian kemarin. Kau tidak mungkin menang.”

“Bagaimana jika kita taruhan?”

Sungjae menatap Sohyun bingung.

“Taruhan?”

“Ne. Jika aku bisa menang Oppa harus menerima tawaran perusahaan Kim.”

“Untuk apa taruhan seperti itu tidak ada untungnya bagiku.”

“Tentu saja ada. Jika aku kalah, aku akan pergi dari kehidupanmu Oppa. Bagaimana?”

Sohyun mengulurkan tangannya untuk membuat perjanjian. Sungjae mengamati tangan Sohyun dan langsung menjabat tangan gadis itu.

“Baiklah. Tapi tepati janjimu Kim Sohyun.”

Sohyun mengangguk mantap.

*   *   *   *   *

DDOORR…..

Terdengar bunyi pistol memulai lomba. Sohyun melakukan pemanasan sebelum temannya datang menyerahkan tongkat estafet. Merasakan tatapan yang tidak mengenakan, Sohyunpun menoleh ke samping. Dia bisa melihat Gayoung juga tengah bersiap tak jauh darinya.

“Kau pasti bisa Sohyun-ah.” Ucap Sohyun menyemangati dirinya sendiri.

Tak berselang lama Sohyun melihat Dani teman sekolah berlari terlebih dahulu diikuti pesaing yang lain. Sohyun mengulurkan tangan bersiap menerima tongkat estafet dari Dani. Tangan sohyun menggenggam erat tongkat itu dan mulai berlari mendahului pelari lainnya. Gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk terus belari tanpa sadar ada bahaya di depannya.

Di garis finish para penonton dengan antusias menunggu siapa yang terlebih dahulu menabrak pita kemenangan termasuk Sungjae. Laki-laki itu terus melihat ke arah jalan yang menjadi lintasan pelari. Sungjae melihat Eunjung berlari menuju garis finish diikuti peserta lain. Mata Sungjae mencari sosok Sohyun namun tak menemukannya. Dengan mudah Eunjung memenangkan pertandingan itu namun Sohyun tak kunjung muncul.

“Aku benar-benar juara satu?” tanya Eunjung tak percaya.

“Tentu saja. Kau yang datang pertama kali.” Jelas teman satu timnya.

“Tapi tadi aku melihat Sohyun berlari terlebih dahulu.”

Mendengar ucapan Eunjung, Sungjaepun menghampiri gadis itu.

“Dimana kau terakhir melihat Sohyun?” Tamya Sungjae.

“Tadi aku terakhir melihatnya saat melewati tikungan pertama.”

Sumgjae langsung berlari memuju tempat terakhir kali Sohyun terlihat.

*   *   *   *   *

Gayoung mengeluarkan cutternya membuat Hani, Junghwa dan Hyerin merinding ketakutan.

“Gayoung-ah, kau tidak mengatakan akan melukai gadis itu menggunakan alat itu.” Ucap Hani.

“Ini sudah di luar batas Gayoung-ah. Jangan melakukannya Gayoung-ah.”

Gayoung menatap ketiga temannya kesal.

“Jika kalian tidak ingin terlibat sebaiknya kalian keluar.”

Hani, Junghwa dan Hyerin langsung keluar meninggalkan Gayoung dan Sohyun yang terikat di kursi.

“Pantas saja Sungjae Oppa tak menyukaimu.” Ucap Sohyjn tersenyum sinis.

Gayoung menoleh ke arah Sohyun.

“Aku tidak butuh pendapatmu.”

“Itu bukan pendapat tapi kenyataan.”

Ujung cutter itu melukai kulit tangan Sohyun membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Membunuhku tidak akan membuatmu menjadi milik Sungjae Oppa.”

“Diam kau. Aku sudah muak dengan ocehanmu jadi kita akhiri saja hari ini.”

Gayoung hendak menancapkan cutter itu namun sebuah tangan menahannya.

“Tak akan kubiarkan kau melakukannya.”

Gayoung tampak terkejut melihat Sungjae menatapnya dingin.

“Kau sudah keterlaluan Gayoung-ah. Jadi hentikan sebelum aku bersikap kasar padamu.”

Gayoung terduiam tidak mengindahkan peringatan Sungjae. Cengkraman Sungjae semakin mengerat hingga akhirnya cutter di tangan Gayoung terlepas.

“Aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya Gayoung-ah.”

Sungjae menendang cutter itu lalu melepaskan cengkramannya. Dia menghampiri Sohyun yang terikat di kursi. Laki-laki itu melepaskan tali yang membelit tubuh Sohyun lalu mengangkat tubuh gadis itu. Sungjae melayangkan tatapan tajamnya pada Gayoung sebelum akhirnya pergi meninggalkan gudang itu.

“Turunkan aku Oppa.”

Sungjae terdiam tak merespon ucapan Sohyun.

“Aku kalah Oppa jadi sesuai perjanjian…”

“Persetan dengan perjanjian itu.” Langkah Sungjae terhenti dan menatap Sohyun yang terkejut.

“Aku tidak ingin kau pergi. Jadi lupakan perjanjian itu.”

Seketika mata Sohyun langsung berbinar.

“Benarkah?”

“Ne.”

“Jadi Oppa mau menjadi kekasihku?”

“Ne. Tapi jangan menyesal jika sisi liarku keluar.”

Sohyun menggelengkan kepalanya.

Ani. Aku tidak akan menyesal.”

Sohyun bersandar di dada Sungjae dan tersenyum bahagia.

*   *   *   *   *

Jaejoong, Woobin, Myungsoo dan Jongin tengah berpencar mencari Sohyun. Mereka mencari di setiap ruangan sekolah, taman dan kolam renang namun mereka tidak juga menemukan adiknya. Wajah mereka mulai panik saat tak kunjung menemukan Sohyun.

“Hyung. Di kolam renang tidak ada.” Ucap Myungsoo dan Jongin saat mereka berkumpul.

“Di taman juga tidak ada hyung.” Lapor Woobin.

“Di ruang kelas juga tidak ada. Bagaimana ini? Sohyun tidak ada.” Panik Jaejokng.

“Appa pasti akan membunuh kita.” Ucap Myungsoo.

Seketika merekapun saling bertatapan.

“KIM SOHYUN.” Teriak mereka berempat.

~~~THE END~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s