(Chapter 2) G.R.8.U

img1449038566577

Chunniest Present

^

G.R.8.U

(Chapter 2)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice)

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

“Lee Jikyung?” Panggil Taekwoon menatap gadis di hadapannya.

Jiyeon terlihat bingung dengan nama yang disebut Taekwoon. Gadis itu menoleh kekanan dan kekiri melihat seseorang yang mungkin dipanggil lelaki itu. Namun tak ada seorang pun disamping gadis itu.

“Maaf tuan anda memanggil siapa?” Tanya Jiyeon.

“Kau. Kau adalah Lee Jikyung.”

“Maaf tuan anda salah orang. Saya bukan Lee Jikyung tapi saya adalah Park Jiyeon.”

“Park Jiyeon?” Taekwoon mengulang kembali nama gadis itu.

“Benar tuan. Ini adalah menunya, anda ingin memesan apa tuan?”

Taekwoon mengambil menu itu tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis itu. Hanya melihat sekilas, Taekwoon sudah tahu ingin memesan apa. Kopi hitam yang selalu menjadi minuman favorit lelaki itu langsung menjadi pilihannya.

“Baiklah, tunggu sebentar tuan.” Jiyeon mengambil kembali menunya dan kembali ke tempatnya semula.

Mata Taekwoon terus mengekor Jiyeon tanpa gadis itu sadari. Ponselnya yang berdering mengalihkan lelaki itu. Setelah mengangkat telpon itu Taekwoon bisa mendengar Hakyeon memanggilnya. Presiden direktur Jung itu langsung memerintahkan sekertarisnya itu untuk menjemputnya.

“Tadi kau menelponku tanpa mengatakan seseuatu. Apakah terjadi sesuatu disana?”

“Kau akan mengetahuinya nanti.”

“Baiklah sajangnim aku akan menjemputmu sekarang.”

Tepat ketika Taekwoon meletakan ponselnya, Jiyeon meletakkan secangkir kopi hitam dihadapan Taekwoon.

“Selamat menikmati tuan.” Ucap Jiyeon ramah.

Jiyeon berjalan menjauhi Taekwoon untuk melakukan pekerjaannya yang lain. Mata Taekwoon terus mengekor setiap gerak-gerak gadis itu. Hingga Hakyeon menjemputnya Taekwoon tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jiyeon.

 

G.R.8.U

 

Sekembalinya di kantor Taekwoon melepaskan jas hitamnya dan menyampirkan di kursi sebelum akhirnya duduk di kursinya itu. Hakyeon yang diminta Taekwoon untuk ikut bersamanya kedalam dengan setia berdiri di depan meja lelaki itu.

“Apakah ada yang anda butuhkan sajangnim?” Tanya Hakyeon.

“Aku ingin aku menyelidiki seseorang? Namanya Park Jiyeon, dia bekerja di M Kafe.”

“Memang siapa gadis yang bernama Park Jiyeon ini? Sepertinya sangat penting untukmu.” Penasaran Hakyeon.

“Kau akan mengetahuinya setelah melihatnya.” Jawab Taekwoon dengan ringannya.

“Aiisshh…. Kau selalu bersikap misterius. Apakah ini berhubungan dengan telpon yang tak kau jawab tadi?”

“Bisa dikatakan begitu.”

“Aku akan segera menyekidikinya. Jika tidak aku bisa berubah menjadi hantu penasaran karena kau.” Ucap Hakyeon.

Taekwoon hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian Hakyeon. Lelaki itu beranjak dan menekan sebuah tombol membuat rak bukunya bergeser dan berganti dengan foto besar Jikyung.

“Jikyung-ah, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip denganmu. Apakah kau memiliki saudara kembar?” Karena foto itu adalah benda mati maka tak bisa menjawab pertanyaan Taekwoon.

“Tapi aku rasa tidak. Setahuku keluarga Lee hanya memiliki satu putri dan itu adalah kau.”

Tangan Taekwoon terulur dan jemarinya yang putih pucat menyentuh wajah cantik Jikyung. Matanya kembali menunjukkan kesedihan jika melihat foto gadis itu.

 

G.R.8.U

 

Layar benda persegi yang canggih itu terus bergerak kesana kemari mengikuti jemari sang pemiliknya. Meskipun jemari itu terus bergerak namun layar ponsel itu tetap menampilkan foto Jiyeon yang sedang serius belajar.

Bibir Taehyung melengkung membentuk huruf ‘u’ mengingat bagaimana cara lelaki itu mendapatkan foto itu. Membutuhkan perjuangan dengan memanjat pohon hingga ke lantai dua dimana kelas Jiyeon berada hingga akhirnya dia bisa mendapatkan foto itu.

bts-cute-v-taehyung-Favim.com-2107254

Namun senyum itu menghilang dan berubah menjadi huruf ‘n’. Dia meletakkan ponselnya dan menggulingkan tubuhnya di atas ranjangnya. Tangannya memukul kepalanya sendiri menyadari kebodohannya.

Pabo! Seharusnya aku meminta nomor telponnya. Sekarang bagaimana aku bisa menghubunginya.”

Taehyung berteriak kesal seraya melemparkan bantalnya hingga membentur dinding. Lelaki itu menegakkan tubuhnya saat sebuah ide mebghampirinya.

“Aku punya ide untuk mendapatkan nomor telponnya. Aigoo… Jung Taehyung ternyata selain tampan kau pintar juga ne?” Puji dirinya sendiri.

Taehyung meraih ponselnya dan menghidupkannya kembali menampilkan foto Jiyeon.

“Sampai jumpa besok chagiya.” Taehyung mencium layar ponsel itu seakan ponsel itu adalah Jiyeon yang sebenarnya.

 

G.R.8.U

 

Ravi memasuki rumah besar yang terkesan mewah. Berbeda dengan keluarga Jung yang memilih tinggal dalam rumah tradisional, ayahnya – Kim Jaejoong – lebih memilih untuk mencurahkan kekayaannya pada rumah besar bergaya Victoria ini. Dibelakang Ravi, beberapa orang ikut masuk tak lain adalah anggota keluarga lain.

“Ravi-ah, apa kau lapar? Eomma akan…” Ucapan Yuri, ibu tiri Ravi terpotong.

“Tidak perlu. Aku ingin beristirahat.” Ravi berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Namun sampai diujung tangga langkahnya terhenti dan berbalik melihat ibu tiri dan kedua adik tirinya.

“Kalian tidak perlu pindah dari sini. Asalkan kalian tidak mengganggu urusanku, maka aku tidak akan mengusir kalian.” Ravi berbalik menuju tujuan awalnya.

Inilah kondisi dalam keluarga Kim yang sebenarnya. Setelah Jaejoong menikah lagi, Ravi tidak memprotes ataupun tidak menunjukkan kekasaran pada ibu tiri dan kedua adiknya. Ravi lebih memilih untuk bersikap tak melihat mereka meskipun didepan orang lain dia terlihat lebih sopan.

Eomma, eomma memasak untukku dan Daehyun saja. Kami sangat lapar, dari tadi kami belum lapar.” Sahut Mingyu mengalihkan perhatian ibunya dari ucapan pedas Ravi.

“Mingyu Oppa benar eomma, kami sangat lapar.” Timpal Daehyun.

Yuri menampilkan senyuman manisnya pada kedua anaknya. Wanita itu segera beranjak ke dapur untuk membuat bibimbap sebagai makan malam. Ucapan Ravi masih terngiang di kepalanya. Awalnya Yuri sudah mempersiapkan diri untuk pindah dari rumah ini jikalau Ravi mengusirnya. Namun pemikirannya salah, ternyata Ravi masih memiliki perasaan meskipun terlihat seperti patung yang jarang berbicara dan terkadang seperti singa yang siap menyerang kapanpun. Yuri melupakan putra suaminya itu sejenak untuk berkonsentrasi menyiapkan makan malam.

 

G.R.8.U

 

Langkah-langkah kecil Jiyeon membawa gadis itu menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Baru saja gadis itu menyelesaikan pekerjaan dan segera pulang sebelum hari semakin larut. Penakut adalah salah satu sifat gadis itu, karena itu dia meminta pulang lebih awal dengan alasan besok harus sekolah. Untung saja pamannya yang baik hati mengijinkannya.

Tangan Jiyeon terangkat membuat gadis itu bisa melihat jam ungu sederhana melingkar dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Gadis itu melihat sekelilingnya dan tak ada seorangpun di sekitarnya. Jiyeon merasa malam ini sangat aneh untuknya namun dia berusaha membuang jauh-jauh pemikiran itu dan kembali berjalan.

Tiba-tiba terdengar suara deheman yang langsung menghentikan langkah Jiyeon. Detik itu juga jantungnya berdetak lebih cepat dan pemikiran tentang hantu yang akan berdiri di belakangnya semakin membuatnya gemetar ketakutan. Terdengar langkah kaki mendekat dan tubuh Jiyeon yang sudah terpaku tak mampu bergerak ataupun berlari. Langkah kaki itu semakin dekat, semakin dekat dan berhenti tepat di belakangnya. Dengan susah payah gadis itu menelan ludahnya sendiri. Tangannya yang gemetar bersatu di depan dadanya. Hingga akhirnya sebuah tangan menepuk bahu Jiyeon dan seketika teriakan histeris gadis itu meledak. Tubuhnya seketika meleleh terjatuh ke tanah.

“Jangan ganggu aku hantu, aku tak pernah mengganggumu jadi jangan ganggu aku. Aku benar-benar sangat takut. Pergilah biarkan aku pergi aku mohon.” oceh Jiyeon menutup telinga takut mendengar suara tawa wanita yang melengking.

Agashi, aku bukan hantu.” Suara lelaki merasuk ditelinga Jiyeon membuat gadis itu berhenti mengoceh.

Dia melepaskan tangan di kedua telinganya. Perlahan namun masih dalam kondisi takut gadis itu menoleh. Bukan wajah menyeramkan yang penuh luka melainkan wajah tampan yang menatapnya cemas. Seketika Jiyeon menghela nafas lega karena lelaki itu bukanlah hantu.

Mianhae sudah membuatmu takut agashi.” Lelaki itu mengulurkan tangan untuk membantu Jiyeon berdiri.

Gadis itu membersihkan celananya dari debu yang menempel. Lalu dia kembali mengamati wajah lelaki itu. Wajah itu tidak asing bagi Jiyeon. Dia berusaha mengingatnya dimana dia bertemu lelaki itu.

“Bukankah anda tuan yang mengunjungi kafe tadi siang?” Ingat Jiyeon.

Lelaki itu tersenyum kikuk lalu mengangguk.

“Jadi benar. Apa yang tuan lakukan di sini?” Tanya Jiyeon kembali.

“Jangan memanggilku tuan. Namaku Taekwoon.” Lelaki itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut Jiyeon.

“Anda pasti sudah tahu namaku Taekwoon-ssi.” Taekwoon mengangguk mengingat siang tadi Jiyeon sudah menyebutkan namanya. “Jadi apa yang anda lakukan di sini Taekwoon-ssi?”

“Aku baru saja selesai bekerja dan hendak pulang. Lalu aku melihatmu. Aku tidak tahu bagaimana menyapamu jadi malah membuatmu ketakutan. Mianhae.” Sesal Taekwoon.

Gwaenchana. Bagaimana bisa seseorang tidak tahu bagaimana cara menyapa? Kau tinggal mengatakan ‘Hai’ saja padaku.”

“Tidak semua orang mudah melakukannya Jiyeon-ssi.”

Jiyeon masih tidak mengerti mengapa bagi Taekwoon tidak mudah untuk menyapa. Bagi Jiyeon yang ramah pada siapapun hal itu sangatlah mudah.

“Bagaimana jika kita berjalan bersama. Apakah rumahmu searah ke sana?” Jiyeon menunjukkan jalan menuju rumahnya yang langsung dijawab anggukkan kepala lelaki itu.

Mereka berdua berjalan bersama namun ada susasana canggung menyelimuti mereka. Taekwoon yang memang jarang bicara membuat Jiyeon merasa bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk mengikuti sikap diam Taekwoon.

“Rumahku di sana, apa kau sudah makan Taekwoon-ssi?” Tanya Jiyeon yang sudah dekat dengan rumahnya.

Taekwoon menatap rumah kecil yang ditunjuk Jiyeon lalu menggeleng menjawab pertanyaan gadis itu.

“Bagaimana jika kau ikut makan bersama kami. Aku yang akan memasak.”

“Kau bisa memasak?” Tanya Taekwoon tak percaya.

“Tentu saja. Aku koki yang handal. Kau pasti akan ketagihan jika memakan masakanku.”

Taekwoon kembali tersenyum namun kali ini senyumannya tidak sekikuk tadi. Dan Jiyeon tak bisa memungkiri betapa tampannya Taekwoon dengan senyuman polosnya itu.

tumblr_mynqi86lNS1rxvwdzo1_1280

“Baiklah aku harus mencobanya.” Suara Taekwoon menyadarkan Jiyeon dari keterpesonaannya.

“Ayo kita masuk.” Ajak Jiyeon.

 

G.R.8.U

 

Yoona duduk dengan gelisah seraya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 9 lebih. Dia bahkan tak mampu menikmati tehnya seperti biasanya. Yunho yang duduk tak jauh darinya menyadari kegelisahan istrinya.

“Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?”

“Ini sudah jam 9 lebih tapi Taekwoon belum juga pulang.” Cemas Yoona.

“Taekwoon sudah berumur 25 tahun, dia sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri, jadi kau tak perlu cemas.”

“Tapi biasanya dia akan pulang jam 7. Jika lembur dia pasti akan menelpon. Tapi kali ini tidak.” Kecemasan Yoona tak kunjung reda.

“Apa kau ingin aku menelponnya agar membuatmu tenang?”

Yoona mengangguk menjawab tawaran suaminya. Akhirnya Yunho meraih ponselnya yang tergeletak di meja dan menelpon putra sulungnya.

“Dimana kau? Mengapa tidak menelpon rumah? Kau membuat eommamu cemas.” Tanya Yunho setelah tersambung dengan Taekwoon.

Mianhae abeoji. Aku sedang pergi bersama teman dan aku lupa menelpon eomma.”

“Baiklah. Kau lanjutkan saja acaramu, kami hanya perlu tahu kau ada di mana.”

Ne abeoji.”

Yunho meletakkan kembali ponselnya di meja lalu menoleh ke arah istrinya. “Dia sedang pergi bersama temannya dan lupa menelponmu. Jadi kau sudah tenang sekarang?”

Yoona mengangguk mantap. Tatapan Yunho beralih ke arah pintu kamar yang terletak di lantai dua.

“Tumben sekali Taehyung tidak keluyuran, dia malah mengunci dirinya di kamar sejak tadi.” Heran Yunho.

“Dua malam ini Taehyung selalu berada di kamarnya. Entah apa yang dia lakukan, tapi sepertinya ada yang aneh dengannya.”

“Aneh bagaimana maksudmu?” Tanya Yunho.

“Taehyung terlihat lebih ceria beberapa hari ini.” Yoona memandang pintu kamar Taehyung.

“Semoga saja keceriaannya itu bisa merubahnya.” Yunho meraih ponselnya dan berdiri meninggalkan istrinya yang menghela nafas. Keinginan Yunho agar Taehyung bisa seperti Taekwoon sepertinya tidak bisa berubah. Yoona kembali menatap pintu kamar Taehyung dan iktu senang putranya bisa bahagia.

 

G.R.8.U

 

Jimin mendekatkan kepalanya kearah kakaknya yang sedang makan. Dia melihat tempat kosong yang ditinggalkan Taekwoon untuk menerima telpon diluar.

Noona, apa kau gila mengajak orang asing ke rumah kita? Bagaimana jika dia orang jahat? Atau monster yang bersembunyi di balik wajah tampannya?” Bisik Jimin.

Sebuah ketukan sendok berhasil mengenai puncak kepala Jimin membuat lelaki itu meringis kesakitan.

“YA!! Park Jimin, bagaimana bisa kau menuduh orang seperti itu? Abeoji tidak pernah mengajarkanmu seperti itu bukan?” Marah Jiyeon pada adiknya.

“Mengajarkan apa?” Tanya Daeyeon menatap kedua anaknya secara bergantian.

“Ini abeoji Jimin menu…hhmmmppfff…..” Ucapan Jiyeon terhalan karena Jimin menutup mulut Jiyeon dengan kedua tangannya.

“Tidak apa-apa abeoji kami hanya sedang bercanda.” Jimin berusaha menutupi kesalahannya.

Teriakan Jimin melengking saat Jiyeon menggigit tangan adiknya itu hingga terlepas dari mulutnya. Jiyeon mendengus menatap adiknya. Daeyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka yang tak pernah akur.

Tak berselang lama Taekwoon kembali setelah selesai menerima telpon dari ayahnya. Lelaki itu bingung melihat Jimin yang memicingkan mata menatapnya tajam. Mengetahui tingkah adiknya, tangan Jiyeon bergerak di bawah meja dan memberikan sebuah cubitan. Jimin yang takut ayahnya akan marah jika berteriak hanya bisa menggembungkan mulutnya dengan mata melotot.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Taekwoon pada Jimin.

“Dia tidak apa-apa. Makanannya pasti tersangkut di tenggorokkannya. Ini minumlah.” Jiyeon menyodorkan minum pada adiknya.

Taekwoon tersenyum tipis melihat tingkah kakak beradik itu. Namun senyuman itu lenyap saat dirinya teringat Taehyung, adiknya. Dia dan Taehyung tak pernah bisa bercanda seperti ini. Dia selalu bersikap dingin begitupula adiknya. Mereka tak pernah bisa saling berdekatan seakan ada dinding tebal yang membatasi mereka.

Taekwoon masih melihat Jiyeon yang terus merecoki Jimin. Rasa iri pun menguar di dalam hatinya. Ingin sekali dia bisa seperti itu dengan Taehyung. Padahal waktu kecil Taekwoon tak pernah bisa lepas dari adiknya tapi semakin bertambah umur mereka semakin menjauh. Mungkin aku harus mencoba dekat kembali pada Taehyung, pikir Taekwoon.

 

G.R.8.U

 

Taehyung keluar dari kamarnya dengan ponsel tepat di depan wajahnya. Tak bosan-bosannya lelaki itu memandangi wajah Jiyeon dalam layar ponselnya. Bahkan saat menuruni tangga, dia tak melepaskan pandangannya dari layar persegi panjang itu.

Sesampainya di dapur, Taehyung mengambil satu kaleng soda lalu membuka dan meneguknya. Tenggorokkannya yang kering terobati dengan minuman itu. Tangannya kembali terangkat dan kembali memandang wajah gadis kesukaannya itu.

“Apa yang kau lihat Taehyung-ah?”

Seketika Taehyung tersedak mendengar pertanyaan Yoona yamg mengagetkannya. Wanita itu menepuk-nepuk punggubg putranya untuk meredakannya.

Eomma kau mengagetkanku saja.”

Mianhae. Tapi salahmu sendiri kau terlalu asyik dengan ponselmu sampai tidak mendengar langkah kaki eomma. Memang apa yang kau lihat?”

Taehyung seger menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya.

“YA!! Apa yang kau sembunyikan dari eomma eoh?” Yoona berusaha merebut ponsel putranya itu.

“Tidak apa-apa eomma. Aku tidak melihat hal yang aneh-aneh kok.”

“Jika tidak melihat hal yang aneh-aneh mengapa kau menyembunyikannya dari eomma. Berikan pada eomma.”

Shirreo.” Taehyung kabur dari dapur menuju kamarnya.

Yoona mendengus tak percaya melihat putranya merahasiakan sesuatu darinya. Sebenarnya wanita itu tahu apa yanv dilihat putranya karena dengan posisi Taehyung yang membelakanginya tadi, wanita itu bisa melihat foto seorang gadis.

“Jadi putraku sudah jatuh cinta? Dasar anak nakal. Menyembunyikannya dari eomma.” Yoona terkekeh geli.

 

G.R.8.U

 

Tidak seperti biasa Jiyeon berjalan dengan melamun. Gadis itu tengah memikirkan mimpinya semalam. Lagi-lagi Jiyeon memimpikan lelaki yang sama. Berbeda dengan mimpinya di danau, kali ini Jiyeon bermimpi di sebuah dapur yang mewah dan seorang lelaki memeluknya dari belakang dan mengatakan kata-kata manis ditelinga Jiyeon. Namun sayang sebelum sempat menoleh ke belakang untuk melihat wajah lelaki itu, adiknya kembali mengganggu tidurnya.

Jiyeon penasaran apa arti mimpi itu, hanya mata hitam kelam nan mempesona yang menjadi petunjuk gadis itu. Sebuah panggilan menghentikan langkah Jiyeon. Tubuh Jiyeon terpaku melihat Hongbin berjalan menghampirinya.

“Selamat pagi Sunbeinim.” Sapa Jiyeon yang merasa beruntung hari ini.

“Pagi Jiyeon-ah. Sebelum masuk kelas bisakah kita berbicara sebentar?” Tanya Hongbin.

“Tidak bisa.” Ucapan dari orang lain merusak pembicaraan mereka.

Jiyeon bisa menduganya siapa pelakunya. Taehyung berjalan menghampiri Jiyeon dan merangkul bahu gadis itu.

“Sayang sekali Hongbin-ssi, Jiyeon harus bersamaku jadi dia tidak bisa berbicara denganmu.”

Taehyung menarik Jiyeon pergi namun Hongbin meraih tangan Jiyeon menghentikan langkah mereka.

“Membawa seseorang dengan paksa sangatlah tidak baik Taehyung-ssi. Jadi lepaskan Jiyeon sekarang atau aku akan melepaskannya?” Ancam Hongbin.

“Jadi kau berpikir aku memaksanya? Kita tanyakan saja langsung. Chagi apakah aku memaksamu?” Wajah Taehyung mendekati telinga Jiyeon.

“Jika kau tidak ikut aku, aku akan membuat lelaki dihadapanmu tak bisa melakukan apapun.” Bisik Taehyung.

Jiyeon berusaha tersenyum pada Hongbin dan melepaskan tangan lelaki itu. “Dia tidak memaksaku sunbeinim. Gwaenchana.”

Taehyung tersenyum senang mendengar Jiyeon menurut padanya. “Kau ddengar sendiri Hongbin-ssi. Kajja chagi.”

Taehyung kembali menarik Jiyeon pergi. Wajah Jiyeon berubah kesal dan merasa keberuntungannya berakhir saat bertemu lelaki di sampingnya.

“Kau tidak adil mengancamku seperti itu.” Marah jiyeon.

“Jadi kau lebih memilih aku menghajarnya.”

“Te-tentu saja tidak. Aishhh… Tidak bisakah kau mengganggu gadis lain.”

Taehyung memegang dagunya seakan sedang berpikir keras. “Sayang sekali tidak ada gadis lain yang yang semanarik kamu.”

Jiyeon hanya bisa menghela nafas kesal. Mau adu mulut sampai kapanpun hanya akan membuatnya kesal. Tangan Taehyung terulur membuat Jiyeon menatapnya bingung.

“Apa maksudnya tangan ini?” Tanya Jiyeon.

“Berikan ponselmu.”

“A-aku tak punya ponsel.” Bohong Jiyeon.

“Jadi ada yang ingin berbohong padaku? Baiklah aku akan mencari Hongbin dulu.” Taehyung hendak pergi namun Jiyeon segera mencegahnya.

Andwae. Aishh… Baiklah ini. Memang untuk apa ponselku?” Jiyeon menyerahkan ponselnya.

Taehyung mengambil ponsel itu dan mengetikan sesuatu. Tak lama dia menyerahkan ponselnya kembali pada sang penilik.

“Itu adalah nomorku. Jangan mencoba-coba menghapusnya chagiya.” Taehyung berlalu pergi meninggalkan Jiyeon.

Gadis itu melihat layar ponselnya dan mendengus tak percaya membaca nama yang tertera di layar ponselnya.

Namja tampan? Ciiihh….. Tampan darimana?” Jiyeon menggelengkan kepalanya.

Terdengar ponselnya berdering dan gadis itu mendengus kesal. Dia mendongak dan menatap Taehyung berjalan mundur dengan ponsel di telinga. Lelaki itu memberi isyarat untuk mengangkat telpon itu. Meskipun tidak mau tapi Jiyeon yakin apa yang akan dilakukan lelaki itu jika dia tak mengangkatnya.

“Ada apa lagi HUH?” Tanya Jiyeon dengan nada kesal.

“Aku akan kembali ke kelasku, sampai bertemu saat istirahat nanti chagi.” Taehyung menutup telponnya lalu melambaikan tangan pada Jiyeon sebelum masuk ke kelasnya.

“Aku bahkan tak ingin bertemu denganmu.” Jiyeon mendengus kesal lalu berjalan kembali ke kelasnya.

Tak jauh dari sekolah itu seorang gadis berdiri di samping pohon dan menggunakan teropong melihat tingkah Taehyung. Dia melepaskan teropongnya dan tersenyum senang dengan apa yang baru saja dilihatnya.

 

~~~TBC~~~

Karena kemarin sudah terlalu banyak V n Jiyeonnya kali ini author banyakin tuh Leo n Jiyeonnya. Semoga readersdeul suka. Jangan lupa tinggalkan komen atau like nya ^-^

tumblr_mccnpwj9jh1qepc6qo2_500

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s