(TEASER) Don’t Cry My Lover

img1452106593966

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(TEASER)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris)

Park Junghwa (EXID)

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

^

Ini adalah FF author yang sudah lama banget dibuat. Sekarang Author rombak dengan cast yang berbeda. Untuk Myungyeon Lovers semoga suka yaa……

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Kaki Myungsoo melangkah menaiki tangga satu persatu. Dengan santai lelaki itu memasukkan tangan kanannya ke dalam saku sedangkan tangan kirinya tengah memainkan permen lolipop yang berada dalam mulutnya.

Dengan menggunakan kakinya Myungsoo menendang pintu yang menghubungkan atap sekolah. Kakinya melangkah di lantai atap namun kemudian terhenti saat sepasang indera penglihatannya menangkap sosok yang tengah duduk memeluk lututnya di pinggir atap.

Sosok itu adalah seorang gadis yang mengenakan pakaian olahraga sekolah ini. Bahu gadis itu tampak naik turun tak beraturan. Myungsoo menebak gadis itu tengah menangis.

Ini bukanlah pertama kalinya Myungsoo mendapati gadis itu di sana, namun selama beberapa hari ini gadis itu terus berada di sana dengan posisi yang sama. Awalnya Myungsoo hendak menghiraukannya tapi tangisan tertahan gadis itu sudah mengganggu tidur siangnya.

“Apa gadis itu tak punya kerjaan lain selain menangis?” Myungsoo mendengus kesal.

Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk menghampiri gadis itu. Terlihat gadis itu tak memperdulikan suara langkah kaki Myungsoo hingga sampai di hadapannya. Dari posisinya yang berdiri, Myungsoo hanya bisa melihat rambut coklat gelap gadis itu yang dikucir di belakang kepalanya.

“YA!!!Tidak bisakah kau mencari tempat lain untuk menangis?” Tanya Myungsoo kesal.

Gadis itu mendongak dan menatapnya dengan mata yang bengkak akibat menangis. Mata coklat bening itu tampak begitu indah. Namun sayang harus tertutupi air matanya yang terus mengalir. Gadis itu tak menjawab pertanyaan Myungsoo dan kembali menyembunyikan kepalanya dan menangis. Myungsoo menghela nafas lalu duduk di samping gadis itu.

“Nihh…” Myungsoo mengeluarkan saputangan dari sakunya lalu menyerahkannya pada gadis itu.

Dengan perlahan gadis itu mengangkat kepalanya menatap saputangan biru ditangan Myungsoo lalu tatapannya beralih ke wajah lelaki itu.

“Bersihkan wajahmu yang berantakan itu. Apa kau tidak malu memperlihatkan wajahmu yang jelek seperti ini pada orang lain?” Jelas Myungsoo.

Akhirnya gadis itu mengambil saputangan milik Myungsoo lalu membersihkan air mata dan ingusnya. Myungsoo tampak jijik melihatnya namun sepertinya gadis itu tak mempermasalahkannya. Setelah selesai gadis itu menyerahkan saputangan yang sudah basah pada sang pemilik.

“Bawalah dulu mungkin kau masih membutuhkannya.” Ucap Myungsoo memandang risih pada saputangannya yang sudah tak berbentuk.

Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis atas kebaikan Myungsoo. Tatapannya beralih memandang lurus ke depan dengan tatapan yang kosong.

“Untuk apa kau menangis setiap hari? Jika kau memang memiliki masalah kenapa kau tidak mengatasinya dan mencari jalan keluar? Menangis tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu, hal itu hanya akan membuang tenagamu saja.” Myungsoo berkata tanpa memandang gadis yang duduk di sampingku.

Terdengar bunyi bel menggema di seluruh penjuru sekolah. Gadis itu menoleh pada Myungsoo dan tersenyum kedua kalinya pada lelaki itu.

“Sudah waktunya masuk. Aku pergi dulu. Terimakasih untuk saputangannya. Aku pasti akan mengembalikannya besok.”

“Ya… Ya… Tapi kembalikan dalam keadaan yang sudah bersih arrasseo.”

Gadis itu mengangguk lalu berdiri meninggalkan Myungsoo.

“Aishh… Mengganggu jam tidurku saja.” Gerutu Myungsoo sebelum menutup matanya dan perlahan merangkak menuju alam mimpinya.

 

#    #    #    #

 

Untuk apa kau menangis setiap hari? Jika kau memang memiliki masalah kenapa kau tidak mengatasinya dan mencari jalan keluar? Menangis tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu, hal itu hanya akan membuang tenagamu saja.

Ucapan lelaki itu masih terngiang di kepala gadis bernama lengkap Park Jiyeon itu. Lelaki itu benar, menangis tidak akan menyelesaikan masalahnya justru hanya membuatnya semakin lelah saja. Jiyeon memandang kearah meja nakas di sampingnya. Tergeletak sebuah saputangan biru yang sudah dicuci dan dilipat rapi.

“Sepertinya aku harus berterimakasih pada namja itu. Tapi bagaimana caranya aku berterimakasih padanya? Dia sudah berbaik hati meminjamkan saputangannya, apa mungkin aku mengembalikannya tanpa memberinya sesuatu sebagai ucapan terimakasih? Andwae itu sangat itu sopan. Lebih baik aku membuatkannya bekal makanan sebagai ucapan terimakasihku.” Gumam Jiyeon.

Gadis itu mengangguk mantap. “Itu ide yang bagus. Besok aku akan membuatnya.” Gadis itu merebahkan tubuhnya sehingga matanya bisa melihat langit kamarnya yang berwarna pink pudar. Senyuman gadis itu mengembang karena tak sabar ingin bertemu dengan lelaki yang meminjamkan saputangannya. Semakin lama mata gadis itu semakin terpejam hingga dia sudah terlelap dalam tidur.

Keesokan paginya, Jiyeon bangun lebih awal untuk membuat sebuah bekal. Karena terlalu asyik memasak, gadis itu sampai tidak menyadari kehadiran seseorang.

“Asyik sekali memasaknya?” Tanya orang itu membuat Jieon hampir saja menjatuhkan sumpit karena kaget.

Halmeoni? Kau mengagetkanku saja.” Jiyeon mengelus dadanya berdetak cepat.

Wanita berumur lebih dari 50 tahun itu tersenyum pada cucunya. “Tumben kau membawa bekal?”

Wanita itu memandang kotak bekal yang sudah terisi sebagian. Tangannya terulur hendak mencomot kimbab namun Jiyeon menepuk pelan tangan neneknya.

“Ini bukan untukmu halmeoni.” Jiyeon kembali melanjutkan kegiatan menghias bento itu.

“Lalu untuk siapa? Kekasihmu ya?”Goda Moonhee.

Aniyo. Aku tidak mempunyai kekasih halmeoni, Bekal ini untuk seseorang yang sudah menolongku.” Jelas Jiyeon tersenyum lebar.

“Menolongmu? Apa kau terjatuh? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” Cemas Moonhee.

“Bukan begitu halmeoni, aku tidak apa-apa. Itu hanya pertolongan kecil kok dan aku ingin membalas kebaikannya.” Jelas Jiyeon terlihat ceria.

Tatapan Moonhee berubah sedih melihat cucunya. Tangannya terulur mengelus rambut Jiyeon.

“Kau adalah anak yang baik Jiyeon-ah. Seharusnya kau juga berhak mendapat kebahagiaan karena kebaikanmu sayang.”

Jiyeon mengerti apa yang dimaksud neneknya. Gadis itu menyentuh tangan neneknya dan mengembangkan senyuman supaya Moonhee tidak perlu khawatir.

“Tinggal bersama halmeoni sudah merupakan kebahagian untukku. Jadi halmeoni jangan bersedih karena memikirkanku. Berbahagialah untukku.”

Moonhee tersenyum mendengar ucapan Jiyeon yang dewasa. Keadaan sudah menekan gadis itu untuk berpikir lebih dewasa. Moonhee berjanji sampai kapanpun akan berusaha membuat cucunya ini bahagia.

“Baiklah. Kalau begitu halmeoni mandi dulu ne? Jangan lupa sisakan untuk halmeoni.” Moonhee menunjuk masakan Jiyeon.

Ne halmeoni.” Jiyeon kembali memasak setelah neneknya meninggalkan dapur.

 

#    #    #    #

 

Seorang gadis berjalan santai menuju kelasnya. Tas ransel berwarna pink sudah bertengger di bahunya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dengan bando sebagai hiasan kepalanya. Sepatu sneaker putih pink menapak kelas 1-3 yang sudah ramai dengan penghuninya.

Bibir yang sudah dilapisi lipgloss berwarna peach menebarkan senyumam saat melihat teman sebangkunya sudah duduk seraya melihat keluar jendela. Gadis itu berjingkat-jingkat menghampiri sahabatnya. Sampai berada di belakang gadis itu menepuk bahu temannya untuk mengagetkannya.

“Ya!! Junghwa-ya kau membuatku kena serangan jantung.” Kesal Jiyeon karena keusilan Junghwa.

Junghwa duduk di samping Jiyeon dan tersenyum lebar tanpa dosa.

“Tapi sepertinya kau sehat-sehat saja jadi aku tak perlu membawamu ke rumah sakit.”

Jiyeon mendengus kesal mendengar candaan sahabatnya. Gadis itu kemudian terdiam mengingat pertanyaan yang terus mengusik pikirannya.

“Junghwa-ya bukankah kau mengenal hampir seluruh siswa di sini?”

Ne. Memang ada apa?”

“Begini aku ingin bertemu dengan seseorang tapi aku tidak tahu namanya.” Jelas Jiyeon.

“Apakah orang itu adalah namja?” Tanya Junghwa antusias

Jiyeon mengangguk dan seketika Junghwa menjerit histeris menjadi pusat perhatian seisi kelas. Jiyeon segera membekap mulut Junghwa untuk menghentikkan kehebohannya itu.

“YA!! Bisakah kau tidak terlalu berlebihan?”

Junghwa meringis polos menampilkan deretan giginya yang putih. “Mianhae. Jadi siapa lelaki pujaan hatimu itu?”

“Jika aku tahu namanya, aku tidak mungkin bertanya padamu. Dan satu hal lagi, dia bukan pujaan hatiku jadi jangan salah paham.” Jiyeon menodongkan jari telunjuknya untuk menekankan ucapanmya

“Baiklah. Sebutkan bagaimana ciri-cirinya.”

“Tinggi mungkin sekitar 180 cm, tampan dan rambutnya blonde.”

Junghwa mendengus mendengar ciri-ciri yang disebutkan Jiyeon. “YA! Apakah kau tidak tahu itu adalah ciri-ciri yang sangat umum. Bahkan di kelas kita ada 3 orang yang memiliki ciri-curi seperti itu.”

Jiyeon melihat teman-teman sekelasnya. Junghwa benar Sehun, Sanghyuk, dan Sungjae memiliki ciri yang disebutkannya. Gadis itu mengingat-ingat lelaki yang ditemuinya kemarin. Jiyeon tidak bisa menyebutkan ciri yang lebih spesifik dari lelaki itu karena dia tidak terlalu memperhatikan lelaki itu.

“Tidak ada. Ya sudah nanti aku akan mencari tahu sendiri.” Jiyeon menghembuskan nafas berat.

“Memang ada apa dengan namja ini? Sepertinya kau sangat tertarik dengannya.”

Jiyeon mendekati Junghwa lalu melirik ke kanan dan ke kiri jika ada yang akan mendengarnya.

“Rahasia.” bisik Jiyeon.

Junghwa mendengus kesal karena Jiyeon tak mau memberitahunya. “Dasar pelit.” Junghwa menjulurkan lidahnya.

“Biarin.” Jiyeon membalas sahabatnya itu.

 

#    #    #    #

 

Setelah berkeliling hampir seluruh sekolah dari kelas ke kelas namun Jiyeon tak bisa menemui lelaki yang saat ini memenuhi pikirannya. Tatapan Jiyeon beralih pada bekal di tangannya. Gadis itu mulai berpikir jika lelaki itu hanyalah halusinasinya saja. Tapi pemikiran itu segera di singkirkan karena Jiyeon yakin lelaki yang kemarin adalah nyata.

Tinggal satu tempat lagi yang belum dikunjungi. Tempat bertemunya dia dengan lelaki itu. Perlahan Jiyeon menaiki tangga menuju atap sekolah. Ada keraguan dalam hati gadis itu jika dirinya akan bertemu dengan lelaki itu di sana.

Pintu terbuka dan Jiyeon langsung mengedarkan pandangannya di seluruh atap sekolah itu. Tatapannya tertumbuk pada sosok yang saat ini berbaring di lantai dengan mata yang terpejam.

Dengan hati-hati Jiyeon berjalan mendekati lelaki itu. Sepertinya lelaki itu tertidur nyenyak sekali sampai-sampai mulutnya terbuka mengimbangi nafasnya. Gadis itu mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas wajah lelaki itu.

Ternyata lelaki ini tampan juga meskipun air liur menghiasi ujung bibirnya. Rahangnya yang tercetak jelas, hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh menambah nilai ketampanannya, nilai Jiyeon.

“Aku tahu wajahku memang tampan.” Mendadak Jiyeon menegakkan tubuhnya mendengar ucapan lelaki yang masih menutup mata itu.

“Ja-jangan terlalu percaya diri siapa bilang wajahmu tampan.”

Jiyeon berbalik memunggungi Myungsoo menyembunyikan wajahnya yang memerah malu karena tertangkap basah memandangi wajah lelaki itu. Myungsoo menegakkan tubuhnya dan tersenyum melihat punggung Jiyeon.

“Lalu untuk apa kau berlama-lama melihat wajahku seperti itu?”

DEGH…. Ucapan lelaki itu membuat tubuh Jiyeon terpaku. Gadis itu merutuki dirinya karena terlalu asyik menilai wajah Myungsoo.

“A-aku… A-aku…”

Sial!! Kenapa aku jadi gugup begini? Rutuk Jiyeon

Myungsoo bangun lalu berdiri di belakang Jiyeon. Dirasakannya kepala Myungsoo berada dekat dengan telinga Jiyeon.

“Tak perlu menyangkalnya nona kau sudah tertangkap basah.”

Wajah Jiyeon semakin memerah mendengar perkataan lelaki itu.

“Kenapa wajahmu tampak memerah nona?”

Myungsoo mengintip wajah Jiyeon yang memerah namun gadis itu segera menoleh ke arah lain. Tak akan dibiarkan Myungsoo semakin meledeknya.

Ani. Wajahku tidak memerah. Perasaanmu saja. Nih aku ingin mengembalikan saputanganmu dan sebagai ucapan terimakasih aku membuatkan bekal ini untukmu terserah kau menyukainya atau tidak. Aku kembali ke kelas dulu.” Jiyeon menyerahkan bekal dan saputangan pada Myungsoo.

Karena tidak kunjung diterima, Jiyeon menoleh dan mendapati Myungsoo tersenyum lebar pada Jiyeon.

“Mengapa kau tersenyum seperti itu?” Curiga Jiyeon.

“Kau tahu saja perutku sedang lapar. Karena kau sudah berada di sini, kau harus menemaniku makan.”

Myungsoo menarik tangan Jiyeon untuk duduk bersamanya. Mata Myungsoo terlihat berbinar ketika melihat isi bekal yang dibuat Jiyeon. Myungsoo meraih sumpit dan memasukkan kimbab ke dalam mulutnya.

5aa5212f4a7f5b04894dd8d0fab4e546

Jiyeon menatap Myungsoo yang tengah mengunyah dengan tatapan harap-harap cemas. Jiyeon khawatir jika Myungsoo tidak menyukai masakan buatannya. Meskipun gadis itu pintar memasak tapi dia tidak tahu selera lelaki di sampingnya ini. Jiyeon menelan ludah bersamaan dengan Myungsoo yang menelan makanannya.

Otteo? Enak tidak?” Tanya Jiyeon penasaran.

Myungsoo menoleh memandang Jiyeon dengan tatapan yang tak bisa diartikan gadis itu.

“Sangat enak. Apa kau yang membuatnya sendiri?” Ucap Myungsoo seraya mengacungkan kedua jempol tangannya.

Jiyeon tersenyum lega mendengar jawaban lelaki itu. “Ne. Aku yang membuatnya sendiri. Syukurlah kau menyukainya. Kupikir kau akan membuangnya karena tidak suka.”

“Untuk apa membuang makanan yang sangat enak seperti ini. Oh ya siapa namamu?” Tanya Myungsoo melanjutkan acara makannya.

“Aku Park Jiyeon.”

“Park Jiyeon? Nama yang aneh.” Ejek Myungsoo.

“YAA!!! Jangan sembarangan menghina namaku itu nama pemberian halmeoni. Memangnya namamu bagus apa?” Kesal Jiyeon.

“Tentu saja sangat bagus. Perkenalkan namaku Myungsoo, Kim Myungsoo.” Lelaki itu menepuk dadanya seolah dia adalah bangsawan di negeri ini.

“Huuhh…Nama yang biasa saja.” Balas Jiyeon.

“YA!!! Jangan meremehkan namaku. Namaku ini sangat terkenal di sekolah ini.”

“Tapi sayang sekali aku tidak mengenalnya.”

Myungsoo melotot mendengar ucapan Jiyeon. “Itu berarti kau ketinggalan berita. Dasar kuper.”

“YA!!! Jangan sembarangan kau menghinaku rasakan ini.” Jiyeon melayangkan tangannya ke punggung Myungsoo membuat lelaki itu tersedak.

“Uuuhhhuuuu….uuhhuuukkk…”

Tak tega melihat lelaki itu tersedak sampai mengeluarkan air mata, Jiyeon segera berlari keluar. Beberapa detik kemudian gadis itu kembali dengan membawa sebotol air putih. Dia segera menyodorka botol itu pada Myungsoo. Lelaki itu segera meneguk air itu hingga menghabiskan setengah botol. Myungsoo berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan seperti habis berlari marathon.

Jeossonghamnida, aku tidak sengaja.” Sesal Jiyeon.

“YA!!! Apa kau ingin membunuhku HUH? Aaiisshh……” Meskipun kesal namun Myungsoo tetap melanjutkan makannya yang tertunda.

Jiyeon lebih memilih diam menunggu Myungsoo menghabiskan makanannya.

“Apakah sudah selesai?” Tanya Jiyeon melihat kotak bekal yang sudah kosong di tangan Myungsoo. Karena kekenyangan, Myungsoo hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Kalau begitu aku kembali kembali ke kelas dulu.” Jiyeon merapikan bekal yang sudah kosong itu.

“Sebenarnya apa yang membuatmu menangis?” Tanya Myungsoo membuat gerakan tangan Jiyeon terhenti di udara.

“Itu… Itu bukan urusanmu.” Jiyeon kembali melanjutkan bersih-bersihnya.

“Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya tapi ingatlah menangis tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu. Jangan lupa datang lagi besok dengan makanan yang berbeda.” Myungsoo berdiri dan membersihkan celananya dari debu.

“Besok? Maksudmu aku harus memasakkanmu lagi besok?”

Ne. Jika tidak datang aku yang akan datang ke kelasmu.”Ancam Myungsoo.

“Kaupikir aku takut dengan ancamanmu? Aku yakin kau tidak akan datang ke kelasku kau bahkan tidak tahu kelasku di mana.”

Usai mengatakan itu, Jiyeon merinding melihat ujung bibir Myungsoo yang terangkat menampilkan senyum jahilnya.

“Kau meremehkanku nona Park? Aku yakin jika kau tahu siapa aku, kau tidak akan berani melawan ucapanku. Ingatlah nama Kim Myungsoo.” Myungsoo berlalu pergi meninggalkan Jiyeon.

“Ciihhh…..Kenapa niat baikku berubah jadi menyebalkan seperti ini.” Dengan lunglai Jiyeon kembali ke kelas dengan kotak bekal yang sudah kosong.

 

~~~TBC~~~

Jangan lupa untuk komen dan likenya ya……

tumblr_inline_npos9rCdc21s8ouss_500

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. srilira45678 says:

    Iya penasaran jga kenapa jiyeon bisa nangis ya…hahaha niat baik jiyeon jdi tidak jdi baik karena kelakuan myungsoo..

    1. chunniest says:

      Wah author bikin penasaran trs ya heeee…heee….. gomawo

  2. Niajoe says:

    Hahhhha..baru awal nih hubungan Myungsoo dan jiyeon .
    Makanya jiyeon jngn pandau buat masakan yg enak.
    Tuh lihat myungsoo kan jdi ketagihan *lho??
    Wkqkqk
    NExt chap dtggu

    1. chunniest says:

      Chef jiyeon hee…hee…. makasih chingu.

  3. myungly says:

    wah seru cerita’y kira-kira Jiyeon Kenapa menangis..?? Penasaran.!!!
    Lanjut bacanya ya..

    1. chunniest says:

      Silahkan chingu. ini baru sampai chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s