(Chapter 2) Don`t Cry My Lover

img1454311245726

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(Chapter 2)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris)

Park Junghwa (EXID)

Park Yoochun (JYJ)

Kim Taehee as Park Taehee

Kim Jaejoong

Park Gyuri as Kim Gyuri

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

Previous :

TeaserChapter 1

^

Mianhae jika readersdeul sudah menunggu ff ini terlalu lama. Semoga suka

Happy reading ^-^

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Seperti biasanya Myungsoo dan Jiyeon tengah menikmati makan siang mereka di atap. Senyuman tersungging di wajah cantik Jiyeon tatkala melihat betapa lahapnya lelaki dihadapannya memakan bekal yang dibuatnya.

“Besok, apa kau ada acara?” Tanya Myungsoo memulai pembicaraan.

Jiyeon berpikir mengingat apa yang akan dilakukannya besok di hari libur. Sesaat kemudian gadis itu menggeleng membuat Myungsoo menyunggingkan senyum senang.

“Besok aku akan menjemputmu jam 10 pagi. Jangan terlambat bangun kalau tidak aku akan menggendongmu keluar.”

“Memang kita akan ke mana besok?”

“Rahasia. Besok kau akan mengetahuinya. Ingat kau harus sudah siap jam 10 pagi. Mengerti?”

Jiyeon mendengus kesal mendengar perintah Myungsoo. “Dasar tukang perintah.”

“Ada satu lagi yang ingin kutanyakan.”

Manik mata Jiyeon menatap lelaki itu penuh tanda Tanya. “Apa? Katakan saja.”

“Kau lebih suka lilin atau kembang api?”

Kedua alis Jiyeon bertaut mendengar pertanyaan Myungsoo yang aneh. “Untuk apa kau menanyakan itu?”

“Sudah jawab saja. Kau lebih suka yang mana?”

“Aku lebih suka kembang api. Karena api lebih indah daripada lilin. Sebenarnya ada apa dengan pertanyaan aneh itu?”

“Besok kau akan mengetahuinya.” Myungsoo kembali melanjutkan acara makannya.

“Aiishhh… Sok misterius.”

Tanpa Jiyeon sadari, Myungsoo tengah merencanakan sesuatu yang akan di lakukannya besok.

 

*   *   *   *

 

Sepulang sekolah Myungsoo berjalan santai dengan tas ransel tersampir di salah satu bahunya. Bibirnya tak henti-henti mengumbar senyuman mengingat apa yang hendak di lakukannya besok.

“Apa kau gila senyum-senyum sendiri?” Tanya Jongin membuyarkan lamunan Myungsoo.

“Aku memang sedang gila.”

“Apa karena gadis yang kau bicarakan kemarin?” Penasaran Jongin.

“Rahasia.”

Langkah kedua lelaki itu terhenti saat Shinhye menghadang langkahnya. Myungsoo menatap gadis itu dengan tatapan bingung, sedangkan Jongin tersenyum senang melihat gadis cantik yang pernah menolak cintanya.

Annyeong Myungsoo-ssi, apa kau masih ingat denganku?” Sapa Shinhye dengan nada ceria.

Myungsoo mengamati wajah Shinhye dan merasa belum pernah bertemu dengan gadis itu kecuali dia selalu mendapati gadis itu mengamatinya terus.

“Memang kita pernah bertemu? Aku tidak ingat.”

Shinhye sedikit kecewa karena Myungsoo tak mengingatnya. “Kau pernah menolongku saat aku hampir terjatuh beberapa hari yang lalu.”

Tatapan Myungsoo beralih ke arah kruk yang berada di lengan gadis itu. Dia langsung teringat memang dirinya pernah menolong gadis itu.

“Ohh… kau gadis yang ceroboh itu? Ada urusan apa menemuiku?” Tanya Myungsoo.

“Aku ingin mengucapkan terimakasih. Besok bisakah kita bertemu? Aku ingin mentraktirmu makan siang.” Shinhye tampak gugup karena ini pertama kalinya dirinya mengajak seorang lelaki untuk pergi bersamanya.

“Sayang sekali aku ada acara. Lagipula kau tak perlu melakukan itu. Jika kau sudah selesai aku harus pergi.”

Myungsoo berjalan meninggalkan Shinhye yang menghela nafas kecewa mendengar penolakan lelaki itu. Sebelum Shinhye juga beranjak pergi, dia melihat Jongin senyum-senyum padanya membuat gadis itu merasa jijik melihatnya.

“Bagaimana jika aku yang menggantikan Myungsoo?” Tawar Jongin dengan sangat senang hati.

“Sayang sekali aku tidak tertarik Jongin-ssi.”

“Kau sudah dua kali menolakku Shinhye-ssi, tidak bisakah kau memberiku kesempatan?”

“Kalau begitu aku kembali menolakmu untuk ketiga kalinya.” Shinhye berbalik pergi meninggalkan Jongin dengan wajah sedihnya.

 

*   *   *   *

 

Keesokan harinya Jiyeon seperti orang gila saja bingung memilih baju apa yang akan dipakainya. Semua isi lemari sudah dikeluarkannya tapi entah mengapa gadis itu merasa tidak cocok memakai semua baju itu.

“Aiiissshhh….Ada apa sih denganku? Kenapa aku jadi terlihat seperti yeoja yang di ajak kencan kekasihnya?”

Jiyeon semakin panik saat melihat jam sudah menunjukkan 9.30 dan setengah jam lagi Myungsoo akan menjemputnya.

OMO!!! Otteokke? Apa yang harus aku kenakan?” Panik Jiyeon mengamatai semua pakaian yang tersebar di seluruh kamarnya.

“Astaga, apa terjadi gempa bumi di sini?” Heran Moonhee melihat kekacauan di kamar Jiyeon.

“Apa yang terjadi sayang? Mengapa kau terlihat panik begitu?” Moonhee menghampiri cucunya.

“Seseorang mengajakku pergi halmeoni, tapi aku bingung mau mengenakan pakaian apa.”

“Apa dia namja yang kau sukai itu?”

Dengan tersipu malu gadis itu menganggukan kepalanya. Moonhee mengamati semua baju yang sudah Jiyeon keluarkan. Kakinya melangkah dan mengambil celana jeans hitam, kemeja putih dan sweater abu-abu lalu menyerahkannya pada Jiyeon.

“Kenakanlah ini. Kau akan terlihat cantik.”

Jiyeon menatap ragu pakaian yang ada di tangan neneknya lalu memandang Moonhee dengan ekspresi yang sama.

“Apa halmeoni yakin? Tapi pakaian ini terlalu biasa.”

“Jika dia memang benar memiliki perasaan yang sama denganmu, dia akan menyukai dirimu apa adanya. Jadi tidak usah takut untuk tampil layaknya dirimu sendiri.”

Jiyeon terdiam membenarkan ucapan sang nenek. Dia lalu tersenyum dan mengambil pakaian itu dari tangan neneknya.

Gomawo halmeoni.”

Sementara Jiyeon mengganti pakaiannya dan mempercantik diri, Moonhee melipat pakaian-pakaian Jiyeon yang berantakan. Mendengar senandung-senandung dari dalam kamar mandi membuat Moonhee tersenyum senang. Dia senang akhirnya Jiyeon menemukan kebahagiaannya sendiri.

Tepat saat Moonhee selesai merapikan baju Jiyeon dan memasukkannya ke dalam lemari, terdengar bel rumah berbunyi sangat nyaring. Pintu kamar mandi terbuka dan kepala Jiyeon keluar dari balik pintu itu.

Halmeoni bisakah kau membuka pintunya dulu? Sebentar lagi aku akan selesai.” Pinta Jiyeon.

“Tentu saja sayang.”

Moonhee keluar dari kamar Jiyeon dan berjalan menghampiri pintu dan membukanya. Seorang lelaki mengenakan celana jeans hitam dengan kaos putih yang dibalut jaket kulit hitam tersenyum canggung pada Moonhee.

A-annyeong hasseyo, saya Kim Myungsoo teman Jiyeon, apakah Jiyeon ada?” Tanya Myungsoo dengan bahasa yang sopan.

“Ada, sebentar lagi dia kan turun, masuklah.”

Moonhee mempersilahkan Myungsoo masuk ke dalam rumah yang tidak terlalu besar itu. Mereka duduk di ruang tamu sederhana dengan sofa biru muda bercorak salju-salju. Myungsoo mengamati seluruh ruang tamu itu. Banyak sekali foto-foto Jiyeon bersama neneknya. Namun yang membuat Myungsoo bingung, tak ada satu pun foto Jiyeon bersama kedua orangtuanya.

Selagi Myungsoo mengamati ruang tamu, Moonhee memperhatikan lelaki itu dengan tatapan penilaiannya. Rambut yang dicat blonde membuat lelaki itu terlihat nakal namun senyuman dan ucapan sopan lelaki itu menyikirkan kata ‘nakal’ darinya. Dan juga nama ‘Kim Myungsoo’ terdengar sangat bagus.

Terdengar derap langkah kaki mendekat. Perhatian keduanya teralihkan menuju ujung lorong itu. Seketika tubuh Myungsoo mematung dan dia tak sadar membuka mulutnya saat melihat Jiyeon. Ini pertama kalinya Myungsoo melihat Jiyeon mengenakan pakaian lain selain seragam sekolah yang membosankan. Jiyeon terlihat begitu manis di mata Myungsoo membuat lelaki itu tak mampu memandang ke arah lain.

“Apa aku terlihat aneh? Mengapa kau memandangku seperti itu?” Tanya Jiyeon menatap penampilannya sendiri.

Myungsoo segera menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Kau terlihat… terlihat berbeda. Bisakah kita pergi sekarang?” Entah mengapa sulit sekali mengatakan kata ‘cantik’ terutama ada sang nenek di dekatnya.

“Tentu saja. Halmeoni, kami pergi dulu ne?” Pamit Jiyeon.

“Hati-hati dijalan.” Moonhee melambaikan tangan penuh semangat.

Saat berada diluar Jiyeon terkejut dengan benda besar terparkir di depan rumahnya. Sebuah motor sport hitam biru terlihat gagah berdiri diatas tanah.

“Nih pakailah.” Myungsoo menyerahkan sebuah helm hitam kepada Jiyeon.

“Kkk..kita akan naik ini?” Jiyeon menunjuk motor itu dengan tatapan ngeri.

Waeyo? Kau takut?” Tantang Myungsoo mengenakan helmnya sendiri dan menaikki motornya itu.

Ani. Untuk apa aku takut naik motor seperti itu.” Jiyeon memakai helm yang diberikan lelaki itu lalu dengan perlahan dia naik dibelakang Myungsoo tanpa menyentuhnya.

“Pegangan.” Perintah Myungsoo.

Jiyeon melihat ke sekililingku untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan tapi percuma saja karena dia tidak menemukan benda yang diinginkannya.

“Aku harus pegangan di mana?” Tanya Jiyeon polos karena memang gadis itu belum pernah sekalipun naik motor balap seperti ini.

Tiba-tiba kedua tangan Jiyeon ditarik kedepan dan dilingkarkannya diperut lelaki itu membuat dadanya menempel erat di punggung Myungsoo. Jelas saja Jiyeon langsung memukul helm Myungsoo keras.

“Apa kau berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan HUH?” Teriak Jiyeon menjauhkan tubuhnya dari Myungsoo.

“Terserah kau jika tidak mau tubuhmu terbawa angin.”

Setelah menghidupkan mesin motor itu, Myungsoo segera melajukan motornya dengan kecepatan yang menurut Jiyeon terlalu tinggi. Karena takut Jiyeon menutup kedua matanya dan memegang erat ujung jaket Myungsoo.

OMO!! lelaki ini benar-benar ingin membunuhku. Oh Tuhan lindungilah aku dari percobaan pembunuhan ini, aku mohon Tuhan. Doa Jiyeon dalam hati.

 

*   *   *   *

 

Shinhye memandang jendela rumah dengan tatapan yang bosan. Tak ada hal menyenangkan yang bisa dilakukannya di hari libur. Shinhye ingat saat Jiyeon masih tinggal dirumah ini, biasanya dia dan adiknya akan bermain video game atau monopoli. Namun sekarang tidak ada yang menemaninya bermain atau pun sekedar berjalan-jalan.

Pintu kamar terbuka mengalihkan tatapan gadis itu. Dia melihat sang ibu tengah berbicara dengan seseorang di ujung telpon seraya berjalan menuju dapur. Shinhye meraih kruknya dan mengikuti ibunya. Dengan sabar gadis itu menunggu sang ibu menyelesaikan pembicaraan bisnis di telponnya.

Akhirnya setelah sepuluh menit menunggu Taehee meletakkan ponselnya di meja lalu meneguk segelas air yang dituangnya tadi.

Eomma.” Panggil Shinhye.

Taehee menoleh dan tersenyum lembut pada putrinya.

“Ada apa sayang? Apa kau butuh sesuatu?”

Eomma bolehkah aku pergi ke rumah halmeoni? Aku bosan di rumah.”

Seketika senyuman Taehee lenyap mendengar permintaan Shinhye.

“Tidak. Kau pasti sudah tahu eomma tidak akan mengijinkanmu ke sana bukan? Jika kau ingin pergi ke tempat yang eomma akan mengantarmu tapi jika kau ingin ke sana, eomma tidak akan mengijinkanmu.”

Wajah Shinhye berubah sedih mendengar penolakan dari ibunya. “Tapi eomma, aku merindukan halmeoni juga …”

Eomma tetap tidak akan mengijinkanmu. Eomma harus kembali bekerja. Jika kau ingin pergi selain ke sana katakan pada eomma, eomma akan mengantarmu.”

Taehee meninggalkan Shinhye yang menghela nafas berat. Gadis itu berjalan menuju kamarnya dan mengunci diri dalam ruang privasinya itu. Dari luar kamar terdengar isakan kecil yang berasal dari Shinhye. Gadis itu begitu sedih tak bisa bertemu nenek dan juga adiknya.

 

*   *   *   *

 

“Kita sudah sampai turunlah.” Samar-samar Jiyeon mendengar ucapan Myungsoo. Namun karena masih ketakutan Jiyeon belum kunjung membuka matanya.

Lama tak memberi respon pada ucapannya, Myungsoo melepaskan tangan Jiyeon yang memeluk perutnya erat.

“YAA!!!kau membuat perutku sakit. Cepat lepaskan!”

Jiyeon segera turun dari motornya namun ketakutannya yang berlebihan membuat tubuh gadis itu limbung. Dengan sigap Myungsoo memegangi tangannya dan menahan tubuhnya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo melihat wajah pucat Jiyeon.

“YA!! Apa kau ingin membuatku mati muda HUH? Tidak bisakah kau mengendarainya dengan pelan?” Jiyeon menepis tangan Myungsoo lalu berjalan meninggalkannya.

Namun belum berselang lama Myungsoo berhasil menyusulnya.

Mianhae. Jika sedang mengendarai motor membuatku lupa semuanya. Jangan cemberut seperti itu kau ingin membuatku malu dilihat orang sedang berjalan dengan bebek buruk rupa?” Ejek Myungsoo melihat Jiyeon memanyunkan bibirnya kesal.

“Siapa yang kau bilang bebek buruk rupa huh? Kau lebih parah lagi rambut landak pirang.” Balas Jiyeon

Jiyeon tertawa melihat Myungsoo panik merapikan rambutnya yang agak berantakan karena mengenakan helm tadi. Sepertinya bagi lelaki itu penampilan adalah nomor satu.

“Berhentilah menertawakanku. Ayo kita masuk.” Tawa Jiyeon terhenti saat Myungsoo menarik tangannya masuk ke dalam sebuah taman hiburan.

Merasakan genggaman tangan Myungsoo yang hangat membuat jantung Jiyeon berdegup tak beraturan. Ada perasaan senang membuncah di hati Jiyeon bisa merasakan bergandengan tangan saat berkencan. Mungkin bagi Myungsoo ini bukanlah kencan hanya hiburan biasa tapi bagi Jiyeon ini merupakan kencan pertamanya dengan lelaki yang disukainya itu.

Detik berikutnya kedua orang itu terlihat asyik menaiki seluruh wahana yang ada di taman hiburan itu. Tak jarang mereka menjerit saat mencoba wahana yang menantang adrenalin dan tak jarang juga mereka tertawa bersama saat merasakan keasyikan bermain.

Karena hari itu adalah akhir pekan maka tidak heran banyak sekali orang yang mengunjungi taman hiburan itu. Namun ketika menaiki beberapa wahana Jiyeon merasa sedih karena mengingatkannya saat dulu dirinya bermain bersama sang kakak di sana.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat hingga langit berubah menjadi gelap. Dan wahana terakhir yang belum mereka naikki adalah bianglala. Terlihat dari antriannya bagaikan kereta tampaknya wahana ini adalah wahana paling diminati oleh pengunjung.

“Kau yakin kita akan naik ini?” Tanya Jiyeon sedang mengantri.

“Tentu saja. Memang kenapa? Apa kau tidak menyukainya?”

Ani hanya saja aku heran kau ingin naik wahana ini, kulihat sepertinya kau lebih menyukai wahana yang menantang.” Sejak tadi Myungsoo memang lebih banyak mengajak Jiyeon menaikki wahana yang menantang adrenalin daripada wahana biasa.

“Bukankah wahana ini juga menantang adrenalin karena ketinggiannya?”

Jiyeon merasa ada yang aneh dengan lelaki yang berdiri di sampingnya, sepertinya Myungsoo sedang merencanakan sesuatu.

Akhirnya setelah setengah jam berlalu antrian terus berjalan dan sekarang giliran Myungsoo dan Jiyeon yang akan naik. Setelah Myungsoo dan Jiyeon masuk, wahana itu bergerak membuat tempat mereka semakin lama semakin menjauhi tanah. Eunseung tampak terpesona dengan pemandangan indah penuh dengan kelap-kelip lampu yang dilihatnya dari atas bianglala. Namun berbeda dengan Myungsoo, dia justru lebih suka melihat gadis yang duduk di hadapannya.

Tepat saat mereka berada tepat di titik atas, wahana itu terhenti. Lalu satu persatu kembang api menghiasi langit malam. Jiyeon semakin takjub dengan pemandangan yang begitu cantik itu.

Fireworks

“Apa kau ingat kau lebih memilih kembang api daripada lilin?”

Mendengar pertanyaan Myungsoo Jiyeon langsung menoleh dan menatapnya tak percaya.

“Apa kau yang merencanakan kembang api itu?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. Myungsoo mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Jiyeon. Tatapannya tak lepas dari gadis itu membuat jantung Jiyeon semakin memompa dengan keras.

“Maukah kau menjadi milikku Jiyeon-ah?”

Hati Jiyeon membeku dan seakan darah dalam otaknya berhenti mengalir mendengar pertanyaan yang selalu dinantikannya. Ingin sekali Jiyeon mencubit lengannya untuk memastikan apakah dia sedang bermimpi atau tidak tapi di sisi lain dia tidak ingin Myungsoo melepaskan genggamannya.

Tanpa Jiyeon sadari, Myungsoo juga merasa gugup dengan pengakuannya. Dia takut jika Jiyeon menolaknya. Untuk seorang Kim Myungsoo yang selalu memiliki apapun yang diinginkannya akan merasa sulit mendengar penolakan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, apa kau mendengarku?” Tanya Myungsoo kembali karena tak kunjung mendengar jawaban dari Jiyeon.

“Bisakah kau mengulangnya?” Pinta Jiyeon.

Myungsoo menghela nafasnya berat. Myungsoo sudah sangat gugup mengucapkannya dan dia harus mengulangnya lagi.

“Apakah kau mau menjadi milikku Park Jiyeon?” Ulang Myungsoo dengan suara yang lebih rendah.

“Maksudmu menjadi kekasihmu?”

Myungsoo menganggukan kepalanya. Kali ini giliran Jiyeon yang menganggukan kepalanya.

“Aku mau.”

Tampak secercah kebahagian muncul di mata Myungsoo saat mendengar jawaban Jiyeon. Dengan perlahan Myungsoo mendekatkan wajahnya pada Jiyeon. Seakan mengerti apa yang hendak lelaki itu lakukan Jiyeon menutup mata menanti tindakan Myungsoo.

Cklekkk….

Sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada sepasang kekasih baru itu karena mereka harus menunda kegiatannya.

“Waktu kalian sudah habis.” Ucap petugas bianglala yang membuka pintu.

Myungsoo menghela nafas kecewa lalu menarik tangan Jiyeon keluar dari bianglala. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Jiyeon menatap tangannya yang tenggelam dalam tangan Myungsoo yang lebih besar. Kedua pipinya bersemu merah menyadari dirinya baru saja menjadi kekasih lelaki itu.

KRRIIUUKKKK…..

Jiyeon melihat ke arah Myungsoo karena dirinya merasa itu bukanlah suara dari perutnya.

“Apa kau lapar?” Tanya Jiyeon yang hanya dibalas cengiran dari Myungsoo.

“Aaiissshhh… Kau merusak suasana romantis saja. Ayo kita mencari tempat duduk aku membawakanmu bekal tadi.” Sekarang giliran Jiyeon menarik kekasihnya untuk mencari tempat duduk di salah satu taman hiburan itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah duduk di kursi. Setelah duduk Jiyeon mengeluarkan dua bekal yang dibuatnya tadi pagi dari dalam tas. Dia menyerahkan satu bekal untuk Myungsoo dan membuka bekalnya sendiri.

“Mari kita makan. Selamat makan.” Ucap mereka bersamaan sebelum melahap bekal itu.

 

*   *   *   *

 

Motor sport itu berhenti tepat di depan rumah Jiyeon. Gadis itu turun dari atas motor dan melepaskan helm yang dikenakannya. Tak ada lagi ketakutan di ekspresi wajah gadis itu karena tadi Myungsoo berusaha menahan diri untuk tidak mengebut. Setelah menyerahkan helm pada Myungsoo, gadis itu pergi saja meninggalkan lelaki tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“YA!! Apa eommamu tidak mengajarkanmu untuk berpamitan huh?” Kesal Myungsoo.

Jiyeon menghentikan langkahnya dan mematung di tempat. Myungsoo turun dari motornya dan menghampiri gadis itu. Tangannya menarik bahu gadis itu untuk menghadap ke arahnya. Berbeda dengan wajah ceria yang Myungsoo lihat tadi, kali ini Jiyeon terlihat bersedih.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku? Kenapa kau terlihat sedih?” Tanya Myungsoo mengkhawtirkannya.

Aniyo. Gomawo sudah mengantarkanku. Selamat malam Myungsoo-ssi.” Jiyeon melepaskan tangan Myungsoo dan sedikit berlari menuju rumahnya.

Myungsoo merasa ada sesuatu yang disembunyikan Jiyeon. Dia ingat saat berada di dalam ruamhnya taka da satupun foto kedua orangtuanya.

Apa karena aku menyebut eomma sehingga membuatnya sedih? Ada sesuatu yang disembunyikannya dan aku harus tahu itu. Pikir Myungsoo.

 

*   *   *   *

 

Myungsoo memarkirkan motor sportnya sebelum akhirnya memasuki rumah besarnya. Seragam sekolahnya tampak sedikit kotor karena baru saja bermain basket. Tidak seperti kemarin, kali ini kekasih – Jiyeon – menontonnya meskipun harus mengancam akan menyeretnya dari kelas.

“Anda di cari nyonya besar tuan muda.” Ucap seorang pelayan saat Myungsoo memasuki rumah mewah itu.

“Kapan eomma pulang dari Afrika?” Myungsoo menyerahkan jaket dan tasnya pada pelayan itu.

“Tadi sore tuan muda.” Ucap pelayan itu mengikuti Yunho.

“Lalu dimana eomma sekarang?”

“Nyonya menunggu anda di kamarnya tuan muda.” Jawab pelayan itu.

Gomawo Lee ahjushi.” Dengan senang Myungsoo berlari menuju kamar ibunya.

Tookkk…Tookkk…..

“Masuk.” Ucap seseorang dari dalam kamar.

Eomma bogoshippo.” Teriak Myungsoo memasuki kamar dan langsung memeluknya.

Aroma bunga anggrek yang selalu menjadi aroma khas Gyuri langsung menyerang hidung Myungsoo.

OMO!!! Myungsoo-ya kau seperti anak kecil saja.” Gyuri membalas pelukan putranya.

“Kenapa eomma lama sekali perginya?” Tanya Myungsoo melepaskan pelukkannya.

Mianhae eomma harus tinggal lebih lama di sana karena ada seorang yeoja dengan kandungannya yang lemah sehingga eomma harus memantaunya sampai yeoja itu melahirkan.”

Gyuri adalah seorang dokter. Meskipun dia memiliki salah satu rumah sakit besar di Seoul tapi wanita yang sudah menginjak kepala 3 itu selalu berpergian menuju pedalaman-pedalaman untuk memberikan pengobatan gratis bagi penduduk yang membutuhkan.

PLETAAKKK….

“Aaahh… Sakit eomma. Kenapa eomma memukulku?” Gerutu Myungsoo memegangi kepalanya yang kena jitakan ibunya.

Eomma diberi tahu appamu jika kau menghajar pelajar lain sampai koma.” Myungsoo mulai bersikap waspada jika sudah mendengar nada suara ibunya yang serius itu.

Tuuukkk…..Tuuukkk…Tuukkk….

Dengan buku yang dipegangnya Gyuri memukul kepala putranya sedangkan Myungsoo melindungi kepalanya yang berharga dengan kedua tangan.

“Berani-beraninya kau melakukan itu Kim Myungsoo. Aiishh… eomma tak pernah mendidikmu untuk melakukan hal itu. Eomma selalu mengajarkanmu untuk menolong sesama bukan malah menghajarnya. Jadi siapa yang menyuruhmu menjadi anak nakal huh? Dasar anak nakal.” Marah Gyuri.

“Ampun eomma aku bisa menjelaskan semuanya tapi berhentilah memukulku.” Mohon Myungsoo

Gyuri menghentikan pukulannya lalu dilingkarkan kedua tangannya di depan dadanya menunggu penjelasan putranya

“Jadi apa yang ingin kau jelaskan anak sok jagoan?” Tatapan tajam Gyuri tertuju pada Myungsoo yang duduk di tepi ranjang.

“Ini bukan sepenuhnya salahku eomma. Aku hanya membela temanku yang dihina olehnya.” Jelas Myungsoo namun sepertinya sang ibu belum puas mendengarnya.

“Temanmu siapa?” Tanya Gyuri kembali.

“Tentu saja Jongin siapa lagi. Eomma kan tahu aku tidak mempunyai teman selain namja playboy itu.”

“Bukannya kau tidak mempunyai teman hanya saja kau tidak mau mempunyai teman.” Gyuri menghampiri Myungsoo dan duduk di sampingnya.

“Mereka mendekatiku hanya karena aku anak appa eomma. Mereka hanya mencoba memanfaatkan aku. Berbeda dengan Jongin dia berteman denganku tidak memandang aku anak siapa.”

Gyuri menempelkan dahinya ke dahi Myungsoo.

“Tidak semua orang seperti itu Myungsoo-ya. Paling tidak jangan terlalu tertutup terhadap orang lain. Memang apa yang diucapkan pelajar yang kau hajar itu?”

Myungsoo melepaskan kontak dahi itu dan memandang ke depan mengingat kejadian sebulan yang lalu.

 

~~~Flashback~~~

“Jongin-ah bagaimana kalau kita ikut balapan malam ini?” Ajak Myungsoo saat sedang berada di sebuah caffe.

“Aaiisshh… Shirreo aku yakin hasilnya sama saja kau yang menang.” Tolak Jongin yang masih asyik dengan ponselnya.

“Tapi aku bosan malam ini jika bukan kau siapa yang bisa kuajak balapan?”

“YA!!! Kau yang bernama Kim Jongin?” Teriak seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri meja mereka bersama ketiga temannya.

Melihat dari seragam yang dipakainya mereka berasal dari sekolah yang memiliki level lebih rendah dari IF High school, sekolah Myungsoo dan Jongin.

“Aku Kim Jongin. Ada urusan apa denganku?” Jongin menoleh sekilas kea rah mereka.

Tiba-tiba lelaki yang memiliki postur lebih besar dari Jongin menarik kerah seragam Jongin seakan hendak memukulnya. Namun melihat reaksi Jongin yang santai membuat Myungsoo mengurungkan niatnya untuk ikut campur.

“Berani-beraninya kau merebut kekasihku HUH?” Teriak lelaki itu tepat di wajah Jongin.

“Siapa kekasihmu? Banyak sekali yeoja yang dekat denganku jadi aku tidak tahu yang mana kekasihmu.” Jongin tampak tak perduli dengan permasalahan yang dihadapinya itu.

“Hyuna. Kim Hyuna dia adalah kekasihku.”

“Oh Hyunchan. Kurasa dia sendiri yang mengatakan padaku jika dia tidak memiliki kekasih jadi tidak ada halangan untukku mendekatinya kan?” Jelas Jongin membuat lelaki itu geram.

“BRENGSEK KAU!!!!!” Tangan kanan lelaki itu melayang hendak memukul Jongin namun Myungsoo segera menghentikannya dengan tangan kirinya dan menggunakan tangan kanannya untuk meninju wajah lelaki itu.

Lelaki itu tersungkur kebelakang terkena pukulan keras Myungsoo. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Dengan kasar lelaki itu menghapusnya dan bangkit berdiri dibantu ketiga temannya.

“Sepertinya kau sangat beruntung untuk ukuran namja sepertimu bukan begitu Jongin-ssi?” Ucap lelaki itu membuat Myungsoo bingung.

Myungsoo berbalik untuk melihat wajah Jongin yang sedikit pucat. Sepertinya dia tahu apa yang di maksud lelaki itu.

“Apa maksudmu? Aku tak mengerti.” Jongin berusaha tenang.

“Tak perlu bepura-pura bodoh. Bukankah mengherankan anak haram sepertimu  tidak dikeluarkan dari IF high school yang merupakan sekolah dengan level tertinggi di Seoul? Apa yang akan terjadi jika aku menyebarkan berita ini di sekolahmu Jongin-ssi?” Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Jongin yang semakin pucat.

Myungsoo menatap wajah sahabatnya. Tatapan Jongin tampak kosong dan jelas sekali wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut mendengar ucapan lelaki itu.

“Apa maksudmu?” Tanya Myungsoo pada lelaki itu.

MWO? Apa kau tidak tahu jika temanmu itu adalah anak haram? Benar-benar mengejutkan bukan teman yang selama ini kau anggap baik ternyata adalah anak haram dari So Jisub, salah satu pengusaha yang sedang naik daun.”

Myungsoo menatap Jongin tak percaya. Dia melihat sahabatnya itu terduduk di lantai dengan wajah yang masih menunduk menatap lantai caffe itu.

“Jongin-ah apakah benar yang dikatakannya?” Tanya Myungsoo padanya.

Meskipun tidak terlihat jelas namun sekilas Myungsoo melihat Jongin mengangguk pelan menjawab pertanyaannya.

“Kita lihat saja apa yang akan dilakukan kepala sekolah jika mendengar berita ini tersebar di media massa. Sang kepala sekolah pasti tidak ingin nama sekolahnya tercoreng dengan adanya anak haram ini.” Lelaki itu berbalik meninggalkan tempat ini.

Kedua tangan Myungsoo mengepal kesal mendengar ucapan lelaki itu. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar Myungsoo segera berlari menghadangnya dan meninju wajah lelaki itu sampai terjatuh. Myungsoo menduduki tubuhnya dan memberikan tinju-tinju keras tepat di wajah lelaki itu.

Entah setan apa yang merasuki Myungsoo sampai menghajar lelaki itu habis-habisan bahkan ketiga temannya tidak berani menghentikannya. Myungsoo tidak akan membiarkan lelaki itu mencelakai teman satu-satunya. Setelah puas menghajar lelaki yang sudah tak berdaya itu Myungsoo berdiri dari atas tubuhnya.

“Tak akan kubiarkan kau menyakiti temanku INGAT ITU!!!” Ancam Myungsoo sebelum meninggalkannya tak sadarkan diri.

~~~Flashback END~~~

 

“Tapi kau tak perlu sampai membuat namja itu koma Myungsoo-ya. Apa kau tidak tahu bagaimana appamu sampai kebingungan mengurusi perbuatanmu itu? Untung saja orangtua namja itu mau bekerjasama untuk menutupi masalah ini dari publik.” Ucap Gyuri.

Mianhae eomma. Hanya saja aku tidak tega melihat Jongin dalam masalah.” Sesal Myungsoo

“Baiklah kali ini eomma bisa terima alasanmu menolong Jongin, tapi lain kali jika kau menghajar orang lain lagi eomma tidak akan memaafkanmu. Eomma akan menghukummu dengan mengirimmu ke daerah pedalaman dan belajar hidup dari rakyat di sana. Mengerti?” Ancam Gyuri membuat Myungsoo tak berani melawannya. Ibunya bisa menjadi wanita mengerikan jika sedang marah.

“Mengerti eomma.” Ucap Myungsoo lemah lemah.

“Lalu apakah saat ini kau sudah mempunyai kekasih?” Ucapan Gyuri sukses membuat Myungsoo melotot kaget.

Apa eomma sudah tahu hubunganku dengan Jiyeon? Tapi eomma tidak mungkin secepat itu mengetahuinya bahkan kami baru satu hari jadian mana mungkin eomma bisa mengetahuinya secepat ini. Panik Myungsoo.

“Menurut eomma?” Tanya Myungsoo kembali tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

“Menurut eomma kau belum mempunyai kekasih. Maka dari itu eomma ingin memperkenalkanmu dengan anak teman eomma. Bagaimana?” Jelas Gyuri penuh semangat.

MWO? Eomma ingin menjodohkanku? SHIRREEOO!!!” Tolak Myungsoo keras.

“Aigo anak ini, eomma tidak menjodohkanmu eomma hanya ingin memperkenalkanmu padanya jika kau tidak menyukainya juga tidak apa-apa. Eomma tidak mau tahu pokoknya besok kau pulang sekolah tidak boleh pergi kemana-mana karena eomma sudah mengundang mereka untuk makan malam besok. Mengerti?”

Jika melihat sang ibu jadi tahu darimana Myungsoo mewarisi sifat tidak mau menerima kata tidak.

“Tapi eomma…” Rengek Myungsoo.

“Tidak ada tapi-tapian. Dan ingat kau tidak bisa kabur ke manapun karena eomma sendiri yang akan menemukanmu dan menyeretmu pulang jadi jangan coba-coba kabur ne?” Ancam Gyuri membuat Myungsoo merinding mendengarnya.

 

*   *   *   *

 

“YA!! Kau lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi.” Keluh Myungsoo pada Jiyeon yang baru datang ke atap.

“Aiisshh…Kau ini selalu saja tidak sabar. Ya Tuhan mimpi apa aku semalam memiliki kekasih menyebalkan seperti ini.” Jiyeon menengadahkan kepalanya dan melipat tangannya seperti sedang berdoa.

“YA!!Seharusnya kau bersyukur ada juga namja tampan yang memintamu menjadi kekasihnya.”

Jiyeon menggelengkan kepalanya mendengar penyakit narsis Myungsoo kambuh kembali.

“Yang ada seharusnya kau yang bersyukur ada yeoja yang menerima namja narsis dan pemaksa sepertimu sebagai kekasihnya.” Dengan kesal Jiyeon meninggalkan Myungsoo untuk duduk ditempat biasanya.

Tanpa mempedulikan Myungsoo yang ikut duduk di sampingnya, Jiyeon mengeluarkan sebuah bekal lalu dibukanya.

“Mana bekalku?” Tanya Myungsoo heran melihat Jiyeon memakan sendiri bekal itu.

“Tidak ada bekal untukmu. Kau menyebalkan.” Jiyeon membuang muka.

“Kalau begitu ini untukku.” Myungsoo merebut bekal yang dibawa Jiyeon.

“YA!!! Itu bekalku, kembalikan.” Jiyeon berusaha merebut bekal itu dari tangan Myungsoo.

Namun sayang karena tangan Myungsoo yang lebih panjang membuat Jiyeon tidak mampu menggapainya. Padahal dia sudah mencondongkan tubuhnya namun tetap saja tak dapat di raihnya.

“Kau cantik sekali.” Ucapan meluncur begitu saja dari mulut Myungsoo saat melihat wajah Jiyeon dari dekat.

Jiyeon yang mendengarnya segera menjauh dari Myungsoo untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ini adalah pertama kalinya Jiyeon dipuji seorang lelaki. Biasanya semua lelaki akan memberikan pujian lebih pada kakaknya bukan padanya.

“Kenapa wajahmu cepat sekali memerah? Apa kau belum pernah dipuji seorang namja?” Goda Myungsoo.

Mwo? Aniyo siapa bilang aku belum pernah dipuji seorang namja?” Jiyeon tidak terima dengan ucapan kekasihnya.

“Benarkah? Paling-paling namja itu adalah appamu.” Myungsoo tertawa mendengar ucapannya sendiri.

Namun tawanya tak berlangsung lama karena melihat wajah Jiyeon yang murung. Tidak ada ekspresi marah ataupun malu yang ditunjukkan Jiyeon seperti tadi. Matanya yang mulai berair menunjukkan kesedihan yang teramat dalam. Myungsoo berpikir jika itu ada hubungannya dengan kegiatan menangis Jiyeon saat mereka bertemu.

“YAA!!! kenapa murung seperti itu? Apa aku mengatakan hal yang salah?” Myungsoo tak dapat melihat reaksi Jiyeon karena gadis itu menundukkan wajahnya melihat tangannya yang berada di atas pangkuan.

“Dia bahkan tak ingin melihatku.” Ucap Jiyeon lirih.

Nde?” Myungsoo tidak mendengar jelas ucapan Eunseung.

Ani. Aiisshhh….sudahlah aku bawa bekal satu lagi. Cepat habiskan makananmu sebentar lagi masuk.” Perintah Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo merasa ada sesuatu yang disembunyikan Jiyeon, sesuatu yang membebani hatinya. Di hati Myungsoo muncul perasaan ingin melindungi kekasihnya dan tidak akan membiarkan gadisnya menanggung kesedihannya sendiri.

 

*   *   *   *

 

Saat ini Myungsoo tengah duduk dipinggir tempat tidur mengenakan kemeja biru langit dengan lengan yang digulung hingga sikunya serta cerata hitam yang menyelimuti kakinya. Jika bukan karena ancaman dari ibunya, Myungsoo pasti sudah menghilang dari rumah ini. Entah kenapa wajah sedih Jiyeon tadi tiba-tiba berkelebat di pikirannya. Dan mata yang sedang menahan air mata itu menunjukkan ada kerapuhan di dalam dirinya.

“Tidak bisakah kau membaginya denganku?” Gumam Myungsoo menghela nafas.

“Tuan muda…Tuan muda.” Seseorang menyentuh bahu Myungsoo membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya

Waeyo Lee ahjushi?”

“Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu anda di bawah.”

Dengan malas Myungsoo berjalan keluar kamar. Saat dia menuruni tangga dengan ukiran-ukiran yang indah, lelaki itu melihat tamu undangan belum datang. Myungsoo melihat jam besar yang berada di ruangan itu. Sepertinya memang belum waktunya tamu undangan itu datang karena jam menunjukkan kurang sepuluh menit dari waktu janjian.

“Kau sudah rapi rupanya. Duduklah.” Ucap Jaejoong yang duduk di salah satu ujung meja.

Myungsoo mengambil tempat duduk di hadapan Gyuri yang sedang tersenyum manis padanya.

“Anak eomma memang tampan ne appa?” Ucap Gyuri bangga.

Ne. Siapa dulu appanya. Myungsoo-ya jangan membuat kekacauan ne? Dan bersikaplah manis atau appa akan mencabut atm dan mengambil motormu. Arraseo?”

Bahu Myungsoo melemas mendengar ancaman Jaejoong. Dengan terpaksa dia mengangguk menyetujui peraturan ayahnya.

“Anak pintar.” Puji Jaejoong layaknya Myungsoo masih berumur 5 tahun.

“Permisi tuan keluarga Park sudah datang.” Ucap paman Lee beridiri di samping Jaejoong.

“Baiklah saatnya kita menyambut mereka.” Jaejoong tampak semangat mendengar kedatangan keluarga Park.

Park? Bukankah nama Jiyeon juga memiliki marga yang sama, Park Jiyeon. Apakah keluarga yang datang ini adalah keluarganya? Jika benar berarti gadis yang akan dijodohkan eomma denganku adalah Jiyeon. Perasaan senang menghinggapi hati Myungsoo dengan pemikirannya itu.

“Kau tampaknya juga senang mendengar keluarga Park datang. Apa kau sudah mengenal mereka?” Tanya Gyuri yang melihat Myungsoo tersenyum senang.

Nde? Aniyo eomma aku bahkan tidak tahu siapa keluarga Park.” Sangkal Myungsoo.

Tak lama kemudian seorang lelaki yang seumuran dengan Jaejoong memasuki ruang makan keluarga Kim bersama seorang wanita yang tampaknya adalah istrinya. Bahu Myungsoo kembali melemah melihat seorang gadis mengekor kedua orangtuanya. Seorang gadis mengenakan dress hitam selutut dengan sebuah kruk berada di tangan kanannya. Myungsoo mengamati wajah gadis yang tidak asing untuknya itu. Dia pernah bertemu dengan gadis itu namun Myungsoo lupa di mana mereka bertemu.

bh9jt7ncmaapm96

 

~~~TBC~~~

Giman readersdeul. maaf kalau alurnya terlalu cepat dan masih ada typonya. yang memaafkan author kasih hadish nih….

tumblr_m0hjwfTcJ51r3sh3no1_500

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Titi says:

    Masih jadi teka-teki keluarga nya jiyeon penasaran kenapa keluarga jiyeon jadi kayak gitu

    1. chunniest says:

      Sabar ya suatu saat author pasti cerita hee…he….

  2. srilira45678 says:

    Ternyata gyuri menjodohkan myungsoo ama shinhye…pasti jiyeon akan semakin terluka..

    1. chunniest says:

      Tidak menjodohkan kok. Gyuri hanya ingin memperkenalkan Shinhye saja. Tenang Gyuri bukanlah tipe ibu pemaksa seperti di dram-drama gtu kok.

  3. myungly says:

    sebener’y jiyeon punya masalah apa sih sma ortu’y,, knp eomma’y benci sma jiyeon dan nenek’y,, smpe” shinhye mw main ke rmh nenek’y aja ga boleh,,, hhhhmmm kasian bggt yya jiyeon,,,
    di tunggu lanjutan’y yya chingu,, secepat’y loh FIGHTING 🙂 🙂

    1. chunniest says:

      Doakan semoga bisa cepat ya chingu. INi aku sedang keterbatasan fasilitasnya jadi susah untuk cepat. Makasih dah sempet komen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s