(Chapter 3) Don’t Cry My Lover

img1469753810041

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(Chapter 3)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris)

Park Junghwa (EXID)

Park Yoochun (JYJ)

Kim Taehee as Park Taehee

Kim Jaejoong

Park Gyuri as Kim Gyuri

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

Previous :

TeaserChapter 1 – Chapter 2

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Myungsoo tak henti-hentinya mengamati gadis dihadapannya yang tengah menikmati makan malam yang disediakan keluarga Kim. Lelaki itu merasa pernah bertemu dengan gadis itu tapi dia lupa dimana. Inilah kelemahan yang dibenci dirinya sendiri yaitu sifat pelupa.

Acara makan malam itu didominasi pembicaraan kedua orangtua Myungsoo dan Shinhye. Sedangkan anak-anak  mereka justru diam lebih tepatnya Myungsoo yang terlalu cuek. Shinhye selalu tersenyum padanya namun dia tidak memperdulikannya.

Setengah jam kemudian acara makan malam itu berakhir dan digantikan dengan acara minum teh di ruang keluarga. Lagi-lagi Myungsoo tak perduli dengan kehadiran  Shinhye yang duduk disampingnya. Lelaki itu sibuk dengan ponselnya mengirim pesan pada Jiyeon.

“Apa kau tidak ingat padaku?” Shinhye membuka percakapan.

Myungsoo menoleh dan melihat wajah ceria Shinhye seraya mengingatnya. Namun otaknya yang tidak mau bekerja sama tidak mampu mengingatnya. “Apa kita pernah bertemu?”

“Kau pernah menolongku yang hampir terjatuh dan sabtu kemarin aku ingin mentraktirmu makan siang tapi kau menolaknya.”

Akhirnya Myungsoo bisa mengingat gadis di hadapannya. “Oh itu kau. Mianhae aku tidak mengingatmu.”

“Tidak masalah. Tapi lain kali kau jangan melupakan aku lagi ya. Namaku Park Shinhye.” Shinhye mengulurkan tangannya.

“Kau sudah tahu namaku bukan? Jadi aku tak perlu memperkenalkan diriku.” Myungsoo tidak memperdulikan uluran tangan Shinhye dan kembali sibuk dengan ponselnya.

TUUKK….

Sendok makan mendarat mulus di atas kepala Myungsoo. Lelaki itu mendongak dan mendapati sang ibulah yang menjadi biang keroknya.

“Maafkan putraku yang tidak sopan ini Shinhye-ah. Namanya Kim Myungsoo kalian satu sekolah bukan?” Sesal Gyuri.

Ne ahjuma, kami satu sekolah.”

“Apa kalian sering bertemu?” Tanya Gyuri penuh harap.

Aniyo ahjuma. Kami hanya beberapa kali saja bertemu. Tapi sepertinya Myungsoo tak mengingatnya.”

Pukulan sendok kembali dilayangkan Gyuri membuat Myungsoo mengaduh kesakitan. “Maafkan dia, otaknya memang tumpul jadi sering lupa.”

Shinhye menahan tawanya melihat Myungsoo tak berdaya di hadapan ibunya. Padahal di sekolah lelaki itu terkenal dengan kesangarannya namun di rumah dia takluk pada ibunya.

Eomma, mengapa Eomma jadi menjelekkanku?” Kesal Myungsoo.

Eomma tidak menjelekkanmu. Eomma hanya berkata berdasarkan fakta.”

Mendengar ucapan ibunya, Myungsoo memasang wajah cemberutnya. Shinhye kembali menahan tawanya.

“Kau terlihat bahagia sekali melihat Eomma menindasku?” Tanya Myungsoo setelah ibunya pergi.

Mianhae aku tidak bermaksud bahagia diatas penderitaanmu. Hanya saja kau berbeda sekali saat di rumah dan di sekolah. Karena itu aku senang bisa melihat sisi lain darimu.”

Myungsoo tidak menyangka Shinhye akan berkata seperti itu. “Kuharap kau tidak mengatakan hal ini pada orang lain, kalau tidak aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran tutup mulut.”

“Kau tenang saja aku tidak akan mengatakanya pada siapapun jika kau mau berteman denganku.” Shinhye kembali mengulurkan tangannya.

Myungsoo mengamati tangan Shinhye lalu beralih ke wajah gadis itu yang dihiasi senyuman lebar. Akhirnya mau tak mau Myungsoo membalas uluran tangan Shinhye dengan malas. Senyuman Shinhye semakin lebar karena akhirnya Myungsoo mau berteman dengannya. Tubuh Myungsoo membeku saat menyadari senyuman Shinhye hampir mirip dengan Jiyeon. Mata hitamnya pun sama dengan mata yang Jiyeon miliki.

Apakah Shinhye memiliki hubungan dengan Jiyeon? Pikir Myungsoo. Namun lelaki itu menggelengkan kepalanya mengenyahkan pemikiran itu. Mungkin saja itu hanya kebetulan.

*     *     *     *     *

“Ada apa eonnie ingin bertemu denganku?” Tanya Jiyeon saat duduk disamping Shinhye di taman sekolah.

“JIYEON-AH!!!!” Seru Shinhye memeluk adiknya erat membuat tulang Jiyeon sakit semua.

Eonnie lepaskan aku, tubuhku sakit.” Pinta Jiyeon kesakitan.

Mianhae Jiyeon-ah. Mana yang sakit?” Shinhye melepaskan pelukannya dan panik mendengar adiknya kesakitan.

Gwaenchana eonnie. Jadi apa yang membuat eonnie sangat senang sampai ingin membunuhku?”

Shinhye memukul lengan Jiyeon pelan. “Aisshhh.. Kau ini aku kan tidak sengaja. Jiyeon-ah apa kau pernah jatuh cinta?”

DEGHH….

Pertanyaan Shinhye tentang cinta mengingatkan Jiyeon pada Myungsoo. Meskipun sepasang kekasih itu sudah menjalin cinta selama seminggu tapi mereka masih belum pernah menyatakan cinta satu sama lain. Jiyeon memang menyukai lelaki itu namun terkadang sikap Myungsoo yang menyebalkan mengurungkan niat gadis itu untuk mengucapkannya. Tapi untuk cinta, Jiyeon belum berani menyimpulkan bahwa rasa sukanya ini adalah rasa cinta.

“YA!!Kenapa kau melamun?” Kesal Shinhye melihat Jiyeon melamun.

Mianhae eonnie. Kenapa eonnie tiba-tiba menanyakan itu? Apa eonnie sedang jatuh cinta?” Tebakan Jiyeon tepat sasaran membuat rona merah menghiasi wajah Shinhye yang cantik.

“Jadi benar tebakanku? Lalu siapa namja yang bisa menaklukan hati eonnie yang dingin ini?” Tanya Jiyeon penasaran.

“YA!!Hatiku tidak dingin tahu.” Shinhye mengerucutkan bibirnya.

“Jika tidak dingin lalu kenapa eonnie menolak semua namja yang ingin menjadikan eonnie kekasihnya?”

“Aku hanya belum menemukan namja yang tepat saja.”

“Jadi siapa namja tepat itu?” Penasaran Jiyeon.

“Rahasia.”

“YAA!!! Eonnie. Kalau kau tidak mau mengatakannya untuk apa memanggilku kemari eonnie? Membuatku penasaran saja.” Kesal Jiyeon.

“Aku kan hanya ingin curhat pada dongsaengku tersayang tapi aku belum bisa mengatakan siapa namja itu karena aku belum tentu aku menjadi kekasih namja itu.” Terdengar nada sedih saat Shinhye mengucapkannya.

Waeyo eonnie?”

“Karena sepertinya namja itu sangat sulit didekati. Dia bahkan selalu tidak ingat jika pernah bertemu denganku.”

Bahu Shinhye melemah membuat Jiyeon tak tega melihatnya. Jiyeon merangkul bahu Shinhye dan disandarkan kepalanya di bahu kakaknya.

“Sepertinya ucapan putus asa ini tidak terdengar seperti Shinhye eonnieku yang tangguh dan tak mudah putus asa. Bukankah biasanya eonnie tidak mudah menyerah begitu saja kenapa sekarang eonnie putus asa seperti ini?” Jiyeon mengingat sifat kakaknya yang tak pernah menyerah menghadapi rintangan yang menghadangnya.

“Aku memang tidak ingin menyerah tapi aku takut jika aku dikira yeoja yang agresif jika terlalu mengejarnya.” Shinhye menyandarkan kepalanya di kepala adiknya.

Eonnie mendekati bukan berarti agresif, asalkan eonnie tahu caranya saja.”

Tiba-tiba Shinhye menegakkan kepalanya dan menatap adiknya dengan tatapan memohon.

“Jiyeon-ah maukah kau membantuku untuk mendekati namja itu?” Mohon Shinhye.

“Aku? Tapi aku tidak punya pengalaman apapun dalam mendekati namja, eonnie.”

Jiyeon melihat ekspresi kecewa di wajah Shinhye membuat Jiyeon tak tega menolak permintaan mengingat perasaan bersalah pada kakaknya yang selama ini dipendam menambah perasaan tidak enak di hati Jiyeon.

“Baiklah eonnie aku akan membantumu sebisaku.”

Ada perasaan senang saat melihat senyum lebar Shinhye menghiasi wajahnya. Direngkuhnya Jiyeon dalam pelukannya, pelukan hangat yang sudah lama tak dirasakan Jiyeon. Dibalasnya pelukan kakaknya dengan erat, tanpa Jiyeon sadari air mata sudah keluar dari matanya namun segera dihapusnya tak ingin Shinhye melihatnya.

“Tunggu sebentar eonnie. Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi.” Pinta Jiyeon saat Shinhye hendak melepaskan pelukannya. Tak disangka Jiyeon benar-benar merindukan pelukan kakaknya yang penuh dengan kasih sayang.

 *     *     *     *     *

Deringan ponsel berteriak meminta diangkat. Jiyeon meraih ponsel yang mendekam didalam tasnya. Nama ‘namja berbahaya’ tertera di layar ponselnya.

“Hallo?” Sapa Jiyeon.

“YA!!!Kau di mana? Aku akan menjemputmu di kelas.” Teriak Myungsoo dari ujung telepon.

mata Jiyeon melotot mendengar ucapan lelaki pemaksa itu. Gadis itu melihat sekeliling kelasnya yang ramai dipenuhi dengan teman-temannya lalu dia menggelengkan kepalanya sendiri.

ANDWAE!!!!”Tanpa sadar Jiyeon berteriak membuat gadis itu menjadi perhatian seisi kelas.

Mianhae.” Jiyeon membungkuk meminta maaf kepada teman-temannya.

“Aiisshhh…..Jangan coba-coba kau datang ke kelasku atau aku akan memukulmu. Tunggulah di atap aku akan segera ke sana.” Tanpa menunggu jawaban dari Myungsoo, Jiyeon langsung menutup telepon itu dan segera berlari menuju atap sekolah tempat mereka biasa bertemu.

Sesampainya di atap Jiyeon melihat Myungsoo berdiri dengan kedua tangan terlipat didepan dadanya. Dilihat dari mata Myungsoo yang menatap Jiyeon tajam sepertinya dia sedang menahan kesalnya. Jiyeon merasa heran melihat kemarahan di mata Myungsoo, entah apa yang membuat lelaki itu marah tapi yang pasti Jiyeon merasa merinding ketakutan melihatnya.

“Darimana saja kau seharian ini? Sejak istirahat pertama aku menunggumu tapi kau tidak datang-datang juga. Aku juga sudah menghubungimu tapi tak kau angkat. Kau juga melarangku datang ke kelasmu. Jadi bisakah kau menjelaskan ke mana seharian ini kau menghilang Park Jiyeon?” Masih dengan tatapan tajamnya Myungsoo berjalan mendekati Jiyeon untuk memojokkan gadis itu di tembok.

“Aa…Aku…Tadi aku bertemu dengan eonnie-ku dulu.”Jawab Jiyeon tergagap.

Eonnie? Apa kau yakin orang yang kau temui itu eonniemu bukan namja lain? Lalu kenapa kau tidak menjawab meneleponku HUH?” Sesuai dengan rencananya Myungsoo berhasil memojokkan Jiyeon ke dinding.

Namun reaksi Jiyeon tidak sesuai dengan dugaan lelaki itu. Bukannya bertambah takut namun gadis itu justru tertawa dengan kerasnya sampai-sampai dia harus memegang perutnya karena sakit akibat tawanya yang berlebihan.

“YA!!! Apa yang kau tertawakan? Aku sedang berbicara serius padamu.” Kesal Myungsoo melihat Jiyeon yang masih tertawa.

Mianhae aku tak bisa menahan tawaku.” Jiyeon berusaha menghentikan tawanya dan menatap lelaki yang ada dihadapannya. “Jadi kau sedang cemburu tuan Kim?” Dengan jahil Jiyeon menatap kekasihnya itu.

MWO? Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu.” Sangkal Myungsoo.

“Benarkah? Kalau begitu apa reaksimu jika aku mengatakan tadi aku memang bertemu dengan seorang namja?”

BBBUUUKKK…..

Dengan keras Myungsoo meninju tembok yang ada di samping kepala Jiyeon membuat gadis itu terpaku dengan tindakan kekasihnya.

“Jadi kau benar-benar bertemu seorang namja? Siapa namja itu? Aku akan menghajarnya.” Marah Myungsoo.

TUUKKK….

Namja bodoh. Apa kau tidak mendengar ucapanku? Aku kan mengatakan ‘Jika’ bukan berarti orang yang kutemui adalah namja lain. OMO!!!” Jiyeon terkejut melihat darah ditangan kanan Myungsoo akibat meninju tembok tadi.

“Aaiiiggooo….Seperti ini kau bilang tidak cemburu? Pembohong. Tunggulah di sini aku akan membawa sesuatu untuk menolong tanganmu.”

Jiyeon berlari meninggalkan Myungsoo menuju ruang kesehatan. Sampai di depan pintu bertuliskan ‘ruang kesehatan’ Jiyeon mengetuk pintu itu.

“Permisi Taeyeon-ssi.” Jiyeon membuka pintu ruang kesehatan itu tanpa menunggu jawaban dari Taeyeon, dokter disekolah itu.

“Apa kau sakit Jiyeon-ah?” Tanya dokter cantik itu.

Ani Taeyeon-ssi. Bisakah aku pinjam kotak pertolongan pertama. Seorang temanku sedang terluka?”

“Kenapa kau tidak membawanya kemari?” Tanya Taeyeon heran.

“Dia…Dia tidak mau diajak kemari Taeyeon-ssi.”

“Baiklah kalau begitu aku ikut denganmu untuk memeriksanya.” Taeyeon hendak berdiri namun Jiyeon segera menahan tangan dokter itu.

“Tak perlu Taeyeon-ssi itu hanya luka kecil aku bisa mengatasinya, aku hanya perlu meminjam alat-alatnya saja.” Awalnya Taeyeon ragu-ragu namun akhirnya dia tetap menyerahkan kotak putih pada Jiyeon.

Gamsahamnida Taeyeon-ssi.” Ucap Jiyeon keluar dari ruangan itu.

TEEENGGG……….

Jiyeon memaki dalam hati mendengar bel masuk berbunyi. Namun demi lelaki yang sudah menunggunya di atap, gadis itu terpaksa melakukan hal yang belum pernah dilakukannya yaitu membolos. Jiyeon berlari menuju atap sekolah dengan kotak putih yang digenggamnya.

Sesampainya di atap dilihatnya Myungsoo sedang duduk ditempat biasanya menunggu Jiyeon. Gadis itu mendekati Myungsoo lalu diletakkannya kotak putih itu di lantai. Dia berlutut di depan Myungsoo dan membuka kotak pertolongan pertama itu lalu mengeluarkan alkohol serta sebuah kapas. Dengan kapas yang sudah diberi alkohol Jiyeon membersihkan luka ditangan kekasihnya.

“Aaahhh….” Teriak Myungsoo merasakan perih ditangannya.

“Tahanlah sebentar bukankah ini hanya luka kecil untuk jagoan sepertimu?” Ejek Jiyeon.

“Aaaissshhh…Tapi kan tetap saja perih.” Rengek Myungsoo seperti anak kecil.

“Salahmu sendiri kenapa harus meninju dinding.” Dengan cara yang sama Jiyeon menggunakan kapas yang sudah diberi obat merah lalu di tempelkan di luka lelaki itu.

“Ini juga kan salahmu membuatku kesal. Kalau kau tidak aaaahhhh……” Myungsoo berteriak kesakitan karena Jiyeon tiba-tiba menekan lukanya.

“YA!!! Sakit. Tidak bisakah kau pelan sedikit?”

“Bagaimana bisa kau menyalahkanku atas lukamu ini? Kau sendiri yang melakukannya kenapa harus aku yang di salahkan? Lagipula salahmu sendiri kalau kau ini bodoh.” Jiyeon  mengeluarkan perban lalu membungkus luka di tangan Myungsoo.

“Kenapa jadi menghinaku?”

“Tentu saja kau ini bodoh. Bukankah aku sudah mengatakan aku menemui eonnieku apa kau tidak tahu jika eonnie itu berarti saudaraku?” Jiyeon menali perban itu dan dia tersenyum puas atas hasil pengobatannya yang rapi.

“Jadi kau mau mengakui jika kau cemburu Kim Myungsoo?” Jiyeon menatap Myungsoo dengan tatapan kemenangan.

“Aisshh… Ne aku memang cemburu. Puaskah kau mendengarnya Park Jiyeon?” Jiyeon tertawa mendengar pengakuan kekasihnya membuat Myungsoo semakin kesal melihatnya.

Dengan satu gerakan ditariknya tengkuk Jiyeon dan ditempelkannya bibirnya di bibir gadis itu. Jiyeon melotot kaget menerima ciuman yang tiba-tiba ini. Myungsoo mulai menggerakan bibirnya menjadi lumatan. Lembut, itulah yang dirasakan oleh Jiyeon. Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Myungsoo melepaskannya.

“Karena itu kau jangan dekat dengan namja lain, karena kau hanya milikku. Tak akan kubiarkan namja lain berani menyukaimu. Kau mengerti?”

TUKKK..

Dengan jemarinya Jiyeon mengetuk kepala Myungsoo keras membuat sang empunya meringis kesakitan. “Aku bukan barang yang bisa kau miliki.”

“Ya!!! Kau mau kemana?” Seru Myungsoo melihat Jiyeon pergi membawa peralatan kesehatan.

“Mengembalikan kotak ini.” Jawab Jiyeon tanpa menoleh.

Myungsoo tersenyum mengamati kepergian Jiyeon. Dia senang bisa mencium kekasihnya setelah gagal di hari jadian mereka.

 *     *     *     *     *

Jiyeon menyentuh bibirnya dan tersenyum sendiri mengingat ciumannya dengan Myungsoo. Kejadian itu terus terulang di dalam pikiran Jiyeon membuat hatinya tersulut kembang api yang meledak-ledak. Saking senangnya gadis itu berguling-guling diatas ranjangnya.

“Kau tampak bahagia sekali.”

Seketika Jiyeon terduduk dan melihat neneknya berdiri di depan pintu. Wanita itu menghampiri cucunya dan duduk di tepi rangjang.

“Jadi apa yang membuat cucuku tersayang ini bahagia?” Moonhee mengelus rambut Jiyeon.

“Tidak ada apa-apa halmeoni.”

“Jangan membohongi halmeoni yang tua ini Jiyeon-ah. Apakah karena namja waktu itu?”

Seketika rona merah menghiasi kedua pipi Jiyeon menjadi jawaban atas pertanyaan neneknya.

“Jadi benar karena namja itu? Apakah kalian sudah menjadi sepasang kekasih?”

Jiyeon tersenyum lebar seraya mengangguk. Moonhee ikut tersenyum bahagia karena untuk pertama kalinya sejak 3 tahun terakhir dia melihat cucunya itu sesenang itu.

“Tak perlu menyembunyikannya dari halmeoni. Halmeoni tidak akan marah justru halmeoni ikut senang. Akhirnya kau bisa bahagia setelah terlalu lama bersedih.”

Senyum Jiyeon menghilang mengetahui apa yang dimaksud neneknya. Pertanyaan apakah salah jika dia merasa bahagia diatas penderitaan kakaknya merasuki pikiran Jiyeon.

Halmeoni apakah tidak apa-apa jika aku bahagia sedangkan eonnie…”

“Sssttt…. Jangan berpikir seperti itu. Kau berhak bahagia Jiyeon-ah. Halmeoni yakin Shinhye juga akan ikut bahagia melihat kau bahagia. Jadi jangan berpikir seperti itu lagi ne?”

Jiyeon mengangguk lalu memeluk neneknya. Moonhee mengelus rambut Jiyeon dan tersenyum lega karena ada yang bisa membuat cucunya bahagia.

 *     *     *     *     *

Mengejar sesorang yang disukai memang perlu pengorbanan. Demi mengetahui tempat yang sering dikunjungi Myungsoo, Shinhye harus mengorbankan waktunya untuk makan siang dengan Jongin. Namun hal itu tak menjadi masalah asalkan Shinhye bisa dekat dengan Myungsoo. Saat di sekolah sulit sekali menemui Myungsoo, tak ada satupun orang yang tahu keberadaan lelaki itu saat istirahat.

Menurut informasi yang didapatkan dari Jongin, malam ini Myungsoo akan balapan di suatu tempat yang mengharuskan Shinhye melewati gang yang menyeramkan dan gelap. Dengan tekad kuat Shinhye melangkahkan kaki dan kruknya memasuki gang yang membuat gadis itu merinding. Sejauh ini perjalanannya mulus-mulus saja tak ada gangguan, namun saat dia mencapai ujung gang, segerombolan lelaki menghadangnya.

“Mau ke mana nona? Perlu bantuan? Aku rasa tongkatmu itu memperlambat langkahmu, bagaimana kalau aku menggendongmu?” Ucap seorang lelaki yang sepertinya merupakan ketua geng itu.

Shirreo aku bisa berjalan sendiri justru kalian yang memperlambat langkahku jadi menyingkirlah.” Shinhye berusaha tidak menunjukkan kelemahannya di hadapan para lelaki itu.

“Kenapa terburu-buru nona? Bagaimana kalau kita main-main dulu hmm?” Tawar lelaki itu membuat gadis itu merinding mengetahui apa yang dimaksud lelaki itu dengan ‘main-main’.

“JANGAN MENYENTUHKU!!” Shinhye menepis tangan penjahat itu yang menyentuh lehernya.

“Tak perlu berteriak kau pasti akan menyukainya bahkan mungkin kau akan ketagihan. Bawa yeoja itu!!!” Tiba-tiba dua anak buah lelaki itu memegangi kedua tangan Shinhye untuk di bawa pergi.

ANDWAE!!!Lepaskan tanganku…” Teriak Shinhye meronta-ronta hendak melepaskan tangannya namun sayang bukannya tangannya yang terlepas justru kruk yang dibawa terjatuh.

“YA!!!Lepaskan aku. Aku akan melaporkan kalian ke polisi jika kalian berbuat hal yang tidak-tidak padaku.”

Ketua geng itu menghentikan langkahnya. “Kami tidak akan takut pada ancamanmu nona. Justru karena kau mengatakan seperti itu maka aku tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup.”

Darah Shinhye mendesir mendengar ancaman lelaki itu. Aku belum ingin mati, aku bahkan belum mengungkapkan perasaanku pada lelaki yang kusukai, pikir Shinhye.

“HENTIKAN!!!” Seru seorang membuat langkah penjahat dan anak buahnya itu berhenti.

Senyum Shinhye mengembang mengetahui sang pemilik suara itu adalah Myungsoo. Lelaki itu turun dari motor sportnya dan menghampiri gerombolan itu.

“Lepaskan dia Choi Youngdo. Aku tidak ingin mencari masalah denganmu jadi sebaiknya kau lepaskan dia baik-baik.” Ucap Myungsoo menatap tajam lelaki bernama Choi Youngdo itu.

“Kau ingin menjadi pahlawan Myungsoo-ah? Bagaimana jika aku tidak ingin melepaskan yeoja ini?”

“Jika tidak aku akan menghajarmu.”

Tawa Youngdo pecah mendengar ancaman Myungsoo. “Berani sekali kau ingin menghajarku. Apa kau tidak lihat berapa orang yang kau hadapi? Bahkan belum satu menit kau akan terjatuh di tanah dengan penuh luka.”

“Jangan meremehkan kemampuanku.” Myungsoo terlihat mulai kesal.

“Hajar dia.” Perintah Youngdo pada semua anak buahnya, bahkan anak buahnya yang sedang memegangi Shinhye juga ikut menghajar Myungsoo membuat gadis itu terjatuh karena tidak ada kruk yang menyangga tubuhnya.

Anak buah Youngdo yang berjumlah sepuluh orang langsung mengkeroyok Myungsoo. Dengan sigap Myungsoo menghindari pukulan-pukulan yang melayang ke arahnya, namun terkadang lelaki itu harus menerima pukulan yang tak bisa dihindarinya. Tak tinggal diam Myungsoo membalas pukulan-pukulan mereka.

“YAA!!! Itu tidak adil bagaimana bisa satu orang melawan sepuluh orang sekaligus?” Protes Shinhye.

Youngdo yang dari tadi hanya berdiam diri menyaksikan adegan perkelahian itu berbalik menghampiri Shinhye.

“Dunia ini memang tidak adil nona. Lagipula itu salah Myungsoo sendiri yang sok berperan menjadi pahlawan.” Youngdo berbalik kembali menyaksikan perkelahian yang sengit itu.

Tak lama kemudian satu persatu para anak buah itu tumbang. Shinhye melihat wajah Myungsoo yang dipenuhi lebam mendekat ke arah Youngdo.

“Sudah kubilang jangan meremehkan kemampuanku bukan?” Puas Myungsoo.

Amarah Youngdo memuncak dan dia langsung melayangkan tinjunya. Dengan sigap Myungsoo berhasil menghindarinya. Tak hanya berhasil menghindar namun Myungsoo juga berhasil melayangkan pukulan tepat mengenai perut Youngdo hingga membuat lelaki itu terjatuh di tanah.

Myungsoo berjongkok di samping Youngdo. Senyuman sinis muncul di wajah Myungsoo. “Kau tahu betul siapa abeojiku. Jadi sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku menelpon Abeoji dan melaporkanmu dengan tuduhan percobaan pemerkosaan.” Ancam Myungsoo.

Dengan terpaksa Youngdo pergi mendengar ancaman Myungsoo. Setelah kepergian Youngdo beserta anak buahnya, Myungsoo mendekati Shinhye.

“YA!! Apa yang kaulakukan disini Shinhye-ssi? Apa kau tidak tahu tempat ini sangat berbahaya untuk yeoja sepertimu?” Marah Myungsoo.

“Tadi aku tersesat dan aku tidak tahu akan ada kejadian seperti tadi. Gomawo lagi-lagi kau menolongku.” Ucap Shinhye yang masih terduduk di tanah.

Myungsoo menoleh ke kanan dan ke kiri lalu mengambil kruk Shinhye yang terjatuh.

“Ini.” Myungsoo menyerahkan kruk itu pada Shinhye dan membantu gadis itu berdiri.

“Pulanglah naik taxi.” Perintah Myungsoo sebelum berniat meninggalkan Shinhye namun gadis itu segera menahan tangan lelaki itu.

“Apa lagi?” Tanya Myungsoo kesal.

“Bolehkah aku mengobati lukamu sebagai ucapan terimakasih?”

“Tak perlu aku bisa mengobatinya sendiri.” Ucap Myungsoo dingin.

Shinhye kembali menahan tangannya yang hendak pergi.

“Aku mohon. Selama ini kau selalu membantuku tapi aku tidak pernah memberikan apapun untuk ucapan terimakasih. Kau juga menolakku untuk mentraktirmu. Paling tidak dengan mengobati lukamu aku bisa membalas kebaikanmu.”  Mohon Shinhye.

Myungsoo terdiam sesaat memikirkan ucapan Shinhye namun akhirnya dia mengangguk.

“Baik. Tapi cepatlah karena aku tidak punya banyak waktu.” Meskipun ucapan Myungsoo dingin tapi akhirnya dia mau juga mengabulkan permintaan Shinhye.

Mereka duduk di pinggir jalan yang sepertinya digunakan untuk balapan. Shinhye mengeluarkan sebuah kapas yang dibasahi dengan air minum yang gadis itu bawa. Dengan hati-hati Shinhye membersihkan luka di dahi dan pipi Myungsoo, sedangkan lelaki itu dengan santainya melihat-lihat sekeliling tanpa memperdulikan gadis di sampingnya. Sekilas Shinhye melihat perban di tangan lelaki itu, mungkin karena perkelahian tadi membuat darahnya semakin membasahi perban itu.

“Apa kau memang sering berkelahi? Kulihat tanganmu juga terluka. Apakah kau mau perbannya diganti?” Tanya Shinhye selesai membersihkan luka lelaki itu.

ANDWAE!!! Kalau kau sudah selesai aku akan pergi. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini sebelum kejadian tadi terulang kembali.” Myungsoo tak ingin perban yang Jiyeon lilitkan ditangannya digantikan oleh orang lain. Lelaki itu hendak berdiri namun Shinhye lagi-lagi menariknya untuk duduk lagi.

“Apalagi?” Kesal Myungsoo.

Shinhye mengeluarkan plester warna pink dengan gambar hello kitty sebagai motifnya lalu ditempelkan di dahi Myungsoo yang tergores. Raut terkejut menghiasi wajah tampan Myungsoo.

“Selesai.” Senang Shinhye melihat plester mencolok di wajah lelaki itu.

Tanpa mengucapkan terimakasih Myungsoo langsung pergi meninggalkan Shinhye. Meskipun lelaki itu bersikap cuek padanya namun gadis itu sudah senang. Setidaknya dia bisa mengobrol dengan lelaki itu.

*     *     *     *     *

Dengan senyum yang sedari tadi mengembang di wajahnya, Jiyeon menaiki tangga menuju atap tempatnya dan Myungsoo biasa bertemu. Entah mengapa Jiyeon tak bisa melupakan ciuman kemarin, bibir lembut lelaki itu benar-benar membuat gadis itu gila. Bahkan semalam dia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang kejadian itu.

Sesampainya di atap Jiyeon melihat Myungsoo tidur di tempat mereka biasa duduk. Tanpa mengeluarkan suara gadis itu berjalan mendekati kekasihnya. Saat sudah berdiri di samping Myungsoo, dia menunduk agar bisa melihat wajah tampan kekasihnya dari dekat. Ketika sedang mengamati lelaki itu, pandangannya jatuh pada sebuah benda yang melekat di dahi lelaki itu. Benda kecil berbentuk persegi panjang itu sangat familiar untuk Jiyeon.

~~~FLASHBACK~~~

Dua orang gadis kecil berlari di sebuah taman dengan riangnya. Mereka tidak memperdulikan sekelilingnya karena sedang asyik bermain kejar-kejaran. Gadis yang lebih muda itu dengan sekuat tenaga mengejar kakaknya yang berlari di depannya.

“Shinhye-ah, Jiyeon-ah hati-hati!!!” Seru seorang wanita yang tak lain adalah ibu mereka.

NEE EOMMA!!” Seru Shinhye dan Jiyeon bersamaan.

Namun karena tidak mempedulikan jalanan yang dilewatinya, Jiyeon kecil tersandung sebuah batu membuat gadis kecil itu menangis kesakitan. Mendengar tangisan itu, Shinhye, Taehee dan Yoochun berlari menghampiri Jiyeon yang sedang memegang lututnya yang lecet.

“Sakit….Hiccksss….hicksss…. “ Ucap Jiyeon di sela-sela tangisannya.

“Tunggu sebentar.” Shinhye berkata langsung pergi.

Setelah Shinhye mengambil tas yang berada di meja tempat mereka piknik, gadis itu langsung menghampiri adiknya. Dengan di bantu oleh sang ibu, Shinhye menggunakan saputangan ayahnya yang sudah dibasahi dengan air untuk membersihkan luka Jiyeon. Sedangkan sang ayah sibuk menenangkan Jiyeon yang masih menangis. Setelah bersih Shinhye mengeluarkan plester yang selalu di bawanya lalu dilekatkannya di lutut Jiyeon yang terluka.

20160702100432

“Sudah selesai, jangan menangis lagi ne? Kau tenang saja kau lihatlah plester bergambar hello kitty, gambar hello kitty ini akan membantu lukamu agar cepat sembuh.” Shinhye tersenyum senang. Jiyeon berhenti menangis dan tersenyum senang melihat plester itu.

Gomawo eonnie.” Jiyeon memeluk kakaknya.

~~~FLASHBACK END~~~

“Apa yang kaupikirkan yeoja mesum?” Perkataan Myungsoo membuat Jiyeon kaget dan tersadar dari lamunannya.

“Sss…Siapa yang kau sebut yeoja mesum eoh?”

“Siapa lagi kalau bukan kau? Bukankah di atap ini hanya kita berdua?” Myungsoo bangkit dari tidurnya dan menarik tangan Jiyeon untuk duduk di sampingnya.

“Aku bukan yeoja mesum. Kau mengerti? Bukankah yang selalu berpikiran mesum itu adalah kau dasar namja mesum.”

Tiba-tiba Myungsoo mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon. Seketika bayangan tentang ciuman kemarin menghinggapi pikiran Jiyeon membuat wajahnya memerah seketika.

“Jangan bilang kau membayangkan ciuman kita kemarin? Tenang saja nona Park kau tak perlu membayangkannya bukankah yang langsung lebih nikmat?”

Mengetahui apa yang akan dilakukan Myungsoo aku segera mendorong bibir lelaki itu dengan bekal yang dibawanya.

“Jangan coba-coba melakukannya tuan Kim atau aku akan memukulmu dengan bekalmu ini.”

Myungsoo hanya tertawa mendengar ancaman kekasihnya namun tawanya tak berlangsung lama saat melihat bekalnya. Tanpa membuang waktu lagi lelaki itu membuka bekal itu lalu memakannya. Jiyeon pun melakukan hal yang sama. Gadis itu melirik ke arah kekasihnya untuk melihat wajahnya, namun lagi-lagi Jiyeon dibuat terkejut saat memperhatikan lebam-lebam yang ada di wajah Myungsoo.

“YA Kim Myungsoo!!! Kau berkelahi lagi? Apa belum cukup kau membuat pelajar lain koma huh? Rasakan ini!!!” Dengan marah Jiyeon meletakkan bekalnya di lantai lalu memukul lelaki itu dengan sumpit yang dipegangnya.

“Aaahhh… Sakit… Aku bisa menjelaskannya. Jadi berhentilah memukulku.” Teriak Myungsoo yang menunduk melindungi kepalanya dari pukulan kekasihnya.

Jiyeon menghentikan pukulannya dan menatap tajam lelaki itu. “Jadi apa yang ingin kaujelaskan huh? Apa kau dihina orang lain?Atau…”

Ani aku hanya menyelamatkan seorang yeoja yang hampir saja diperkosa.” Myungsoo memotong ucapan Jiyeon.

Jiyeon terdiam mendengar alasan Myungsoo, ternyata lelaki kasar ini bisa juga menjadi pahlawan.

“Benarkah?” Meskipun Jiyeon tahu kekasihnya itu tidak pernah berbohong padanya tapi tiba-tiba ide jahil merasuki otak gadis itu.

Ne. Apa kau tidak percaya kekasihmu ini?” Myungsoo kembali meneruskan kegiatan makannya yang terhambat tadi.

“Baguslah kalau sampai aku mendengarmu berkelahi atau melihat lebam-lebam lagi di wajahmu lebih baik aku mencari namja lain yang baik-baik.” Jiyeon memahan senyum geli menebak reaksi namja itu

ANDWAE!!!!! Tak akan kubiarkan kau mencari namja lain.” Teriak Myungsoo dengan kerasnya.

Wae? Aku kan berhak meninggalkanmu dan mencari namja lain.” Jiyeon masih menahan senyum gelinya melihat wajah Myungsoo yang ketakutan.

Andwae….Aku tidak akan melepaskanmu ingat itu Park Jiyeon.”

Senyum geli yang dari tadi Jiyeon tahan sirna saat mendengaar ancaman yang membuatnya merinding.

“Jika kau memang tidak ingin melepasku kau harus berjanji untuk tidak akan berkelahi lagi. Ingat Kim Myungsoo sedikit saja aku tahu kau berkelahi aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu, mengerti?” Ancam Jiyeon kembali.

Ne. Aku janji tidak akan berkelahi lagi.” Ucap Myungsoo dengan wajah keterpaksaan yang justru membuat Jiyeon tersenyum penuh kemenangan karena bisa menaklukan lelaki yang menurut orang-orang sangat berbahaya.

Mereka kembali menikmati makan siang mereka. Jiyeon melirik ke arah plester yang ada di dahi Myungsoo. Rasa penasaran yang besar memenuhi pikirannya.

“Myungsoo-ah, dari mana kau dapat plester itu?” Jiyeon menunjuk plester di dahi Myungsoo.

Lelaki itu menyentuh plester yang diberikan Shinhye. “Oh ini.  Yeoja itu yang memberikannya.”

Yeoja? Yeoja siapa?”

Yeoja yang aku tolong.” Myungsoo melanjutkan makannya.

“Siapa nama Yeoja itu?”

Myungsoo menghentikan makannya dan menatap kekasihnya dengan tatapan jahil. “Apa kau cemburu?”

“Tidak.” Mendengar jawaban santai dari Jiyeon membuat Myungsoo memanyunkan bibirnya.

“Ya!! Jika kau tidak cemburu mengapa kau bertanya sampai sedetail itu? Kalau kau tidak cemburu aku tidak akan memberitahumu.”

“Kalau begitu kau tidak perlu memberitahuku.” Jiyeon membereskan bekalnya. “Aku akan kembali ke kelas.”

Myungsoo melipat tangan di depan dadanya dan memasang wajah kesal melihat kepergian jiyeon.

“Dasar Yeoja itu. Memgapa dia tidak cemburu? Apa dia tidak menyukai aku? Aisshh… Yeoja itu membuatku gila.” Myungsoo mengacak-acak rambutnya frustasi.

~~~TBC~~~

 Mianhae jika updatenya lama. Author baru saja selesai hiatus. jangan lupa komennya ya………….

cute-jiyeon1

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. OLVolv says:

    next donk thor cepetann,, penasaran bangett, udah lama nunggu lajutan ff ini

    1. chunniest says:

      Ok. Author usahakan secepatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s