(Chapter 5) Don’t Cry My Lover

img1475664526555

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(Chapter 5)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris)

Park Junghwa (EXID)

Park Yoochun (JYJ)

Kim Taehee as Park Taehee

Kim Jaejoong

Park Gyuri as Kim Gyuri

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

Previous :

TeaserChapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Myungsoo memandang bekal yang diberikan Shinhye. Dia teringat pembicaraanya dengan Jiyeon.  Akhirnya lelaki itu tahu apa yang membuat gadis itu sedih. Myungsoo tak menyangka Jiyeon menanggung kesedihan seberat itu.

Apakah keputusannya tepat?  Pertanyaan itu memenuhi pikiran Myungsoo.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Myungsoo menatap Jiyeon yang sedang memohon dengan air mata membasahi pipi gadis itu. Melihat Jiyeon seperti itu membuat hati Myungsoo seakan teriris. Myungsoo menghapus air mata Jiyeon dengan jemarinya.

“Baiklah aku akan menuruti keinginanmu. ”

Jiyeon menatap kekasihnya masih Yunhon air mata tergenang di matanya. “Benarkah?”

Myungsoo menganggukan kepalanya. “Tapi aku melakukan ini bukan karena keinginanku melainkan demi kau demi yeoja yang kucintai. Tapi ada satu syaratnya. Meskipun aku menerima Shinhye menjadi kekasihku tapi kau tetaplah kekasihku yang sebenarnya. Kau mengerti?”

“Aku tidak bisa Myungsoo-ah. Bagaimana perasaan eonnie jika tahu kita berpacaran di belakangnya?” Tolak Jiyeon menggelengkan kepalanya.

“Lalu apa kau tidak memperhatikan perasaanku huh? Kaupikir setelah kita berpisah aku akan baik-baik saja tanpamu? Aku tidak mau tahu jika kau ingin aku menuruti permintaanmu kau juga harus memenuhi syarat dariku jika kau tidak mau lebih baik lupakanlah. Pikirkanlah!”

Myungsoo bangkit berdiri meninggalkan Jiyeon. Namun saat lelaki itu mencapai pintu dirasakannya Jiyeon memeluknya dari belakang.

back-hug2-png

“Aku tak perlu memikirkannya. Sudah kukatakan aku akan melakukan apapun agar kau mau menuruti permintaanku bukan? Karena itu aku mau memenuhi syarat yang kau ajukan.”

Myungsoo melepaskan tangan Jiyeon yang memeluk perutnya lalu lelaki itu berbalik untuk membawa kekasihnya ke dalam pelukannya. Jiyeon membalas pelukannya seolah-olah tak inginkekasihnya melepaskannya.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

“Apakah keputusanku ini tepat? ” Gumam Myungsoo.

“Jika tidak mau dimakan biar aku saja yang makan Myungsoo-ah.” Ucap seseorang menepuk bahu Myungsoo.

Myungsoo mendapati Jongin yang berdiri sambil menatap bekal makanan dihadapan sahabatnya itu.

Andwae ini diberikan untukku bukan untukmu, lagipula bukankah banyak yeoja yang mendekatimu apa mereka tidak pernah membuatkanmu bekal?”

Ani.” Jongin mengerucutkan bibirnya kesal.

“Kau kan bisa minta pada salah satu yeojamu itu. Sudahlah aku mau makan.” Myungsoo membuka bekal itu dan tiba-tiba tawa Jongin langsung pecah saat melihat bekal itu.

“Omo Myungsoo-ah wajahmu jelek sekali, benar-benar mirip aslinya.” Ejek Jongin di sela tawanya.

“YA!!! Kau mau menikmati pukulanku huh?” Myungsoo berdiri bersiap memukul Jongin namun sepertinya dia harus mengurungkannya karena sahabatnya itu sudah melarikan diri.

Myungsoo kembali duduk memandang bekal yang bentuknya sangat aneh. Karena perutnya sudah lapar mau tak mau dia memakannya. Diambil sumpit di atas bekal itu lalu memasukkan kimchi ke dalam mulutnya. Lidahnya seakan tersengat listrik saat merasakan makanan itu sama seperti buatan Jiyeon.

Apa sebegitu inginnya yeoja itu menjadikanku kekasih eonnienya sampai-sampai dia membantu eonnienya membuat bekal untukku. Pikir Myungsoo.

“Aku berjanji tidak akan membiarkan air matamu keluar dari matamu yang indah Jiyeon-ah, apapun akan kulakukan untuk bisa membuat air mata itu berubah dengan senyuman manis yang kaumiliki. Aku berjanji!!” Tekad Myungsoo.

 

*    *    *    *    *

 

Saat ini Jiyeon terlihat seperti zombie sedang berjalan dengan tatapan kosong. Merelakan kekasihnya untuk orang lain bahkan itu untuk kakaknya sendiri rasanya sangat berat karena dia sudah terlanjur mencintai lelaki yang mengisi hari-harinya dengan senyuman.

“Jiyeon-ah.” Panggil seseorang dari arah belakang.

Jiyeon berbalik mencari asal suara. Ternyata pemilik suara itu adalah Shinhye. Dia berjalan menghampiri gadis itu dengan senyum cerianya. Jiyeontersenyum senang akhirnya bisa melihat senyuman lebar Shinhye yang sempat hilang.

“Ada apa eonnie?” Tanya Jiyeon saat jarak mereka sudah dekat.

“Bagaimana kalau kita minum dulu di caffe? Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.” Ajak Shinhye semangat.

“Baiklah eonnie.”

Shinhye langsung menarik adiknya menuju mobil jemputannya. Setelah memberitahukan tujuan mereka pada sang sopir, mobil itu pun akhirnya melaju membawa kakak beradik menuju sebuah caffe yang tak jauh dari sekolah mereka. Di mobil Shinhye tak berhenti tersenyum sambil memeluk lengan adiknya manja.

“Kau terlihat bahagia sekali eonnie. Jadi apa yang membuat eonnie sangat bahagia seperti ini?” Sebenarnya tak perlu bertanya pun Jiyeon sudah tahu apa yang ingin Shinhye ceritakan.

“Tunggu kita sampai di caffe dulu baru akan kuceritakan.” Jawab Shinhye.

Tampak Shinhye menggunakan matanya untuk melirik sopir yang ada di depan. Saat Jiyeon mengikuti pandangan kakaknya dia melihat sopir itu tidak hanya sedang sibuk menyetir tapi sepertinya sopir itu menajamkan telinganya untuk mendengar pembicaraan kakak beradik itu. Akhirnya Jiyeon mengerti mengapa Shinhye mengajaknya ke caffe, agar sopir itu tidak mendengar pembicaraan mereka lalu menceritakannya pada ibunya.

Tak lama kemudian mobil itu sudah terparkir di depan sebuah caffe bernuansa klasik. Jiyeon membantu kakaknya untuk keluar lalu mereka berjalan masuk. Memasuki caffe itu mereka melihat tidak terlalu banyak pengunjung yang berada di tempat itu. Kakak beradik itu berjalan menuju tempat pemesanan. Seperti yang dulu sering mereka lakukan saat sedang berkunjung di caffe kedua gadis itu pasti memesan minuman yang sama yaitu ‘Mocchachino’. Setelah membayar pesanan Jiyeon membawa pesanan mereka menuju tempat duduk kosong yang ada di pojok ruangan.

“Jadi sekarang bisakah eonnie bercerita apa yang membuat eonnie bahagia?” Tanya Jiyeon saat duduk di hadapan kakaknya.

Namja itu menerima bekal yang kubuat Jiyeon-ah. Awalnya dia menolaknya tapi setelah istirahat kedua dia mencariku dan meminta bekal yang kubuat. Bukankah ini suatu perkembangan namja itu mau menerima bekal buatanku?” Cerita Shinhye penuh semangat.

Meskipun Jiyeon merasa senang bisa melihat senyum ceria kakaknya yang sempat hilang namun tetap saja ada rasa sakit yang menyerang hatinya.

“Benarkah? Baguslah eonnie. Lalu apa rencana eonnie selanjutnya?” Tanya Jiyeon sambil menyesap minumannya.

“Entahlah. Aku ingin mengungkapkan perasaanku tapi apakah menurutmu itu terlalu cepat?” Tanya Shinhye meminta pendapat adiknya.

“Hmmm….Aniyo eonnie. Bukankah eonnie sudah memberikan tanda-tanda jika eonnie menyukainya jadi namja itu tidak akan terkejut dengan perasaan suka eonnie.” Hati Jiyeon seperti tersayat pisau rasanya perih sekali harus membantu kakaknya untuk mendapatkan kekasihnya sendiri.

“Kau benar, dia pasti sudah tahu apa yang kurasakan. Lalu menurutmu aku harus membawa apa untuk diberikan padanya?”

Apa aku harus membantunya sejauh ini? Apa kau tidak tahu ini berat untukku eonnie? Aniyo Jiyeon-ah,  bukankah ini keinginanmu sendiri bahkan kau sampai bersujud agar Myungsoo mengabulkan permintaanmu. Ucap Jiyeon dalam hati.

Eonnie tak perlu membawa apapun cukup membawa perasaan eonnie saja.” Jiyeon menunduk memandangi minumannya takut jika kakaknya melihat air mata yang terancam keluar.

“Kau benar. Gomawo Jiyeon-ah.” Shinhye menggenggam tangan adiknya.

“SHINHYE-AH!!!” Panggil seseorang membuat mereka berdua menoleh ke arah pintu.

Tubuh Jiyeon membeku melihat ibunya berdiri di depan pintu dengan wajah memerah menahan amarahnya. Genggaman tangan Shinhye semakin erat seiring Taehee yang berjalan menuju meja mereka.

“Apa yang kaulakukan di sini? Ayo kita pulang.” Taehee menarik tangan Shinhye dengan kasarnya membuat genggaman tangan kakak beradik itu terlepas.

Taehee menarik Shinhye keluar, sedangkan Jiyeon semasih mematung di tempat duduknya. Sekilas dia melihat tatapan kebencian keluar dari mata ibunya. Tanpa bisa dibendung lagi air mata Jiyeon akhirnya keluar. Meski air matanya keluar dengan derasnya namun gadis itu menahan diri agar tak bersuara. Tak mau menjadi bahan tontonan, gadis itu segera beranjak meninggalkan tempat itu. Dia memutuskan berjalan kaki pulang kerumah untuk meredakan sakit di hatinya.

Ponselnya berdering dan dengan malasnya gadis itu meraih ponselnya di dalam tas. Jiyeon mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dilihatnya sebuah pesan masuk dari Shinhye.

 

From : Shinhye eonnie

       Mianhae ternyata sopir kurang ajar itu memberitahu eomma jika aku pergi denganmu. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba eomma marah aku pergi bersamamu. Jeongmal mianhae. Sampai ketemu besok dongsaengku.

 

Eomma marah karena dia tidak ingin terjadi hal buruk dengan eonnie jika eonnie pergi denganku. Apakah eomma tidak bisa memaafkanku setelah sekian lama? Aku… Aku sangat merindukan eomma yang dulu.” Sedih Jiyeon.

tumblr_mo60temlga1rudls9o1_r3_500

 

*    *    *    *    *

 

Suara sepatu hak tinggi Gyuri beradu di atas lantai rumahnya.  jas putih dokternya tergantung dilengannya yag membawa tas. Langkahnya yang terburu-buru harus terhenti saat kepala pelayan menghadangnya.

“Ada apa Lee ahjushi?” Tanya Gyuri bingung.

“Ada yang aneh dengan tuan muda, nyonya.”

“Putraku satu-satunya itu memang aneh ahjushi.  Dan kau tahu itu.”

“Tapi ini berbeda nyonya. Anda harus melihatnya sendiri.” Kepala pelayan itu mempersilahkan Gyuri mengikutinya ke ruang makan.

Di ruang makan tampak Myungsoo duduk di meja makan seraya memainkan makanan di hadapannya.

“Sudah satu jam tuan muda seperti itu nyonya. Saya sangat mengkhawatirkannya.”

Gamsahamnida ahjushi kau sudah mengkhawatirkan anak nakal itu.  Aku akan berbicara dengannya. ”

Ne.  Saya permisi dulu nyonya.” Kepala pelayan itu meninggalkan ruang makan itu.

Gyuri berjalan menghampiri putranya.  Suara ketukan hak sepatu Gyuri tak kunjung menyadarkan putranya itu dari lamunannya.  Bahkan saat Gyuri menarik kursi di samping putranya itu.

“Myungsoo-ah.” Panggil Gyuri namun Myungsoo masih asik dengan lamunannya.

Gyuri menepuk bahu putranya dan akhirnya Myungsoo tersadar dan menoleh.

Eo-eomma kapan pulang?” Kaget Myungsoo.

“Baru saja. Apa kau tidak mendengarnya?” Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya. “Apa kau sadar kau sudah satu jam duduk di sini Myungsoo-ah?”

“Satu jam?  Benarkah selama itu?”

Gyuri menganggukkan kepalanya. “Jadi apa yang sedang kau pikirkan?  Sampai-sampai kau tidak sadar waktu sudah berlalu cepat.”

Myungsoo menatap ibunya yang tengah mengkhawatirkannya. Gyuri memang selalu disibukkan dengan pekerjaannya namun meskipun pekerjaannya sebagai dokter itu penting namun bagi wanita itu putra satu-satunyalah yang paling penting. Karena itu senakal-nakalnya Myungsoo,  Gyuri akan selalu memaafkannya dan tetap menyayanginya. Karena itulah Myungsoo tak dapat membayangkan bagaimana dirinya sendiri dalam posisi kekasihnya.

Eomma.  Apakah eomma pernah membenciku dan menyesal mempunyai putra seperti itu? ”

Gyuri memicingkan matanya mendengar pertanyaan putranya itu. “Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”

“Jawab saja eomma.” Rengek Myungsoo.

“Saat hendak melahirkan kamu,  eomma harus berjuang keras.  Saat itu eomma mengalami pendarahan yang hebat sehingga eomma harus melakukan transfusi darah sebanyak 4 kantong. Belum lagi tubuhmu yang terlilit tali pusar sehingga sulit keluar.  Namun setelah berjuang mempertaruhkan nyawa,  eomma bahagia bisa mendengar suara tangismu yang sangat kencang. Apa menurutmu setelah eomma bersusah payah melahirkanmu eomma akan membencimu?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya lagi. Gyuri menyentuh pipi putranya dan menatapnya penuh sayang. “Sebesar apapun kesalahanmu eomma tidak akan pernah membencimu.”

Myungsoo tersenyum senang mendengar ucapan ibunya.  Tapi senyum itu menghilang mengingat masalah yang di hadapi Jiyeon.

Jika saja eomma Jiyeon seperti eommaku. Pikir Myungsoo.

“Aku akan kembali ke kamarku eomma.” Myungsoo mengecup pipi ibunya sebelum beranjak pergi.

Gyuri hanya bisa menatap putranya dan menghela nafas melihat tingkah putranya yang tidak biasa.

Di tempat lain Jiyeon juga bersikap sama seperti Myungsoo.  Biasanya gadis itu akan semangat menonton acara kuis di televisi bersama neneknya. Tapi kali ini dia hanya duduk diam di depan jendela.  Dia menempelkan dahinya di kaca bening itu dan matanya terlihat kosong.

Moonhee yang berdiri di depan pintu hanya menghela nafas melihat Jiyeon seperti itu.  Bahkan baru beberapa hari wanita itu bisa melihat cucunya bahagia dan sekarang gadis itu kembali bersedih. Moonhee menghampiri Jiyeon dan semakin dekat wanita itu bisa melihat wajah pucat cucunya.

“Jiyeon-ah… ” Panggil Moonhee lembut namun Jiyeon tak bereaksi sedikitpun.

Moonhee kembali memanggil cucunya itu dan memegang bahu gadis itu.  Jiyeon yang tersadar dari lamunannya langsung menoleh dan segera menghapus air mata yang sedari tadi di bendungnya.  Moonhee ikut bersedih melihat cucunya seperti itu.  Dia duduk di hadapan Jiyeon lalu meraih tangan Jiyeon.

“Apakah terjadi hal buruk di sekolah?”

Jiyeon memaksakan senyumannya lalu menggeleng. “Tidak halmeoni.  Mengapa halmeoni bertanya seperti itu?”

“Kau terlihat sangat sedih.  Kau bahkan menangis.” Moonhee mengelap sisa air mata yang menempel di pipi Jiyeon.

Jiyeon meraih tangan neneknya.  “Aku tidak apa-apa halmeoni.  Aku hanya merindukan appa dan eomma.”

Moonhee terlihat tidak yakin namun Jiyeon mengangguk meyakinkan neneknya.  Akhirnya Moonhee hanya bisa menghela nafas mempercayai cucunya itu.

“Jangan terus-terusan bersedih.  Halmeoni tidak ingin kau bersedih lagi.”

Ne halmeoni.”

“Baiklah.  Cepatlah tidur besok kau harus pergi ke sekolah.”

Jiyeon mengangguk lalu melihat sang nenek berjalan keluar kamarnya. Seketika wajah gadis itu kembali bersedih.

Mianhae halmeoni,  aku sudah berbohong pada halmeoni. Aku tidak ingin halmeoni terlalu cemas.” Sedih Jiyeon. Tiba-tiba kembali menatap keluar jendela dan sibuk kembali dengan pikirannya.

 

*    *    *    *    *

 

Di taman belakang sekolah tampak Myungsoo dan Shinhye sedang berdiri dengan wajah seriusnya. Angin berhembus membuat rambut Shinhye yang sebahu tertiup. Myungsoo menatap Shinhye yang sedang membenarkan rambutnya.

Jika diperhatikan wajah Shinhye dan Jiyeon memiliki kesamaan. Hal itu membuat Myungsoo percaya jika Shinhye memang kakak Jiyeon. Tatapannya beralih ke kaki Shinhye.  Kaki jenjang nan Indah itu sangat di sayangkan tidak bisa lagi berfungsi seperti biasa. Myungsoo ingat Jiyeon mengatakan jika kakaknya dulu adalah penari balet. Jadi dengan kaki itu lah Shinhye menari balet.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Myungsoo berusaha bersikap lebih baik.

“Myungsoo-ssi apa kau ingat saat kau pertama kali menolong aku yang hampir saja terjatuh? ” Myungsoo hanya bergumam ya sebagai jawabannya. “Sejak saat itu kau sudah menarik perhatianku. Semakin lama memperhatikanmu aku jadi semakin sadar jika aku menyukaimu.”

Ekspresi wajah Myungsoo tak berubah sama sekali membuat Shinhye jadi canggung.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

“Jika kau memiliki perasaan yang sama denganku maukah kau menjadikanku kekasihmu?”

Seketika Myungsoo langsung teringat ucapan Jiyeon kemarin.

 

Aku mohon Myungsoo-ah. Maukah kau menuruti permintaanku untuk menjadi kekasih Shinhye eonnie? Aku akan melakukan apapun jadi aku mohon Myungsoo-ah.

 

Myungsoo menatap wajah Shinhye penuh harap.  Dia sudah berjanji pada Jiyeon untuk menuruti keingin kekasihnya itu dan Kim Myungsoo tak pernah mengingkari ucapannya.

“Baiklah aku mau menjadi kekasihmu.”

Shinhye menatap Myungsoo tak percaya.  Dia berpikir Myungsoo akan menolaknya karena seingat gadis itu sikap Myungsoo padanya terbilang jauh dari kata baik. Dan sekarang saat dia menyatakan perasaannya lelaki itu menerimanya.

“Benarkah? Aku tidak salah dengar bukan? ”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak.  Kau memang mendengar aku mau menjadi kekasihmu.”

Bibir Shinhye tertarik ke atas membentuk senyuman bahagia. “Jadi sekarang kita adalah sepasang kekasih?”

Myungsoo mengangguk seraya memaksakan senyuman berusaha meyakinkan aktingnya.

Gomawo, Oppa.” Shinhye memeluk Myungsoo.

Meskipun terkejut namun Myungsoo tetap diam saja tak mengeluarkan ekspresi apapun di wajahnya. Dia mengatakan pada dirinya sendiri jika yang dilakukannya ini adalah untuk kekasihnya.

“Oh ya aku membuat ini untukmu Oppa.” Shinhye menyerahkan saputangan biru dengan sulaman gambar burung berwarna silver.

Myungsoo mengambil saputangan itu membuat Shinhye tersenyum senang.

 

*    *    *    *    *

 

Tanpa semangat Jiyeon melangkahkan kaki menuju kelasnya. Tak ada secercah kebahagiaan yang hinggap di wajah manisnya. Gadis itu tampak murung dengan berbagai masalah yang memenuhi pikirannya.

“Jiyeon-ah.” Panggilan yang amat familiar itu menyadarkan gadis itu.

Shinhye berusaha berjalan cepat menghampirinya dengan di bantu kruknya.  Jiyeon memaksakan senyuman menyambut kakaknya itu.

“Ada apa eonnie?” Tanya Jiyeon tanpa semangat.

“Dia menerimaku Jiyeon-ah.” Jawab Shinhye yang tak mampu menyembunyikan rasa senangnya.

“Menerimamu? Apa maksudmu eonnie?”

“Dia menerimaku sebagai kekasihnya. Ahh…  Aku sangat…  Sangat… Sangat bahagia Jiyeon-ah.” Shinhye menggerak-gerakkan tangannya menunjukkan seberapa besar bahagianya.

Tubuh Jiyeon mematung mendengar ucapan Shinhye. Meskipun ini memang keinginannya untuk membahagiakan kakaknya namun tetap saja hatinya merasa berat menyerahkan kekasih yang dicintainya untuk menerima cinta gadis lain bahkan gadis itu adalah kakaknya sendiri.

“Oh ya aku pernah bilang akan memberitahumu siapa namja itu setelah aku resmi menjadi kekasihnya bukan? Namja itu adalah Myungsoo Oppa, Kim Myungsoo.”

Hati Jiyeon membatu mendengar panggilan sayang kakaknya pada pujaan hatinya. Bahkan Jiyeon yang sudah terlebih dulu menjadi kekasih Myungsoo saja belum pernah memanggil ‘Oppa’ pada lelaki itu.

“Jiyeon-ah.. Jiyeon-ah. Kau mendengarku tidak?” Panggil Shinhye membuyarkan lamunan adiknya.

“Aku ke toilet dulu eonnie.” Jiyeon segera pergi tanpa berani memandang kakaknya karena gadis itu takut jika kakaknya melihat air mata yang sudah berada di pelupuk matanya.

Jiyeon berlari menuju atap sekolah dengan terburu-buru, bahkan banyak sekali orang yang memarahi gadis itu karena sudah seenaknya menabrak orang lain. Sesampainya di atap tangis Jiyeon langsung pecah, bahkan gadis itu tak mampu lagi menahan berat tubuhnya sehingga gadis itu harus terjatuh di lantai.

“HHHHHHUUUUAAAAAAAA………………….” Teriak Jiyeon mengeluarkan tekanan yang membebani hati dan pikirannya.

Setelah puas mengeluarkan teriakan frustasinya, perlahan Jiyeon menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri air mata. Tiba-tiba sepasang tangan memegang lembut kedua bahu Jiyeon membuat gadis itu menoleh. Saat mendongak dilihatnya lelaki yang selalu mengisi hari-harinya itu berlutut di hadapannya.

“Tidak bisakah air mata ini berhenti keluar? Apa kau tahu hatiku terasa sesak melihat air mata ini mengalir di wajahmu.” Ucap Myungsoo mengusap pipi Jiyeon menghapus air matanya.

Tanpa bisa ditahan lagi Jiyeon langsung meloncat kepelukan Myungsoo sampai membuat lelaki itu nyaris terjatuh karena tindakan kekasihnya yang tiba-tiba.

Mianhae, meski ini semua permintaanku tapi tetap saja hatiku tidak bisa merelakannya. Mungkin aku perlu waktu untuk membiasakan diri melihatmu menjadi milik orang lain.” Ucap Jiyeon dalam pelukan Myungsoo.

Dengan lembut Myungsoo mengelus rambut Jiyeon menyalurkan rasa sayangnya untuk menenangkan gadis yang dicintainya.

“Aku tahu kau melakukan semua ini untuk mengembalikan senyum eonniemu tapi aku akan berjanji untuk mengembalikan senyummu Jiyeon-ah. Aku tidak akan membiarkan air mata ini kembali keluar aku berjanji.” Ucap Myungsoo.

Sepasang kekasih itu hanya berpelukan sambil terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah merasakan kekasihnya lebih tenang, Myungsoo melepaskan pelukannya. Dikeluarkannya saputangan pemberian Shinhye dan diusapkan saputangan itu di pipi Jiyeon, menghapus jejak air mata yang mengalir deras dari matanya.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Myungsoo.

Ne.  Gomawo.”

“Jika kau ingin aku berhenti menjadi kekasih eonniemu aku akan…”

“Tidak.  Aku tidak ingin kau memutuskan Shinhye eonnie.  Seperti yang kukatakan tadi.  Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri.” Potong Jiyeon.

Myungsoo menghela nafas berat. “Baiklah jika itu keinginanmu.” Ucap Myungsoo merapikan rambut Jiyeon.

Jiyeon menatap wajah kekasihnya yang berjarak dekat itu. Ucapan lelaki itu memang ada benarnya jika wajahnya memang sangat tampan.

“Myungsoo-ah.”

Myungsoo berdeham sebagai jawaban panggilan Jiyeon.

“Bisakah kau menciumku?”

Lelaki itu itu tampak kaget mendengar permintaan Jiyeon. Biasanya gadis itu akan memukul kepalanya jika membahas tentang ciuman.

“Mengapa tiba-tiba kau meminta hal itu?”

“Aku… Aku hanya ingin memberi tanda jika bibir itu milikku.” Jiyeon menunduk malu saat mengatakan hal itu.

Seketika tawa Myungsoo pecah mendengar ucapan kekasihnya itu. Dia tawa itu tak mampu berhenti hingga membuat perut lelaki itu terasa sakit.

“YA!!! Kenapa kau malah tertawa? Aku sedang serius.”

Myungsoo berusaha menahan tawanya dan masuk dalam zona serius. Tidak disangka ternyata kekasihnya yang selama ini cuek-cuek saja bisa bersikap posesif seperti ini. Lelaki itu mendekati wajah Jiyeon dan mengecup bibir keksihnya sekilas.

“Kau tidak perlu khawatir, tidak akan ada gadis lain yang bisa menyentuh bibir manisku ini. Karena bibir manisku ini hanya milik Park Jiyeon.”

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu. Tak lama bel masuk berbunyi membuat pasangan kekasih itu menghela nafas berat karena harus berpisah.

“Sebaiknya kita turun, Kau tidak ingin membolos kan?” Jiyeon mengangguk menjawab pertanyaan Myungsoo.

Myungsoo menarik Jiyeon berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Tepat di depan pintu tiba-tiba  Myungsoo menghentikan langkahnya membuat Jiyeon yang sedang menunduk menabrak punggung lelaki itu.

“YA!!! Kenapa berhenti tiba-tiba sih?” Tanya Jiyeon kesal.

Myungsoo membalikkan badannya dan langsung menarik tubuh Jiyeon kembali ke dalam pelukannya.

“Berjanjilah kau hanya akan menangis di hadapanku saja. Berjanjilah kau tidak akan menangis di hadapan orang lain, hanya aku saja yang boleh melihatmu menangis karena hanya aku yang boleh menghiburmu bukan orang lain, kau mengerti?” Pinta Myungsoo.

“YA!!! Kau ini kekanak-kanakan sekali.” Jiyeon tidak menanggapi permintaan Myungsoo yang serius.

Myungsoo melepaskan pelukannya dan menatap tajam gadis itu seolah-olah mengatakan jika apa yang diucapkankannya serius.

Ne aku berjanji.” Ucap Jiyeon menyerah dengan tatapan tajam Myungsoo.

Myungsoo tersenyum sebelum meninggalkan kekasihnya.

 

*    *    *    *    *

 

Myungsoo menatap keluar jendela melihat orang-orang berlalu lalang di pinggir jalan. Pemandangan itu seakan lebih menarik dibandingkan mendengar cerita Shinhye yang tak berhenti memanggilnya ‘Oppa’.

Tatapan Myungsoo beralih pada toko perhiasan yang ada di seberang jalan. Meskipun jaraknya jauh namun lelaki itu bisa melihat sebuah kalung yang sudah menarik perhatiannya. Kalung dengan bandul kupu-kupu dengan bagian atas yang berkilauan terlihat sangat cantik. Dia berpikir kalung itu akan terlihat cantik jika berada di leher Jiyeon.

kalung-single-wanita-gs040-kalung-single-kupu-kupu

Oppa kau mendengarku tidak?” Shinhye bergelayut manja di lengan Myungsoo.

Ne aku mendengarmu.” Bohong Myungsoo seraya memaksakan senyumannya. “Bukankah itu sopirmu?”

Ne. Tapi aku tidak ingin pulang. Bisakah kita di sini sebentar lagi saja?”

“Sayang sekali aku ada urusan lain. Tapi jika kau ingin di sini aku tidak akan memaksamu.”

Shinhye menarik lengan Myungsoo yang hendak pergi. Wajah gadis itu tampak sedih membuat Myungsoo terpaksa duduk kembali.

“Apakah Oppa malu pergi berkencan dengan seorang gadis yang lumpuh?” Sedih Shinhye.

Aniyo. Mengapa kau berpikir seperti itu?”

“Aku tahu Oppa berbohong jika mendengar ceritaku. Padahal sejak tadi aku hanya diam dan melihat Oppa melamun. Jadi kupikir Oppa tidak suka jika berkencan denganku.”

Myungsoo memperbaiki tempat duduknya menghadap Shinhye. “Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Mianhae, aku hanya sedang banyak pikiran jadi terlalu banyak melamun.”

“Banyak pikiran? Apa Oppa ada masalah?”

Ne. Tapi aku belum bisa menceritakannya padamu. Suatu saat aku pasti akan bercerita.”

Shinhye menganggukkan kepala memahami lelaki yang dianggapnya kekasih itu. “Baiklah, kalau begitu pulang dulu. Sampai jumpa besok Oppa.”

Shinhye melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi.  Setelah mobil yang membawa Shinhye pergi, Myungsoo langsung berlari keluar menuju toko perhiasan di depan restoran. Dia memiliki rencana untuk kekasih yang sebenarnya.

 

*    *    *    *    *

 

Karena mendapatkan penghiburan dari kekasihnya kemarin membuat suasana hati Jiyeon tidak buruk lagi. Dengan senang gadis itu berjalan menuju kelas. Dia melihat saputangan Myungsoo yang sudah dicuci, entah mengapa Jiyeon jadi ingat pertama kali bertemu dengannya. Lelaki itu juga memberikan saputangannya padanya. Digenggam saputangan itu dengan kedua tangannya seakan menyalurkan rasa senangnya pada sapu tangan itu.

“Jiyeon-ah.” Panggil Shinhye menghentikan langkah adiknya.

“Halo eonnie, ada apa? Kenapa memanggilku?” Tanya Jiyeon.

“Nanti sepulang sekolah apa kau ada acara?” Tanya Shinhye penuh semangat.

“Acara? Memang kenapa eonnie menanyakan itu?”

“Aku ingin memperkenalkanmu pada Myungsoo Oppa.” Ucapan Shinhye membuat Jiyeon tanpa sadar menjatuhkan saputangan yang dipegangnya.

“Saputanganmu jatuh Jiyeon-ah.” Shinhye hendak mengambil saputangan itu namun tangannya terhalang oleh kruk yang ada di tangan kanannya.

Jiyeon segera mengambil saputangan yang terjatuh itu, lalu dia memandang Shinhye kembali. Namun kali ini entah hanya perasaan Jiyeon atau apa,  dia merasa wajah Shinhye sedikit memucat.

Eonnie, kau tidak apa-apa? Kenapa wajahmu tampak sedikit pucat?” Tanya Jiyeon.

“Ee..Aa..Aku tidak apa-apa. Jiyeon-ah darimana kau dapat saputangan itu?” Pertanyaan Shinhye seperti petir yang menyambar tubuh Jiyeon.

Apa Shinhye eonnie juga tahu jika ini adalah saputangan Myungsoo? Bagaimana jika eonnie tahu dan curiga? Panik Jiyeon dalam hati.

“Da… dari temanku eonnie. Ada apa?”

Ani. Aku hanya merasa saputangan ini unik. Jadi bagaimana apa sepulang sekolah kau ada acara?”

Mianhae eonnie aku sudah ada janji dengan Junghwa untuk menemaninya membeli buku, mungkin lain kali saja.” Bohong Jiyeon.

Mianhae eonnie tapi aku belum siap melihatmu memperkenalkan namja yang kucintai dengan status kekasihmu. Batin Jiyeon.

Tampak raut wajah kecewa menghinggapi wajah cantik Shinhye.

“Baiklah, kalau begitu lain kali saja. Aku kembali ke kelasku dulu.” Pamit Shinhye meninggalkan Jiyeon.

 

*    *    *    *    *

 

“Kenapa saputangan yang kuberikan pada Myungsoo Oppa bisa berada di tangan Jiyeon? Aku tidak mungkin salah mengenali saputangan dengan sulaman burung di salah satu sudut saputangan itu. Apa Jiyeon memiliki hubungan dengan Myungsoo Oppa? Kulihat Jiyeon selalu terdiam saat aku menceritakan Myungsoo Oppa. Apa jangan-jangan Jiyeon juga menyukai Myungsoo Oppa?”

Saat bel istirahat Shinhye segera keluar kelas hendak mencari udara segar, namun saat diluar kelas matanya menangkap seorang lelaki yang sudah sangat dikenalnya. Shinhye memicingkan matanya untuk memperjelas apa yang dilihatnya. Senyum Shinhye mengembang melihat kekasihnya.

“Myungsoo Oppa.” Panggil Shinhye.

Senyumnya menghilang melihat Myungsoo tak mendengar panggilannya. Lelaki itu justru berlari terburu-buru melewati tangga menuju atap.

“Kenapa dia berjalan terburu-buru? Apa terjadi hal buruk?” Gumam Shinhye.

Karena penasaran Shinhye berjalan mengikutinya, meskipun jarak Myungsoo sudah jauh namun dia tak menyerah. Langkahnya terhenti tepat di anak tangga paling dasar yang menghubungkan lantai ini dengan atap. Dengan penuh tekad Shinhye berusaha sekuat tenaga menaikki tangga itu perlahan-lahan. Tak dipedulikan kakinya yang terasa sakit karen dia terlalu memaksakan kakinya. Sebelum mencapai ujung tangga nafas Shinhye tercekat mendengar suara Jiyeon dari atap. Shinhye semakin mempercepat langkanya menaikki tangga.

 

*    *    *    *    *

 

“Myungsoo Oppa…Oppa…” Jiyeon menghela nafas berat.

Sejak tadi gadis seperti orang gila belajar memanggil kekasihnya dengan panggilan ‘Oppa‘. Bagi Jiyeon sangat aneh memanggil kekasihnya itu sebutan ‘Oppa ’.

“Aiiggooo…kenapa sulit sekali sih memanggilnya ‘Oppa’? Kenapa aku selalu merasa aneh sendiri mendengar aku memanggilnya ‘Oppa ’? Kenapa Shinhye eonnie bisa semudah itu memanggilnya ‘Myungsoo Oppa ’? Menurutku namja itu lebih cocok dipanggil ‘namja bodoh’.” Kesal Jiyeon.

“Apa kau sedang cemburu chagi?” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan gadis itu.

Jiyeon menatap lelaki yangsedang dibicarakannya sudah berdiri di depan pintu atap sekolah.

“YA!!! Kau mau membuatku jantungan apa?” Kesal Jiyeon mengelus dadanya kaget.

“Aku rasa sekarang aku lebih suka panggilan ‘Myungsoo bodoh’ daripada panggilan ‘Myungsoo Oppa ’.” Ucap Myungsoo tanpa menghiraukan kekesalan gadisnya.

Tanpa disadari lelaki itu hati Jiyeon sedang berbunga-bunga mendengar ucapannya karena itu berarti Myungsoo lebih menyukai panggilannya daripada panggilan kakaknya. Mengingat Shinhye membuat rasa bersalah kembali mengisi hati Jiyeon. Tanpa disadari raut waah gadis itu berubah sedih.

“YA!! Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba wajahmu berubah sedih seperti itu?” Tanya Myungsoo mendekatinya.

Jiyeon segera mengerjapkan matanya untuk menghilangkan air mata yang hendak keluar. Dia tidak ingin Myungsoo melihat kerapuhannya lagi.

“Aku harus kembali ke kelas.” Jiyeon bangkit berdiri hendak meninggalkan lelaki itu.

Namun tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya untuk menahannya pergi. Tahan itu mnarik tubuh gadis itu kedalam pelukan lelaki itu.

“Bukankah kau sudah berjanji hanya akan menangis di hadapanku saja?” Tanya Myungsoo.

“Aku…  Aku tidak menangis.”Jiyeon kembali mengerjapkan mata menahan air matanya.

“Pembohong. Kau tidak bisa membohongiku Jiyeon-ah.  Menangislah.” Ucap Myungsoo lembut.

“Tt..tapi bukankah kau pernah bilang menangis tidak akan bisa menyelesaikan masalah?” Jiyeon mengingat ucapan Myungsoo saat pertama kali bertemu dengannya.

Ne, tapi terkadang menangis diperlukan untuk membuat hatimu merasa lebih baik. Jadi menangislah biar hatimu terasa lebih baik.” Myungsoo membelai lembut rambut Jiyeon.

Tanpa bisa ditahan lagi air mata keluar membasahi kedua pipi gadis itu. Pelukan  hangat dan belaian lembut Myungsoo membuat Jiyeon semakin tidak tahan lagi untuk menangis. Jiyeon merasakan tangan Myungsoo bergerak di leher belakangnya.

“Apa yang kau….” Ucapan Jiyeon terhenti saat melihat sebuah kalung melingkar di lehernya. Bandul kupu-kupu itu tampak semakin berkilauan di bawah sinar matahari.

“Sesuai dugaanku kalung ini sangat cocok di lehermu.”

Jiyeon memegang bandul kupu-kupu itu dan tersenyum lebar pada kekasihnya. “Gomawo Myungsoo-ah. Aku sangat senang.”

Tangan Myungsoo terulur menyentuh pipi Jiyeon dan ikut tersenyum. “Bukankah aku sudah berjanji mengembalikan senyumanmu.”

Jiyeon menatap kekasihnya dan merasa beruntung memiliki kekasih yang perhatian seperti Myungsoo. Lelaki itu selalu bisa membuat Jiyeon tersenyum.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Suara seorang gadis membuat moment sepasang kekasih buyar.

Mata mereka beralih menuju pintu atap. Nafas Jiyeon tercekat ketika melihat Shinhye berdiri dengan mata yang memancarkan kemarahan.

“Shi… Shinhye eonnie?” Panggil Jiyeon tergagap.

 

~~~TBC~~~

Annyeong readersdeul yang selalu setia menanti FF ini. Maaf sedikit lama ya…

Hadeuh ini ceritanya semakin rumit dan menyedihkan jadi maaf jika ada readersdeul yang menangis. Sebagai obat untuk menangisnya ini ada foto Shinhye eonnie. Mohon jangan membenci Shinhye eonnie karena author hanya meminjam namanya. Anggap saja dia sedang berperan seperti itu ok….

tumblr_mn7ekvmcya1spn4r4o1_500

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. huhuhu , q terharu bahkan sebelum membaca , skhirnya update jg . q kira bakal berchapter-chapter nyampe sinhye tau hubungan adiknya ma myungsoo , ternyata langsung ketauan dalam 1 chapter . ditunggu kelanjutannya y ka , fighting !

  2. chunniest says:

    Karena author tahu readers ga bakal suka terlalu lama bercerita tentang myungsoo n shinhye karena terlalu menyakiti Jiyeon. Jadi author langsungin ja. Makasih ya papipunuyuiel. Ni namanya susah sekali panggilnya pa ya?

  3. huwaaaa… ketauan deh… duh, makin ruwet nih masalah jiyeon… dah nyesek2 liat jiyeon digtuin eommanya,, trus harus ngrela’in kekasihnya untuk eonni-nya.. eh blm apa2 dah ketahuan… melase uri jiyeonii… ditunggu eonn next chap… update soon ya eonn.. gomawo…
    entah masuk tah ga nih koment
    #komentkugapernahmasuk

    1. chunniest says:

      Oh ini km komen d blogq chingu…. Kok ga pernah masuk knp?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s