(Chapter 6) Don’t Cry My Lover

dontcrymylover

Art by Deypratiwi @ Indofanfictionart

^

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(Chapter 6)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris)

Park Junghwa (EXID)

Park Yoochun (JYJ)

Kim Taehee as Park Taehee

Kim Jaejoong

Park Gyuri as Kim Gyuri

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

Previous :

TeaserChapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4 – Chapter 5

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Jiyeon tampak terkejut melihat kakaknya tengah berdiri tak jauh dari mereka dengan kedua kruk berada di sampingnya. Ekspresi wajah Shinhye menunjukkan keterkejutan sekaligus kemarahan melihat tangan Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon.

pinocchio-17-park-shin-hye-final

Mengetahui apa yang dilihat kakaknya, Jiyeon langsung melepaskan tangan Myungsoo. Namun lelaki itu bukannya melepaskan tangan Jiyeon namun semakin erat menggenggam tangan kekasihnya itu.

“Jadi selama ini kalian membohongiku?” Suara Shinhye meninggi menunjukkan kemarahannya.

Jiyeon menatap Myungsoo dan mengisyaratkan untuk melepaskan tangannya. Namun Myungsoo tak memperdulikannya.

“Inilah kebenarannya Shinhye-ah. Aku hanya menyukai Jiyeon. Mianhae.” Myungsoo menunjukkan genggaman tangannya dengan Jiyeon.

“Myungsoo-ah.” Protes Jiyeon. “Ini tidak benar eonnie. Myungsoo berbohong kami….”

“Pengkhianat.”

Ucapan Jiyeon terhenti seketika mendengar ucapan Shinhhye. “Tak kusangka kau seorang pengkhianat Jiyeon-ah. Kupikir selama ini kau membantuku mendapatkan namja yang kusukai tapi ternyata kau justru menusukku dari belakang.”

Eonnie dengarkan dulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan eonnie. Aku dan Myungsoo tidak memiliki hubungan apa-apa.” Jelas Jiyeon.

Shinhye tersenyum sinis. “Tidak memiliki hubungan apapun? Lalu disebut apa jika seorang namja dan seorang yeoja berpelukan jika bukan sepasang kekasih? Aku rasa ucapan eomma memang benar kau adalah orang yang jahat.”

Tubuh Jiyeon membeku mendengar ucapan kakaknya. Dia baru tahu jika ibunya mempengaruhi kakaknya dengan berkata dirinya adalah orang yang jahat.

“Itu tidak benar. Jiyeon bukanlah orang yang jahat.” Myungsoo membela Jiyeon.

“Cih… Jadi kau membelanya? Baiklah lakukan saja apa yang kalian mau tapi aku tidak akan mau bertemu dengan kalian lagi. Aku sangat membenci kalian terutama kau Jiyeon-ah. Aku sangat membencimu.” Shinhye berbalik pergi.

Mendengar kakaknya membenci dirinya membuat tubuh Jiyeon melemah hingga terduduk di atas lantai. Matanya tampak kosong seakan jiwanya menghilang. Selama ini Jiyeon berusaha menyenangkan kakaknya agar kakaknya itu tidak membencinya apalagi setelah kejadian kecelakaan yang merenggut kakinya. Tapi sekarang dalam sekejap kakaknya sudah membencinya.

“Jiyeon-ah jangan kau pikirkan ucapannya. Itu tidak benar, dia hanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya.” Myungsoo mengguncangkan kedua bahu Jiyeon.

“Kejarlah Myungsoo-ah.” Myungsoo tampak bingung dengan permintaan Jiyeon. “Kejarlah Shinhye eonnie aku mohon!!!” Pinta Jiyeon kembali.

“Tapi bagaimana denganmu?” Myungsoo tidak ingin meninggalkan Jiyeon dalam keadaan rapuh seperti ini.

“Shinhye eonnie lebih membutuhkanmu, aku yakin dia berusaha keras untuk mencapai atap ini, jadi aku mohon kejarlah dia Myungsoo-ah.”

Myungsoo masih tampak ragu meninggalkan Jiyeon tapi akhirnya dia bangkit berdiri dan berlari mengejar Shinhye. Air mata Jiyeon kembali keluar mengingat ucapan kakaknya.

“Apa sebegitu bencinya eomma padaku? Bahkan sampai menganggapku orang yang jahat. Eomma…” Tangis Jiyeon pecah.

“SHINHYE-AH!!!” Teriakan Myungsoo menyadarkan Jiyeon dari tangisannya.

Jiyeon segera bangkit dan berlari menuju asal suara Myungsoo. Di tengah tangga tubuh Jiyeon membeku melihat pemandangan di hadapannya. Dilihatnya Myungsoo mengangkat tubuh Shinhye yang pingsan. Dari darah yang mengalir di pelipis Shinhye dapat dipastikan kakaknya itu pasti terjatuh dari tangga saat terburu-buru turun.

Apa aku benar-benar orang yang jahat? Kenapa selalu aku yang membuat eonnie terluka? Mianhae eonnie tapi aku tidak pernah punya niat untuk melukaimu mianhae, salah Jiyeon dalam hati.

 

*    *    *    *    *

 

“Kau tak perlu khawatir Taehee-ah. Tidak ada luka serius yang dialami Shinhye.” Jelas Gyuri setelah memeriksa Shinhye.

“Lalu bagaimana dengan kakinya? Apakah kecelakaan kali ini mempengaruhi kakinya?”

Gyuri menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Kau tenang saja. Shinhye hanya perlu beristirahat dan memulihkan luka luarnya.”

Taehee menatap putrinya yang terbaring di ranjang dengan tatapan khawatir. Shinhye yang sudah sadarkan diri menatap keluar jendela.

Eomma.” Panggil Shinhye.

Taehee menunduk dan mengelus puncak kepala putrinya. “Ada apa sayang? Apa kau butuh sesuatu?”

Eomma aku ingin berbicara dengan eomma.”

Taehee menatap Gyuri dan Myungsoo yang sejak tadi diam menunggu kesempatan bicara.

“Tapi Shinhye-ah. Ada yang ingin kubicarakan.” Sahut Myungsoo.

“Aku tidak ingin bertemu bahkan berbicara denganmu Myungsoo-ssi.” Shinhye membuang muka tak ingin melihat Myungsoo.

“Aku mohon Shinhye-ah. Ada yang….”

“Aku akan membawa putraku pergi. Nanti aku akan kembali memeriksa lukamu Shinhye-ah.” Gyuri mendorong putrannya keluar dari kamar rawat Shinhye.

Eomma…. Aku kan ingin berbicara dengan Shinhye.”

Eomma tidak akan membiarkan pasien eomma tertekan. Dia sedang terluka dan dia tidak ingin berbicara denganmu jadi biarkan dia beristirahat dulu.”

“Tapi ini penting sekali eomma. Aku tidak ingin yeoja itu semakin menderita jika aku tidak menjelaskannya pada Shinhye.”

Gyuri menatap putranya bingung. “Yeoja itu? Siapa yang kau maksud dengan yeoja itu?”

Myungsoo tampak ragu untuk menceritakan masalahnya pada sang ibu. Gyuri melihat sekeliling dengan beberapa orang berjalan melewati mereka. Sang ibu itu tahu itu bukanlah tempat yang tempat untuk berbicara serius.

“Ayo kita ke ruangan eomma. Kau harus menceritakannya atau kau akan mendapatkan konsekuensi dari eomma.” Gyuri menarik putranya pergi.

Sedangkan di dalam ruangan dimana Shinhye dirawat, saat ini Taehee sudah duduk di samping ranjang Shinhye dan menatap putrinya penuh sayang. Taehee meraih tangan putrinya itu dan menggenggamnnya erat.

“Apa yang ingin kau bicarakan pada eomma hm?” Ucap Taehee lembut.

Mianhae. Selama ini aku tidak percaya pada eomma.”

“Tidak percaya mengenai apa Shinhye-ah?”

“Mengenai Jiyeon eomma. Aku baru tahu jika Jiyeon sebenarnya sangat jahat. Padahal selama ini aku mempercayainya tapi ternyata dia merebut namja yang kusukai eomma.”

Wajah Taehee berubah menjadi marah. “Jadi kecelakaan ini karena Jiyeon?”

Shinhye menunduk. “Tidak secara langsung eomma. Aku… Setelah aku melihatnya dengan Myungsoo aku ingin segera pergi tapi aku terjatuh karena aku tidak bisa berjalan normal eomma.”

Ekspresi wajah Taehee semakin marah mendengar penyebab kecelakaan ini lagi-lagi karena Jiyeon.

Eomma, kau mau ke mana?” Tanya Shinhye melihat ibunya berjalan menuju pintu.

Eomma harus melakukan sesuatu untukmu. Kau istirahatlah.” Ucap Taehee sebelum keluar dari kamar Shinhye.

 

*    *    *    *    *

 

Jiyeon berjalan lunglai menuju rumah neneknya.  Dia ingin sekali melihat keadaan kakaknya yang dilarikan ke rumah sakit, namun Myungsoo melarangnya dengan alasan dirinya akan lebih sakit hati lagi jika ikut ke rumah sakit.

Tangan Jiyeon memutar kenop pintu lalu masuk ke dalam. Dia terus berjalan dan tak menghiraukan neneknya yang tersenyum menyambutnya.

“Tumben kau pulang cepat? Biasanya kau pergi dengan Myungsoo dulu.” Sapa Moonhee.

Sayang sekali karena Jiyeon terlalu sibuk dengan pikirannya, jadi dia tidak mendengarnya. Gadis itu terus saja berjalan menuju kamarnya. Moonhee yang merasakan keanehan pada cucunya itu terus mengikuti dengan matanya. Penasaran akhirnya Moonhee menghampiri kamar Jiyeon.

Toookk…Toookk….Tookkk…

Moonhee mengetuk pintu namun Jiyeon tak mengatakan sesuatu. Akhirnya wanita itu memutuskan membuka pintu itu. Tampak Jiyeon duduk melamun sambil melihat keluar jendela. Dilangkahkan kaki wanita itu mendekati cucunya itu. Karena terlalu sibuk dengan lamunannya Jiyeon tidak menyadari neneknya yang sudah duduk dihadapannya.

“Apa terjadi hal yang buruk?” Tanya Moonhee membuyarkan lamunan Jiyeon.

Halmeoni?” Jiyeon menatap neneknya dengan senyum kikuknya.

“Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu murung begitu? Bahkan matamu juga tampak basah seperti baru saja menangis?” Moonhee mengelap sisa air mata yang ada di pipi Jiyeon.

“Tidak ada apa-apa halmeoni. Aku hanya lelah saja.” Jawab Jiyeon.

“Apa kau tidak mau cerita pada halmeoni? Biasanya kau pasti akan menceritakan semua masalahmu. Apa ada masalah lagi dengan eonniemu?” Jiyeon tampak kaget mendengar tebakan neneknya yang tepat sasaran.

Akhirnya Jiyeon mengangguk lemah dan terlihat ingin menangis kembali. Jiyeon langsung memeluk orang yang paling menyayanginya itu. Tangisan Jiyeon kembali pecah dia terus-menerus memanggil neneknya.

“Apa yang terjadi sayang? Mengapa kau malah menangis?” Tanya sang nenek.

Namun belum sempat Jiyeon menjawab tiba-tiba terdengar suara pintu kamar itu di dorong dengan keras.

Jiyeon dan Moonhee langsung mengalihkan pandangan mereka menuju pintu kamar itu. Keduanya tampak kaget melihat seorang wanita yang sudah lama tidak berkunjung ke rumah itu tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat penuh amarah.

Eee….eomma?” Panggil Jiyeon.

Taehee berjalan menghampiri Jiyeon tanpa memperdulikan Moonhee yang notabene adalah ibunya sendiri.

“Kenapa kau melakukan ini pada eonniemu huh? Belum cukupkah kau membuat eonniemu menderita dengan kehilangan kakinya? Kenapa kau selalu berbuat kejam terhadapnya? Apakau ingin membunuh eonniemu perlahan-lahan huh?” Marah Taehee pada putri bungsunya.

“Apa maksudmu Taehee-ah? Jiyeon tidak mungkin berniat membunuh eonnie yang sangat disayanginya.” Bela Moonhee.

“Disayanginya? Lalu kenapa dia merebut orang yang disukai eonnienya dan membuat Shinhye harus masuk ke rumah sakit karena jatuh dari tangga dan ini semua karena dia.” Taehee menunjuk-nunjuk Jiyeon dengan kesal.

PPLLLAAAKKK……

Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Taehee. Wanita itu memegang pipinya yang terasa panas lalu memandang ke arah ibu yang sudah menamparnya.

“Sudah cukup Taehee-ah. Apa kau tidak sadar Jiyeon juga anakmu yang butuh kasih sayangmu bukan amarahmu. Kenapa kau memperlakukannya tidak adil seperti ini? Apa kau ingin Jiyeon hidup diliputi dengan rasa bersalah selamanya? Kenapa kau masih saja menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa Shinhye? Itu hanya kecelakaan Taehee-ah, Jiyeon tidak pernah merencanakan untuk melukai eonnienya. Apa kau tidak tahu Jiyeon selalu merasa iri mendengar Shinhye bercerita tentangmu dan Yoochun? Apa kau tidak pernah tahu Jiyeon selalu merindukan kalian? Apa tidak cukup kau menyalahkannya?” Dada Moonhee naik-turun setelah meluapkan emosinya pada putrinya.

Selama ini Moonhee tak pernah mengajari anak semata wayangnya untuk membenci orang lain bahkan membenci anaknya sendiri.

Taehee masih terpaku mendengar kekesalan Moonhee. Wanita itu tak berkata apapun dan beralih menatap Jiyeon. Selama ini tanpa diketahui siapapun Taehee merindukan putri bungsunya itu. Namun egonya yang tinggi menghalangi wanita itu meluapkan rasa rindu dengan menemui Jiyeon. Taehee mendengus kesal lalu berbalik meninggalkan tempat itu.

Moonhee kembali memeluk Jiyeon yang menunduk sedih. Dibelainya lembut puncak kepala Jiyeon dengan penuh kasih sayang.

“Jangan dengarkan ucapan eommamu. Halmeoni yakin kau tidak mungkin berniat menyakiti eonniemu.” Ucap Moonhee.

“Apa halmeoni mempercayaiku? Halmeoni percaya jika bukan aku yang menyakiti eonnie?”

“Tentu saja, halmeoni sudah sangat mengenalmu jadi halmeoni yakin kau tidak akan pernah menyakiti eonniemu, kau justru ingin membuat eonniemu bahagia bukan. Jadi sekarang ceritakan pada halmeoni kejadian yang sebenarnya.” Ucap Moonhee meyakinkan Jiyeon.

Jiyeon melepaskan pelukan neneknya dan menatap wanita yang selama ini selalu menyayanginya. Tanpa ragu lagi Jiyeon menceritakan kejadian yang membuatnya tertekan. Selama Jiyeon bercerita, sang nenek tidak menyela sedikitpun membiarkan cucunya itu leluasa untuk bercerita.

“Aku rasa dalam hal ini kau tidak bersalah, eonniemu belum tahu kejadian yang sebenarnya maka dari itu dia marah padamu. Halmeoni yakin jika eonniemu tahu kejadian yang sebenarnya dia akan merasa bersyukur karena memiliki dongsaeng berhati malaikat sepertimu Jiyeon-ah.” Ucap Moonhee menyimpulkan cerita Jiyeon.

“Tapi bagaimana jika eonnie justru tetap marah padaku setelah dia tahu yang sebenarnya?” Sedih Jiyeon membayangkan kakaknya akan marah padanya untuk selamanya.

“Aku rasa itu tidak mungkin, eonniemu bukanlah orang yang pendendam jadi dia pasti akan mengerti alasanmu melakukan hal ini. Apalagi alasanmu melakukan ini karena ingin melihat eonniemu bisa tersenyum bahagia itu adalah hal paling mulia yang dilakukan dongsaeng pada eonnienya.” Jiyeon tampak sedang memikirkan ucapan neneknya.

“Sudah lebih baik sekarang kau berkemas saja.” Ucapan Moonhee membuat Jiyeon mengerutkan dahinya bingung.

“Berkemas? Untuk apa halmeoni? Memang kita mau kemana?”

“Kita akan berlibur.” Jawab sang nenek dengan santainya.

“Berlibur? Tapi sekolahku belum libur halmeoni.”

“Tidak perlu menunggu sekolahmu libur untuk bisa liburan. Halmeoni pikir kau perlu liburan untuk menenangkan pikiranmu yang sudah tertekan itu.” Jelas Moonhee.

“Memang kita mau ke mana halmeoni? Lalu bagaimana dengan sekolahku?”

“Nanti kau juga akan tahu. Soal sekolahmu kau tenang saja halmeoni yang akan mengurusnya. Kau berkemas saja sekarang halmeoni akan mempersiapkan semuanya.” Moonhee bengkit berdiri dan meninggalkan Jiyeon di kamarnya.

 

*    *    *    *    *

 

“Karena itu eomma aku harus menjelaskannya pada Shinhye. Jika tidak Jiyeon pasti akan kembali diliputi rasa bersalah lagi.” Ucap Myungsoo setelah menjelaskan masalah yang menimpa dirinya, Jiyeon dan juga Shinhye.

“Aku tak tahu jika Taehee memiliki seorang putri lagi.”

“Itu karena Jiyeon tinggal bersama neneknya.”

Gyuri mengangguk-angguk mendengar ucapan putranya. “Aku tidak menyangka Taehee akan membenci anaknya sendiri karena ambisinya pada Shinhye hancur. Perbuatannya sangatlah tidak benar. Bagaimana bisa seorang eomma mampu membenci putrinya sendiri.”

“Karena itu eomma aku ingin memberitahu Shinhye dengan begitu dia bisa merubah pikiran eommanya.”

“Tapi eomma tidak mengijinkan untuk hari ini Myungsoo-ah. Shinhye baru saja terjatuh  dan dia pasti masih shock dengan apa yang dialaminya, karena itu eomma tidak mengijinkan kau membuat keadaannya semakin parah dengan ceritamu.”

“Lalu apa yang harus kulakukan eomma?” Rengek Myungsoo.

Gyuri mengelus lengan putranya. “Sebaiknya kau pergi menemui Jiyeon dan menenangkannya. Saat ini eomma yakin dia sangat membutuhkanmu. Untuk Shinhye sebaiknya besok saja kau datang. Bagaimana?”

Myungsoo menghela nafas berat. “Baikalah eomma.”

Myungsoo berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Myungsoo-ah.” Panggilan Gyuri menghentikan langkah Myungsoo. Lelaki itu berbalik dan menatap sang ibu. “Lain kali kau harus mengenalkan kekasihmu itu pada eomma ne?”

Myungsoo mengangguk penuh semangat. Gyuri melihat putranya membuka pintu dan menghilang di balik pintu itu. Bibir wanita itu melengkung membentuk sebuah senyuman.

gyuri-park-full-15278

“Putraku sudah besar dan sudah memiliki seorang yeoja yang dicintainya.” Senang Gyuri.

 

*    *    *    *    *

 

Yoochun membuka pintu kamar dimana Shinhye di rawat. Senyuman langsung mengembang di wajahnya yang tampan ketika melihat putrinya. Shinhye yang tadinya memandang ke arah jendela langsung menoleh. Dia tampak senang melihat ayahnya datang.

“Kenapa appa lama sekali datangnya?” Rajuk Shinhye.

Yoochun menghampiri putrinya itu. “Mianhae Shinhye-ah, tadi appa membelikanmu ice cream dulu untukmu.”

Laki-laki itu menunjukkan ice cream yang ada di dalam kantong plastik. Wajah Shinhye langsung berubah cerah melihat ice cream itu.

“Tapi jangan beritahu eomma ne? Dia pasti akan marah melihatmu makan ice cream.”

Shinhye mengangguk dan langsung mengambil ice cream itu. Ayah dan anak itu dengan lahapnya menikmati ice cream rasa pisang. Shinhye kembali teringat apa yang tadi dipikirkannya lalu tatapannya tertuju pada sang ayah yang tersenyum lebar.

Appa.” Yoochun bergumam mendengar panggilan putrinya. “Apakah menurut appa Jiyeon adalah orang yang jahat?”

“YA!!! Jiyeon adalah dongsaengmu bagaiamana bisa kau mengatakannya jahat?”

Shinhye menunduk sedih. “Awalnya aku menganggap Jiyeon orang yang jahat appa. Karena dia sudah merebut namja yang kusukai. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, Jiyeon tidak mungkin bisa berbuat sejahat itu.”

“Kau sangat mengenal dongsaengmu itu Shinhye-ah. Saat kau mengalami kecelakaan tiga tahun yang lalu dia tak berhenti minta maaf dan selalu berusaha memberikan apapun yang kau mau. Mengingat hal itu apa kau masih berpikir jika dongsaengmu itu adalah orang jahat?”

Shinhye menggelengkan kepalanya. “Aku sudah menyesal berpikir seperti itu padanya appa. Dan aku semakin menyesal karena sudah mengatakan jika aku membencinya.”

Yoochun menyentuh tangan putrinya. “Semua orang selalu berbuat salah dan menyesal pada akhirnya Shinhye-ah, tapi tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada orang lain bukan?”

Shinhye menganggukkan kepalanya. “Appa benar. Setelah keluar dari rumah sakit aku akan meminta maaf pada Jiyeon. Aku yakin dia memiliki alasan yang disembunyikannya.”

Yoochun tersenyum senang melihat putrinya sudah tumbuh dewasa. “Appa bangga jika kau berani meminta maaf atas kesalahan yang kau perbuat Shinhye-ah.”

Appa, sebenarnya mengapa Jiyeon tinggal bersama halmeoni? Aku yakin alasannya bukan hanya karena tidak ingin halmeoni sendirian. Aku merasa ada alasan lain yang membuat Jiyeon pergi dari rumah dan meninggalkan halmeoni.”

Senyuman Yoochun menghilang mendengar pertanyaan Shinhye. Melihat sikap sang ayah yang aneh membuat Shinhye tahu jika ayahnya mengetahui sesuatu.

Appa katakanlah. Apa karena kecelakaan yang menimpaku sehingga Jiyeon pergi dari rumah?”

Appa tidak tahu Shinhye-ah. Saat Jiyeon hendak pergi dia hanya berkata jika kau menanyakan alasan mengapa dia pergi appa hanya perlu mengatakan jika dia ingin menemani halmeoni yang kesepian. Itu saja, dia tidak mau bercerita pada appa.”

“Padahal aku ingin sekali Jiyeon bisa berkumpul dengan kita appa.”

Appa juga menginginkan hal yang sama sayang. Sebaiknya kau habiskan ice creammu sebelum eommamu datang ne?”

Shinhye mengangguk dan kembali memakan ice creamnya meskipun pikirannya masih tertuju pada sang adik.

 

*    *    *    *    *

 

Myungsoo menggerakkan ayunan yang menampung dirinya dan Jiyeon. Saat ini mereka berada di taman yang tak jauh dari rumah Jiyeon. Laki-laki itu menoleh dan melihat Jiyeon melamun untuk kesekian kalinya. Tangan Myungsoo terulur dan menggenggam tangan Jiyeon menyadarkan gadis itu.

“Kau akan jatuh jika tidak berpegangan.” Ucap Myungsoo.

“Kau seperti anak kecil saja bermain ayunan Myungsoo-ah.”

“Aku memang masih anak kecil. Apa kau tidak lihat betapa imutnya aku?”

Myungsoo memasang wajah imutnya membuat Jiyeon tertawa. Melihat kekasihnya kembali tertawa membuat Myungsoo bernafas lega. Paling tidak dia bisa menghibur kekasihnya itu.

“Kalau kau imut maukah kau melakukan gwiyomi untukku?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya keras. “Tidak mau. Mana mungkin namja keren sepertiku melakukan gwiyomi?”

Jiyeon menarik lengan Myungsoo dengan manja. “Ayolah Myungsoo-ah. Aku ingin melihatnya. Kalau tidak aku akan menangis lagi.”

Jiyeon memasang wajah yang hendak menangis membuat Myungsoo menghela nafas. Mana mungkin lelaki itu tega melihat sang kekasih kembali menangis.

“Aisshhh….. Baiklah aku akan melakukannya.”

 

Ildeohagi ileun gwiyomi
Eeldeohagi eeneun gwiyomi

gwiyomi-2
Samdeohagi sameun gwiyomi

gwiyomi-3
Sadeohagi sado gwiyomi
Ohdeohagi ohdo gwiyomi
Yukdeohagi yukeun cup cup cup cup cup cup gwiyomi nan gwiyomi

 

Jiyeon menahan tawanya melihat betapa imut laki-laki di sampingnya. Dulu Jiyeon mengira Myungsoo adalah laki-laki mengerikan yang hobi berkelahi dan sekarang lelaki itu berbeda sekali dari image mengerikan.

Jiyeon mencubit pipi Myungsoo dengan gemas. “IIghhh…. Menggemaskan. Jangan tunjukkan hal ini pada yeoja lain ne?”

Myungsoo mengelus pipinya yang terasa panas karena cubitan Jiyeon yang keras. Namun dia tak memperdulikan panas di pipinya karena senyuman Jiyeon sudah merebut perhatiannya.

“Kau lebih cocok tersenyum Jiyeon-ah. Wajahmu semakin bersinar dengan senyuman itu.”

Jiyeon mengalihkan tatapannya dan mendongak melihat langit malam yang dipenuhi bintang.

“Benarkah? Tapi sepertinya senyuman tidak diijinkan muncul di wajah orang jahat sepertiku.”

Myungsoo meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya. “Kau bukanlah orang jahat Jiyeon-ah. Berhentilah mengecap dirimu sendiri seperti itu. Kau adalah yeoja paling baik yang pernah kutemui setelah eommaku.”

Jiyeon menoleh dan tersenyum pada kekasihnya. “Gomawo sudah berpikir seperti itu tentangku Myungsoo-ah. Hanya kau dan halmeoni saja yang berpikir seperti itu. Kau beruntung memiliki eomma yang baik.”

Ne. Aku merasa senang memiliki eomma yang baik. Bahkan dia tidak marah saat aku menceritakan tentangmu dan Shinhye.”

Mata Jiyeon melotot mendengar ucapan Myungsoo. “MWO? YA!! Mengapa kau bercerita pada eommamu? Ini bukanlah hal baik yang perlu di ceritakan. Aku yakin eommamu pasti mengira aku orang yang jahat.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Ani. Eomma tidak berpikir seperti itu. Dia bahkan ingin bertemu denganmu.”

“Benarkah? Aku jadi berdebar-debar jika harus bertemu dengan eommamu. Aku takut dia tidak menyukaimu.”

“Tentu saja eomma akan menyukaimu. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri Jiyeon-ah. Karena itulah yang kusuka darimu.”

Jiyeon kembali tersenyum mendengar ucapan Myungsoo. Hanya Myungsoo dan sang nenek saja yang mampu membuat hati Jiyeon yang sedih berubah menjadi lebih baik.

 

*    *    *    *    *

 

Dari celah pintu salah satu kamar pasien di rumah sakit Jasaeng milik keluarga Kim, Myungsoo melihat seorang Shinhye terbaring dengan wajah menghadap ke arah jendela. Sesuai ucapan sang ibu, Myungsoo akan menjelaskan pada Shinhye keesokan harinya. Myungsoo merasa kasihan pada Jiyeon yang sudah berniat baik tapi justru disalahkan atas kesalahpahaman ini.

Myungsoo menarik nafas panjang sebelum memasuki kamar itu. Saat laki-laki itu memasuki kamar itu tampak ekspresi terkejut menghiasi wajah Shinhye.

“Apa yang kaulakukan di sini Myungsoo-ssi? Bukankah aku sudah bilang tidak ingin bertemu denganmu.” Tanya Shinhye dingin.

“Aku ingin menjelaskan kesalahpahaman kemarin.” Ucap Myungsoo tak kalah dingin.

“Kau tak perlu menjelaskannya, aku yakin Jiyeon memang sengaja melakukan ini untuk membuatku menderita bukan? Sesuai dengan ucapan eomma, Jiyeon memang yeoja yang jahat.” Ucapan Shinhye membuat rahang Myungsoo mengeras menahan emosinya.

Jika tidak mengingat rumah sakit ini adalah milik orangtuanya, Myungsoo pasti sudah berteriak keras pada gadis itu karena sudah seenaknya menghina kekasihnya.

“Jahat? Bagaimana bisa kau menyebut dongsaengmu jahat jika dia ingin bisa membuat eonnienya tersenyum bahagia?”

“Jika dia ingin melihatku bahagia mengapa dia menusukku dari belakang? Kalian membuatku terlihat bodoh dengan percaya bahwa kau menerima perasaanku karena suka.”

“Itu karena permintaan Jiyeon.”

Suasana hening menyelimuti kamar itu. Shinhye menatap Myungsoo dengan tatapan bingungnya.

“Apa maksudmu Myungsoo-ssi?” Tanya Shinhye.

“Jiyeon adalah kekasihku yang sebenarnya. Saat dia tahu jika kau juga menyukaiku dia memintaku ani… memohon padaku untuk menerimamu sebagai kekasihku karena selama ini dia merasa bersalah sudah membuatmu harus kehilangan kakimu. Karena rasa bersalah itulah yang mendorong Jiyeon ingin mengembalikan senyum bahagiamu kembali. Apa menurutmu Jiyeon melakukan ini karena dia orang yang jahat?”

Shinhye menunduk terdiam mendengar penjelasan Myungsoo. Setelah kecelakaan yang menimpanya 3 tahun yang lalu Jiyeon langsung pindah ke rumah neneknya. Dia tak pernah tahu perasaan adiknya yang sebenarnya karena selama ini sang adik itu hanya tersenyum padanya.

“Tapi aku tidak pernah menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpaku, untuk apa Jiyeon merasa bersalah seperti itu?” Tanya Shinhye menatap Myungsoo.

“Karena eommamu yang sudah menyalahkannya.”

Eeo….Eomma?” Tanya Shinhye tergagap.

Eommamu yang sudah menyalahkan Jiyeon atas kecelakaan yang menimpamu karena menurut eommamu Jiyeon sudah menggagalkan impiannya membuatmu tampil di pertunjukkan ballet internasional.” Jelas Myungsoo sesuai dengan kebenaran.

Shinhye terdiam sibuk mencerna penjelasan laki-laki itu. Gadis itu teringat bagaimana tatapan dingin ibunya saat melihat Jiyeon, lalu saat ibunya juga melarangnya untuk berdekatan dengan Jiyeon setelah kecelakaan itu. Selama ini Shinhye berpikir Taehee melakukan hal itu karena dia marah pada Jiyeon yang lebih memilih tinggal dengan sang nenek daripada tinggaldi rumahnya.

“Aku harap setelah kau mengetahui kejadian yang sebenarnya kau tidak marah lagi pada Jiyeon, karena aku tidak ingin melihat Jiyeon menangis lagi.” Ucap Myungsoo membuyarkan lamunan Shinhye.

“Apa kau mencintai Jiyeon?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Aku sangat mencintainya karena itu aku tidak ingin melihatnya menangis lagi karena penderitaan yang selama ini ditanggungnya.”

Mianhae jika selama ini aku menjadi penghalang hubungan kalian berdua. Seharusnya aku bisa lebih peka sehingga aku tidak perlu mengucapkan kata-kata jahat pada Jiyeon. Terimakasih Myungsoo-ssi kau mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya jika tidak sampai selamanya aku pasti akan terus membenci dongsaengku yang baik hati itu.”

“Aku melakukannya demi Jiyeon. Kalau begitu  aku pergi dulu untuk memberitahunya jika kau tidak lagi membencinya.” Myungsoo berbalik.

“Tunggu sebentar Myungsoo-ssi.” Panggil Shinhye menghentikan langkah Myungsoo yang hendak keluar dari kamar itu.

“Apa ada yang ingin kau katakan lagi?”

“Bisakah kau membantuku?” Pinta Shinhye membuat Myungsoo mengerutkan dahinya bingung. “Aku ingin segera minta maaf pada Jiyeon jika menunggu besok-besok pasti hatiku tidak akan tenang, jadi bisakah kau mengantarku menemui Jiyeon?” Pinta Shinhye.

“Tapi bukankah kau masih sakit?” Myungsoo melihat selang infus yang ada di tangan Shinhye mengingatkan gadis itu jika dia sedang sakit.

“Bukankah ini rumah sakit milik orangtuamu jadi bisakah kau membantuku untuk keluar sebentar saja?”

“Ini memang rumah sakit milik orangtuaku tapi eomma akan membunuhku jika tahu aku membawamu pergi.” Myungsoo merinding membayangkan ibunya yang baik hati berubah menjadi mengerikan saat marah.

“Kalau begitu jangan sampai eommamu tahu.”

Myungsoo tampak berpikir sebentar untuk memikirkan bagaimana cara mengeluarkan gadis itu tanpa ketahuan. Tiba-tiba ide cemerlang menghinggapi otak laki-laki itu.

“Tunggu sebentar.” Myungsoo keluar dari kamar.

Dengan sabar Shinhye menunggu, akhirnya setelah sepuluh menit berlalu Myungsoo kembali masuk kamar itu.

“Ayo. Mianhae mungkin ini akan sedikit sakit.” Myungsoo mendekati Shinhye.

Myungsoo mengambil kapas yang sudah di basahi dengan air, lalu aku menarik jarum infus yang ada ditangan kiri Shinhye. Setelah mencabutnya segera ditempelkan kapas ketangan tempat jarum infus tadi menancap lalu di berinya plester untuk melekatkan kapas itu.  Kemudian Myungsoo membantu Shinhye berdiri dan mengambilkan kruknya.

“Ayo.” Myungsoo menuntun Shinhye keluar dari kamar. Mereka berjalan melewati lorong rumah saki. “Bersikaplah biasa saja. Mereka pasti hanya menganggapku sedang menemanimu jalan-jalan.” Bisik Myungsoo.

Keadaan aman saja saat mereka sampai masuk lift. Myungsoo bisa bernafas lega karena tidak ada yang mengetahui rencananya membawa Shinhye kabur.

“YA!!! KIM MYUNGSOO!!!” Teriakan Gyuri yang membahana membuat tubuh Myungsoo langsung menegang.

Lelaki itu langsung menekan tombol lift agar segera menutup sebelum ibunya mencapainya. Beruntung bagi Myungsoo karena lift itu mau bekerjasama dengannya. Pintu lift itu tertutup dan mulai turun sebelum ibunya berhasil menangkapnya.

“Aku tak menyangka eommamu bisa semenyeramkan itu.” Shinhye tertawa melihat Myungsoo menghela nafas lega.

“Karena itulah eomma lebih menyeramkan dibandingkan denganku. Bahkan appaku saja takut jika eomma sudah marah.”

Shinhye kembali tertawa mendengar penjelasan Myungsoo. Lift kembali terbuka dan mereka sampai di tempat parkir. Shinhye membawa Shinhye menuju mobil lamborghini hitam milik ibunya. Tadi laki-laki itu mencuri kunci itu dari ruangan kerja ibunya. Dia mendudukan Shinhye di kursi penumpang depan, lalu dia sendiri berputar untuk menempati kursi di samping Shinhye. Setelah menghidupkan mobil itu dengan kunci khusus Myungsoo langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dihafalnya.

Keluar dari tempat parkir, Myungsoo dan Shinhye mendengar terikan Gyuri kembali. Wanita itu ingin mengejar putranya namun tak berhasil.

Eomma pasti akan membunuhku dua kali.” Takut Myungsoo.

“Dua kali?”

“Aku sudah membawamu kabur dari rumah sakit dan sekarang kita menggunakan mobil eomma untuk pergi. Aku tidak mungkin membawamu pergi dengan motorku. Eomma bisa membunuhku tiga kali karena membahayakan pasiennya.”

Shinhye mengangguk-angguk mendengar penjelasan Myungsoo. Suasana hening kembali menyelimuti dalam mobil itu. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Myungsoo tak sabar ingin melihat senyuman di wajah kekasihnya jika mendengar sang kakak minta maaf. Sedangkan Shinhye juga memikirkan sang adik dan merasa sangat bersalah karena sudah tidak peka pada perasaan adiknya.

Tak lama kemudian mobil yang mewah itu berhenti tepat di depan rumah sederhana tempat tinggal Jiyeon dan neneknya. Myungsoo turun terlebih dahulu, lalu berputar ke sisi lain untuk membukakan pintu penumpang dan membantu Shinhye keluar. Setelah Shinhye dapat berdiri dengan kruknya, laki-laki itu menuntun gadis itu ke depan pintu.

Myungsoo menekan bel di samping pintu namun tak terdengar suara langkah kaki dari dalam seperti yang biasa didengarnya. Myungsoo merasa aneh dengan keadaan hening didalam rumah itu karena biasanya jika dia menjemput Jiyeon, gadis itu pasti akan segera membukakan pintu. Laki-laki itu menekan kembali bel itu dan lagi-lagi tak terdengarsuara apapun.

“Seperti tidak ada orang di rumah.” Shinhye menyimpulkan.

“Aku akan menghubunginya.” Myungsoo mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi nomor Jiyeon.

Namun sayang nomor itu aktif tapi sang pemilik nomor tidak mengangkatnya sampai nada tunggu itu habis. Kembali Myungsoo menghubungi nomor itu namun kali ini hanya terdengar suara operator yang mengatakan jika nomor yang dituju sedang tidak aktif.

“Jiyeon tidak menjawabnya dia bahkan mematikan ponselnya.” Kecewa Myungsoo.

“Mungkin dia tidak ingin kauhubungi coba biar aku saja.” Shinhye merogoh baju rumah sakit  yang dipakainya.

Tiba-tiba dia teringat sesuatu membuat gadis itu menepuk dahinya sendiri.

Ommo..Aku lupa ponselku ketinggalan di rumah sakit.” Ucap Shinhye.

“Kalau begitu lebih baik kita kembali ke rumah sakit. Kau istirahat saja biar aku yang akan mencarinya.” Myungsoo menuntun Shinhye kembali ke mobilnya.

Sebelum mencapai mobil, ada seorang ibu yang menghadang mereka.

“Kalian mencari pemilik rumah itu?” Tanya ibu itu.

Ne. Kami mencari pemilik rumah itu tapi tampaknya mereka sedang pergi.” Jawab Shinhye sopan.

“Tadi aku melihat Moonhee dan cucunya pergi dengan membawa koper. Mungkin mereka akan lama kembalinya.” Jelas ibu itu.

Tubuh Myungsoo membeku mendengar informasi dari ibu itu.

Bagaimana bisa Jiyeon pergi tanpa memberitahuku? Apa dia juga mencoba menghindariku? Tanya Myungsoo dalam hati.

Gamsahamnida ahjuma sudah memberitahu kami.” Shinhye sedikit menunduk untuk berterimakasih.

“Myungsoo bagaimana ini? Bagaimana jika Jiyeon benar-benar lama kembalinya?” Tanya Shinhye khawatir.

“Kau tenang saja aku akan mencarinya. Lebih baik kau beristirahat di rumah sakit.” Shinhye melanjutkan langkah menuntun Shinhye ke dalam mobil. Setelah gadis itu sudah duduk didalam mobil Myungsoo kembali ke tempat duduknya dan melajukan mobil itu kembali kerumah sakit.

 

~~~TBC~~~

Hallo readers tercinta…. Author kembali bersama L, Jiyeon dan Shinhye.

Waduh Jiyeon kok ga da ya? Pergi ke mana nih ma Halmeoni?

Tunggu kelanjutannya ya chingu……

Biasanya author akan kasih gif cute para pemain di akhir cerita tapi kali ini gak soalnya di cerita author sempilin tuh gifnya Myungsoo yang cute abizzzz….

Selamat menikmati……

 

 

 

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. Waduh ka , itu mw liburan apa pindahan ? ( banyak tanda tanya di kepalaku )

    1. chunniest says:

      Ditunggu ja cerita selanjutnya ya nanti bakalan tahu ke mana Jiyeon pergi sama neneknya. Oh ya author mau masukin cast cowok yang suka ma Jiyeon nih… apa kamu mau request cast cowoknya?

  2. Eunkyung says:

    waaaa… Jiyeon jangan tinggalkan Myungsoo… nanti direbut sama aku *oops

    1. chunniest says:

      wwwkkkk….. Jangankan Eunkyung author juga mau kok hee….hee…

  3. Hahaha , saya penggemar exo kaka , kalo boleh request d.o , sehun ap baekhyun gitu . Ga maksa si ka , cuma ngarep pake banget , hehehe .

    1. chunniest says:

      Author juga berencana mau bikin ff nya Exo tapi nunggu ff ini kelar dulu ya…..

    2. jinjja ? ? ?
      Wah ditunggu banget nih ffnya 😇

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s