(SONGFIC) Spring Day

jungkook

SPRING DAY

(You Never Walk Alone)

.

Chunniest Present

.

Starring by Jeon Jeongkook-Ahn Minji

.

Genre : Sad, Romance

.

Request by

.

Yang bergaris miring adalah masa lalu jadi jangan bingung membacanya….

Until the spring day comes back

Will you stay there a little longer

 

Seorang gadis kecil dengan wajah pucat menarik tangan teman kecilnya bernama Jeon Jungkook. Mereka menuju pohon yang memiliki daun lebat. Langkah mereka berhenti sampai di bawah pohon itu. Minji menoleh dan melihat Jungkook masih sesegukan.

Dengan ibu jarinya Minji mengnyeka air mata Jungkook. Dia memberikan senyuman lebar berharap sahabatnya itu tidak bersedih lagi.

“Jangan Jungkook-ah. Bukankah aku berjanji akan segera kembali?” Ucap Minji.

“Tapi aku… Hicks.. Aku tidak mau kau pergi… Hickss… Minji-ah.” Tangis Jungkook semakin keras.

Minji mengambil kardus di tangan Jungkook lalu berlutut meletakkan kardus itu di atas tanah. Dia melepaskan sepatu Jungkook sebelah kiri lalu memasukkannya di dalam kardus.

Dia juga melepaskan sepatu miliknya dan meletakkan sepatu itu di samping sepatu Jungkook dan menutupnya. Minji mengambil sekop hendak menggali tanah namun Jungkook menahannya.

“Aku yang akan menggalinya. Aku akan berusaha menjadi namja kuat yang bisa melindungimu kelak.”

Minji tersenyum mendengar ucapan Jungkook lalu membiarkannya menggali. Minji merasa kasihan melihat Jungkook kesusahan menggali dengan sekop yang berat, namun dia memilih diam karena tidak igin merusak usaha Jungkook.

“Jungkook-ah, kau tidak boleh membukanya sebelum aku kembali. Ok?” Ucap gadis berambut sebahu itu.

“Ok Minji. Tapi berjanjilah kau akan kembali.”

“Aku berjanji Jungkook-ah. Aku pasti akan kembali dan kita akan menggantungkan sepatu itu di pohon ini dan akan terus bersama.”

Meskipun Jungkook sudah berusaha untuk tidak menangis, namun Jungkook kecil tak kuasa menahan air matanya. Berpisah dengan sahabat yang selalu menemaninya sejak kecil sangat sulit bagi anak kecil seperti Jungkook.

“Jangan menangis menangis Jungkook-ah. Aku pasti akan kembali. Dan saat itu datang kau tidak boleh secengeng ini lagi. Kau sudah berjanji untuk menjadi namja kuat yang akan melindungiku kan?” Minji memegang tangan Jungkook untuk menguatkan sahabatnya itu.

Masih menangis, Jungkook mengangguk mendengar ucapan Minji. Akhirnya Minji memeluk Jungkook untuk terakhir kalinya.

 

****

 

Sebuah kereta melaju pelan di atas rel melewati hutan yang ditumbuhi pepohonan lebat nan tinggi. Di dalam kereta seorang lelaki duduk di samping jendela seraya melihat keluar. Sweater putih bergaris-garis hitam menghamgatkan tubuh lelaki bernama Jeon Jungkook itu.

Tangannya bersandar di jendela dan menyangga kepalanya. Setelah melewati hutan, kereta itu melewati padang rumput. Karena sudah memasuki musim semi, salju mulai meleleh. Manik matanya menangkap bayangan pohon yang berdiri sendiri di tengah padang rumput. Pohon yang belum ditumbuhi dedaunan itu adalah tujuan Jungkook.

Jungkook menoleh memandang kardus di sampingnya. Dia meraih kardus itu dan membukanya. Dua buah sepatu yang berbeda ukuran dan warna tertata rapi. Tangannya meraih satu sepatu berwarna kuning dan tangan satunya mengambil spidol dari dalam tasnya.

Dengan spidol hitam Jungkook menuliskan nama ‘Jungkook’ dan ‘Minji’ di kedua sisinya. Setelah selesai Jungkook mengambil sepatu yang satu lagi dan melakukan hal yang sama pada sepatu berwarna putih itu. Sebuah senyuman terukir di wajah lelaki itu tatkala melihat hasil tulisannya yang rapi di kedua sisi sepatu itu.

“Tulisanmu sama kayak dulu. Masih jelek.”

Jungkook mendongak dan melihat seorang gadis duduk di hadapannya dengan rambut sebahu yang sama seperti Minji kecil.

“Kau yang menyuruhku menulisnya. Kalau tidak suka tulis saja sendiri.” Jungkook tampak cemberut membuat Minji tersenyum senang.

Minji berdiri dan menghampiri Jungkook. Gadis itu duduk di samping Jungkook dan memeluk lengan itu.

“Jangan marah Jungkook-ah. Aku hanya bercanda.”

Jungkook tersenyum pada Minji. “Aku tahu.”

Minji menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. “Sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu Jungkook-ah.”

“Kau tak perlu mengatakannya. Karena aku yang akan mengatakannya.”

Minji menegakkan kepalanya dan menatap Jungkook.

“Memang kau tahu apa yang ingin kukatakan?”

“Ya. Tapi tunggu sampai kita menggantungkan sepatu ini.”

Minji menggelemgkan kepalanya. “Tidak. Kau harus mengatakannya sekarang. Kita masih lama sampainya.”

“Kita sudah sampai.”

“Benarkah?” Minji menengok keluar jendela.

Benar saja tampak stasiun tua yang masih tampak sama saat Minji terakhir kali meninggalkan desa ini.

“Apa kau ingat saat kita bertemu kembali di stasiun ini?” Tanya Minji

“Jangan mengingatkan karena aku sangat malu.”

“Tapi aku suka Jungkook-ah.”

Jungkook mendengus kesal lalu mereka berjalan keluar dari kereta diikuti oleh Minji yang berlari memanggilnya

 

***

 

Sudah dua jam Jungkook berdiri di stasiun menunggu kedatangan Minji. Ayah Minji memberitahu Jungkook jika Minji ingin bertemu dengannya. Seharusnya Jungkook merasa bahagia karena setelah 10 tahun Minji pergi dan sekarang dia akan bertemu dengannya. Namun ekspresi wajah Jungkook justru mencerminkan kesedihan. Pasalnya ayah Minji mengatakan jika hari ini adalah terakhir kalinya mereka bisa bertemu karena penyakit kanker otak yang diderita Minji semakin parah.

10 tahun berobat di kota sayang sekali para dokter tak mampu menyelamatkan Minji. Karena itulah tanpa diinginkan air mata selalu keluar. Meskipun Jungkook sudah mengelapnya berkali-kali.

Sebuah kereta berhenti. Untuk kesekian kalinya Jungkook menyeka air matanya. Dia berdiri menyambut kedatangan gadis yang selama ini selalu memenuhi pikirannya. Beberapa orang keluar dari kereta itu. Netra Jungkook tak lepas dari pintu kereta untuk mencari sosok sahabatnya.

Seorang gadis keluar dari pintu dan berhenti. Kepalanya menoleh ke kanan maupun ke kiri seakan mencari seseorang. Tubuhnya yang kurus dibalut jaket tebal dan syal yang menghangatkan tubuh gadis itu kala musim dingin.

Meskipun Jungkook tidak tahu bagaimana perubahan wajah Minji dari anak kecil menjadi seorang gadis remaja namun dia yakin gadis itu adalah Minjinya. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat. Namun saat senyuman muncul seakan ada sinar cerah memancar di wajahnya.

“Jungkook-ah.”

Jungkook menghampiri Minji dan memberikan sambutan dengan pelukan hangat. Minji memeluk erat Jungkook menyalurkan kerinduan gadis itu. Pelukan terlepas dan mereka saling menatap satu sama lain. Kedua tangan Minji menangkup pipi Jungkook. Namun lelaki itu terkejut merasakan dinginnya tangan gadis itu.

“Mengapa kau tak mengenakan sarung tangan?” Jungkook memegang kedua tangan Minji yang tak terlindungi sarung tangan.

“Aku lupa membawanya. Karena aku terlalu bersemangat ingin bertemu denganmu.”

Jungkook melepaskan sarung tangannya dan memakaikan sarung tangan berwarna coklat itu di kedua tangan Minji.

“Kau harus menjaga tubuhmu tetap hangat. Dan wajahmu sangat pucat. Kau yakin ingin pergi ke pohon itu?” Jungkook menangkup pipi Minji yang seputih kapas.

“Kau tega menturuhku pulang setelah sejauh ini aku kemari?” Minji memasang wajah cemberutnya.

“Kalau begitu aku akan menggendongmu. Aku sudah menjadi namja kuat sekarang jadi aku bisa menggendongmu. Jika kau tidak mau, aku juga tidak mau pergi.”

Bibir Minji yang semula manyun berubah melengkung. “Baiklah. Ayo kita berangkat.”

Jungkook memutar tubuhnya lalu Minji melingkarkan lengannya di leher Jungkook. Dengan mudahmya lelaki itu mengangkat tubuh Minji dan keluar dari stasiun kecil itu.

“Apa aku berat?” Tanya Minji menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook.

“Tidak.” Suara Jungkook terdengar bergetar.

Minji tahu lelaki itu sedang menangis. Ingin sekali gadis itu juga ikut menangis tapi sayangnya air matanya sudah terkuras habis.

“Bukankah kau berjanji untuk tidak menangis?” Minji mengingatkan Jungkook akan janjinya 10 tahun yang lalu.

“Aku.. Aku tidak menangis.” Jungkook berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya namun apa daya air mata sudah membanjiri kedua pipinya.

Minji membiarkan Jungkook menangis dan membiarkan dirinya berkutat dalam pikirannya. Perjalanan dari stasiun menuju pohon yang biasa mereka gunakan untuk bermain tidaklah jauh. Hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki mereka sudah sampai.

Jungkook menurunkan tubuh Minji dan tatapan gadis itu langsung tertuju pada pohon yang di selimuti salju.

“Kita tidak bisa menggali sekarang. Saljunya terlalu tebal.” Jungkook menunjuk tumpukan salju yang ada di bawah pohon.

“Kita memang tidak akan menggalinya.”

“Lalu mengapa kau ingin kemari?”

Minji membuka tasnya dan mengeluarkan gambar berukuran sedang yang di bingkai dengan pigura kayu. Dia menyerahkan bingkai itu pada Jungkook.

“Aku membuat ini saat di rumah sakit. Dengan ini aku ingin kau tidak melupakanku.”

Jungkook melihat kertas yang diukir oleh Minji. Ada tulisan ‘Jungkook & Minji’ dan juga gambar wajah mereka. Lagi-lagi air mata mulai mengancam di pelupuk mata lelaki itu. Dia sadar akan kehilangan sahabat baiknya itu dan hal itu membuat hatinya terasa amat sangat sakit.

“Aku akan kembali Jungkook-ah. Sesuai janjiku sampai musim semi datang maukah kau menungguku? Tidak akan lama lagi kita pasti akan menggantungkan sepatu kita di sini.”

Jungkook tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengangguk dan menarik Minji dalam pelukannya.

 

*****

 

“Apa kau ingat, kau tak pernah berhenti menangis saat itu?” Tanya Minji yang sudah berdiri di bawah pohon yang dituju.

“Itu karena kupikir aku tidak akan melihatmu lagi.”

“Bodoh. Bukankah aku sudah berjanji akan kembali saat musim semi?”

“Maafkan aku.” Jungkook menunduk.

Minji tersenyum pada lelaki yang berdiri di sampingnya. Dia memeluk lengan Jungkook dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.

“Tak perlu minta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Sekarang gantungkan sepatu kita di depan bingkai itu, sebelum kita ketinggalan kereta.”

Jubgkook mengangguk lalu melakukan seperti yang Minji katakan. Mereka berdua tersenyum bahagia melihat kenangan mereka. Setelah beberapa menit mereka berjalan meninggalakan pohon itu dan kembali ke stasiun.

“Minji-ah, sesuai ucapanku tadi aku ingin mengatakan sesuatu yang belum pernah kukatakan.”

Minji mengangkat kepalanya dan menatap Jungkook penuh tanda tanya. “Apa itu? Katakan saja.”

“Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Meskipun kita sempat terpisah, namun kita tetap bersama lagi. Dan aku tidak ingin kehilangan kau lagi. Waktu selalu berjalan lebih cepat saat kita bersama membuatku tidak sempat mengatakan sesuatu yang mengganjal hatiku.”

“Kau puitis sekali Jungkook-ah. Jadi apa inti dari puisimu itu?”

Jungkook menatap Minji kesal karena merusak moment manis itu. “Itu bukanlah puisi.”

“Baiklah, baiklah. Sekarang lanjutkan.” Minji memasang telinga untuk memdengar ungkapan Jungkook kembali.

“Aku menyukaimu Ahn Minji. Dan perasaan itu tidak akan pernah berubah dari dulu,sekarang dan besok akan tetap sama.”

Ungkapan itu yang selama ini ditunggu oleh Minji. Dan sekarang dia bisa tersenyum bahagia mendengar perasaan Jungkook.

“Aku juga menyukaimu Jeon Jungkook. Karena itu kau harus selalu berada di sisiku untuk selama-lamanya.”

“Dengan senang hati.”

Senyuman keduanya memperlihatkan kebahagiaan yang mengakhiri kesedihan dari cerita mereka selama ini. Sampai di stasiun, kereta mereka sudah datang. Tidak ada banyak orang di sana. Hanya ada seorang pria penjaga stasiun dan juga anak lelakinya yang sedang menonton TV kecil. Anak lelaki berwajah menggemaskan itu bermain bola dan tiba-tiba bola itu terlepas. Bola itumenggelinding lalu berhenti di samping kaki Jungkook.

Melihat bola berwarna biru itu, Jungkook berlutut memungut bola itu. Anak lelaki itu berlari ke arah Jungkook.

“Ini bolamu.” Jungkook menyerahkan bola itu pada anak kellcil itu.”

“Terimakasih hyung.”

Jungkook dan Minji tersenyum dan melambaikan tangannya pada anak lelaki itu sebelum akhirnya naik kereta. Anak lelaki itu melihat kereta yang dinaiki Jungkook dan Minji mulai bergerak dan menjauhi stasiun.

“Sebuah kereta uap menuju desa Seomjin eluar dari jalurnya. Menurut keterangan dari kepolisian kecelakaan itu terjadi karena mesin kereta yang sudah tua. Dua penumpang dinyatakan tewas. Sang masinis bernama Park Johyun dan seorang pemuda bernama Jeon Jungkook.” Seorang pembawa berita menyiarkan informasi di televisi kecil itu.

Layar TV itu juga menampilkan foto kedua orang yang menjadi korban kecelakaan. Saat melihat wajah Jungkook, anak lelaki itu langsung teringat dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Abeoji tadi aku melihat hyung itu naik kereta baru saja bersama seorang noona.” Anak lelaki itu menunjuk ke arah foto Jungkook.

“Kereta? Tidak ada kereta lewat Jungsoo-ah. Kereta akan datang 15 menit lagi. Kau pasti sedang berkhayal.” Sang ayah mengacak lembut rambut putranya.

Anak lelaki bernama Jungsoo itu yakin baru saja dia melihat korban kecelakaan itu. Bahkan lelaki itu sempat mengambilkan bola untuknya.

 

You’re my best friend

The morning will come again

Because no darkness, no season

Can last forever

~~~THE END~~~

Maaf jika menurut kalian cerita ini melenceng dari arti lagu. Aku benar-benar minta maaf.

Untuk readers setiaku (#Membungkuk dalam-dalam) maaf belum bisa melanjutkan ff chapternya. Doakan semoga ide muncul di kepalaku ya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s