(Episode 1) Fallen Leaves

Chunniest present

^

Fallen Leaves

(Episode 1)

^

Cast :

Kim Namjoon (BTS) – Jung Hoseok (BTS) – Kim Minhee (OC) – Park Chanmi (OC)

^

Genre : Drama, Romance // Lenght : Chapter // Rating : M

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

NB : WARNING!!! FF ini memgandung konten yang tidak cocok dikonsumsi oleh anak di bawah umur. Jadi bijaksanalah dalam memilih cerita yang hendak dibaca!!!

^

Mana mungkin aku meninggalkan seseorang yang kucintai.
-0-

Ketukan stiletto perak milik yeoja bernama Kim Minhee membentur lantai membentuk nada-nada ketukan santai. Halter dress merah panjang yang dikenakan menjuntai ke bawah. Kulit kakinya yang putih mulut mengintip dari belahan dress yang terpotong hingga paha. Minhee berjalan keluar menuju teras yang menampilkan pemandangan kota Seoul yang berkilauan.

Baru saja Minhee dan suaminya Kim Namjoon selesai makan malam untuk merayakan perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5 tahun. Dan sekarang pasangan itu memutuskan untuk menginap di hotel untuk menikmati bulan madu kesekian kalinya.

Bibir Minhee yang dilapisi lipstick matte berwarna merah cerah merekah membentuk senyuman. Dia merasa menjadi yeoja paling bahagia di dunia ini. Memiliki suami tampan yang super romantis, 3 malaikat kembar kecil, dan kehidupan rumah tangganya yang adem ayem. Apalagi yang dibutuhkan? Semua yang diinginkan para yeoja sudah didapatkan Minhee.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Tak perlu berbalik Minhee tahu siapa yang sedang mendekat. Sepasang tangan terselip di sisi tubuhnya hingga melingkar di perut yeoja itu. Parfum perpaduan vanila dan woody merasuki indera penciuman Minhee. Namjoon menyibak rambut istrinya ke depan sehingga mengekspos bahu Minhee yang terbuka.

“Kau cantik sekali sweetheart.” Puji Namjoon mendaratkan bibirnya di bahu sang istri.

“Apa kau tahu? Sejak tadi aku berusaha menahan diri untuk tidak menyentuhmu.”

Minhee menggigit bibir bawahnya saat Namjoon memberikan kecupan-kecupan singkat di kulitnya. Meskipun hanya sentuhan ringan namun mampu membuat bulu-bulu di kulit yeoja itu meremang.

“A-Aku kira kau marah denganku.”

Namjoon memegang bahu Minhee dan memutar tubuhnya. Tatapan mereka saling bertemu. Bibirnya bergerak tersenyum menampilkan lesung pipinya yang begitu manis.

“Mana mungkin aku marah denganmu sayang. Aku hanya sedang menahan diri untuk tidak menyerangmu di restoran tadi.” Namjoon mengerlingkan matanya.

“Aishh… Kau ini tetap saja byuntae.” Minhee menggelengkan kepalanya.

“Salah sendiri dress yang kau pakai sangat menggiurkan mataku. Bahkan rasanya aku ingin mencolok mata para namja yang ada di restoran tadi.”

“Kau sendiri yang menyuruhku untuk mengenakan dress ini.” Minhee mengerucutkan bibirnya.

“Karena dress ini memiliki banyak keuntungan untukku.”

Sebelum Minhee bertanya lebih lanjut, Namjoon sudah menariknya mendekat menyatukan bibir mereka. Bibir Namjoon bergerak menyedot lembut bibir yeoja itu. Perlahan dia menarik istrinya masuk ke dalam tanpa melepaskan tautan bibir kami.

“Nngghh….” Lenguh Minhee merasakan tangan Namjoon mengelus kulit punggungnya.

Tangan Namjoon merambat naik sampai di tengkuk yeoja itu. Tangannya bergerak melepaskan tali dress yang terikat di leher Minhee. Tepat setelah tali itu terlepas gaun itu meluncur bebas melewati tubuhnya. Namjoon melepaskan ciuman kami dan mengeluarkan smirknya.

“Benar-benar menguntungkanku.” Ucapnya menjelajahi tubuh Minhee yang hanya mengenakan celana dalam senada dengan netranya.

Untuk ukuran ibu yang sudah memiliki anak kembar 3, tubuh Minhee masih tetap bagus karena sering berolahraga. Meskipun ada sedikit stretch mark samar di perutnya akibat hamil, namun Namjoon mengatakan goresan-goresan itu justru membuktikan jika istrinya nyata bukan malaikat yang selalu sempurna.

Namjoon kembali menempelkan bibir kami dalam ciuman liar dan bergairah. Lidahnya mendorong masuk menjelajah lebih dalam. Tangan yeoja itu meraih kancing kemeja biru saphirnya dan membukanya satu persatu. Hingga kemeja itu terlepas dan melemparkannya asal.

“Mmmhhh….” Suara Namjoon tatkala tangan Minhee mengelus lembut dadanya hingga beralih melingkar di lehernya.

“Aakkhh….” Yeoja itu melepaskan ciuman mereka karena merasa sakit akibat remasan kasar Namjoon di bukit kembarnya.

Namjoon menyingkirkan rambut yang menutupi bahu istrinya. Dia menunduk memberikan kecupan-kecupan singkat disetiap inchi kulit Minhee. Tubuh yeoja itu terasa panas, darahnya berdesir dan jantungnya berdegup lebih cepat karena pengaruh Namjoon.

“Namjoon aahhh…. ” Minhee tak mampu menahan desahannya merasakan putingnya dipelintir lembut. Seakan tersengat listrik membuat bagian kewanitaan yeoja itu terasa ngilu.

Namjoon menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Minhee. Kali ini bukan hanya kecupan singkat yang diberikan Namjoon. Gigitan kecil dan sedotan di kulitnya yang Minhee yakini membentuk tanda kemerahan di kulitnya.

Minhee memekik saat Namjoon mengangkat tubuhnya. Dia bisa merasakan bukti ketegangan suaminya menekan pantatnya.

“Kau sudah mengeras bee…” Goda yeoja itu.

“Itu karena ulahmu. Dan kau harus bertanggung jawab.”

Namjoon meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dan langsung menindihnya. Dia tak langsung menyerang Minhee. Namja menatap istrinya bukan dengan tatapan penuh nafsu namun tatapan penuh cinta hingga manik matanya berbinar. Tangannya menyingkirkan anak-anak rambut yang ada di pipi yeoja itu.

Gomawo Kim Minhee.” Kata yang tulus itu meluncur dari mulut Namjoon.

“Sepertinya aku harus menghidupkan kembang api untuk merayakan rekor baru. Kim Namjoon mengucapkan kata ‘gomawo‘ sangat banyak hari ini.”

Namjoon tertawa membuat yeoja itu ikut tertawa. Memang tidak biasanya Namjoon mengucapkannya bahkan jarang sekali.

“Aku serius mengucapkannya bee. Aku merasa sangat bahagia memilikimu dan juga anak-anak kita.”

Minhee melingkarkan tangannya di leher suaminya. “Aku juga sangat bahagia Namjoon-ah. Karena itu jangan pernah pergi dariku.”

“Mana mungkin aku meninggalkan seseorang yang kucintai.”

Minhee tak dapat menahan senyumannya. Lalu mengangkat sedikit kepalanya memberikan kecupan sekilas di bibir suaminya.

“I love you Kim Namjoon.”

I love you more my wife.” Namjoon menunduk kembali melanjutkan kegiatan yang paling disukainya bersama istrinya.

****

Ting.. Tong…

Minhee baru saja selesai meletakkan sepiring rolling cheese iga sapi saat mendengar suara bel berbunyi. Yeoja itu tersenyum karena mengetahui orang-orang yang ditunggunya datang. Kaki Minhee melangkah menuju pintu untuk membukanya.

“EOMMA!!!” Seketika 3 anak lelaki berumur 4 tahun menyerbu Minhee dan dan memeluk kakinya.

Minhee berlutut setelah 3 pangeran kecilnya melepaskan pelukannya. Senyuman tak memudar melihat betapa menggemaskan buah hatinya dengan Namjoon.

“Kalian tidak merepotkan halmeoni kan?” Tanya Minhee.

“Sangat merepotkan. Sedangkan orangtuanya malah sibuk berbulan madu.” Seorang yeoja berparas cantik melangkah maju. Rambut hitamnya yang dikucir kuda bergerak tatkala yeoja itu melangkah.

“Nana berbicaralah yang sopan.” Yeoja paruh baya langsung melangkah masuk dan meletakkan tas kebutuhan triplet di sofa.

“Tenang eomma, aku kan hanya sedang menggoda kakak ipar. Jadi eonnie, kalian tidak tidur semalaman kan?”

Seketika wajah Minhee merona merah mendengar tebakan Nana yang tepat sasaran. Sepanjang malam Namjoon terus mengajaknya bermain di atas ranjang.

“Kyaa… Lihat wajah eonnie yang memerah. Berarti tebakanku benar. Jadi kalian main…aahhh…. ” Pekik Nana atau Kim Nayoung karena sang ibu menarik telinganya.

“Anak nakal. Kau mau membicarakan hal dewasa di hadapan cucu-cucuku HUH?” Omel Kim Haesook, ibunya.

“Ahhh… Sakit eomma. Bagaimana bisa eomma bersikap lembut pada triplet tapi tidak denganku? Sebenarnya anak eomma siapa sih?” Nana mengelus telinganya yang memerah.

“Aishh… Anak ini masak cemburu dengan keponakannya sendiri.”

Minhee hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ibu mertua dan adik ipar yang tak pernah akur. Dia menghampiri ibu dan memeluk bahunya.

“Sudah eomma, Nana tidak bermaksud merancuni triplet dengan bahasan dewasa. Dia hanya sedang bercanda. Bagaimana jika kita makan sekarang? Aku sudah membuat masakan special untuk kalian.” Bujuk Minhee.

Eomma, Daehan lapar.” Daehan yang mendengar sang ibu mengatakan ‘masakan’ langsung meninggalkan mainannya dan menghampiri yeoja itu.

“Minguk juga lapar eomma.”

“Manse juga.”

Kedua saudara nya langsung mengikuti Daehan. Minhee tersenyum melihat betapa menggemaskan putra-putranya memasang wajah memohon persis seperti ayahnya saat yeoja itu menggodanya di atas ranjang.

“Baiklah ayo kita makan.” Haesook mengajak triplet menuju meja makan.

“Aishh… Eomma selalu saja luluh dengan anak-anakmu eonnie. Aku jadi iri.”

“Kau masih iri dengan triplet?” Minhee menatap Nana geli.

“Bukan eonnie. Aku iri eonnie bisa bertahan dengan Namjoon Oppa setelah 5 tahun menikah. Apa aku bisa bertahan seperti ini saat bersama Seokjin Oppa?” Cemas Nana.

“Na, meskipun kamu dan Seokjin Oppa baru 1 tahun menikah tapi kamu pasti bisa melalui semuanya bersama Seokjin Oppa. Memang sulit Na. Aku dan Namjoon juga mengalami masa sulit. Namun justru karena masa sulit itu hubungan kami semakin dekat. Lagipula akan ada baby twins yang akan hadir merekatkan hubungan kalian.” Minhee mengelus perut Nana yang mulai membesar.

Eonnie…” Rengek Nana persis seperti triplet.

“Sudah ayo kita makan.” Minhee merengkuh bahu Nana lalu mengajaknya bergabung dengan ibu dan triplet.

***

Pintu ruangan Namjoon terbuka. Sang pemilik ruangan menoleh dan melihat sahabatnya Jung Hoseok masuk dengan membawa beberapa map. Namjoon tak memperdulikannya dan kembali fokus pada layar komputernya.

“Namjoon-ah….” Panggil Hoseok seperti seorang gadis yang memanggil kekasihnya dengan nada imut.

“Berhentilah bermain-main Hoseok-ah. Tidak lihat aku sedang sibuk?”

“Sensi amat yang baru saja merayakan ulang tahun pernikahan.”

BRAK…

Hoseok meletakkan map yang dibawanya di atas meja Namjoon. Tangan Namjoon yang sedang mengetik berhenti lalu melihat ke arah map dan beralih ke Hoseok.

“Apa ini?”

“Itu map Namjoonku sayang.” Hoseok mengerlingkan matanya.

“Seok, sepertinya kau harus ke psikolog. Semakin lama kau sendiri semakin merubah haluanmu. Aku tahu ini map. Yang aku tanyakan apa isi map ini?”

Hoseok hanya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Kamu tidak bertanya dengan detail sih. Mana aku tahu. Itu data diri dari orang-orang yang ingin melamar menjadi sekretarismu.”

Mendengar penjelasan Hoseok menarik perhatian Namjoon. Dia meninggalkan komputernya dan mulai membuka mapnya satu persatu.

“Jadi bagaimana dengan perayaan ulang tahun pernikahan kalian? Apa kau tak mau nambah momongan Nam?”

Namjoon mendongak dan melayangkan tatapan tajam pada Hoseok. “Kamu mau Minhee memotong benda pusakaku HUH?”

Seketika tawa Hoseok meledak. “Jadi Minhee mengancam seperti itu? Pantas saja si byuntae Namjoon kok gak nambah-nambah anak. Wah aku jadi ingin bayangin gimana jadinya kalau Minhee beneran hamil.”

Namjoon meraih clip dan melemparkan pada Hoseok. “Sialan.”

Hoseok semakin tertawa namun Namjoon tak memperdulikannya. Dia mambaca data diri pelamar dengan bosan. Namun satu nama dan satu foto segera menarik perhatiannya. Foto seorang gadis yang sama sekali tidak berubah dari terakhir Namjoon melihat. Tidak. Gadis itu sedikit berubah karena terlihat semakin cantik.

“Park Chanmi. Kau sedang tidak bercanda bukan?” Namjoon membuka map yang berisi data diri Park Chanmi.

“Aku kira kau sudah melupakannya. Awalnya aku ingin menyembunyikannya tapi aku ingin mengetestmu. Ternyata kau benar-benar mengingatnya.”

“Panggil dia. Kita bisa mencobanya.”

“Tapi Nam, aku tidak mau mencari gantinya lagi jika kau mengeluarkan sekretarismu lagi. Jadi pilihlah dengan benar. Jangan karena kau mengenalnya jadi kau memilih Chanmi. Oh ayolah Nam, kau sudah memecat 10 sekertarismu hanya karena mereka tidak bisa mengikuti cara kerja rodimu. Tidakkah kau kasihan padaku?” Hoseok mengedip-kedipkan mata memohon.

“Tidak. Justru aku memilih Chanmi karena aku tahu dia bisa mengikuti caraku. Jadi singkirkan yang lain, aku pilih Chanmi.”

Hoseok menghela nafas. “Baiklah sajangnim. Kau seperti balita besar saja. Pantas saja Minhee mengancam memotong pusakamu.”

Hoseok langsung ngacir saat Namjoon meraih buku tebalnya. Namun dia tidak benar-benar melemparkannya.

“Nam.” Hoseok menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Berjaga-jaga Namjoon akan benar-benar melemparkan benda-benda di sekitarnya.

“Apalagi Seok?”

“Aku punya firasat tidak enak dengan ini. Kau yakin memilih Chanmi?”

Namjoon memutar bola matanya malas. “Hoseok, kamu sudah mengenalku lama jadi pasti tahu bagaimana aku membuat keputusan kan?”

“Baiklah. Tapi aku sudah memperingatimu. Oh ya apa adikmu sudah cerai dengan Seokjin hyung?”

Namjoon melotot mendengar pertanyaan itu. “JUNG HOSEOK!!!” Namjoon melemparkan buku yang masih ada di tangannya. Sayang Hoseok sudah keburu menutup pintunya.

Namjoon menggelengkan kepalanya melihat betapa menyedihkannya sahabatnya itu karena masih patah hati melihat Nana memilih menikah dengan Seokjin. Namjoon menunduk dan netranya menangkap foto Chanmi. Bibirnya menyunggingkan senyumannya mengingat masa lalunya.

~~~TBC~~~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s